KEBAHAGIAAN SEJATI

Banyak orang yang percaya bahwa kunci kebahagiaan itu adalah banyaknya uang di bank, mobil mewah, rumah megah dan karier oke. Namun apakah kebahagiaan itu sesungguhnya dapat diukur pada materi atau fisik yang terlintas dalam pikiran semata? Tentu saja tidak.
Telah terjadi peningkatan yang dramatis dalam upaya mencari kebahagiaan seperti mengejar karier, menambah kekayaan, membuat tenar dan banyak hal yang lainnya. Tapi ternyata itu semua menipu diri, karena semakin dikejar malah kita tidak bisa merasakan kebahagiaan itu, malah rasa lelah yang terasa. Sebagaimana telah dibuktikan dengan sangat konsisten setiap hari disibukkan dengan urusan-urusan kantor ataupun dengan urusan duniawi lainnya, bukan membuat tubuh kita sehat justru membangun hidup dengan satu dasar yang dapat merusak kesehatan mental bahkan dapat mengakibatkan depresi dan rasa tertekan. Contohnya, seperti melakukan pekerjaan sampai larut malam, organ tubuh kita menjadi lemah tak bertenaga dan semangatpun hilang. Itu berarti mengganggu kesehatan,bukan?
Di Amerika Serikat banyak orang menjadi lebih kaya dari pada yang sudah sudah. Tetapi hal itu pada dasarnya tidak dapat membuat bahagia. Ini juga berlaku pada negara-negara maju lainnya seperti Jerman dan Cina. Perekonomian tumbuh pesat, tetapi jumlah orang yang tidak bahagiapun meningkat dan tambah banyak, mungkin dari tuntutan lingkungan sekuler yang keras dan kebutuhan hidup yang tinggi. Jadi hal apa yang dapat membawa manusia ke dalam kebahagiaan yang abadi? Sebab harta yang banyak tidak mampu membuat bahagia, begitu juga dengan karier yang sukses. Malah kita merasa terbebani dan merasa tertekan dengan tuntutan-tuntutan yang selalu hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam AI-Qur’an telah diterangkan dengan begitu jelasnya bahwa untuk mencapai kebahagiaan itu adalah dengan bertakwa dan beriman kepada Allah SWT. Serta menerima apa adanya, berkorban dan membelanjakan harta di jalan Allah, mencoba mengekang segala keserakahan duniawi yang berhubungan dengan nafsu, berusaha selalu mensyukuri nikmat-nikmat dan karunia-karunia yang dilimpahkan Pencipta langit dan bumi. Memang bahagia hanya sebuah kata saja, sebab kebahagiaan yang sebenarnya hanyalah semu, karena tidak semua orang dapat merasakannya. Mungkin hanya orang-orang yang telah mencapai kecintaan kepada Tuhannya yang dapat merasakan; sebagai contoh kita ambil dari kehidupan orang yang hidupnya serba ada dan berlimpah, belum tentu dia mendapat kebahagiaan dan dapat menikmati hidangan-hidangan lezat. Tapi mungkin saja seseorang yang hidupnya kekurangan dapat merasakan arti dari bahagia tersebut dengan keikhlasan dan rasa syukur yang dimilikinya. Dia dapat merasakan kebahagiaan dan kenikmatan serta kelezatan makanan yang tidak setiap waktu didapatkan. Tapi kebanyakan manusia ingin selalu lebih dan ingin terus menambah apa yang telah diterimanya. Maka pada akhirnya, hanya keresahan dan ketidak puasan yang didapatkan, bahagia yang didamba malah rasa susah yang diterima. Semoga kita sebagai umat yang telah mendapat petunjuk dan sebagai mukmin mampu mendapat kebahagiaan sejati yaitu dengan mensyukuri apa yang telah didapatkan, ikhlas dengan suratan hidup yang telah digariskan serta dapat menambah keimanan dan ketakwaan untuk mengisi ruhani kita agar tidak begitu terbuai dengan indahnya kemilau dunia yang sebenarnya menjauhkan kita dari Pencipta. Marilah berlomba-Iomba untuk mencari keridhoan-Nya dan mencintai Allah SWT. Agar tercapai kebahagiaan sejati, baik yang dirasakan dalam dunia maupun di akhirat kelak. AminAliahummaAmin!(Anissa Thahirah Sdk, Hongkong, Suara Ahsharullah No.4, 2008)

1 Response to “KEBAHAGIAAN SEJATI”


  1. 1 Marie May 22, 2008 at 5:03 am

    Kalau kita bicara stress karena pekerjaan, pendapat saya masih bisa diatasi kalau kita bisa memanage waktu dengan baik.

    Di Oz sering diberitakan banyak orang mencoba bunuh diri atau diketemukan bunuh diri. Kadang2 tidak hanya bunuh diri sendiri tapi juga membunuh seluruh anggota keluarga (anak & isteri) sebelum bunuh diri sendiri. Setelah ditelaah, ternyata kasusnya karena suami stress berat dengan perceraian yg harus berpisah dengan anak2nya dan akan dijadwalkan kapan bisa ketemu dengan anak2, ditambah lagi suami harus bayar tunjangan utk anak2 yg langsung dipotong oleh perusahaan. Lebih parah lagi, suami harus keluar dari rumah, karena mikirin anak2 harus punya tempat tinggal. Arti kata dia akan kehilangan segala2nya, padahal suami pula yg harus bayar cicilan rumah. Kemarahan akhirnya meledak dengan ambil jalan pintas utk semua, yaitu bunuh semua dan bunuh diri.

    Kasus diatas hanya salah satu contoh, banyak juga diberitakan remaja mencoba bunuh diri karena ketidak bahagiaanya(?), atau stress karena kena cancer yg sudah tidak ada harapan lagi, karena mikirin akan ninggalin anak yg masih kecil2.

    Stress karena tuntutan ekonomi, masih pula dimengerti, tp kalau stress karena pengen banyak maunya, dan tidak ada kesanggupan, menurut saya stress karena dibuat sendiri.

    Kesimpulan saya, kita harus bersyukur & berterima kasih ke gusti Allah setiap saat karena kita masih diberi kesehatan, kekuatan dan diberi kesempatan utk berbuat lebih baik. Umumnya manusia hanya bersyukur & berterima kasih pada saat naik pangkat, ulang tahun.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




AYO BERBELANJA DI TOKO ONLINE KAMI:

Statistik Blog

  • 219,913 hit

aku suka jalan-jalan

hidup adalah jalan-jalan. jalan-jalan adalah hidup

%d bloggers like this: