BENCANA ALAM ATAU HUKUMAN ILAHI?

Bencana-bencana alam yang terjadi pada kehidupan manusia dan kadang-kadang masih terjadi pada tempat-tempat yang tak berpenghuni bukan merupakan berita baru, kemalangan yang menyebabkan kerugian jiwa yang mendadak dan tak diharapkan atau penderitaan atau mengakibatkan kerugian dalam ekonomi. Gempa bumi, letusan gunung berapi, gelombang pasang, kehilangan, topan dan badai merupakan pembunuh-pembunuh terbesar. Lebih sedikit kematian yang disebabkan oleh kecelakaan pesawat terbang, kapal ferry dan kereta api tapi perhatian umum yang luas pada umumnya mengaitkan itu dengan kesalahan manusia atau beberapa sarana keselamatan yang tidak bekerja.

Sejak zaman azali (dahulu kala) manusia telah sering kali terusik dengan pertanyaan apakah bencana-bencana alam itu mempunyai hubungan dengan kemurkaan Tuhan. Ada dua pemikiran ilmiah yang muncul:
1. Satu pemikiran ilmiah berpendapat bahwa semua musibah dan bencana besar merupakan hasil dari hukum alam. Bancana-bencana itu tak mempunyai hubungan dengan amal baik atau buruk dari manusia, tidak pula bencana-bencana ini mempunyai hubungan dengan penolakan manusia terhadap nabi yang diutus Tuhan.
2. Sebaliknya, para pengikut dari berbagai agama di seluruh dunia telah selalu memercayai bahwa bila saja bencana-bencana terjadi dengan ciri khas luar biasa, itu bukan merupakan gejala alam dan bahkan masuk pada bidang yang melampaui batas normal. Diakui, tidak semua agama, kepercayaan dan keyakinan ini menampilkan ajaran Tuhan Yang Satu, Maha Kuasa, Maha Besar sebagaimana yang dikemukakan oleh Islam.

Walaupun demikian, para pengikut agama-agama semacam itu pada umumnya sepakat dengan cara dan metode mereka sendiri yang unik, bahwa satu tahap dengan suatu hikmah [tertentu] sedang menampakkan dirinya dalam bencana-bencana semacam itu. Bagi sebagian orang, bahwa mungkin dewa matahari, atau dewa angin, atau dewa gunung, atau dewi lautan. Tapi bahkan agama-agama itu yang menisbahkan sifat-sifat Ilahi pada suatu kilasan khayal, tetap menganggap kemalangan-kemalangan sedang turun dari langit atau letusan dari bawah bumi sebenarnya merupakan kejadian supernatural (mistik). Walaupun tentu ada perbedaan-perbedaan dalam rinciannya, agama-agama yang dari antaranya mempunyai konsep Keesaan Tuhan masih timbul [keyakinan], pada umumnya bahwa bencana-bencana alam merupakan satu tanda kemurkaan Ilahi. Yang paling menonjol dari antara agama-agama ini adalah Islam, disusul oleh Yahudi dan kemudian Kristen yang secara bersamaan percaya pada Keesaan Tuhan dan juga Trinitas.

Seperti yang terlihat, ini mempunyai teka-teki yang rumit. Orang-orang sekarang telah memahami lebih dalam pada rahasia-rahasia alam yang sebelumnya tak diketahui. Dia telah mengadakan penelitian atas sebab dan akibat dari bencana-bencana ini – bagaimana, di mana dan mengapa bencana-bencana ini terjadi. Dia secara bertahap telah mulai menyingkirkan selubung misteri dan dongeng yang menutupi rahasia-rahasia semesta.

Bagi orang-orang yang tak percaya dan penganut ajaran agama, masalah ini kini telah menjadi lebih penting bagi kedua pihak dari pada sebelumnya. Ini bahkan lebih relefan dan bernilai pertimbangan yang sungguh-sungguh oleh para pengikut agama-agama sebab banyak air yang telah mengalir di bawah jembatan. Sebagian dunia lainnya yang sampai sekarang diam-diam telah menjadi pengamat gejala alam lahiriah, hari ini mempunyai kekuatan dengan kenyataan-kenyataan yang tak terbantahkan. Penemuan sesudah penelitian dan percobaan yang sungguh-sungguh, kenyataan-kenyataan ini mengungkapkan bahwa bencana-bencana alam terjadi sebagai hasil dari sebab-sebab alami. Di sana tak ada campur tangan Ilahi dalam kejadian-kejadian semacam itu. Ini menyisihkan para pengikut dari berbagai agama dari pijakan yang sebelum itu mereka berdiri di atasnya. Mereka tidak dapat menghasilkan suatu bukti untuk menyokong pandangan mereka bahwa bencana-bencana itu bagaimanapun disebabkan oleh Wujud Yang Maha Tinggi.

Pandangan bahwa gejala alam yang kita lihat dalam berbagai macam kemalangan tak diragukan lagi adalah berhubungan dengan kemurkaan Tuhan telah mulai disegarkan kembali oleh Jama’at Ahmadiyah dengan keyakinan kuat. Oleh sebab itu, merupakan keharusan bagi Jama’at Ahmadiyah bahwa para peneliti dan penyelidiknya hendaknya memeriksa masalah ini dari semua segi. Mereka seharusnya tidak membatasi patokan mereka dalam hal ini belaka melainkan hendaknya menyajikan bukti segar yang masuk akal dari penemuan-penemuan mereka sendiri dalam menyokong segi pandang mereka supaya mereka boleh memberikan jawaban secara memuaskan terhadap derajat yang lebih tinggi dari dalil manusiawi dan intelektual yang unggul hari ini.

Orang yang menentang kita pada hari ini adalah jauh lebih unggul dalam ilmu pengetahuan duniawi dari pada pendahulunya pada seribu hingga lima juta tahun yang lampau. Tak ada dalil keagamaan yang masuk akal tidak pula teriakan segi pandang seseorang dari puncak-puncak atap yang pernah [terjadi] seperti himbauan bagi manusia modern. Maka pada tahap ini adalah timbulnya perang baru antara [paham] beragama dan tak beragama dalam medan ini juga. Pertentangan-pertentangan kecil pada hari ini menunjukkan penaklukan yang penuh permusuhan atas kekuatan-kekuatan keagamaan dan kemenangan puncak bagi atheisme (paham tak ber-Tuhan). Sungguh, kemenangan ini tampaknya kembali bersuara sehingga [orang] yang telah terkesan dengan dalil-dalil atheisme (pada tahun 1976 – Red), satu bagian besar dari masyarakat Muslim telah melompat ke dalam rangkaian [golongan] yang melepaskan tangan dari pemikiran campur tangan Ilahi. Ternyata, ketika petir menghantam orang yang berduka cita di jalan-jalan dengan terpaksa menyatakannya sebagai suatu musibah dari Ilahi. Ketika wabah menggantung seperti pedang Damokles di atas kepala mereka, selama beberapa hari mereka dengan bersemangat memanjat menara-menara untuk menyerukan shalat atau mungkin mengutarakan kata-kata pemohonan ampun atau berdo’a dan kembali kepada Allah Ta’ala. Namun meskipun ada pengakuan tak terucap akan peringatan dari Tuhan, tak ada tanda perubahan yang bermakna terjadi dalam kehidupan mereka. Perhatian sementara yang mereka berikan kepada Tuhan berlalu dari hati dan pikiran mereka seperti seorang pengembara – kini engkau melihat mereka, kini engkau tidak [melihat]. Mereka tak pernah meluangkan pikiran pada pendakwaan yang dinyatakan dalam Kitab Suci Al-Qur-an bahwa hukuman-hukuman Ilahi ini tidak hanya berhubungan dengan amal-amal buruk melainkan juga karena penolakan terhadap nabi-nabi pilihan Tuhan. Nyatanya, pendakwaan Al-Qur-an ini berkembang sedemikian jauh sehingga menyatakan bahwa tanpa memandang pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan manusia, tak ada hukuman yang menimpa manusia hingga waktu yang tepat ketika Tuhan telah mengutus rasul atau nabi-Nya kepada orang-orang seperti itu dan bahwa rasul atau nabi itu telah memperingatkan dan menegur orang-orang dan mengajak mereka kepada kebaikan bagi mereka di masa mendatang.

Jama’at Ahmadiyah, yang menganut prinsip Al-Qur-an Suci yang tersebut dahulu, secara teratur mengalami perwujudan (penggenapan) ajaran ini hari demi hari dalam menyampaikan tanggapan. Para Ahmadi sering kali mendapatkan kesempatan untuk mengubah pandangan-pandangan tentang masalah ini dengan kawan-kawan dan rekan-rekan mereka yang bersedia menerima konsep bencana-bencana biasa dan menggolongkannya sebagai hukuman (azab) Ilahi. Tapi kawan-kawan dan rekan-rekan ini tak pernah bersedia untuk melangkah lebih lanjut pada satu tahap dan mengakui bahwa sebelum kemalangan-kemalangan yang mengerikan ini terjadi, Allah Ta’ala pasti telah mengutus seorang nabi dari antara para pengikut Nabi Suci Muhammad(s.a.w.). Beliau adalah pemberi kabar suka dan peringatan pada zaman ini.

Para Ahmadi sering kali terpaksa menerima perolokan yang ditujukan kepada mereka oleh rekan-rekan mereka dari keyakinan lain. Sebuah tuduhan dibuat bahwa tiap-tiap kemalangan yang menimpa dunia dianggap oleh para Ahmadi sebagai bukti kebenaran pendakwaan dari Pendiri Jama’at mereka, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. Maka para penentang menuduh, “Jika ada gempa bumi di Chili atau getaran di China dengan skala Richter tinggi; apakah bangunan-bangunan di Italia, Turki atau Iran hancur menjadi puing atau kota-kota Hazara dan Mardan merasakan kiamat; apakah hujan yang sangat lebat atau ada musim kekeringan; apakah ada badai atau topan yang sangat keras atau angin rebut atau cuaca menjadi sangat panas dan sangat lembab; pendeknya, bagaimanapun kejadian itu terjadi atau dalam bentuk apa bencana itu terjadi, tanpa aturan atau alasan, orang-orang kalian akan cepat mengajukan hal-hal ini sebagai bukti kebenaran Mirza kalian lebih jauh”. Betapa mengada-ada dan berolok-oloknya alasan yang tak seorang pun di bumi dapat terima hari ini. Mendengar hal ini, sebagian Ahmadi kebingungan dan mulai ragu-ragu. Selain itu, sejak zaman azali (dahulu kala), dunia telah mengalami banyak bencana. Bagaimana kemudian kita sebagai Ahmadi dapat mengajukan bencana-bencana alam semacam itu sebagai bukti kebenaran Hadhrat Masih Mau’ud(a.s.)?

Satu hal membawa ke hal yang lain. Pemikiran-pemikiran kita dengan cepat berpacu ke sumber ketentraman lainnya. Kami mulai mencari sebab yang nyata mengapa Al-Qur-an Suci secara jelas menyebutkan berbagai bencana alam sebagai tanda-tanda kebenaran nabi-nabi Tuhan. Mengapa Al-Qur-an Suci penuh dengan contoh-contoh kehancuran satu kaum sesudah kaum lain yang telah menolak nabi-nabi pilihan Tuhan yang Dia utus kepada mereka? Tuhan hanya menyelamatkan orang-orang yang beriman. Mengapa, misalnya, Al-Qur-an Suci menarik dalil yang sama dalam mendukung Penghulu Para Nabi, Nabi Suci pembawa Islam(s.a.w.)? Al-Qur-an Suci memperingatkan manusia bahwa jika mereka menolak Penghulu para nabi ini, maka kemalangan-kemalangan yang ditimpakan kepada orang-orang yang dahulu menolak para nabi yang derajatnya lebih rendah dari pada Rasulullah(sa.w.) dalam pandangan Tuhan juga akan menimpa orang-orang kafir itu. Nasib mereka bahkan akan lebih malang dari pada orang-orang yang menolak para nabi terdahulu. Oleh sebab itu, hukuman-hukuman semacam itu akan membuktikan kebenaran Nabi Suci(s.a.w.) ini.

Sesudah mempertimbangkan masalah yang berhubungan ini, orang tidak lagi terbatas pada ajaran Ahmadiyah, tapi pemikiran-pemikiran orang beralih pada prinsip dasar hukuman Ilahi yang lebih luas dan lebih tinggi. Apa prinsip ini? Apakah merupakan hak bagi suatu agama untuk mendakwakan bahwa karena penolakan terhadap nabi Tuhan, bencana-bencana dunia merupakan tanda pasti dari hukuman Tuhan? Dengan kata lain, haruskah kita mengibaskan jari Tuhan pada setiap bencana?

Sesudah catatan-catatan pengantar ini penekanan makna dari masalah yang sedang timbul, saya kini akan coba, sejauh mungkin, untuk menyoroti berbagai segi dari masalah ini dengan harapan akan mendorong perenungan lebih lanjut oleh saudara-saudara seagama saya.

Segi Pandang Ahmadiyah
Para Ahmadi mendasarkan pandangan-pandangan mereka sepenuhnya dan satu-satunya atas ajaran-ajaran Kitab Suci Al-Qur-an dan menetapkan segala segi permasalahan ini pada landasan Al-Qur-an Suci. Segi pandang Ahmadiyah yang saya maksudkan bahwa titik pandang yang, menurut Jama’at Ahmadiyah, mewakili segi pandang Islam hakiki, tanpa memandang apakah golongan Muslim lain sepakat atau tidak. Dengan itu semoga, untuk menghindarkan keraguan dalam suatu masalah dengan orang yang tidak percaya, berikut ini adalah ciri khas penting dari segi pandang Ahmadiyah yang hendaknya selalu diingat:
1. Para Ahmadi sesaat pun tidak membantah kenyataan bahwa bencana-bencana, kemalangan-kemalangan serta gempa-gempa bumi dan lain-lain, terjadi karena sebab-sebab alami dan bahwa kejadiannya benar-benar sesuai dengan hukum-hukum alam. Menurut para Ahmadi, Tuhannya agama adalah juga Tuhannya alam dan semesta ini. Hukum-hukum yang kita tetapkan sebagai hukum-hukum alam, bekerja di bawah sifat-sifat Tuhan yang sempurna dalam ketentuan-ketentuan yang ditetapkan Tuhan. Walaupun penelitian yang rinci dan teliti hingga sekarang telah mengungkapkan banyak hal dari rahasia-rahasia yang terungkap kepada manusia, penelitian-penelitian ini merupakan [langkah] awal untuk mengakui secara terbuka bahwa mereka telah menggores pada permukaan belaka dan bahwa lebih banyak lagi yang tertinggal untuk dikaji. Tak ada segi yang dapat ditetapkan sebagai landasan pertama. Masing-masing penyebab tampaknya merupakan satu hasil dari sebab yang lain. Seperti kotak China, membuka yang satu membawa kepada kotak yang lain, dan dengan demikian satu akibat membawa pada sebab yang lain. Sejauh hubungannya dengan pencapaian akal manusia, mata rantai sebab dan akibat ini adalah tak menentu siapa yang mengetahui dari mana itu berawal dan di mana itu akan berakhir?

Ketika kita merenungkan ajaran-ajaran Kitab Suci Al-Qur-an, kita menjumpai bahwa Allah Ta’ala adalah Awal (yakni, melalui Dia segala penciptaan bermula) dan Akhir (yakni, kepada Dia semua akan kembali). Dia merupakan Sumber dan Keamanan, sebagai Muslim, kita secara teratur membaca dzikir kepada Allah Ta’ala berikut ini: Kita adalah milik Allah dan kepada-Nya kita akan kembali.

Dalam membaca ini, kita pada dasarnya menegaskan ajaran yang tersebut dahulu.

Dengan dasar prinsip-prinsip ini, Jama’at Ahmadiyah tidak menganggap hukum-hukum alam itu berdiri sendiri atau terpisah dari hukum-hukum agama. Keduanya merupakan bagian dan kesatuan dari hukum-hukum Tuhan. Oleh sebab itu, pengakuan bahwa perubahan-perubahan alam jasmani disebabkan oleh [gejala] alam, sama sekali tidak bertentangan dengan penerimaan bahwa seluruh hukum alam berjalan di bawah kekuasaan dan kendali Tuhan serta dalam hukum-hukum yang Dia tetapkan dan takdirkan dan bahwa Allah Ta’ala merupakan Sumber dari segala sumber kekuatan dan kekuasaan yang dimunculkan atau digunakan pada waktunya masing-masing dalam perubahan atau transformasi alami.
2. Meskipun mendasarkan keyakinan bahwa kemalangan-kemalangan dan bencana-bencana merupakan tindakan Tuhan dan atas Kehendak-Nya, Jama’at Ahmadiyah tidak mempercayai bahwa masing-masing dan setiap peristiwa alam, bencana, kekacauan atau perubahan-perubahan yang lebih buruk merupakan cermin dari azab atau hukuman Ilahi. Kegagalan untuk memahami kebenaran masalah yang sedemikian penting, [maka] seorang atheis dengan tanpa kecuali akan mencoba untuk membantah dan berkeberatan. Hingga satu tingkat [tertentu], keberatan-keberatannya dapat dipahami. Tapi jika seseorang membuat-buat pandangan dan pendapat pribadinya dan melontarkannya dalam bidang agama, mereka akan dibingungkan dengan pertentangan-pertentangan dan anggapan-anggapan palsu dari orang itu. Agama tak akan dapat mempertahankan dirinya. Ideologi-ideologi non agama kemudian akan mendapatkan tempatnya pada hari [ketika] membuktikan kelemahan dalam dalil-dalil yang dikemukakan oleh agama dalam bertahan terhadap pandangan-pandangan dari orang-orang semacam itu. Para penentang akan mendakwakan bahwa suatu agama yang berdasarkan pada dongeng yang tak ilmiah dan tak masuk akal semacam itu adalah sepenuhnya kosong dari kebenaran dan tak dapat diterima seluruhnya. Dalil akal menetapkan bahwa agama yang seperti itu terlepas dari tangan.

Ini merupakan kesukaran besar yang ajaran Kristen terpaksa hadapi selama masa kebangkitan (renaissance). Pendeta sibuk mengemukakan pandangan-pandangan kaku dan ketinggalan zaman yang tak punya jejak dalam ajaran-ajaran yang diwahyukan Ilahi. Kesimpulan-kesimpulan mereka adalah berdasarkan pada dongeng-dongeng yang diselewengkan dalam Alkitab (Bible) atau dugaan-dugaan dan salah tafsir yang didasarkan pada ajaran-ajaran Perjanjian Lama. Ketika penelitian fisika, penemuan-penemuan ilmu pengetahuan dan ilmu pengalaman terbuka bagi orang-orang, dan khususnya orang-orang Eropa bahwa penemuan-penemuan mereka bertentangan dengan ideologi Kristen, mereka secara alami menyimpulkan bahwa ajaran Kristen adalah palsu dan upacara belaka. Akibatnya, mereka mulai meninggalkan ajaran Kristen. Mereka memberontak terhadap ajaran Kristen secara terbuka ataupun mengambil jarak darinya – jika tidak dengan kata-kata, maka paling tidak dengan perbuatan. Satu masyarakat yang lebih bebas dan berpaham kebendaan mulai berkembang di Eropa. Ia melepaskan dirinya dari ikatan ajaran Kristen. Kesenjangan itu kini lebih terlihat – dalam setiap hal kebendaan, masyarakat ini bebas dari Gereja.

Kaum Muslimin, dan khususnya para Ahmadi, mempunyai kewajiban moral untuk belajar dari pengalaman ini. Dalam mengejar tujuan mereka untuk menegakkan keunggulan agama mereka, mereka jangan pernah melepaskan bimbingannya. Mereka wajib mengamalkan kepedulian dan ketekunan yang layak dan jika agama mereka tidak membuat pendakwaan, mereka jangan menisbahkannya pada agama mereka.

Satu hal yang sangat jelas dari ajaran-ajaran Al-Qur-an Suci, Sunnah Nabi Suci Muhammad(s.a.w.), serta dari tulisan-tulisan Hadhrat Masih Mau’ud(a.s.). Itu adalah bahwa Islam tidak mendakwakan di tempat mana pun bahwa semua bencana alam dan musibah alam merupakan hukuman (azab) Ilahi. Ketika pada banyak kejadian tertentu bertepatan dengan pendakwaan bahwa kadang-kadang Allah Ta’ala menghubungkan (menggunakan) hukum jasmani dan alam untuk menimpakan hukuman kepada kekuatan-kekuatan (kekuasaan) duniawi yang bukan hanya menentang gerakan agama dan keruhanian, tapi juga telah memanfaatkan segala kekuatan dan sumber daya kebendaan mereka untuk menghapuskan agama yang baru timbul dan sedang berkembang. Bila saja doktrin-doktrin keagamaan bertabrakan dengan filsafat-filsafat atheis atau musyrik dan kekuatan-kekuatan atheis bangkit menentang secara terbuka untuk menghapuskan agama yang baru muncul itu hingga puncaknya, maka dalam keadaan semacam itu, menurut Kitab Suci Al-Qur-an, hukum-hukum alam digunakan untuk mengalahkan kekuatan orang-orang kafir. Adalah pada saat-saat ini bahwa kita melihat hukum-hukum Tuhan secara kiasan berperan sebagai pencuri untuk menangkap pencuri. Dengan kata lain, bagi orang-orang yang menolak adanya Wujud Yang Maha Kuasa dan memegang [keyakinan] mereka yang tak dapat dipertanggung jawabkan, bagi mereka hubungan timbal-balik benda-benda duniawi itu sendiri ditetapkan sebagai sebuah lubang bagi kemusnahan dan kehancuran mereka. Dalam istilah keagamaan, ini diistilahkan sebagai hukuman Ilahi bagi mereka. Ketika ini terjadi, tak ada kejelasan antara hukuman dari Tuhan dan apakah itu telah terjadi disebabkan oleh hukum alam.

Ambillah, sebagai misal, tenggelamnya Fir’aun dengan semua pengikutnya di perairan Mesir. Selama bertahun-tahun yang tak terhitung, gelombang-gelombang mengosongkan airnya ke dalam laut dua kali sehari. Tuhan mengetahui berapa banyak hewan dan manusia pra sejarah atau dalam hal ini orang-orang berperadaban kuno Mesir yang disapu oleh kisaran air itu dan orang-orang sekarang yang bangkit dan jatuh dalam gelombang itu atau berapa banyak yang tak diketahui atau tak terlacak tenggelam karena kecelakaan navigasi atau hilang di kedalaman perairan Nil.

Namun, tidak Al-Qur-an Suci, tidak pula kitab-kitab agama lain, menetapkan musibah-musibah seperti itu sebagai hukuman Ilahi. Siklus hukum alam tetap bergerak dan mengulangi jalannya. Suatu kejadian yang fatal tak dapat disebut sebagai hukuman Ilahi tidak pula Islam membuat pendakwaan semacam itu.

Dalam beberapa kejadian, bagaimanapun, yang kita akan uji kemudian dengan lebih mendalam, gejala-gejala alam mempunyai satu ciri khusus yang dikenal dalam istilah keagamaan sebagai azab Ilahi. Gejala ini termasuk bukti-bukti yang demikian jelas dan tampak dalam mendukung yang darinya bahkan seorang atheis (tak ber-Tuhan) yang melihatnya dengan tak berat sebelah pun, akal dan dalil itu saja akan memaksanya untuk mengakui bahwa di dalamnya ada kejadian khusus (yang agama menyebutnya azab Ilahi) suatu kekuatan luar biasa yang telah secara positif melakukannya. Itulah keistimewaan ini yang membedakannya dari bencana alam dan laju gilingan bencana dan meletakkannya dalam dunianya sendiri.

Marilah kita menguji dengan lebih rinci bencana yang menimpa Fir’aun agar maksud saya menjadi lebih jelas. Satu contoh yang tidak tersebut dalam kitab suci lain adalah keistimewaan wahyu Al-Qur-an Suci. Ia memberi-tahukan kita bahwa pada waktu ‘tenggelamnya’ itu, Fir’aun menyatakan keimanan pada Tuhannya Bani Israil dan memohon keselamatan. Tuhan menjawab: Maka pada hari ini Kami selamatkan badan engkau [saja] agar engkau menjadi tanda bagi orang-orang yang datang sesudah engkau. (QS 10:93)

Percakapan pribadi antara orang yang sedang tenggelam dan Tuhannya ini tak ada pendakwaan [pada kitab lain] selain Al-Qur-an Suci. Pada lahirnya, ia tak dapat dibuktikan secara akal sehat untuk menghilangkan keraguan tidak pula untuk masalah itu dapat dipahami oleh manusia selama tiga setengah millennium tahun yang lalu tapi hanya Tuhan yang mengetahui ‘keinginan orang yang mau mati’ itu berupa dialog antara Fir’aun yang akan tenggelam dan Penciptanya.

Bagi seorang atheis, percakapan ini tak lebih dari pada pemikiran yang jelas antara Fir’aun dan dewa tertentu. Tapi ketika kita mengujinya, pikiran kita seketika teringat dengan pendakwaan kedua yang dibuat dalam Al-Qur-an Suci. Menurut pendakwaan ini, tenggelamnya Fir’aun bukan kebetulan belaka tapi sesuai dengan Kehendak Ilahi. Itu merupakan hukuman karena penolakan terhadap Musa(a.s.) serta karena penentangan dan pembangkangan Fir’aun sendiri, sebegitu banyak sehingga ketika Fir’aun berpikir bahwa dia akan mati, dia bertobat kepada Tuhannya Bani Israil. Maka, menurut Al-Qur-an Suci, dia mengatakan: Saya beriman bahwa tak ada Tuhan kecuali Tuhan yang diimani Bani Israil, dan saya berserah diri kepada-Nya. (10:91)

Pengakuan ini menunjukkan kenyataan bahwa pada waktu permohonannya, Fir’aun tidak meninggalkan keraguan apa pun mengenai Tuhan yang dia rujuk dan dari-Nya dia memohon keinginannya waktu sedang tenggelam. Fir’aun memohon penangguhan pada saat-saat akhir kepada Tuhan yang diimani Bani Israil. Itu akan tampak bahwa pada waktu itu kematian sedang dia hadapi, Fir’aun sangat diliputi ketakutan sehingga dia mengakui kekalahan totalnya dengan istilah-istilah yang paling nyata. Lebih lanjut, dia tidak ingin meninggalkan keraguan bahwa dia mempunyai rasa sombong, takabur atau kebesaran diri dalam dirinya dan bahwa dia juga mengimani Tuhan yang Bani Israil sembah.

Menurut percakapan ini seperti yang dikemukakan dalam Kitab Suci Al-Qur-an, tak dapat ada bayangan keraguan yang tertinggal bahwa Fir’aun mempunyai pengertian yang salah mengenai adanya hukuman Tuhan alih-alih tenggelam karena kecelakaan. Pendapat yang berlawanan dengan sudut pandang Ahmadiyah dinyatakan di atas, tanggapan Tuhan pada permohonan Fir’aun yang sedang tenggelam menyajikan satu persoalan tanda yang penting. Itu bukanlah pendakwaan kosong. Sesungguhnya, setiap kata dari percakapan itu di dalamnya mengungkapkan jawaban Tuhan berlaku sebagai bukti yang tak dapat dibantah dalam mendukung segi pandang Ahmadiyah. Walaupun semuanya berlangsung sesuai dengan jalannya hukum alam, kejadian ini telah ditetapkan berbeda dengan ribuan kejadian lain yang serupa dan dikemukakan dengan cara yang khas.

Demi mendapatkan kejelasan, alih-alih mengemukakan terjemahan belaka, kami akan menyajikan penjelasan atas tanggapan Tuhan itu. Tampak dikatakan kepada Fir’aun bahwa karena engkau tidak percaya pada perlindungan ruhanimu, telah dengan terus-menerus menolak segala tanda yang ditunjukkan kepadamu, dan telah membuang setiap kesempatan yang dengannya ruhani engkau boleh diselamatkan, maka hari ini tak ada persoalan keselamatan ruhani engkau. Ya! Engkau mempunyai hak untuk meminta badan engkau diselamatkan. Maka, hari ini, Kami akan mengabulkan keinginanmu dengan menyelamatkan hanya badan jasmani engkau dan akan menjaga jasad engkau untuk masa mendatang. Kami melakukan ini sebagai contoh bagi generasi-generasi mendatang dan supaya jasad engkau mungkin menjadi sumber [pelajaran] bagi yang lain untuk mendapatkan keselamatan bagi ruhani mereka.

Jawaban yang menarik ini bukan merupakan pendakwaan kosong tapi penuh dengan bukti-bukti dari dalil-dalilnya sendiri. Ketika Nabi Suci Muhammad(s.a.w.) mengabarkan kepada manusia tentang dialog yang disebutkan dalam Al-Qur-an ini, sebagian orang tentu mengetahui bahwa Fir’aun tenggelam di beting sungai Nil. Tapi tak ada kitab suci terdahulu tidak pula catatan sejarah yang bahkan menyebutkan bahwa jasad Fir’aun diselamatkan yang akan menyediakan bukti bagi generasi-generasi mendatang. Allah Ta’ala menyebabkan Rasulullah(s.a.w.) untuk mendakwakan bahwa Tuhan telah berjanji kepada Fir’aun bahwa jasadnya tidak hanya akan diselamatkan tapi disimpan untuk masa mendatang agar manusia boleh mengambil pelajaran darinya.

Selama masa Nabi Suci Muhammad(s.a.w.) tak seorang pun yang mengetahui sesuatu pun tentang jasad Fir’aun. Oleh sebab itu, jika pendakwaan yang luar biasa ini benar, tak ada manusia di bumi ini yang dapat membuat pendakwaan semacam itu kecuali Allah Ta’ala yang memberikan kabar kepada beliau mengenainya. Sebaliknya, kalau pendakwaan ini dibuat dan diadakan sendiri, pendakwa itu akan terbukti palsu dan dalam hal ini Nabi Suci(s.a.w.) pembawa Islam, akan sepenuhnya tak masuk akal. Jika pada masa para sahabat Nabi Suci Muhammad(s.a.w.) dikenakan dengan masalah ini dan ditanya sehubungan dengan perkara wahyu yang telah disebutkan terdahulu di mana jasad Fir’aun disimpan atau bagaimana ia disimpan atau bagaimana kejadian ini dikemukakan sebagai peringatan bagi manusia, tak mungkin seorang pun dapat mengajukan tantangan dan memberikan tanggapan yang memuaskan tanpa bimbingan Ilahi. Seorang penanya mempunyai pertanyaan yang sama pada banyak generasi sesudah itu akan gagal untuk menemukan jawaban yang masuk akal. Apakah itu seorang Muslim di abad pertama, atau Muslim abad kedua, ketiga, keempat atau kelima tak ada yang mampu menjawab pertanyaan ini, sedemikian rupa hingga abad keempatbelas Islam terbitlah bulan yang selama kedatangannya sarana-sarana untuk kemenangan Islam tersedia.

Dalam abad keempatbelas Islam, itu bukan Muslim melainkan orang Kristen ahli kepurba kalaan Mesir, menemukan dan mengenali jasad Fir’aun yang tersimpan (Merneptah menurut Hadhrat Khalifatul Masih II(r.a.) – Red) yang telah mengalami hukuman tenggelam yang menghinakan dalam mendukung Musa(a.s.). Demi menyediakan kesaksian yang meyakinkan bagi percakapan rahasia itu dan kebenaran Kitab Suci Al-Qur-an, jasad Fir’aun yang tersimpan hari ini mengemukakan pelajaran moral bagi umat manusia.

Satu ciri khas yang menonjol dari peristiwa bersejarah ini adalah bahwa tenggelamnya Fir’aun merupakan keunikan jika dibandingkan dengan ratusan ribu kejadian tenggelam di perairan Mesir kuno. Kejadian yang satu ini disebut sebagai hukuman Ilahi sedangkan kejadian-kejadian lain yang tak terhitung banyaknya itu digolongkan sebagai kecelakaan dan bencana [biasa].
3. Prinsip ketiga dari segi pandang Ahmadiyah adalah bahwa hasil reaksi dan perubahan dari bekerjanya hukum-hukum alam hanya dapat digolongkan sebagai campur tangan Ilahi ketika kejadian-kejadian itu menunjukkan ciri-ciri khas tertentu yang dikenal dan memenuhi syarat-syarat tertentu. Dengan tiadanya ciri-ciri khas semacam itu atau gagal memenuhi syarat-syarat semacam itu, [maka] perubahan, pengaruh atau rekasi itu tidak dapat disebut sebagai hukuman Ilahi.
4. Semua bencana alam atau kemalangan pada zamannya semacam itu, yang dalam bahasa keagamaan diistilahkan sebagai azab atau hukuman, harus mengemukakan suatu tujuan atau maksud penting yang kita akan uji kemudian. Jika bertentangan dengan ini, walaupun kejadian-kejadian alam yang rutin dan bahkan bencana-bencana yang menyebabkan pengaruh atau kemalangan dalam lingkup luas, jelas tidak mengemukakan tujuan yang berhubungan atau berkaitan dengan agama.
5. Merupakan bukti dari Kitab Suci Al-Qur-an bahwa masing-masing pengaruh yang berbeda atau setiap jenis bencana alam atau azab yang terjadi melalui gejala alam atau bekerjanya hukum alam mempunyai suatu hubungan yang ditetapkan sebagai sarana-sarana hukuman Ilahi selama bertahun-tahun dan mungkin juga digunakan pada masa mendatang. Begitu pula, sebagai hasil dari amal-amal buruk yang sedang menelan tatanan masyarakat atau sebagai akibat banyaknya pelanggaran, dan amal-amal jahat, kerusuhan, berkembangnya ketidak tenangan atau bahkan peperangan mungkin juga dalam contoh-contoh khusus ditetapkan sebagai sarana-sarana hukuman Ilahi.

Dengan melihat prinsip-prinsip yang disebutkan terdahulu, satu hal tampak dengan jelas. Tak akan ada perbedaan mengenai masalah ini antara filsafat Islam yang dikemukakan oleh Ahmadiyah dan pandangan-pandangan orang atheis, pada bagian ini. Bagaimanapun, dunia atheis menempatkan kepercayaannya pada sebab dan akibat dari hukum-hukum alam belaka. Islam, sebaliknya, ketika menyetujui gejala alam, mempunyai sesuatu yang ditambahkan padanya. Islam mengakui bahwa tak ada keraguan bahwa semua bencana dan kemalangan ini disebabkan oleh hukum alam. Sungguh, alam semesta ciptaan Tuhan dan keseimbangan yang sempurna di dalamnya menyajikan nilai-nilai baik bahwa begitulah adanya. Tapi masalahnya tidak berhenti di sana. Menurut tujuan dan maksud yang mulia dari agama-agama, kadang-kadang sarana-sarana alami ini digunakan. Diri kita sendiri telah diciptakan Tuhan dan terikat pada hukum-hukum-Nya. Ketika ini menjadi masalahnya, maka hukum-hukum ini dapat juga digunakan untuk bertindak sebagai penghukum atau peringatan melalui pengaruh alaminya. Akibat-akibat ini disebut hukuman (azab) Ilahi.

Adalah jelas dari kajian Kitab Suci Al-Qur-an bahwa hukum-hukum alam kadang-kadang secara khusus bertindak menjadi Kehendak Allah Ta’ala dan bahwa bila saja ini terjadi, perubahan-perubahan yang dibuat oleh hukum alam itu membawa pada perbaikan atau keadaan lebih baik bagi suatu bangsa atau kaum dan mereka mendapatkan beberapa manfaat luar biasa darinya.

Ketika Nabi Nuh(a.s.) memperingatkan kaum beliau akan bencana yang menanti mereka, pada waktu yang sama, beliau menjanjikan kepada mereka anugrah-anugrah kekayaan, anak-anak dan kebun-kebun yang diberikan Tuhan jika mereka kembali kepada Tuhan. Beliau berusaha untuk membujuk mereka bahwa dari pada membuat Tuhan murka dan membuat hukum-hukum alam jadi musuh mereka, mereka hendaknya membuat Tuhan ridha, menjadikan hukum-hukum alam sebagai penolong mereka dan bersatu dengannya demi manfaat mereka.

Dalam Surah Nuh, masalah ini telah disajikan dengan sangat jelas. Filsafat Islam tentang hukuman dan ganjaran menjadi sangat jelas. Dunia sebagian besar mengetahui bahwa banjir besar berlaku sebagai hukuman bagi kaum Nabi Nuh(a.s.) tapi pada umumnya melalaikan kenyataan yang dikemukakan dalam Al-Qur-an Suci bahwa hujan juga dapat merupakan berkat Ilahi bagi kaum itu. Dalam beberapa keadaan, itu telah ditakdirkan bahwa tanah yang padanya kaum Nuh(a.s.) bermukim akan dilanda hujan terus-menerus. Masalah apakah hujan ini berlaku sebagai sumber keberkatan atau azab terletak di tangan kaum Nuh(a.s.) sendiri. Nabi Nuh(a.s.) menyatakan: Maka aku mengatakan kepada mereka, “Mohonlah ampun kepada Tuhan kalian, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepada kalian dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anak kalian, dan mengadakan untuk kalian kebun-kebun dan mengadakan [pula di dalamnya] untuk kalian sungai-sungai. Mengapa kalian tidak percaya akan kebesaran Allah?” (QS 71:11-13)

Kini anda lihat betapa menariknya masalah ini telah disajikan. Tak ada bantahan yang dapat diajukan terhadapnya. Awan-awan yang ada di atas dapat ditujukan terhadapnya. Awan-awan yang telah ada di atas dalam waktu lama menjadi berat dengan butir-butir air dapat turun sebagai azab atau dapat berlaku sebagai ganjaran. Jika sebagai ganjaran, maka dalam kata-kata Nabi Nuh(a.s.), dan tak ada keraguan bahwa itu adalah wahyu dari langit, ia dapat berupa hujan yang turun bertahap dan berhenti, dan mulai lagi. Alih-alih banjir besar, hujan itu akan masuk ke sungai-sungai, lereng-lereng dan terusan-terusan serta tanah pengairan. Kaum Nuh(a.s.) akan dikaruniai kekayaan dan anak-anak keturunan mereka akan dapat perbaikan ekonomi yang hebat. Sayang sekali! Mereka memilih pilihan yang salah. Penolakan mereka mengakibatkan banjir besar yang sedemikian luas yang dikenal di seluruh dunia.

Sedangkan masalah air, itu mungkin bukan sepenuhnya tidak tepat untuk menyebutkan manfaat-manfaatnya yang dengan air itu selama zaman Musa(a.s.) melayani kehendak-kehendak Ilahi. Kita telah mengetahui betapa air menjadi sumber azab Ilahi bagi Fir’aun dan para pengikutnya ketika air itu meliputi mereka, dan meskipun mereka semua kuat dan pandai, mereka tak tertolong. Satu contoh betapa air memberikan manfaat yang baik juga ada pada zaman Musa(a.s.). Air yang telah menenggelamkan Fir’aun dan para pengikutnya itu membawa seorang bayi lemah yang masih menyusui dalam kotak atau keranjang kayu dari tempat yang sangat berbahaya ke tempat yang aman dan selamat. Alih-alih mati, ia terjaga kehidupannya.

Masing-masing dari dua kejadian ini menunjukkan dua kejadian alam dalam gerakannya. Tapi air dari Mesir kuno yang tak dapat menenggelamkan seorang bayi lemah yang tumbuh menjadi utusan Tuhan yang besar, menyapu penentang besar dan berkuasa dari nabi ini. Ada banyak hal yang dapat direnungkan dari kejadian-kejadian ini bagi pikiran-pikiran yang tak berat sebelah.

Penulis:Hadhrat Mirza Tahir Ahmad (r.h.)
Sumber: Ahmadiyya Gazette Canada, April 1994, hal. 4-11.
Penterjemah: MA
(bersambung)

1 Response to “BENCANA ALAM ATAU HUKUMAN ILAHI?”


  1. 1 Bimo September 30, 2009 at 10:41 am

    Pemikiran orang yang mempunyai penalaran yang dangkal. Wajar bila pengikut ahmadiyah adalah orang-orang yang dangkal pemikirannya :mrgreen: :D


    @d3n

    Silahkan baca bagian selanjutnya, apakah kutipan-kutipan ayat Al-Qur’an akan anda katakan sebagai penalaran yang dangkal, bro?
    salam


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Salurkan bantuan kemanusian anda melalui: Humanity First Indonesia (Yayasan Kemanusiaan Indonesia) di Bank Mandiri-
Jakarta Plaza Mandiri
Rek No.: 070.000.4366.618

Blog Stats:

  • 149,130 total pengunjung di blog ini

Klik ikon MTA dibawah untuk menyaksikan siaran TV nonstop tanpa tayangan iklan, menyiarkan keindahan Islam.

September 2009
M T W T F S S
« Aug   Oct »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Pengunjung Mulai Jam 15.15, 27 Oktober 2008

free counters
Enhanced with Snapshots

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 130 other followers

%d bloggers like this: