Caroline, Barack Obama, dan Ahmadiyah

courtesy GATRA.COM

Barack ObamaDalam sebuah diskusi terbatas di Islamic Digital Library, Yayasan Al-Ikhlas, Tanah Abang, Jakarta, akhir Mei lalu, Caroline –gadis indo yang lama tinggal di Amerika– bertanya dalam bahasa Inggris yang native, “How about Priest in Obama’s Church, Jeremiah A Wright, who said that Islam is identic with sword, war, and self bombing?” “How can we do to the Barack Obama’s Priest? Caroline, gadis cantik yang semangat Islamnya menggebu-gebu itu, tampaknya mengharapkan jawaban saya yang keras dan anti-gerejanya Obama di Chicago itu.

Mendengar pertanyaan itu, saya yang jadi pembicara diskusi di kalangan terbatas pemuda-pemudi muslim Jakarta yang militan tersebut agak rikuh menjawabnya. Maklum, pada saat itu, pembicaraan para hadirin lebih banyak tertuju pada Ahmadiyah yang sesat dan kenapa Pemerintah Indonesia tak segera melarang aliran yang merusak Islam itu.

Dalam kerikuhan itu, tiba-tiba saya teringat seorang dosen bahasa Inggris asal Amerika Serikat yang mengajar di Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Dosen itu, Eddy Schurr, yang datang pada 1970-an ke Yogyakarta, pernah bercerita kepada saya dan teman-teman di Yogya.

“Ketika saya datang pertama kali ke Yogyakarta, karena saya ditugasi mengajar di sebuah universitas Katolik, saya pikir, mayoritas penduduk Yogya juga beragama Katolik. Ternyata mayoritas penduduknya beragama Islam. Dan Islam dalam pikiran saya adalah pedang, kekerasan, poligami, dan ekstremisme. Itulah yang saya pahami tentang Islam karena informasi yang sampai kepada saya di Amerika tentang Islam, ya, seperti itu,” katanya. Lantas?

“Ketika saya mengontrak rumah di Demangan, sebelah barat IAIN Yogyakarta,” kata Eddy. “Saya kaget. Kenapa orang-orang Demangan dan tetangga saya ramah-ramah dan baik hati? Kenapa bapak-bapak di Demangan tidak melakukan poligami?” Sejak itu, tutur Eddy, “Saya mulai curiga bahwa apa yang saya pahami tentang Islam itu salah. Masyarakat Amerika, tempat saya dilahirkan, ternyata telah memutarbalikkan fakta tentang Islam dan ajaran-ajarannya.”

Karena penasaran, secara otodidak Eddy mempelajari Islam. Dibacanya ayat-ayat suci Al-Quran satu per satu, lalu dia pelajari buku-buku Islam yang lain. Hasilnya? “Islam itu luar biasa. Ajarannya tentang Tuhan Yang Esa dan tidak ada tandingan-Nya mudah dipahami. Orang-orang Islam ternyata ramah, toleran, dan menghargai perbedaan,” kata Eddy.

Singkat cerita, Eddy pun mengucapkan “syahadatain”. Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Eddy resmi menjadi muslim dan mengganti namanya menjadi Muhammad Eddy Schurr Suryopercoyo Nurul Yaqin. Nama Muhammad dan Nurul Yaqin menjadi simbol bahwa ia benar-benar yaqin terhadap ajaran Nabi Muhammad, sedangkan Suryopercoyo ia pakai sebagai kenang-kenangan bahwa ia masuk Islam di sebuah kota pusat budaya Jawa, Yogyakarta. Istrinya pun mengikuti jejaknya.

Sejak menjadi muslim, Eddy rajin berceramah ke mana-mana, dan orang-orang tertarik oleh kisah-kisah Eddy di Amerika tentang Islam yang digambarkan sangat buruk dan bagaimana akhirnya dia memeluk Islam.

Anak-anak muda yang mayoritas berasal dari Universitas Indonesia dan jamaah Masjid Sunda Kelapa itu tampak terdiam. Mereka, saya pikir, kecewa karena tak mendapat jawaban yang keras dari saya terhadap pertanyaan Caroline.

“Coba bayangkan, Saudara-saudara. Seandainya orang-orang Yogya itu tukang buat onar, istrinya dua, dan sangar, mungkinkah Eddy masuk Islam?” tanya saya, sambil membayangkan sekelompok umat Islam yang marah dan merusak rumah-rumah orang-orang Ahmadiyah.

Orang-orang non-Islam –apa itu dari Cina, Amerika, atau Jepang– tak tahu apa itu Ahmadiyah. Mereka juga tidak peduli apa itu ajaran Mirza Ghulam Ahmad. Yang mereka tahu, syahadat orang-orang Ahmadiyah sama dan salatnya pun sama dengan orang-orang Islam di masjid mana pun di seluruh dunia. Jika orang-orang non-Islam tahu, orang-orang yang syahadat dan salatnya sama tapi mengaku Ahmadiyah atau mendukung Ahmadiyah digebuki seperti di Monas, awal Juni lalu, dan rumah mereka dirusak seperti di Lombok dan Kuningan, Cirebon, lalu apa yang mereka pikirkan tentang Islam?

Ternyata cerita saya tentang rumah-rumah orang-orang Ahmadiyah yang dirusak di Lombok dan Kuningan itu mengusik perasaan Gayatri. Gadis Minang ini berkata, “Orang Islam di daerah saya tidak seperti itu. Saya lahir dan besar di Padang, Sumatera Barat, di tanah kelahiran ulama besar Buya Hamka. Saya tak pernah sekali pun melihat orang Islam di Padang bertengkar dengan orang-orang Ahmadiyah. Masjid orang Ahmadiyah berdampingan dengan masjid orang Muhammadiyah dan orang NU. Mereka saling menghormati.”

Lalu Gayatri pun bertanya, kenapa orang-orang Islam di Padang tidak pernah mengusik orang-orang Ahmadiyah, dan mereka menghormatinya? Sebuah pertanyaan yang patut kita renungkan bersama.

Tapi, yang jelas, ulama sekaliber A. Hasan, Buya Hamka, dan Kiai Haji Wahid Hasyim, yang pernah berdialog dengan tokoh-tokoh Ahmadiyah di zamannya dan tidak setuju dengan ajaran Ahmadiyah, tidak pernah mengutuk dan tidak pernah menuntut pemerintah untuk melarang Ahmadiyah, yang sekarang pengikutnya ramai-ramai “digebuki” itu.

M. Bambang Pranowo
Guru besar sosiologi agama UIN, Jakarta
[Kolom, Gatra Nomor 31 Beredar Kamis, 12 Juni 2008]

2 Responses to “Caroline, Barack Obama, dan Ahmadiyah”


  1. 1 Tommo June 18, 2008 at 1:40 am

    Reading your article, it reminds me something happened when I was in Bandung a couple years ago. Me and friends was in shopping centre area (forgot the name), looking at the noised crowd. I saw thousand people (some with motorbike, some on the truck) shouting something I didn’t understand. Some of them saw us looking at them, and all of the sudden, they shouted at us, calling us bule pigs, dogs, you name it, with the stick in their hands. They looked agro mate!- fortunately some security guards pushed us inside. My Indonesian friends said they were FPI. Is that real moslem? Are they your prophet followers? – That was the last time I came to Indonesia. Time has changed since late 90ish.

    The westerners didn’t know much about islam before 9/11, they do now! but what they know Islam is war, fighting, killing in the name of Allah. Shame on them!!. I don’t believe Islam teaches violent.

    @den
    The basis of true Islamic teachings is that the followers love for God Almighty and love for mankind. Islam is not a violent and barbaric religion.
    In the time of the Holy Prophet, permission was granted to fight only as a last resort and only as a means of defense. Never in the history of Islam had the Holy Prophet Muhammad (peace be upon him) initiated a single battle. He in fact taught tolerance, respect and freedom of belief. This principle was being lost in light of the terrorist attacks and suicide bombings that had occurred over the last few years.
    Violence in the name of Islam caused by misinterpretation some of the followers like FPI in true meaning of Jihad (holy war),they feel struggling to uphold religion but in fact they abused the teachings of Islam itself.
    The Ahmadiyya Community’s purpose was to bring to the fore these true teachings of peace and service to mankind. In light of these teachings the Ahmadiyya Community was committed to developing the under-developed, to helping the deprived and to educate the uneducated.

  2. 2 Tommo June 19, 2008 at 7:25 am

    The Jews rejected Jesus who appeared 14 centuries after Moses. It happened that when about 1400 years had passed after the advent of the Prophet Muhammad the muslims developed the same characteristics which the Jews had developed.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




AYO BERBELANJA DI TOKO ONLINE KAMI:

Statistik Blog

  • 215,909 hit

aku suka jalan-jalan

hidup adalah jalan-jalan. jalan-jalan adalah hidup

%d bloggers like this: