Kembali ke Mainstream?

Melihat perkembangan Ahmadiyah Indonesia belakangan ini yang tidak henti-hetinya diharu biru oleh kelompok-kelompok yang tidak senang dengan keberadaannya, ditambah dengan pemerintah yang kemudian juga tidak tahan dengan desakan mereka dan mengeluarkan SKB yang mengatur Ahmadiyah di Indonesia maka beberapa orang kawan yang merasa khawatir datang menasehati saya untuk melakukan beberapa hal.

Salah seorang diantaranya mengatakan bahwa “demi keamananmu apa tidak sebaiknya kamu –paling tidak berpura-pura– mengikuti keinginan mereka agar para Ahmadi “kembali” ke Islam mainstream.”
Lalu saya tanya “Islam yang mana, son? Apa Islam yang menghalalkan segala cara dengan tuduhan-tuduhan palsu seperti; Ahmadiyah punya kitab suci Tazkirah, Ahmadiyah hajinya ke Rabwah dan Qadian, Ahmadiyah memiliki syahadat sendiri, ataukah Islam yang telah membakari dan menghancurkan mesjid-mesjid dan rumah-rumah orang Ahmadiyah? Meminjam kata-kata seorang Ahmadi NTB di tempat pengungsiannya; asrama Transito saat di wawancara reporter Trans TV “Islam yang mana bang? Apa Islam yang telah mengusir dan membakari rumah saya? Lalu setelah nanti saya bergabung dengan mereka, lalu mereka ajak saya untuk juga membakari rumah-rumah ibadah ataupun rumah-rumah tinggal dari orang-orang yang tidak sepaham dengan mereka?”
“wAllah enggak banged lah yauw!”

SKB ternyata ditafsirkan berbeda-beda, dalam pemberitaan-pemberitaan misalnya, media satu bilang SKB pelarangan Ahmadiyah, media lain bilang SKB pembekuan Ahmadiyah, media lainnya lagi bilang lain lagi. Yang satu bilang Ahmadiyah harus menghentikan segala aktifitasnya, yang lainnya lagi –termasuk POLRI bilang bahwa Ahmadiyah Indonesia masih dibenarkan menggelar shalat Jum’at bahkan pengajian. “kalau Cuma pengajian ya nggak apa-apa. Asalkan, isi ceramahnya tidak menyimpang dari pokok ajaran Islam” kata Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Abubakar Nataprawira kepada detik.com.

Masalahnya, Ketika SKB yang baru lahir saja di tafsirkan berbeda-beda, adalah sangat absurd apabila kita dipaksa untuk hanya memiliki penafsiran tunggal terhadap apa-apa yang telah disampaikan Rasulullah SAW empat belas abad lalu, sebagaimana perbedaan penafsiran Ahmadiyah dengan mainstream ummat Islam kini.

Jadi saya bilang sama teman ini “trims atas nasihatmu tapi don’t worry, insya Allah saya akan sabar menerima segala konsekwensi, apapun itu bentuknya.”

“Lalu bagaimana bila mereka yang tidak puas SKB itu kemudian berhasil juga menekan pemerintah dan Ahmadiyah Indonesia dibubarkan atau tidak dibubarkan tapi kalian dipaksa untuk menamai agama kalian sebagai agama Ahmadiyah?”

Saya jawab “kalau di Indonesia dibubarkan, kan kami bisa hijrah, gak usah khawatirlah bumi Allah ini sangat luas dan ingat, Allah menyediakan bumi ini bukan hanya untuk mereka yang mengafirkan kami saja, tapi untuk seluruh ciptaanNya termasuk didalamnya yang menentang keberadaanNya sekalipun!, lalu kalaupun mereka tidak membubarkan tapi memaksakan menamai kami sebagai pengikut agama Ahmadiyah, atau apapun mereka menamai kami, ya silahkan saja. Kami tidak membutuhkan pengakuan dari manusia kok, cukup Allah saja yang menilai apakah kami ini Muslim atau bukan.”
“kamupun gak perlu ragu apabila punya pemikiran yang sama dengan mereka, silahkan saja. Aku gak akan tersinggung kok” lanjut saya menambahkan.

“ya gak mungkinlah, aku kan mengenal kamu dan ke Ahmadiyahan kamu itu bukan hanya sehari dua hari saja, melainkan puluhan tahun” demikian jawabnya.

11 Responses to “Kembali ke Mainstream?”


  1. 1 Jack June 11, 2008 at 4:32 am

    Gak heran gue kalau gini situasinya. Bagaiman mau nafsirkan Qur’an dengan benar, nafsirin SKB aja udah amburadul. Yang anti JA makin bisa garang aja tuh soalnya udah punya senjata SKB dengan tafsiran sendiri.

    Ada pepatah yg sangat indah dari Khalifah IV JA, yg perlu kita renungkan:

    “SWORDS CAN WIN TERRITORIES BUT NOT HEARTS, FORCE CAN BEND HEADS BUT NOT MINDS”

  2. 2 Nabi lama June 12, 2008 at 4:52 am

    Bung Jack,
    Apa Sdr membenarkan kalo dulu Islam disebarkan dengan pedang, setuju dengan Paus?
    Salam,

  3. 3 Jack June 13, 2008 at 3:50 am

    @nabi lama:

    Anda ngarti gak sih pepatah diatas?

  4. 4 Silvie June 13, 2008 at 5:18 am

    Kalau saya sebagai muslim sih tidak membenarkan. dalam sejarahnya dulu Nabi Muhammad SAW juga terkenal dekat dan ramah dengan pemimpin2x Quraisy yg menzaliminya,walau beliau di hina,di cemooh,di dustakan,di permainkan di zalimi oleh kaumnya. beliau tetap saja berbaik hati.
    Dan beliau berperang dengan pedang karena memang kondisi dan situasinya pada saat itu memang akan di serang oleh musuh2x beliau.

    Dan perlu di ketahui kita umat muslim Zaman Rasulullah SAW adalah merupakan zaman jahiliyah.
    Dan kita harus membedakan sekarang bukan zaman jahiliyah ( bodoh) lagi seperti dulu.
    Maka dari itu sekarang menyebarkan agama Islam tidak perlu lagi dgn menggunakan pedang/kekerasan karena ini akan menyebabkan pertumpahan darah.dan yang harus kita lakukan umat muslim zaman sekarang dalam menyebarkan agama Islam adalah dengan menggunakan pena maksudnya dengan tabligh,dakwah dan kedamaian dengan cara ini umat non muslim akan tertarik pada Islam.

  5. 5 Tommo June 14, 2008 at 4:01 am

    Hi Deden how yous doing? I haven’t visited your blog for a while. Gee, it’s getting worst huh… You know Indonesia was a lovely country, but mate! what’s going on out there? We’ve been warned not to travel to Indonesia, since Bali bombing, and on the news last night, your president asked my PM to consider again about the warning. You know what? Moslem has a bad name in western countries. You guys do not only attack westerners, but attack your own people. How can you assure us that your country is safe with these demos and attacks? No wonder your country is ruined. I heard on the radio the other day, that there are 600.000 children starving in your country, parents have no fund to educate their children. So what does your government do about it? The news about Ahmadiyah spread all over the world. Personally, I bloody condemned what your government did to your people. All the best, I believe God will help you.

    deden:
    Hi Tommo, thanks for your visit. I also very concerned with my country, but I can’t do anything except pray, may God will help my country to go out from all existing problems.

  6. 6 Nabi lama June 16, 2008 at 8:58 am

    To Jack:
    Ngerti Paak…
    Aku cuman tanya doank, pendapat Pak Jack ttg pendapat Paus.

  7. 7 Jack June 18, 2008 at 1:47 am

    @nabi lama

    Syukur kalau ngerti, tinggal direnungkan saja kan maknanya? Bukan hak saya utk memberi pendapat soal Paus, apalagi kalau Paus itu diangap orang suci oleh umat nasrani, dan juga gak ada hubungannya dengan artikel diatas.

  8. 8 anti_suap July 2, 2008 at 11:16 am

    Lagi, anggota DPR yang terhormat terkena kasus korupsi. Bulyan Royan Anggota DPR dari Partai Bintang Reformasi tersandung kasus korupsi. Sebelumnya dalam tahun ini pula Al amin Nasution dari Partai Persatuan Pembangunan terkena kasus yang sama, yang konon melibatkan juga anggota dari Partai Keadilan Sejahtera. Korupsi seakan memang sudan menjadi hal yang jamak bagi kalangan pejabat, lucunya saat ini malah menular kepada kader partai Islam yang selalu menggembar-gemborka n Amal Ma’ruf Nahi Mungkar, terlebih sangat terlihat dari begitu besarnya dukungan mereka dari kelompok-kelompok Islam dan MUI yang mengusung SYARIAT ISLAM.

    Amar Ma’ruf, ya. Nahi Mungkar, tergantung situasi-kondisi.
    Ternyata inilah Amal Ma’ruf Nahi Mungkar yang mereka dengungkan dan paksakan kepihak lain dilanggar oleh oknum pemimpin-pemimpin Islam juga. lebel Syariat Islam ternyata tidak menjadi “warning” bagi mereka untuk tidak melakukan kejahatan.

    Dizaman reformasi ini, banyak yang meyakini aturannya sebagai yang terbaik. Diawal tahun 2000an seorang anak dipotong tangannya karena mencuri dan itu diusulkan oleh seorang ustad dengan alasan Syariat Islam. Artinya ustad ini mengindahkan aturan pemerintah yang ada karena menurutnya aturan yang diayakini lebih baik. termasuk apa yang dilakukan kelompok-kelompok yang melakukan kekerasan atas dasar dibolehkan memerangi dan memukuli pelaku maksiat, tanpa mengindahkan polisi.

    Pertanyaannya, apakah pemimpin-pemimpin Islam ini berani dipotong tangannya sesuai Syariat Islam (yang selalu mereka kedepankan) jika mereka dijatuhi hukuman bersalah di pengadilan? berapapun lama penjara yang diberikan, apakah mereka juga tidak akan berlindung pada peraturan pemerintah saat ini?

    Kerancuan pemikiran Politik Islam
    Selama ini memang terasa janggal dengan adanya kelompok dan partai Islam yg bersemangat membuat sistim pemerintahan kepada Syariat Islam. Terdapat kontradiktif disini, dimana menurut pengertian kelompok-kelompok yang mendukung Syariat Islam, Sistim pemerintahan yang benar adalah terpimpin dibawah seorang Khalifah dan diluar itu salah, termasuk Demokrasi.

    Tetapi dengan didirikannya Partai Islam menunjukan kelompok-kelompok ini memperjuangkan Syariat Islam dengan jalan yang mereka salahkan sendiri (Demokrasi). Dengan kata lain, saat kelompok ini menyalahkan demokrasi yang dianut dinegri ini dan mengatakan sistim yang berdasarkan Syariat Islam adalah yang paling benar diwaktu yang sama merka sedang memperaktekan sistim yang mereka salahkan.

    Masa depan Negara Indonesia ber-Syariat Islam
    Rupanya beginilah Negri kita dimasa depan, jika sudah bersyariat Islam. Dari prilaku pemimpin partai Islam yang duduk di DPR Kita bisa lihat tak ada perubahan dari kualitas pemimpinnya, masih tetap korup. Lalu mari kita bayangkan saat demokrasi, dimana masyarakat masih diberi ruang untuk berkomentar dan menentukan nasib bangsanya diganti dengan sistim yang hanya pemimpin yang berhak menentukan segalanya (sistim syariat Islam beedasarkan kepemimpinan khalifah), sedangkan pemimpinnya seperti sekarang ini.
    Wallahu alam bi sawab.

  9. 9 Nabi lama July 3, 2008 at 2:18 am

    To Jack
    Yap, memang buat anda nambah satu lagi orang sucinya.

  10. 10 Jack July 4, 2008 at 6:34 am

    @ nabi lama:
    Silahkan saja anda mau berpendapat apapun. Urusan Paus bukan urusan saya maupun anda, begitu juga sebaliknya.

  11. 11 Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi July 4, 2008 at 8:34 am

    Agama dalam ari mainsteam adalah semua rasul dan nabi sejak Adam sampai kiamat menyampaikan RISALAH TUHAN/ALLAH sesuai Al Maidah (5) ayat 67 (rasul2), Al An Aam (6) ayat 124,125 (Allah sendiri), Al A’raaf (7) ayat 62,60 (Nuh), 68,65,66 (Hud), 79,75 (Saleh), 93,88 (Syuaib), 144,109 Musa), Al Ahzab (33) ayat 38,39,40 (MUhammad dan siapa saja), Al Jinn (72) ayat 23,26,27,28 (rasul yang dirido’i. Anehnya sepanjang zaman penolaknya adalah pemuka-agama pada masing-masing zamannya, termasuk zaman Ghulam Ahmad (Mujaddid abad ke-14 hijrah) (Al Fath (48) ayat 29, Ash Shaff (61) ayat 6,7,8,14 dan selanjutnya era globalaisai (Mujaddid abad ke-15 hijrah, pembawa hari takwil kebenaran kitab sesuai Al A’raaf (7) ayat 52,53) sesuai hadits Muhammad saw.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




AYO BERBELANJA DI TOKO ONLINE KAMI:

Statistik Blog

  • 258,667 hit

aku suka jalan-jalan

hidup adalah jalan-jalan. jalan-jalan adalah hidup

%d bloggers like this: