Lain Padang Lain Belalang, Lain…

Sebuah peribahasa mengatakan ”lain padang lain belalang, lain lubuk lain ikannya” untuk menggambarkan bahwa selalu ada perbedaan budaya dari antar kelompok, golongan, etnis bahkan bangsa. Sebuah peribahasa yang mengandung pesan moral luhur dan bijak bahwa kita harus selalu menghargai perbedaan.
Perbedaan yang saya ’usung’ dalam posting ini adalah perbedaan budaya yang ringan-ringan saja, soalnya kalau mengusung tema yang agak-agak serius salah-salah nanti dianggap melanggar SKB. Bisa berabe! 😀

Ini adalah kisah nyata dari seseorang yang memiliki pasangan hidup berbeda bangsa dan hidup dinegara dimana pasangannya berasal, kisah yang pada awalnya membuat ia shock dengan kenyataan ini, namun setelah mengenal lama kebudayaan dari pasangannya itu justru pengalaman ini menjadikan ia ketawa sendiri saat mengingatnya.

Ceriteranya seperti ini:
Suatu hari salah seorang keluarga suaminyanya yang tinggal tidak jauh dari rumahnya pergi mancing seharian bersama 12 orang rekannya, ditengah laut lepas atau dalam istilah ‘sono’nya deep fishing trip.

Nah, sore harinya kira2 jam 5.30, yang pulang mancing ini telpon minta agar suami dari sahabat saya ini datang kerumahnya, membantu dia motongin ikan jadi fillet (dipotong agak tipis), karena hasil mancingnya cukup lumayan; dapat 3 ikan kakap masing-masing sepanjang 1 meter, dimana daging dari 3 ekor ikan itu bisa mencapai 12 kg!

Sebelum suaminya pergi, dia bilang minta sedikit aja, gak usah bawa banyak-banyak. Dan untuk keperluan memasak ikan yang akan dibawa suaminya nanti itu iapun menyiapkan bumbu-bumbu dan ngebayangin malam ini ia akan makan makanan favoritenya.

Tunggu punya tunggu, koq suaminya gak pulang-pulang padahal perutnya udah mulai keroncongan, lalu ia pikir besok aja deh masak ikannya, sekarang untuk makan malam ia masak yang lain aja deh.

Akhirnya sekitar jam 21.30, suaminya datang juga, namun ia hanya membawa peralatan memotong ikan yang tadi sore dibawa kerumah saudaranya itu.
Saat membuka pintu, iapun bertanya pada suaminya “mana ikannya”?, tapi suaminya tidak menjawab dan langsung masuk rumah tanpa bicara apapun. Sahabat saya inipun mengikuti suaminya dan menanyakan lagi “mana ikannya?, suaminya masih tidak jawab dan langsung kedapur cuci peralatan, masukin lagi ketempatnya. Karena tidak juga menjawab, sahabat saya ini tanya lagi “mana ikannya?”, gak dijawab juga. Akhirnya dengan nada sedikit tinggi , “where the hell is the fish?”. Mendengar nada istrinya meninggi, baru dia jawab “ngapain saya bawa tulang belulang?” – dia cuma mau ngasih tulangnya doang, kok. Emangnya kita kucing? Katanya. 😀

Sahabat saya ini dalam curhatnya bilang; pada waktu itu reaksi gue shock banget, gak percaya koq pelit ama sih sodara suami gue. Ternyata suaminya gak bisa langsung jawab waktu itupun karena katanya dia merasa malu sama isterinya yang Indonesia banget. 😀
Tapi seiring dengan berjalannya waktu, iapun menyadari makna dari pepatah yang ia dapat dibangku sekolah dasar dulu bahwa ”lain padang lain belalang, lain lubuk lain ikannya”. Lain negara, lain pula adat, kebiasaan dan budayanya…

1 Response to “Lain Padang Lain Belalang, Lain…”


  1. 1 Marie June 14, 2008 at 3:44 am

    Saya gak yakin lain padang lain belalang, yg ada cuma pelit aja kali yah…. yah kasihan deh, si suami cuma jadi tukang potong, si isteri cuma ngiler doang.. he he he kecian deh


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




AYO BERBELANJA DI TOKO ONLINE KAMI:

Statistik Blog

  • 234,245 hit

aku suka jalan-jalan

hidup adalah jalan-jalan. jalan-jalan adalah hidup

%d bloggers like this: