Fundamentalisme dan Anarkisme Dalam “Ramalan” Rasulullah SAW.

Oleh: Ki Waras Jagat Pakuan
Hadits pertama, Rasulullah SAW. Bersabda: Allahumma bârik lanâ fî shô’inâ wa mudinâ wa makkatinâ wa madînatinâ wa bârik lanâ fî syâminâ wa yamaninâ, faqôla rojulun: wa ‘irôqinâ, qôla: Inna fîhâ qorna asy-syaithôni wa tahayyuja al-fitani; wa inna al-jifâ’a bilmasyiq.. Artinya: “Ya Allah, berkatilah dalam timbangan dan takaran kami, juga tentang Makkah dan Madinah kami, dan berkati pula Syam dan Yaman kami. Berkata seorang laki-laki: dan juga Irak kami. Rasulullah SAW . menjawab: “(bagi Irak tidak) karena padanya akan muncul generasi (sekutu, mata pedang, pemimipin, pengikut) syetan dan berkobarnya fitnah-fitnah (tuduhan, huru hara, bujukan, cobaan); sesungguhnya tabiat kasar (kekerasan) itu berada di timur.” (H.R. Thabrani dari Ibnu Abbas ra., Kanzul Ummal, 1989, jil. 12, hal. 300, hadits no. 35116)

Hadits kedua, Rasulullah SAW. Bersabda: Allahumma bârik lanâ fî syâminâ wa fî yamaninâ, qôlû: wa fî najdinâ, qôla: hunâka al-zilâzalu wa al-fitanu wa bihâ yathlu’u qornu asy-syaithâni. Artinya: “Ya Allah, berkatilah Syam dan Yaman kami. Para Shahabat berkata: dan demikian juga Nejd kami. Rasulullah SAW. bersabda: “(Nejd, tidak karena) di sana akan muncul kegoncangan-gegoncangan dan fitnah-fitnah (tuduhan-tuduhan, huru hara, bujukan, cobaan) dan di sana pula akan muncul generasi (sekutu, mata pedang, pemimpin, pengikut) syetan.” (H.R. Bukhari, Ahmad dan Nasai dari Ibnu Umar ra., Kanzul Ummal, 1989, jil. 12, hal. 300, hadits no. 35118).

Munculnya Khawarij dan Wahabiyah Menggenapi “Ramalan” Rasulullah SAW.

Subhanallah, “ramalan” (nubuwwatan) hadits pertama benar-benar telah genap, coba kita lihat awal mula munculnya gerakan fundamentalis dan anarkis dalam sejarah ummat Islam dengan munculnya sekte Khawarij. Khawarij adalah orang-orang yang keluar dari barisan Khalifah Ali bin Abi Talib, setelah khalifah ini menerima tawaran tahkim (arbitrase) uyang diajukan fihak lawannya, Mu’awayah bin Abi Sofyan, dan menghentikan perang Siffin (657/37 H) Menurut mereka, Khalifah Ali bin Abi Talib sebagai pihak yang benar seharusnya meneruskan perang Siffin itu sampai pasukan Mu’awiyah sebagai pihak pembangkang hancur atau tunduk kepada khalifah yang sah. Mereka berhimpun di Harura, dekat kota Kufah (di Irak) dan mengangkat Abdullah Ibnu Abdul-Wahhab ar-Rasibi sebagai imam (pemimpin). Dengan demikian mereka menjelma menjadi satu sekte atau golongan dalam Islam. Khawarij awal ini dikenal juga dengan golongan al-Muhakkimah, kerena mereka sering meneriakkan slogan “tidak ada hakam (hakim) selain Allah” dan “tidak ada hukum selain hukum Allah”. (Ensiklopedi Islam Indonesia, 1992, hal. 553).

Syekh Muhyiddin Al-khoyyat menulis: Golongan Khawarij terkenal kaku dan berlebihan dalam masalah agama. Mereka mengafirkan orang-orang yang tidak sependapat dengan mereka, menghalalkan darah orang yang berbeda pendapat dengan mereka dan tidak mau menerima ketentuan hukum yang dirumuskan manusia. Mereka mengafirkan orang-orang yang melakukan dosa besar, mereka tidak mau menerima hadis Nabi yang tidak sama pengertiannya secara persis dengan Alquran dan mereka dalam memahami nash agama hanya dari sisi lahirnya belaka. (Sejarah Kebangkitan Islam Dan Situasi Dunia Arab, 1994, hal.118).

“Ramalan” Rasulullah SAW. Pada hadis kedua telah sempurna pula ketika munculnya Wahabiyah (Wahabisme) yang dimulai dari Uyainah di wilayah Nejd. Wahabiyah, adalah gerakan sosial-politik berdasarkan hukum Islam menurut alam pikiran pendirinya, Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Nejdi (1703-1787/1115-1201 H.

Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Nejdi dalam dakwah-dakwahnya yang sangat radikal, keras, kaku dan tanpa kompromi khususnya terhadap apa yang mereka anggap sebagai bid’ah dan khurafat mendapat perlawanan sengit bukan hanya dari kelompok Ahlussunnah, Kaum Shufi, Thariqat dan Syi’ah akan tetapi dari saudara kandungnya sendiri, Sulaiman, dan sepupunya Abdullah bin Hussein yang mengakibatkan pertumpahan darah antara suku-suku di Yamamah (tanah kelahiran Musailamah Al-kadz-dzab).

Pada periode pertama gerakan Muhammad bin Abdul Wahhab mendapat dukungan penuh dari penguasa Dariyah, Muhammad bin Sa’ud dan para penerusnya yang terlibat peperangan dengan Syekh Riyad, Dahham bin Dawwas (1747 M) selama 28 tahun. Kemudian persekutuan Wahabiyah-Ibnu Sa’ud menyerang dan menaklukkan Riyadh, seluruh wilayah Nejd, Karbala (kota suci Syi’ah di Irak), Madinah, Makkah dan Jeddah. Pada tahun 1811 M. Imperium Wahabi telah terbentang dari Aleppo di utara ke Lautan Hindia, dari Teluk Persia di front Irak sampai ke Laut Merah di barat.

Imperium dan ekspansi Wahabiyah-Ibnu Sa’ud periode pertama telah menyebabkan kerugian tak terhingga atas jiwa, harta dan situs-situs budaya kaum muslimin dan baru berakhir setelah Dariyah, pusat gerakan Wahabi diduduki pasukan Ibrahim Pasya dari Kekhalifahan Turki Utsmani tahun 1818 M. Penguasa Nejd, Abdullah bin Sa’ud ketika itu ditangkap, dikirim ke Constantinopel dan dihukum penggal di sana.

Periode kedua gerakan Wahabiyah dimulai tahun 1901, setelah Abdul Aziz II bin Abdurrahman didukung ulama-ulama radikal Wahabi dan Kolonial Inggris di Timur Tengah berhasil memasuki Riyad. Selanjutnya Abdul Aziz berhasil menguasai kembali tanah kekuasaan kakeknya, Nejd pada 1921, Hail, Makkah pada 1924, Madinah dan Jeddah pada 1925. Kekuasaan Wahabi dan Ibnu Sa’ud berlangsung sampai sekarang dengan dukungan Amerika, Inggris dan sekutu-sekutu mereka.

Umat Islam perlu mewaspadai politik adu domba antar umat Islam yang mungkin dimaikan oleh Israel melalui Rabithah Alam Islami, karena organisasi ini sangat dipengaruhi oleh kebijakan penguasa Saudi Arabia yang sudah berada di dalam kendali Amerika Serikat dan Inggris sedangkan Amerika dan Inggris keduanya tunduk kepada Israel. Sejarah mencatat bagaimana perpecahan umat Islam telah terjadi akibat pemahaman yang sempit dan kaku tentang beberapa ayat Alquran dan Hadits yang menyebabkan munculnya budaya saling mencap sesat dan kafir, dimana pada gilirannya akan membuat energi umat Islam terkuras dengan kedua hal tadi, sedangkan Israel dengan dukungan politik dan finansial sekutunya akan lebih memperkuat cengkramannya atas Palestina.

Gerakan Neo-Khawarij dan Wahabi Anarkis di Indonesia Pasca Gerakan Reformasi

Pasca lengsernya Alm. Presiden Soeharto 1998 gerakan Neo-Khawarij dan Wahabi Radikal di Indonesia kembali mendapat angin segar dan mulai memperlihatkan jati diri mereka yang sesungguhnya, mereka secara terbuka membuat organisasi masa kegaamaan, menghidupkan isu-isu Khilafah, Syari’ah Islamiyah, Amar Ma’ruf Nahi Munkar bahkan isu Negara Islam Indonesia.

Faham radikal, fundamentalis, dan anarkis Khawarij dan Wahabiyah telah banyak diadopsi oleh Jamaah Islamiyah (JI), Majlis Mujahidin Indonesia (MMI), Front Pembela Islam (FPI), dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Mereka bertindak sangat berani dan arogan di tengah-tengah ketidak stabilan sistem politik dan hukum di Indonesia. Cita-cita untuk menerapkan Syari’ah atau Hukum Islam secara radikal di wilayah NKRI bagi mereka bukan lagi menjadi sesuatu yang tabu dan tertutup.

Dipihak lain, mereka mendapatkan batu sandungan yang maha berat ketika harus menghadapi Ahmadiyah, karena Ahmadiyah adalah satu-satunya jamaah yang secara faktual dan yuridis telah menetapi sistem Khilafah non politik dengan berdasarkan kepada Al-Qur’an dan Assunnah, sedangkan mereka mengkampanyekan khilafah politik (khilafah “pepesan kosong”) yang secara dalil syar’i bukan zamannya lagi dan tidak mungkin bisa diwujudkan. Demikian ini telah disinyalir Rasulullah SAW. dalam hadits mutawatir maknawi, dimana beliau telah menjanjikan kedatangan Isa Ibnu Maryam secara majazi yang berarti bahwa khilafah di akhir zaman ini adalah al-khilafah ghairu siyâsiyyah (khilafah non politik).

Berbagai tindakan kelompok anarkis yang sangat mencoreng agama Islam yang Rahmatan Lil’alamin telah mereka lakukan, dengan teriakan Allahu Akbar mereka menyerbu dan merusak mesjid-mesjid, rumah dan bahkan menjarah properti orang-orang Ahmadiyah di berbagai daerah di Indonesia. Dahulu Khalifah Ali ra. menyindir kaum Khawarij yang anarkis sabda beliau:”Allahu Akbar, ucapan hak tetapi telah disalahgunakan”. (Sejarah Kebangkitan Islam Dan Situasi Dunia Arab, 1994, hal.119).

Sungguh sangat ironis dimana pada hari ini, Minggu, 01 Juni 2008 ketika semestinya segenap Bangsa Indonesia kembali bersyukur, merenung, dan mengenang kembali jasa-jasa Sang Proklamator Kemerdekaan RI yang telah menggali Pancasila dari bumi asli Indonesia. Ternyata malah dinodai oleh penyerangan, kebrutalan dan tindakan anarkis berdarah yang membabi buta dari gerombolan Front Pembela Islam (FPI) dan Komando Laskar Islam pimpinan Munarman atas Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang akan melakukan aksi damai Memperingati Lahirnya pancasila di Monumen Nasional. Media televisi dan cetak telah berhasil merekam dan memuat berita dan peristiwa penyerangan yang biadab itu, dimana para penyerang tidak lagi mampu membedakan mana orangtua, wanita dan anak-anak.

Sungguh, bagi seorang muslim penyerangan berdarah semacam itu akan merupakan suatu Penodaan Agama (Islam). Demikian juga bagi seorang nasionalis yang menghargai konstitusi negara hal itu akan merupakan penghinaan terhadap Pancasila, HAM dan bahkan NKRI yang dilakukan di depan Monumen Nasional yang kita banggakan. Semoga Pemerintah dan segenap Bangsa Indonesia segera menyadari bahaya di depan mata yang mengancam kesatuan NKRI dan Bhineka Tunggal Ika. Bangsa Indonesia harus berani menghentikan tindakan pelanggran konstitusi negara, hukum dan main hakim sendiri yang dilakukan oleh siapapun. Alhamdulillah Rabbil ‘alamin.

7 Responses to “Fundamentalisme dan Anarkisme Dalam “Ramalan” Rasulullah SAW.”


  1. 1 Marie June 3, 2008 at 5:23 am

    Kenapa sih orang2 itu? udah pada sinting. Pada dasarnya sudah bermental ingin merusak, atau mentalnya sudah rusak? Apa sih sebenarnya yg mereka rebutkan? uang, kekuasaan, sorga atau neraka?. Berita ini sudah kesebar kebanyak koran di LN. Apa mereka sudah tidak punya malu lagi?

    deden:
    jangan2 emang karena itu semua ya..?! :mrgreen:

  2. 2 Sri Punta Narayana June 19, 2008 at 4:21 am

    Kemarin Pemerintah Sudan mengusir 16 ribu pengikut ALQAEDA, di Indonesia menurut analisa saya Alqaeda lebih besar. Mereka bisa menyusup di FPI,MMI dan FUI.Hati hati ada migrasi alqaeda dari Sudan ke Indonesia.

  3. 3 kevin August 8, 2008 at 9:58 am

    @ Marie

    Quote :
    apa sih sebenarnya yg mereka (FPI) rebutkan? uang, kekuasaan, sorga atau neraka?.

    Jawab: Uang
    Berapa : Rp. 2o ribu (belum termasuk PPN 10% dan bensin 2 liter), kalo demonya sampai sore dapat tambahan uang makan 10.000
    Buat apa ? buat beli rokok ..ya lumayan daripada nganggur.
    Kalo ga ada demo ? ya nongkrong di terminal.
    Keuntungannya bagi FPI ? Namanya semakin angker ! Berkolaborasi dg FBR bisnis keamanan dan bisnis pembebasan tanah 2x bermasalah di DKI.
    Sumbangan lain ? Oh tentu saja ada dari donatur salah satu negara di timur tengah (lumayan gede loh..) dan sssst juga dari mantan pejabat di indonesia untuk kepentingan polituk!
    Target yg ditakuti ? memang ada ? ada .. kali jodoh !! karena preman 2x nya lebih gila dan siap mati dibanding FPI..polisi aja ogah masuk ke daerah kali jodoh..(ha ha ha ternyata FPI beraninya sama kelompok yg diyakini tidak akan melakukan perlawanan)

  4. 4 agungk May 13, 2009 at 2:29 pm

    Cuman satu yang ingin saya sarankan:

    Jangan terjebak latah dalam penggunaan istilah.
    Anarkisme memiliki arti yang lain.
    Menggolongkan tindakan kekerasan sebagai anarkisme saya kira tidak tepat. Bahkan dalam kasus aksi FPI boleh dikatakan memiliki kontradiksi makna.
    Anarkisme menafikan adanya higher-control sementara FPI menjunjung absolute-control (God).

    Cukup demikian saja 2cent saya.

  5. 5 arya June 11, 2010 at 7:49 am

    Tulisan yang sangat tendensius. Gw cuman mo nanya, klo nanti di kubur ditanya apa kitabmu trus jawab pancasila boleh ndak?

  6. 6 ranup seulaseh November 28, 2010 at 11:57 am

    Tidaklah kamu pelajari ISLAM melainkan dari awal alif sin lam mim, dan tidaklah kamu menjadi ISLAM sebelum kamu mengakui Nabi Muhammad SAW sebagai rasul,,sesungguhnya iman kalian hanya sebatas tenggorokan, dan tidak akan terjadi kiamat sebelum allah meninggalkan kalian di dunia ini dan kalian akan menjadi saksi sakit dan mngerikan kiamat tersebut, allah akbar allah akbar,,allah akbar

  7. 7 crosschek December 8, 2010 at 9:27 am

    gila nich block…

    LO UD SINTING AP!!!!
    kesalahan penulisan kecil yg menggambarkan betaba busuknya tulisan ini….
    “SOAL AHMADIAH”
    AHMADIAH ud jelas2 karir coy…., munggkin ini yg nulis orang AKKBP y??
    atau yahudi manado??
    AHMADIYAH TIDAK MENGAKUI NABI MUHAMMAD SAW,
    mereka mengkui nabi versinya sendiri… “ghulam ahmad”
    PARAHHHHHHHHHHH………………..

    satu kata yg pantes buat tulisan ini,
    OBYEKTIF… atau lo memang (“”) !!!!

    catatan moderator:
    bung crosschek yth:
    di Indonesia ini ada dua versi Ahmadiyah lho! 1. Ahmadiyah versi MUI dan 2. Ahmadiyah versi Ahmadiyah.
    dari pernyataan anda bahwa AHMADIYAH TIDAK MENGAKUI NABI MUHAMMAD SAW, saya berkesimpulan bahwa yg anda maksud adalah Ahmadiyah versi MUI bukan Ahmadiyah versi Ahmadiyah

    untuk bahan pengetahuan bagi anda saya coba kutipkan dari kata2 pendiri Ahmadiyah sendiri tentang Rasulullah saw, sbb:

    “Dan hakikat yang sebenarnya, saya berikan kesaksian sepenuhnya, Nabi kita, Muhammad SAW, adalah Khaatamul Anbiyaa dan sesudah beliau SAW, tidak ada lagi nabi yang datang, (yakni nabi) yang lama maupun baru….”. (Anjam-e-Atham, catatan kaki, hal. 27-28, sekarang: dalam Mahzarnamah, Penjelasan/Pembuktian Akidah Jemaat Ahmadiyah, Islam International Publikacations 2002, hal. 83-84

    lagi:

    “Jika dikatakan, Rasulullah SAW., adalah Khaataman-Nabiyyin, maka sesudah beliau SAW., bagaimana nabi lain dapat datang? Jawabannya adalah, memang dengan demikian tidak ada lagi nabi lain dapat datang, nabi baru maupun nabi lama”. (Ek Ghalati Ka Izalah, hal. 4-6, sekarang: dalam Mahzarnamah, Penjelasan/Pembuktian Akidah Jemaat Ahmadiyah, Islam International Publikacations 2002, hal. 87)

    Rasulullah Muhammad SAW, adalah satu-satunya Utusan Allah yang menyandang gelar “Khaataman-Nabiyyin” yang berarti bahwa beliaulah penutup segala nabi, baik nabi lama – seperti nabi Isa yang diyakini umat Islam akan datang diakhir zaman, maupun nabi baru – dalam arti yang bawa agama baru, kitab suci baru, kalimah syahadat baru, (seperti Bahai atau Ahmad Mushaddiq), dan berarti pula : Yang paling afdhal, paling sempurna, cincin, cap atau stempel – dalam pengertian sebagai perhiasan para nabi dan tidak ada nabi yang dibenarkan kenabiannya dimasa lalu maupun dimasa datang tanpa “segel” Khaataman-Nabiyyin Nabi Muhammad SAW.

    Anda boleh periksa dan akan menemukan fakta bahwa tidak ada seorangpun Ahmadi yang menyebut dan mengaku dirinya sebagai pengikut nabi Mirza Ghulam Ahmad, semua Ahmadi adalah pengikut nabi suci Muhammad saw dan hanya mengaku sebagai MURID dari Imam Mahdi yang bernama Mirza Ghulam Ahmad. Dengan pengakuan Hazrat Mirza Ghulam Ahmad sebagai Imam Mahdi –yang kedatangannya telah dijanjikan Rasulullah saw—maka dengan sendirinya Hazrat Mirza Ghulam Ahmad dikatakan sebagai berpangkat nabi, sebab pada kedudukan Mahdi terdapat hadiah dari Tuhan bahwa Mahdi itu berpangkat Nabi Ummati.wallahu’alam

    salam


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




AYO BERBELANJA DI TOKO ONLINE KAMI:

Statistik Blog

  • 226,497 hit

aku suka jalan-jalan

hidup adalah jalan-jalan. jalan-jalan adalah hidup

%d bloggers like this: