Pemerintah Larang Ahmadiyah?

DILARANG???“MUI mendesak pemerintah supaya secepatnya melarang aliran Ahmadiyah yang ada di Indonesia karena Ahmadiyah telah membuat keresahan dimasyarakat” demikian saya baca di running text Metro TV tadi malam.

Setelah itu saya merenung, bila kemudian pemerintah mengabulkan permintaan MUI tersebut lalu apa langkah selanjutnya yang akan dilakukan oleh MUI dan Negara? Apakah akan melakukan pemaksaan kepada seluruh pengikut aliran ini untuk secara serentak dan bersama-sama menyatakan diri keluar dari aliran tersebut?
Suatu hal yang sangat bodoh saya kira apabila kita bisa mempercayai bahwa keyakinan seseorang bisa dirubah dengan sebuah pemaksaan, padahal Allah SWT menyatakan “Dan sekiranya Tuhan engkau memaksakan kehendaknya niscaya semua orang yang ada di muka bumi akan serentak beriman. Apakah engkau akan memaksa manusia hingga menjadi beriman? (10:100) sesungguhnya laa ikra hafiddin, bahwa tidak ada paksaan dalam agama!

Bagaimana pula dengan konstitusi Negara ini yang menjamin sepenuhnya keyakinan seseorang, apakah pemerintah akan melanggarnya atau mungkinkah sebelum melaksanakan itu pemerintah merasa perlu untuk mengamandemen dan merombak konstitusi yang ada?
Lalu bila semua itu telah dilakukan dan ternyata warga Ahmadiyah tetap keukeuh dengan keyakinannya, apa yang akan dilakukan?Apakah akan mempenjarakan ataukah mengirim mereka ke planet lain? ( gak mungkin juga khan mengirim mereka keluar negeri , kalau gak mau diketawain bangsa2 beradab) Tidakkah kita juga akan ‘malu hati’ dengan fakta bahwa Allah saja sang pemilik alam dunia ini tidak keberatan kok buminya dihuni oleh orang2 dengan berbagai kepercayaan bahkan yang menentang keberadaannya sekalipun?
Lalu kita mempunyai hak apa sehingga merasa lebih berhak menentukan bahwa negeri ini hanya boleh dihuni oleh orang2 dengan kepercayaan tertentu saja?

Mengenai klaim MUI bahwa masyarakat resah dengan keberadaan Ahmadiyah, sebenarnya masyarakat mana yang dimaksudnya? Bukankah selama ini bangsa kita terkenal sebagai bangsa toleran yang dapat hidup berdampingan damai dengan tetangga atau temannya yang mempunyai kepercayaan berbeda? Kalaupun kemudian didaerah-daerah tertentu terjadi konflik keagamaan kita selalu tahu bahwa hal itu terjadi bukan karena masyarakat didaerah tersebut yang resah dengan kepercayaan tetangganya tapi konflik itu terjadi manakala ada fihak2 yang bermain membenturkan mereka. Bukankah demikian pula yang terjadi terhadap kelompok Ahmadiyah? Bila sebagian masyarakat kita saat ini melakukan tindakan2 anarkis terhadap Ahmadiyah bisakah kita percaya bahwa hal itu terjadi karena masyarakat resah atas keberadaan mereka? Kalau ya kenapa hal seperti ini tidak terjadi dari dulu dimana kelompok ini telah eksis dibumi pertiwi sejak 1925, jauh sebelum Negara Kesatuan Republik Indonesia sendiri lahir?

Sebelum bertindak lebih jauh saya kira ada baiknya apabila MUI maupun Pemerintah mau belajar dari sejarah. Dalam hal yang menyangkut Ahmadiyah kita bisa belajar dari Pakistan yang pada tahun 1984 dibawah rezim Zulfikar Ali Bhuto telah mengabulkan desakan dari Majelis Ulama-nya Pakistan mengamandemen konstitusi Negara tersebut dimana kemudian kelompok Ahmadiyah ditempatkan sebagai golongan minoritas non muslim. Zulfikar Ali Bhuto mengklaim bahwa apa yang selama ini tidak pernah orang bisa lakukan, kini dengan perantaraannya lonceng kematian Ahmadiyah telah didentangkan, dan tidak lama lagi Ahmadiyah akan lenyap dari muka bumi.
Kemudian dibawah rezim Zia Ul Haq kekerasan-kekerasan terhadap kelompok Ahmadiyah semakin hebat lagi, dimana mereka dilarang melaksanakan apa yang orang Islam biasa laksanakan, seorang pengikut Ahmadiyah bisa langsung dijebloskan ke penjara hanya karena ia mengucapkan “assalamu’alaikum”.

Dengan kondisi seperti itu pimpinan tertinggi Ahmadiyah merasa sangat sulit menjalankan organisasinya dan memutuskan untuk keluar dari Pakistan. Disaat mana Zia Ul Haq pun mengeluarkan perintah cekal terhadap pimpinan tertinggi Ahmadiyah tersebut. Tapi ketika Khalifah ini keluar meninggalkan Pakistan, beliau tidak membuat pemalsuan dokumen, di passport nya tetap tertulis nama beliau dan jabatan beliau sebagai: The Head of Ahmadiyya Muslim Community, petugas pabean yang memeriksanya dibandara-pun yakin bahwa inilah orang yang dicekal, namun setelah berusaha mengkonfirmasi pada atasannya selama 3 jam dan atasannya pun tidak  berhasil mengkonfirmasi pada atasannya lagi, petugas pabean ini tidak bisa berbuat apa-apa, selain membiarkannya pergi. Apa pasalnya? Ternyata Zia Ul Haq telah salah membuat instruksi dimana yang beliau perintahkan untuk dicekal itu adalah: Mirza Nasir Ahmad, bukan Mirza Tahir Ahmad, padahal Mirza Nasir Ahmad adalah pimpinan sebelumnya yang pada saat peristiwa itu telah lama meninggal dunia. (dari buku: A Man of God oleh Ian Adamson)

Apa yang terjadi kemudian? Sebagian orang-orang Ahmadiyah Pakistan yang karena tekanan dan intimidasi di negara kelahirannya sudah tidak tertahankan lalu bermigrasi keberbagai Negara lain dan disana kemudian mendapatkan penghidupan yang lebih baik, merekapun tidak alpa untuk menyebarkan faham mereka dan membangun mesjid2 megah dinegara barunya. Para ahli IT dari kaum teraniaya inipun kemudian mampu mendirikan sebuah stasiun TV yang  siarannya bisa diakses dari seluruh muka bumi, setiap saat. Sehingga anda dan saya-pun bila memiliki antenna parabola bisa ‘mengintip’ siaran2 mereka any time!
Siaran TV yang multi bahasa ini, siaran dalam bahasa Arabnya konon sedang digandrungi oleh masyarakat di negara2 Timur Tengah. Tidak  sedikit pula khabarnya pemirsa warga Arab yang kemudian bergabung dengan Ahmadiyah.

Saat Zulfikar Ali Bhuto menindas mereka, jumlah pengikut Ahmadiyah diseluruh dunia hanyalah sekitar 15 juta saja, tapi kini dari pada hilang seperti apa yang diyakini Bhuto, malah telah ‘membengkak’ menjadi 200 juta!
Ahmadiyah Pakistan sendiri tetap eksis dan makin maju sekalipun tidak bisa melangsungkan program-program kegiatannya semacam pertemuan tahunan. Dua atau tiga tahun yang lalu saya mendengar dari seorang kawan yang baru pulang dari Pakistan bahwa saat ini dolar yang masuk ke Rabwah (kota Ahmadiyah) yang dikirim para Ahmadi pada keluarganya dari luar negeri jauh lebih besar ketimbang dolar yang masuk dan beredar dikota industri Pakistan. Pemerintah Pakistanpun tidak mungkin dapat menutup langitnya supaya penduduk negeri itu tidak bisa menerima pesan-pesan moral dakwah Ahmadiyah melalui TV yang disiarkan 24 jam dalam sehari, secara terus menerus tanpa tayangan iklan, keseluruh dunia.

Sebaliknya kita sama-sama tahu bagaimana akhir kehidupan yang tragis dari dua petinggi Pakistan itu. Bhuto tewas ditiang gantungan atas perintah Zia dan Zia sendiri tewas ketika pesawat terbang yang ditumpanginya bersama-sama dengan para petinggi militer Amerika meledak diangkasa. Tak ada yang tersisa dari jasad Zia kecuali sepotong gigi yang diyakini sebagai miliknya. Penyebab dari peristiwa itu sendiri hingga kini tidak dapat diketahui.
Itulah fakta sejarah!

Selain dari Pakistan, rasanya kita pun bisa belajar dari kita sendiri. Betapa pengusiran paksa mereka oleh Habib Abdurrahman Assegaf (baca: Abdul Haris Umarella) cs dari pusatnya diParung, juga peristiwa2 anarkis lainnya, telah menjadi semacam blessing in disguise bagi kelompok ini. Seminar-seminar tentang Ahmadiyah diselenggarakan dimana-mana, pembelaan dari berbagai pihak ataupun tokoh masyarakat muncul kepermukaan, bahkan saya denger saat ini kampus2 Universitas Islam di Indonesia menyediakan stand khusus bagi buku2 Ahmadiyah di perpustakaanya.

Jadi maukah kita belajar?

Katakanlah ”hai manusia, sesungguhnya hak kini telah datang kepadamu dari Tuhanmu, maka barangsiapa mengikuti petunjuk, maka ia mengikutinya untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan barangsiapa tersesat, maka itu hanya untuk kerugian diri sendiri. Dan aku bukanlah penjaga atas dirimu”. (QS Yunus-109)

9 Responses to “Pemerintah Larang Ahmadiyah?”


  1. 1 jusman December 31, 2007 at 10:09 am

    mengikuti jejak pakistan

  2. 2 rizqi awal January 1, 2008 at 1:30 pm

    Ahmadiyah tidak bisa diberantas kecuali negeri-negeri kaum muslim mau menegakkan syariat islam secara menyeluruh

  3. 3 Opung January 4, 2008 at 4:03 am

    Mas, boleh saja menganut aliranapa saja bebas kok, tapi jangan mengatas namakan Islam kalai kalau nabinya saja orang India dan kitambya juga bukan al’Quran. faham mas.

    @deden
    trims atas supportnya…tapi bila yang dimaksud dengan aliran itu adalah Ahmadiyah terus terang saya menjadi tidak faham dg maksud Mas Subari!
    Nabinya orang Ahmadiyah adalah Muhammad SAW, kitab sucinya juga adalah AL-Qur’an! Didalam kepercayaan Ahmadiyah Mirza Ghulam Ahmad tidak lebih dan tidak kurang hanyalah sekedar seorang pembantu Rasulullah SAW yang bertugas untuk mengembalikan Islam kebentuknya semula seperti apa yang diajarkan Rasulullah SAW.
    Bila dikatakan kitab suci Ahmadiyah adalah Tadzkirah dan bukan Al-Qur’an seperti yang sering dituduhkan berbagai pihak, maka itu adalah suatu kebohongan belaka!
    Mas,Tadzkirah itu adalah sebuah buku yang terbit lama setelah pendiri Ahmadiyah itu sendiri wafat dan tak banyak pula orang Ahmadiyah yang memiliki buku tersebut!
    Bila Mas meragukan omongan saya, silahkan Mas melakukan sidak ke-rumah2 pengikut Ahmadiyah untuk mengetahui kitab suci apa yang ada dirumah mereka, apakah itu Al-Qur’an ataukah Tadzkirah seperti yang sering dihembus2kan tokoh penentang Ahmadiyah.

    Saran saya, janganlah Mas ikut2an mengatakan sesuatu yang tidak benar dan tanpa bukti karena cara seperti itu tidak disukai Allah SWT.

  4. 4 mirzaahmad82 January 4, 2008 at 11:09 am

    sepertinya ada yang ga paham sama sejarah islam dan nabi2nya, padahal diceritain di alquran juga.nabi musa di temani oleh nabi harun pada waktu yg sama. dan nabi-nabi setelah musa adalah nabi yg syariatnya ga berubah dari syariat musa, kecuali nabi muhammad dan seterusnya.

  5. 5 Abdul January 5, 2008 at 4:11 am

    orang Ahmadiyah itu harusnya bersyukur dengan kondisinya seperti sekarang, karena bisa merasakan suatu sunatulloh yang pernah dirasakan Rasulullah SAW dan para sahabatnya di awal Islam ini lahir.Bagaimana dahulu Rasululloh SAW dan para sahabatnya dimusuhi, diteror, dicap sesat,diusir, dilempari, dilarang beribadat dlsb. Kini anda juga mengalami dan merasakannya! Jadi sekali lagi, berbangga hati dan bersyukurlah anda!

  6. 6 Abdul January 6, 2008 at 4:56 am

    sebenarnya komen saya ini untuk tulisan di tempat lain yang berjudul Surat FUI kepada Jaksa Agung RI tentang Ahmadiyah, namun tampaknya moderator disana keberatan karena tidak ditampilkan juga!

    komen saya sebagai berikut:
    Disatu pihak saat ini saya melihat Ahmadiyah telah dianggap sesat oleh sebagian besar umat Islam dan FUI mewakili banyak firqoh dalam Islam meminta Kejagung membubarkannya.

    Dilain pihak saya juga membaca bahwa Rasulullah SAW telah mengingatkan kita, bahwa kelak Islam akan terpecah menjadi 73 firqoh dan yang benar hanya 1 saja. Allah SWT dalam Al-Qur’an surah 6 ayat 116 juga mengingatkan “dan jika engkau mengikuti kebanyakan orang dibumi, mereka akan menyesatkan engkau dari jalan Allah. Tiada yang mereka ikuti melainkan persangkaan belaka dan mereka tiada lain hanya berdusta”

    Dalam logika saya, kalau yg benar 1 dan ia dikatakan tidak benar oleh 72, ya terang aja yang satu kalah pamor dan yang dominan yg kelihatan seperti benar!

    Maka rasanya tidak keliru apabila saya memutuskan untuk mempelajari Ahmadiyah terlebih dahulu sebelum memvonis mereka sesat atau tidak sesat. Saya tidak akan serta merta ikut2an karena saya takut kelak Allah SWT mempertanyakan kenapa saya mengatakan sesuatu yang saya sendiri tidak mempunyai pengetahuan tentangnya..

    terima kasih

    @deden
    keputusan yang sangat bijaksana, saya kira! Masya Allah. Mohon maaf untuk menghormati nama situs yg anda maksud, nama situs yg anda tulis tersebut saya hapus dan diganti dengan kata ditempat lain…harap anda tidak keberatan!

  7. 7 Marie January 10, 2008 at 3:17 am

    Saya percaya hikmahnya dibalik penindasan Jemaat Ahmadiyah (JA) ini, adalah jalan kearah membesarnya JA, walaupun penuh dengan pengorbanan harta dan jiwa. Orang dari tidak tahu menjadi tahu dan MENCARI TAHU akhirnya menjadi kenal. Buat anggota JA, jangankan harta, jiwapun akan rela dikorbankan.

    Saya mengutip dari buku “SAYING OF PROPHET Muhammad, sbb: “The Prophet said, “Shall I tell you about the people of Paradise? They include everyone of those who are powerless and slighted, yet who certainly fulfill any oath to God they make. Shall I tell you about the people of Hell? They include everyone who is violent, recalcitrant and arrogant.”

    Mudah2an ini menjadi renungan bagi kita semua.

  8. 8 ivy January 26, 2008 at 11:41 am

    Sebenarnya siapa yg membuat pernyataan tentang Ahmadiyah pergi haji ke india atau pakistan, lalu kitab sucinya tazkirah, MUI KAH ???.Kepada para ulama bukankah anda semua sering berdakwah bahwa suatu perbuatan dan ucapan nantinya harus dipertanggung jawabkan entah itu di dunia atau di akhirat kelak,sekarang semua ucapan yg dituduhkan MUI kepada pihak Islam ahmadiyah sama sekali tidak benar!!!.seperti halnya menuduh Islam ahmadiyah mereka pergi haji ke pakistan,qadian india,dan menjadikan itu tempat suci,dan sementara itu MUI sendiri yg bilang kalau di pakistan ahmadiyah dilarang,bagaimana bisa orang ahmadiyah pergi haji kesana toh disana aja dilarang seperti yang MUI bilang,lalu siapa bilang tazkirah adalah kitab suci ahmadiyah,itu kan hanya buku yang berisi wahyu2x,mimpi kasyaf mirza ghulam ahmad,yg dibukukan oleh para pengikutnya itupun setelah Hz Mirza ghulam ahmad meninggal.Tetap ko orang ahmadiyah berpedoman pada alqur’an,NAH SEKARANG LIHAT SAJA KEDEPAN KEBENARAN ITU PASTI TERWUJUD Allah SWT pasti menunjukan siapa yg benar dan siapa yg sesat.

  9. 9 marie January 31, 2008 at 5:24 am

    Apakah rame2 ke dua pihak yg bertentangan harus melakukan duel praying seperti yg dilakukan oleh Khalifah ke IV dengan Presiden Zia Ul Haq? Yang justru kita harus renungkan, akibat yg akan diterima oleh kaum penentang dikemudian hari cepat atau lambat. Lagian kenapa baru 2-3 tahun terakhir ini penyerangan begitu ganas? JAI sudah exist di Indonesia sejak awal2 republik. Kadang2 saya berpikir, sebenarnya kebencian mereka terhadap JAI itu bener2 murni gak sih? atau semata-mata ada sesuatu dibalik tangan? Perbedaan kepercayaan dari dulu sudah ada, tp rasanya dulu urusan masing2 aja.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




AYO BERBELANJA DI TOKO ONLINE KAMI:

Statistik Blog

  • 216,092 hit

aku suka jalan-jalan

hidup adalah jalan-jalan. jalan-jalan adalah hidup

%d bloggers like this: