Menilai seorang nabi: benar atau palsu

oleh:Ahmad Badrudduja
Bagaimana kita tahu bahwa seseorang adalah nabi sungguhan atau gadungan? Saya akan mencoba membahas masalah yang rumit ini secara ringkas dalam tulisan pendek ini.

Di kalangan sarjana Sunni, dikenal tiga syarat utama untuk mengetes kebenaran kleim kenabian:

1. Seseorang yang mengaku sebagai nabi haruslah mempunyuai kualitas etis dan intelektual yang istimewa, misalnya ia memiliki kemampuan artikulasi berbahasa yang sangat baik, kesempurnaan akhlak, keluhuan budi, dsb.

2. Dia harus menunjukkan suatu mukjizat.

3. Mukjizat itu harus dibarengi dengan pengakuan sebagai seorang nabi. Maksudnya, jika seseorang memperlihatkan tindakan mukjizat tetapi tidak mengakui sebagai nabi, maka ia bukan nabi.

Tiga kriteria ini bisa dibaca dalam banyak karya sarjana Sunni. Sebagai contoh, anda bisa merujuk karya Abu al-Hasan Ali ibn Muhammad al-Mawardi, A’lam al-Nubuwwah (Tanda-Tanda Kenabian). Sebagaimana kita tahu, al-Mawardi adalah salah satu ulama besar di linkungan mazhab Syafii yang dikenal antara lain karena bukunya tentang manual penyelenggaraan kekuasaan, yaitu al-Ahkam al-Sulthaniyyah.

Dengan demikian, kriteria nabi palsu dan gadungan itu sebetulnya sangat sederhana dan tidak bertele-tele.

Para filosof Muslim menambahkan ciri-ciri yang lain. Ibn Sina, misalnya, mengatakan bahwa ada tiga jenis manusia.

1. Manusia yang sempurna dalam dirinya sendiri dan mampu menyempurnakan orang-orang lain yang kurang sempurna (maksud “sempurna” di sini adalah dari segi spiritual, intelektual dan etis atau akhlak).

2. Manusia yang sempurna pada dirinya sendiri tapi tak mampu menyempurnakan orang lain. Jadi kesempurnannya bersifat terbatas, tidak meluber ke orang lain.

3. Orang yang pada dirinya sendiri menderita kekurangan, sehingga butuh dibantu oleh orang lain agak mencapai kesempurnaan spritiual dan akhlak.

Nabi adalah manusia dari jenis yang pertama. Jadi, nabi adalah orang yang memiliki kesempurnaan dan kemampuan untuk menularkan kesempurnaan itu kepada orang lain. Inilah pendapat Ibn Sina yang banyak dikutip oleh para teolog Sunni seperti Fakhruddin al-Razi, misalnya.

Saya sendiri berpandangan bahwa nabi yang benar, bukan yang gadungan, bisa kita ketahui dari manusia-manusia yang ia didik, manusia-manusia yang menjadi umat dan pengikutnya. Kalau seorang yang mengaku nabi berhasil mendidik dan mencetak manusia yang bermoral dan bermartabat, maka dia adalah nabi. Kita juga bisa mengetahui kebenaran seorang nabi melalui ajaran-ajarannya: apakah ia mengajarkan norma yang baik atau malah kejahatan.

Hampir semua orang yang mengaku nabi sudah pasti akan diledek dan dilecehkan oleh orang-orang di sekitarnya. Kita lihat saja sejarah Nabi Muhammad yang dilecehkan oleh masyarakatnya sendiri. Ini terjadi pada hampir semua nabi dan guru-guru kebijaksanaan di seantero dunia, bukan hanya pada Nabi Muhammad.

Saya sendiri bukan orang Ahmadi dan bukan pengikut ajaran Ahmadiyah. Tetapi berdasarkan kriteria-kriteria di atas, saya bisa membenarkan kleim Mirza Ghulam Ahmad sebagai seorang nabi. Apalagi seluruh ajaran Ghulam Ahmad sebetulnya hanya menegaskan kembali ajaran-ajaran yang ada dalam Islam. Kita juga bisa melihat masyarakat dan jamaah yang berhasil dicetak oleh kelompok ini di mana-mana. Mereka para jamaah Ahmadiyah adalah orang-orang yang cinta perdamaian di mana-mana, menekankan pentingnya rasio dan pendekatan rasional pada agama, dan inilah yang menjadi rahasia daya tarik Ahmadiyah di kalangan para anak muda di zaman perjuangan dulu di beberapa kota di Indonesia. Mereka bukan manusia yang berbuat kerusakan di muka bumi.

Jadi, alat paling baik untuk mengetes seorang adalah nabi sungguhan dan tidak adalah dari hasil akhirnya: apakah dia mencetak manusia yang bermoral dan berbudi luhur atau tidak.

Ini bukan berarti bahwa setiap orang yang berhasil mencetak suatu masyarakat yang berbudi luhur adalah nabi. Kiai Haji Ahmad Dahlan jelas berhasil mencetak jamaah yang berbudi luhur, tetapi dia bukan nabi. Begitu juga Kiai Hasyim Asyari bukan nabi walau dia berhasil mencetak generasi yang bermoral dan berbudi luhur. Alasannya satu: karena mereka tidak mengaku sebagai nabi. Sebagaimana dikatakan oleh al-Mawardi di atas, seseorang hanya boleh disebut nabi kalau dia mengaku nabi, dan tidak cukup hanya mempertunjukkan mukjizat sahaja.

Lalu apa mukjizat Mirza Ghulam Ahmad? Yang bisa menceritakan ini hanyalah jamaah Ahmadiyah sendiri. Jamaah Ahmadiyah tentu percaya bahwa Ghulam Ahmad memiliki sejumlah ‘khawariq al’adah” atau mukjizat. Soal orang-orang di luar Ahmadiyah tidak percaya, itu bukan urusan. Sebab, percaya atau tidak, itu masalah masing-masing orang. Orang di luar Islam bisa saja tidak percaya pada mukjizat Nabi Muhammad, tetapi itu tidak berpengaruh apa-apa.

Menurut saya, kalau ada mukjizat terbesar yang dipelihatkan oleh Ghulam Ahmad adalah kemampuannya membangun gerakan yang berhasil bertahan jauh setelah ia wafat dan menyebar ke seluruh dunia. Mukjizat Ghulam Ahmad yang paling penting adalah ia mampu mencetak manusia-manusia bermoral dari berbagai suku bangsa. Ini prestasi luar biasa yang tak bisa dicapai oleh sembarang orang. Ini sesuai dengan ciri-ciri nabi menurut Ibn Sina di atas, yakni orang yang sempurna pada dirinya sendiri dan mampu menyempurnakan orang lain.

Demikian keterangan saya, semoga bermanfaat.

19 Responses to “Menilai seorang nabi: benar atau palsu”


  1. 1 Silvie July 2, 2008 at 5:31 am

    orang yg mengaku ngaku utusan Allah padahal ia dusta tentu Allah tidak akan membiarkan jemaatnya/pengikutnya dan ajaran yg dibawanya bertahan lama.dan Allah sendiri yg akan menghinakannya dan menghancurkannya melalui jalan apa saja.
    seseorang yg memang benar2x mengaku sebagai utusan Allah dan ternyata ia benar,insyaallah Allah sendiri yg akan membantu menunjukan kebenarannya karena ia memang benar2x utusan Allah,dan Allah sendiri yg akan menghancurkan dan menghinakan orang2x yg memusuhinya atau menolak kebenarannya. Dan kita sebagai manusia bisa melihat kebenaran itu melalui tanda2x yg ditunjukan Allah dalam Alqur’an dan juga sunah hadist Rasulullah SAW.

  2. 2 azhar July 3, 2008 at 3:31 am

    Nabi palsu kenabiannya tidak akan berlangsung lama seperti yg pernah diucapkan oleh deden. Pertanyaannya, pd tahun berapa Ghulam Ahmad menyatakan dianugerahi pangkat kenabian secara zilli dan ummati?

  3. 3 Nabi lama July 4, 2008 at 3:03 am

    Mirza Ghulam Ahmad dengan Ahmadiyah-nya mungkin sudah besar dan tersebar di berbagai belahan dunia, sehingga sudah demikian kabur antara paham dan waham. Namun bayangkan jika “Ahmadiyah” itu masih berupa tunas atau bibit sekelas ajarannya Ahmad Sayuti, Rusmiyati, Djanewar, Lia Aminudin, dan yang agak besar sebangsa Ahmad Mushadeq? Tentu hanya orang-orang yang minim akal sehat saja yang meyakini atau (dengan berlagak moderat) membela ajaran mereka.
    Namun bagaimanapun, fenomena bermunculannya nabi-nabi palsu itu telah menjadi keniscayaan. Sebagaimana ini telah disebut dalam hadits sendiri. “Tidak tegak hari kiamat hingga dimunculkan para dajjal dan pendusta yang berjumlah kurang lebih tiga puluh yang seluruhnya mengaku bahwa dia adalah utusan Allah.” (HR. Al-Bukhari no. 3413, Muslim no. 2923)
    Makanya sebagai muslim, kita mesti menyikapi fenomena itu secara ilmiah (baca: dengan ilmu), bukan secara emosional, terlebih berujung pada tindak anarkis.

    Sumber:
    http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=671

  4. 4 Silvie July 4, 2008 at 5:06 am

    Merupakan sunnah Allah bahwa setiap kedatangan seorang utusan Allah selalu ditolak umatnya.seperti ketika pendakwaan Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah 14 abad silam yg ditolak umatnya
    setiap kebenaran pasti sebelumnya selalu ditolak.setiap kebenaran pasti sebelumnya di sangsikan.setiap kebenaran pasti diabaikan.itu sudah menjadi hukum Allah.sebagaimana Allah SWT berfirman dalam
    QS Yasin : 30
    ”SUNGGUH SANGAT DISESALKAN MANUSIA MANUSIA ITU,BILAMANA NABI DIKIRIM KEPADANYA,MAKA MEREKA SENANTIASA MENGHINAKANNYA,MENYAKITINYA DAN MEMPERMAINKANNYA.”
    Sudah menjadi hukum Allah bahwa setiap diturunkannya nabi,manusia pd awalnya selalu menolak.
    Dalam sejarah kenabian bangsa yahudi /bani israil adalah bangsa yg paling murtad,kenapa karena setiap kali di utusnya nabi, kaum yahudi ini tidak pernah menerima selalu menolak mendustakan,dan mempermainkannya.kita tau dalam sejarahnya para nabi yg di utus utk kaum bani israil/yahudi ini seperti NabiIbrahim,Ishaq,Yaqub sampai ke nabi Isa a.s tidak ada satu nabipun yg diterima oleh bangsa yahudi/bani Israil.maka dari itu kita bisa melihatnya sekarang tidak pernah ada kedamaian di negaranya selalu saja terjadi konflik,peperangan sebagai tanda hukuman dari Allah SWT.

  5. 5 Nabi lama July 4, 2008 at 10:21 pm

    Konsekwensi Sdr yang mengakui MGA sebagai nabi sesudah Nabi SAW, membela dengan ayat Al Quran. Yang sebenarnya adalah, Al Quran itu diturunkan kepada Nabi SAW dan pengikutnya, sebagai petunjuk yang sempurna.
    Buat Sdr, ada petunjuk lain sesudah Al Quran, yang Sdr pasti menyangkalnya.
    Wallahualam.
    Wassalam,

  6. 6 Silvie July 5, 2008 at 5:18 am

    To: Nabi Lama
    Alqur’an itu bukan sbg ayat pembela,kita merujuk kepada Qur’an bukan sbg pembela seperti yg anda katakan akan tetapi lebih tepat lagi sebagai petunjuk,pedoman dan pegangan untuk umat manusia khususnya utk umat Islam agar tidak salah arah,karena Alqur’an merupakan syariat terakhir yg berlaku sampai hari kiamat.jadi tentunya ayat2x Qur’an tsb memiliki pemahaman.
    Ayat2x Qur’an memiliki banyak pemahaman2x. dan rahasia Alqur’an hanya diberitahukan Allah melalui orang2x yg disucikanNya yaitu seperti para nabi,khalifah,.Nah orang2x yg suci inilah yg mengetahui pemahaman Alqur’an dengan sesungguhnya.dan kita sebagai insan biasa bertanya kepada pemimpin kita yg ditunjuk Allah supaya tau apa makna yg ada dalam kandungan ayat2x Qur’an tsb.

    Kalau orang yg memiliki rasa suuzon,dengki,iri,benci,dendam walaupun ia seorang ulama sekalipun,Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang tersebut karena Allah hanya memberikan petunjukNya kepada orang2x yg berhati bersih dan suci apalagi mengenai pemahaman Alqur’an.

  7. 7 azhar July 5, 2008 at 11:24 am

    nabi palsu juga ditolak umatnya. Apa karena ditolak umatnya lantas kita berpendapat sudah pasti orang yang mendakwakan diri sebagai nabi adalah seorang nabi?

  8. 8 azhar July 5, 2008 at 11:30 am

    Nabi palsupun menerima penghinaan dan disakiti. Apakah setiap orang yang mendakwakan diri sebagi nabi kemudian menerima penghinaan maupun disakiti sudah pasti dirinya seorang nabi?

  9. 9 Nabi lama July 5, 2008 at 2:33 pm

    Maksud dari ayat Yasiin tsb, adalah sejarah penolakan manusia atas nabi-nabi terdahulu dan juga Nabi SAW, khatamun nabiyyin. Buat kami, nggak ada hubungannya dengan MGA. Sedang buat Sdr semua ayat dalam Al Quran selalu dihubung-hubungkan dengan MGA. Apa memang demikian penafsiran Nabi SAW, para sahabat dan para ulama? Cobalah untuk jujur, mengakui hal ini.
    Wassalam,

  10. 10 silvie July 6, 2008 at 8:15 am

    Betul apa yg anda katakan bahwa Alqur’an sebagai petunjuk.
    berarti kita merujuk kepada Alquran bukan sebagai pembela tetapi lebih tepat lagi sebagai petunjuk agar tidak salah arah.
    seperti yg anda katakan Alquran sbg petunjuk yg diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk pengikutnya yaitu umat Islam.
    Nah sekarang yg menjadi pertanyaan apakah umat Islam ini sendiri mengikuti petunjuk dalam Alquran atau tidak dan melaksanakannya atau tidak,kalau begitu umat Islam tau hukum tau aturan dalam ajarannya apa yg boleh dilakukan dan apa yg tidak boleh dilakukan. Tapi sekarang kita bisa lihat dngn nyata umat Islam sendiri mereka tidak mengikuti petunjuk dari Alquran itu sendiri bahkan mereka melanggarnya.
    sbg contoh di negara kita yg mayoritas muslim yg seharusnya kita umat muslim yg menjadi contoh bagi umat lain malah terpengaruh akan budaya Dajjal( bangsa barat yg ingin memporak porandakan dunia Islam) dan malah menuruti dan mengikuti hawa nafsu yg tidak baik.dia mengaku muslim tapi melanggar larangan Allah ya contohnya tidak jujur dlm pekerjaan bahkan negara kita orang kita terkenal dengan korupnya padahal ia seorang muslim.umat muslim diperintahkan untuk shalat tapi sekarang pada kenyataannya banyak umat muslim yg tidak menjalankan shalat,maka dari itu umat muslim itu sendiri tidak memiliki kemajuan hanya kemunduran yg didapat dan tentunya juga mendapat hukuman dari Allah SWT.

  11. 11 none July 8, 2008 at 2:34 am

    To Silvie :
    anda mengatakan “Ayat2x Qur’an memiliki banyak pemahaman2x. dan rahasia Alqur’an hanya diberitahukan Allah melalui orang2x yg disucikanNya yaitu seperti para nabi,khalifah,.Nah orang2x yg suci inilah yg mengetahui pemahaman Alqur’an dengan sesungguhnya.dan kita sebagai insan biasa bertanya kepada pemimpin kita yg ditunjuk Allah supaya tau apa makna yg ada dalam kandungan ayat2x Qur’an tsb.”

    Jadi menurut anda Rasulullah belum menjelaskan secara detil tentang Nabi penutup, turunnya Nabi Isa dan Dajjal ? dan para sahabat juga tidak ada yang paham dengan maksud perkataan Rasulullah ?

  12. 12 ahmaditulen July 8, 2008 at 2:50 am

    bang deden, numpang nulis ya.. 😀
    Ahmadiyah atau Pendiri Ahmadiyah tidak pernah mengatakan kafir bukan Islam kepada orang-orang Islam yang seagama. Istilah yang selalu Ahmadiyah pakai adalah:

    1. Ahmadi, artinya orang Ahmadiyah.
    2. Ghair Ahmadi, artinya bukan Ahmadi, tapi orang Islam.
    3. Ghair Muslim, yaitu bukan Muslim untuk orang yang bukan Islam.

    Tapi, kalau ada pendiri Jemaat Ahmadiyah mengatakan kafir kepada orang yang tidak mempercayai beliau, itu sama dengan beliau sendiri selalu mengatakan kepada pengikut beliau keluar dari Jemaat. Seperti beliau bersabda, ” Siapa yang tidak mewajibkan atas dirinya untuk mendirikan shalat lima waktu, maka ia bukan dari Jemaatku. Barangsiapa yang tidak tetap memanjatkan doa dan mengenang Allah swt. Dengan rendah hati, maka ia bukan dari Jemaatku. Barangsiapa yang tidak melepaskan teman nakal yang memberi pengaruh tidak baik kepadanya, maka ia bukan dari Jemaatku. Barang siapa yang mengasingkan tetangganya dari menerima kebaikan yang sekecil-kecilnya, ia bukan dari Jemaatku. (Bahtera Nuh)

    Jelas artinya di sini bahwa pengikut beliau yang seperti itu, keimanannya tidak sempurna walaupun tetap dalam Jemaat Ahmadiyah. Demikian jugalah halnya bagi orang yang tidak mempercayai dan tidak beriman kepada beliau, kadang-kadang disebut kafir. Artinya adalah, termasuk orang-orang yang mengingkari beliau dan imannya tidak sempurna, walaupun tetap dalam agama Islam. Bahkan, Hadhrat Rasulullah saw. juga bersabda, “Man tarakashalata faqadkafar. Artinya, siapa yang tidak shalat, maka ia kafir jadi, artinya di sini bukan keluar Islam tapi imannya tidak sempurna.

  13. 13 none July 8, 2008 at 4:07 am

    To Ahmaditulen :
    Apa benar begitu mas ? apakah Mirza dan khalifah anda tidak pernah mengatakan SESAT dan KAFIR MURTAD kepada selain aliran anda ?Mungkin ada yang terlewat yang belum pernah anda baca

  14. 14 islamiccommonroom July 8, 2008 at 6:47 am

    Permasalahan Ahmadiyah terletak pada masalah kedatangan Nabi Isa Almasih diakhir zaman…Ahmadiyah meyakini bahwa Mirza ghulam Ahmad Adalah nabi Isa yang dijanjikan akan turun diAkhir Zaman itu…sementara kaum muslim pada umumnya meyakini nabi Isa yang dijanjikan akan turun diakhir zaman itu masih hidup dilangit..

    Permasalahan kepercayaan seorang Nabi hidup dilangit ini ternyata juga pernah terjadi pada zaman dahulu..
    Umat Yahudi menolak kedatangan Nabi Isa as 2000 tahun yang lalu..selain itu mereka juga menolak kenabian Nabi Yahya as…ini bukannya tanpa alasan..
    Menurut Nubuwatan yang mereka percaya, Almasih atau mesiah atau juga Mesias yang dijanjikan akan datang ditengah-tengah mereka setelah Elia (nabi Ilyas as) turun untuk membukakan jalan bagi sang Almasih ini..Umat Yahudi meyakini kalau Elia (Nabi Ilyas as) tersebut terangkat kelangit bersama kereta perangnya, dan masih hidup dilangit menunggu kedatangan Almasih..
    Nabi Isa as ditanya oleh para pemuka yahudi, jika ia adalah almasih yang dijanjikan itu lalu mana Elia? nabi isa as mengatakan Kalau Yohanes pembaptis (nabi yahya as)-lah Elia yang dimaksud oleh Nubuwatan tersebut..ketika pemuka yahudi tersebut bertanya pada nabi yahya, apakah ia adalah nabi Ilyas yang turun dari langit, nabi yahya mengatakan tidak, nabi Ilyas tersebut sudah lama berlalu…
    Pertanyaan terbesarnya adalah pakah mungkin kita mengikuti kesalahan orang-orang yahudi?
    karena rasulullah memperingatkan, sesungghnya umatku akan mengikuti umat-umat yahudi dan nasrani, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta…
    diskusi di http://islamiccommonroom.wordpress.com/2008/06/11/dan-sejarah-itu-pun-berulang/ yuk…

  15. 15 Nabi lama July 9, 2008 at 6:51 am

    Quote Silvie:
    “Nah orang2x yg suci inilah yg mengetahui pemahaman Alqur’an dengan sesungguhnya”
    Jawab:
    Orang2 suci sesudah Nabi SAW itu yang menerima hikmah ilmu dari Allah itu tidak ada yang mengaku nabi baru. Coba apakah ada, kecuali para nabi palsu (sesuai hadist Nabi SAW)?

    Quote:
    kita sebagai insan biasa bertanya kepada pemimpin kita yg ditunjuk Allah supaya tau apa makna yg ada dalam kandungan ayat2x Qur’an tsb
    Jawab:
    Maksudnya ada makna yang baru, yang lain dari yang dipahami oleh Nabi SAW para sahabat dan para ulama pewaris Nabi SAW?

  16. 16 Nabi lama July 9, 2008 at 10:36 pm

    Quote:
    Pertanyaan terbesarnya adalah pakah mungkin kita mengikuti kesalahan orang-orang yahudi?
    karena rasulullah memperingatkan, sesungghnya umatku akan mengikuti umat-umat yahudi dan nasrani, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta…
    Jawab:
    Aapakah kesalahan itu di mulai dari Nabi SAW, para sahabat dan para ulama? Masya Allah, kesimpulan yang serampangan yang mnyebutkan ada nabi sesudah Nabi SAW. Padahal sudah jelas2 dalam wahyu Allah dan hadist Nabi SAW. Yang pemahamannya masih sama, tidak akan berubah hingga akhir masa.
    Bukankah dengan mengikuti nabi palsu adalah membantu Yahudi dan Kristiani dalam memecah Islam?
    Seperti itu kah yang sering dikatakan para Ahmadi bahwa yang menolak MGA adalah sama dengan Yahudi dan Nasrani?

    Wassalam,

  17. 17 silvie July 10, 2008 at 7:54 am

    To: Nabi lama

    Terserah anda mau berkata apa mau nuduh nabi palsu ke,nabi buatan inggris ke.whatever lah..yg jelas nabi palsumah Allah sendiri yg memberantasnya,Allah sendiri yg akan menghinakannya dengan cara apa saja.dan kalau nabi palsu itu jemaatnya pun tidak akan bertahan lama hadir di bumi,ini dari th 1889 sekarang makin maju dari waktu ke waktu apakah ini yg disebut palsu????

  18. 18 silvie July 10, 2008 at 8:13 am

    To: Azhar
    Nabi Palsu enggak pernah bertahan lama terus merubah rubah syariat Nabi Muhammad SAW itu baru palsu. lalu kalau nabi palsu itu Allah sendiri yg akan menghinakannya dan menghancurkannya dengan cara apa saja> kita lihat contoh Ahmad mosadeq,lia eden.
    Allah sendiri kan yg menghinakan mereka…toh yg ada mereka dipenjara atas perbuatan ulah prilaku mereka sendiri yg tidak benar.

  19. 19 Dizul April 18, 2015 at 6:46 am

    Benar atau tidak adalah Hak Asasi Tuhan, bukan hak asasi manusia.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




AYO BERBELANJA DI TOKO ONLINE KAMI:

Statistik Blog

  • 258,897 hit

aku suka jalan-jalan

hidup adalah jalan-jalan. jalan-jalan adalah hidup

%d bloggers like this: