Menjelang Lebaran dan Khutbah Id

Lebaran sebentar lagi. Sebagian dari anda mungkin tengah dalam perjalanan untuk mudik kekampung halaman dan sebagian lagi sedang khusyu menjalani itikaf di 10 hari terakhir Ramadhan ini.
Bagi anda yang masih beraktifitas seperti biasa dan masih sempat juga mengunjungi blog ini, maka saya ingin memposting untuk anda suatu tulisan menarik yang bersumber dari Khutbah Iedul Fitri yang disampaikan oleh Khalifah kami ditahun 1960 dan 1965, yang terjemahannya kedalam bahasa Indonesia dilakukan oleh Bapak Hasan Basri, Singapore.
Dalam Khutbah Idul Fitri 29 Maret 1960 Hazrat Khalifatul masih II ra bersabda :
“Terbukti dari hadis-hadis bahwa Rasulullah saw pada Hari Id, begitu keluar dari rumah menuju Id gah (tempat sembahyang Id) sampai sudah duduk ditempat Id itu juga beliau banyak sekali membaca takbiraat dibawah in, yakni :
اَللهُ اَكْبَر اَللهُ اَكْبَر, لاَ اِلـهَ اِلاَّ اللهُ وَ اَللهُ اَكْبَر, اَللهُ اَكْبَر وَلِلَّهِ اْلحَمْدُ
Artinya : Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Besar, Allah Maha Besar ! Hanya bagi Dialah semua pujian kita ucapkan !!
Diwaktu kembali dari Id gah juga beliau terus membaca takbiraat ini sepanjang jalan dan itulah sunnah beliau saw pada setiap hari Id.
Dari sunnah Rasulullah ini kita ketahui bahwa Id sejati orang-orang mu’min adalah untuk menyanjung keagungan nama Allah swt. Jadi apabila kita berhasil menegakkan keagungan Allah swt diatas dunia ini, menyebar luaskan keagungan nama-Nya, membuktikan keagungan-Nya kepada dunia, dan kita mewaqafkan kehidupan dan usaha kita untuk tujuan supaya keagungan nama Tuhan tegak dimuka bumi, maka tentu Id kita patut disebut Id yang sejati. Akan tetapi jika kita tidak mempunyai kesadaran untuk berkhidmat kepada Agama dan jika kita malas untuk mengurbankan harta, waktu dan tenaga kita demi penyebaran tauhid Ilahi dan demi menegakkan keagungan-Nya dimuka bumi, maka secara ‘am Id kita belum dapat disebut Id yang sejati. (Kemudian, secara perorangan, apa yang dapat kita rasakan dari hasil ibadah puasa kita selama Ramadhan yang baru lalu ini? Adakah tersimpan sedikit-banyak kesan Ramadhan kedalam hati kita?
Misalnya, ikhlaskah kita waktu menunaikan ibadah puasa, adakah merasa semangat bangun untuk Tahajjud, adakah rasa semangat membaca Al Quran, adakah perasaan khusyu diwaktu memanjatkan do’a, adakah semangat untuk memberi sadqah khairat kepada fakir miskin? dsb. dsb. Kalau ada salah satu yang disebutkan diatas, alhamdulillah !! Kita patutlah merasa senang dan gembira merayakan Id pada hari ini. Akan tetapi jika sebaliknya tidak ada sebarang yang dirasa pada diri kita kerana kurang khusyu’ melakukan ibadah puasa, atau selama bulan Ramadhan tidak pernah berpuasa, atau puasapun seperti keadaan terpaksa, apa lagi sembahyang yang paling pentingpun tidak dikerjakan, maka Id ini bagi dia tidak ada artinya sama-sekali. Bagi dia Id ini bukan untuk bergembira namun sebaliknya ianya harus bersedih hati karena ianya telah melalaikan perintah Allah swt yang akibatnya akan menerima hukuman yang keras dari Allah swt. Beratnya hukuman dapat diperkirakan dari sebuah hadis yang mengatakan : Beratnya dosa meninggalkan puasa satu hari saja tanpa alasan apapun, tidak dapat ditebus atau diganti dengan puasa seumur hidup. Peny.)
Maka saya hari ini ingin menegaskan kepada kawan-kawan, usahakanlah untuk merayakan Id yang sungguh-sungguh dapat dikatakan Id yang sebenarnya dan zahiri Id yang sedang diperingati ini jadikanlah sarana untuk meraih Id yang hakiki sehingga didalamnya manusia seluruh dunia mengakui tauhid Ilahi. Dapat diketahui dari nubuwatan bahwa pada suatu hari akan terjadi suatu revolusi (perubahan) yang sangat besar bahwa dunia seluruhnya akan runduk dan bersujud dihadapan Allah swt. Akan tetapi untuk menyempurnakan nubuwatan itu sangat diperlukan do’a yang banyak, pengurbanan yang ikhlas dan perjuangan yang keras……..”

Didalam Khutbah 1965 Hazrat Khalifatul Masih II r.a. bersabda :
“ Saya ingin mengatakan kepada kawan-kawan semua bahwa Id kita baru dikatakan Id yang hakiki apabila Id kita ini sudah sesuai dengan Id yang dirayakan oleh Rasulullah saw. Jika kita merayakan Id yang tidak ada sangkut pautnya dengan Id Nabi Muhammad saw maka Id kita sama sekali tidak dapat dikatakan Id melainkan hari berkabung (hari kesedihan). Seperti halnya dirumah seseorang ada yang meninggal dan mayat membujur disana, ada seorang pembesar dirumah itu meninggal dunia. Dirumah itu sekalipun dirayakan seratus kali Id maka bagi keluarga itu bukanlah merupakan hari Id melainkan hari berkabung (hari kesedihan). Demikian jugalah bagi seorang muslim, walaupun Nabi Muhammad saw sudah wafat lebih 1400 tahun yang lalu jika Id dirumah dia tidak direstui oleh Id Nabi Muhammad saw, dan mereka bergembira dengan Id secara zahiriah ini, maka Idnya itu tidak membawa sebarang faedah apapun. Memang betul pada hari itu Allah swt menyuruh kita untuk bergembira-ria dan kitapun terpaksa dengan gembira merayakannya, namun didalam hati kita harus tetap menangis mengapa Id yang direstui Id Nabi Muhammad saw belum juga tiba sa’atnya? Id Nabi Muhammad saw bukan untuk makan-makan kueh yang manis-manis atau memakan gulai karri atau gulai lemak dan sebagainya, Id beliau adalah dirayakan kerana ajaran Al Quran dan Islam sudah mulai tersebar keseluruh negeri Arab pada waktu itu. Sekarang jika ajaran Al Quran dan Islam sudah merata tersebar kesuluruh dunia, disetiap rumah sudah ramai orang membaca Al Quran, disetiap rumah bendera Islam sudah berkibar maka Id kita sesuai betul dengan Id yang dirayakan Rasulullah saw, dan mendengar hal ini tentu Rasulullah saw akan sangat gembira sekalipun beliau sudah wafat 1400 tahun yang silam, bahwa missi yang beliau bawa kedunia sampai sekarang tetap tegak berdiri dengan teguhnya.
Jadi usahakanlah selalu supaya ajaran Islam dan hukum-hukum Al Quran segera tersebar keseluruh dunia supaya Id kita benar-benar sesuai dengan Id yang dirayakan oleh Rasulullah saw. Jika Id pada zaman sekarang ini tidak layak dihadiri oleh Rasulullah saw (Id ini tidak sesuai dengan Id Rasulullah saw) maka Id ini tidak patut disebut hari Id melainkan hari berkabung (hari kesedihan) bagi ummat Islam seluruhnya.

2 Responses to “Menjelang Lebaran dan Khutbah Id”


  1. 1 fikriakbar October 2, 2008 at 1:31 am

    TAQOBALLAHU MINNA WAMINKUM. DI HARI YANG FITRI INI MARI KITA JAGA KESUCIAN HATI MENUJU KEMENANGAN SEJATI. http://fikri-akbar.co.cc

  2. 2 wildan October 6, 2008 at 2:15 pm

    Assalamualaikum, mohon maaf lahir dan batin yaaa ,salam persaudaraan!!!!!!!!

    @d3n
    Wa’alaikum salam. Terima kasih atas kunjungannya, saudaraku! Tunggu kunjungan balik saya 😀


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




AYO BERBELANJA DI TOKO ONLINE KAMI:

Statistik Blog

  • 258,672 hit

aku suka jalan-jalan

hidup adalah jalan-jalan. jalan-jalan adalah hidup

%d bloggers like this: