Dari Ngantri ke Fatwa MUI

bebek aja bisa ngantri, mosok kita kalah ama bebek!Jengkel bener rasanya tadi siang ketika jam istirahat kerja aku sempatkan diri pergi ke sebuah bank untuk suatu urusan yang rada-rada penting. Sampai disana kebagian nomor antri 56 dan karena memang jam istirahat yang melayani hanya 1 petugas. Saat itu petugas sedang melayani nasabah nomor urut 50. 5 menit kemudian petugas yang melayani bertambah satu orang dan dipanggillah nomor antrian 51. aku pikir nggak bakal lama lah kalau ada dua petugas. Tapi ternyata aku baru terlayani setelah menunggu satu jam ketika petugas yang melayani telah menjadi 3 orang dan itupun karena ada 2 nomor dibawahku yang gak bisa menunggu dan pulang sebelum urusannya selesai, dua menit kemudian urusanku selesai.

Ini gila gumamku, untuk urusan 2 menit aku harus membuang waktu selama satu jam dan lebih gila lagi adalah bahwa orang yang ketika aku datang dan tengah dilayani petugas pertama sampai aku meninggalkan bank tersebut urusannya masih belum kelar juga, dari pembicaraannya dengan petugas bank yang bisa kami dengar dengan jelas masalahnya gak ruwet-ruwet amat, kalau saja ia mau nuruti sarannya petugas bank.Karena ke ngeyelannya itulah urusannya jadi lama. Padahal pada akhirnya solusi yang disarankan si petugas bank itulah yang ditempuhnya. Weleh-weleh ni orang tega amat gak mikir sama orang2 yang elekesekeng menunggu kelamaan.

Nah, hal2 seperti ini kayaknya sesuatu yang lumrah ditanah air ini. Pada momen-momen yang ada urusannya dengan antri hampir dapat dipastikan selalu ada aja orang yang saenae dewe tanpa mau memikirkan bahwa orang lain juga memerlukan hal atau pelayanan yang sama, bahwa mungkin orang lain yang dibelakangnya sangat mempunyai keterbatasan waktu.
Apalagi antrian ditempat yang tidak pake pembatas dapat dipastikan akan selalu ada orang2 yang menyerobot orang yang telah terlebih dahulu mengantri.

Kalau boleh membandingkan dari pengalaman hidup dinegeri orang, kok mereka bisa sih antri dengan baik dan benar tanpa menyerobot meskipun tidak ada pembatas, kok bisa sih selalu tepat waktu manakala berurusan dengan mereka sekalipun urusan2 yang tidak formal padahal disini jangankan yang tidak formal untuk urusan formal-pun bisa molor. kok bisa sih tidak membuang sampah sembarangan, kok bisa sih perokok berat hanya merokok ditempat yang disediakan saja, kok bisa sih kita merasa lebih aman berdesak-desakan di kereta api atau ditempat-tempat keramaian tanpa takut kecopetan. Kok bisa sih?
Kalau anda katakan bahwa itu berarti pengamalan agama mereka sangat baik, anda sangat salah! lha wong penduduk negara itu sebagian besarnya gak mengenal apa itu agama kok!
Tapi anda betul, idealnya agama itu bisa mewarnai kehidupan setiap orang dalam kesehariannya. Tidak peduli apapan itu agamanya pastilah agama mengajarkan budi pekerti dan sikap hidup baik dan peduli dan toleransi pada orang.
Kalau begitu mestinya disinilah dimana kita hidup dinegara yang penduduknya 99,99999999..% beragama hal seperti itu membudaya, tapi konyolnya kok malah nggak yaah??

Dalam perjalanan pulang aku mikir mbok ya MUI itu ngurusin juga hal2 yang seperti ini; misalnya membuat fatwa bahwa orang Islam diharamkan membuang sampah sembarangan apalagi ke-kali karena bisa menyebabkan banjir yang menyengsarakan banyak orang (bukankah kebersihan itu adalah sebagian dari iman?) Haram menyerobot antrian karena dengan mau mengantri itu berarti kita menghargai dan tidak merampas hak orang lain. Haram merokok ditempat-tempat umum (bukankah para pengisap opium itu awalnya adalah penikmat rokok??). Haram tidak tepat waktu dalam segala urusan karena Islam adalah agama yang sangat menghargai waktu.
Haram ugal-ugalan dan prilaku tidak disiplin lain dijalanan saat berkendara –seperti yang kita saksikan dan rasakan dikeseharian kita saat ini– dimana faktanya begitu banyak orang yang semestinya pergi ketempat beraktifitas atau pulang dari beraktifitas untuk bercengkrama dengan seluruh keluarga malah ter ”sesat” ke rumah sakit bahkan tidak sedikit yang ter ”sesat” ke akhirat, gara-gara prilakunya dan atau prilaku pemakai jalan lain yang tidak disiplin saling serobot dijalanan.
Yang tak kalah urgen, relevan dan signifikan (sorry Pak Wapres Jarwo Kwat, istilah anda saya bajak :mrgreen: ) adalah fatwa haram berbuat anarkis, karena kita melihat kecenderungan beberapa kalangan dalam umat Islam di Indonesia saat ini yang merasa sedang berjuang memerangi “kesesatan’ tapi justru menggunakan cara “sesat” dengan berbuat anarkis, padahal perbuatan anarkis itu sendiri sangat ditentang oleh Islam!
Jadi jangan hanya sibuk dengan fatwa “sesat menyesatkan” saja dong! Bukankah urusan sesat mah panduan dari Allah-pun sudah sangat jelas?
” serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang sesat dari jalanNya dan Dialah yang lebih mengetahui orang2 yang mendapat petunjuk (An-Nahl 126).

Wallahu’alam.

6 Responses to “Dari Ngantri ke Fatwa MUI”


  1. 1 lahapasi January 17, 2008 at 1:40 pm

    setuju kang,agama di kita baru kebanyakan teorinya tok hehe..

    @den
    honto desu yo?
    dame neh…

  2. 2 kenshusei January 19, 2008 at 4:13 am

    eh tulisan yg sangat bagus, saya sendiri kok ga kepikiran ke sana, dan sekarang jadi mulai mikir, hehe

    benar mas, saya sangat setuju.

    @den
    waah…yang komen nihon jin semua yaaa? 🙂 tapi saya maklum karena anda berada disana jadi tahu apa yang saya maksud, kan?
    btw blog anda sangat penting, jadi saya link disini.
    domo arigato..

  3. 3 Muhammad Rachmat January 21, 2008 at 4:08 pm

    Fatwa itu Fatwa.. tapi kadang kita harus hati-hati mas aden, Karena Kadang Daging Ulama itu beracun…(mas aden pasti berfikir he..5X. posting-posting saya belum ditampilkan nanti aza pada waktunnya)

  4. 4 Ali January 27, 2008 at 4:55 pm

    Kebenaran memang selalu bisa saja dipersalahkan. *sigh* Capek, deh!

  5. 5 tantan tea February 15, 2008 at 12:48 pm

    Bagus Kang Aden tulisannya. Sederhana tapi penuh makna.

  6. 6 dewak December 9, 2008 at 6:16 am

    tulisannya menarik dan berani…saya juga memiliki pendapat yang hampir sama. Mengapa ya di bangsa ini banyak sekali kebiasaan buruk yang dibudayakan,dan bahkan harus dibuatkan fatwa-fatwa segala. Katanya bangsa yang beragama,bertakwa, kok justru banyak penyelewengan.
    Ah, kalau masalah sesat dan tidak sesat, menurut saya hanya Tuhan yang berhak menghakimi, setiap orang memiliki kebebasan dalam mencari Tuhan, asal tidak merugikan dan menindas yang lain, menurut saya sah-sah saja.

    @d3n
    trims atas komentarnya 😀


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




AYO BERBELANJA DI TOKO ONLINE KAMI:

Statistik Blog

  • 251,420 hit

aku suka jalan-jalan

hidup adalah jalan-jalan. jalan-jalan adalah hidup

%d bloggers like this: