CopY PastE DarI MediA

Berikut adalah kutipan dari Editorial Harian Umum Media Indonesia terbitan 19 Januari 2008 tentang:

Menjaga Kebebasan dalam Berkeyakinan

AKHIRNYA pemerintah mencabut larangan ajaran Ahmadiyah. Melalui Badan Koordinasi Pengkajian Ajaran dan Kepercayaan Masyarakat (Bakor Pakem) Pusat, awal pekan ini, pemerintah memutuskan tidak melarang lembaga berkeyakinan tersebut.

Keputusan itu, meskipun agak terlambat, adalah langkah tepat dan benar. Tepat, karena merevisi kekeliruan Bakor Pakem pada 2005 yang melarang Ahmadiyah dikembangkan di Indonesia. Benar, karena Ahmadiyah, selaku organisasi massa, secara resmi telah mendaftar di Depdagri sejak 1953.

Wajar bila tidak seluruh komponen masyarakat menerima keputusan pemerintah itu. Termasuk Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang tetap menyatakan Ahmadiyah sesat dan bertentangan dengan Islam.

Merupakan hak sepenuhnya bagi MUI untuk menjaga konsistensi fatwa terkait dengan Ahmadiyah yang telah dibuat sejak 1980. Itu pun sikap yang harus dihargai. Demikian pula sikap sejumlah kelompok pengunjuk rasa yang tidak setuju terhadap Ahmadiyah.

Yang tidak boleh ditoleransi adalah penyegelan aset dan kekerasan terhadap pengikut Ahmadiyah serta aliran lain di seluruh negeri.

Itu bukanlah pembenaran teologis terhadap keyakinan dan ajaran dari kelompok yang difatwakan telah sesat atau menyimpang. Itu juga bukan pembelaan terhadap Ahmadiyah atau kelompok-kelompok lain yang membawa simbol-simbol keagamaan dengan tafsir berbeda-beda.

Itu adalah penekanan kembali bahwa konstitusi negeri ini menjamin kebebasan setiap individu untuk memeluk dan beribadat menurut agama dan keyakinan masing-masing. Bahwa setiap warga juga berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran, bersikap sesuai dengan hati nurani, terkait dengan kepercayaan dan agama yang dianut.

Karena itu, sungguh kesalahan besar bila para penganut aliran keagamaan dan kepercayaan yang dianggap sesat dianiaya. Kekerasan terhadap mereka adalah tindakan kriminal yang tidak saja melanggar undang-undang, tetapi juga konstitusi.

Merupakan kewajiban negara melindungi hak setiap warga dalam menunaikan keyakinan dan kepercayaan. Konsekuensinya, pemerintah harus menjaga iklim kondusif dalam dimensi sosial yang menjadi implikasi pelaksanaan kepercayaan dan keyakinan seluruh warga.

Pernyataan Wakil Presiden Jusuf Kalla agar seluruh komponen masyarakat menghentikan segala bentuk kekerasan terhadap Ahmadiyah dan perusakan tempat-tempat ibadah tidak saja perlu, tetapi harus dan mendesak dilaksanakan. Demikian pula perintah Wapres kepada Kapolri dan pemda di seluruh negeri untuk segera menghentikan dan menindak pelaku berbagai aksi kekerasan itu.

Pemerintah atas nama negara harus melakukan tindakan tegas terhadap siapa pun yang melakukan pemaksaan dan kekerasan. Itu bukan untuk membenarkan ajaran Ahmadiyah dan berbagai aliran itu dalam tafsir teologis, melainkan karena hak dan kebebasan memilih dan menjalankan keyakinan serta kepercayaan sesuai hati nurani dijamin konstitusi.

Di sana ada ruang privat, ruang paling personal bagi manusia sebagai makhluk untuk memilih menjalankan hubungan vertikal dengan Sang Khalik, dengan segala keragaman cara.

3 Responses to “CopY PastE DarI MediA”


  1. 1 Marhento Wintolo January 22, 2008 at 4:18 am

    Kebhinekaan dalam ke ika an adalah kekayaan bangsa Indonesia. Siapapun berhak memeluk keyakinan/kepercayaan masing-masing. Tidak disangkal lagi bangsa Indonesia adalah beragam dengan suku dan kepercayaannya. Tuhan hanya Esa adanya dengan sebutan berbagai nama. Tidak satupun aliran keyakinan/kepercayaan yang menganjurkan untuk melecehkan dan menghina keyakinan yang berbeda.
    Dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah, Indonesia bisa menjadi bangsa yang kuat. Banyak pihak tidak menginginkan Indonesia bersatu. Hanya satu cara agar kita tidak bisa maju :KACAUKAN melalui agama atau kepercayaan sehingga kita tidak mempeunyai energi untuk berpikir maju. Sadarlah kawan kita sedang dikacaukan oleh pihak-pihak yang tidak menginginkan Indonesia menjadi negara besar.
    Inti Sari Agama :
    CINTAILAH SELURUH MAHKLUK DI DUNIA
    SAYANGILAH SELURUH UMAT MANUSIA
    JANGAN MENGHINA SIAPA SAJA
    JANGANLAH MEMBENCI SIAPA SAJA.
    Keberadaan kita di dunia karena kehendak ALLAH jua. Siapa diri kita sehingga bisa melarang keberadaannya di dunia? Sudah menganggap diri wakil Tuhan? sehingga berhak melarang aliran kepercayaan/keyakinan. Hebat nian mereka yang mengaggap pihak lain sesat. Sadarlah kawan, kita sedang diadu sehingga tidak sempat berpikir untuk kemajuan bangsa ini. Sebaiknya kita berpikir bagaimana agar kedelai menjadi tanaman petani kita. Sehingga harganya tidak mahal. Ingatlah kawan kita sedang diteror oleh bangsa lain dengan politik dumping agar petani tidak lagi mau menanam kedelai. Kalau ini terjadi kita akan menjadi bangsa yang sangat bergantung pada bangsa lain. China sudah menyerbu dengan produk yang dijual murah. Akibatnya banyak industri yang tutup>banyak pengangguran. Sekali lagi marilah kita lebih memikirkan persatuan dan kesatuan agar tidak mudah diadu domba oleh pihak yang tidak ingin Indonesia maju.
    Kembali ingatlah sejarah Zaman Sriwijaya, Majapahit kitga telah menjelajah sampai ke negeri seberang. Rempah kita telah berhasil membayar utang-utang Belanad pada jaman kita dijajah Belanda. Sumber daya laut perlu diolah dan diberdayakan potensinya. Mengapa kita tetap miskin? Karena kita mudah di kacaukan oleh pihak lain. Kenapa bangsa lain bisa maju walaupun tidak berlandaskan suatu agama? Mereka mempunyai energi penuh untuk memikirkan bangsanya.
    Bangkitlah Indonesiaku
    Jayalah Indonesiaku. Kita bukan bangsa yang mudah di adu domba. Keaneka ragaman adalah sumber kekuatan kita, kalau kita bisa memanfaatkannya. Mengapa ada negara lain yang berniat mengambil budaya kita? Karena mereka sadar bahwa itu adalah sesuatu yang mempunyai nilai jual. Kita bisa maju sejajar dengan bangsa lain bila kita lebih fokus dan punya visi menuju Indonesia Gemilang. Berdayakan sumber daya alam dan sumber daya manusia. Mari kita fokus untuk memperbaiki mutu pendidikan yang amburadul. Dengan memahami nilai-nilai kemanusiaan kita memperbaiki sistem pendidikan. Pendidikan yang berlandaskan budi pekerti sebagaimana yang diwariskan oleh Ki Hajr Dewantara kita kembalikan. Pendidikan yang memanusiakan manusia.
    Mereka yang beragama adalah mereka yang menghargai nilai-nilai kemanusiaan dan meng-apresiasi keyakinan lain
    SALAM INDONESIA

  2. 2 asshaf January 23, 2008 at 8:09 pm

    Ass, wr, wb,
    kang mau ngasih tau aja, moga aja belom tau (tp kalo dah tau ‘basi’ kali ya?? hehe..). Itu komentar akang di topik editorial ini dimuat loh di media indonesia minggu kemaren. Mubarak deh.. .

    Tolong kopi/paste disini dong. biar sy gak cape2 ngetik ulang lagi

    Makasih,
    salam

    @den
    Jazakumullah dikasih tau…akang sendiri gak liat soalnya hari minggu itu nyari Media Indonesia ditukang koran yg dijumpai sudah kehabisan! Jangan2 orang pada borong koran itu gara2 komen akang ya..!! he..he…he..
    sebenarnya komen itu bisa dibaca langsung disini: http://www.mediaindo.co.id/message.asp?Id=253374&IdBerita=2008011821592106&Judul=+Menjaga+Kebebasan+dalam+Berkeyakinan&Type=e
    tapi kalaupun harus ditampilkan disini oke2 aja, yang dibawah ini kan?

    Sebagai bangsa menjadi kewajiban bagi kita untuk selalu menegakkan konstitusi dengan sepenuh hati,tidak setengah-setengah.
    Sebagai manusia beragama, perbuatan anarkis terhadap pihak yang dianggap sesat adalah pencederaan terhadap agama itu sendiri, karena tidak ada satupun agama yang mengajarkan prilaku seperti itu. Dalam Islam,Al-Qur’an telah memberikan panduan dengan sangat jelas bahwa:”serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang sesat dari jalanNya dan Dialah yang lebih mengetahui orang2 yang mendapat petunjuk”(An-Nahl 126).Dan kalaupun kita merasa kita benar dan mereka sesat cukuplah melaksanakan ajaran AL-Qur’an diatas. Bila kemudian setelah itu dijalankan dan yang kita anggap sesat tetap dengan pemahamannya maka cukuplah seperti itu dan biarkan mereka dengan pemahamannya itu karena lagi-lagi Islam mengajarkan “tidak ada paksaan dalam agama”.
    Adalah kewajiban pemerintah untuk tidak membiarkan prilaku2 anarkis berkembang dalam masyarakat kita dan menindaknya dengan tegas dan tanpa kompromi, karena bila berlanjut seperti sekarang ini dimana pemerintah terkesan ragu2 menindak mereka maka yang akan terjadi adalah hal2 seperti itu akan menjadi besar dikemudian hari dan tidak menutup kemungkinan akan menggangu stabilitasn dan eksistensi dari negara itu sendiri.

  3. 3 asshaf January 30, 2008 at 11:34 pm

    Tah kitu, bentul.. eh Betul cocok! seperti itu yg dimuat di koran media indonesia. “menegakkan konstitusi dengan sepenuh hati,tidak setengah-setengah..’ jangan ragu2 karena ini menurut pedoman Al-Qur’an lho.. Mudah2an korannya habis karena dibeli and dibaca sama orang-orang yg lagi megang amanat di pemerintahan. Penjelasan akang sudah jelas, menurut Al-Qur’an, bukan menurut ‘katanya’ ulama, hehe..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




AYO BERBELANJA DI TOKO ONLINE KAMI:

Statistik Blog

  • 216,092 hit

aku suka jalan-jalan

hidup adalah jalan-jalan. jalan-jalan adalah hidup

%d bloggers like this: