Nahdatul Ulama, Muhamadiyah dan Ahmadiyah

Seorang kawan mengirim sebuah artikel yang katanya didapat dari milis yang diikutinya. Artikel tersebut adalah tulisan seorang ahli sejarah LIPI bernama Dr Asvi Warman Adam. Isinya mengupas mengenai sejarah keberadaan tiga ormas Islam di Indonesia yaitu Nahdatul Ulama, Muhamadiyah dan Ahmadiyah.

Diantaranya tulisan tersebut menyebutkan bahwasanya Ahmadiyah Indonesia didirikan oleh seorang tokoh Muhammadiyah Raden Ngabehi HM. Djojosoegito, yang adalah saudara sepupu dari Hasyim Asy’ari -kakek dari Gus Dur. Tulisan tersebut juga menyebutkan bahwa Erfan Dahlan anak dari H Achmad Dahlan yang adalah pendiri Muhamadiyah juga seorang Ahmadiyah.

Untuk lengkapnya saya posting tulisan tersebut disini:

Ahmadiyah bukanlah hal baru dalam sejarah Indonesia. Hampir seabad lalu gerakan itu sudah masuk ke tanah air dan selama berpuluh tahun tidak mengalami masalah dengan kelompok lain.

Mengapa sekarang dalam situasi ekonomi-politik yang kian panas menjelang Pemilu 2009 persoalan itu kembali diungkit? Ada baiknya kita menengok ke belakang, melihat proses masuknya Ahmadiyah keNusantara ini. Artikel ini terutama berdasar tulisan Herman L. Beckdalam Bijdragen tot de Taal, Land en Volkenkunde (2005: 210-246).

Ini bermula dengan kedatangan Mirza Wali Ahmad Baig dan Maulana Ahmad ke Jogjakarta pada Maret 1924 menghadiri Kongres Ke-13 Muhammadiyah. Mereka dipersilakan berbicara dalam kesempatan tersebut. Pandangan mereka terhadap Jesus, yang dalam Islam disebut Nabi Isa, menarik perhatian hadirin.

Bagi penganut Ahmadiyah, Jesus setelah disalib tidak meninggal, tiga hari kemudian sadar dan bertemu dengan murid-muridnya. Dia kemudian pergi ke Srinagar, Kashmir, dan mengembangkan ajarannya di sana hingga meninggal pada usia 120 tahun.

Karena Jesus itu hanya manusia biasa, messias atau Al Masih yang disebutnya akan datang ke bumi tak lain dari Mirza Ghulam Ahmad. Oleh Ahmadiyah aliran Lahore, dia dianggap mujadid (pembaru). Sedangkan aliran Qadiyan memosisikan dia sebagai nabi.

Ahmadiyah juga memiliki pandangan yang khas tentang jihad. Bagi mereka, jihad bersenjata memerangi musuh (orang kafir) tidaklah wajib kecuali untuk mempertahankan diri. Kelompok itu sebetulnya juga tidak tergolong ekstrem karena bersikap loyal kepada pemerintah yang berkuasa.

Tahun 1928, tokoh Muhammadiyah Raden Ngabehi HM. Djojosoegito, saudara sepupu dari Hasyim Asy’ari -kakek Abdurrahman Wahid (Gus Dur)- dan Wahab Chasballah, mendirikan Ahmadiyah Indonesia. Hasyim Asy’ari dan Wahab Chasballah yang juga bersaudara sepupu adalah pendiri NU (Nahdlatul Ulama) tahun 1926.

Tahun 1930, pemerintah Hindia Belanda mengakui Ahmadiyah. Selain ketua Djojosoegito, terdapat nama Erfan Dahlan sebagai pengurus.
Erfan Dahlan adalah putra H Achmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) yang belajar tentang Ahmadiyah di Lahore dan kemudian mengembangkan aliran tersebut di Thailand.

Selain Erfan Dahlan, ada beberapa pemuda lain yang juga belajar tentang Ahmadiyah di Lahore. Yang satu setelah kembali ke Indonesia bergabung dengan PKI (Partai Komunis Indonesia). Yang lain, Maksum, keluar dari Muhammadiyah, bergabung dengan Persatuan Islam (Persis) yang dipimpin A. Hassan di Bandung.

Polemik Panjang

Seperti kita ketahui, polemik panjang mengenai ajaran Islam juga terjadi antara A. Hassan dan Soekarno. Maksum beberapa puluh tahun kemudian ikut gerakan DI/TII yang dipimpin Kahar Muzakar di Sulawesi Selatan.

Djojosoegito kemudian memindahkan kegiatannya ke Purwokerto dan dikota ini didirikan masjid pertama Ahmadiyah di Indonesia. Hubungan antara Ahmadiyah dan SI (Sarekat Islam) pada mulanya cukup erat.

Pemimpin SI, HOS Tjokroaminoto, menerbitkan tafsir Alquran pada 1930. Kata pengantar diberikan pimpinan Ahmadiyah di Lahore, India.
Ketika ketepatan terjemahan kitab suci itu banyak dikritik, terutama dari kalangan Muhammadiyah, dukungan diberikan pimpinan Ahmadiyah.

Namun, hubungan Ahmadiyah dengan SI kemudian menjadi renggang karena sikap politik SI yang radikal terhadap penjajah Belanda. Sedangkan Ahmadiyah tetap loyal kepada pemerintah. HOS Tjokroaminoto yang menjadi mertua Soekarno, menurut KH Abdurrahman Wahid, sebetulnya juga saudara sepupu dari Hasyim Asy’ari dan Wahab Chasballah.

Kalau benar demikian, sebenarnya tokoh-tokoh NU, Muhammadiyah, SI, dan Ahmadiyah tersebut berasal dari rumpun keluarga yang sama. Kalau terjadi selisih paham sesama mereka, itu menjadi pertengkaran intern keluarga yang tidak akan menjadi konflik berdarah.

Pada 1925, Haji Rasul, ulama terkenal dari Sumatera Barat, ayahanda HAMKA, mengunjungi putrinya, Fatimah, yang menikah dengan A.R. Sutan Mansyur, pimpinan Muhammadiyah di Pekalongan. Dari Pekalongan, dia singgah di Jogja dan Solo serta bertemu dengan tokoh-tokoh Muhammadiyah dan Ahmadiyah. Terjadilah perdebatan seru. Haji Rasul mengatakan bahwa keyakinan Ahmadiyah itu menyimpang dari ajaran Islam.

Dalam kongres Muhammadiyah di Solo pada 1929, hubungan antara organisasi itu dan Ahmadiyah menjadi putus. Majelis Tarjih Muhammadiyah menyatakan bahwa barang siapa yang memercayai adanya nabi setelah Muhammad dianggap kafir, walaupun tidak eksplisit menyebut Ahmadiyah. Sebelumnya sudah ada larangan bagi warga Muhammadiyah untuk mendengarkan ceramah tentang ajaran Ahmadiyah.

Setelah 1929, Muhammadiyah sangat jarang mengeluarkan pernyataan yang memojokkan Ahmadiyah aliran Lahore. Ketika Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa pada 1984, Muhammadiyah mendukung dan menganggap bahwa itu terutama menyangkut Ahmadiyah aliran Qadiyan.

Tak Berbahaya

Mengapa Muhammadiyah masih bersikap toleran terhadap Ahmadiyah aliran Lahore? Menurut Herman Beck, itu terjadi karena organisasi tersebut dianggap tidak berbahaya serta bukan kompetitor dalam bidang dakwah, sosial, dan pendidikan. Itulah sebabnya, selama puluhan tahun, Ahmadiyah tetap hidup berdampingan secara damai dengan Muhammadiyah dan organisasi Islam yang lain.

Menjadi pertanyaan saat bangsa Indonesia mengalami kesulitan ekonomi yang berkepanjangan, kesejahteraan rakyat tak kunjung terwujud, masyarakat didera kemiskinan, mengapa persoalan Ahmadiyah yang muncul ke permukaan? Untuk apa dan siapa yang menggerakkan semua ini?

Kalau diperhatikan, sejarah lahirnya organisasi-organisasi muslim ditanah air terlihat bahwa pendiri dan pengurus awal berbagai organisasi Islam itu sesungguhnya bersaudara. Oleh karena itu, sebaiknya masalah Ahmadiyah ini diselesaikan secara persaudaraan pula.

6 Responses to “Nahdatul Ulama, Muhamadiyah dan Ahmadiyah”


  1. 1 Iffat Ahmad April 30, 2009 at 8:50 am

    Assalamualaikum wr.wb.

    Imam Mahdi sudah datang

    Wa salamu ala manittaba al-Huda

  2. 2 cancan July 5, 2009 at 8:14 am

    kita jgn sok suci.mau menghakimi ahmadiyah.org yg boleh membubarkan ahmadiyah adalah org suci yg belum pernah berbuat dosa.daging saja masih kita makan sudah sombong merasa sudah dekat dgn Allah.HI,kalian yg mau bubarkan ahmadiyah,apakah islam mengajarkan kita untuk membenci musuh kita ? jgn mengaku-ngaku islam kalu kita masih membenci.KALIAN HANYA MENGOTORI AGAMA ISLAM SAJA !! belum puas ? mampir di blog saya: debatkontroversi.blogspot.com

  3. 3 Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi. September 4, 2009 at 9:03 am

    Nahdatul Ulama dan Muhammadiyah adalah dua sekte kaum dari sifat Taurat Muhammad sesuai Al Fath (48) ayat 29,
    yang dijanjikan kedatangannya oleh Musa sesuai Ulangan 15:15-22; Kisah para rasul 3:22,23 7:37

    Sedang Ahmadiyah adalah tunas sifat injil yang wajib muncul dari tanaman sifat Taurat sesuai Ash Shaff (61) ayat 6,7,8,14 yang dijanjikan oleh Isa seperti sifat injil Isa menggenapi Taurat Musa sesuai Matius 5:17

    Jarak waktu kedatangan antara Musa dan Isa adalah 1.300 tahun
    Jarak waktu kedatangan Muhammad dan Ahmad adalah 1.300 tahun.
    Sunnatullah tidak berubah sesuai Al Fath (48) ayat 23.

    Inilah yang sebenarnya Ahmadiyah sesuai hujjah Allah, hujjah nabi Muhamad hujjah kitab sucinya.

    Salamun ‘alaikum daiman fi yaumiddin, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Pesepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

  4. 4 rachim September 9, 2010 at 7:41 am

    dear penulis,

    anda yg paham agama coba cek situs ini sangat provokatif ke islam
    http://www.mengenal-islam.t35.com
    mudah2 bisa ada counter yang efektif
    thx

  5. 5 Ibu Solikhati February 10, 2011 at 11:02 am

    Presiden SBY harus bubarkan MUI dan Kementerian Agama seperti Gus Dur dulu bubarkan Depsos !!! Kita sebagai umat Muslim dan umat sesama manusia tidak rela umat dan manusia lain dizalimi. Dimana Pancasila di muka-muka para pejabat dan menteri itu? Dari media antara lain dari Metro TV kita kian tahu jelas dan terang bahwa pemimpin MUI yang justru selama ini menyesatkan dan memfitnah Ahmadiyah atau JAI (Jemaat Ahmadiyah Indoneia). bahwa JAI aliran sesat atau menyimpang dari Islam adalah versi pimpinan MUI dan Kementerian Agama Indonesia.

    Bukan pertama kali JAI dan juru bicaranya menyatakan Nabi/Rasul mereka sama seperti umat Islam lainnya, Muhammad SAW. Kalau kita buka web resmi atau menonton pengajian-pengajian di MTA TV, televisinya Ahmadiyah pusat, http://www.mta.tv/ , Nabi/Rasul mereka sama: Muhammad Rasulullah. Juga sangat jelas dalam lafaz doa dan puji-puji mereka. Jadi apanya yang menyimpang dan menyesatkan? Tidak ada yang menyimpang di Ahmadiyah. Pertanyaan kita semua kenapa MUI dkk termasuk Menteri Agama memfitnah Ahmadiyah? Ini pertanyaan besar. Apakah sebagai intelektual, pimpinan MUI dan Menag hanya membebek laporan sesat anak buahnya dan tidak meneliti kebenaran?

    MUI sepihak. Kenapa tidak minta JAI menjelaskan di depan media-media di Indonesia agar masyarakat tahu mana yang benar? Dan apa betul Ahamdiyah menganggap Ghulam Ahmad nabi mereka? Kenapa masyarakat hanya diberi versi MUI dan Menag saja? Ada apa di balik ini? Kenapa MUI memprovokasi dan menciptakan permusuhan sesam Muslim dan sesama manusia? Dimana Pancasila? Dimana HAM? Kenapa dibuat SKB yang tidak adil?

    Itu sama halnya menyelesaikan masalah dengan masalah baru? Kini kita tahu siapa yang salah sebenarnya. MUI atau Ahmadiyah? Kita sebagai umat Muslim dan umat sesama manusia tidak rela umat dan manusia lain dizalimi. Mari kita semua sesama umat beragama, kita demo besar-besaran saja dan desak SBY bubarkan MUI dan Kementerian Agama. kalau begini, Presiden harus bubarkan MUI dan Kementerian Agama seperti Gus Dur dulu bubarkan Depsos !!!

  6. 6 Guntur March 29, 2013 at 2:07 pm

    Allahu alam bi showab


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Salurkan bantuan kemanusian anda melalui: Humanity First Indonesia (Yayasan Kemanusiaan Indonesia) di Bank Mandiri-
Jakarta Plaza Mandiri
Rek No.: 070.000.4366.618

Blog Stats:

  • 138,534 total pengunjung di blog ini

Klik ikon MTA dibawah untuk menyaksikan siaran TV nonstop tanpa tayangan iklan, menyiarkan keindahan Islam.

April 2009
M T W T F S S
« Mar   May »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Pengunjung Mulai Jam 15.15, 27 Oktober 2008

free counters
Enhanced with Snapshots

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 130 other followers

%d bloggers like this: