Masjid tanpa Menara dan Tak Suarakan Azan

KANTOR yang menangani urusan luar negeri jaringan Ahmadiyah -tersebar di 189 negara- itu adalah sebuah bangunan lama yang bersahaja. Seorang petugas sekuriti berdiri mematung di depan pintu masuk. Saat Jawa Pos menghampiri, dia tak mengucapkan assalamualaikum sebagaimana umumnya orang Pakistan saat bertemu orang lain.

Masih dengan wajah yang dingin dan tanpa senyum, dia membaca surat pengantar (dalam bahasa Inggris) dari Jamaah Ahmadiyah Indonesia yang dibawa Jawa Pos. Dia terkesan curiga dengan kehadiran orang asing yang tiba-tiba sehingga meminta penulis kembali esok hari.

Namun, setelah didebat dan diyakinkan dia pun berubah sikap. Apalagi, setelah salah seorang pengurus Ahmadiyah, Shameem Khalid, ikut keluar dari kantornya. Begitu membaca surat pengantar dan membaca identitas Jawa Pos, dia menunjukkan sikap yang ramah.

“Kami sudah tunggu kedatanganmu, kenapa tidak telepon dulu?” kata Khalid lalu mempersilakan masuk.

Di dalam ruangan Khalid lalu berbicara dengan Mansoor Ahmad Khan, pengurus lain. “Kalau satu hari tak akan cukup. Karena itu, silakan menginap. Besok siang kami antar pulang,” pintanya setelah membaca sekilas tujuan Jawa Pos datang ke Rabwah. Penulis menolak karena jadwal penerbangan kembali ke Indonesia keesokan harinya sudah mepet.

Tak mau menyerah, Khalid tetap menawar untuk mengantar di waktu subuh. “Oke, kalau begitu. Nanti setelah makan malam baru pulang. Sekarang istirahat dan mandi dulu,” kata lelaki yang sebagian janggutnya memutih itu.

Rabwah yang terletak di antara pegunungan batu dan Sungai Chenab itu dibangun pada 1948, sejak Pakistan menjadi negara sendiri dan berpisah dari India. Tempat lahir jamaah ini sebetulnya di Qadian yang kini masuk wilayah India.

Kota yang awalnya padang tandus itu terus tumbuh berkembang menjadi kota yang nyaman ditinggali. Bisa dikatakan hampir 98 persen penduduk kota itu adalah Ahmadis.

Dari Lahore, kota besar terdekat, Rabwah bisa ditempuh dengan bus, dilanjutkan menumpang angkutan roda empat (sejenis Colt), dan becak motor (rikshas). Total butuh empat jam perjalanan melintasi jalan berlubang yang penuh debu.

Di lantai satu bangunan itu terlihat ruang makan yang cukup luas dengan tangga menuju lantai dua. Di atas terdapat kamar-kamar penginapan -dulu dipakai mahasiswa asing yang belajar- yang kini khusus disediakan untuk para tamu. Saat Jawa Pos di sana, ada dua mahasiswa -dari Nigeria dan Bangladesh- sedang belajar berkhotbah.

Secara umum tempat itu sangat bersih untuk standar Pakistan. Di dalamnya ada kamar mandi dengan shower air hangat yang mengucur. Mansoor lalu menyela, “Setengah jam lagi kita keliling Rabwah.”

Dari jendela kamar tampak bangunan kecil seperti masjid. Namun, sore itu, kendati waktu asar telah bergulir, tak terdengar azan dari masjid itu. Tempat-tempat salat di seantero Rabwah memang tak pernah mengumandangkan azan. Kalaupun ada azan yang mampir ke telinga, itu dari dua masjid di luar Ahmadiyah yang berada di seputar Rabwah.

Berbagai pembatasan terhadap jamaah yang memercayai Mirza Ghulam Ahmad sebagai mujadid dan imam mahdi itu dilakukan pemerintah Pakistan sejak masa Presiden Zia ul-Haq pada 1977 hingga 1988. Pemerintah menyatakan Ahmadiyah bukan Islam karena itu tidak boleh menggunakan tata cara Islam. Tak hanya azan, tempat ibadah mereka juga dilarang menggunakan menara-menara tinggi sehingga menyerupai masjid.

Mereka juga dilarang bepergian haji ke Makkah dan diharuskan mencantumkan agama mereka, Ahmadiyah, di paspor Pakistan. “Hanya kami orang di Pakistan yang harus mencantumkan agama di dalam paspor,” tambah Mansoor.

Ibarat warga negara kelas dunia, hak politik pun tak diberikan. Karena itu, mereka tak terlibat dalam hiruk-pikuk pemilu tingkat national assembly yang berlangsung 9 Februari lalu.

Yang mengenaskan, ketahuan mengucapkan assalamualaikum bisa membawa petaka. “Jika kami mengucapkan salam, dan kamu melaporkan kami kepada polisi, kami akan divonis minimal satu tahun. Kami memang dilarang mengucapkan salam,” sambungnya.

Setelah mendapat penjelasan ini, Jawa Pos jadi paham mengapa penjaga di depan gerbang begitu berhati-hati menerima kedatangan tamu.

Kata “Rabwah” antara lain terdapat dalam Surat Al-Baqarah ayat 265 yang berarti dataran tinggi. Namun, sejak 1998 oleh DPRD Punjab, kota ini diganti nama menjadi Chenab Nagar yang tidak mengikuti aspirasi Ahmadis. Makanya, tak semua orang di Pakistan akrab dengan kata Rabwah seperti saat koran ini bertanya kepada penduduk di Mansehra yang terletak di North Western Frontier Province atau sekitar 12 jam menumpang bus dari Rabwah.

Kendati hidup serba terbatas, Ahmadis tak surut langkah. Mereka, dengan dana yang bersumber dari jamaah, terus berkembang sebagaimana tecermin di Rabwah. Di Rabwah yang luasnya sekitar 3 x 2 km persegi terdapat sejumlah fasilitas yang mumpuni.

Mulai rumah sakit yang diangap salah satu yang terbaik di Pakistan seperti Tahir Heart Institute Hospital, institut, sekolah, pengolahan roti, pasar, koran lokal, kolam renang dan berbagai lokasi olahraga, pemadam kebakaran, serta berbagai bank Pakistan juga membuka cabang di sana.

Juga ada Bihishti Maqbra yang artinya kuburan surga. Di makam itu terbaring beberapa tokoh Ahmadiyah. Misalnya, satu-satunya muslim peraih Nobel Prize Fisika Abdus Salam dan menteri luar negeri pertama Pakistan Chaudhry Sir Muhammad Zafrulla Khan. Namun, penjaga makam melarang untuk mengambil foto di dalam makam.

Selama Jawa Pos di sana memang sempat terdengar azan isya. Namun, suara itu bisa dipastikan bukan dari masjid milik Ahmadiyah yang berprinsip tak pernah melawan kekerasan dengan kekerasan.

Mereka juga masih berharap suatu saat khilafa mereka, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, yang menjabat khalifatul massih V, bisa kembali lagi ke Rabwah. Saat ini pemimpin jamaah Ahmadiyah itu bermukim di Inggris. Malam pun menjelang.

Tiga jam berkeliling, namun belum semua tempat di Rabwah bisa dikunjungi. “Makanya, seharusnya Anda menginap,” kata Mansoor yang tak ingin pergi dari Pakistan kendati penuh pembatasan itu.

Malam itu Jawa Pos dilepas dengan sajian khusus: nasi putih, kari ayam, teh Pakistan (campuran teh dan susu), serta setandan pisang. Khalid lalu menitip pesan. Dia menganggap Indonesia dan Turki, dua negara Islam yang besar, sebagai negeri keduanya.

“Tolong sampaikan, Pakistan tak pernah aman dikoyak konflik sejak mereka mencampuri urusan agama. Jangan sampai Indonesia jadi seperti itu,” katanya. (el)

courtesy Indo Pos Online

4 Responses to “Masjid tanpa Menara dan Tak Suarakan Azan”


  1. 1 Marie May 25, 2008 at 12:54 am

    Bicara tidak ada azan pada saat waktu sholat, di Oz pun tidak ada azan yg dilakukan oleh setiap mesjid, dan yg saya tahu salah satu alasan karena suara dari microphone akan mengganggu lingkungan sekitar (berisik gituu), jadi dari pada di komplain oleh penduduk setempat, lebih baik umat Islam yg hendak sembahyang jum’at misalnya, harus tahu waktu saja, tidak harus dipanggil. Yg penting kesadaran panggilan sholat harus dari dalam hati.

    quote:
    “Tolong sampaikan, Pakistan tak pernah aman dikoyak konflik sejak mereka mencampuri urusan agama. Jangan sampai Indonesia jadi seperti itu,” katanya. (el)

    jawab: Insya Allah tidak akan terjadi.

  2. 2 Silvie May 26, 2008 at 5:21 am

    Rabwah dulunya adalah salah satu kota padang tandus&gersang,karena ahmadiyya dianggap diluar Islam oleh pemerintah pakistan maka bagi warga ahmadi yg ada di pakistan mereka di asingkan ke suatu kota/daerah yg padang tandus dan gersang yakni rabwah,namun apa yg terjadi setelah kota itu di tempati warga ahmadi justru sekarang kota tsb yg awalnya padang tandus dan gersang berkat pertolongan Allah sekarang justru menjadi kota yg nyaman untuk ditempati.itu merupakan salah satu bukti kebenaran pertolongan dari Allah.

  3. 3 amirmubarak May 31, 2008 at 1:09 am

    wah betul itu silvi..memang di asingkan di luar daerah kota pakistan…

  4. 4 benazio June 10, 2008 at 10:39 am

    kalo ahmadiyah adzannya gimana yah ? kata2nya diganti dong yah? ngohoho

    komen:
    sesukamu lah rek…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




AYO BERBELANJA DI TOKO ONLINE KAMI:

Statistik Blog

  • 216,092 hit

aku suka jalan-jalan

hidup adalah jalan-jalan. jalan-jalan adalah hidup

%d bloggers like this: