PENODAAN AGAMA LEBIH TEPAT DIKENAKAN KEPADA MUI

oleh: PS

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْوَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَا تُه.

# KEARIFAN IMAM SYAFI’I YANG MASYHUR DAN MAZHABNYA DIIKUTI DI INDONESIA

Seandainya Imam Syafi’i rh. masih hidup, mungkin sekali beliau akan menjadi salah seorang Imam Mazhab yang menentang “Fatwa MUI” tentang Pengkafiran Ahmadiyah. Mengapa demikian? Karena Ahmadiyah meyakini dan mengucapkan syahadatain (dua kalimah Syahadat), mengimani dan mengamalkan Rukun Islam dan Rukun Iman. Keyakinan Ahmadiyah sama sekali bukan keyakinan baru, melainkan keyakinan Islam yang hakiki yang digali berdasarkan bimbingan wahyu dan ilmu pengetahuan. Perbedaan antara Ahmadiyah dengan para penentangnya hanyalah terletak pada perbedaan Tafsir (tafsiran/interprestasi) atau Ta’wil (penakwilan/ penjelasan) ayat Al-Qur’an dan beberapa Hadits Rasulullah SAW. belaka.
Imam Syafi’i, seorang Imam Mazhab yang pada masanya dituduh bahwa ia seorang pengikut Syi’ah pernah juga dinyatakan kafir dan sesat oleh lawan-lawan beliau. Oleh karena itu wajarlah jika Imam Syafi’i rh. dengan tegas menyatalkan: “Saya tidak mengkafirkan ahli ta’wil dengan sebab kekeliruan mereka”. Dalam riwayat lain: “Saya tidak mengkafirkan seorangpun dari ahli kiblat (yang shalatnya menghadap Ka’bah) dengan sebab kekeliruan mereka”. Dalam riwayat lain beliau berkata: “Saya tidak mengkafirkan ahli ta’wil, yang berpaling dari tekstual ayat Al-Qur’an dengan sebab kesalahan (kekeliruan) dalam penafsiran mereka”.[1]
Oleh karena itu, kepada segenap Bangsa Indonesia (khususnya para pengikut Mazhab Syafi’i) untuk tidak mengikuti Fatwa MUI atau fatwa ulama-ulama yang berani mengkafirkan Ahmadiyah karena Ahmadiyah dengan jelas dan nyata bahwa mereka adalah ahli kiblat, mereka tidak mempunyai kiblat lain selain Ka’bah di Makkah al-Mukarramah dan mereka tidak mempunyai kitab suci lain selain Al-Qur’an. Sekali lagi, Ahmadiyah dengan non-Ahmadiyah hanya beda Tafsir atau Ta’wil saja.Takutlah kepada Allah dan berhentilah mencap kafir kepada pengucap dua kalimah syahadat atau orang-orang yang shalatnya menghadap Ka’bah. Kita jangan mengambil resiko jadi kafir dengan sebab mencap kafir kepada mereka.

1. MUI YANG MEMFATWAKAN ORANG LAIN SESAT ATAU KAFIR, MERASA LEBIH BIJAK DAN LEBIH PANDAI DARI TUHAN YANG MAHA KUASA

MUI dengan jelas-jelas menodai dan melecehkan ajaran Alqur-aan dan sabda Yang Mulia Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah saw. Kitab Suci Aqur’an jelas-jelas memberikan nasihat, petunjuk untuk ditaati, bahwa hanya Allah SWT-lah yang Maha Mengetahui siapa orang yang sesat itu, kawenangan mengatakan fatwa sesat kepada orang lainnya itu tidak pernah diberikan oleh Tuhan kepada siapa pun juga, tidak terkecuali kepada MUI juga tidak:

Inna rabbaka huwa a’lamu may yadhillu ‘an sabiilihii …….. yang artinya:
“Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui tentang orang yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang-orang yang mendapat petunjuk ………” (6:117)
……. inna rabbaka huwa huwa ‘alamu bi man dhalla ‘an sabiilihii wa huwa a’lamu bil muhtadiin; yang artinya:
“……. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (16:125)

Selain itu, bukankah para kyai atau ulama yang bernaung dalam wadah MUI dan semua orang Islam lainnya diharuskan meminta-minta kepada Allah sepanjang hidupnya, di dalam shalatnya, untuk selalu ditunjukkan jalan yang lurus? Adanya perintah Allah Ta’ala bagi manusia agar selalu memohon kepada-Nya:
Surah Al-Faatihah ayat 6:
Ihdinash shiraathal mustaqiim; yang artinya: Tunjukilah kami jalan yang lurus” (1:6) merupakan bukti nyata bahwa manusia tidak berhak menetapkan dan menunjuk hidung suatu kelompok atau golongan sebagai sesat-menyesatkan.

Lalu, bagaimana mungkin para kyai atau ulama MUI yang sepanjang hidupnya diperintahkan oleh Allah Ta’ala agar selalu meminta ditunjukkan jalan yang lurus, kemudian berbuat sebaliknya dengan menetapkan suatu kelompok atau golongan sebagai yang tidak lurus alias sesat-menyesatkan? Apakah para kyai atau ulama MUI telah mendapat pengesahan dari Allah bahwa mereka benar-benar telah berada di jalan yang lurus dan kemudian mendapatkan mandat dari Tuhan untuk menyatakan kelompok atau golongan lain sebagai sesat-menyesatkan? Itulah sebabnya mengapa pasal Penodaan terhadap Agama Islam itu lebih tepat dikenakan terhadap Ulama-ulama MUI yang punya hobbi membuat dan mengeluarkan Fatwa Sesat!

2. MUI BERANI MENENTANG TUHAN DAN NABI SAW., dengan MENGATAKAN kepada ORANG YANG MENGUCAPKAN SYAHADAT DAN SHALAT MENGHADAP KIBLAT SEBAGAI BUKAN ISLAM, atau NON-MUSLIM.

Firman Allah SWT dalam Aqur-aan:
……. Huwa sammaakumul muslimiina min qablu ……, yang artinya:
“……. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu …..” (22:78)

Kriteria-kriteria tentang Muslim dan siapa saja yang boleh menamakan dirinya sebagai Muslim sesuai dengan sabda mulia Nabi Muhammad s.a.w. adalah sebagai berikut:
Menurut Sayyidina Rasulullah s.a.w., yang disebut sebagai orang Islam (Muslim) adalah:
“Siapa pun yang shalat seperti aku dan menghadapkan wajahnya ke kiblat kita dan makan binatang sembelihan kita, maka ia adalah muslim dan berada di bawah perlindungan Allah dan rasul-Nya. Maka janganlah mengkhianati Allah dengan mengkhianati orang-orang yang berada di dalam perlindungan-Nya.” (H. R. Bukhari)

Kalau seseorang membaca, melakukan dan mengamalkan Rukun Islam yang lima, maka orang tersebut berhak disebut Muslim atau orang Islam. Selanjutnya bagaimana jika ada ulama-ulama atau kyai-kyai atau orang-orang yang mengeluarkan fatwa kafir, non-Muslim, sesat-menyesatkan kepada seseorang atau golongan atau kaum tertentu? Jawabannya kembali kepada pesan mulia Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah s.a.w.:
“Barangsiapa memanggil atau menyebut seorang itu kafir atau musuh Allah padahal sebenarnya bukan demikian, maka ucapannya itu akan kembali kepada orang yang mengatakan [menuduh] itu.” (dari kitab Bukhari, dengan penjelasannya)

Selain itu pesan mulia dari Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah s.a.w. mengenai orang Islam adalah: “Seorang muslim adalah orang yang tidak merugikan muslim lainnya dengan lidah maupun dengan kedua tangannya.” (H.R.Bukhari)

Jadi, dari keterangan Al-Qur’an dan Hadits telah dinyatakan bahwa yang berhak menentukan seseorang atau suatu kaum sebagai Islam atau bukan-Islam adalah hanya Allah Ta’ala semata; orang itu sendiri dapat mengaku agama apa saja yang ia akan ikuti yang dapat dicatat oleh instansi Pemerintah seperti dalam membuat KTP-nya.
Jadi, Negara atau undang-undang atau peraturan atau pengadilan atau fatwa-fatwa ulama, sama sekali tidak mempunyai hak dan kawenangan untuk menentukan status seseorang atau suatu kaum sebagai Muslim atau non-Muslim.
_,_.___
3. SYAHADAT-NYA AHMADIYYAH TETAP SAMA; MUI dan ULAMA-lah yang MENODAI ISLAM

Sebagaimana yang disampaikan oleh Amidhan Ketua MUI dan banyak orang yang sudah mendengarnya di TV, adalah bahwa konon Syahadatnya Ahmadiyah itu lain bukan “Asyhadu alla ilaha ilallah wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah” melainkan “Asyhadu alla ilaha ilallahu wa asyhadu anna mirza ghulam ahmad rasulullah

ULAMA dan MUI itulah yang benar-benar sudah menodai agama Islam, ajaran Alqur-aan dan Sunnah Nabi Muhammad saw.

Bayangkan saja, pertama-tama adalah berkata dusta hanya untuk mendiskreditkan Jemaat Ahmadiyyah, dengan maksud supaya masyarakat yang awam atau mainstream itu menjadi marah dan geram terhadap Ahmadiyyah, dengan “false allegation” mereka itu.

Yang benar adalah bahwa Syahadatnya orang Ahmadiyyah itu dari sejak semula dan sampai kapan pun tetap sama, waktu bai’at masuk Jama’at Ahmadiyyah pun dengan mengucapkan Syahadat sebagaimana yang disabdakan di dalam hadits Nabi saw.:
Asyhaadu an laa ilaahaa ill-Allaah wa anna Muhamaddar-Rasuulullaah” (Sahih Bukhari, diriwayatkan oleh Ibn ‘Umar r.a.).

Sedangkan ulama dan atau MUI itulah yang mengarang-ngarang dan mengganti nama Muhammad dengan Mirza Ghulam Ahmad, dan selain dari itupun ulama-ulama ini menambah-nambah Kalimah Syahadat yang sudah baku itu dengan kalimat “Laa nabiyya ba’di”. Ini adalah satu perkara bid’ah atau inovasi, yang menurut faham Wahabi – Arab Nejd dikatakan sebagai kafir, Dalam puluhan hadits berkenaan dengan Kalimat Tayyibah, tidak ada satu pun hadits yang menambah dengan kata “Laa nabiyya ba’di”. Ada banyak hadits yang berkenaan dengan Kalimah Tayyibah tentang kemuliaan orang-orang yang banyak membaca “Laa ilaahaa ill-Allaah”: “Laa ilaahaa ill-Allaah ufnii bihaa ‘umrii”, dengannya aku akan habiskan umurku; “Laa ilaahaa ill-Allaah adkhulu bihaa qabrii”, dengannya aku akan memasuki kuburku, “Laa ilaahaa ill-Allaah akhlu bihaa wahdii ”, dengannya aku habiskan waktu sendiriku, “Laa ilaahaa ill-Allaah alqaa bihaa rabbi”, dengannya aku menghadap Tuhan-ku” Y.M. Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah saw. bersabda : “Laa ilaahaa ill-Allaah”, dengan kalimah itulah saya diutus, dan kepada kalimah itulah saya menyeru manusia: “Laa ilaahaa ill-Allaah”! Tanpa menyebut-menyebut tambahan kalimat “laa nabiyya ba’dii”.

Maka dengan demikian para ulama mereka itu dapat dikatakan menodai keaslian menodai kesucian agama Islam sebagaimana yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad saw., dan selain dari itu pun ulama-ulama mereka itu telah melanggar ketentuan butir Kesatu (1) dari SKB 9 Juni 2008, yang memerintahkan kepada warga masyarakat untuk tidak menceritakan, menganjurkan atau mengusahakan dukungan umum melakukan penafsiran tentang agama Islam yang dianut di Indonesia dengan melakukan kegiatan keagamaan yang menyerupai kegiatan keagamaan dari agama itu yang menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama itu, seperti halnya dengan menambah-nambah Kalimat Syahadat yang sudah baku itu!

SKB 9-6-2008:
Keputusan Bersama Menteri Agama No 3 tahun 2008, Jaksa Agung Nomor Kep- 033/A/JA/6/2006, dan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 199 Tahun 2008 tentang Peringatan dan Perintah kepada Penganut, Anggota dan/atau Anggota Pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) dan Warga Masyarakat.

Kesatu:

Memberi peringatan dan memerintahkan kepada warga masyarakat untuk tidak menceritakan, menganjurkan atau mengusahakan dukungan umum melakukan penafsiran tentang suatu agama yang dianut di Indonesia atau melakukan kegiatan keagamaan yang menyerupai kegiatan keagamaan dari agama itu yang menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama itu.
Sekali lagi, ulama yang menjadi clan-nya MUI itu sudah jelas-jelas melakukan bid’ah, inovasi, yang kata orang Arab Wahabi dikatakan kafir, murtad dan bisa dihukum, karena menambah-nambah Syahadat yang sudah baku itu dengan Laa nabiyya ba’di di belakangnya. Ini jelas menyimpang dari pokok ajaran agama Islam yaitu (Alqur-aan dan) Hadits, selainnya melanggar perintah SKB

4. MUI YANG BERANI MENYEBARKAN FITNAH DUSTA BAHWA AHMADIYAH MEMILIKI SEBUAH KITAB SUCI yang namanya TADZKIRAH.

MUI jelas-jelas menodai dan melecehkan ajaran Islam dengan menyebarkan berita dusta bahwa Ahmadiyyah menyimpang dari ajaran Islam karena memiliki Kitab Suci Tadzkirah. Firman Allah SWT tentang berkata dusta yang disamakan dengan musyrik menyembah berhala, dengan firman-Nya itu janganlah engkau berkata dusta:

Surah Al-Hajj (22) ayat 31:
…….. maka jauhilah kenajisan berhala, dan jauhilah ucapan-ucapan dusta.
Di sini berdusta itu dipersamakan dengan penyembahan pada berhala; pada kenyataannya kebohongan adalah sama dengan penyembahan berhala. Jika tidak demikian maka mengapa orang itu harus meninggalkan kebenaran dan pergi ke patung berhala ini. Sebagaimana patung berhala itu tidak memiliki realitas apa pun yang ada padanya, maka seperti itu pulalah bahwa kebohongan itu tidak memiliki realitas apa pun, kecuali penipuan belaka. Kepercayaan pada orang yang suka berkata dusta itu akan hilang, sehingga jika orang itu sedang berkata yang benar pun, orang-orang lain akan merasa ragu apakah ia berkata benar atau berkata dusta. Bilamana seorang itu sudah berkata dusta dan ia ingin membatasi perbuatannya, maka ia tidak mungkin dapat menghindarkan diri dari kebohongannya itu. Hanyalah jika ia sudah benar-benar berusaha keras di bidang spiritual maka barulah ia dapat terbebas dari kedustaan itu, jadi dikatakan, bagaimana kata-kata yang benar itu dapat ia ucapkan? Di dalam pengalaman sehari-hari orang tersebut yang biasanya berkata dusta, maka kalaupun ia sedang mengatakan yang benar, orang-orang pun tidak akan mempercayainya lagi.

Adapun tentang Tadzkirah sudah berkali-kali diterangkan, dan Jama’at Ahmadiyyah sendiri tidak pernah mengakui atau meng-claim bahwa Tadzkirah itu adalah sebuah Kitab Suci. Justru lawan-lawan Ahmadiyyah-lah yang mem-promosikan bahwa Ahmadiyyah itu memiliki Kitab Suci sendiri: Tadzkirah. Ulama-ulama ini menuduh bahwa Ahmadiyyah katanya memiliki Kitab Suci Tadzkirah. Sungguh aneh! Carilah dirumah-rumah orang Ahmadiyah faktanya, tak ada – tak ada – tak ada itu!!! Walau pun buku ini hanyalah merupakan kumpulan wahyu dan ilham yang diterima oleh Hadhrat Ahmad a.s., yang dikumpulkan dan baru diterbitkan oleh organisasi Jemaat Ahmadiyyah pada tahun 1935, yaitu 27 tahun kemudian setelahnya wafat Hadrat Ahmad a.s.; dan buku ini pun tidak ada di rumah-rumah anggota Ahmadiyyah itu Anehnya sampai Jaksa Jamintel yang Ketua Bakor Pakem Kejaksaan Agung-pun mau saja dan bisa dikibulin oleh MUI dan orang Depag itu Bayangin, jaksa-jaksa saja mau dan bisa dikibuli! Apalagi rakyat awam, umat Islam tentu akan dibuat marah dan geram-lah dengan tuduhan palsu, yang tanpa fakta itu. Kalau Kitab Suci Alqur-aan yang 30 juz itu dapat dipastikan ada di setiap rumah anggota Jama’at Ahmadiyyah. Sebelumnya ini, tuduhan dilemparkan kepada Ahmadiyyah bahwa Alqur-aan-nya orang Ahmadiyyah itu 31 juz; dan waktu itu (sebelum tahun 1960) karena masih jarang didapatkan Al-quraan Ahmadiyyah maka masyarakat mainstream pun percaya saja bahwa Qur-aan-nya Ahmadiyyah itu 31 juz; demikianlah dustanya para Mullah itu. Tetapi, karena itulah penulis mulai menyelidiki Ahmadiyah pada tahun 1963 itu karena saudara Taufik seorang Pemimpin Goodyear Bogor mewanti-wanti bahwa Ahmadiyyah itu Qur-aannya 31 juz!!

Kitab Tadzkirah, yang orang saksikan di media, walaupun hanya potocopinya, justru dimiliki dan disimpan oleh orang-orang yang anti Ahmadiyyah, yaitu M. Amin Djamaluddin LPPI dan orang Tulehu Ambon Harris Umarella yang mengaku sbg. “Habib” Assegaf. Mereka menunjukkan bahwa lihatlah wahyu-nya Mirza Ghulam Ahmad itu mengacak-acak ayat yang ada di dalam Qur-aan, ada yang berbeda dengan ayat-ayat Alqur-aan. Sebagaimana wahyu atau ilham yang diterima oleh wali-wali dalam Islam dan Imam-imam yang dikenal dalam Islam mereka pun banyak mengalaminya, yang isinya, ayat atau kalimatnya itu tidak selalu persis sama dengan ayat dalam Alqur-aan, tetapi jelas tidak boleh bertentangan maknanya.

Ayat-ayat al-Qur’an adalah milik Allah Ta’ala, bukan milik M. Amin Djamaluddin dan kroni-kroninya, sehingga jika ada beberapa wahyu yang beliau terima merupakan pengulangan dari ayat-ayat suci Al-Qur’an. Hal tersebut dimaksudkan sebagai penekanan pada beberapa segi konotasi ayat-ayat tertentu dan penerapannya pada situasi tertentu. Dengan adanya beberapa wahyu yang sama redaksinya dengan ayat suci Al-Qur’an serta diulang-ulang, bukanlah pilihan dan keinginan dari Hz. Mirza Ghulam Ahmad a.s. sebagai penerima wahyu, namun hal itu semata-mata merupakan kehendak dari Allah Ta’ala sebagai Yang Pemberi Wahyu. Jadi, jika tuduhannya adalah membajak ayat-ayat suci Al-Qur’an, maka tuduhan itu tidak ada dasarnya sama sekali, sebab dapat kita temukan juga `pembajakan’ serta pengulangan-pengulangan ayat-ayat Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya adalah pengutipan ayat-ayat Qur’an dalam ceramah-ceramah dan juga dalam tulisan di berbagai macam buku. Orang-orang yang mengutip ayat-ayat suci Al-Qur’an itu juga dapat dikatakan telah membajak kitab suci Al-Qur’an jika menurutkan tuduhan para penentang Ahmadiyah, sebab mereka tidak meminta izin dari Pemilik Al-Qur’an yaitu Allah Ta’ala untuk mengutip isi Al-Qur’an. Bahkan dalam Al-Qur’an Karim juga dapat kita temukan kesamaan dengan kitab-kitab suci terdahulu sebelum lahirnya Al-Qur’an. Kalau begitu keadaannya, apakah kita punya keberanian untuk mengatakan bahwa Islam telah mengacak-acak dan membajak isi dari kitab-kitab Suci sebelumnya seperti Taurat dan Injil karena ada beberapa ayat dalam Al-Qur’an Karim yang merupakan pengulangan dari kedua kitab tersebut? Seperti “Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku,… dst.” (61: 6) “Dan (ingatlah) ketika Isa Putra Maryam berkata: “Hai Bani Israil,… dst.” (61: 7)
Apakah kita mau menerima tuduhan bahwa, na’udzubillahii min dzalik, Rasulullah Muhammad s.a.w. telah membajak perkataan nabi-nabi sebelumnya? Demikian pula halnya dengan kisah-kisah yang terdapat dalam Taurat juga ada di dalam Al-Qur’an, apakah kita juga ingin mengatakan bahwa Al-Qur’an telah menyadur dan membajak isi Taurat? Bahkan ahli-kitab (Yahudi dan Nasrani) mengatakan bahwa banyak ayat Al-Qur’an yang diambil dari Alkitab (Bible). Bagaimana jika Amin Djamaluddin sebagai orang Islam itu dituduh telah membajak isi Alkitab mereka. Apakah kita sanggup menerima tuduhan ini? Tentu saja tidak, karena wahyu-wahyu itu semuanya adalah milik dan berasal dari Allah SWT.

Jadi pada hakikatnya Djamaluddin dan Umarella inilah terutamanya yang mempromosikan Kitab Tadzkirah kepada MUI dan ulama-ulama lainnya; buku kumpulan wahyu dan ilham yang diterima oleh Hadhrat Ahmad a.s. selama hidupnya itu.

5. MUI bukannya sebagai ulama itu bisa membina umat Islam, bahkan MUI sendirilah yang menodai kesucian ajaran Islam, Islam sejati yang penuh kebijaksanaan dan kearifan:

Dalam beberapa hari ini ada terpampang beberapa spanduk besar yang men-diskreditkan dan menghinakan kepada golongan Ahmadiyah, khususnya di Indonesia. Entah siapa yang men-sponsorinya, karena untuk memasang spanduk itu tentu diperlukan uang jutaan rupiah, padahal rakyat Indonesia itu sedang susah-susahnya mencari uang buat makan sehari-hari pun ditambah deraan derita dengan segala macam harga barang dan makanan serta biaya yang naik berlipat-lipat.

Padahal kepada seluruh anggota masyarakat pun termasuk yang diperingatkan dan diperintahkan di dalam SKB 9 Juni 2008 itu, di mana Surat Keputusan Bersama dari Menteri Agama, Jaksa Agung dan Menteri Dalam Negeri R.I. itu memperingatkan dan memerintahkan kepada semua pengikut, anggota dan/atau pengurus dari Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) dan anggota masyarakat:

PERTAMA: Memperingatkan dan memerintahkan kepada anggota masyarakat untuk jangan ……….. FIRST: To warn and order to members of the society to not narrate, suggest or attempt public support to interpret a religion that is held in Indonesia or to conduct religious activities that resemble the religious activities of that religion which are deviant from the principle teachings of the religion, yang menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama itu.

Menurut “berita intelejen”, orang-orang atau kelompok golongan yang memojokkan Ahmadiyah di Indonesia itu bukan semata-mata orang atau golongan Islam, yang benar-benar mencintai agama Islam, yang ingin membela agama Islam, atau yang mengerti akan ajaran agama Islam yang hakiki, tetapi mereka itu “katanya”, dan memang nampak dan terbaca juga lah, mereka itu mempunyai tujuan yang lebih jauh lagi, yaitu untuk menjatuhkan pemerintah NKRI yang syah, dan sesudahnya itu bahkan kelihatannya ingin merubah Konstitusi UUD R.I. 1945 nantinya. Mudah-mudahan para cendekiawan dan intelejen di NKRI dapat segera membaca dan menyadari apa sebenarnya kehendak mereka itu, yang dengan menggunakan isu menentang Ahmadiyah ini adalah untuk menarik “simpati” masyarakat banyak dan orang awam yang dapat dibohongi, yang tidak mau mencari tahu dari sumbernya Ahmadiyah sendiri, atau tidak sempat mencari tahu apa fakta dan sebenarnya tentang Ahmadiyah sebagai salah satu sekte dari Islam itu.

Seharusnya kekasaran mereka dan caci mereka serta hasut-menghasut mereka itu dapat dicegah oleh para ulama yang arif, orang berilmu yang takut kepada Tuhan. Kita memang sudah tidak dapat lagi mengandalkan kepada MUI, yang jelas-jelas perilaku dan fatwanya itu benar-benar menentang ajaran dan perintah dari Allah Yang Maha Kuasa; lihatlah beberapa penjelasan di bawah:

Kitab Suci Al-Qur’an mengingatkan tentang adanya perbedaan-perbedaan diantara umat manusia agar manusia saling mengenal dan saling menghormati. (QS 49 : 13)
Dalam menyikapi perbedaan agama, Al-Qur’an dengan jelas memberikan petunjuk agar manusia menganut prinsip bagimu agamamu dan bagiku agamaku. (QS 109: 6) Dalam urusan agama manusia tidak bisa dipaksa.( QS2: 256) Nabi Muhammad sendiri tidak diperkenankan untuk memaksa orang lain menjadi mukmin.(QS10:99), Dan kalau Tuhan-mu menghendaki, tentunya beriman-lah semua orang di muka bumi seluruhnya. Apakah engkau –(Muhammad)- hendak memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang mukmin semuanya???

Kitab suci Al-Qur’an juga menginformasikan kepada umat Islam tentang kemungkinan adanya keselamatan yang bisa diperoleh lewat agama lain. Keselamatan mungkin bisa diperoleh umat manusia yang memenuhi tiga kriteria; iman kepada Tuhan, iman kepada hari kiamat atau hari pembalasan dan mengerjakan amalan-amalan yang baik atau amal saleh. (QS 2:62) Sesungguhnya orang-orang beriman, orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabi-in (orang mengikuti agama atau aliran baru yang menyimpang dari ajaran Nabi sebelumnya) barang siapa yang beriman kepada Allah, hari kemudian dan melakukan amal shaleh, mereka akan menerima pahala di sisi Tuhan mereka, tidak ada ketakutan bagi mereka, dan tidak pula mereka berduka cita.

Oleh karena itu Al-Qur’an juga memberikan bimbingan agar perbedaan keyakinan dalam agama harus diserahkan kepada Tuhan, jangan dihakimi oleh manusia di dunia ini. (QS 6:159) Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama dan mereka menjadi golongan-golongan, maka engkau (Muhammad) tidak berkepentingan sesuatu apa pun; sesungguhnya urusan mereka itu terserah kepada Allah, yang nantinya Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan itu!. Biarkan mereka masing-masing memiliki kebanggaan dengan golongannya sendiri. (QS30:31-32) …. Tunduklah kamu kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik, yaitu orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi golongan-golongan; tiap-tiap golongan itu bangga dengan apa yang ada pada mereka. Oleh karena itu Al-Qur’an mengajarkan agar orang mukmin, kaum beriman hendaknya tidak memberikan penghinaan atau stigma negative terhadap kelompok lain.(QS 49:1I) Hai semua orang-orang yang beriman, janganlah satu kaum mengolok-olokan kaum yang lain, boleh jadi mereka (orang, golongan yang di-olok-olokkan itu) lebih baik dari mereka (orang, golongan yang meng-olok-olokkan itu) …….

Itulah sebabnya mengapa fatwa MUI yang mengatakan orang dari golongan lain itu sesat adalah sama dengan menodai ajaran agama Islam sejati, ajaran Tuhan yang Suci dan Maha Bijaksana.

# Azab dan Bencana dikarenakan Penganiayaan terhadap Ahmadiyah

Yang Mulia Kanjeng Nabi Muhammad, Rasulullah SAW. bersabda:

• “Takutilah do’a (kutukan) orang yang dizalimi, karena do’a (kutukannya) akan dibawa Malaikat ke angkasa (langit). Allah Ta’ala berfirman: ‘Demi keagungan dan kegagahan-Ku, pasti Aku akan menolong engkau (orang yang dizalimi) walaupun telah berlalunya masa (kutukan itu tetap akan turun) “.[2]
• “Takutilah do’a (kutukan) orang yang dizalimi, karena do’a (kutukannya) akan naik ke langit seperti percikan bunga api”[3]
• “Do’a (kutukan) orang yang dizalimi mustajab (dikabulkan) , walaupun orang itu seorang ahli maksiat karena akibat kemaksiatannya itu hanyalah untuk dirinya”.[4]
Dalam hal ini, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as. menerima wahyu: “Seorang pemberi peringatan telah datang ke dunia dan dunia tidak menerimanya, tetapi Tuhan akan menerimanya dan Dia akan menampakkan kebesaran-Nya dengan serangan yang dahsyat”.[5]
Kami menghimbau kepada segenap elemen Bangsa Indonesia untuk dengan serius dan segera menghentikan dan menolak segala bentuk penganiayaan, penyerangan, pengrusakkan, dan penjarahan atas Ahmadiyah. Jika tidak, kami khawatir azab dan bencana besar akan terus turun seiring dengan penganiayaan (penzaliman) terhadap Ahmadiyah itu.
Terakhir, kepada Forum Umat Islam (FUI) penulis sampaikan bahwa Bangsa Indonesia pada akhirnya akan tahu bahwa: Tuduhan “Penodaan Agama” yang kalian kemukakan, dalam istilah Sullamul Munauraq (mantiq) disebut HUJJAH SAFSATHIYYAH (argumentasi yang seolah-olah benar padahal salah alias akal-akalan) belaka. Untuk itu berhentilah menzalimi Ahmadiyah dan jangan terus-menerus mengundang azab dan kesengsaraan. Jadikan “kehancuran” Afghanistan, negeri yang telah merajam (menghukum mati) dua murid Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as. sebagai pelajaran.
.
“Wa aakhiru da’waanaa anil hamdi lillaahi rabbil ‘aalamiin”, “Dan kata-kata akhir dari kami, segala puji hanyalah bagi Allah, Tuhan Semesta Alam”.

Rujukan:
[1] Yusuf bin Isnail an-Nahabani, asy-Syaikh, SyawÄ’hidul haqq, Darul Fikr, Beirut, 1983, halaman 50. Dan Abdul Wahhab Sya’rani, asy-Syaikh, Al-Yawāqit wa Al-JawÄ’hir, al-Haramain, Singapura, tth, juz I, halaman 126.
[2] Hadits Riwayat Ath-Thabarani, Al-Jẕmi’ Al-Shaghîr, Jilid I, halaman 28, hadits no 148.
[3] Hadits Shahih Riwayat Al-Hakim, Al-Jẕmi’ Al-Shaghîr, Jilid I, halaman 28, hadits no 149.
[4] Hadits Shahih Riwayat Ath-Thayalis, Al-Jẕmi’ Al-Shaghîr, Jilid I, halaman 648, hadits no 4204.
[5] Mirza Hulam Ahmad, Sirrul Khilẕfah, Riyadhul Hindi, Amritsar India, 1312 H, halaman 1.
__._,_.___
Was salaamu ‘alaikum wa rahmatullaahi wabarakaatuh,

Kamis, 3-7-2008

10 Responses to “PENODAAN AGAMA LEBIH TEPAT DIKENAKAN KEPADA MUI”


  1. 1 Silvie July 5, 2008 at 3:58 am

    salah satu tanda turunnya Imam Mahdi,yaitu manusia yg paling gigih menolaknya adalah para ulama.seperti yg dikatakan seorang ahli sufi dan penafsir Alquran terkenal,Hazdrat Muhyidin Ibnu Arabi.
    ” Bila Imam Mahdi muncul ,tak ada orang yg lebih menentangnya daripada yg dinamakan kaum Fuqaha(ulama),karena mereka khawatir kehilangan kedudukan dan pegangan mereka pd masyarakat ramai.” ( FATUHATUL MAKKIYAH,JILID II BAB 366,hlm 374)

    jadi gk heran ya MUI gigih banget menolak,toh jauh2x hari sudah diberitahukan dalam hadist…

  2. 2 Jafar July 5, 2008 at 8:23 am

    ” Bila Imam Mahdi muncul ,tak ada orang yg lebih menentangnya daripada yg dinamakan kaum Fuqaha(ulama),karena mereka khawatir kehilangan kedudukan dan pegangan mereka pd masyarakat ramai.” ( FATUHATUL MAKKIYAH,JILID II BAB 366,hlm 374)
    Anda dapat darimana nih, koq bisa2nya bilang hadist. Telusuri dulu dengan baik, apakah sanad hadist ini sampai kepada Rasulullah SAW dan juga lihat kedudukan hadist ini apakah hadist kuat, lemah atau palsu. Dan Ibnu Arabi sendiri pun telah difatwakan sesat ajaran2nya oleh ulama di zamannya, termasuk juga oleh Imam Nawawi Rahimahullah.

    Dalam menyikapi perbedaan agama, Al-Qur’an dengan jelas memberikan petunjuk agar manusia menganut prinsip bagimu agamamu dan bagiku agamaku. (QS 109: 6) Dalam urusan agama manusia tidak bisa dipaksa.( QS2: 256) Nabi Muhammad sendiri tidak diperkenankan untuk memaksa orang lain menjadi mukmin.(QS10:99), Dan kalau Tuhan-mu menghendaki, tentunya beriman-lah semua orang di muka bumi seluruhnya. Apakah engkau –(Muhammad)- hendak memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang mukmin semuanya???

    Anda menginterpretasikan sendiri bacaan Al-Qur’an ini bukan? Ayat-ayat diatas itu tidaklah tepat untuk Ahmadiyah, itu berlaku untuk agama-agama lain selain Islam.
    Saya mau tanya balik, sudah sejauh mana kadar keilmuan anda sampai berani mengatakan bahwa para ulama se-Indonesia dan dunia itu salah karena telah mengkafirkan Ahmadiyah. Apakah anda merasa ilmu anda diatas mereka sampai anda mengatakan bahwa para ulamalah yang mesti disebut telah menodakan agama Islam.
    Kalau anda ada waktu coba tanya ke tiap kyai, tiap habaib, tiap ustadz, tiap syekh di negeri ini ataupun di dunia, bagaimana pendapat mereka tentang Ahmadiyah. Apakah anda siap untuk menerima kebenaran itu ataukah anda berani mengatakan bahwa semua kyai, habaib, ustadz dan para syekh itulah yang telah keliru.
    Sekedar pelurusan, Imam Syafii hampir dianggap sesat oleh penguasa kala itu dikarenakan Beliau dekat dengan kalangan Ahlul Bait. Namun ketika dihadapkan kepada penguasa Beliau mengaku bahwa kecintaan dan kedekatan beliau dengan kalangan Ahlul Bait hanya karena Cinta Beliau kepada anak cucu dan keluarga Rasulullah, bukan dalam hal yang lain.

  3. 3 silvie July 10, 2008 at 5:33 am

    Baik maaf saya salah menyebutkan, itu bukan hadist akan tetapi itu adalah qaul ibnu arabi sendiri sebagai seorang sufi dan ulama kenamaan arab.
    Ibnu arabi,imam syafi’i,imam ghazali,imam abdul qadir jailani mereka di anggap sesat oleh ulama sezamannya.

    Untuk saudara Jafar untuk apa sih kami merubah rubah /memalsukan ayat2x Allah tidak ada untungnya dan tidak ada manfaatnya bagi saya kalau saya memalsukan semua itu yg ada juga saya nantinya kena hukuman Allah dan saya takut akan murka Allah. Kalau semua apa yg saya kutip dan saya sampaikan palsu ,mendingan saya enggak usah dialog buang2x waktu. saya memberi penjelasan tentang ini karena atas apa yg saudara2x tuduhkan terhadap muslim kami itu sama sekali tidak benar maka dari itu saya ingin menjelaskannya supaya tidak menyalah artikan.

    kalau anda tidak setuju dengan kami itu hak anda.tapi jangan kira saya tidak menentang ahmadiyya, sama dulu juga saya menentang tapi karena ada kemauan utk bertanya dan tidak lupa berdo’a maka dari itu Alhamdulillah saya mendapat karunia ternyata inilah Islam sebenarnya islam ajaran Nabi Muhammad saw yg keutuhannya di jaga oleh Almasih&Almahdi yg di janjikan untuk umat akhir zaman.

  4. 4 Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi July 15, 2008 at 4:56 pm

    TENTANG AHMADIYAH:

    1. Tidak usah berfikir jauh-jauh: Ahmadiyah itu adalah TUNAS sifat Injilnya dari tanaman Taurat umat Muhammad Taurat sesuai dengan Al Fath (48) ayat 29, Ash Shaff (61) ayat 6,7,8,14. Kabil membunuh Habil sesuai Al Maidah (5) ayat 27-32.

    2. Tidak usah berfikir jauh-jauh: Nasrani itu adalah sifat Injilnya Hikmah sesuai Al (43) ayat 63 umat Musa, sesuai Al Baqarah (2) ayat 87. Kitab-Hikman = Taurat Injil Ali Imran (3) ayat 48. Kabil membunuh Habil sesuai Al Maidah (5) ayat 27-32

    3. Tidak usah berfikir jauh-jauh: Anak manusia sifat Injil Hikmah sesuai Al Anbiyaa (21) ayat 74,71, dibunuh sifat Taurat umat Ibrahim sesuai Yohanes 8:39,40, Al Hajj (22) ayat 43. Al A’raaf (7) ayat 82 Luth terusir. Kabil membunuh Habil sesuai Al Maidah (5) ayat 27-32.

    4. Tidak usah berfikir jauh-jauh: umat Nuh sifat Injil Hikmah tidak diiman oleh umat Adam sesuai Ali Imran (3) ayat 31,32,33,34, Maryam (19) ayat 58, Yohanes 8:59,59, Kabil membunuh Habil Al Maidah (5) ayat 27-32.

    5. Sunnatullah dari dahulu tidak berubah sesuai Al Fath (48) ayat 23.

    Wasalam, Soegana Gndakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

  5. 5 aveo July 16, 2008 at 3:57 am

    Jika JAI tetap bersikukuh pada pendirian Bahwa HMGA adalah Utusan Allah Swt. tidak bisa dikenai pasal penodaan agama sebab baik menurut Hadist maupun Al Quran kedatangan Imam Mahdi benar-benar akan datang di akhir jaman.
    Penodaan agama justru dilakukan oleh MUI dan ormas-ormas Islam yang tidak mengakui dan mencemooh kebenaran HMGA sebagai Imam Mahdi. Fatwa yang dibuat MUI kini menjadi sandaran ormas-ormas untuk menolak Ahmadiyah, seolah Fatwa tersebut haram untuk ” salah ” dan 100 % benar. Ayat Al Quran yang menyatakan bahwa hanya Allah sajalah yang mengetahui siapa yang salah dan siapa yang mendapat petunjuk seolah menjadi aturan yang donomor duakan.
    Pasal penodaan agama oleh Ahmadiyah semata-mata didasarkan pada sudut pandang mainstream, padahal wasiyat Rasulullah SAW : jika terjadi perbedaan pendapat diantara umat Islam harus dikembalikan kepada Al Quran dan Hadist

  6. 6 Nabi lama July 16, 2008 at 4:44 am

    Quote:
    Pasal penodaan agama oleh Ahmadiyah semata-mata didasarkan pada sudut pandang mainstream, padahal wasiyat Rasulullah SAW : jika terjadi perbedaan pendapat diantara umat Islam harus dikembalikan kepada Al Quran dan Hadist
    Jawab:
    Dari sudut pandang Ahmadi, mainstream juga sesat karena telah menolak MGA sebagai “Nabi Isa” alias Khrisna, alias dsb yang diutus.
    Dalam hal mengembalikan ke Al Quran dan Hadist, Ahmadi mengacunya ke terjemahan sendiri dan penafsiran yang lain dari yang umum (mainstream), pastinya nggak bakalan ketemu.
    Perbedaan Ahmadi dan mainstream adalah sangat prinsip, yaitu adanya akidah baru, dengan meyakini nabi baru.
    Salam,

  7. 7 join dong July 19, 2008 at 10:48 am

    Kepada Anda anda yg tidak senang kepada Ahmadiyah,terserah sesuka hatimu saja.ingetloh setiap perbuatan dan ucapan nantinya dipertanggung jawabkan.Toh kalau kalian yakin merasa paling benar ya sudah tidak usah mengurus aqidah orang lain.Nanti di akhirat Allah sendiri yg akan menghakimi manusia bukan anda anda yg merasa paling benar.
    banyak loh orang2x yg memusuhi ahmadiya dan ingin berupaya melenyapkan ahmadiyya tapi apa yg mereka lakukan malah berbalik pada mereka sendiri.di Indonesia saja contohnya tuh Munarman dan riziq Shihab,mereka mati matian pingin ngubur ahmadiyah tapi malah berbalik sama diri mereka sendiri malah mereka yg terkubur alias terkurung>>>>
    Kalau bukan kehendak Allah ya kehendak siapa lagi karena Allah yg maha tau mana yg benar dan mana yg salah.
    sebagus bagusnya rencana manusia rencana Allah jauh lebih baik..

  8. 8 kevin July 24, 2008 at 11:43 am

    @ Silviie

    “salah satu tanda turunnya Imam Mahdi,yaitu manusia yg paling gigih menolaknya adalah para ulama…”

    Aku pernah baca ada satu hadis Rosulluloh yang menjelaskan bahwa seburuk buruknya manusia di akhir jaman adalah ulama…!

    ih ngeri juga yah jadi ulama ..!

  9. 9 bhinnekacatursilatunggalika January 20, 2013 at 1:46 am

    MUI telah menjadikan Al Quran bermacam-macam menurut Al Hijr (15) ayat 91, karena mengikuti orang-orang Arang yang paling kafir dan yang paling munafik menurut At Taubah (9) ayat 97

  10. 10 Soegana Gandakoesoema January 25, 2013 at 2:28 am

    Untuk mengenal siaapa itu MUI bacalah, milikilah, hayatilah isi Buku Panduan
    “Bhinneka Catur Sila Tunggal Ika”
    Bonus
    “Skema Tunggal Ilmu Laduni Tempat Acuan Ayat Kitab Suci tentang Kesatuan Agama”
    Penulis Soegana Gandakoesoema
    Tersedia di
    Perukahan Puri BSI Permai Blok A3
    Jl. Samudera Jaya
    Kelurahan Rangkapan Jaya
    Kecamatan Pancoran Mas
    Depok 16435
    Telp./Fax. 02177884755
    HP. 085881409050


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




AYO BERBELANJA DI TOKO ONLINE KAMI:

Statistik Blog

  • 226,789 hit

aku suka jalan-jalan

hidup adalah jalan-jalan. jalan-jalan adalah hidup

%d bloggers like this: