Tanggapan untuk Kang Cabe Rawit

Cabe RawitSebelumnya isi posting ini telah saya publish pada kolom tanggapan (menanggapi tanggapan dari Kang Cabe Rawit) pada posting yang saya beri judul “Tn Kabul Continued” namun seorang teman yang membaca berkomentar “kau harus adil” katanya ” masa kalau komentar untuk Kabul kamu buat sampai dua artikel,  giliran menjawab komen Cabe Rawit hanya kau tulis dibawah komennya!” Setelah saya pikir betul juga itu masukan sahabat saya jadi akhirnya komen untuk Kang Cabe Rawit saya pindah ke posting ini. Semoga saja Kang Cabe Rawit maklum dan tidak berkeberatan!
Dan terima kasih kepada sahabat yang telah memberi masukan.

Tanggapan saya tersebut adalah sebagai berikut:
Sebelumnya mohon maaf berhubung saya tidak menguasai tata bahasa arab jadi sangat tidak berkompeten untuk menyetujui atau menolak apa yang akang kemukakan. Bagi orang awan seperti saya didalam memahami sesuatu hal tidak ada pilihan lain selain memahami hal itu sesuai dengan apa yang masuk logika dan nalar secara sederhana tanpa harus repot2 mengingat dan menimbang ini dan itu.
Dalam logika saya suatu kata yang sama pasti akan mempunyai arti yang sama bilapun atau kepada siapapun kata itu digunakan/ditujukan. Begitu juga dalam hal ini kata khatam mau kepada nabi, kepada masyarakat umum atau kepada siapapun mestinya mempunyai arti yang sama pula.
Dalam fakta dilapangan –seperti apa yang saya singgung dalam tulisan– penggunaan kata itu selalu bermakna “terakhir dalam bentuk kesempurnaan” lalu kenapa pula bila dikenakan kepada Rasulullah saw kok harus menjadi “terakhir dalam bentuk segalanya” ?

Memang saya cukup memahami bahwa pendekatan cara masyarakat awam dengan kaum ahli pasti jauh berbeda. Sebagai contoh bila ditanyakan suatu pertanyaan; apakah telor yang dijatuhkan kesebuah batu dari ketinggian 10 meter akan pecah atau tidak? Maka saat itu juga orang awam akan menjawab “ya telor itu akan pecah” tapi bila pertanyaan serupa ditanyakan kepada sekelompok ahli sains sangat boleh jadi akan diperlukan waktu yang sangat panjang dari para ahli itu untuk melakukan perhitungan, penelitian, percobaan, diskusi atau bahkan seminar dan belum tentu pula jawaban ahli yg satu sama persis dengan ahli yang lain dikarenakan perbedaan2 asumsi mengenai berbagai faktor semisal kecepatan angin, gravitasi, sudut kemiringan, berat telor dll.

Hanya saja supaya tidak terlalu mengecewakan kang Cabe Rawit, saya akan mencoba untuk menyampaikan dari apa yang pernah saya baca dan merupakan analisa dari orang lain yang juga menguasai tata bahasa Arab seperti kang Cabe Rawit.

seperti ini:
………………….Dari perkataan khaataman-Nabiyyina yang mereka artikan penutup nabi-nabi, maka mereka beranggapan tidak akan ada lagi nabi sesudah Nabi Muhammad saw.. Mereka mengartikan khaatamun dalam rangkaian kalimat khaataman-Nabiyyina sama dengan arti kata khatam dalam rangkaian kalimat khatamallahu ‘ala qulubihim (QS Al Baqarah ayat delapan). Mereka lupa, bahwa khaatamun [ditulis: kha-alif-ta-mim] termasuk isim, yakni kata benda; sedangkan khatama [ditulis: kha-ta-mim] termasuk fi’il madhi, yakni kata kerja untuk masa yang sudah lalu. Jadi tentu saja kedua kata itu tidak sama artinya.

Di dalam Kamus Arab Malajoe jilid I terbitan Balai Poestaka tahun 1925 halaman 177 tertulis:
Khatamallahu ’ala qalbihi = Allah Ta’ala menjadikan hatinya tertutup.
Alkhaatamu = tjap; tjintjin tjap.

Di dalam Kamus Arab-Indonesia Prof. H. Mahmud Yunus keluaran Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Alquran Jakarta tahun 1973 halaman 114 tertulis:
Khatama yakhtimu-khatman = mentjap, menutup, menamatkan.
Khaatamun – khaatim j.: khawatim = tjintjin, stempel, tjap.

Di dalam Munjid: 106 tertulis arti khaatamun itu: ”Halyun l-lil ushbu’i ma’araffun m- ma yukhtamu bihi”
Yang artinya: Perhiasan pada jari, yang menjadi hiasan bagi pemakainya. Yang apa-apa dicap dengannya. (Dicap, maksudnya disahkan, umpamanya surat, Pen.).

Di dalam Bukhari j. 4: 25 tertulis:
Innahum la yaqbaluna kitaban illa ’alayhi khatamun, fattakhadzannabiyyu saw. khaataman-m-min fidhdhatin-n-naqtsuhu muhammadun-r-rasulullah.
Sesungguhnya mereka tidak mau menerima surat (kiriman Rasulullah), kecuali bila berstempel; lalu Rasulullah mengambil cap yang terbuat dari perak yang berukir dengan kalimat ”Muhamaddun-r-Rasulullah.
Dari keterangan yang tertulis di dalam Bukhari inipun jelas bahwa khaatamun itu artinya cap atau stempel. Bukan penutup. Maka berdasarkan berbagai keterangan seperti yang telah dikemukakan tadi, kalimat Khaatamannabiyyina itu agaknya lebih benar bila diartikan “cap (stempel) nabi-nabi”, atau “perhiasan nabi-nabi”, dari pada diartikan penutup nabi-nabi. Cap atau Stempel berfungsi untuk menunjukkan absahnya sesuatu surat yang bersifat kedinasan. Surat dinas yang tidak berstempel dianggap tidak sah. Rasulullah saw. pun beliau berfungsi mengabsahkan Rasul-rasul Allah sebelum beliau saw.; beberapa orang Rasul dianggap bernoda oleh umat terdahulu, malah ada yang tidak diakui sebagai Rasul Allah. Umpamanya: Nabi Nuh a.s. dituduh mabok-mabokan hingga tak sadar beliau bertelanjang. (Torat Kitab Kejadian 9: 20-27). Nabi Luth a.s. dituduh meniduri kedua orang putrinya, hingga kedua putrinya itu hamil. (Torat Kitab Kejadian 19: 30-38). Nabi Daud a.s. dituduh meniduri isteri Uria, malah lalu memerintahkan supaya Uria ditempatkan di barisan paling depan di medan perang, supaya terbunuh, yang selanjutnya isterinya diambil oleh Nabi Daud a.s. dijadikan isterinya. Nabi Isa a.s. dituduh anak zina, anak haram, oleh umat Yahudi. Na’udzubillahimindzalik. Dan kemudian Rasulullah saw. datang, mengabsahkan, bahwa semua Nabi-Nabi itu maksum, bersih dari segala ke’aiban dan suci dari dosa. Dan Nabi Isa a.s. benar Nabi, Rasul Allah (19: 31-34). Oleh karena itu, maka sebutan Khaataman nabiyyina samasekali tidak berarti menutup pintu untuk terus berlangsungnya Allah Swt. mengutus Rasul-Rasul ke dunia sesudah Rasulullah saw., melainkan, dalam kaitan ini, mengabsahkan kebenaran Rasul-Rasul.
………………dst

(kalau masih berkenan untuk membaca naskah ini secara utuh silahkan dilanjut dengan mengklik disini dan cari subjudul 4b. Masalah Kenabian

begitu mungkin kang ceritanya…kenapa warga Ahmadiyah memiliki pemahaman seperti itu!

54 Responses to “Tanggapan untuk Kang Cabe Rawit”


  1. 1 Cabe Rawit March 16, 2008 at 7:05 am

    Woh… dibikin fostingan khusus nih…:mrgreen:
    *sembah-sembah*

    Kang Aden, yang saya tekankan adalah konteks penggunaan sebuah kata. Penggunaan kata khatmun dalam hadist “Innahum la yaqbaluna kitaban illa ’alayhi khatamun, fattakhadzannabiyyu saw. khaataman-m-min fidhdhatin-n-naqtsuhu muhammadun-r-rasulullah”, jelas saja akan difahami sebagai alat cap atau stempel, karena jika kata khatmun diartikan sebagai penutup atau akhiran, maknanya akan menjadi kabur. Orang dapat memahaminya karena penempatan kata tersebut pada konteksnya.

    Seperti contoh yang saya berikan, yaitu perintah Ittaqillah (bertakwalah engkau kepada Allah). Kalau kemudian fi’il amar (kata perintah) ini diartikan tidak sesuai konteksnya, ya jadi kacau kang…:mrgreen: masa kita malah diperintahkan oleh Allah agar menjauh dan menghindar dari Allah? Orang kemudian memahami maksud dari kata perintah ini karena kemudian Nabi SAW memberikan penjelasan mengenai apa maksud dari kata Taqwa.

    Nah, demikian pula mengenai khatam annabi. Nabi SAW menegaskan bahwa tidak akan ada Nabi setelah beliau. Pernyataan beliau bahwa tidak akan ad Nabi setelah beliau, menjadi sebuah penjelasan dari ayat yang menegaskan posisi beliau SAW sebagai Nabi dan Rasul terakhir. Itulah sebabnya, kemudian manakala sepeninggal Nabi SAW, para sahabat segera memerangi orang-orang yang mengaku sebagai Nabi. Seperti halnya Musailamah al-Kadzdzab, yang juga mengkalim sebagai nabi dan mengaku menerima wahyu. Kalau memang para sahabat mememiliki pemahaman yang sama dengan pemahamannya Ahmadiyah, bahwa setelah Nabi SAW akan masih diturunkan para nabi lainnya, lalu kenapa para sahabat nabi memerangi siapapun orang yang mengaku-ngaku sebagai Nabi?

    Pertanyaan saya, bagaimana sikap para pengikut Ahmadiyyah, manakala ada orang yang mengaku-ngaku sebagai Nabi? Apa akan mengimani-nya juga? Jangan-jangan ummat Ahmadiyah juga turut mengimani Ahmad Mushoddiq sebagai Nabi…:mrgreen:

    @den
    1.Menurut yang saya baca “bahwa perkataan khatam bila di idhafatkan dibelakang perkataan jamak (Al-mufassirin, al-muhajirin. Asy syuara, al-fuqaha, al-aulia dll) maka tidak ada makna lain selain afdal/yang paling tinggi.

    2.Bila dihubungkan dengan ayat2 Al-Qur’an yang mengisyaratkan bahwa bisa saja seorang nabi setelah Rasulullah saw datang,(contoh annisa:69) maka dalam pengertian saya tentulah Hadits2 nabi berkenaan dengan tidak adanya kenabian setelah beliau itupun ada dalam batasan ayat 2 Al-Qur’an tersebut. Karena tentu tidak bisa dipungkiri bahwasanya kedudukan Al-Qur’an itu lebih tinggi dari Al-Hadits. Haditslah yang merupakan penjabaran dari Al-Qur’an dan bukan sebaliknya.

    Jadi bahwasanya ada Hadits2 tentang tidak ada nabi setelah Beliaw saw –dimana Ahmadiyah termasuk yang mempercayai Hadits2 tersebut– maka tentulah yang dimaksud Rasulullah saw itu bukanlah sembarang nabi karena beliaupun menubuwatkan pula tentang kedatangan “Isa” diakhir jaman.

    Keterangan2 mana menjadikan sebagian ummat Islam –paling tidak warga Ahmadiyah– menyimpulkan/metafsirkan/mempercayai bahwa yg dimaksud Rasulullah saw tidak akan ada nabi itu adalah kenabian yang akan membatalkan syariat Beliau saw, sedangkan kenabian yang akan berfungsi sebagaimana hal nya Isa dulu yang dikirim untuk membenahi ummat Yahudi supaya kembali kepada ajaran Musa yang haq, maka “Isa” yang dijanjikan Rasulullah saw akan datangpun adalah seseorang yang akan menjalankan fungsi Isa dan bukan orang yang bernama Isa nabinya bani Israil, datang kemudian dari ummat beliau dan bertugas untuk memurnikan kembali Islam dari segala bentuk campur baur dengan ajaran yang bukan dari Islam sehingga kembali bentuknya pada bentuk yang diajarkan dan dibawa oleh Rasulullah saw. Maka tentu saja “Isa” nya Muhammad ini tidak akan mengajarkan hal2 yang bertentangan dengan apa yang telah diajarkan Rasulullah saw sebagaimana halnya Musailmah ataupun Ahmad Musadeq.

    Dalam konteks pemahaman ini maka menjadi tidak mengherankan apabila para sahabat memerangi Musailmah karena tentu saja para sahabat tahu persis bahwa selain “Isa” yang akan datang diakhir jaman, maka selebihnya adalah nabi2 palsu ….

    Halnya Musaddeq mana ada sih nabi sungguhan bertobat????:mrgreen:
    Begitu mungkin Kang jawaban saya…

  2. 2 Muhammad Rachmat March 16, 2008 at 1:54 pm

    Sepertinya perlu adalah peringatan, seperti dilembar uang kertas ” BARANG SIAPA YANG MENGKU SEBAGAI NABI PALSU,DAN SENGAJA MENYIMPAN/MENYEMBUNYIKAN NABI PALSU MAKA BISA DIHUKUM” begitulah kira-kira :mrgreen:

  3. 4 zal March 17, 2008 at 7:20 am

    ::diskusi yang sejuk…🙂
    jika memungkinkan memandang kalimat sebagai informasi umum, maka carilah titik detailnya sampai tidak ditemukan lagi makna lainnya…, jika melihat bentuk sebagaimana Allah mengumpamakan seekor nyamuk, apa sih, yg terpandangkan padanya…apa cuma koq bisa ya sekecil itu bisa lengkap struktur tubuhnya, lha kalo dibandingkan dengan chips yg halus banget gimana…, atau seorang pembuat detail patung hanya dengan sebesar krikil yg kecil banget…
    Maksud kalimat sebagai informasi umum itu mungkin seperti tanda jalan, gambarnya S coret, S coret kan gambarnya, sedang maksudnya perlu dicari…itulah mungkin mengapa AQ tidak habis ditulis meski dengan 7 samudera menjadi tintanya…

  4. 5 J&W March 19, 2008 at 12:14 am

    Kang Aden, mudah2an gak cape untuk terus menulis dan memberi informasi kepada orang yang ingin mencari tahu.

    Kang Cabe Rawit, saya salut dengan kemauan anda utk mencari tahu, mudah2an ini bisa jadi tambahan ilmu, seperti pepatah carilah ilmu sampai ke negeri China.

    Semoga Allah membuka hati dan pikiran untuk lebih terbuka menerima dan mencermatinya lebih dalam. Amiin.

  5. 7 wong March 23, 2008 at 12:00 pm

    perihal khaatama annabiyyin (Al-Ahzab 40) bisa dilihat disini diskusinya http://z8.invisionfree.com/islamic/index.php?showtopic=49

  6. 8 wong March 23, 2008 at 12:03 pm

    Buat Muhammad Rachmat dan ahmadi lainnya:

    Menurut Ahmadiyah Khaatama yg terdapat dlm Surat Al-Ahzab 40 adalah “ISIM”. Tolong sebutkan isim apa ?😀
    Sebutkan pula ciri-ciri dari “ISIM” ?😀
    Mashdarnya apa ?😀

  7. 9 wong March 23, 2008 at 12:10 pm

    Tafsir Resmi Ahmadiyah surat Al-Ahzab 40 bisa dilihat disini:
    http://z8.invisionfree.com/islamic/index.php?showtopic=64

    Sekalian ahmadi yang ingin tahu ttg “TADZKIRAH” bisa dilihat disini

    http://z8.invisionfree.com/islamic/index.php?showtopic=59

    Bagi ahmadi yang ingin tahu ttg diskusi-diskusi ahmadiyah bisa dilihat disini
    http://z8.invisionfree.com/islamic/index.php?showforum=7&prune_day=100&sort_by=Z-A&sort_key=last_post&st=0

    SETELAH PARA AHMADI MEMBACA DISKUSI TSB, SILAHKAN AMBIL KESIMPULAN SENDIRI. SESAT ATAU TIDAKKAH AHMADIYAH ?😀

  8. 10 rasyid March 24, 2008 at 9:54 am

    Quote Deden:
    Sebelumnya mohon maaf berhubung saya tidak menguasai tata bahasa arab jadi sangat tidak berkompeten untuk menyetujui atau menolak apa yang akang kemukakan

    JAWAB:
    Kalau gitu tahu dirilah kalau ente mengaku tidak menguasai ilmunya 😀
    ————————————-

    Quote Deden:

    Bagi orang awan seperti saya didalam memahami sesuatu hal tidak ada pilihan lain selain memahami hal itu sesuai dengan apa yang masuk logika dan nalar secara sederhana tanpa harus repot2 mengingat dan menimbang ini dan itu.
    Dalam logika saya suatu kata yang sama pasti akan mempunyai arti yang sama bilapun atau kepada siapapun kata itu digunakan/ditujukan. Begitu juga dalam hal ini kata khatam mau kepada nabi, kepada masyarakat umum atau kepada siapapun mestinya mempunyai arti yang sama pula.
    Dalam fakta dilapangan –seperti apa yang saya singgung dalam tulisan– penggunaan kata itu selalu bermakna “terakhir dalam bentuk kesempurnaan” lalu kenapa pula bila dikenakan kepada Rasulullah saw kok harus menjadi “terakhir dalam bentuk segalanya” ?

    JAWAB:
    Aneh…mengaku tidak menguasai tata bahasa arab tetapi dengan pedenya mengartikan “khaatama annabiyyin” dengan “terakhir dalam bentuk kesempurnaan”…jadi binun😀
    ————————————————-

    Quote Deden:
    seperti ini:
    ………………….Dari perkataan khaataman-Nabiyyina yang mereka artikan penutup nabi-nabi, maka mereka beranggapan tidak akan ada lagi nabi sesudah Nabi Muhammad saw.. Mereka mengartikan khaatamun dalam rangkaian kalimat khaataman-Nabiyyina sama dengan arti kata khatam dalam rangkaian kalimat khatamallahu ‘ala qulubihim (QS Al Baqarah ayat delapan). Mereka lupa, bahwa khaatamun [ditulis: kha-alif-ta-mim] termasuk isim, yakni kata benda; sedangkan khatama [ditulis: kha-ta-mim] termasuk fi’il madhi, yakni kata kerja untuk masa yang sudah lalu. Jadi tentu saja kedua kata itu tidak sama artinya.

    JAWAB:

    Mashdar “khaatama” yg tertulis dlm surat Al-Ahzab 40 itu apa kang deden??????
    Aneh kalau ente mengatakan itu beda sedangkan Mashdar “khaatama” saja tidak tahu😀
    ————————————————————————–
    Quote Deden:
    Di dalam Kamus Arab Malajoe jilid I terbitan Balai Poestaka tahun 1925 halaman 177 tertulis:
    Khatamallahu ’ala qalbihi = Allah Ta’ala menjadikan hatinya tertutup.
    Alkhaatamu = tjap; tjintjin tjap.
    Di dalam Kamus Arab-Indonesia Prof. H. Mahmud Yunus keluaran Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Alquran Jakarta tahun 1973 halaman 114 tertulis:
    Khatama yakhtimu-khatman = mentjap, menutup, menamatkan.
    Khaatamun – khaatim j.: khawatim = tjintjin, stempel, tjap.
    Di dalam Munjid: 106 tertulis arti khaatamun itu: ”Halyun l-lil ushbu’i ma’araffun m- ma yukhtamu bihi”
    Yang artinya: Perhiasan pada jari, yang menjadi hiasan bagi pemakainya. Yang apa-apa dicap dengannya. (Dicap, maksudnya disahkan, umpamanya surat, Pen.).

    JAWAB:

    he…hee…heee…perkataan manusia dipakai untuk menterjemahkan Al-Qur’an.
    Kang Deden, Sesungguhnya jalan terbaik dalam ilmu tafsir adalah Al-Quran ditafsirkan dengan ayat. Yang mujmal dalam satu ayat maka akan diperinci dalam ayat lain.
    Maka dari itu ente harus tahu dulu mashdar dari kata “KHAATAMA”😀 sudah tahukah anda mashdarnya😀
    Sudah baca atau belum tafsir resmi Ahmadiyah berbahasa Indonesia yang dikarang oleh Khalifah ente “Bashiruddin Mahmud Ahmad”….sudah atau belum?????
    Kalau belum baca saya kasih linknya
    http://z8.invisionfree.com/islamic/index.php?showtopic=64

    sudah dibaca ya…
    Khalifah ente saja mengartikan khaatama dlm surat Al-Ahzab salah satunya “NABI TERAKHIR”.
    dan pada akhir kesimpulannya mengatakan “NABI TERAKHIR YANG MEMBAWA SYARIAT”.
    KENAPA ENTE MENYEMBUNYIKAN PENDAPAT KHALIFAH ENTE INI…😀
    Aneh…kok tidak kompak sih perkataan anda dengan perkataan khalifah ente😀
    Apa ente mau mengingkari perkataan khalifah ente dalam tafsir tsb. Saya mau tanya hukumnya apa kalau seorang ahmadi mengingkari perkataan khalifahnya ?😀
    ente seharusnya bersikap fair dlm menjelaskan akidah ente….apapun pahitnya walaupun pahit betul😀 seharusnya ente harus berkata jujur. Untuk apa ente membuat blog ini sedangkan tujuan ente hanya menutupi-nutupi keyakinan ente.
    BTW menurut khalifah ente “Nabiyyin” diartikan dengan Nabi yang membawa syariat” (bersifat khusus)…tolong tunjukkan keterangannya dlm surat Al-Ahzab 40 tsb ada menyebutkan “yang membawa syariat”… kepepet ni yeee😀
    Dalam Tafsir Resmi tsb diartikan bahwa Rasulullah adalah “METERAI PARA NABI”….Naudzubillahi Min Dzalik…Rasulullah disamakan dengan benda yang bernama “Meterai”…orang-orang yang mengartikan Rasulullah adalah “materai para nabi” pantas untuk mendapatkan Adzab dan Laknat Allah.

    Saya kutip lagi perkataan ente kang deden:
    Khatamallahu ’ala qalbihi = Allah Ta’ala menjadikan hatinya tertutup.
    Khatama yakhtimu-khatman = mentjap, menutup, menamatkan.

    coba anda bandingkan pendapat anda dgn pendapat khalifah ente : http://z8.invisionfree.com/islamic/index.php?showtopic=64
    Aneh…kok tidak kompak sih perkataan anda dengan perkataan khalifah ente😀
    HE…HE…HEEEE…DUSTA LAGI😀
    ——————————————————————-
    Quote Deden:
    Di dalam Bukhari j. 4: 25 tertulis:
    Innahum la yaqbaluna kitaban illa ’alayhi khatamun, fattakhadzannabiyyu saw. khaataman-m-min fidhdhatin-n-naqtsuhu muhammadun-r-rasulullah.
    Sesungguhnya mereka tidak mau menerima surat (kiriman Rasulullah), kecuali bila berstempel; lalu Rasulullah mengambil cap yang terbuat dari perak yang berukir dengan kalimat ”Muhamaddun-r-Rasulullah.
    Dari keterangan yang tertulis di dalam Bukhari inipun jelas bahwa khaatamun itu artinya cap atau stempel. Bukan penutup. Maka berdasarkan berbagai keterangan seperti yang telah dikemukakan tadi, kalimat Khaatamannabiyyina itu agaknya lebih benar bila diartikan “cap (stempel) nabi-nabi”, atau “perhiasan nabi-nabi”, dari pada diartikan penutup nabi-nabi. Cap atau Stempel berfungsi untuk menunjukkan absahnya sesuatu surat yang bersifat kedinasan. Surat dinas yang tidak berstempel dianggap tidak sah. Rasulullah saw. pun beliau berfungsi mengabsahkan Rasul-rasul Allah sebelum beliau saw.; beberapa orang Rasul dianggap bernoda oleh umat terdahulu, malah ada yang tidak diakui sebagai Rasul Allah. Umpamanya: Nabi Nuh a.s. dituduh mabok-mabokan hingga tak sadar beliau bertelanjang. (Torat Kitab Kejadian 9: 20-27). Nabi Luth a.s. dituduh meniduri kedua orang putrinya, hingga kedua putrinya itu hamil. (Torat Kitab Kejadian 19: 30-38). Nabi Daud a.s. dituduh meniduri isteri Uria, malah lalu memerintahkan supaya Uria ditempatkan di barisan paling depan di medan perang, supaya terbunuh, yang selanjutnya isterinya diambil oleh Nabi Daud a.s. dijadikan isterinya. Nabi Isa a.s. dituduh anak zina, anak haram, oleh umat Yahudi. Na’udzubillahimindzalik. Dan kemudian Rasulullah saw. datang, mengabsahkan, bahwa semua Nabi-Nabi itu maksum, bersih dari segala ke’aiban dan suci dari dosa. Dan Nabi Isa a.s. benar Nabi, Rasul Allah (19: 31-34). Oleh karena itu, maka sebutan Khaataman nabiyyina samasekali tidak berarti menutup pintu untuk terus berlangsungnya Allah Swt. mengutus Rasul-Rasul ke dunia sesudah Rasulullah saw., melainkan, dalam kaitan ini, mengabsahkan kebenaran Rasul-Rasul.
    ………………dst
    (kalau masih berkenan untuk membaca naskah ini secara utuh silahkan dilanjut dengan mengklik disini dan cari subjudul 4b. Masalah Kenabian
    begitu mungkin kang ceritanya…kenapa warga Ahmadiyah memiliki pemahaman seperti itu!

    JAWAB:
    coba ente teliti hadits bukhari tsb. Sama atau tidak wazannya dengan yang tertulis dlm Al-Quran😀

    Dlm Al-Qur’an tertulis “KHAATAMA” dan dlm Hadits tertulis “KHATAAMAN”.
    Ente tahu tidak ciri-ciri dari “ISIM”….sangatlah aneh ente mengatakan “KHAATAMA” adalah “Isim” sedangkan ente tidak tahu ciri-ciri dari isim.😀 Kelihatannya ente tidak begitu mengerti wazan yang tertulis dlm QS.33:40 sehingga ente yang tidak tahu ilmunya menyamakannya dengan yang tertulis dlm hadits bukhari😀
    ——————————————————————
    Quote Deden:
    Oleh karena itu, maka sebutan Khaataman nabiyyina samasekali tidak berarti menutup pintu untuk terus berlangsungnya Allah Swt. mengutus Rasul-Rasul ke dunia sesudah Rasulullah saw., melainkan, dalam kaitan ini, mengabsahkan kebenaran Rasul-Rasul.
    ………………dst

    JAWAB:
    haa…haaa..haa…Jadi sebegitu lamanya nabi-nabi yang datang sebelum Nabi Muhammad SAW belum absah dan harus menunggu kedatangan Rasulullah SAW terlebih dahulu baru mereka absah….ingat lho kalimatnya Rasulullah adalah “Khaatama Annabiyyin”.. haa…haa…haaa logika yang konyol sekali😀 lucu banget logika ente….begitu konyol. Yang mengutus Rasul-Rasul dan Muhammad SAW itu siapa kang kalau bukan Allah? Jadi aneh kalau ente mengatakan bahwa Rasulullah mengabsahkan kebenaran Rasul-Rasul. Apa Ahmadi semua logikanya sama seperti ente. Wajar aja kalau para ahmadi tersesat😀
    Diawal-awal ente katenye akan menggunakan logika dan nalar ente. Faktanya logika dan ente konyol begini😀
    —————————————————————-

    Quote Deden:
    1.Menurut yang saya baca “bahwa perkataan khatam bila di idhafatkan dibelakang perkataan jamak (Al-mufassirin, al-muhajirin. Asy syuara, al-fuqaha, al-aulia dll) maka tidak ada makna lain selain afdal/yang paling tinggi.

    JAWAB:
    “Idhafat” itu apa sih kang deden ?😀 pengertian paling afdhal itu khan menurut Ahmadiyah. Ente jangan samakan antara perkataan “Allah” dengan perkataan “Manusia”😀
    Kalau menurut ente khaatama Annabiyyin bisa diidhafatkan, tolong sebutkan “khaatama” itu Isim apa? dan Nabiyyin itu Isim apa ?😀 sehingga Khaatama Annabiyyin bisa diidhafatkan. Menurut kang deden kata mana yg disebut mudhaf dan mudhaf ilaih.😀
    Kang Deden, Gelar yang diberikan kepada Rasulullah “khaatama Annabiyyin” tidak bisa disamakan dengan gelar yang diberikan kepada Manusia. Gelar yang yang diberikan kepada Rasulullah sifatnya tidak terbatas sampai kiamat sedangkan gelar yang diberikan kepada manusia sifatnya terbatas selama tidak ada yang melebihi. Dan tidak ada sekitpun orang yang memberikan gelar kepada manusia menyamakannya dengan gelar yang diterima oleh Rasulullah SAW😀
    Banyak-banyaklah ente belajar Al-Qur’an jangan lupa belajar juga tata bahasa arab😀
    ——————————————————————
    Quote Deden:
    al-muhajirin

    JAWAB:
    coba ente sebutkan haditsnya yg lengkap😀
    Hadits al-muhajirin yg tertulis dibuku-buku ahmadiyah ada yang tertulis bukan sebenarnya alias berbohong (tertulis “Wahai Umar”). Yang benar bunyi haditsnya bisa anda kutip di bukunya M.A Suryawan “Bukan sekedar hitam putih” yaitu “Wahai Paman”.😀
    Beginikah cara-cara licik Ahmadiyah mendustakan sebuah hadits dgn tujuan tertentu demi keuntungan Alirannya😀
    Kang deden, Dalam sejarahnya memang paman nabi adalah orang yang terkahir berhijrah😀

    Quote Deden:
    al-aulia

    JAWAB:
    hii…hiii…hiii…Hadits Dha’if dijadikan pegangan😀
    ente bisa lihat penjelasan hadits tsb di link ini :
    http://z8.invisionfree.com/islamic/index.php?showtopic=13
    —————————————————————————-
    Quote Deden:
    2.Bila dihubungkan dengan ayat2 Al-Qur’an yang mengisyaratkan bahwa bisa saja seorang nabi setelah Rasulullah saw datang,(contoh annisa:69) maka dalam pengertian saya tentulah Hadits2 nabi berkenaan dengan tidak adanya kenabian setelah beliau itupun ada dalam batasan ayat 2 Al-Qur’an tersebut. Karena tentu tidak bisa dipungkiri bahwasanya kedudukan Al-Qur’an itu lebih tinggi dari Al-Hadits. Haditslah yang merupakan penjabaran dari Al-Qur’an dan bukan sebaliknya.

    JAWAB:
    Surat Annisa 69 linknya sudah diberikan oleh Kang Anang di forum ini “soal Ahmadiyah”. Saya rasa penjelasan yg terulis dalam link tb ttg Annisa 69 sudah jelas dan tidak ada sedikitpun pengertiannya sesuai yang diinginkan Ahmadiyah.
    Dalam Al-Qur’an disebutkan “Allah bersama(Ma’a) orang-orang yang sabar”.
    Sangatlah bodoh kalau kata “Ma’a” diartikan “menjadi”.
    Coba kita tuliskan sesuai yang diinginkan Ahmadiyah. “Allah menjadi orang-orang yang sabar”. Apakah mungkin mungkin Allah menjadi manusia…Naudzubillahi min Dzalik.
    Begitu pula arti “MIN” tidak bisa disamakan dgn arti “Ma’a”.
    Dalam tatabahasa arab kata “Min” disebut juga “harfu jarin” atau “Harf jar”.
    ——————————————————————–
    Quote Deden:
    Keterangan2 mana menjadikan sebagian ummat Islam –paling tidak warga Ahmadiyah– menyimpulkan/metafsirkan/mempercayai bahwa yg dimaksud Rasulullah saw tidak akan ada nabi itu adalah kenabian yang akan membatalkan syariat Beliau saw, sedangkan kenabian yang akan berfungsi sebagaimana hal nya Isa dulu yang dikirim untuk membenahi ummat Yahudi supaya kembali kepada ajaran Musa yang haq, maka “Isa” yang dijanjikan Rasulullah saw akan datangpun adalah seseorang yang akan menjalankan fungsi Isa dan bukan orang yang bernama Isa nabinya bani Israil, datang kemudian dari ummat beliau dan bertugas untuk memurnikan kembali Islam dari segala bentuk campur baur dengan ajaran yang bukan dari Islam sehingga kembali bentuknya pada bentuk yang diajarkan dan dibawa oleh Rasulullah saw. Maka tentu saja “Isa” nya Muhammad ini tidak akan mengajarkan hal2 yang bertentangan dengan apa yang telah diajarkan Rasulullah saw sebagaimana halnya Musailmah ataupun Ahmad Musadeq.

    JAWAB:
    Percuma ngomong banyak-banyak tapi ente tidak ada menuliskan buktinya…surat berapa dan ayat berapa gitu kek untuk menguatkan perkataan anda. Jawaban anda baru sebatas bualan😀
    Menurut Allah dalam firmannya:
    QS.5:44,”Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir”.
    QS.5:45,”Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim”.
    QS.5:47,”Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik”.
    Ente hanya menuruti hawa nafsu ente semata😀
    ———————————————
    Quote:
    Jadi bahwasanya ada Hadits2 tentang tidak ada nabi setelah Beliaw saw –dimana Ahmadiyah termasuk yang mempercayai Hadits2 tersebut– maka tentulah yang dimaksud Rasulullah saw itu bukanlah sembarang nabi karena beliaupun menubuwatkan pula tentang kedatangan “Isa” diakhir jaman.

    JAWAB:
    Aneh…Ahmadiyah mengatakan Isa telah wafat tetapi mengatakan pula Isa akan turun😀
    Dalam hadits yang anda imani ada keterangan “BIN MARYAM”….ini bukanlah kiasan, metafora ataupun majaz seperti yang diyakini Ahmadiyah yaitu “manusia seperti Isa”….jawaban ahmadiyah ini jawaban kepepet😀
    Silahkan anda tunjukkan ayatnya dalam Al-Qur’an ttg kedatangan manusia seperti isa pada akhir zaman.
    Apa anda mau menunjukkan ayat Ash-Shaff ayat 9 dan Al-Jumuah ayat 3…he..hee..hee…silahkan nanti anda jelaskan sekalian tuliskan tata bahasa arabnya penjelasan anda tsb. jangan lupa perkataan khalifah ente dlm tafsir resmi ahmadiyah mulai Ash-shaff ayat 6,7,8 dalam catatn kakinya. Begitupula silahkan anda lihat catatan kaki Surat Al-Jumuah ayat 3 dlm Tafsir Ahmadiyah.. klik saja link ini http://z8.invisionfree.com/islamic/index.php?showtopic=64
    Atau dengan ayat QS.43:57..😀 menggunakan ayat ini untuk menguatkan pendapat sama aja bunuh diri atau senjata makan tuan….coba aja kalau tidak percaya😀
    Sebelumnya anda lihat ayat yang selanjutnya QS.43:58, Isa perumpamaannya sebagai apa sudah tertulis dengan jelas pada ayat tsb.😀
    Ane saya mau tanya sama Kang Aden, Ghulam Ahmad mendakwakan apa saja kang ?😀
    ente kutip saja di bukunya M.A.Suryawan “Bukan sekedar Hitam Putih” dan Bukunya Ghulam Ahmad “Menghapus suatu kesalahpahaman (Ek Ghalati Ka Izala) yang sudah dialih bahasa oleh M.A.Surayawan. Ente lihat pada halaman 4, Mirza dipanggil apa dalam wahyunya ?😀
    Dipanggil Isa ataukah Muhammad ataukah Budha ataukah Musa ataukah Khonghu chu ataukah krishna ataukah Mesiodarbahmi, dll.😀
    Sangatlah anehlah kalau Ghulam Ahmad mendakwakan diri berbagai macam sedangkan hadits yang anda imani yang turun hanyalah Isa BIN MARYAM😀 ….mana nyambung antara Hadits ttg turunnya Isa yang ente imani dengan pendakwaan Ghulam Ahmad😀
    ———————————————————————-
    Quote Deden:
    Dalam konteks pemahaman ini maka menjadi tidak mengherankan apabila para sahabat memerangi Musailmah karena tentu saja para sahabat tahu persis bahwa selain “Isa” yang akan datang diakhir jaman, maka selebihnya adalah nabi2 palsu ….

    Jawab:
    he…hee…hee…Rasulullah justru mengatakan “tidak ada lagi nabi sesudahku” dan kata Rasulullah orang yang mendakwakan nabi adalah “Dajjal/pendusta”.
    Apa ente mau mengeluarkan doktrin ente bahwa dajjal adalah seperti negara eropa😀
    mana ada sebuah negara mendakwakan sebagai nabi…coba dipikir dengan logika ente yang super sangat sehat, masuk akal atau tidak doktrin ente tsb😀
    ———————————————–
    Quote Deden:
    Halnya Musaddeq mana ada sih nabi sungguhan bertobat

    Jawab:
    Pertobatan Mushaddeq masih simpang siur kang. Menurut salah satu tabloid “Realita” menyebutkan bahwa pertobatan Mushaddeq hanya untuk meredam kemarahan umat Islam. Tabloid tsb mendapatkan berita tsb berdasarkan SMS diantar pengikutnya.
    Mirip seperti surat pernyataan JAI bahwa Rasulullah adalah “Nabi Penutup”. Tujuannya juga untuk meredam kemarahan umat Islam😀
    ——————————————–
    Quote Muhammad rachmat:
    Sepertinya perlu adalah peringatan, seperti dilembar uang kertas ” BARANG SIAPA YANG MENGKU SEBAGAI NABI PALSU,DAN SENGAJA MENYIMPAN/MENYEMBUNYIKAN NABI PALSU MAKA BISA DIHUKUM” begitulah kira-kira

    JAWAB:
    Mana nyambung….😀
    ——————————————–
    Quote J & W:
    Kang Aden, mudah2an gak cape untuk terus menulis dan memberi informasi kepada orang yang ingin mencari tahu.

    JAWAB:
    Kang J&W, mudah-mudahan juga nggak capek terus menulis karena psortingan ente bisa dihitung dengan jari😀
    Kalau ente ingin mau mencari tahu sebuah kebenaran sebaiknya ente membaca dan mempelajari buku-buku non ahmadi agar tahu betapa sesatnya ahmadi. Jangan hanya buku “DOKTRIN” yang selalu dibaca😀
    ——————————————–
    Quote J & W:
    Kang Cabe Rawit, saya salut dengan kemauan anda utk mencari tahu, mudah2an ini bisa jadi tambahan ilmu,

    JAWAB:
    Apa ente mau membaca buku-buku selain doktrin Ahmadiyah Kang J&W….doktrin Ahmadiyah khan melarangnya membaca buku-buku non ahmadi😀
    ——————————————–
    Quote J & W:
    seperti pepatah carilah ilmu sampai ke negeri China.

    JAWAB:
    Nih bukti ente jarang membaca buku-buku selain karangan ahmadi😀
    Hadits Dhaif ente jadikan pegangan😀
    Makanya baca bukunya “Silsilah hadits-hadits Dha’if” karangan Al-Bani biar ente tidak sembarangan mengutip sebuah hadits yang tidak bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya. Berat hukumnya memfitnah Rasulullah kang. Kata Rasulullah yang berdusta atas namaku “NERAKA” tempatnya😀
    Ente tahu Hadits-Hadits yang dijadikan pegangan Ahmadiyah ada beberapa diketahui adalah Hadits Dha’if😀
    —————————————
    Quote J & W:
    Semoga Allah membuka hati dan pikiran untuk lebih terbuka menerima dan mencermatinya lebih dalam. Amiin.

    JAWAB:
    Kebalik Kang😀 perkataan ente tsb seperti pepatah “Menggarami air laut” atau “Mengajari Ikan berenang”😀 , mungkin ente yang seharusnya membuka hati dan pikiran untuk lebih terbuka menerima dan mencermatinya lebih dalam. Semoga Allah memberi petunjuk kepada ente.
    Coba anda baca link ini:
    http://z8.invisionfree.com/islamic/index.php?showtopic=59

    Bagaimana menurut ente ? Coba ente jelaskan, ane mau mendengar penjelasan dari mulut ente😀

  9. 11 rasyid March 24, 2008 at 9:57 am

    he…he…he..postingan ane didelete ya sama Kang Deden? Kenapa ente takut Ahmadi mengetahui sesatnya Ahmadiyah kang deden? ..😀 Kenapa ente menutupinya Kang Deden?😀 Sebenarnya tujuan ente itu mencari kebenaran atau mencari kesesatan Kang Deden ?😀

    Bagi Ahmadi yang mau tahu ttg Tadzkirah bisa dilihat disini:
    http://z8.invisionfree.com/islamic/index.php?showtopic=59

    Bagi Ahmadi yg mau tahu ttg Tafsir Resmi ahmadiyah bisa dilihat disini:
    http://z8.invisionfree.com/islamic/index.php?showtopic=64

    Menurut Ahmadiyah khaatama (QS.33:40) adalah “Isim”.
    Pertanyaannya untuk Kang Deden dan Ahmadi lainnya, “Isim” apakah kata Khaatama tsb ?😀
    Pertanyaan lainnya, sebutkan ciri-ciri dari “Isim” ?😀
    Pertanyaan lainnya, sebutkan mashdar dari kata “Khaatama” ?😀

    tolong jangan didelete ya postingan saya ini biar fair😀

    Menurut Ahmadiyah khaatama (QS.33:40) adalah “Isim”.
    Pertanyaannya untuk Kang Deden dan Ahmadi lainnya, “Isim” apakah kata Khaatama tsb ?😀
    Pertanyaan lainnya, sebutkan ciri-ciri dari “Isim” ?😀
    Pertanyaan lainnya, sebutkan mashdar dari kata “Khaatama” ?😀

    Bagi Ahmadi yang ingin tahu ttg diskusi antara non ahmadi dgn Ahmadi bisa dilihat disini:
    http://z8.invisionfree.com/islamic/index.php?s=bd8e302b8cb94b37fb1abc421ad2da36&showforum=7

  10. 12 wong March 24, 2008 at 10:02 am

    he…he…he..postingan ane didelete ya sama Kang Deden? Kenapa ente takut Ahmadi mengetahui sesatnya Ahmadiyah kang deden? ..😀 Kenapa ente menutupinya Kang Deden?😀 Sebenarnya tujuan ente itu mencari kebenaran atau mencari kesesatan Kang Deden ?😀

    Bagi Ahmadi yang mau tahu ttg Tadzkirah bisa dilihat disini:
    http://z8.invisionfree.com/islamic/index.php?showtopic=59

    Bagi Ahmadi yg mau tahu ttg Tafsir Resmi ahmadiyah bisa dilihat disini:
    http://z8.invisionfree.com/islamic/index.php?showtopic=64

    Menurut Ahmadiyah khaatama (QS.33:40) adalah “Isim”.
    Pertanyaannya untuk Kang Deden dan Ahmadi lainnya, “Isim” apakah kata Khaatama tsb ?😀
    Pertanyaan lainnya, sebutkan ciri-ciri dari “Isim” ?😀
    Pertanyaan lainnya, sebutkan mashdar dari kata “Khaatama” ?😀

    tolong jangan didelete ya postingan saya ini biar fair😀

    Menurut Ahmadiyah khaatama (QS.33:40) adalah “Isim”.
    Pertanyaannya untuk Kang Deden dan Ahmadi lainnya, “Isim” apakah kata Khaatama tsb ?😀
    Pertanyaan lainnya, sebutkan ciri-ciri dari “Isim” ?😀
    Pertanyaan lainnya, sebutkan mashdar dari kata “Khaatama” ?😀

    Bagi Ahmadi yang ingin tahu ttg diskusi antara non ahmadi dgn Ahmadi bisa dilihat disini:
    http://z8.invisionfree.com/islamic/index.php?s=bd8e302b8cb94b37fb1abc421ad2da36&showforum=7

  11. 13 wong March 24, 2008 at 10:10 am

    Quote Deden:
    Sebelumnya mohon maaf berhubung saya tidak menguasai tata bahasa arab jadi sangat tidak berkompeten untuk menyetujui atau menolak apa yang akang kemukakan

    JAWAB:
    Kalau gitu tahu dirilah kalau ente mengaku tidak menguasai ilmunya 😀
    ————————————-

    Quote Deden:

    Bagi orang awan seperti saya didalam memahami sesuatu hal tidak ada pilihan lain selain memahami hal itu sesuai dengan apa yang masuk logika dan nalar secara sederhana tanpa harus repot2 mengingat dan menimbang ini dan itu.
    Dalam logika saya suatu kata yang sama pasti akan mempunyai arti yang sama bilapun atau kepada siapapun kata itu digunakan/ditujukan. Begitu juga dalam hal ini kata khatam mau kepada nabi, kepada masyarakat umum atau kepada siapapun mestinya mempunyai arti yang sama pula.
    Dalam fakta dilapangan –seperti apa yang saya singgung dalam tulisan– penggunaan kata itu selalu bermakna “terakhir dalam bentuk kesempurnaan” lalu kenapa pula bila dikenakan kepada Rasulullah saw kok harus menjadi “terakhir dalam bentuk segalanya” ?

    JAWAB:
    Aneh…mengaku tidak menguasai tata bahasa arab tetapi dengan pedenya mengartikan “khaatama annabiyyin” dengan “terakhir dalam bentuk kesempurnaan”…jadi binun😀
    ————————————————-

    Quote Deden:
    seperti ini:
    ………………….Dari perkataan khaataman-Nabiyyina yang mereka artikan penutup nabi-nabi, maka mereka beranggapan tidak akan ada lagi nabi sesudah Nabi Muhammad saw.. Mereka mengartikan khaatamun dalam rangkaian kalimat khaataman-Nabiyyina sama dengan arti kata khatam dalam rangkaian kalimat khatamallahu ‘ala qulubihim (QS Al Baqarah ayat delapan). Mereka lupa, bahwa khaatamun [ditulis: kha-alif-ta-mim] termasuk isim, yakni kata benda; sedangkan khatama [ditulis: kha-ta-mim] termasuk fi’il madhi, yakni kata kerja untuk masa yang sudah lalu. Jadi tentu saja kedua kata itu tidak sama artinya.

    JAWAB:

    Mashdar “khaatama” yg tertulis dlm surat Al-Ahzab 40 itu apa kang deden??????
    Aneh kalau ente mengatakan itu beda sedangkan Mashdar “khaatama” saja tidak tahu😀
    ————————————————————————–
    Quote Deden:
    Di dalam Kamus Arab Malajoe jilid I terbitan Balai Poestaka tahun 1925 halaman 177 tertulis:
    Khatamallahu ’ala qalbihi = Allah Ta’ala menjadikan hatinya tertutup.
    Alkhaatamu = tjap; tjintjin tjap.
    Di dalam Kamus Arab-Indonesia Prof. H. Mahmud Yunus keluaran Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Alquran Jakarta tahun 1973 halaman 114 tertulis:
    Khatama yakhtimu-khatman = mentjap, menutup, menamatkan.
    Khaatamun – khaatim j.: khawatim = tjintjin, stempel, tjap.
    Di dalam Munjid: 106 tertulis arti khaatamun itu: ”Halyun l-lil ushbu’i ma’araffun m- ma yukhtamu bihi”
    Yang artinya: Perhiasan pada jari, yang menjadi hiasan bagi pemakainya. Yang apa-apa dicap dengannya. (Dicap, maksudnya disahkan, umpamanya surat, Pen.).

    JAWAB:

    he…hee…heee…perkataan manusia dipakai untuk menterjemahkan Al-Qur’an.
    Kang Deden, Sesungguhnya jalan terbaik dalam ilmu tafsir adalah Al-Quran ditafsirkan dengan ayat. Yang mujmal dalam satu ayat maka akan diperinci dalam ayat lain.
    Maka dari itu ente harus tahu dulu mashdar dari kata “KHAATAMA”😀 sudah tahukah anda mashdarnya😀
    Sudah baca atau belum tafsir resmi Ahmadiyah berbahasa Indonesia yang dikarang oleh Khalifah ente “Bashiruddin Mahmud Ahmad”….sudah atau belum?????
    Kalau belum baca saya kasih linknya
    http://z8.invisionfree.com/islamic/index.php?showtopic=64

    sudah dibaca ya…
    Khalifah ente saja mengartikan khaatama dlm surat Al-Ahzab salah satunya “NABI TERAKHIR”.
    dan pada akhir kesimpulannya mengatakan “NABI TERAKHIR YANG MEMBAWA SYARIAT”.
    KENAPA ENTE MENYEMBUNYIKAN PENDAPAT KHALIFAH ENTE INI…😀
    Aneh…kok tidak kompak sih perkataan anda dengan perkataan khalifah ente😀
    Apa ente mau mengingkari perkataan khalifah ente dalam tafsir tsb. Saya mau tanya hukumnya apa kalau seorang ahmadi mengingkari perkataan khalifahnya ?😀
    ente seharusnya bersikap fair dlm menjelaskan akidah ente….apapun pahitnya walaupun pahit betul😀 seharusnya ente harus berkata jujur. Untuk apa ente membuat blog ini sedangkan tujuan ente hanya menutupi-nutupi keyakinan ente.
    BTW menurut khalifah ente “Nabiyyin” diartikan dengan Nabi yang membawa syariat” (bersifat khusus)…tolong tunjukkan keterangannya dlm surat Al-Ahzab 40 tsb ada menyebutkan “yang membawa syariat”… kepepet ni yeee😀
    Dalam Tafsir Resmi tsb diartikan bahwa Rasulullah adalah “METERAI PARA NABI”….Naudzubillahi Min Dzalik…Rasulullah disamakan dengan benda yang bernama “Meterai”…orang-orang yang mengartikan Rasulullah adalah “materai para nabi” pantas untuk mendapatkan Adzab dan Laknat Allah.

    Saya kutip lagi perkataan ente kang deden:
    Khatamallahu ’ala qalbihi = Allah Ta’ala menjadikan hatinya tertutup.
    Khatama yakhtimu-khatman = mentjap, menutup, menamatkan.

    coba anda bandingkan pendapat anda dgn pendapat khalifah ente : http://z8.invisionfree.com/islamic/index.php?showtopic=64
    Aneh…kok tidak kompak sih perkataan anda dengan perkataan khalifah ente😀
    HE…HE…HEEEE…DUSTA LAGI😀
    ——————————————————————-
    Quote Deden:
    Di dalam Bukhari j. 4: 25 tertulis:
    Innahum la yaqbaluna kitaban illa ’alayhi khatamun, fattakhadzannabiyyu saw. khaataman-m-min fidhdhatin-n-naqtsuhu muhammadun-r-rasulullah.
    Sesungguhnya mereka tidak mau menerima surat (kiriman Rasulullah), kecuali bila berstempel; lalu Rasulullah mengambil cap yang terbuat dari perak yang berukir dengan kalimat ”Muhamaddun-r-Rasulullah.
    Dari keterangan yang tertulis di dalam Bukhari inipun jelas bahwa khaatamun itu artinya cap atau stempel. Bukan penutup. Maka berdasarkan berbagai keterangan seperti yang telah dikemukakan tadi, kalimat Khaatamannabiyyina itu agaknya lebih benar bila diartikan “cap (stempel) nabi-nabi”, atau “perhiasan nabi-nabi”, dari pada diartikan penutup nabi-nabi. Cap atau Stempel berfungsi untuk menunjukkan absahnya sesuatu surat yang bersifat kedinasan. Surat dinas yang tidak berstempel dianggap tidak sah. Rasulullah saw. pun beliau berfungsi mengabsahkan Rasul-rasul Allah sebelum beliau saw.; beberapa orang Rasul dianggap bernoda oleh umat terdahulu, malah ada yang tidak diakui sebagai Rasul Allah. Umpamanya: Nabi Nuh a.s. dituduh mabok-mabokan hingga tak sadar beliau bertelanjang. (Torat Kitab Kejadian 9: 20-27). Nabi Luth a.s. dituduh meniduri kedua orang putrinya, hingga kedua putrinya itu hamil. (Torat Kitab Kejadian 19: 30-38). Nabi Daud a.s. dituduh meniduri isteri Uria, malah lalu memerintahkan supaya Uria ditempatkan di barisan paling depan di medan perang, supaya terbunuh, yang selanjutnya isterinya diambil oleh Nabi Daud a.s. dijadikan isterinya. Nabi Isa a.s. dituduh anak zina, anak haram, oleh umat Yahudi. Na’udzubillahimindzalik. Dan kemudian Rasulullah saw. datang, mengabsahkan, bahwa semua Nabi-Nabi itu maksum, bersih dari segala ke’aiban dan suci dari dosa. Dan Nabi Isa a.s. benar Nabi, Rasul Allah (19: 31-34). Oleh karena itu, maka sebutan Khaataman nabiyyina samasekali tidak berarti menutup pintu untuk terus berlangsungnya Allah Swt. mengutus Rasul-Rasul ke dunia sesudah Rasulullah saw., melainkan, dalam kaitan ini, mengabsahkan kebenaran Rasul-Rasul.
    ………………dst
    (kalau masih berkenan untuk membaca naskah ini secara utuh silahkan dilanjut dengan mengklik disini dan cari subjudul 4b. Masalah Kenabian
    begitu mungkin kang ceritanya…kenapa warga Ahmadiyah memiliki pemahaman seperti itu!

    JAWAB:
    coba ente teliti hadits bukhari tsb. Sama atau tidak wazannya dengan yang tertulis dlm Al-Quran😀

    Dlm Al-Qur’an tertulis “KHAATAMA” dan dlm Hadits tertulis “KHATAAMAN”.
    Ente tahu tidak ciri-ciri dari “ISIM”….sangatlah aneh ente mengatakan “KHAATAMA” adalah “Isim” sedangkan ente tidak tahu ciri-ciri dari isim.😀 Kelihatannya ente tidak begitu mengerti wazan yang tertulis dlm QS.33:40 sehingga ente yang tidak tahu ilmunya menyamakannya dengan yang tertulis dlm hadits bukhari😀
    ——————————————————————
    Quote Deden:
    Oleh karena itu, maka sebutan Khaataman nabiyyina samasekali tidak berarti menutup pintu untuk terus berlangsungnya Allah Swt. mengutus Rasul-Rasul ke dunia sesudah Rasulullah saw., melainkan, dalam kaitan ini, mengabsahkan kebenaran Rasul-Rasul.
    ………………dst

    JAWAB:
    haa…haaa..haa…Jadi sebegitu lamanya nabi-nabi yang datang sebelum Nabi Muhammad SAW belum absah dan harus menunggu kedatangan Rasulullah SAW terlebih dahulu baru mereka absah….ingat lho kalimatnya Rasulullah adalah “Khaatama Annabiyyin”.. haa…haa…haaa logika yang konyol sekali😀 lucu banget logika ente….begitu konyol. Yang mengutus Rasul-Rasul dan Muhammad SAW itu siapa kang kalau bukan Allah? Jadi aneh kalau ente mengatakan bahwa Rasulullah mengabsahkan kebenaran Rasul-Rasul. Apa Ahmadi semua logikanya sama seperti ente. Wajar aja kalau para ahmadi tersesat😀
    Diawal-awal ente katenye akan menggunakan logika dan nalar ente. Faktanya logika dan ente konyol begini😀
    —————————————————————-

    Quote Deden:
    1.Menurut yang saya baca “bahwa perkataan khatam bila di idhafatkan dibelakang perkataan jamak (Al-mufassirin, al-muhajirin. Asy syuara, al-fuqaha, al-aulia dll) maka tidak ada makna lain selain afdal/yang paling tinggi.

    JAWAB:
    “Idhafat” itu apa sih kang deden ?😀 pengertian paling afdhal itu khan menurut Ahmadiyah. Ente jangan samakan antara perkataan “Allah” dengan perkataan “Manusia”😀
    Kalau menurut ente khaatama Annabiyyin bisa diidhafatkan, tolong sebutkan “khaatama” itu Isim apa? dan Nabiyyin itu Isim apa ?😀 sehingga Khaatama Annabiyyin bisa diidhafatkan. Menurut kang deden kata mana yg disebut mudhaf dan mudhaf ilaih.😀
    Kang Deden, Gelar yang diberikan kepada Rasulullah “khaatama Annabiyyin” tidak bisa disamakan dengan gelar yang diberikan kepada Manusia. Gelar yang yang diberikan kepada Rasulullah sifatnya tidak terbatas sampai kiamat sedangkan gelar yang diberikan kepada manusia sifatnya terbatas selama tidak ada yang melebihi. Dan tidak ada sekitpun orang yang memberikan gelar kepada manusia menyamakannya dengan gelar yang diterima oleh Rasulullah SAW😀
    Banyak-banyaklah ente belajar Al-Qur’an jangan lupa belajar juga tata bahasa arab😀
    ——————————————————————
    Quote Deden:
    al-muhajirin

    JAWAB:
    coba ente sebutkan haditsnya yg lengkap😀
    Hadits al-muhajirin yg tertulis dibuku-buku ahmadiyah ada yang tertulis bukan sebenarnya alias berbohong (tertulis “Wahai Umar”). Yang benar bunyi haditsnya bisa anda kutip di bukunya M.A Suryawan “Bukan sekedar hitam putih” yaitu “Wahai Paman”.😀
    Beginikah cara-cara licik Ahmadiyah mendustakan sebuah hadits dgn tujuan tertentu demi keuntungan Alirannya😀
    Kang deden, Dalam sejarahnya memang paman nabi adalah orang yang terkahir berhijrah😀

    Quote Deden:
    al-aulia

    JAWAB:
    hii…hiii…hiii…Hadits Dha’if dijadikan pegangan😀
    ente bisa lihat penjelasan hadits tsb di link ini :
    http://z8.invisionfree.com/islamic/index.php?showtopic=13
    —————————————————————————-
    Quote Deden:
    2.Bila dihubungkan dengan ayat2 Al-Qur’an yang mengisyaratkan bahwa bisa saja seorang nabi setelah Rasulullah saw datang,(contoh annisa:69) maka dalam pengertian saya tentulah Hadits2 nabi berkenaan dengan tidak adanya kenabian setelah beliau itupun ada dalam batasan ayat 2 Al-Qur’an tersebut. Karena tentu tidak bisa dipungkiri bahwasanya kedudukan Al-Qur’an itu lebih tinggi dari Al-Hadits. Haditslah yang merupakan penjabaran dari Al-Qur’an dan bukan sebaliknya.

    JAWAB:
    Surat Annisa 69 linknya sudah diberikan oleh Kang Anang di forum ini “soal Ahmadiyah”. Saya rasa penjelasan yg terulis dalam link tb ttg Annisa 69 sudah jelas dan tidak ada sedikitpun pengertiannya sesuai yang diinginkan Ahmadiyah.
    Dalam Al-Qur’an disebutkan “Allah bersama(Ma’a) orang-orang yang sabar”.
    Sangatlah bodoh kalau kata “Ma’a” diartikan “menjadi”.
    Coba kita tuliskan sesuai yang diinginkan Ahmadiyah. “Allah menjadi orang-orang yang sabar”. Apakah mungkin mungkin Allah menjadi manusia…Naudzubillahi min Dzalik.
    Begitu pula arti “MIN” tidak bisa disamakan dgn arti “Ma’a”.
    Dalam tatabahasa arab kata “Min” disebut juga “harfu jarin” atau “Harf jar”.
    ——————————————————————–
    Quote Deden:
    Keterangan2 mana menjadikan sebagian ummat Islam –paling tidak warga Ahmadiyah– menyimpulkan/metafsirkan/mempercayai bahwa yg dimaksud Rasulullah saw tidak akan ada nabi itu adalah kenabian yang akan membatalkan syariat Beliau saw, sedangkan kenabian yang akan berfungsi sebagaimana hal nya Isa dulu yang dikirim untuk membenahi ummat Yahudi supaya kembali kepada ajaran Musa yang haq, maka “Isa” yang dijanjikan Rasulullah saw akan datangpun adalah seseorang yang akan menjalankan fungsi Isa dan bukan orang yang bernama Isa nabinya bani Israil, datang kemudian dari ummat beliau dan bertugas untuk memurnikan kembali Islam dari segala bentuk campur baur dengan ajaran yang bukan dari Islam sehingga kembali bentuknya pada bentuk yang diajarkan dan dibawa oleh Rasulullah saw. Maka tentu saja “Isa” nya Muhammad ini tidak akan mengajarkan hal2 yang bertentangan dengan apa yang telah diajarkan Rasulullah saw sebagaimana halnya Musailmah ataupun Ahmad Musadeq.

    JAWAB:
    Percuma ngomong banyak-banyak tapi ente tidak ada menuliskan buktinya…surat berapa dan ayat berapa gitu kek untuk menguatkan perkataan anda. Jawaban anda baru sebatas bualan😀
    Menurut Allah dalam firmannya:
    QS.5:44,”Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir”.
    QS.5:45,”Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim”.
    QS.5:47,”Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik”.
    Ente hanya menuruti hawa nafsu ente semata😀
    ———————————————
    Quote:
    Jadi bahwasanya ada Hadits2 tentang tidak ada nabi setelah Beliaw saw –dimana Ahmadiyah termasuk yang mempercayai Hadits2 tersebut– maka tentulah yang dimaksud Rasulullah saw itu bukanlah sembarang nabi karena beliaupun menubuwatkan pula tentang kedatangan “Isa” diakhir jaman.

    JAWAB:
    Aneh…Ahmadiyah mengatakan Isa telah wafat tetapi mengatakan pula Isa akan turun😀
    Dalam hadits yang anda imani ada keterangan “BIN MARYAM”….ini bukanlah kiasan, metafora ataupun majaz seperti yang diyakini Ahmadiyah yaitu “manusia seperti Isa”….jawaban ahmadiyah ini jawaban kepepet😀
    Silahkan anda tunjukkan ayatnya dalam Al-Qur’an ttg kedatangan manusia seperti isa pada akhir zaman.
    Apa anda mau menunjukkan ayat Ash-Shaff ayat 9 dan Al-Jumuah ayat 3…he..hee..hee…silahkan nanti anda jelaskan sekalian tuliskan tata bahasa arabnya penjelasan anda tsb. jangan lupa perkataan khalifah ente dlm tafsir resmi ahmadiyah mulai Ash-shaff ayat 6,7,8 dalam catatn kakinya. Begitupula silahkan anda lihat catatan kaki Surat Al-Jumuah ayat 3 dlm Tafsir Ahmadiyah.. klik saja link ini http://z8.invisionfree.com/islamic/index.php?showtopic=64
    Atau dengan ayat QS.43:57..😀 menggunakan ayat ini untuk menguatkan pendapat sama aja bunuh diri atau senjata makan tuan….coba aja kalau tidak percaya😀
    Sebelumnya anda lihat ayat yang selanjutnya QS.43:58, Isa perumpamaannya sebagai apa sudah tertulis dengan jelas pada ayat tsb.😀
    Ane saya mau tanya sama Kang Aden, Ghulam Ahmad mendakwakan apa saja kang ?😀
    ente kutip saja di bukunya M.A.Suryawan “Bukan sekedar Hitam Putih” dan Bukunya Ghulam Ahmad “Menghapus suatu kesalahpahaman (Ek Ghalati Ka Izala) yang sudah dialih bahasa oleh M.A.Surayawan. Ente lihat pada halaman 4, Mirza dipanggil apa dalam wahyunya ?😀
    Dipanggil Isa ataukah Muhammad ataukah Budha ataukah Musa ataukah Khonghu chu ataukah krishna ataukah Mesiodarbahmi, dll.😀
    Sangatlah anehlah kalau Ghulam Ahmad mendakwakan diri berbagai macam sedangkan hadits yang anda imani yang turun hanyalah Isa BIN MARYAM😀 ….mana nyambung antara Hadits ttg turunnya Isa yang ente imani dengan pendakwaan Ghulam Ahmad😀
    ———————————————————————-
    Quote Deden:
    Dalam konteks pemahaman ini maka menjadi tidak mengherankan apabila para sahabat memerangi Musailmah karena tentu saja para sahabat tahu persis bahwa selain “Isa” yang akan datang diakhir jaman, maka selebihnya adalah nabi2 palsu ….

    Jawab:
    he…hee…hee…Rasulullah justru mengatakan “tidak ada lagi nabi sesudahku” dan kata Rasulullah orang yang mendakwakan nabi adalah “Dajjal/pendusta”.
    Apa ente mau mengeluarkan doktrin ente bahwa dajjal adalah seperti negara eropa😀
    mana ada sebuah negara mendakwakan sebagai nabi…coba dipikir dengan logika ente yang super sangat sehat, masuk akal atau tidak doktrin ente tsb😀
    ———————————————–
    Quote Deden:
    Halnya Musaddeq mana ada sih nabi sungguhan bertobat

    Jawab:
    Pertobatan Mushaddeq masih simpang siur kang. Menurut salah satu tabloid “Realita” menyebutkan bahwa pertobatan Mushaddeq hanya untuk meredam kemarahan umat Islam. Tabloid tsb mendapatkan berita tsb berdasarkan SMS diantar pengikutnya.
    Mirip seperti surat pernyataan JAI bahwa Rasulullah adalah “Nabi Penutup”. Tujuannya juga untuk meredam kemarahan umat Islam😀
    ——————————————–
    Quote Muhammad rachmat:
    Sepertinya perlu adalah peringatan, seperti dilembar uang kertas ” BARANG SIAPA YANG MENGKU SEBAGAI NABI PALSU,DAN SENGAJA MENYIMPAN/MENYEMBUNYIKAN NABI PALSU MAKA BISA DIHUKUM” begitulah kira-kira

    JAWAB:
    Mana nyambung….😀
    ——————————————–
    Quote J & W:
    Kang Aden, mudah2an gak cape untuk terus menulis dan memberi informasi kepada orang yang ingin mencari tahu.

    JAWAB:
    Kang J&W, mudah-mudahan juga nggak capek terus menulis karena psortingan ente bisa dihitung dengan jari😀
    Kalau ente ingin mau mencari tahu sebuah kebenaran sebaiknya ente membaca dan mempelajari buku-buku non ahmadi agar tahu betapa sesatnya ahmadi. Jangan hanya buku “DOKTRIN” yang selalu dibaca😀
    ——————————————–
    Quote J & W:
    Kang Cabe Rawit, saya salut dengan kemauan anda utk mencari tahu, mudah2an ini bisa jadi tambahan ilmu,

    JAWAB:
    Apa ente mau membaca buku-buku selain doktrin Ahmadiyah Kang J&W….doktrin Ahmadiyah khan melarangnya membaca buku-buku non ahmadi😀
    ——————————————–
    Quote J & W:
    seperti pepatah carilah ilmu sampai ke negeri China.

    JAWAB:
    Nih bukti ente jarang membaca buku-buku selain karangan ahmadi😀
    Hadits Dhaif ente jadikan pegangan😀
    Makanya baca bukunya “Silsilah hadits-hadits Dha’if” karangan Al-Bani biar ente tidak sembarangan mengutip sebuah hadits yang tidak bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya. Berat hukumnya memfitnah Rasulullah kang. Kata Rasulullah yang berdusta atas namaku “NERAKA” tempatnya😀
    Ente tahu Hadits-Hadits yang dijadikan pegangan Ahmadiyah ada beberapa diketahui adalah Hadits Dha’if😀
    —————————————
    Quote J & W:
    Semoga Allah membuka hati dan pikiran untuk lebih terbuka menerima dan mencermatinya lebih dalam. Amiin.

    JAWAB:
    Kebalik Kang😀 perkataan ente tsb seperti pepatah “Menggarami air laut” atau “Mengajari Ikan berenang”😀 , mungkin ente yang seharusnya membuka hati dan pikiran untuk lebih terbuka menerima dan mencermatinya lebih dalam. Semoga Allah memberi petunjuk kepada ente.
    Coba anda baca link ini:
    http://z8.invisionfree.com/islamic/index.php?showtopic=59

    Bagaimana menurut ente ? Coba ente jelaskan, ane mau mendengar penjelasan dari mulut ente😀

  12. 14 wong March 24, 2008 at 10:11 am

    Adminnya kurang fair postingan ane didelete😀

  13. 15 Wong March 24, 2008 at 12:26 pm

    Kenapa postingan saya didelete Pak.Admin😀
    Kalau anda belum siap untuk diskusi untuk apa membuat blog ini😀
    Kenapa mesti takut terbongkar kesesatan Ahmadiyah😀
    Tujuan ente menjadi jemaat Ahmadiyah untuk mencari kebenaran atau mencari kesesatan Kang Deden😀

  14. 16 wong March 25, 2008 at 1:35 am

    Terima kasih Pak Admin/Kang Deden, postingan ane dikembalikan seperti semula.
    Terimalah dengan lapang dada meskipun dirasakan pahit dihati anda.

  15. 18 wong March 25, 2008 at 1:55 am

    ini juga bacaan untuk mengisi waktu luang anda http://media.isnet.org/v01/islam/Ahmadiyyah/

  16. 19 ardi March 25, 2008 at 4:26 am

    kenapa postingan ane didelete kembali kang deden/admin😀
    Ente ternyata belum siap menerima suatu kebenaran dan masih tetap menginginkan jalan yang sesat😀

    @den
    maksudnya postingan yg mana boss❓

  17. 20 ardi March 25, 2008 at 4:38 am

    Quote Deden:
    Sebelumnya mohon maaf berhubung saya tidak menguasai tata bahasa arab jadi sangat tidak berkompeten untuk menyetujui atau menolak apa yang akang kemukakan

    JAWAB:
    Kalau gitu tahu dirilah kalau ente mengaku tidak menguasai ilmunya 😀
    ————————————-

    Quote Deden:

    Bagi orang awan seperti saya didalam memahami sesuatu hal tidak ada pilihan lain selain memahami hal itu sesuai dengan apa yang masuk logika dan nalar secara sederhana tanpa harus repot2 mengingat dan menimbang ini dan itu.
    Dalam logika saya suatu kata yang sama pasti akan mempunyai arti yang sama bilapun atau kepada siapapun kata itu digunakan/ditujukan. Begitu juga dalam hal ini kata khatam mau kepada nabi, kepada masyarakat umum atau kepada siapapun mestinya mempunyai arti yang sama pula.
    Dalam fakta dilapangan –seperti apa yang saya singgung dalam tulisan– penggunaan kata itu selalu bermakna “terakhir dalam bentuk kesempurnaan” lalu kenapa pula bila dikenakan kepada Rasulullah saw kok harus menjadi “terakhir dalam bentuk segalanya” ?

    JAWAB:
    Aneh…mengaku tidak menguasai tata bahasa arab tetapi dengan pedenya mengartikan “khaatama annabiyyin” dengan “terakhir dalam bentuk kesempurnaan”…jadi binun😀
    ————————————————-

    Quote Deden:
    seperti ini:
    ………………….Dari perkataan khaataman-Nabiyyina yang mereka artikan penutup nabi-nabi, maka mereka beranggapan tidak akan ada lagi nabi sesudah Nabi Muhammad saw.. Mereka mengartikan khaatamun dalam rangkaian kalimat khaataman-Nabiyyina sama dengan arti kata khatam dalam rangkaian kalimat khatamallahu ‘ala qulubihim (QS Al Baqarah ayat delapan). Mereka lupa, bahwa khaatamun [ditulis: kha-alif-ta-mim] termasuk isim, yakni kata benda; sedangkan khatama [ditulis: kha-ta-mim] termasuk fi’il madhi, yakni kata kerja untuk masa yang sudah lalu. Jadi tentu saja kedua kata itu tidak sama artinya.

    JAWAB:

    Mashdar “khaatama” yg tertulis dlm surat Al-Ahzab 40 itu apa kang deden??????
    Aneh kalau ente mengatakan itu beda sedangkan Mashdar “khaatama” saja tidak tahu😀
    ————————————————————————–
    Quote Deden:
    Di dalam Kamus Arab Malajoe jilid I terbitan Balai Poestaka tahun 1925 halaman 177 tertulis:
    Khatamallahu ’ala qalbihi = Allah Ta’ala menjadikan hatinya tertutup.
    Alkhaatamu = tjap; tjintjin tjap.
    Di dalam Kamus Arab-Indonesia Prof. H. Mahmud Yunus keluaran Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Alquran Jakarta tahun 1973 halaman 114 tertulis:
    Khatama yakhtimu-khatman = mentjap, menutup, menamatkan.
    Khaatamun – khaatim j.: khawatim = tjintjin, stempel, tjap.
    Di dalam Munjid: 106 tertulis arti khaatamun itu: ”Halyun l-lil ushbu’i ma’araffun m- ma yukhtamu bihi”
    Yang artinya: Perhiasan pada jari, yang menjadi hiasan bagi pemakainya. Yang apa-apa dicap dengannya. (Dicap, maksudnya disahkan, umpamanya surat, Pen.).

    JAWAB:

    he…hee…heee…perkataan manusia dipakai untuk menterjemahkan Al-Qur’an.
    Kang Deden, Sesungguhnya jalan terbaik dalam ilmu tafsir adalah Al-Quran ditafsirkan dengan ayat. Yang mujmal dalam satu ayat maka akan diperinci dalam ayat lain.
    Maka dari itu ente harus tahu dulu mashdar dari kata “KHAATAMA”😀 sudah tahukah anda mashdarnya😀
    Sudah baca atau belum tafsir resmi Ahmadiyah berbahasa Indonesia yang dikarang oleh Khalifah ente “Bashiruddin Mahmud Ahmad”….sudah atau belum?????
    Kalau belum baca saya kasih linknya
    http://z8.invisionfree.com/islamic/index.php?showtopic=64

    sudah dibaca ya…
    Khalifah ente saja mengartikan khaatama dlm surat Al-Ahzab salah satunya “NABI TERAKHIR”.
    dan pada akhir kesimpulannya mengatakan “NABI TERAKHIR YANG MEMBAWA SYARIAT”.
    KENAPA ENTE MENYEMBUNYIKAN PENDAPAT KHALIFAH ENTE INI…😀
    Aneh…kok tidak kompak sih perkataan anda dengan perkataan khalifah ente😀
    Apa ente mau mengingkari perkataan khalifah ente dalam tafsir tsb. Saya mau tanya hukumnya apa kalau seorang ahmadi mengingkari perkataan khalifahnya ?😀
    ente seharusnya bersikap fair dlm menjelaskan akidah ente….apapun pahitnya walaupun pahit betul😀 seharusnya ente harus berkata jujur. Untuk apa ente membuat blog ini sedangkan tujuan ente hanya menutupi-nutupi keyakinan ente.
    BTW menurut khalifah ente “Nabiyyin” diartikan dengan Nabi yang membawa syariat” (bersifat khusus)…tolong tunjukkan keterangannya dlm surat Al-Ahzab 40 tsb ada menyebutkan “yang membawa syariat”… kepepet ni yeee😀
    Dalam Tafsir Resmi tsb diartikan bahwa Rasulullah adalah “METERAI PARA NABI”….Naudzubillahi Min Dzalik…Rasulullah disamakan dengan benda yang bernama “Meterai”…orang-orang yang mengartikan Rasulullah adalah “materai para nabi” pantas untuk mendapatkan Adzab dan Laknat Allah.

    Saya kutip lagi perkataan ente kang deden:
    Khatamallahu ’ala qalbihi = Allah Ta’ala menjadikan hatinya tertutup.
    Khatama yakhtimu-khatman = mentjap, menutup, menamatkan.

    coba anda bandingkan pendapat anda dgn pendapat khalifah ente : http://z8.invisionfree.com/islamic/index.php?showtopic=64
    Aneh…kok tidak kompak sih perkataan anda dengan perkataan khalifah ente😀
    HE…HE…HEEEE…DUSTA LAGI😀
    ——————————————————————-
    Quote Deden:
    Di dalam Bukhari j. 4: 25 tertulis:
    Innahum la yaqbaluna kitaban illa ’alayhi khatamun, fattakhadzannabiyyu saw. khaataman-m-min fidhdhatin-n-naqtsuhu muhammadun-r-rasulullah.
    Sesungguhnya mereka tidak mau menerima surat (kiriman Rasulullah), kecuali bila berstempel; lalu Rasulullah mengambil cap yang terbuat dari perak yang berukir dengan kalimat ”Muhamaddun-r-Rasulullah.
    Dari keterangan yang tertulis di dalam Bukhari inipun jelas bahwa khaatamun itu artinya cap atau stempel. Bukan penutup. Maka berdasarkan berbagai keterangan seperti yang telah dikemukakan tadi, kalimat Khaatamannabiyyina itu agaknya lebih benar bila diartikan “cap (stempel) nabi-nabi”, atau “perhiasan nabi-nabi”, dari pada diartikan penutup nabi-nabi. Cap atau Stempel berfungsi untuk menunjukkan absahnya sesuatu surat yang bersifat kedinasan. Surat dinas yang tidak berstempel dianggap tidak sah. Rasulullah saw. pun beliau berfungsi mengabsahkan Rasul-rasul Allah sebelum beliau saw.; beberapa orang Rasul dianggap bernoda oleh umat terdahulu, malah ada yang tidak diakui sebagai Rasul Allah. Umpamanya: Nabi Nuh a.s. dituduh mabok-mabokan hingga tak sadar beliau bertelanjang. (Torat Kitab Kejadian 9: 20-27). Nabi Luth a.s. dituduh meniduri kedua orang putrinya, hingga kedua putrinya itu hamil. (Torat Kitab Kejadian 19: 30-38). Nabi Daud a.s. dituduh meniduri isteri Uria, malah lalu memerintahkan supaya Uria ditempatkan di barisan paling depan di medan perang, supaya terbunuh, yang selanjutnya isterinya diambil oleh Nabi Daud a.s. dijadikan isterinya. Nabi Isa a.s. dituduh anak zina, anak haram, oleh umat Yahudi. Na’udzubillahimindzalik. Dan kemudian Rasulullah saw. datang, mengabsahkan, bahwa semua Nabi-Nabi itu maksum, bersih dari segala ke’aiban dan suci dari dosa. Dan Nabi Isa a.s. benar Nabi, Rasul Allah (19: 31-34). Oleh karena itu, maka sebutan Khaataman nabiyyina samasekali tidak berarti menutup pintu untuk terus berlangsungnya Allah Swt. mengutus Rasul-Rasul ke dunia sesudah Rasulullah saw., melainkan, dalam kaitan ini, mengabsahkan kebenaran Rasul-Rasul.
    ………………dst
    (kalau masih berkenan untuk membaca naskah ini secara utuh silahkan dilanjut dengan mengklik disini dan cari subjudul 4b. Masalah Kenabian
    begitu mungkin kang ceritanya…kenapa warga Ahmadiyah memiliki pemahaman seperti itu!

    JAWAB:
    coba ente teliti hadits bukhari tsb. Sama atau tidak wazannya dengan yang tertulis dlm Al-Quran😀

    Dlm Al-Qur’an tertulis “KHAATAMA” dan dlm Hadits tertulis “KHATAAMAN”.
    Ente tahu tidak ciri-ciri dari “ISIM”….sangatlah aneh ente mengatakan “KHAATAMA” adalah “Isim” sedangkan ente tidak tahu ciri-ciri dari isim.😀 Kelihatannya ente tidak begitu mengerti wazan yang tertulis dlm QS.33:40 sehingga ente yang tidak tahu ilmunya menyamakannya dengan yang tertulis dlm hadits bukhari😀
    ——————————————————————
    Quote Deden:
    Oleh karena itu, maka sebutan Khaataman nabiyyina samasekali tidak berarti menutup pintu untuk terus berlangsungnya Allah Swt. mengutus Rasul-Rasul ke dunia sesudah Rasulullah saw., melainkan, dalam kaitan ini, mengabsahkan kebenaran Rasul-Rasul.
    ………………dst

    JAWAB:
    haa…haaa..haa…Jadi sebegitu lamanya nabi-nabi yang datang sebelum Nabi Muhammad SAW belum absah dan harus menunggu kedatangan Rasulullah SAW terlebih dahulu baru mereka absah….ingat lho kalimatnya Rasulullah adalah “Khaatama Annabiyyin”.. haa…haa…haaa logika yang konyol sekali😀 lucu banget logika ente….begitu konyol. Yang mengutus Rasul-Rasul dan Muhammad SAW itu siapa kang kalau bukan Allah? Jadi aneh kalau ente mengatakan bahwa Rasulullah mengabsahkan kebenaran Rasul-Rasul. Apa Ahmadi semua logikanya sama seperti ente. Wajar aja kalau para ahmadi tersesat😀
    Diawal-awal ente katenye akan menggunakan logika dan nalar ente. Faktanya logika dan ente konyol begini😀
    —————————————————————-

    Quote Deden:
    1.Menurut yang saya baca “bahwa perkataan khatam bila di idhafatkan dibelakang perkataan jamak (Al-mufassirin, al-muhajirin. Asy syuara, al-fuqaha, al-aulia dll) maka tidak ada makna lain selain afdal/yang paling tinggi.

    JAWAB:
    “Idhafat” itu apa sih kang deden ?😀 pengertian paling afdhal itu khan menurut Ahmadiyah. Ente jangan samakan antara perkataan “Allah” dengan perkataan “Manusia”😀
    Kalau menurut ente khaatama Annabiyyin bisa diidhafatkan, tolong sebutkan “khaatama” itu Isim apa? dan Nabiyyin itu Isim apa ?😀 sehingga Khaatama Annabiyyin bisa diidhafatkan. Menurut kang deden kata mana yg disebut mudhaf dan mudhaf ilaih.😀
    Kang Deden, Gelar yang diberikan kepada Rasulullah “khaatama Annabiyyin” tidak bisa disamakan dengan gelar yang diberikan kepada Manusia. Gelar yang yang diberikan kepada Rasulullah sifatnya tidak terbatas sampai kiamat sedangkan gelar yang diberikan kepada manusia sifatnya terbatas selama tidak ada yang melebihi. Dan tidak ada sekitpun orang yang memberikan gelar kepada manusia menyamakannya dengan gelar yang diterima oleh Rasulullah SAW😀
    Banyak-banyaklah ente belajar Al-Qur’an jangan lupa belajar juga tata bahasa arab😀
    ——————————————————————
    Quote Deden:
    al-muhajirin

    JAWAB:
    coba ente sebutkan haditsnya yg lengkap😀
    Hadits al-muhajirin yg tertulis dibuku-buku ahmadiyah ada yang tertulis bukan sebenarnya alias berbohong (tertulis “Wahai Umar”). Yang benar bunyi haditsnya bisa anda kutip di bukunya M.A Suryawan “Bukan sekedar hitam putih” yaitu “Wahai Paman”.😀
    Beginikah cara-cara licik Ahmadiyah mendustakan sebuah hadits dgn tujuan tertentu demi keuntungan Alirannya😀
    Kang deden, Dalam sejarahnya memang paman nabi adalah orang yang terkahir berhijrah😀

    Quote Deden:
    al-aulia

    JAWAB:
    hii…hiii…hiii…Hadits Dha’if dijadikan pegangan😀
    ente bisa lihat penjelasan hadits tsb di link ini :
    http://z8.invisionfree.com/islamic/index.php?showtopic=13
    —————————————————————————-
    Quote Deden:
    2.Bila dihubungkan dengan ayat2 Al-Qur’an yang mengisyaratkan bahwa bisa saja seorang nabi setelah Rasulullah saw datang,(contoh annisa:69) maka dalam pengertian saya tentulah Hadits2 nabi berkenaan dengan tidak adanya kenabian setelah beliau itupun ada dalam batasan ayat 2 Al-Qur’an tersebut. Karena tentu tidak bisa dipungkiri bahwasanya kedudukan Al-Qur’an itu lebih tinggi dari Al-Hadits. Haditslah yang merupakan penjabaran dari Al-Qur’an dan bukan sebaliknya.

    JAWAB:
    Surat Annisa 69 linknya sudah diberikan oleh Kang Anang di forum ini “soal Ahmadiyah”. Saya rasa penjelasan yg terulis dalam link tb ttg Annisa 69 sudah jelas dan tidak ada sedikitpun pengertiannya sesuai yang diinginkan Ahmadiyah.
    Dalam Al-Qur’an disebutkan “Allah bersama(Ma’a) orang-orang yang sabar”.
    Sangatlah bodoh kalau kata “Ma’a” diartikan “menjadi”.
    Coba kita tuliskan sesuai yang diinginkan Ahmadiyah. “Allah menjadi orang-orang yang sabar”. Apakah mungkin mungkin Allah menjadi manusia…Naudzubillahi min Dzalik.
    Begitu pula arti “MIN” tidak bisa disamakan dgn arti “Ma’a”.
    Dalam tatabahasa arab kata “Min” disebut juga “harfu jarin” atau “Harf jar”.
    ——————————————————————–
    Quote Deden:
    Keterangan2 mana menjadikan sebagian ummat Islam –paling tidak warga Ahmadiyah– menyimpulkan/metafsirkan/mempercayai bahwa yg dimaksud Rasulullah saw tidak akan ada nabi itu adalah kenabian yang akan membatalkan syariat Beliau saw, sedangkan kenabian yang akan berfungsi sebagaimana hal nya Isa dulu yang dikirim untuk membenahi ummat Yahudi supaya kembali kepada ajaran Musa yang haq, maka “Isa” yang dijanjikan Rasulullah saw akan datangpun adalah seseorang yang akan menjalankan fungsi Isa dan bukan orang yang bernama Isa nabinya bani Israil, datang kemudian dari ummat beliau dan bertugas untuk memurnikan kembali Islam dari segala bentuk campur baur dengan ajaran yang bukan dari Islam sehingga kembali bentuknya pada bentuk yang diajarkan dan dibawa oleh Rasulullah saw. Maka tentu saja “Isa” nya Muhammad ini tidak akan mengajarkan hal2 yang bertentangan dengan apa yang telah diajarkan Rasulullah saw sebagaimana halnya Musailmah ataupun Ahmad Musadeq.

    JAWAB:
    Percuma ngomong banyak-banyak tapi ente tidak ada menuliskan buktinya…surat berapa dan ayat berapa gitu kek untuk menguatkan perkataan anda. Jawaban anda baru sebatas bualan😀
    Menurut Allah dalam firmannya:
    QS.5:44,”Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir”.
    QS.5:45,”Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim”.
    QS.5:47,”Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik”.
    Ente hanya menuruti hawa nafsu ente semata😀
    ———————————————
    Quote:
    Jadi bahwasanya ada Hadits2 tentang tidak ada nabi setelah Beliaw saw –dimana Ahmadiyah termasuk yang mempercayai Hadits2 tersebut– maka tentulah yang dimaksud Rasulullah saw itu bukanlah sembarang nabi karena beliaupun menubuwatkan pula tentang kedatangan “Isa” diakhir jaman.

    JAWAB:
    Aneh…Ahmadiyah mengatakan Isa telah wafat tetapi mengatakan pula Isa akan turun😀
    Dalam hadits yang anda imani ada keterangan “BIN MARYAM”….ini bukanlah kiasan, metafora ataupun majaz seperti yang diyakini Ahmadiyah yaitu “manusia seperti Isa”….jawaban ahmadiyah ini jawaban kepepet😀
    Silahkan anda tunjukkan ayatnya dalam Al-Qur’an ttg kedatangan manusia seperti isa pada akhir zaman.
    Apa anda mau menunjukkan ayat Ash-Shaff ayat 9 dan Al-Jumuah ayat 3…he..hee..hee…silahkan nanti anda jelaskan sekalian tuliskan tata bahasa arabnya penjelasan anda tsb. jangan lupa perkataan khalifah ente dlm tafsir resmi ahmadiyah mulai Ash-shaff ayat 6,7,8 dalam catatn kakinya. Begitupula silahkan anda lihat catatan kaki Surat Al-Jumuah ayat 3 dlm Tafsir Ahmadiyah.. klik saja link ini http://z8.invisionfree.com/islamic/index.php?showtopic=64
    Atau dengan ayat QS.43:57..😀 menggunakan ayat ini untuk menguatkan pendapat sama aja bunuh diri atau senjata makan tuan….coba aja kalau tidak percaya😀
    Sebelumnya anda lihat ayat yang selanjutnya QS.43:58, Isa perumpamaannya sebagai apa sudah tertulis dengan jelas pada ayat tsb.😀
    Ane saya mau tanya sama Kang Aden, Ghulam Ahmad mendakwakan apa saja kang ?😀
    ente kutip saja di bukunya M.A.Suryawan “Bukan sekedar Hitam Putih” dan Bukunya Ghulam Ahmad “Menghapus suatu kesalahpahaman (Ek Ghalati Ka Izala) yang sudah dialih bahasa oleh M.A.Surayawan. Ente lihat pada halaman 4, Mirza dipanggil apa dalam wahyunya ?😀
    Dipanggil Isa ataukah Muhammad ataukah Budha ataukah Musa ataukah Khonghu chu ataukah krishna ataukah Mesiodarbahmi, dll.😀
    Sangatlah anehlah kalau Ghulam Ahmad mendakwakan diri berbagai macam sedangkan hadits yang anda imani yang turun hanyalah Isa BIN MARYAM😀 ….mana nyambung antara Hadits ttg turunnya Isa yang ente imani dengan pendakwaan Ghulam Ahmad😀
    ———————————————————————-
    Quote Deden:
    Dalam konteks pemahaman ini maka menjadi tidak mengherankan apabila para sahabat memerangi Musailmah karena tentu saja para sahabat tahu persis bahwa selain “Isa” yang akan datang diakhir jaman, maka selebihnya adalah nabi2 palsu ….

    Jawab:
    he…hee…hee…Rasulullah justru mengatakan “tidak ada lagi nabi sesudahku” dan kata Rasulullah orang yang mendakwakan nabi adalah “Dajjal/pendusta”.
    Apa ente mau mengeluarkan doktrin ente bahwa dajjal adalah seperti negara eropa😀
    mana ada sebuah negara mendakwakan sebagai nabi…coba dipikir dengan logika ente yang super sangat sehat, masuk akal atau tidak doktrin ente tsb😀
    ———————————————–
    Quote Deden:
    Halnya Musaddeq mana ada sih nabi sungguhan bertobat

    Jawab:
    Pertobatan Mushaddeq masih simpang siur kang. Menurut salah satu tabloid “Realita” menyebutkan bahwa pertobatan Mushaddeq hanya untuk meredam kemarahan umat Islam. Tabloid tsb mendapatkan berita tsb berdasarkan SMS diantar pengikutnya.
    Mirip seperti surat pernyataan JAI bahwa Rasulullah adalah “Nabi Penutup”. Tujuannya juga untuk meredam kemarahan umat Islam😀
    ——————————————–
    Quote Muhammad rachmat:
    Sepertinya perlu adalah peringatan, seperti dilembar uang kertas ” BARANG SIAPA YANG MENGKU SEBAGAI NABI PALSU,DAN SENGAJA MENYIMPAN/MENYEMBUNYIKAN NABI PALSU MAKA BISA DIHUKUM” begitulah kira-kira

    JAWAB:
    Mana nyambung….😀
    ——————————————–
    Quote J & W:
    Kang Aden, mudah2an gak cape untuk terus menulis dan memberi informasi kepada orang yang ingin mencari tahu.

    JAWAB:
    Kang J&W, mudah-mudahan juga nggak capek terus menulis karena psortingan ente bisa dihitung dengan jari😀
    Kalau ente ingin mau mencari tahu sebuah kebenaran sebaiknya ente membaca dan mempelajari buku-buku non ahmadi agar tahu betapa sesatnya ahmadi. Jangan hanya buku “DOKTRIN” yang selalu dibaca😀
    ——————————————–
    Quote J & W:
    Kang Cabe Rawit, saya salut dengan kemauan anda utk mencari tahu, mudah2an ini bisa jadi tambahan ilmu,

    JAWAB:
    Apa ente mau membaca buku-buku selain doktrin Ahmadiyah Kang J&W….doktrin Ahmadiyah khan melarangnya membaca buku-buku non ahmadi😀
    ——————————————–
    Quote J & W:
    seperti pepatah carilah ilmu sampai ke negeri China.

    JAWAB:
    Nih bukti ente jarang membaca buku-buku selain karangan ahmadi😀
    Hadits Dhaif ente jadikan pegangan😀
    Makanya baca bukunya “Silsilah hadits-hadits Dha’if” karangan Al-Bani biar ente tidak sembarangan mengutip sebuah hadits yang tidak bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya. Berat hukumnya memfitnah Rasulullah kang. Kata Rasulullah yang berdusta atas namaku “NERAKA” tempatnya😀
    Ente tahu Hadits-Hadits yang dijadikan pegangan Ahmadiyah ada beberapa diketahui adalah Hadits Dha’if😀
    —————————————
    Quote J & W:
    Semoga Allah membuka hati dan pikiran untuk lebih terbuka menerima dan mencermatinya lebih dalam. Amiin.

    JAWAB:
    Kebalik Kang😀 perkataan ente tsb seperti pepatah “Menggarami air laut” atau “Mengajari Ikan berenang”😀 , mungkin ente yang seharusnya membuka hati dan pikiran untuk lebih terbuka menerima dan mencermatinya lebih dalam. Semoga Allah memberi petunjuk kepada ente.
    Coba anda baca link ini:
    http://z8.invisionfree.com/islamic/index.php?showtopic=59

    Bagaimana menurut ente ? Coba ente jelaskan, ane mau mendengar penjelasan dari mulut ente😀

    Bagi Ahmadi yg mau tahu ttg Tafsir Resmi ahmadiyah bisa dilihat disini:
    http://z8.invisionfree.com/islamic/index.php?showtopic=64

    Bagi Ahmadi yang ingin tahu ttg diskusi antara non ahmadi dgn Ahmadi bisa dilihat disini:
    http://z8.invisionfree.com/islamic/index.php?s=bd8e302b8cb94b37fb1abc421ad2da36&showforum=7

    Menurut Ahmadiyah khaatama (QS.33:40) adalah “Isim”.
    Pertanyaannya untuk Kang Deden dan Ahmadi lainnya, “Isim” apakah kata Khaatama tsb ?😀
    Pertanyaan lainnya, sebutkan ciri-ciri dari “Isim” ?😀
    Pertanyaan lainnya, sebutkan mashdar dari kata “Khaatama” ?😀

    tolong jangan didelete ya postingan saya ini biar fair😀

    Menurut Ahmadiyah khaatama (QS.33:40) adalah “Isim”.
    Pertanyaannya untuk Kang Deden dan Ahmadi lainnya, “Isim” apakah kata Khaatama tsb ?😀
    Pertanyaan lainnya, sebutkan ciri-ciri dari “Isim” ?😀
    Pertanyaan lainnya, sebutkan mashdar dari kata “Khaatama” ?😀

  18. 21 ardi March 25, 2008 at 4:51 am

    Menurut salah seorang Ahmadi bahwa Ahmadi yang mengetahui ttg “TADZKIRAH” hanya sebesar 1% sedangkan sisanya yang 99 % belum mengetahui ttg tadzkirah….he…he…he…sedikit amat yg tahu ttg Tadzkirah. Sama aja tuh Ahmadi seperrti pepatah “membeli kucing dalam karung”😀 Borok Ahmadiyah saja tidak tahu begitu gampangnya mereka mengimani Ghulam Ahmad😀
    Bagi Ahmadi yang belum mengetahui ttg “TADZKIRAH” bisa ente klik disini http://z8.invisionfree.com/islamic/index.php?showtopic=59

  19. 23 ardi March 25, 2008 at 5:06 am

    Tes :whistle :whistle:

  20. 24 ardi March 25, 2008 at 5:06 am

    tes😛 🙂

  21. 27 ardi March 25, 2008 at 10:03 am

    Kang deden begitu ketakutan atas jawaban saya😀
    ;oD

  22. 28 ardi March 25, 2008 at 10:15 am

    ane, jawaban ane kadang muncul kadang tidak😀
    apa disulap sama adminnya. Hanya ane saja yang tahu postingan ane sedangkan orang lain tidak tahu postingan ane😀

  23. 29 balagadona March 25, 2008 at 11:44 am

    balagadona nganjang yeuh! assalamu’alaikum!
    ngecek anu dicypy – paste tea.
    wassalam.

    @den
    hatur nuhun

  24. 30 alif March 26, 2008 at 2:51 am

    Rasyid = Wong = Ardhi = shadow,
    Hehehe kerjaan sehari-harinya cuma untuk menghujat ahmadiyah, tidak cape ya??
    Karena isi nya sudah basi semua maka saya sarankan buat kang Deden tidak perlu menanggapi omong kosong orang tsb..
    Jadikanlah sampah ini sebagai pupuk agar keimanan kita kepada HMGA semakin bertambah..
    wassalam
    ALIF

  25. 31 J&W March 26, 2008 at 4:09 am

    Buat Rasyid = Wong = Ardi = siapapun, anda mungkin merasa paling tahu segalanya dan paling benar. Boleh2 aja semua orang punya beda pengertian dan keimanan. Anda mungkin seorang pakar / ahli, tapi belum tentu paling benar bung!!

    Teruskan menulis Kang Aden, jangan patah semangat dengan komentar2 yang menyerang tulisan anda.

    @den
    thanks for your support, sis🙂

  26. 32 wong March 26, 2008 at 10:06 am

    hii…hii…katenye Mbah Alif udah basi😀 karena PRnya ttg ini bertahun-tahun kagak bisa kejawab😀

  27. 33 wong March 26, 2008 at 11:30 am

    Quote J&W:
    Anda mungkin seorang pakar / ahli, tapi belum tentu paling benar bung!!

    Jawab:
    he…he…he…belum tentu apanya kang…apa ente bisa membantahnya…apa ente sudah membantahnya😀
    Tinggal ngomong gitu doang semua orang juga bisa kang. Yang penting itu bantahannya kang😀

    Quote J&W:
    Teruskan menulis Kang Aden, jangan patah semangat dengan komentar2 yang menyerang tulisan anda.

    JAWAB:
    tinggal merintah semua orang juga bisa kang tapi kasihan yang membuat forum seperti kang deden ini dosanya lebih berat daripada ente karena dia dengan begitu semangatnya menyebarkan kesesatan nah ente malah jadi penontonnya😀

  28. 34 shadow March 27, 2008 at 1:38 am

    Quote Alif:
    Rasyid = Wong = Ardhi = shadow,
    Hehehe kerjaan sehari-harinya cuma untuk menghujat ahmadiyah, tidak cape ya??
    Karena isi nya sudah basi semua maka saya sarankan buat kang Deden tidak perlu menanggapi omong kosong orang tsb..
    Jadikanlah sampah ini sebagai pupuk agar keimanan kita kepada HMGA semakin bertambah..
    wassalam
    ALIF

    JAWAB:
    maklumi saja ahmadi satu ini. Untuk menutupi rasa malu biasanya kata-katanya selalu begitu untuk menghibur dirinya😀 😛

    Quote J&W:
    Anda mungkin seorang pakar / ahli, tapi belum tentu paling benar bung!!

    JAWAB:
    jawaban ane berdasarkan Al-Qur’an kang…”ayat dijawab dengan ayat” itulah penafsiran yang benar. Beda dengan ahmadiyah “ayat dijawab dengan perkataan manusia” itulah yang salah😀 Perkataan Allah masih dikalahkan dengan perkataan manusia….pilkir dengan logika dan nalar ente apa itu dibenarkan😀
    wajar aja ente semua para ahmadi sampai hari ini masih saja tersesat….logika dan nalar serta Al-Qur’an tidak dipake mana bisa berjalan pada jalan yang lurus😀

  29. 35 alif March 27, 2008 at 6:22 am

    hehehe PR apa dow??
    PR masalah khataman nabiyin…..
    Atur aja deh anda mau artikan apa..
    kita sih fine ajah yang penting oke..hehehe
    cape ngeladenin orang kayak ente dow…
    Gw Cuma mau ngomentari yang menurut gw masih relevan untuk dijawab, mengenai ucapan ente yaitu:
    [quote]
    “haa…haaa..haa…Jadi sebegitu lamanya nabi-nabi yang datang sebelum Nabi Muhammad SAW belum absah dan harus menunggu kedatangan Rasulullah SAW terlebih dahulu baru mereka absah….ingat lho kalimatnya Rasulullah adalah “Khaatama Annabiyyin”.. haa…haa…haaa logika yang konyol sekali lucu banget logika ente….begitu konyol. Yang mengutus Rasul-Rasul dan Muhammad SAW itu siapa kang kalau bukan Allah? Jadi aneh kalau ente mengatakan bahwa Rasulullah mengabsahkan kebenaran Rasul-Rasul. Apa Ahmadi semua logikanya sama seperti ente. Wajar aja kalau para ahmadi tersesat
    Diawal-awal ente katenye akan menggunakan logika dan nalar ente. Faktanya logika dan ente konyol begini ” [/quote]

    shadow ini sebenarnya sedang mentertawakan ayat-ayat Allah, coba baca ayat ini:
    Dan , ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya” . Allah berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” Mereka menjawab: “Kami mengakui”. Allah berfirman: “Kalau begitu saksikanlah dan Aku menjadi saksi bersama kamu”. (3:81)

    dalam ayat itu disebutkan akan adanya seorang Rasul yang membenarkan (mengabsahkan) para Nabi…
    jadi gimana dow masih berani tertawa-tawa seperti diatas?
    kata qur’an :
    orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka . Amat besar kemurkaan di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang. (40:35)
    Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (40:56)
    jadi saran saya sering-seringlah baca ayat-ayat Qur’an sebelum ngajak debat ahmadi !
    wassalam,

  30. 36 shadow March 29, 2008 at 9:53 am

    Quote:
    hehehe PR apa dow??
    PR masalah khataman nabiyin…..

    Jawab:
    huaa…haaa…haaa…kura-kura dalam perahu…ternyata ente seorang yg munafik juga😀 coba ente aktifkan kembali situs ahmadiyah.co.nr disana pertanyaan gw belum ente jawab sama sekali bahkan ente sampai mengeluarkan sumpah serapah segala thd gw atas pertanyaan yang saya tanyakan. Wajar aja situs ahmadiyah ditutup karena ahmadi disana termasuk ente merasa malu sering dipermalukan oleh non ahmadi😀 …PR dari UNO (postingan terakhir) saja belum ente jawab😀
    Jadi silahkan ente atur aja kapan kita melanjutkan diskusi kita di http://www.ahmadiyah.co.nr. Gw ingin kita lanjutkan diskusi kita di http://www.ahmadiyah.co.nr karena disini forumnya kurang canggih. Jangan lupa dijawab tuh PR disana sekalian aktifkan kembali ID gw. Thread yg sudah pernah ditulis jangan didelete ya😀
    —————————————

    Quote Alif:
    Atur aja deh anda mau artikan apa..

    JAWAB:
    ha…haaa..haaa…makanya lif obat DHA nya diminum tiap hari biar nggak sering lupa apa yang pernah saya katakan😀
    Sebagai kilas balik jawaban ente sebelumnya….di RT sebelah ente mengatakan khaataman nabiyyin ente artikan “Nabi terakhir yg membawa syariat”…di ahmadiyah.co.nr ente berpendapat bahwa materai para nabi dan materai sama dengan mengesahkan juga sama dengan membenarkan. Harap ente ingak-ingak itu😀 jujur deh dari beberapa jawaban ente ttg khaataman nabiyyin ente kelihatan plin-plan dlm menerjemahkan ayat tsb😀
    Sekarang gw ada pertanyaan buat ente, APA ARTI KHAATAMA ANNABIYYIN MENURUT KHALIFAH ENTE YG TERDAPAT DLM CATATAN KAKI DALAM TAFSIR RESMI AHMADIYAH ?
    pertanyaan lainnya, APA ARTI KHAATAMA ANNABIYYIN MENURUT JAI? sekalian tampilin fotonya abdul basith wakakak😀 ente tinggal kutip saja di swaramuslim lif…gw hanya menguji kejujuran ente lif.
    silahkan pertanyaan gw ente jawab dgn jujur😀 gw tunggu jawaban ente😀 jangan berbohong ya😀
    ——————————————-
    Quote Alif:
    kita sih fine ajah yang penting oke..hehehe
    cape ngeladenin orang kayak ente dow…

    JAWAB:
    katanya fine tapi kok capek ngladenin….Aneh….dalam berbahasa aja ente amburadul bagaimana ente mau ngadepin gw😀
    ———————————————-
    Quote Alif:
    Gw Cuma mau ngomentari yang menurut gw masih relevan untuk dijawab, mengenai ucapan ente yaitu:

    JAWAB:
    Silahkan aja perkataan ente itu terbukti atau tidak.
    ————————————————
    Quote Alif:
    shadow ini sebenarnya sedang mentertawakan ayat-ayat Allah, coba baca ayat ini:
    Dan , ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya” . Allah berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” Mereka menjawab: “Kami mengakui”. Allah berfirman: “Kalau begitu saksikanlah dan Aku menjadi saksi bersama kamu”. (3:81)
    dalam ayat itu disebutkan akan adanya seorang Rasul yang membenarkan (mengabsahkan) para Nabi…
    jadi gimana dow masih berani tertawa-tawa seperti diatas?

    JAWAB:
    haaa…haaa…haaa ane malah menertawakan ente karena tidak bosan-bosannya ente mendustakan ayat-ayat Allah. Berat sekali adzab yang ente terima lif dengan mendustakan ayat-ayat Allah😀
    Coba ente lihat ayat ente kutip. Disitu tertulis “khaatama” ataukah “Mushaddiq” ? ketahuan ilmu terlalu cetek menyamakan “khaatama” dengan Mushaddiq”😀 Nggak pinter-pinter nih ente😀

    Menurut ente di RT sebelah bahwa MATERAI=MENGESAHKAN/MENGABSAHKAN=MEMBENARKAN….coba ente masukkan kata “meterai dan mengabsahkan/mengesahkan” pada ayat tsb terasa janggal atau tidakkah kalimat tsb😀
    QS.3:81″seorang Rasul yang MENGABSAHKAN/MUSHADDIQ para Nabi”…..wakakakak jadi yang mengabsahkan nabi bukan Allah ya lif….Naudzubillahi min Dzalik….jadi menunggu Rasulullah SAW datang terlebih dahulu baru kenabian para nabi dianggap sah….Naudzubillahi Min Dzalik😀
    QS.3.81″seorang Rasul METERAI/MUSHADDIQ para Nabi”….haaa…haaa….susunan kalimatnya berantakan sekali gitu lif.

    Coba ente masukkaan pula kata “meterai & mengabsahkan/mengesahkan” dalam surat-surat dibawah ini:
    Surat Ash-Shaff ayat 6: “Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, MEMBENARKAN/MUSHADDIQ kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata.”
    QS.61:6,”MENGABSAHKAN/MUSHADDIQ” kitab sebelumku”…..jadi kitab-kitab sebelum Al-Qur’an belum sah ya lif sampai menunggu kedatangan Rasulullah SAW baru kitab-kitab tsb sah dan yang mengesahkan adalah manusia dan bukan Allah yang mengesahkan kitab-kitab tsb..Naudzubillahi min Dzalik😀
    QS.61:6,”METERAI/MUSHADDIQ” kitab sebelumku”…..haaa…haaa…apa artinya tuh lif, janggal sekali susunan kalimatnya😀

    QS.Al Maa’idah 46: “Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi nabi Bani Israil) dengan Isa putera Maryam, MEMBENARKAN/MUSHADDIQ Kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang didalamnya (ada) petunjuk dan dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa.

    QS. Ali Imran ayat 50: Dan (aku datang kepadamu) MEMBENARKAN Taurat yang datang sebelumku, dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu, dan aku datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mukjizat) daripada Tuhanmu. Karena itu bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.

    Untuk QS.Al-Maaidah 46 & Ali Imran 50 bisa ente masukkan kata-katanya….kurang lebih pengertiannya sama seperti yang saya jelaskan QS.61:6
    Sebaiknya ente belajar deh tatabasanya ama ane😀
    BTW “Materai” itu Isim atau fi’il lif ? “Mengabsahkan/mengesahkan” itu isim atau fi’il lif? “Membenarkan” itu Isim atau fi’il lif ?😀 isim atau fi’il apakah mereka semuanya?😀
    Kalau orang yang nggak tahu ilmunya pasti sumpah serapah deh yang keluar dari mulutnya😀 Mending seperti Kang.Deden kalau nggak sanggup membantah jalan satu-satunya adalah “diam”. Itu lebih baik dan lebih terhormat. Beda sama ente lif, udah nggak tahu ilmunya masih berlagak seperti orang yang menguasai ilmunya dan pada akhirnya ujung-ujung “keok” juga😀 itu aja masih blm disuruh mempertanggung jawabkan perkataannya….kalau disuruh mempertanggung jawabkan perkataannya pasti ujung-ujungnya selain sumpah serapah yg keluar juga keder dan berusaha kabur dan menghilang bagai ditelan bumi….iman-iman tempe😀
    Para pembaca perhatikan saja deh nanti jawaban dari Alif, pasti pertanyaan gw tidak akan bisa dia jawab dan si do’i berusaha mengalihkan perhatian sehingga pertanyaan saya dilupakan….wakakak😀
    Lihat saja para pembaca….buka mata anda lebar-lebar….biar ente tahu kebiasaan alif emnghindari pertanyaan saya.😀
    Jangan lupa lif ente juga berpendapat di RT sebelah “khaatama annabiyyin’ yg terdapat dalam surat Al-Ahzab 40 adalah “Nabi Terakhir yang membawa syari’at”. Jadi apa menurut ente Rasulullah membenarkan Nabi yg membawa syariat saja sedangkan yang tdk membawa syariat tidak dibenarkan oleh Rasulullah….wakakakak😀
    Yang paling lucu ente mengatakan seperti ini ” seorang Rasul yang membenarkan (mengabsahkan) para Nabi”. he..he…hee…jadi yang mengabsahkan para nabi itu manusia ya lif….waakakaak dan bukan Allah yang mengabsahkan mereka…..wakakak Naudzubillahi min Dzalik…..benar-benar manusia yang pantas mendapat adzab dan laknat Allah dengan menghina Allah.
    Ingak lif yang tertulis dalam Al-Ahzab ayat 40 adalah Rasulullah adalah Khaatama Annabiyyin. Coba kita berikan contoh beberapa pendapat ente:
    RASULULLAH ADALAH METERAI PARA NABI
    Naudzubillahi min Dzalik….Rasulullah disamakan dengan benda dan benda yang bernama meterai tsb dipergunakan oleh para nabi….Naudzubillahi min Dzalik

    RASULULLAH “adalah” MENGABSAHKAN/MENGESAHKAN PARA NABI
    he…hee..hee…lihat saja susunan kalimatnya janggal sekali. Ente berpuluh-puluh tahun tinggal di Indonesia menyusun kalimat saja masih salah. Apa bener tuh susunan kalimatnya harus memakai kata “adalah”

    RASULULLAH “adalah” MEMBENARKAN PARA NABI
    hee…hee..heee.. susunan kalimatnya sama aja dengan diatas dan terlihat janggal sekali😀
    Coba cari guru bahasa indonesia yg pinter ya lif😀

    RASULULLAH ADALAH NABI TERAKHIR YG MEMBAWA SYARI’AT
    he…hee….heee…mana ada qarinah lif kata “nabiyyin” diartikan nabi yg membawa syariat. Tolong tunjukkan ke gw keterangannya, gw cari-cari kok nggak ada😀 Ingak lho lif ada “Alif” “lam” ta’rif pada kata nabiyyin tsb. Ente bisa melihatnya kata “nabiyyin” pd ayat-ayat lainnya yg memakai alif lam ta’rif di Al-Qur’an, apakah diartikan Nabi yang membawa syariat.😀
    Lalu apa bedanya terakhir dengan penutup lif….😀
    Kesimpulannya ente itu lif ngomongnya suka plin-plan😀 …kalau ngemeng itu yg bener lif…Aneh, jawaban kok lebih dari satu…ragu-ragu begitu😀
    —————————————
    Quote Alif:
    kata qur’an :
    orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka . Amat besar kemurkaan di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang. (40:35)
    Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (40:56)

    JAWAB:
    Huaa…haaa..haaa…Alif…Alif…sebelum Ghulam Ahmad lahir apa mayoritas umat Islam itu berkeyakinan ada lagi nabi baru sesudah Nabi Muhammad SAW….tidak toh….haaa…haaa…haaa….jadi justru Ahmadiyahlah yang mendebat ayat-ayat Allah dan seharusnya ente menerima bahwa tidak ada lagi nabi baru sesudah Nabi Muhammad SAW dan ente tidak usah memperdebatkannya dan ente menerima saja😀
    lucunya lagi ente tidak membaca judul thread ini “TANGGAPAN BUAT KANG CABE RAWIT”….jadi yang mendebatkan ayat-ayat Allah siapa lif kalau bukan kang Deden yg seorang ahmadi….seharusnya ente berdasarkan ayat tsb menerima tidak ada lagi Nabi baru sesudah Nabi Muhammad SAW dan ente tdk usah memperdebatkannya dan dengan lapang dada menerimanya😀
    ———————————-
    Quote:
    jadi saran saya sering-seringlah baca ayat-ayat Qur’an sebelum ngajak debat ahmadi !
    wassalam,

    JAWAB:
    wakakak….wakakak…wakakak…Alif…Alif…ente ini seperti pepatah “menggarami air laut”😀 ente bolak-balik keok diskusi dengan ane malah mengajari ane…apa nggak kebalik lif…seharusnya ente sering-sering baca Al-Qur’an sebalum berdebat dengan ane…..jangan lupa hobby ente mendustakan ayat-ayat Allah dihilangkan….huaaa…haaa…haaa😀

  31. 37 shadow March 31, 2008 at 10:13 am

    Quote Alif:
    shadow ini sebenarnya sedang mentertawakan ayat-ayat Allah, coba baca ayat ini:
    Dan , ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa KITAB dan HIKMAH kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya” . Allah berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” Mereka menjawab: “Kami mengakui”. Allah berfirman: “Kalau begitu saksikanlah dan Aku menjadi saksi bersama kamu”. (3:81)

    dalam ayat itu disebutkan akan adanya seorang Rasul yang membenarkan (mengabsahkan) para Nabi…

    JAWAB:
    lif ente baca lagi ayat yg ente kutip tsb (3:81) udah gw kasih tanda huruf besar😀 ….disitu membenarkan “KITAB” dan “HIKMAH” ataukah “MEMBENARKAN PARA NABI”….wakakak…Rabun ya ente. Makanya punya hobby itu mbok baca Al-Qur’an kek, ya nonton bola kek, nonton moto GP kek, pokoknya hobby yang positif gitu…ini mendustakan ayat-ayat Allah dijadikan hobby😀 Allah terlalu sering ente remehkan lif😀

  32. 38 teman lama April 1, 2008 at 2:56 am

    mas Alif, kok http://www.ahmadiyah.co.nr nya nggak bisa dibuka alias ditutup????

  33. 39 alif April 1, 2008 at 3:01 am

    SHADOW: [QUOTE]
    Ingak lif yang tertulis dalam Al-Ahzab ayat 40 adalah Rasulullah adalah Khaatama Annabiyyin. Coba kita berikan contoh beberapa pendapat ente:
    RASULULLAH ADALAH METERAI PARA NABI
    Naudzubillahi min Dzalik….Rasulullah disamakan dengan benda dan benda yang bernama meterai tsb dipergunakan oleh para nabi….Naudzubillahi min Dzalik

    RASULULLAH “adalah” MENGABSAHKAN/MENGESAHKAN PARA NABI
    he…hee..hee…lihat saja susunan kalimatnya janggal sekali. Ente berpuluh-puluh tahun tinggal di Indonesia menyusun kalimat saja masih salah. Apa bener tuh susunan kalimatnya harus memakai kata “adalah”

    RASULULLAH “adalah” MEMBENARKAN PARA NABI
    hee…hee..heee.. susunan kalimatnya sama aja dengan diatas dan terlihat janggal sekali
    Coba cari guru bahasa indonesia yg pinter ya lif

    RASULULLAH ADALAH NABI TERAKHIR YG MEMBAWA SYARI’AT
    he…hee….heee…mana ada qarinah lif kata “nabiyyin” diartikan nabi yg membawa syariat. Tolong tunjukkan ke gw keterangannya, gw cari-cari kok nggak ada Ingak lho lif ada “Alif” “lam” ta’rif pada kata nabiyyin tsb. Ente bisa melihatnya kata “nabiyyin” pd ayat-ayat lainnya yg memakai alif lam ta’rif di Al-Qur’an, apakah diartikan Nabi yang membawa syariat.
    Lalu apa bedanya terakhir dengan penutup lif….
    Kesimpulannya ente itu lif ngomongnya suka plin-plan …kalau ngemeng itu yg bener lif…Aneh, jawaban kok lebih dari satu…ragu-ragu begitu [/QUOTE]
    —————————————

    JAWAB:
    Shadow ngomong apa sih? Kayak orang lagi mabuk…??!! Makin lama koq makin ngelantur…
    Perasaan gw ngga pernah tuh nulis2 kayak di atas….
    coba tunjukan dimana gw nulis begitu, sanggup??
    kalau ngga sanggup itu namanya fitnah hehehe..

    SHADOW [QUOTE]:
    lif ente baca lagi ayat yg ente kutip tsb (3:81) udah gw kasih tanda huruf besar ….disitu membenarkan “KITAB” dan “HIKMAH” ataukah “MEMBENARKAN PARA NABI”….wakakak…Rabun ya ente. Makanya punya hobby itu mbok baca Al-Qur’an kek, ya nonton bola kek, nonton moto GP kek, pokoknya hobby yang positif gitu…ini mendustakan ayat-ayat Allah dijadikan hobby Allah terlalu sering ente remehkan lif [/QUOTE]

    JAWAB:
    HIKMAH itu apa dow?
    Mari kita baca Tafsir dari DEPAG :
    Yang dimaksud dengan “Nabi Muhammad saw membenarkan rasul-rasul terdahulu dan kitab-kitab yang dibawanya”, ialah membenarkan bahwa Allah telah mengutus rasul-rasul itu dan menurunkan kitab-kitab kepada mereka Dan bukanlah berarti bahwa Muhammad saw membenarkan seluruh isi kitab-kitab itu sebagai yang terdapat sekarang.

    Mau ngeyel apa lagi dow??

  34. 40 zal April 1, 2008 at 5:33 am

    ::mohon maaf saya nimbrung ya…:
    jika kalimat ini
    “ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa KITAB dan HIKMAH kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”

    terfahamkan, bahwa Rasul itu datang pada masing-masing nabi tersebut bisa nggak, misalnya Muhammad SAW itu kan disebut Nabi ya Wa rosuluh, berarti ada sisi nabinya ada sisi Rasulnya, bisa enggak ya… dan Rasulpun mengajarkan Shalat sebagaimana Beliau shalat, dan pada shalat ada syahadat, yang Beliau juga bersyahadat seperti itu.., mengapa ya…, apa Beliau Narsis, sepertinya mustahil seorang Rasulullah koq narsis pasti ada sesuatu maksud dibalik itu…
    Sepertinya menurut ayat itu Allahlah yang memberi kitab dan hikmah, jadi siapa ya yg Allah berikan kitab dan hikmah itu, apa cuma kepada para nabi, lalu bagaimana kita memahami kitab itu..kan, bukankah kata Allah, Allah memahamkan melalui hati…, dan “KAMIlah yang berkewjiban mengumpulkan Al-Quran di dada itu”,
    jadi mungkin sementara ini masing-masing kita masih meremehkan Allah kayaknya…sebab merasa kita bisa faham tanpa Allah fahamkan…
    mohon maaf, jika salah…terima kasih sdudah dibolehkan menulis disini..

  35. 41 Nabi lama April 1, 2008 at 5:57 am

    Saya kutipkan lagi yang dari blognya Jusman:
    Ayat-ayat Quran buat Ahmadi adalah firman yang diturunkan bukan hanya pada Nabi SAW tapi juga buat nabi mereka. Walau di Quran yang dimaksud adalah Nabi SAW, mereka menterjemahkan/menafsirkannya sbg MGA. Ketakutan yang diciptakan untuk tetap tunduk pada apa-apa yang disampaikan oleh MGA, bukan Nabi SAW.
    Wassalam,

  36. 42 Shadow April 1, 2008 at 6:22 am

    Kaum Muslimin berhati-hatilah thd aliran sesat yang seolah-olah mereka kelihatan begitu pandai dalam mengutip ayat-ayat Al-Quran tapi faktanya sebaliknya. Mereka menafsirkan ayat-ayat Allah dengan dengan semaunya sendiri yg berdasarkan hawa nafsu mereka untuk membenarkan faham sesat mereka, bukan tidak mungkin akan banyak orang yang tertipu, seperti diibaratkan orang menyangka ‘’minyak babi’’ yang dijajakan mereka sebagai ‘’minyak onta’’…😀
    Jadi agar tidak tersesat turutilah seperti apa yang dikatakan Allah dalam firmannya,
    Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk”. (QS Al-A’raaf: 158).

    Ikutilah Rasulullah SAW Nabi yang ummi supaya anda semuanya mendapat petunjuk. Janganlah anda mengikuti orang yang mengaku sebagai nabi baru sesudah beliau SAW….mereka adalah nabi palsu😀 Janganlah anda semua menjadi pengikutnya…pengikut nabi palsu😀 Apabila anda mengikutinya tersesatlah anda yang balasannya adalah neraka karena anda mengingkari perkataan Allah dan Rasulullah SAW…

    @den
    ikuti Allah dan RasulNya, jangan ikutin shadow, ardi, alif, deden dan yang lainnya!😀

  37. 43 Shadow April 1, 2008 at 6:32 am

    Pakailah logika dan penalaran yang sehat wahai para ahmadi. Janganlah anda menggunakan logika dan penalaran yang begitu konyol😀
    Yang paling penting bukti di Al-Qur’an haruslah diutamakan. Janganlah anda mensejajarkan perkataan ulama dengan perkataan Allah.

  38. 44 alif April 1, 2008 at 9:31 am

    SHADOW:
    “Ikutilah Rasulullah SAW Nabi yang ummi supaya anda semuanya mendapat petunjuk.”

    JAWAB:
    Benar Ikutilah Rasulullah SAW dimana salah satu pesannya adalah berbaiat kepada Imam Mahdi…
    Sudahkah anda mengikuti pesan Rasulullah tsb?

    kalau belum koq bisa berkomentar seperti itu..???

  39. 45 alif April 1, 2008 at 9:34 am

    Shadow:
    Janganlah anda mensejajarkan perkataan ulama dengan perkataan Allah.

    jawab:
    Benar !!! dengan begitu janganlah mempercayai ulama yang mengatakan bahwa ahmadiyah sesat, karena yang tahu sesat adalah Allah saja..
    hehehe

  40. 46 shadow April 2, 2008 at 10:19 am

    Quote Alif:
    Benar Ikutilah Rasulullah SAW dimana salah satu pesannya adalah berbaiat kepada Imam Mahdi…
    Sudahkah anda mengikuti pesan Rasulullah tsb?

    kalau belum koq bisa berkomentar seperti itu..???

    JAWAB:
    wakakak…siapa tuh imam mahdi, apa ada di Al-Qur’an tuh….apa lupa omongan ente sendiri. Pangakat Iamm Mahdi apa lif, kadang ente bilang nabi nanti plin-plan lagi bilang bukan nabi..wakakak…disuruh buktiin pake Al-Qur’an aja pade keok😀 aja udah keok masih ngomongin mahdi….wakakak
    Apa udah rabun ya ente, apa ayat tersebut ada menyebut Imam Mahdi…wakakakak…beli kacamata lif😀

    Quote Alif:
    Benar !!! dengan begitu janganlah mempercayai ulama yang mengatakan bahwa ahmadiyah sesat, karena yang tahu sesat adalah Allah saja..
    hehehe

    JAWAB:
    wakakak…kelihatan begonya nih ente ya alat ukurnya Al-Qur’an lif😀 ulama ente yg sesat juga termasuk didalamnya😀
    Mana ada sesat adalah kebenaran😀

  41. 47 nabi lama April 2, 2008 at 4:49 pm

    Quote Deden:
    ikuti Allah dan RasulNya, jangan ikutin shadow, ardi, alif, deden dan yang lainnya!

    Jawab:
    Mengikut jalan Allah dengan ilmuNya, yang disampaikan oleh Nabi SAW. Sesudah Nabi SAW wafat maka pewaris dari ilmu-ilmu yang disampaikan Beliau adalah para Ulama. Nah silakan pilih Ulama mana yang akan Anda pilih.. Dipilih… dipilih…. dipilih…. (kayak di Tanah Abang aja)😀

    Wassalam,

  42. 48 shadow April 3, 2008 at 1:44 am

    Jadi pangkatnya Mahdi apa lif???😀 Sebagai manusia biasa, sbg nabi ataukah sebagai tuhan?????
    Kalau sudah dijawab tolong di check and recheck dgn pendakwaan Ghulam Ahmad dan wahyu yg diterimanya ya lif…GPL ya😀
    para bisa melihat disini http://isnandi.net/2005/08/03/ahmadiyah-dan-kebebasan-beragama/ ,kalau dia saya kasih pertanyaan tsb selalu mengalihkan pembicaraan😀
    Adakah dlm QS.7:158 Allah menyebutkan untuk mentaati Rasul dan nabi sesudah Rasulullah saw…WAKAKAK😀
    hee..hee..Rasulullah difitnah terus-menerus….memfitnah Rasulullah dijadikan Hobby😀
    Beranikah ente mempertanggungjawabkan ucapan ente bahwa ttg Imam Mahdi benar-benar ucapan Rasulullah😀
    Beranikah ente mempertanggungjawabkan fitnah ente tsb😀
    Para pembaca disini jadi saksinya, apakah Alif berani mempertanggungjawabkan fitnah thd Rasulullah tsb😀
    Semua para pembaca silahkan menunggu ya keberanian Alif ataukah hanya iman-iman tempe seperti biasaannya😀

    QUOTE ALIF:
    Benar !!! dengan begitu janganlah mempercayai ulama yang mengatakan bahwa ahmadiyah sesat,
    JAWAB:
    wakakak….nah ente percaya hadits-hadits Mahdi dan Isa adalah hadits mutawatir dari mana lif😀
    Ente baca saja buku pentolan ente Ibnu Sulaiman “Mahdi ataukah Isa yang akan datang?” hal 19, disitu pentolan ente mengutip perkataan Allamah Syekh Abdul Aziz (Pemimpin Rabithah Islam Alami) yang mengkafirkan Ahmadiyah….aneh kalau jangan mempercayai ulama kenapa ucapan syekh abdul azis dijadikan pegangan…wakakak SKAK MAT….konyol ya jawaban Alif tsb. Makanya gw bilang apa logika dan penalaran ahmadi itu konyol-konyol😀
    Selain itu mereka(ahmadiyah) mengutip perkataan para Imam-Imam hadits yang meyakini tidak tidak ada lagi nabi baru lagi sesudah Rasulullah SAW dan ucapan mereka dijadikan pegangan. Jadi kesimpulannya ahmadi yang satu ini pantaslah berlogika dengan “KONYOL”😀

    QUOTE Alif:
    karena yang tahu sesat adalah Allah saja..

    JAWAB:
    wakakak…ente liberal kah lif…ente kok mengutip perkataan orang-orang liberal…Gunanya Al-Qur’an diturunkan untuk Apa lif? tolong dijawab😀
    Bagaimana dengan aliran bunuh diri massal, perampok, pencuri, orang yg bunuh diri, dll..apakah menunggu wahyu dari Allah dulu baru kita bisa mengatakan mereka sesat? begitukah lif…wakakak.
    bagaimana para sahabat yang mengkafirkan orang yang menuhankan Isa? apakah apa para sahabat menuhankan dirinya sendiri…coba dijawab😀
    Bagaimana mungkin untuk masa sekarang yang sudah tidak turun wahyu, seseorang perlu dikatakan langsung sesatnya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Apakah harus menunggu wahyu dari Allah terlebih dahulu? Sedangkan, di zaman Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan wahyu masih turun pun, ketika dedengkot gembong munafiq Abdullah bin Ubai bin Salul menyebarkan berita bohong, yaitu menuduh Aisyah isteri Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berzina, ternyata Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menyebut langsung nama Abdullah bin Ubai. Walaupun, memang disebut kebohongannya dan ancaman siksanya. Tetapi nama Abdullah bin Ubai tidak disebut. Kalau sudah tingkat Abu Lahab, Fir’aun, bahkan Iblis, maka disebut oleh Allah, bahkan Iblis dan Fir’aun disebut berkali-kali.

    Jadi gw tanya apa gunanya AL-Qur’an lif?😀

    Jadi kesimpulannya alif ini memang mempunyai logika yg konyol….wakakak😀

  43. 49 shadow April 3, 2008 at 11:31 am

    Tidak menyangka postingan ane tgl 3 april dihapus oleh kang deden😀
    Tolong ente klarifikasi kang deden😀

  44. 50 shadow April 3, 2008 at 11:34 am

    tolong ente kembalikan seperti semula kang deden😀
    postingan itu untuk Alif dan bukan untuk ente😀
    apa ente tersungging pula atas postingan ane tsb😀

  45. 51 shadow April 3, 2008 at 11:42 am

    Ingat kang deden postingan ane Pada TGL.03 April 2008 yg ditujukan ke Alif, HARAP DIKEMBALIKAN SEPERTI SEMULA😀
    Ente sebagai moderator harus bertindak fair😀

  46. 52 shadow April 3, 2008 at 10:32 pm

    Quote Alif:
    Benar !!! dengan begitu janganlah mempercayai ulama yang mengatakan bahwa ahmadiyah sesat

    JAWAB:
    Alif…Alif….sebelum memposting itu dipikir terlebih dahulu, apakah postingan ente itu mempermalukan ente sendiri atau tidak😀
    ente mengatakan seperti itu tetapi pentolan ente saja mengutip perkataan Allamah Syekh Abdul Azis “Pemimpin tertinggi Rabithah Alam Islami”….orang yang mengafirkan aliran ente😀 (silahkan ente lihat buku “Mahdi atau Isa yang akan datang?” oleh Ibnu Sulaiman, hal.19)😀
    Ente saja mengutip terjemahan QS.3:81 dari tafsir non ahmadi yg mengatakan ahmadiyah sesat😀
    Lucunya pula ente mengutip tafsir non ahmadi karena yg tertulis dlm tafsir Ahmadiyah QS.3:81 yg ente kutip khan QS.3:82.😀 Selain itu mana ada didalam tafsir ahmadiyah pengertiannya tertulis seperti yang ente tuliskan…wakakak. Coba ente periksa tafsir ente, apakah sama dengan yg ente tuliskan.😀

    Quote Alif:
    karena yang tahu sesat adalah Allah saja..

    JAWAB:
    Wakakak…Alif mulai berfaham liberal😀 …Faham orang-orang liberal di adopsi oleh Alif😀
    Jadi untuk mengetahui sesatnya seseorang harus menunggu wahyu turun baru boleh mengatakan sesat…begitukah lif😀 logika yg konyol😀
    Bagaimana dengan Aliran bunuh diri massal, pencuri, perampok, orang yg bunuh diri, dll apakah harus menunggu wahyu turun terlebih dahulu baru kita bisa mengatakan mereka sesat.😀
    Bagaimana para sahabat yang mengafirkan orang-orang yang menuhankan Isa….apakah itu artinya para sahabat menuhankan dirinya sendiri lih…coba dijawab😀
    Bagaimana mungkin untuk masa sekarang yang sudah tidak turun wahyu, seseorang perlu dikatakan langsung sesatnya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.😀 Sedangkan, di zaman Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan wahyu masih turun pun, ketika dedengkot gembong munafiq Abdullah bin Ubai bin Salul menyebarkan berita bohong, yaitu menuduh Aisyah isteri Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berzina, ternyata Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menyebut langsung nama Abdullah bin Ubai. Walaupun, memang disebut kebohongannya dan ancaman siksanya. Tetapi nama Abdullah bin Ubai tidak disebut. Kalau sudah tingkat Abu Lahab, Fir’aun, bahkan Iblis, maka disebut oleh Allah, bahkan Iblis dan Fir’aun disebut berkali-kali.

    Jadi apa gunanya Al-Qur’an diturunkan lif? Apa kita tdk bisa mengukur kesesatan seseorang berdasarkan Al-Qur’an lif…wakakak😀 coba dijawab.
    Para pembaca inilah bukti bahwa Ahmadi tidak menggunakan Al-Qur’an sebagai alat ukur. Janganlah anda percaya kata-kata mereka kalau mereka selama ini selalu menomorsatukan Al-Qur’an sebagai alat ukurnya. Ini fakta lho…anda bisa lihat sendiri khan😀

  47. 53 shadow April 3, 2008 at 10:35 pm

    aneh diposting lewat IP lain postingan ane yg terdele muncul kembali😀

  48. 54 Cabe Rawit April 5, 2008 at 12:17 am

    Assalaamu ‘alaikum… woh, rame banget di sini kang Aden?😯
    Ane ferhatikan, arah diskusinya makin kabur dari tema awal. Tafi gak afa-afa lah, toh tetef ada yang bisa kita ambil sebagai bahan pelajaran… di sampfing traffic naek…:mrgreen:


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




AYO BERBELANJA DI TOKO ONLINE KAMI:

Statistik Blog

  • 215,909 hit

aku suka jalan-jalan

hidup adalah jalan-jalan. jalan-jalan adalah hidup

%d bloggers like this: