Tn Kabul Continued

bunga itu indah Posting saya “Lagi: Soal Ahmadiyah” mendapat komentar dari beberapa pengunjung termasuk didalamnya dari Tuan Kabul yang adalah sumber inspirasi dari posting itu sendiri. Selain itu ada pula beberapa komen yang disampaikan secara offline melalui e-mail yang sebagian ada pro-kontra didalammnya, tapi apapun itu komentar yang anda berikan bagi saya itu adalah oke-oke saja dan saya berterima kasih pada anda yang telah meluangkan waktu ditengah kesibukan berkunjung ke blog ini.

Apa yang disampaikan oleh Tuan Kabul-pun itu telah menjadi kebaikan bagi saya karena dengan adanya komen itu membuat saya mempunyai ide untuk menulis paling tidak sekedar mengisi blog ini agar ada posting baru…
jadi kali ini saya coba mengupas kembali komen Tn Kabul disini.

suatu kehormatan komentar saya pada tulisan anda sebelumnya ditanggapi panjang lebar disini. tapi walau bagaimanapun bagi saya apa yang telah dikatakan ulama itu sudah final karena ulama itu kan warasatul anbiyya. saya yakin anda sendiri bingung bagaimana menjelaskan kenabian setelah Muhammad saw yang jelas2 adalah khatam nya para nabi

Saya sangat setuju bahwa ulama itu warasatul anbiyya (pewaris nabi) dan bahwa apa yang dikatakan oleh ulama harus menjadi acuan dan panduan bagi ummat didalam menjalankan dan meyakini agama. Namun disamping itu kitapun tetap harus waspada dan tidak taklid buta terutama pada momen-momen dimana kita melihat atau merasakan adanya kontradiksi pemikiran dengan pihak lain karena selain keterangan diatas Rasulullah saw-pun mengingatkan kita dengan pesan lain berikut ini:

Alaannasi jamaanu, laa yabqaa minal Islaami illa ismuhu wa laa yabqaa minal qur’ani illa rasmuhu; masaajiduhum aamiratun wahiya kharaabum minal hudaa. Ulamaa’uhum syarru man tahta adimiis-sama’i min indihim tahrujul fitnatu wa fiihim ta’uudu
Yang artinya:
Tidak lama lagi manusia akan mengalami satu zaman yang pada waktu itu Islam hanyalah tinggal nama dan Qur’an hanyalah tinggal huruf-hurufnyasaja; mesjid-mesjid sangatlah diramaikan orang-orang akan tetapi sunyi(kosong) dari petunjuk; ulama-ulama mereka adalah seburuk-buruknya mahluk yang ada di bawah langit ini. Dari mereka itulah keluar fitnah-fitnah, yang akan kembali kepada mereka sendiri. (Hadits: Al-Baihaki & Ali bin Abi Tholib; Misykat halaman 38)

Bila firman Allah swt dalam Al-Qur’an yang menyatakan bahwa Muhammad saw adalah khatamannabiyyin menjadi dasar pemikiran sebagian orang Islam terhadap keyakinan bahwa Muhammad saw itu adalah rasul terakhir. Maka kata kuncinya adalah khatam yang dimaknakan sebagian besar ummat Islam sebagai “ terakhir yang tidak ada lagi sesudahnya” sementara Ahmadiyah memahami kata khatam ini sebagai “terakhir dalam kesempurnaan”.
Sekalipun bukan orang yang ahli dalam bahasa Arab, pendapat Ahmadiyah ini bagi saya sangat rasional dan masuk akal karena kalau kita bijaksana maka pengertian umum terhadap kata khatam itu memang seperti itu adanya.

Ada banyak istilah yang menggunakan kata khatam seperti misalnya dalam kepustakaan Islam Khalifah Ummar ra dikenal sebagai “khatamul muhajirin” atau Khalifah Ali ra dikenal pula sebagai “khatamul Aulia” atau seseorang yang ahli dibidang syair dikatakan sebagai “khatamus syuara” dan apabila anak-anak kita menamatkan al-Qur’an dikatakan sebagai telah “khatam al-Qur’an”. Bila setelah Ummar ra melakukan hijrah masih banyak pengikut Islam lainnya yang juga berhijrah, bila setelah Ali ra masih bermunculan para wali lain hingga ditanah airpun ada sembilan wali yang dikenal sebagai wali songo, demikian pula bila seseorang dikatakan sebagai khatamus syuara toh para penyair baru masih datang silih berganti, demikian pula bila anak-anak kita telah khatam al-Qur’an mereka masih akan terus dan terus membaca dan melafalkan al-Qur’an, maka makna dari kata “khatam” ini adalah sangat masuk akal sebagai “terakhir dalam bentuk kesempurnaan” bukan “terakhir yang tidak ada lagi sesudahnya”
Kalau pengertian ”khatam” itu sebagai “terakhir yang tidak ada lagi sesudahnya”
Mestinya ya tidak ada lagi seorangpun yang berhijrah setelah Ummar ra melakukan hijrah, juga tidak akan pernah ada lagi seorang wali-pun sepeninggal Khalifah Ali ra, dan tak pernah pula kita akan membaca lagi al-Qur’an karena sebelumnya telah khatam!

Wallahu’alam

24 Responses to “Tn Kabul Continued”


  1. 1 Cabe Rawit March 12, 2008 at 12:28 pm

    Assalaamu ‘alaikum bang.. Semoga sehat wal afiat selalu.
    Bang, ane sangat dangkal soal agama… jadi tolong diluruskan kalau salah.

    Jika sebuah kalimat (dalam bahasan nahwu ya kang…🙂 ) dalam al-quran dimaknai secara ‘Aam, maka akan terjadi kerancuan terhadap makna ayat tersebut. Karenanya, kalimat dalam al-quran memiliki makna khaas. Sebagai contoh, kata Hijrah yang memiliki beragam arti. Hijrah bisa berarti bepergian di malam hari, tidur sambil berjalan, atau berpindah tempat. Lantas bagaimana cara kita memahami arti ayat yang memerintahkan hijrah? Apakah kita boleh mengartikan perintah hijrah sebagai perintah agar kita berjalan sambil tidur (mengigau/mimpi sampai melakukan gerakan)?

    Atau perintah “ittaqillah”… kata taqwa sendiri memiliki banyak arti, di antaranya takut, lari, menghindar. Jadi jika ada lafadz dalam bentuk ‘amar, yaitu Ittaqillah, bolehkah kita mengartikannya atau memahaminya sebagai perintah untuk menjauh/menghindar dari Allah?

    Tentu tidak demikian, karena penggunaan kalam/kalimat tersebut difahami sebagai kalimat yang bermakna khaas. Demikian pula -mungkin- mengenai arti kata khatmun. Arti kata dari khatmun adalah “penutup yang setelahnya tidak akan ada lagi”. Hal ini dipertegas dengan banyak hadist sahih yang menyatakan bahwa tidak akan ada lagi Nabi maupun Rasul setelah Nabi SAW.

    Argumentasi yang seringkali dikemukakan oleh saudara-saudara dari Ahmadiyyah mengenai status kenabian Mirzam G. Ahmad selalu menggunakan logika bahasa dan ragam makna dari kata “Khatmun” yang kata Bang Aden menjadi kuncinya. Jika demikian, ane melihatnya tidak lagi sebagai perbedaan penafsiran terhadap ayat yang terpaut, tapi lebih kepada perbedaan pendapat mengenai arti kata belaka.

    jadi, menurut ane sebaiknya diskusi mengenai Khatamu an-Nabiyyin sebaiknya kita bahas secara ke-tatabahasaan; nahwu, mantiq balaghah dan linguistik. Jika sudah ada “kesepakatan”, baru kita tarik dalam koridor tafsir dan aqoo’id. Bagaimana bang? segitu dulu aja kayak-na. kalo kang aden sepakat, entar ane mau numpang OOT lagi…:mrgreen:
    *ditendang*

    @den
    Wa’alaikum salam…yg bilang dangkal itu malah biasanya jauh lebih berisi dan berilmu😀
    sangat setuju biar jadi pencerahan buat saya yg ilmunya hanya copy paste ajja:mrgreen:

  2. 2 Cabe Rawit March 13, 2008 at 2:04 am

    Lha… ‘argumentasi’ ane kok belom ditanggapin kang?:mrgreen:
    Ane kebetulan bukan pengikut ajaran Ahmadiyah, ane Gusduriyyah…:mrgreen:

    Para ulama NU termasuk kalangan yang dengan tegas menolak klaim kenabian Mirzam Ghulam Ahmad. Hanya saja, cara penyikapannya saja yang menurut ane lebih mengedapankan diskusi, bukan kekerasan. Pada tahun 2006, di salahsatu pesantren di daerah Singaparna Tasikmalaya, kami menggelar diskusi terbuka dengan saudara-saudara dari Ahmadiyyah dan LDII. Kebetulan, ane sendiri menjadi salahseorang pembicara. Rekaman dan hasil transkrip diskusinya masih lengkap. Termasuk perdebatan mengenai kata ‘khatmun’ tersebut.

    Yang juga perlu menjadi catatan, ummat Islam di Indonesia pada umumnya hanya mengetahui Ahmadiyyah ‘faqot’, hanya sedikit saja yang mengetahui sekte-sekte pecahannya, baik yang berkiblat ke Qadiyani maupun Lahore. Bahkan, ada yang lebih ekstrem dengan menyatakan bahwa setiap orang yang bernama Ahmad atau Muhammad adalah Nabi…:mrgreen:

    @den
    betul kate pribahasa kalau padi mah semakin berisi teh semakin menunduk…kalau kang Cabe Rawit yg sudah bisa jadi pembicara pada suatu acara diskusi mah atuh ya gak selevel sama ane yg ilmunya aja hanya sekulit bawang..:mrgreen:

  3. 3 Cabe Rawit March 13, 2008 at 8:42 am

    Lah… itu kesalahan teknis panitia, kekhilafan tak terampuni panitia yang seenak udel minta saya jadi pembicara..👿

    Kok belon ditanggepin juga bang?🙂

  4. 4 Muhammad Rachmat March 16, 2008 at 1:48 pm

    sama sama tawadulah…
    karena sulit untuk seperti itu !:mrgreen:

  5. 5 rasyid March 24, 2008 at 9:56 am

    Qoute Deden:
    Alaannasi jamaanu, laa yabqaa minal Islaami illa ismuhu wa laa yabqaa minal qur’ani illa rasmuhu; masaajiduhum aamiratun wahiya kharaabum minal hudaa. Ulamaa’uhum syarru man tahta adimiis-sama’i min indihim tahrujul fitnatu wa fiihim ta’uudu
    Yang artinya:
    Tidak lama lagi manusia akan mengalami satu zaman yang pada waktu itu Islam hanyalah tinggal nama dan Qur’an hanyalah tinggal huruf-hurufnyasaja; mesjid-mesjid sangatlah diramaikan orang-orang akan tetapi sunyi(kosong) dari petunjuk; ulama-ulama mereka adalah seburuk-buruknya mahluk yang ada di bawah langit ini. Dari mereka itulah keluar fitnah-fitnah, yang akan kembali kepada mereka sendiri. (Hadits: Al-Baihaki & Ali bin Abi Tholib; Misykat halaman 38)

    Jawab:
    Mubaligh Ahmadiyah termasuk ulama pula khan Kang Deden karena pengertian Ulama adalah Orang yang berilmu😀 Jadi hadits tsb bisa saja terkena kepada ulama non ahmadi dan Ulama Ahmadiyah yang tidak menjadikan Al-Qur’an sbg Alat untuk memutuskan sesuatu perkara.
    Seperti kata Allah dl firmannya:
    QS.5:44,”Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir”.
    QS.5:45,”Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim”.
    QS.5:47,”Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik”.
    Kita lihat saja nanti apakah Ahmadiyah memutuskan suatu perkara berdasarkan Al-Qur’an ataukah berdasarkan perkataan manusia. Bila terbukti Ahmadiyah memutuskan suatu perkara berdasarkan perkataan manusia dan bukan perkataan Allah, apakah pantas mereka dibilang tidak sesat😀
    ————————————————
    Quote Deden:
    Ada banyak istilah yang menggunakan kata khatam seperti misalnya dalam kepustakaan Islam Khalifah Ummar ra dikenal sebagai “khatamul muhajirin”

    JAWAB:
    Coba anda cek lagi benarkah yang tertulis adalah “Wahai Umar” ataukah “Wahai Paman” Kang Deden😀
    Berat lho hukumannya mendustakan perkataan Rasulullah SAW, sama halnya ente memfitnah Rasulullah yang hukumannya adalah neraka. Memfitnah orang lain saja lebih kejam daripada pembunuhan apalagi ente memfitnah Rasulullah SAW….Berat Kang Deden…banyak-banyaklah ente beristghfar kang.
    ————————————
    Quote:
    atau Khalifah Ali ra dikenal pula sebagai “khatamul Aulia”

    JAWAB:
    Istighfarlah lagi ente Kang Deden. Hadits Dha’if seperti ini ente sebarkan-sebarkan didunia maya…ingat adzab yang anda tanggung dengan memfitnah Rasulullah….Istighfar 1 Jt x kang deden😀
    ————————————————–
    Quote Deden:
    atau seseorang yang ahli dibidang syair dikatakan sebagai “khatamus syuara” dan apabila anak-anak kita menamatkan al-Qur’an dikatakan sebagai telah “khatam al-Qur’an”.

    JAWAB:
    Perkataan Allah di Al-Qur’an dikalahkan oleh perkataan manusia😀 Naudzubillahi min Dzalik.
    ———————————–
    Quote Deden:
    Bila setelah Ummar ra melakukan hijrah masih banyak pengikut Islam lainnya yang juga berhijrah,

    JAWAB:
    Benarkah orang yang berhijrah adalah “UMAR” kang Deden dan Bukan paman Nabi😀
    Coba anda cek di buku Ahmadiyah “Bukan sekedar hitam putih”,M.ASuryawan, Hal.37
    Tertulis apa dalam buku tsb Kang Deden????? “Wahai Umar” atau “Wahai pamanku”😀
    Orang pendusta seperti ente ini sekaligus memfitnah Rasulullah SAW pantas untuk mendapatkan Adzab dan laknat Allah SWT.
    ————————————–
    Quote Deden:
    bila setelah Ali ra masih bermunculan para wali lain hingga ditanah airpun ada sembilan wali yang dikenal sebagai wali songo,

    JAWAB:
    Mengutip Hadits Dha’if lagi…….Istighfar Kang Deden 2 Jt x😀
    —————————————
    Quote Deden:
    demikian pula bila seseorang dikatakan sebagai khatamus syuara toh para penyair baru masih datang silih berganti, demikian pula bila anak-anak kita telah khatam al-Qur’an mereka masih akan terus dan terus membaca dan melafalkan al-Qur’an

    JAWAB:
    Perkataan manusia lagi sebagai alat ukurnya😀 dan bukan Al-Qur’an sebagai Alat ukurnya.😀 Allah dikalahkan dengan perkataan manusia😀
    —————————————————-
    Quote Deden:
    maka makna dari kata “khatam” ini adalah sangat masuk akal sebagai “terakhir dalam bentuk kesempurnaan” bukan “terakhir yang tidak ada lagi sesudahnya”
    Kalau pengertian ”khatam” itu sebagai “terakhir yang tidak ada lagi sesudahnya”

    JAWAB:
    Darimana dapet arti “dlm bentuk kesempurnaan” kang Deden😀
    Lucunya Kang dede mengartikan kata “khaatam” dengan “terakhir”. Ente kok plin-plan begitu. Sebelumnya ente bilang artinya stempel,cincin, dll dan bukan penutup seperti hadits bukhari yang ente kutip. Nah sekarang berubah plin-plan menjadi “terakhir”😀
    “terakhir” dengan “penutup” apa bedanya Kang Deden😀
    Jadi mohon selalu anda ingat dalam otak ente “GELAR YANG DIBERIKAN KEPADA RASULULLAH SIFATNYA TIDAK TERBATAS SAMPAI KIAMAT SEDANGKAN GELAR YG DIBERIKAN OLEH PARA ULAMA/MANUSIA SIFATNYA TERBATAS”….Perkataan Allah tidak bisa disamakan dengan perkataan Manusia….Mohon anda ingat itu.
    Ente juga selalu ingat-ingat ayat ini QS.42:11,”Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat”.

    Jadi untuk mengartikan kata “Khaatama” anda harus melihat ayat lainnya dan anda harus tahu mashdarnya😀 Di Al-Qur’an sdh ada ayat lainnya untuk menafsirkan kata “Khaatama”. Sayangnya ente tidak tahu tata bahasa arabnya😀 Jadi ente apa mengutip perkataan manusia kalau di Al-Qur’an sudah ada penjelasannya😀
    Jadi saya tanya lagi kepada anda, Mashdarnya “khaatama” itu apa?😀
    Kalau ente tidak tahu jadi lucu dong ente membual kesana kemari ttg khaatama tetapi mashdar dari “khaatama” saja tidak tahu😀
    —————————————————
    Quote Deden:
    Mestinya ya tidak ada lagi seorangpun yang berhijrah setelah Ummar ra melakukan hijrah,
    Wallahu’alam

    JAWAB:
    he..he..hee..begitu rakusnya kang deden menyantap doktrin-doktrin Ahmadiyah sampe-sampe Kang Deden tidak mau tahu apakah benar atau tidak hadits tsb lafadznya seperti itu….kedustaan-kedustaan yang ditulis oleh pentolan-pentolan Ahmadiyah dalam berbagai macam buku dengan rakusnya disantap kang deden tanpa mau tahu bahwa yang disantapnya adalah kotoran😀
    ente gw kasih tahu hadits yg sebenarnya dari “khaatamul muhajiriin”. Yang benar tertulis “WAHAI PAMAN” bisa anda lihat di buku Ahmadiyah “Bukan Sekedar Hitam Putih” karangan M.A.Suryawan hal 37. Di Gramedia buku ini bisa anda dapatkan.
    Biar anda tahu bahwa paman nabi yaitu Abbas r.a dlm sejarahnya memang adalah orang yang terakhir berhijrah😀 Jelas!!!!
    ————————————————————-
    Quote Deden:
    juga tidak akan pernah ada lagi seorang wali-pun sepeninggal Khalifah Ali ra,

    JAWAB:
    tidak bosan-bosannya Kang Deden mengutip Hadits Dhaif dari buku-buku Ahmadiyah😀 istghfar lagi ya kang deden 3 jt x😀
    ——————————————
    Quote Deden:
    dan tak pernah pula kita akan membaca lagi al-Qur’an karena sebelumnya telah khatam!

    JAWAB:
    lucu banget ente ini perkataan manusia disamakan dengan perkataan Allah.
    ente tahu khan “Mukhalafatul lilhawaditsi” : berbeda dengan Makhluknya.
    QS.42:11,”Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat”.

    Kang deden, Allah dalam berkata, bertanya, berdialog, berbuat, dll lain-lain sifat yang dilakukan oleh-Nya tidak bisa disamakan dengan apa yang ada pada manusia/makhluk-Nya.
    ———————————————————-

  6. 6 wong March 24, 2008 at 10:03 am

    Qoute Deden:
    Alaannasi jamaanu, laa yabqaa minal Islaami illa ismuhu wa laa yabqaa minal qur’ani illa rasmuhu; masaajiduhum aamiratun wahiya kharaabum minal hudaa. Ulamaa’uhum syarru man tahta adimiis-sama’i min indihim tahrujul fitnatu wa fiihim ta’uudu
    Yang artinya:
    Tidak lama lagi manusia akan mengalami satu zaman yang pada waktu itu Islam hanyalah tinggal nama dan Qur’an hanyalah tinggal huruf-hurufnyasaja; mesjid-mesjid sangatlah diramaikan orang-orang akan tetapi sunyi(kosong) dari petunjuk; ulama-ulama mereka adalah seburuk-buruknya mahluk yang ada di bawah langit ini. Dari mereka itulah keluar fitnah-fitnah, yang akan kembali kepada mereka sendiri. (Hadits: Al-Baihaki & Ali bin Abi Tholib; Misykat halaman 38)

    Jawab:
    Mubaligh Ahmadiyah termasuk ulama pula khan Kang Deden karena pengertian Ulama adalah Orang yang berilmu😀 Jadi hadits tsb bisa saja terkena kepada ulama non ahmadi dan Ulama Ahmadiyah yang tidak menjadikan Al-Qur’an sbg Alat untuk memutuskan sesuatu perkara.
    Seperti kata Allah dl firmannya:
    QS.5:44,”Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir”.
    QS.5:45,”Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim”.
    QS.5:47,”Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik”.
    Kita lihat saja nanti apakah Ahmadiyah memutuskan suatu perkara berdasarkan Al-Qur’an ataukah berdasarkan perkataan manusia. Bila terbukti Ahmadiyah memutuskan suatu perkara berdasarkan perkataan manusia dan bukan perkataan Allah, apakah pantas mereka dibilang tidak sesat😀
    ————————————————
    Quote Deden:
    Ada banyak istilah yang menggunakan kata khatam seperti misalnya dalam kepustakaan Islam Khalifah Ummar ra dikenal sebagai “khatamul muhajirin”

    JAWAB:
    Coba anda cek lagi benarkah yang tertulis adalah “Wahai Umar” ataukah “Wahai Paman” Kang Deden😀
    Berat lho hukumannya mendustakan perkataan Rasulullah SAW, sama halnya ente memfitnah Rasulullah yang hukumannya adalah neraka. Memfitnah orang lain saja lebih kejam daripada pembunuhan apalagi ente memfitnah Rasulullah SAW….Berat Kang Deden…banyak-banyaklah ente beristghfar kang.
    ————————————
    Quote:
    atau Khalifah Ali ra dikenal pula sebagai “khatamul Aulia”

    JAWAB:
    Istighfarlah lagi ente Kang Deden. Hadits Dha’if seperti ini ente sebarkan-sebarkan didunia maya…ingat adzab yang anda tanggung dengan memfitnah Rasulullah….Istighfar 1 Jt x kang deden😀
    ————————————————–
    Quote Deden:
    atau seseorang yang ahli dibidang syair dikatakan sebagai “khatamus syuara” dan apabila anak-anak kita menamatkan al-Qur’an dikatakan sebagai telah “khatam al-Qur’an”.

    JAWAB:
    Perkataan Allah di Al-Qur’an dikalahkan oleh perkataan manusia😀 Naudzubillahi min Dzalik.
    ———————————–
    Quote Deden:
    Bila setelah Ummar ra melakukan hijrah masih banyak pengikut Islam lainnya yang juga berhijrah,

    JAWAB:
    Benarkah orang yang berhijrah adalah “UMAR” kang Deden dan Bukan paman Nabi😀
    Coba anda cek di buku Ahmadiyah “Bukan sekedar hitam putih”,M.ASuryawan, Hal.37
    Tertulis apa dalam buku tsb Kang Deden????? “Wahai Umar” atau “Wahai pamanku”😀
    Orang pendusta seperti ente ini sekaligus memfitnah Rasulullah SAW pantas untuk mendapatkan Adzab dan laknat Allah SWT.
    ————————————–
    Quote Deden:
    bila setelah Ali ra masih bermunculan para wali lain hingga ditanah airpun ada sembilan wali yang dikenal sebagai wali songo,

    JAWAB:
    Mengutip Hadits Dha’if lagi…….Istighfar Kang Deden 2 Jt x😀
    —————————————
    Quote Deden:
    demikian pula bila seseorang dikatakan sebagai khatamus syuara toh para penyair baru masih datang silih berganti, demikian pula bila anak-anak kita telah khatam al-Qur’an mereka masih akan terus dan terus membaca dan melafalkan al-Qur’an

    JAWAB:
    Perkataan manusia lagi sebagai alat ukurnya😀 dan bukan Al-Qur’an sebagai Alat ukurnya.😀 Allah dikalahkan dengan perkataan manusia😀
    —————————————————-
    Quote Deden:
    maka makna dari kata “khatam” ini adalah sangat masuk akal sebagai “terakhir dalam bentuk kesempurnaan” bukan “terakhir yang tidak ada lagi sesudahnya”
    Kalau pengertian ”khatam” itu sebagai “terakhir yang tidak ada lagi sesudahnya”

    JAWAB:
    Darimana dapet arti “dlm bentuk kesempurnaan” kang Deden😀
    Lucunya Kang dede mengartikan kata “khaatam” dengan “terakhir”. Ente kok plin-plan begitu. Sebelumnya ente bilang artinya stempel,cincin, dll dan bukan penutup seperti hadits bukhari yang ente kutip. Nah sekarang berubah plin-plan menjadi “terakhir”😀
    “terakhir” dengan “penutup” apa bedanya Kang Deden😀
    Jadi mohon selalu anda ingat dalam otak ente “GELAR YANG DIBERIKAN KEPADA RASULULLAH SIFATNYA TIDAK TERBATAS SAMPAI KIAMAT SEDANGKAN GELAR YG DIBERIKAN OLEH PARA ULAMA/MANUSIA SIFATNYA TERBATAS”….Perkataan Allah tidak bisa disamakan dengan perkataan Manusia….Mohon anda ingat itu.
    Ente juga selalu ingat-ingat ayat ini QS.42:11,”Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat”.

    Jadi untuk mengartikan kata “Khaatama” anda harus melihat ayat lainnya dan anda harus tahu mashdarnya😀 Di Al-Qur’an sdh ada ayat lainnya untuk menafsirkan kata “Khaatama”. Sayangnya ente tidak tahu tata bahasa arabnya😀 Jadi ente apa mengutip perkataan manusia kalau di Al-Qur’an sudah ada penjelasannya😀
    Jadi saya tanya lagi kepada anda, Mashdarnya “khaatama” itu apa?😀
    Kalau ente tidak tahu jadi lucu dong ente membual kesana kemari ttg khaatama tetapi mashdar dari “khaatama” saja tidak tahu😀
    —————————————————
    Quote Deden:
    Mestinya ya tidak ada lagi seorangpun yang berhijrah setelah Ummar ra melakukan hijrah,
    Wallahu’alam

    JAWAB:
    he..he..hee..begitu rakusnya kang deden menyantap doktrin-doktrin Ahmadiyah sampe-sampe Kang Deden tidak mau tahu apakah benar atau tidak hadits tsb lafadznya seperti itu….kedustaan-kedustaan yang ditulis oleh pentolan-pentolan Ahmadiyah dalam berbagai macam buku dengan rakusnya disantap kang deden tanpa mau tahu bahwa yang disantapnya adalah kotoran😀
    ente gw kasih tahu hadits yg sebenarnya dari “khaatamul muhajiriin”. Yang benar tertulis “WAHAI PAMAN” bisa anda lihat di buku Ahmadiyah “Bukan Sekedar Hitam Putih” karangan M.A.Suryawan hal 37. Di Gramedia buku ini bisa anda dapatkan.
    Biar anda tahu bahwa paman nabi yaitu Abbas r.a dlm sejarahnya memang adalah orang yang terakhir berhijrah😀 Jelas!!!!
    ————————————————————-
    Quote Deden:
    juga tidak akan pernah ada lagi seorang wali-pun sepeninggal Khalifah Ali ra,

    JAWAB:
    tidak bosan-bosannya Kang Deden mengutip Hadits Dhaif dari buku-buku Ahmadiyah😀 istghfar lagi ya kang deden 3 jt x😀
    ——————————————
    Quote Deden:
    dan tak pernah pula kita akan membaca lagi al-Qur’an karena sebelumnya telah khatam!

    JAWAB:
    lucu banget ente ini perkataan manusia disamakan dengan perkataan Allah.
    ente tahu khan “Mukhalafatul lilhawaditsi” : berbeda dengan Makhluknya.
    QS.42:11,”Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat”.

    Kang deden, Allah dalam berkata, bertanya, berdialog, berbuat, dll lain-lain sifat yang dilakukan oleh-Nya tidak bisa disamakan dengan apa yang ada pada manusia/makhluk-Nya.
    ———————————————————-

  7. 7 wong March 24, 2008 at 10:04 am

    Kang Deden baca dengan teliti lagi ya Tafsir Resmi Ahmadiyah yang dikarang khalifah ente ttg khaatama annabiyyin sebelum ente turun gunung mengirimkan postingan. Gw khawatir saja nanti ente dipermalukan oleh perkataan khalifah ente. Mashdar “KHAATAMA” juga bisa dilihat dalam tafsir resmi Ahmadiyah Kang.
    http://z8.invisionfree.com/islamic/index.php?showtopic=64

  8. 8 wong March 24, 2008 at 10:06 am

    Menurut salah seorang Ahmadi bahwa Ahmadi yang mengetahui ttg “TADZKIRAH” hanya sebesar 1% sedangkan sisanya yang 99 % belum mengetahui ttg tadzkirah….he…he…he…sedikit amat yg tahu ttg Tadzkirah. Sama aja tuh Ahmadi seperrti pepatah “membeli kucing dalam karung”😀 Borok Ahmadiyah saja tidak tahu begitu gampangnya mereka mengimani Ghulam Ahmad😀
    Bagi Ahmadi yang belum mengetahui ttg “TADZKIRAH” bisa ente klik disini http://z8.invisionfree.com/islamic/index.php?showtopic=59

  9. 9 wong March 24, 2008 at 12:23 pm

    haa…haaa..haaa…Ahmadi yang sebagai admin disini bersikap kurang fair. Postingan ane didelete. Kenapa ente takut sekali terbongkar boroknya Ahmadiyah Pak.Admin/Kang Deden😀

    @den
    maksud anda postingan yang mana boss?

  10. 10 wong March 24, 2008 at 12:28 pm

    Saya mau tahu alasan pak.Admin mendelete postingan ane. Tolong dijawab Pak.Admin/Kang Deden

    @den
    maksudnya yg mana boss?❓

  11. 11 wong March 25, 2008 at 1:36 am

    Terima kasih Pak Admin/Kang Deden, postingan ane dikembalikan seperti semula.
    Terimalah dengan lapang dada meskipun dirasakan pahit dihati anda.

  12. 13 wong March 25, 2008 at 1:53 am

    ini juga bacaan untuk mengisi waktu luang anda http://media.isnet.org/v01/islam/Ahmadiyyah/

  13. 14 ardi March 25, 2008 at 4:44 am

    Quote Deden:
    Alaannasi jamaanu, laa yabqaa minal Islaami illa ismuhu wa laa yabqaa minal qur’ani illa rasmuhu; masaajiduhum aamiratun wahiya kharaabum minal hudaa. Ulamaa’uhum syarru man tahta adimiis-sama’i min indihim tahrujul fitnatu wa fiihim ta’uudu
    Yang artinya:
    Tidak lama lagi manusia akan mengalami satu zaman yang pada waktu itu Islam hanyalah tinggal nama dan Qur’an hanyalah tinggal huruf-hurufnyasaja; mesjid-mesjid sangatlah diramaikan orang-orang akan tetapi sunyi(kosong) dari petunjuk; ulama-ulama mereka adalah seburuk-buruknya mahluk yang ada di bawah langit ini. Dari mereka itulah keluar fitnah-fitnah, yang akan kembali kepada mereka sendiri. (Hadits: Al-Baihaki & Ali bin Abi Tholib; Misykat halaman 38)

    Jawab:
    Mubaligh Ahmadiyah termasuk ulama pula khan Kang Deden karena pengertian Ulama adalah Orang yang berilmu😀 Jadi hadits tsb bisa saja terkena kepada ulama non ahmadi dan Ulama Ahmadiyah yang tidak menjadikan Al-Qur’an sbg Alat untuk memutuskan sesuatu perkara.
    Seperti kata Allah dl firmannya:
    QS.5:44,”Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir”.
    QS.5:45,”Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim”.
    QS.5:47,”Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik”.
    Kita lihat saja nanti apakah Ahmadiyah memutuskan suatu perkara berdasarkan Al-Qur’an ataukah berdasarkan perkataan manusia. Bila terbukti Ahmadiyah memutuskan suatu perkara berdasarkan perkataan manusia dan bukan perkataan Allah, apakah pantas mereka dibilang tidak sesat😀
    ————————————————
    Quote Deden:
    Ada banyak istilah yang menggunakan kata khatam seperti misalnya dalam kepustakaan Islam Khalifah Ummar ra dikenal sebagai “khatamul muhajirin”

    JAWAB:
    Coba anda cek lagi benarkah yang tertulis adalah “Wahai Umar” ataukah “Wahai Paman” Kang Deden😀
    Berat lho hukumannya mendustakan perkataan Rasulullah SAW, sama halnya ente memfitnah Rasulullah yang hukumannya adalah neraka. Memfitnah orang lain saja lebih kejam daripada pembunuhan apalagi ente memfitnah Rasulullah SAW….Berat Kang Deden…banyak-banyaklah ente beristghfar kang.
    ————————————
    Quote:
    atau Khalifah Ali ra dikenal pula sebagai “khatamul Aulia”

    JAWAB:
    Istighfarlah lagi ente Kang Deden. Hadits Dha’if seperti ini ente sebarkan-sebarkan didunia maya…ingat adzab yang anda tanggung dengan memfitnah Rasulullah….Istighfar 1 Jt x kang deden😀
    ————————————————–
    Quote Deden:
    atau seseorang yang ahli dibidang syair dikatakan sebagai “khatamus syuara” dan apabila anak-anak kita menamatkan al-Qur’an dikatakan sebagai telah “khatam al-Qur’an”.

    JAWAB:
    Perkataan Allah di Al-Qur’an dikalahkan oleh perkataan manusia😀 Naudzubillahi min Dzalik.
    ———————————–
    Quote Deden:
    Bila setelah Ummar ra melakukan hijrah masih banyak pengikut Islam lainnya yang juga berhijrah,

    JAWAB:
    Benarkah orang yang berhijrah adalah “UMAR” kang Deden dan Bukan paman Nabi😀
    Coba anda cek di buku Ahmadiyah “Bukan sekedar hitam putih”,M.ASuryawan, Hal.37
    Tertulis apa dalam buku tsb Kang Deden????? “Wahai Umar” atau “Wahai pamanku”😀
    Orang pendusta seperti ente ini sekaligus memfitnah Rasulullah SAW pantas untuk mendapatkan Adzab dan laknat Allah SWT.
    ————————————–
    Quote Deden:
    bila setelah Ali ra masih bermunculan para wali lain hingga ditanah airpun ada sembilan wali yang dikenal sebagai wali songo,

    JAWAB:
    Mengutip Hadits Dha’if lagi…….Istighfar Kang Deden 2 Jt x😀
    —————————————
    Quote Deden:
    demikian pula bila seseorang dikatakan sebagai khatamus syuara toh para penyair baru masih datang silih berganti, demikian pula bila anak-anak kita telah khatam al-Qur’an mereka masih akan terus dan terus membaca dan melafalkan al-Qur’an

    JAWAB:
    Perkataan manusia lagi sebagai alat ukurnya😀 dan bukan Al-Qur’an sebagai Alat ukurnya.😀 Allah dikalahkan dengan perkataan manusia😀
    —————————————————-
    Quote Deden:
    maka makna dari kata “khatam” ini adalah sangat masuk akal sebagai “terakhir dalam bentuk kesempurnaan” bukan “terakhir yang tidak ada lagi sesudahnya”
    Kalau pengertian ”khatam” itu sebagai “terakhir yang tidak ada lagi sesudahnya”

    JAWAB:
    Darimana dapet arti “dlm bentuk kesempurnaan” kang Deden😀
    Lucunya Kang dede mengartikan kata “khaatam” dengan “terakhir”. Ente kok plin-plan begitu. Sebelumnya ente bilang artinya stempel,cincin, dll dan bukan penutup seperti hadits bukhari yang ente kutip. Nah sekarang berubah plin-plan menjadi “terakhir”😀
    “terakhir” dengan “penutup” apa bedanya Kang Deden😀
    Jadi mohon selalu anda ingat dalam otak ente “GELAR YANG DIBERIKAN KEPADA RASULULLAH SIFATNYA TIDAK TERBATAS SAMPAI KIAMAT SEDANGKAN GELAR YG DIBERIKAN OLEH PARA ULAMA/MANUSIA SIFATNYA TERBATAS”….Perkataan Allah tidak bisa disamakan dengan perkataan Manusia….Mohon anda ingat itu.
    Ente juga selalu ingat-ingat ayat ini QS.42:11,”Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat”.

    Jadi untuk mengartikan kata “Khaatama” anda harus melihat ayat lainnya dan anda harus tahu mashdarnya😀 Di Al-Qur’an sdh ada ayat lainnya untuk menafsirkan kata “Khaatama”. Sayangnya ente tidak tahu tata bahasa arabnya😀 Jadi ente apa mengutip perkataan manusia kalau di Al-Qur’an sudah ada penjelasannya😀
    Jadi saya tanya lagi kepada anda, Mashdarnya “khaatama” itu apa?😀
    Kalau ente tidak tahu jadi lucu dong ente membual kesana kemari ttg khaatama tetapi mashdar dari “khaatama” saja tidak tahu😀
    —————————————————
    Quote Deden:
    Mestinya ya tidak ada lagi seorangpun yang berhijrah setelah Ummar ra melakukan hijrah,
    Wallahu’alam

    JAWAB:
    he..he..hee..begitu rakusnya kang deden menyantap doktrin-doktrin Ahmadiyah sampe-sampe Kang Deden tidak mau tahu apakah benar atau tidak hadits tsb lafadznya seperti itu….kedustaan-kedustaan yang ditulis oleh pentolan-pentolan Ahmadiyah dalam berbagai macam buku dengan rakusnya disantap kang deden tanpa mau tahu bahwa yang disantapnya adalah kotoran😀
    ente gw kasih tahu hadits yg sebenarnya dari “khaatamul muhajiriin”. Yang benar tertulis “WAHAI PAMAN” bisa anda lihat di buku Ahmadiyah “Bukan Sekedar Hitam Putih” karangan M.A.Suryawan hal 37. Di Gramedia buku ini bisa anda dapatkan.
    Biar anda tahu bahwa paman nabi yaitu Abbas r.a dlm sejarahnya memang adalah orang yang terakhir berhijrah😀 Jelas!!!!
    ————————————————————-
    Quote Deden:
    juga tidak akan pernah ada lagi seorang wali-pun sepeninggal Khalifah Ali ra,

    JAWAB:
    tidak bosan-bosannya Kang Deden mengutip Hadits Dhaif dari buku-buku Ahmadiyah😀 istghfar lagi ya kang deden 3 jt x😀
    ——————————————
    Quote Deden:
    dan tak pernah pula kita akan membaca lagi al-Qur’an karena sebelumnya telah khatam!

    JAWAB:
    lucu banget ente ini perkataan manusia disamakan dengan perkataan Allah.
    ente tahu khan “Mukhalafatul lilhawaditsi” : berbeda dengan Makhluknya.
    QS.42:11,”Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat”.

    Kang deden, Allah dalam berkata, bertanya, berdialog, berbuat, dll lain-lain sifat yang dilakukan oleh-Nya tidak bisa disamakan dengan apa yang ada pada manusia/makhluk-Nya.

    ———————————————-

    Kang Deden baca dengan teliti lagi ya Tafsir Resmi Ahmadiyah yang dikarang khalifah ente ttg khaatama annabiyyin sebelum ente turun gunung mengirimkan postingan. Gw khawatir saja nanti ente dipermalukan oleh perkataan khalifah ente. Mashdar “KHAATAMA” juga bisa dilihat dalam tafsir resmi Ahmadiyah Kang.
    http://z8.invisionfree.com/islamic/index.php?showtopic=64

    ———————————
    Menurut salah seorang Ahmadi bahwa Ahmadi yang mengetahui ttg “TADZKIRAH” hanya sebesar 1% sedangkan sisanya yang 99 % belum mengetahui ttg tadzkirah….he…he…he…sedikit amat yg tahu ttg Tadzkirah. Sama aja tuh Ahmadi seperrti pepatah “membeli kucing dalam karung”😀 Borok Ahmadiyah saja tidak tahu begitu gampangnya mereka mengimani Ghulam Ahmad😀
    Bagi Ahmadi yang belum mengetahui ttg “TADZKIRAH” bisa ente klik disini http://z8.invisionfree.com/islamic/index.php?showtopic=59

  14. 17 kevin August 5, 2008 at 3:58 am

    Saya bukan ahli agama. Saya hanya orang awam dibidang agama. Tapi bukan berarti orang selevel saya tidak bisa melihat kebenaran. Orang seperti saya melihat kebenaran hanya berbekal ilmu logika dan ilmu agama seadanya. Ingat meskipun Nabi Muhammad mempunyai prasyarat menjadi Nabi yakni kejujuran sehingga dijuluki Al-Amin tapi ketika beliau memproklamasikan sebagai utusan Alloh hampir 99% penduduk mekah menolak kenabian beliau termasuk para ahli agama. Bahkan segelintir orang yg mengaku kenabian Beliau pada awalnya adalah orang orang awam seperti saya. Bahkan ada seorang pedagang yahudi yg sering bertransaksi dengan beliau (waktu Beliau belum mengaku seorang Nabi) karena melihat kejujurannya mengatakan Muhammad bakal jadi seorang Nabi. Begitu sederhana melihat kebenaran. Salman Alfarisi datang dari negeri jauh sengaja ingin ketemu Nabi Muhammad untuk menguji kebenaran kenabian Muhammad, hanya dengan melihat sikap, tutur kata dan kepribadian Muhammad langsung percaya Muhammad memang seoarang utusan Tuhan. Bagaimana dengan yg mengaku para ahli agama pada saat itu ? Sebagian besar dari mereka tidak bisa melihat kebenaran karena dihatinya sudah tertanam semangat untuk mencari kesalahan. Bagi saya sebagai orang awam hanya tahu bahwa Firman Firman Alloh SWT yg tertulis dalam Kitab Alquran mengandung ribuan makna/tafsir, bila kita punya semangat mencari kesalahan maka kita tidak akan pernah melihat kebenaran.

    Kembali ke soal pembahasan diatas yakni Nabi Muhammad sebagai Nabi terakhir. Sebagai orang awam saya bermain logika sederhana saja : Kenapa Tuhan setelah Nabi Musa menurunkan puluhan Nabi (terakhir Nabi Isa as) yg tidak membawa syariat baru untuk menjaga syariat Taurat sementara setelah Nabi Muhammad Tuhan tidak menurunkan lagi Nabi untuk menjaga syariat Alquran yg nota bene merupakan Syariat Sempurna dibandingkan Taurat ? Kenapa setiap solat setelah membaca syahadat kita berdoa kepada Alloh SWT agar umat Nabi Muhammad diberikan rahmat dan berkat sebagaimana diberikan kepada Nabi Ibrahim ? Bukan Rahmat yg diberikan kepada Nabi Ibrahim itu adalah para Nabi ? Jadi sebetulnya umat islam setiap hari minimal 17x berdoa minta diturunkan Nabi nabi ? Bukankan sebagian besar umat islam percaya akan datangnya Nabi Isa di akhir zaman dan dibelakang nama Isa ada gelar Nabi artinya kita semua menunggu adanya Nabi lagi (yg sifatnya seperti Nabi Isa dulu) ?

  15. 18 Nabi lama August 5, 2008 at 6:35 am

    Quote:
    Bukankan sebagian besar umat islam percaya akan datangnya Nabi Isa di akhir zaman dan dibelakang nama Isa ada gelar Nabi artinya kita semua menunggu adanya Nabi lagi….
    Jawab:
    Betul, Nabi ISA AS, yang terdahulu.

    Quote:
    ….Nabi lagi (yg sifatnya seperti Nabi Isa dulu)
    Jawab:
    Dari mana nih asalnya, wahyu MGA?

    Salam,

  16. 19 kevin August 5, 2008 at 7:23 am

    Bukankah di surah Alfatihah yg setiap hari kita baca dalam solat kita berdoa : Tunjukanlah kami kejalan yg lurus bukan jalan SESAT maupun DIMURKAI. Bukankah kita tau bahwa golongan sesat itu adalah golongan kristen yg telah menganggap Tuhan mempunyai anak, sementara golongan yg dimurkai adalah golongan yahudi yg selalu menolak NIKMAT Alloh SWT. Di ayat yg lain dijelaskan yg disebut Nikmat Alloh SWT itu adalah Nabi Nabi dan memang terbukti kaum yahudi terkenal suka menolak setiap kedatangan Nabi nabi Alloh sampai sampai Nabi Isa mau dibunuhnya. Jadi bisa dikatakan setiap hari kaum muslimin selalu berdoa untuk tidak menolak bila Tuhan menurunkan Nabi setelah Nabi Muhammad.

  17. 20 kevin August 6, 2008 at 1:41 am

    Sebagai orang awam yg bukan ahli agama saya mencoba menjelaskan dengan logika analogi. Katakanalah umpama Presiden Soekarno kita anggap sebagai presiden terbesar sepanjang jaman karena berhasil menemukan Pancasila yg menjadi dasar negara yg menjadi pedoman bagi bangsa republik indonesia, apakak setelah itu tidak perlu lagi ada yg bergelar presiden untuk meneruskan dan menjaga nilai nilai pancasila tetap utuh tapi cukup saja negara RI dipimpin oleh yg bergelar Gubernur saja karena kuatir kedatangan presiden baru bisa merusak kebesar Presiden Sukarno?

    Kalo seandainya Profesor Enstein kita anggap sebagai Profesor Fisika terbesar sepanjang jaman karena telah berhasil menemukan ilmu pamungkas yakni teori relativitas, apakah setelah beliau tidak boleh ada lagi fisikawan yg bergelar profesor karena takut mengurangi kebesaran Enstein ?

    Kalo Maradona kita anggap sebagai pesepakbola dunia terbaik sepanjang jaman , apakah setelah itu tidak perlu lagi FIFA mengadakan pemilihan permain sepakbola terbaik dunia karena takut mengurangi kejeniusan maradona?

    Sebagai orang awam dibidang agama, begitulah cara saya berpikir untuk mencoba memahami kebenaran. Tidak ada jaminan orang yg berilmu tinggi dibidang agama bisa melihat kkebenaran karena semuanya berpulang kepada niat dan hidayah dari Alloh SWT.

  18. 21 kevin August 7, 2008 at 1:45 am

    @ Nabi lama

    Ooooooh ternyata anda belum banyak tau juga yah ajaran ahmadiyah. Gini aja Nabi Lama, anda coba tanya ke Kang Deden minta di email buku :

    1. Bukti Yesus di India
    2. Dimana Yesus Wafat
    3. Yesus di India
    4. Kain Kafan Turin

    Buku 2x diatas menjelaskan tentang wafatnya yesus yg dijelaskan bukannya hanya berdasarkan Firman 2x Alloh SWT dan Hadis Rosulluloh tapi juga berdasarkan kajian/riset ilmiah oleh ahli sejarah. Lalu Nabi Isa yg datang di akhir Zaman itu siapa ? mungkin itu kan pertanyaan anda. Yang datang itu adalah Nabi Isa yg datang dari kaum islam yg mempunyai sifat 2x seperti Isa Almasih dari kaum yahudi. Di berbagai hadis dikatakan bahwa Nabi Isa akhir zaman itu orangnya sama dengan Imam Mahdi. Juga bisa disebut Kresna bagi orang hindu. Jadi orangnya tunggal yg kedata\ngannya untuk meluruskan ajaran ajaran berbagai agama dan mengajak untuk kembali ke ajaran agama sejati yakni Islam. Lalu bagaiman hadis 2x yg terkait dengan kriteria Isa Almasih atau Imam Mahdi di akhir zaman ? anda bisa tanya ke Kang Deden beliau ahlinya, saya di ahmadiyah termasuk The Rookie, kalo saya jelaskan kuatir anda ga puas.

    Ahmadiyah itua dalah golongan yg sudah mengaku datangnya Imam Mahdi atau Nabi Isa dalam wujud MGA, sementara yg lain masih menunggu.

    Pis

  19. 22 kevin August 7, 2008 at 5:52 am

    @ Nabi lama

    Banyak orang yg tidak menyadari bahwa FONDASI UTAMA ajaran kristen itu adalah masalah wafatnya Nabi Isa. Kepercayaan Kristen Nabi Isa mati di tiang salib setelah 3 hari lalu dihidupka kembali baru diangkat ke langit jasadnya. Sementara kepercayaan islam pada umumnya Nabi Isa langsung diangkat ke langit jasadnya sementara yg ditiang salib adalah orang yg berhianat ke Nabi Isa. Bgmm Ahmadiyah ? Nabi Isa hanya pingsan di tiang salib, setelah 3 hari siuman lalu beliau secara diam diam meninggalkan palestina disamping untuk menghindari penanngkapan kembali tentara yahudi juga untuk mencari murid 2x nya yg lebih dulu meninggalkan palestina. Lalu dmn makam Nabi Isa ? ada di Kashmir, India. Untuk lebih jelasnya anda silahkan baca 4 buku di atas.

    Sebetulnya tanpa sadar kaum muslim pada umumnya telah mendukung Fondasi Utama Ajaran Kristen yakni percaya bahwa Nabi Isa jasadnya diangkat ke langit. Padahal kalo nanti terbukti bahwa Nabi Isa tidak diangkat ke langit jasadnya dan makam yg di Kashmir itu memang jasad Nabi Isa as maka dengan demikian GUGUR LAH AQIDAH AJARAN KRISTEN. Dan anda tahu MGA lah yg berdasrkan wahyu mengatakan bahwa Nabi Isa telah wafat dan beliau juga memberi petunjuk lokasi tentang keberadaan makanya. Dan seorang ahli sejarah USA keturunan yahudi kalo ga salah tahun 1950 an melakukan riset terhadap kuburan yg oleh kaum ahmadiyah dipercaya kuburan Nabi Isa As. Dan hasil riset itu menyimpulkan bahwa BENAR KUBURAN TERSEBUT ADALAH KUBURAN NABI ISA AS.

  20. 23 Nabi lama August 11, 2008 at 9:20 am

    Oohh udah lama nih, sampe saya buka2 arsipnya Kang Deden.
    Buku2 itu sebagian saya sudah ada selebihnya saya belum ada. Kalo boleh tolong dong situs downloadnya. Thanks.
    Salam,

  21. 24 kevin August 12, 2008 at 9:38 am

    @ Nabi Lama

    Saya juga dapatnya mengdownload dari situs ahmadiyah (www.ahmadiyya.or.id) tapi situs tersebut setelah keluar SKB untuk sementara dg kesadaran sendiri ditutup oleh JAI karena prinsipnya JAI tidak ingin melawan pemerintah. Coba anda minta ke Kang Deden. Saya juga jadi kesulitan ingin mengakses buku 2x JAI. Tapi saya ragu juga Kang Deden bisa bantu karena kuatir beliau takut dianggap melanggar SKB

    Nabi Lama, bagi saya keberanian MGA menyatakan Nabi Isa tidak diangkat ke langit dan sekaligus menunjukan lokasi kuburan Nabi Isa dan Ibundany Maryam (wafat di Afganistan) ditengah tengah kepercayaan baik Umat Kristen mapun Umat Islam bahwa Nabi Isa diangkat ke langit jasadnya, merupakan pertaruhan bagi kelangsungan Jemaat Ahmadiyah. Bila kelak tidak terbukti bahwa kuburan tsb bukan kuburan Nabi Isa as maka gugurlah kepercayaan Ahmadiyah dan kita bisa menyimpulkan bahwa MGA adalah bukan Utusan Tuhan. Insya Alloh saya percaya 100% pada pengakuan MGA.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




AYO BERBELANJA DI TOKO ONLINE KAMI:

Statistik Blog

  • 216,092 hit

aku suka jalan-jalan

hidup adalah jalan-jalan. jalan-jalan adalah hidup

%d bloggers like this: