Hari yang Sangat Menentukan

Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih V aba27 Mei 1908, 1 abad lalu, adalah hari yang amat penting bagi peradaban umat rnanusia, dan hari yang paling menentukan dalam sejarah kemajuan Islam di akhir zaman. Pada hari itu zahirlah qudrat kedua berupa Khilafat Ahmadiyah, ketika Hadhrat Maulana Haji Hakim Nuruddin ra. terpilih menjadi Khalifatul Masih I, pemimpin dan penerus missi ruhani Hadhrat Masih Mau’ud as. Berikut adalah cuplikan dari tulisan Zafrullah Khan mengenai peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam beberapa hari sebelum dan di waktu pemilihan Khalifatul Masih I.
Meskipun Hadhrat Masih Mau’ud as. telah mendapat kabar bahwa kehidupan beliau menuju kepada akhirnya, dan beliau telah membuat wasiyat, mengadakan pekuburan serta mengatur Sadr Anjuman Ahmadiyah, beliau tidak berpangku tangan dan memandang perkara dengan santai. Pada 1905, beliau telah melampaui usia 70 tahun dan kesehatan beliau telah mengalami penurunan akibat usia lanjut. Namun karena kesibukan yang seluruhnya ditujukan pada pengabdian terhadap Tuhan dan umat manusia, beliau tetap melanjutkan pekerjaan beliau dengan semakin giat sehingga memberikan kesan bahwa beliau seolah-olah bekerja keras menentang waktu. Kemajuan pesat Jamaat Ahmadiyah menambah lagi pekerjaan dan tanggung jawabnya, sehingga tekanan terhadap beliau bukannya menjadi ringan, malah sebaliknya makin bertambah berat seiring berjalannya waktu.
Pada bulan April 1908, keadaan kesehatan beliau serta isteri beliau sendiri meminta perhatian sehingga beliau memutuskan pergi ke Lahore untuk berobat. Sebelum keputusan (berobat ke Lahore) itu diambil, beliau meminta puteri beliau Nawab Mubarak Begum untuk berdo’a memohon petunjuk Allah Ta’ala perihal keputusan tersebut. Puteri beliau melaksanakan permintaan itu dan berdo’a. Sebagai jawaban atas do’a itu, puteri Hadhrat Masih Mau’ud as. melihat dalam mimpi, bahwa Hadhrat Maulana Haji Hakim Nuruddin sedang duduk di kamar atas dengan sebuah kitab di tangannya sembari berkata kepadanya, “Kitab ini berisi wahyu-wahyu yang diterima Hadhrat yang mulia mengenai diriku. Aku adalah Abu Bakar”. KarenaSayyidina Abu Bakar adalah Khalifah pertama Y. M Rasulullah saw, maka jelaslah mimpi itu adalah petunjuk bahwa Maulana Hakim Nuruddin akan menjadi Khalifah pertama dari Hadhrat Masih Mau’ud as., dan bahwa kewafatan Hadhrat Masih Mau’ud as. sedang mendekat. Mubarakah Begum menceritakan mimpinya tersebut kepada ayahanda, yang memperingatkan beliau untuk tidak menceritakannya kepada ibunda.
Beliau telah menetapkan tanggal 27 April sebagai hari keberangkatan beliau ke Lahore. Pagi-pagi benar tanggal 26 April, Hadhrat Masih Mau’ud as. menerima kabar ghaib dalam bahasa Parsi: “Janganlah merasa aman terhadap peluang-peluang permainan waktu” Hal ini beserta petunjukpetunjuk lainnya menimbulkan kesan dalam pikirannya bahwa beliau mungkin akan wafat di Lahore. Meski demikian, beliau tetap memutuskan untuk berangkat sesuai rencana, dan meninggalkan Qadian pagi-pagi tanggal 27 April. Beliau beristirahat sehari di Batala, dan tiba di Lahore pada tanggal 29 April, kemudian menginap di Gedung Ahmadiyah di Jalan Brandreth, mula-mula di bagian milik Khawaja Kamaluddin dan kemudian pada tanggal 9 Mei pindah ke kamar sebelah milik Dr. Sayyid Muhammad Husain, setelah menerima kabar ghaib dalam bahasa Arab “Sudah saatnya pindah, sekali lagi, sudah saatnya pindah”. Berliau menyadari apa maksud wahyu itu sebenarnya, tetapi sebagaimana• biasanya, beliau juga melaksanakan hal itu secara nyata.
Di Lahore beliau bahkan lebih sibuk lagi daripada di Qadian, karena setiap hari terus berdatangan para tamu dari kaum Muslimin dan non-Muslim. Beliau dengan bermurah hati memberikan waktu serta perhatiannya kepada mereka. Di antara tamunya itu ada Prof Clement Rigg, ahli Astronomi asal Inggris, yang beliau beri kesempatan bertukar pikiran pada tanggal 12 dan 18 Mei, waktu mana dipergunakan Profesor itu untuk menyampaikan banyak pertanyaan yang bersifat filosofis juga ilmiah dan ia sangat puas oleh jawaban-jawaban yang diterimanya. Akhirnya ia masuk Jamaat Ahmadiyah dan menjadi Muslim yang mukhlis selama sisa hidupnya. Beliau terus mengadakan surat-menyurat dengan Dr. Muhammad Sadiq hingga akhir hayatnya.
Pad a 17 Mei, Hadhrat Masih Mau’ud as menerima wahyu dalam bahasa Parsi:
“Jangan curahkan kepercayaanmu kepada kehidupan fana”. Pada hari itu beberapa orang Muslim terkemuka dari Lahore diundang untuk mengadakan pertemuan dengan beliau. Beliau menyampaikan pidato kepada mereka dari pk.11.00 hingga 1300, dan kemudian mereka dijamu makan siang bersama beliau. Mereka sangat terkesan dengan pidato beliau yang sungguh ilmiah itu, dimana antara lain beliau as. menerangkan: “Aku mendakwakan diri, bahwa Tuhan telah mengutusku untuk memperbaiki korupsi yang kini sudah sang at meluas. Aku tidak dapat menyembunyikan kenyataan, bahwa Tuhan berbicara kepadaku dan seringkali menganugerahkan firman-Nya kepadaku. Hal itu berarti kenabian, tetapi aku tidak memperoleh kehormatan ini sebagai hak ku pribadi. Oalam satu segi hanya perselisihan mengenai kata-kata saja. Menerima wahyu terus-menerus dan seringkali disebutkan kenabian. Pernyataan Hadhrat Aisyah ra. mengenai YM Rasulullah saw. yang berbunyi: ‘Beliau adalah Khataman Nabiyyin, tapi janganlah kamu katakan tidak ada lagi nabi setelah beliau’, dengan tegas dijelaskan segi kenabian ini. Bila tidak akan pernah ada lagi nabi dalam Islam, maka yakinlah, bahwa Islam pun telah mati seperti agama-agama lain dan tidak memiliki tanda keistimewaan apapun”.
Pada 20 Mei, beliau menerima wahyu:
“Sudah saatnya untuk pergi, sekali lagi, Sudah saatnya untuk pergi dan kematian telah dekat” Mengetahui hal itu, isteri beliau mengusulkan agar mereka pulang ke Oadian. Terhadap usul itu beliau menjawab, “Kita kini hanya akan kembali, jika Tuhan membawa kita kesana”. ‘
Majalah Akhbar-i-Aam tanggal 23 Mei 1908, dalam laporan mengenai pidato beliau tanggal 17 Mei menyatakan bahwa beliau telah menolak dakwa beliau sebagai nabi. Atas keterangan itu beliau segera berkirim surat kepada penerbit Akhbar-i-Aam, dimana beliau menyatakan: “Dalam pidatoku aku mendakwakan dan menyatakan lagi, bahwa tuduhan yang dilancarkan kepadaku seolaholah aku mendakwakan menjadi semacam nabi yang tiada hubungannya dengan Islam, dan aku menganggap diriku menjadi nabi yang tidak terikat kepada AI-Qur’an suci, dan bahwa aku telah menegakkan kepercayaan baru dan telah membuat kiblat baru dan telah menghapuskan hukum Islam, dan bahwa aku tidak mengikuti dan taat kepada YM Rasulullah saw., adalah semua palsu. Aku menganggap dakwa kenabian demikian sama dengan kekafiran dan aku telah menerangkan selalu dalam semua kitabkitabku, bahwa aku tidak mendakwakan kenabian semacam itu, dan bahwa menisbahkan dakwa semacam itu kepadaku adalah fitnah. Dasarku untuk menyebut diriku seorang nabi ialah bahwa aku dianugerahi percakapan dengan Tuhan Yang Mahakuasa, bahwa Dia seringkali berbicara kepadaku dan memberi jawaban serta membukakan banyak perkara ghaib kepadaku, dan memberi kabar kepadaku mengenai kejadian-kejadian di kemudian hari, dengan cara yang Dia lakukan hanya terhadap orang yang menikmati kedekatan khusus kepada-Nya, oleh karena banyaknya hal-hal itu Dia telah mengangkatku menjadi nabi. Jadi aku adalah seorang nabi sesuai dengan perintah lIahi dan aku akan berdosa kalau mengingkarinya, dan aku akan terus ditegakkan kokoh kuat atas itu hingga aku meninggalkan dunia ini. Aku bukanlah nabi dalam arti bahwa aku memisahkan diri dari Islam, atau menghapuskan suatu perintah Islam.
Aku menjunjung tinggi patisari AI Our’an Suci dan tak ada seorang pun yang dapat menghapuskan sepatah kata atau titik huruf pun dari AI Our’an Suci. Aku nyatakan dengan tegas, bukan karena ingin memuji diriku sendiri, tetapi atas dasar kemurahan Tuhan danjanji-Nya, bahwajika seluruh dunia ada disatu pihak dan aku hanya sendirian saja di pihak lain dan suatu hal diajukan sebagai ciri untuk menetapkan kebenaran seorang abdi Allah, aku akan dianugrahi keunggulan oleh Tuhan dalam perlombaan itu. Tuhan akan besertaku dalam setiap segi perlombaan itu dan akan mengaruniakan kemenangan kepadaku dalam setiap medan. Atas dasar itulah Tuhan telah mengangkatku menjadi Nabi.
Ketika beliau tinggal di Lahore, beliau membuat suatu rencana dengan tujuan menciptakan pengertian diantara kaum muslimin dan ghair muslimin, terutama sekali golongan Hindu, dengan mana kedua golongan itu dapat hidup bersama dengan aman dan bersahabat, dan segala rasa benci dan dendam dapat dilenyapkan sama sekali dari perhubungan damai mereka bersama. Untuk mencapai tujuan itu beliau mulai menyusun brosur terinci yang didalamnya beliau uraikan usul beliau dan yang beliau beri nama Amanat Perdamaian. Tujuan dari saran itu adalah bahwa para anggota Jamaat Ahmadiyah akan berusaha mengormati Weda-weda dan akan menyebut Weda-weda dan Rishi-rishi dengan hormat dan rasa cinta, dan bahwa bila pada suatu kali mereka gagal melakukan saling pengertian ini, mereka akan membayar sejumlah besar uang, yang tidak akan kurang dari tiga ratus ribu rupees, kepada golongan Hindu sebagai denda.
Dari pihak Hindu diminta, bahwa bila mereka sungguh-sungguh menginginkan perdamaian dengan golongan Ahmadiyah, mereka hendaknya membuat pernyataan, bahwa mereka mempercayai kenabian Muhammad Mustafa Rasullullah SAW. Dan menerima beliau sebagai nabi dan rasul sejati dan senantiasa akan menyebut beliau dengan hormat mulia seperti yang dilakukan oleh seorang beriman kepada beliau, dan bahwa bila suatu kali mereka gagal berbuat demikian, mereka harus membayar kepada pemimpin Jamaat Ahmadiyah jumlah uang yang sama sebagai hukuman.
Beliau menambahkan: “Aku katakan dengan kesungguhan hati bahwa kami dapat berdamai dengan ular dari padang pasir dan dengan srigala-srigala hutan belantara, tetapi kami tidak dapat berdamai dengan mereka yang membuat rasul kami, yang bagi kami lebih kami cintai dari kehidupan kami dan nenek moyang kami, menjadi sasaran serangan mereka yang kotor dan buruk”.
Beliau menyelesaikan penyusunan brosur itu pada malam 25 Mei. Beberapa lama beliau mendapat serangan ringan pada malam 16 Mei. Pad a malam 25 Mei beliau mendapat serangan lagi dari penyakit itu, yang membuat beliau sangat lemah. Sekalipun ada usaha-usaha keras dari Hadhrat Maulwi Nuruddin, yang adalah seorang tabib yang mahir, dan dari dokterdokter lain, Sayyid Muhammad Husain Shah dan Dr. Mirza Yaqub Beg, beliau berangsurangsur makin lemah dan beliau mulai merasa sukar berbicara.
Apa yang dapat kedengaran dari usaha beliau berkata hanyalah, “Allah, Allahku tercinta”. Menjelang pagi beliau menanyakan apakah sudah waktunya untuk sembahyang subuh dan ketika dikatakan, bahwa memang demikian, beliau bertayamum dan melaksanakan shalat sambil berbaring di tempat tidur. Sesudah itu beliau jatuh pingsan dan ketika kadangkadang beliau siuman lagi, kedengaran beliau mengulangi ucapan :”Allah, Allahku tercinta”. Jam 9 pagi beliau bernapas berat dan kirakira pukul 10.30 pagi beliau menarik napas panjang satu atau dua kali dan ruh beliau meninggalkan jasad beliau. Kepunyaan Allah kita semua dan kepada-Nya kita akan kembali.
Menghadapi beban kesedihan perpisahan itu para anggota keluarga memperlihatkan kesabaran yang agung. Istri beliau bukan saja bersabar menahan diri dan menguasai kesedihan beliau sendiri, tetapi menasehati wanita-wanita lain, yang hampirhampir cenderung menyatakan kesedihan mereka dengan cara yang tidak pantas. Beliau berusaha menghibur putra-putra beliau dengan mengatakan kepada mereka, “jangan punya persangkaan bahwa ayahmu hanya meninggalkan rumah kosong bagi kamu. Beliau telah menimbun bagimu khazanah do’a besar di langit, yang akan terus mendatangkan faedah bagimu pada setiap saat”.
Putera beliau yang dijanjikan, Sahibzada Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad, yang pada sa at itu berusia 19 tahun, dengan berdiri di bagian kepala tempat tidur, di mana jasad suci ayahanda terbaring, telah menyatakan tekad bulatnya dengan kata-kata : “sekiranya semua orang lain meninggalkan engkau dan aku hanya tinggal seorang diri, namun aku akan menghadapi seluruh dunia dan tidak perdulikan tiap perlawanan atau kejahatan apa pun.
Jenazah beliau malam itu juga diangkut dengan kereta api ke Batala dan pada pagi harinya dibawa ke Qadian. Jenazah itu tidak dibawa masuk ke kota tetapi ditempatkan dalam rumah peristirahatan di kebun beliau. Sementara itu sebagian besar anggota jemaat mulai berkumpul di Qadian dari segala jurusan. Sekumpulan anggota terkemuka telah berkumpul dan bersepakat mutlak, bahwa Hz. Nuruddin Sahib harus diminta untuk memikul beban tanggung jawab memimpin Jamaat sebagai khalifah pertama dari Hdh. Masih Mau’ud dan sebagai Kepala Jamaat Ahmadiyah. Permohonan itu disampaikan kepada Hdh. Maulwi Nuruddin Sahib dalam sebuah dokumen, yang berisi tanda tangan dari tokoh-tokoh terkemuka Jamaat ini, yang disusun dalam kata-kata:
“Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah, Maha Pengasih Penyayang, kami puji Dia dan mohonkan berkat-Nya untuk Rasul-Nya yang mulia. Segala puji kepunyaan Allah, Tuhan seluruh alam, berkat dan damai atas Khataman Nabiyyin Muhammad Mustafa dan Masih Mau’ud KhatamuIAulia.”
Sesuai perintah Hdh. Masih Mau’ud yang tercantum dalam wasiyat beliau, kami ahmadi-ahmadi yang bertanda tangan dibawah ini, dengan ikhlas berkeyakinan, bahwa muhajir pertama, Hdh. Maulwi Nuruddin Sahib, adalah yang paling berilmu, bertakwa, mukhlis dari kami semua serta paling lama menjadi sahabat Imam kami yang telah wafat, yang oleh beliau dinyatakan contoh paling baik dari antara kami semua seperti yang dinyatakan dalam sajak ini:
“Alangkah baik jika setiap anggota Jamaat menjadi Nuruddin”. Demikianlah keadaannya bila tiap orang penuh dgn nur keimanan; ia harus menerima bai’at atas nama Ahmad dari semua anggota Jamaat baru. Di masa datang segala perintah Hdh. Maulwi Sahib sama mengikatnya bagi kita seperti perintah dari Hdh. Masih Mau’ud dan Imam Mahdi a.s”.
Ketika menerima permohonan itu Hdh. Maulwi Nuruddin Sahib berpikir sebentar dan kemudian memberitahukan, bahwa beliau akan memberikan jawaban sehabis shalat. Beliau mengambil air sembahyang dan berdo’a dalam shalat nafal. Kemudian beliau menganjurkan agar mereka semua pergi menuju kebun, dimana semua anggota Jamaat berkumpul dengan mereka yang baru datang di Qadian pada waktu itu.
Dalam pertemuan itu Dr. Mufti Muhammad Sadiq Sahib membacakan permohonan itu dan Hdh. Maulwi Nuruddin Sahib menyampaikan jawaban: “Aku menjadi saksi bahwa tiada yang layak disembah selain Allah SWT Dan aku memberikan kesaksian, bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya. Hendaklah selalu ada diantara kamu suatu golongan yang kesibukannya adalah mengundang kepada kebaikan, menganjurkan persamaan dan melarang kejahatan” ,. (Q.S. 3: 105). “Renungkanlah kehidupanku sebelum ini. Aku tidak pernah menginginkan hendak menjadi pemimpin. Aku sadar akan keadaanku pribadi, dan Tuhan-ku lebih baik mengetahui hal itu. Tidak ada sedikit pun keinginan padaku hendak menduduki tempat kehormatan di dunia. Keinginanku hanyalah agar Tuhanku dan Junjunganku ridha kepadaku. Aku berdo’a agar keinginan ini terkabul; dan adalah karena keinginan ini aku bertempat tinggal di Qadian dan terus menerus akan tinggal disini. Aku telah berhari-hari memikirkan dengan rasa khawatir, apa jadinya dengan keadaan kita sepeninggal Hadhrat Sahib. Itulah sebabnya mengapa aku telah berusaha keras agar pelajaran Mian Mahmud dapat selesai. Ada tiga orang dari keluarga dekat Hadhrat, adalah Mian Mahmud Ahmad, saudaraku dan anakku, dan mempunyai perhubungan khusus dengan diriku; Mir Nasir Nawab Sahib pantas mendapat kehormatan karena perhubungannya dengan Hadhrat Sahib; Yang ketiga adalah Nawab Muhammad Ali Khan Sahib. Kemudian diantara anggota Jamaat ada Sayyid Muhammad Aksan Sahib yang sangat pandai dan keturunan YM Rasulullah saw. Beliau telah mengkhidmati agama dengan cara yang membuat orang seperti aku malu. Dalam usia lanjut beliau telah menulis beberapa kitab untuk membela Hadhrat Sahib. Itu adalah bakti beliau yang khusus. Kemudian ada Muhammad Ali Sahib, yang telah melaksanakan bakti demikian sehingga melampaui daya khayalku. Kesemua orang-orang ini adalah penduduk Qadian. Diantara orang-orang luar Qadian ada Sayyid Hamid Syah, Maulwi Ghulam Hasan, dan banyak lain lagi.
Ini adalah tanggung jawab yang berat dan berbahaya. Itu hanya bisa dilaksanakan oleh orang yang diutus oleh Tuhan, sebab orang-orang demikian dibantu oleh janji-janji ajaib dari Tuhan, yang akan menjadi bantuan terhadap kesukaran-kesukaran yang dapat mematahkan punggung. Pada masa ini kita harus bersatu, untuk memelihara persatuan demikian lakukanlah bai’at pada salah seorang yang namanya telah sayasebutkan, aku akan beserta kalian. Aku lemah dan kesehatanku tidak menentu dan aku tak punya temperamen. Tidaklah mudah aku memikul tanggung jawab berat demikian. Kalian mung kin akan menganggapnya gampang, bahwa sangat sukar bagi seorang yang memikul beban itu. Aku panggil Tuhan sebagai saksi, bahwa bila kalian memilih salah seorang dari antara mereka yang telah kusebutkan aku akan siap sedia melakukan bai’at dengannya bersama kalian.
“Jika kalian berkeras akan bai’at ditanganku, maka ingatlah, bahwa bai’at berarti menjual diri. Pada suatu kali Hadhrat Sahib menjelaskan kepadaku, bahwa ingatan pulang harus kubuang dari pikiranku. Kemudian segala pikiranku melekat kepada beliau dan aku tak lagi hendak pulang. Jadi bai’at sangat sulit. Orang yang melakukan bai’at melepaskan kebebasan dan ambisiambisinya untuk menggapai kepentingan lain. Itulah sebabnya mengapa Tuhan Yang Maha Kuasa mengatakan kepada mahkluk-mahkluk-Nya sebagai hamba-hamba-Nya. Beban penghambaan ini sulit dilaksanakan untuk diri sendiri. Bagaimana orang dapat memikulnya untuk orang-orang lain? Mengingat perbedaan dalam temperamen maka keberanian kuat diperlukan untuk menegakkan persatuan Aku selalu heran terhadap usaha Hadhrat Sahib. Beliau mempunyai kesehatan yang tak menentu dan masih senantiasa melaksanakan pekerjaan berat membuat tulisan-tulisan prosa dan puisi serta berbagai usaha penting lainnya. Aku hampir-hampir sebaya dengan beliau, tetapi beliau setiap hari menikmati pertolongan Tuhan dan keadaanku sendiri tidak layak untuk disebut-sebut Itulah sebabnya mengapa Tuhan Yang Maha Kuasa telah berfirman: “Kamu sekalian menjadi bersaudara karena rahmat Tuhan,” (O.S. 3:104). Semua ini tergantung pad a rahmat lIahi, ingatlah bahwa segala kebaikan bersumber pada kesatuan. Sekarang, ke arah mana pun pikiranmu mungkin cenderung, kamu wajib patuh terhadap perintahperintahku Jika ini dapat kamu terima, aku akan bersedia memikul beban ini betapa juga pun. Jemaat yang tak punya iman adalah mati”.
Pidato beliau disambut dengan kegembiraan besar sekali dan semua yang hadir melakukan bai’at ditangan beliau. Kemudian beliau memimpin Shalat jenazah Hdh Masih Mau’ud, dan penguburan beliau di Bahisyti Maqbarah kemudian dilakukan. Harian-harian dan majalah-majalah Muslim terkemuka memuji-muji Hdh. Masih Mau’ud dengan mengemukakan pembelaan beliau yang berhasil untuk Islam dan ketinggian akhlak, kecerdasan dan keruhanian beliau Bahkan harian-harian non-Muslim menyebutnyebut beliau dengan hormat dan penuh penghargaan. (Dari Suara ANSHARULLAH)

0 Responses to “Hari yang Sangat Menentukan”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




AYO BERBELANJA DI TOKO ONLINE KAMI:

Statistik Blog

  • 216,092 hit

aku suka jalan-jalan

hidup adalah jalan-jalan. jalan-jalan adalah hidup

%d bloggers like this: