“Dirgahayu RI” vs “Dirgahayu RI ke-62″

Sebentar lagi kita akan merayakan hari kemerdekaan RI yang ke 62. sebagaimana lazimnya tiap-tiap menjeleng hari peringatan ini sepanduk-sepanduk akan dipasang dimana-mana, diberbagai tempat strategis, dijalan-jalan protokol juga digang-gang sempit.
Yang tidak pernah ketinggalan dan selalu tertulis dalam setiap spanduk, billboard, ataupun gapura yang dibuat dalam rangka perayaan ini adalah kata: DIRGAHAYU. “Dirgahayu Republik Indonesia ke 62”, ”atau ada pula yang menulis “Dirgahayu Republik Indonesia” lalu dibawahnya ditambahi kalimat “HUT RI ke 62”.

Kalimat manapun yang digunakan sepertinya tidak masalah bagi kita, toh semua kalangan; apakah itu kalangan well educated, instansi pemerintah, media massa baik cetak maupun elektronik, sekolah2, perguruan2 tinggi menggunakan variasi dari ke-dua tulisan diatas.
Bila tiba-tiba ada yang mempersalahkan bunyi salah satu dari kalimat diatas mungkin anda sendiri akan heran dan bertanya ”lho kenapa?”

Tapi tahukah anda bahwa sebenarnya salah satu dari kalimat itu memang salah karena mengandung arti yang bertentangan 180 derajat dari maksud ucapan itu sendiri? Kalimat yang salah itu adalah yang berbunyi” “Dirgahayu Republik Indonesia ke 62”!
Mau bukti?
Mari kita lihat: Arti dari kata DIRGAHAYU sendiri adalah PANJANGLAH USIANYA atau SEMOGA PANJANG USIANYA. Jadi bila anda menulis “Dirgahayu Republik Indonesia ke 62” maka akan mengandung makna”semoga panjanglah usianya Republik Indonesia yang ke 62”! ingat HUT ke 62-nya yang panjang, bukan Rebuplik Indonesia! lha kalau 62-nya yang panjang berarti gak ada dong ke 63, ke 64 dst? Dengan kata lain secara tidak langsung dengan menulis itu seolah-olah kita ingin Negara ini berakhir, karena tidak ada perayaan-perayaan berikutnya! Yang benar adalah cara penulisan ke-dua, karena dengan menulis “Dirgahayu Republik Indonesia” maka benar bahwa ‘semoga panjang usia Republik Indonesia” baru dibawah ditulis ‘HUR RI ke-62”.

Bila ada pribahasa yang mengatakan bahwa ‘bahasa menunjukkan bangsa’ rasanya dari contoh kasus diatas tidaklah sepenuhnya benar karena mungkin saja dalam setiap bahasapun ada saja penggunaan kata yang difahami dan dimaknai tidak sesuai dengan makna sebenarnya dari kata dalam bahasa itu sendiri.

Contoh lain saya ambil dalam bahasa SUNDA dimana ada sebuah pribahasa yang berbunyi “cikaracak ninggang batu, laun-laun jadi legok”(embun menetes dibatu, lama-lama jadi cekung), bila saya katakan bunyi pribahasa ini salah karena tidak sesuai yang dimaksud sipembuat pribahasa itu sendiri, mungkin banyak orang Sunda yang tidak sependapat, karena hal ini telah digunakan dan dikenal dalam waktu yang lama dan turun temurun. Menurut pendapat saya bunyi pribahasa itu mestinya “cikaracak ninggang batu, laun-laun batuna legok”(embun menetes dibatu, lama-lama batu itupun cekung), karena kalau menurut bunyi pribahasa asli maknanya jadi “cikaracak (embun)”-nya yang jadi cekung, bukan batunya! Padahal maksud dari pribahasa itu sendiri adalah ”sebebal apapun orang bila ia terus-2an ditetesi atau maksudnya terus menerus belajar, maka pada akhirnya apa yang ia pelajari itu akan membekas juga pada dirinya”.

Satu lagi kata atau istilah yang menurut pendapat saya bernasib sama seperti kata “dirgahayu” adalah kata dari bahasa Arab “khatam” yang katanya punya arti sebagai “terakhir”. Ada banyak istilah yang menggunakan kata ini seperti misalnya dalam kepustakaan Islam Khalifah Ummar ra dikenal sebagai “khatamul muhajirin” atau Khalifah Ali ra dikenal pula sebagai “khatamul Aulia” atau seseorang yang ahli dibidang syair dikatakan sebagai “khatamus syuara” dan apabila anak-anak kita menamatkan al-Qur’an dikatakan sebagai telah “khatam al-Qur’an”. Bila setelah Ummar ra melakukan hijrah masih banyak pengikut Islam lainnya yang juga berhijrah, bila setelah Ali ra masih bermunculan para wali lain hingga ditanah airpun ada sembilan wali yang dikenal sebagai wali songo, demikian pula bila seseorang dikatakan sebagai khatamus syuara toh para penyair baru masih datang silih berganti, demikian pula bila anak-anak kita telah meng-khatamkan al-Qur’an mereka masih akan terus dan terus membaca dan melafalkan al-Qur’an, maka makna yang saya tangkap dari kata “khatam” ini adalah terakhir dalam bentuk kesempurnaan bukan terakhir dalam segalanya! Lha kalau terakhir dalam bentuk segalanya mestinya tidak ada lagi dong orang yang berhijrah setelah Ummar ra melakukan hijrah, tidak akan pernah ada lagi seorang wali-pun sepeninggal Khalifah Ali ra, atau tak akan pernah pula kita membaca lagi al-Qur’an karena sebelumnya telah khatam!

Tapi aneh, bila hal ini menyangkut pada junjunan alam Muhammad saw yang adalah ”khataman nabiyyin” maka pemahaman seperti yang berlaku diatas akan dianggap tidak benar!
Bagi saya itu aneh tapi nyata!
Wallahu’alam.

12 thoughts on ““Dirgahayu RI” vs “Dirgahayu RI ke-62″

  1. blognya keren..
    Judulnya juga bagus tuh.
    “Impian akan selalu menjadi kenyataan bila selalu disertai do’a yang tulus dan upaya yang maksimal”
    Jadi nambah motivasi aku neh…

  2. bentar lagi agustusan, ikut lomba apa yach :D
    om blognya nice design :) sorry baru bisa mampir abis kecanduan game online he3

  3. googling ‘arti dirgahayu’ eh. langsung mampir kesini.
    wajah itu teh namanya kang deden toh.. sering ketemu kenal wajah tak kenal nama, sorry

    Thanks infonya!

  4. Pingback: Tn Kabul Continued « wujudkan impian menjadi kenyataan

  5. Iseng-iseng googling, kutemukan tulisan yang serupa mengenai “dirgahayu“.

    @den:
    trims atas kunjungannya. Tapi ini bukan Ryan….. from Jombang, itu khan? :D
    sorry, canda aja, kok! hehe

  6. semoga panjanglah usianya Republik Indonesia yang ke 62. Tahun ini RI masuk ke usia ke 64.

    Barangkali saya bisa memberi pembelajaran yang menarik.

    3 orang anak, meminta buah-buahan dari ibunya.
    Anak kesatu bilang “Saya mau buah jeruk”
    Anak kedua bilang “Saya apel”
    Yang ketiga bilang “Nanas!”.

    Apakah “saya apel” ditafsirkan “anak itu adalah apel”, saya kira tidak seperti itu. Dengan logika ini, harusnya penafsiran akan “Dirgahayu RI ke 64″ bisa lebih diluruskan, dan kesalahan pemahaman yang ditulis oleh penulis bisa dihindari.

    Bagi saya, memahami latar belakang kalimat itu ditulis akan lebih baik ketimbang mengkaji sekedar dari sisi semantika saja.

  7. Pingback: HUT RI KE 64 « Which, then, of the favours of your Lord will ye twain, deny?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s