Beberapa Ciri Khas Islam Yang Istimewa

Tak Ada Monopoli Kebenaran Hadhrat Mirza Tahir Ahmad ra
Islam mempunyai beberapa ciri yang khas yang istimewa dimana ciri khas pertama dan paling menarik adalah bahwa Islam tidak mendakwakan mernpunyai rnonopoli kebenaran, dan bahwa tidak ada kebenaran dalam agama-agama lain. Tidak pula ia mendakwa bahwa bangsa Arab saja yang telah rnenjadi penerima kasih sayang Tuhan. Islam merupakan satu satunya agama yang secara total rnenolak pandangan bahwa kebenaran merupakan monopoli dari suatu agarna, ras atau masyarakat tertentu; bahkan, ia mengakui bahwa petunjuk Ilahi adalah satu anugrah umum yang telah menghidupi urnat manusia di segala zaman. Al-Qur’an memberitahu kita bahwa tak ada satu ras atau masyarakat, yang tidak diberkati dengan anugerah petunjuk Ilahi, dan tidak pula ada kawasan di bumi ini atau pun sekelompok masyarakat yang tidak menerima (diutus) nabi-nabi dan rasul-rasul Tuhan 5:35). Berlawanan dengan seluruh pandangan dunia ini Islam mengakui perwujudan Anugrah Allah atas semua orang dibumi ini, kita dikuatkan dengan kenyataan bahwa tidak ada kitab atau agama lain mengakui atau bahkan rnenyebutkan kemungkinan orang-orang dan kaum-kaum lain telah menerima cahaya dan petunjuk dari Allah pada suatu babak dalam sejarah. Sebenarnya, kebenaran dan keabsahan agama setempat atau kedaerahan sering begitu besar ditekankan, dan kebenaran agama-agama lain diabaikan secara total, seakan-akan Tuhan menjaga hanya satu agama, satu kaum dan satu ras saja, mengasingkan seluruh penghuni lain dari bumi ini seakan-akan matahari kebenaran hanya terbit dan terbenam pada cakrawala terbatas dari satu kaum tertentu [maka] untuk dunia selebihnya, katakanlah, dilupakan dan dikutuk dalam kegelapan abadi. Misalnya, Al-kitab (Bibel) hanya mengemukakan Tuhan bangsa Israel, dan ia secara berulang-ulang mengatakan: “Maka beberkatlah Tuhan, Allah orang Israel.” (Tawarikh 16:36). Ia tidak mengakui, bahkan secara sambil lalu, kebenaran wahyu agama-agama yang diberikan kepada negeri-negeri dan kaum-kaum lain. Maka, kepercayaan Yahudi bahwa para nabi Bani Israil saja yang diutus kepada suku-suku bangsa Israel adalah sepenuhnya sesuai dengan maksud dan pesan Al-kitab (Bibel). Nabi Isa juga menyatakan bahwa kedatangan beliau dimaksudkan untuk petunjuk suku suku Ibrani saja, dan telah bersabda, “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang sesat dan umat Israel” (Matius 15:24), dan beliau menasihati murid-murid beliau dengan kata-kata: “Jangan berikan kepada anjing barang yang suci, dan jangan memberikan mutiara kepada babi. “(Matius 7:6).
Sarna halnya, agama Hindu juga menisbahkan dalam kitabnya hanya kepada orang-orang dari golongan tinggi. Dikatakan, “Jika seorang dari golongan rendah (sudra) kebetulan mendengar satu kalimat dari Weda, Raja hendaklah menutup telinganya dengan lilin dan timah cairo Dan dia yang membaca sebagian dari kitab suci, lidahnya harus dipotong; danjika dia terus membaca Weda, tubuhnya harus dipotong-potong.” (Gotama Smriti: 12).
Bahkan jika kita tak mengakui pernyataan-pernyataan berlebih-Iebihan seperti itu, atau menyodorkan beberapa penjelasan yang lebih sederhana dari pada mereka, kenyataannya tetap bahwa kitab kitab suci berbagai agama, bahkan dengan isyarat, tidak menyinggung kebenaran agama-agama dari negeri-negeri dan kaum kaum lain. Masalah pokok yang timbul di sini adalah, bahwa jika seluruh agama ini ternyata benar, maka apa hikmah menyajikan konsep Tuhan dalam istilah yang demikian ketat dan terbatas? Al-Qur’an siap menyediakan pemecahan masalah ini. Ia mengatakan bahwa bahkan sebelum pewahyuan Al-Qur’an dan kedatangan Nabi Suci Muhammad (s.a.w.), Utusan-utusan Ilahi sungguh telah diutus kepada setiap bangsa dan setiap bagian bumi, tapi lingkup mereka adalah kedaerahan dan tugas mereka terbatas zamannya. Ini karena peradaban umat manusia belum mencapai tahap perkembangan yang memanfaatkan pengutusan seorang rasul universal, yang membawa pesan universal.

SebuahAgama Universal
Lembaran paling awal dari Al-Qur’an Suci memuji Tuhan Yang adalah Pemelihara seluruh dunia, dan dalam ayat-ayat terakhirnya mendorong kita untuk berdo’a kepada Tuhan manusia. Maka, kata-kata dari Al-Qur’an Suci yang awal dan yang akhir kedua-duanya menyajikan konsep keutuhan semesta, dan tidak [mengenai] Tuhan dari bangsa Arab atau orang-orang Muslim belaka. Sesungguhnya, tak seorang pun sebelum Nabi Suci Islam (s.a.w) telah mengisyaratkan seluruh umat manusia, dan tak sebuah kitab pun sebelum Al-Qur’an Suci telah merujuk pada seluruh dunia. Pertama pendakwaan seperti itu dibuat dalam menyokong Nabi Suci Islam (s.a.w.) dalam kata-kata: “Dan tidaklah Kami utus engkau melainkan sebagai pembawa kabar suka dan pemberi peringatan untuk seluruh umat manusia, tapi kebanyakan man usia tidak mengetahui.” (34 : 29). Dan kemudian, “Katakanlah ‘Wahai manusia, sesungguhnya aku adalah seorang rasul Allah untuk kamu sekalian” (7: 159).
Dan ketika Al-Qur’an menyebut dirinya “sebuah pesan untuk seluruh dunia” (81 : 28), ia mengangkat dirinya sebagai petunjuk yang dihubungkan dengan perkembangan dan manfaat manusia yang sejati.
Al-Qur’an secara berulang-ulang telah disebut sebagai ‘Pembukti’ kitab-kitab lain dan kaum muslimin diwajibkan untuk mempercayai semua nabi lain dengan cara yang tepat sama dengan mereka mempercayai nabi mereka sendiri. Dalam keimanan kita, adalah terlarang untuk membuat perbedaan di antara mereka, mempercayai sebagian dan mengingkari sebagian yang lain. Al-Qur’an mengatakan: “[Kami] semua beriman kepada Allah, dan malaikatmalaikat-Nya, dan kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya [serta] berkata, ‘Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara rasul-rasul-Nya’.” (2: 286).
Tidak boleh tanpa guna untuk menerangkan jika ke-universalan itu sendiri adalah satu ciri khas yang dapat diharapkan, dan mengapa Islam telah meletakkan tekanan yang demikian besar terhadapnya. Bahkan sejak Islam membawa pesan persatuan umat manusia, derap langkah ke arah persatuan seperti itu telah terus dipercepat pada setiap lapisan. Sebuah contoh dari langkah ini di zaman kita adalah berdirinya berbagai badan dan persatuan antar bangsa. Sesungguhnya, hal ini merupakan tonggak-tonggak sepanjang peIjalanan yang panjang dan berliku liku ke arah persatuan di kalangan seluruh umat manusia. Maka, keperluan yang dirasakan secara tajam oleh masyarakat yang maju dan beradab hari ini, telah digenapi dengan penanaman benih pemenuhannya dalam pesan Islam 1400 tahun yang lalu. Hari ini, tentunya, perkembangan perjalanan dan perhubungan yang cepat telah memberikan satu daya dorong baru yang bergerak ke arah persatuan di kalangan kaum-kaum dan bangsa-bangsa.

Perbedaan Dan Pertentangan Di AntaraAgama-Agama Hakikatnya
Satu pertanyaan yang timbul adalah; jika seluruh agama sebenarnya didirikan oleh para utusan dari Tuhan, maka mengapa ada perbedaan-perbedaan dalam ajaran-ajaran mereka? Dapatkah Tuhan yang sarna menurunkan ajaran-ajaran yang berbeda? Pertanyaan ini dijawab oleh Islam saja, dan hal ini, juga, merupakan satu ciri khas istimewa dari agama ini. Islam berpegang bahwa ada dua penyebab dasar perbedaanperbedaan antara berbagai agama. Pertama, bahwa keadaan-keadaan berbeda menghendaki ketentuan dan aturan yang berbeda, dan Tuhan Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana telah menyediakan petunjuk untuk zaman, kawasan dan kaum-kaum yang berbeda menurut keperluan-keperluan mereka masing-masing. Kedua, kandungan kandungan [ajaran] berbagai agama memudar dan layu di bawah pengaruh zaman, sehingga ajaran-ajaran itu tidak tampil dalam bentuk aslinya. Dalam beberapa hal, para pengikutnya sendiri mernperkenalkan bid’ah-bid’ah (tambahan-tambahan) dan perubahan-perubahan untuk rnenyesuaikan diri dengan keperluan-keperluan yang berubah, dan kitab-kitab yang asalnya diwahyukan terus dicampur tangani untuk tujuan ini. Secara nyata, penodaan pada Pesan Ilahi semacam itu akhirnya memerlukan petunjuk yang segar (baru) dari Sumber Asli. Sebagaimana Tuhan telah berfirman dalam AI-Qur’an: “Mereka menyelewengkan kalimat-kalimat dari tempat-tempat yang selayaknya dan telah melupakan bagian yang baik yang dengannya mereka dinasihati.” (5: 14).

Jika kita uji sejarah perbedaanperbedaan antara berbagai agama dengan cahaya prinsip-prinsip yang diterangkan oleh Al-Qur’an, kita jumpai bahwa perbedaan perbedaan cenderung berkurang sebab kita menuju lebih dekat ke sumbernya sendiri. Misalnya, jika kita batasi perbandingan ajaran Kristen dan Islam hanya pada kehidupan Yesus (Nabi Isa) dan empat kitab Injil, maka hanya akan tampak perbedaan perbedaan yang sangat kecil (sedikit) antara ajaran-ajaran pokok Al-kitab (Bibel) dan AlQur’an. Tapi, karena kita melangkah lebih jauh dalam perjalanan zaman, jurang perbedaan-perbedaan ini menjadi lebih lebar dan makin lebar, hingga hal itu rnenjadi tak terjembatani secara total dan semua karena usaha-usaha manusia untuk mengubah apa yang awalnya diwahyukan. Sejarah agama agama lain juga mengungkapkan kenyataan yang pada dasarnya sama, dan kita menjumpai bukti-bukti kuat dari pandangan Al-Quran, yang menunjukkan perubahan dan campur tangan manusia pada Pesan Ilahi, yang selalu berupa dari penyernbahan kepada Satu Tuhan rnenjadi lebih dari satu, dan dari kenyataan menjadi khayalan, dari kemanusiaan menjadi pendewaan rnanusia.
Al-Quran memberi tahu kita bahwa cara yang paling pasti untuk mengenali kebenaran agama, meskipun nyata kekurangannya, adalah menguji asal rnulanya. Jika asalnya mengungkapkan ajaran keesaan Tuhan, tidak menyembah kecuali kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta kepedulian sejati dan ikhlas kepada seluruh umat manusia, maka agama seperti itu, walaupun nyata-nyata berubah, mesti diterima (diakui) sebagai [agama yang] benar. Para pendiri (pembawa) agama yang memenuhi persyaratan ini, adalah benar benar wujud suci dan saleh, serta utusan utusan sejati yang diutus oleh Tuhan, di antara mereka kita hendaknya tak membuat perbedaan dan terhadap mereka kita wajib beriman sepenuhnya. Mereka mempunyai tanda-tanda dasar yang pasti untuk semua tanpa memandang perbedaan zaman dan tempat. Maka uraian Al-Qur’an Suci:
Dan mereka tidak diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah, dengan ikhlas kepada- Nya dalam ketaatan, dan lurus, dan mendirikan shalat, dan membayar zakat. Dan itulah agama <em>kaum yang menempuh jalan yang lurus
Terjemahan: Dan mereka tidak diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah, dengan ikhlas kepada- Nya dalam ketaatan, dan lurus, dan mendirikan shalat, dan membayar zakat. Dan itulah agama kaum yang menempuh jalan yang lurus. (98:6).

Sebuah Agama Abadi
Satu ciri khas istimewa Islam lainnya adalah, bahwa ia tidak hanya mendakwakan ciri khas universalnya, tapi juga adalah abadi, dan kemudian ia selanjutnya memenuhi syarat pendakwaan seperti itu. Misalnya, sebuah pesan dapat menjadi abadi hanyajika ia lengkap dan sempurna dalam segala segi, danjuga dijamin dengan pemeliharaan untuk kemurnian isi kandungannya. Dengan kata lain, kitab yang diwahyukan itu hendaklah membawa jaminan Ilahi perubahan dan campur tangan manusiawi. Sejauh hubungannya dengan ajaran Al-Quran, Allah Ta’ala Sendiri menyatakan dalamAl-Quran:
Hari ini Aku telah sempurnakan bagi kalian agama kalian, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku atas kalian, dan telah Aku ridhai bagi kalian Islam sebagai agama.” (5:4).

Pemeliharaan Al-Qur’an
Seperti telah saya katakan, untuk satu ajaran yang abadi, hal itu tidak cukup bahwa ia harus lengkap dan sempurna belaka, melainkan hendaklah ada juga satu jaminan untuk penjagaannya yang terus-menerus dalam bentuk aslinya. Al-Qur’an memenuhi tuntutan mendasar ini, dan Dia Yang menurunkan Al-Quran telah menyatakannya dalam bahasa yang sejelas-jelasnya:
Sesungguhnya Kami-lah yang telah menurunkan kitab ini dan sesungguhnya Kami menjadi Penjaga baginya.” (15: 10).
Dengan kata lain, Tuhan Sendiri akan menjaganya dan tak akan pernah membiarkannya dicampur tangani. Satu cara pemeliharaan teks telah diadakan, yang sesuai dengan Kehendak llahi, telah selalu ada ratusan ribu orang di sepanjang masa yang menetapkan teks Al-Qur’an untuk dihafalkan, dan amalan ini berlanjut hingga hari ini. Dan cara pemeliharaan yang prinsip ini benar-benar penting dan isi kandungan pesan itu telah menjadi sunnah Ilahi dengan mengangkat Para Pembimbing dan Mujaddid di setiap abad, dan menubuatkan kedatangan seorang Mujaddid dan Pembaharu Agung di akhir zaman. Beliau diutus sebagai pemimpin ruhani oleh Allah Ta’ala Sendiri dan di bawah petunjuk Ilahi, adalah untuk menyelesaikan perbedaan-perbedaan dan persengketaan di kalangan para pengikut Islam, dengan demikian menjaga ruh Al-Qur’an Suci yang hakiki.
Tentu saja, ada persoalan mengenai apakah pendakwaan Al-Quran tentang pemeliharaannya juga disokong oleh bukti nyata yang dapat dipercaya.
Satu petunjuk untuk menjawab pertanyaan ini terletak pada kenyataan bahwa ada sejumlah besar peneliti non Muslim yang, walaupun mereka (lakukan) sendiri, telah gagal total untuk menunjukkan bahwa teks Al-Qur’an telah dicampur tangani sedikit pun sesudah wafatnya Nabi Suci Islam (s.a.w.). Sebenarnya, ada banyak peneliti non Muslim yang telah merasa terdorong, sesudah penelitian luas mereka di bidang ini, untuk mengakui secara terbuka bahwa Al-Qur’an sungguh telah terpelihara dan terjaga dalam bentuknya yang asli. Misalnya, Sir William Muir dalam karyanya, The Life. Of Muhammad, berkata: “Kita boleh, berdasarkan dugaan terkuat, yakin bahwa setiap ayat adalah susunan yang asli dan tak berubah dari Muhammad sendiri.” (P. XXVIII) Juga, “Sebaliknya ada setiap penjagaan, luar dan dalam, bahwa kita memiliki teks yang Muhammad sendiri berikan dan gunakan.” (P. XXVII) Kata Noldeke: “Sedikit kesalahan tulis mungkin ada, tapi AI-Qur’an dari Usman mengandung tak lain dari pada unsur-unsur asli, meskipun kadang-kadang dengan cara yang sangat aneh. Usaha-usaha para cendekiawan Eropa untuk membuktikan adanya tambahan-tambahan kemudian dalam AI-Qur’an telah gagal.” (Enc.. Brit. 9th Edition under the word: Quran).

SebuahAgama YangSempurna
Sehubungan dengan keistimewaan Islam dan pendakwaannya yang khas bahwa ajaran Al-Qur’an adalah lengkap dan sempurna dan sepenuhnya sesuai untuk menuntun manusia di segala zaman, hal ini, juga, disokong dengan dalil. Tidak mungkin dalam waktu yang singkat untuk membahas masalah ini secara rinci, dan saya terpaksa membatasi diri dengan satu rujukan ringkas pada beberapa petunjuk prinsip dasar dan contoh gambaran. Pertama, kita harus mengakui betapa Islam berhasil memenuhi tuntutan-tuntutan perubahan zaman, maka tidak perlu suatu perubahan dalam ajaran-ajarannya. Hal itu sungguh mengagumkan untuk mengkaji petunjuk praktis Islam dalam hubungan ini, yang darinya kini saya akan berikan satu contoh belaka di hadapan saudara-saudara:
1. Hanya Islam yang mengajarkan prinsip prinsip dasar dan menghindarkan penjelasan terperinci sebab akan memerlukan banyak [keterangan] untuk mengatasi perubahan zaman dan suasana.
2.Islam sepenuhnya sesuai dengan evolusi akal, kemasyarakatan dan politik manusia, dan ajaran-ajarannya memenuhi untuk segala suasana. Ia tidak hanya mengakui kenyataan bahwa terjadi perubahan dan perkembangan terus menerus di kalangan bangsa-bangsa, melainkan juga kenyataan bahwa tidak semua kaum tetap dalam keadaan perkembangan mereka pada suatu masa. Misalnya, adalah mungkin bahwa bumi ini masih ada bagian yang dihuni oleh masyarakat Zaman Batu, dan sebagian kaum dan suku mungkin masih berada seribu tahun di belakang zaman kita, bahkan meskipun kita mengalami zaman yang sama. Akal, sosial dan politik mereka mungkin berasal dari zaman yang jauh di belakang. Saya yakin kita semua akan setuju bahwa akan sangat bodoh untuk memaksakan ideologi politik modern kepada penduduk asli Australia, atau Pigmi di Kongo (Afrika).
3.Islam adalah satu agama yang menentramkan fitrat manusia dan memenuhi segala keperluan umat manusia. Tak perlu ada perubahan dalam ajaranajarannya, jika tidak ada juga perubahan mendasar dalam fitrat manusia, sebuah prospek yang dapat kita tolak sam a sekali. Inilah beberapa segi dari prinsip-prinsip ajaran Islam; saya kini akan membahasnya agak lebih jauh supaya penyajian saya boleh dipahami lebih banyak.

Zakat Vs Riba
Islam mengutuk lembaga riba (uang bunga) dalam segala bentuknya dan secara kuat mendorong penghapusannya secara keseluruhan. Dengan dorongan kuat ia menyediakan pengganti riba, untuk menggerakkan roda ekonomi, yang disebut zakat. Secara jelas, saya tidak dapat menjelaskan masalah ini dengan rinci dalam waktu yang tersedia, dan oleh sebab itu, hanya akan mengatakan beberapa patah kata atas dasar yang diambil oleh AI-Quran untuk menyajikari inti sari dari ajaran-ajarannya pada kesempatan penting ini. Zakat adalah satu sistem modal pajak, diwujudkan (diambil) dari orang-orang kaya. Selain dari memenuhi keperluan-keperluan negara, pajak ini dimaksudkan untuk memenuhi keperluan-keperluan kaum miskin. Dengan kata lain, sistem ini bukan hanya memenuhi tuntutan-tuntutan kerja pemerintah, melainkan juga menjamin pemenuhan tuntutan keperluan kesejahteraan sosial. Semua itu telah dikeIrakan untuk meletakkan prinsip dasar, meninggalkannya kepada mereka dengan pengertian dan pemahaman untuk menetapkan perinciannya sesuai dengan keadaan yang timbul pada waktu yang ditetapkan. Al-Qur’an mengatakan bahwa dalam harta kekayaan mereka yang memiliki lebih banyak dari pada keperluan-keperluan pokok mereka, juga ada bagian untuk mereka yang tidak mampu memenuhi keperluankeperluan pokok mereka dan dianggap tertekan dalam lingkungan mereka. Ini secara jelas menguatkan bahwa merupakan hak setiap orang untuk mendapatkan keperluankeperluan dasar hidup tertentu yang disediakan untuknya di setiap kawasan dan masyarakat, dan mereka yamg bertanggung jawab untuk memenuhi kewajiban ini adalah orang-orang yang memiliki lebih dari pada keperluan-keperluan pokok mereka, menyerahkan kepada negara untuk memutuskan pelaksanaannya, yang menjamin bahwa sistem itu seimbang, adil serta layak dan secara memadai memenuhi tujuan pokoknya.

Petunjuk-petunjuk Dalam Masalah Politik
Persoalan besar internasional lainnya yang kita hadapi hari ini adalah penetapan bentuk pemerintahan yang diberikan untuk satu kawasan atau Negara. Di sini, juga, prinsip-prinsip petunjuk Islam adalah begitu berkaitan, berbobot dan luwes (tidak kaku) sehingga kebenaran dan pengamalannya sendiri menjadi bukti nyata. Tak seorang pun dapat mengingkari bahwa satu bentuk pemerintahan tertentu dipertimbangkan sesuai atau tak sesuai hanya apabila diterapkan keadaan-keadaan tertentu, adalah khayalan untuk memikirkan bahwa satu sistem politik tertentu dapat memenuhi keperluan-keperluan setiap kaum untuk segala zaman. Inilah sebabnya mengapa Islam tidak mengkhususkan satu bentuk pemerintahan tertentu. Ia tidak menyajikan bentuk demokrasi atau sosialis, tidak pula mengusulkan kerajaan atau diktator. Bahkan memperluas cara-cara pemerintahan yang berdiri, Islam menerangkan prinsip pelaksanaan urusan-urusan politik dan pemerintahan dengan carayang khas, dan menentukan syarat bahwa, tak masalah apa pun bentuknya, tanggung jawab pemerintah akan selalu diwajibkan dengan [bertindak] secara adil dan wajar, dengan simpati; selalu memenuhi dan menjunjung hak-hak asasi manusia. Maka, AI-Qur’an dari pada menekankan bagian pertama definisi demokrasi yang diterima secara umum, yakni, “pemerintahan oleh rakyat:, Islam menekankan bahwa, apa pun bentuk pemerintahan, ia wajib dalam semua kejadian adalah: untuk rakyat.” Maka apabila demokrasi disebutkan di antara bentukbentuk pemerintahan yang sungguh-sungguh menekankan kualitasnya. Ditekankan bahwa itu hendaknya tidak merupakan satu demokrasi palsu, tapi seharusnya bahwa, orang-orang yang dipilih [jadi] pemimpin mereka adalah orang-orang yang mampu, berniat dengan segal a kejujuran untuk memilih hanya mereka yang benar-benar layak dan mampu bertugas. Hal ini telah dijadikan prasyarat untuk pemilihan satu jabatan oleh Al-Qur’an. Dikatakan:
Sesungguhnya, Allah memerintahkan kalian untuk menyerahkan amanat kepada yang berhak menerimanya dan ketika kalian memutuskan di antara manusia maka putuskanlah dengan adil.” (4:59). Dan kemudian, apa pun hasil pemerintahan yang mungkin berdiri, ia berkewajiban untuk memerintah dengan adil, tanpa membedabedakan ras, warna kulit, atau keturunan.
Kini saya akan menyimpulkan secara singkat aturan-aturan yang berasal dari dasar-dasar yang diberikan dalam Al-qur’an mengenai sistem pemerintahan:
1.Suatu pemerintahan terikat kewajiban untuk melindungi kehormatan, kehidupan dan harta benda rakyatnya.1 )
2.Seorang penguasa wajib bertindak dengan adil, di antara pribadi-pribadi dan di antara masyarakat.2)
3.Masalah-masalah kaum hendaknya ditetapkan dengan musyawarah.3)
4.Pemerintah wajib mengatur untuk memenuhi keperluan-keperluan pokok manusia: katakanlah, menyediakan makanan, pakaian dan tempat tinggal.4)
5.Masyarakat hendaklah disediakan lingkungan yang am an dan damai, serta kehidu’pan, harta dan kehormatan mereka dilindungi.5)
6.Sistem ekonomi hendaknya seimbang dan teratur.5)
7.Pelayanan kesehatan hendaknya ditetapkan.5)
8.Hendaklah ada kebebasan agama sepenuhnya.6)
9.Kaum yang ditaklukkan wajib diperlakukan dengan adil.7)
10.Tawanan perang hendaklah diperlakukan dengan cinta kasih.8 )
11.Perjanjian dan persetujuan wajib dihormati. 9)
12.Perjanjian-perjanjian berat sebelah tidak boleh dipaksakan atas pihak yang lemah. 9)
13.Warga-warga Muslim diwajibkan taat kepada pemerintah yang berkuasa. Satu satunya kekecualian untuk aturan ini adalah pada perkara dimana pemerintah secara nyata menentang dan mencegah pengamaIan kewajiban agama. 10)
14.Jika timbul perbedaan dengan penguasa maka hal ini harus dikembalikan dengan berpedoman pada prinsip yang ditetapkan Al-Qur’an dan Nabi Sud (s.a.w.). Tak seorang pun akan diarahkan dengan niat pribadi.11 )
15.Masyarakat digalakkan untuk membantu penguasa dengan menyokong rancangan rancangan yang bertujuan untuk meningkatkan kebaikan dan kesejahteraan umum. Adalah terlarang untuk melancarkan apa yang disebut gerakan nonkoperasi:12). Sarna halnya, pemerintah juga diwajibkan untuk membantu dalam tindakan-tindakan yang bermanfaat, apakah secara perorangan atau kelompok, dan jangan menghalangi usaha usaha semacam itu.
16.Suatu Negara dilarang melakukan tindakan agresi terhadap Negara lain: pengadaan persenjataan diizinkan hanya untuk mempertahankan diri.13)

1.Sesungguhnya, Allah memerintahkan kalian untuk menyerahkan amanat kepada yang berhak menerimanya (QS4:59).
2.Dan jika kalian menghakimi di antara manusia, hakimilah dengan adil (QS 4:59).
3.Dan urusan-urusan mereka diputuskan dengan musyawarah (QS42:39).
4.Sesungguhnya ada [jaminan] bagi engkau bahwa engkau tidak akan kelaparan di dalamnya, tidak pula engkau akan telanjang. Dan engkau tidak akan kehausan di dalamnya, tidak pula engkau akan terkena panas matahari. (QS 20: 119120).
5.Dan ketika dia berpaling [dari engkau], dia berbuat kerusakan di bumi dan menghancurkan ladang dan ternak. Dan Allah tidak menyukai kerusuhanlkerusakan (QS 2:206).
6.Tak ada paksaan dalam agama. (QS 2:257).
7.Dan janganlah kebencian terhadap kaum lain membuat kalian tidak berlaku adil. Berbuatlah adil, sebab adil itu lebih dekatkepada takwa. (QS 5:9).
8.Tidak layak bagi seorang nabi mengambil tawanan perang hingga dia terlibat dalam perang yang sesungguhnya di bumi. (QS 868).
9.Maka sesudah itu bebaskanlah mereka sebagai belas kasihan atau dengan mengambil tebusan hingga perang meletakkan bebannya (selesai). (QS 47: 5).
10.Taatlah kepada Allah dan Rasul dan orang-orang yang memerintah di antara kalian. (QS 4:60).
11.Dan jika kalian berselisih mengenai sesuatu hal, maka kembalilahkepadaAliah dan Rasul-Nya. (QS 4:60).
12.Dan saling menolonglah dalam kebaikan dan takwa. Tapi jangan saling menolong dalam dosa dan pelanggaran. (QS 5:3).
13.Danjbanganlah engkau tujukan pandangan kepada apa yang Kami anugrahkan kepada beberapa golongan dari mereka dari nikmat dunia. (20: 132).

catatan:
Tulisan diatas adalah bagian pertama dan berasal dari naskah ceramah Hadhrat Mirza Tahir Ahmad, Khalifatul Masih IV ra di Canberra, Australia yang kemudian dipublikasikan pada majalah Review of Religions edisi March 1984) diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia oleh Bpk Muharim A

14 Responses to “Beberapa Ciri Khas Islam Yang Istimewa”


  1. 1 J&W May 8, 2008 at 7:15 am

    Kang deden, mau dikirim buku a man of God gak?

    deden
    waah ini namanya tawaran yang sangat istimewa, ya tentu mau dong…
    soalnya kalaupun ada duit, nyari di toko buku di Indonesia mah gak ada yang jual tuh… :mrgreen:
    Jazakumullah

  2. 2 anto May 9, 2008 at 10:43 am

    posting yang sangat menarik.

  3. 3 Suyadi Ngusut October 14, 2014 at 12:44 am

    Wah, sangat luar biasa uraiannya. Perlu untuk diketahui oleh semua.

  4. 4 Sugeng Amzori December 7, 2014 at 9:37 am

    Baru baca artikel semacam ini. Sangat mencerahkan bagi semua orang… Izin untuk nge-print broooo…..

    @den

    silahkan bro

  5. 5 Cak Karwono December 9, 2014 at 8:19 am

    Sudah selesai dibaca. Sungguh lain dari pada yang lain. Sangat bermanfaat…..

  6. 6 Ma'rifatullah March 24, 2015 at 10:26 am

    Teriring salam dari Hatyai, Thailand.

  7. 7 @d3n March 25, 2015 at 2:09 am

    salam juga dari Indonesia

  8. 8 Aminah April 4, 2015 at 7:52 am

    Bagus sekali ya. Makasih artikelnya.

    @d3n:
    terima kasih telah membacanya. Salam

  9. 9 GUE SENDIRI April 17, 2015 at 7:14 am

    IKUT MENYIMAK SAJA DEH…..

  10. 10 Dizul April 18, 2015 at 6:44 am

    Bagus sekali. Sangat ilmiah.

  11. 11 Pembaca Setia April 22, 2015 at 6:28 am

    Siiiip, benar2 baru bagi saya

  12. 12 BUDI April 28, 2015 at 5:09 am

    SEMUA AGAMA BERASAL DARI TUHAN. HANYA UMATNYA YANG MENAMBAH-NAMBAH DAN MENGURANGI AJARAN ASLI PARA NABINYA.

  13. 13 Pengamat June 3, 2015 at 2:20 am

    Sudah saya print semuanya…. thanks banget.

  14. 14 Rozyta August 18, 2015 at 7:14 am

    Benar-benar istimewa cara pembahasannya. Luar biasa.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




AYO BERBELANJA DI TOKO ONLINE KAMI:

Statistik Blog

  • 258,843 hit

aku suka jalan-jalan

hidup adalah jalan-jalan. jalan-jalan adalah hidup

%d bloggers like this: