Khalifah dalam Islam

Allah SWT telah menjanjikan kepada orang-orang beriman dan beramal sholeh, bahwa sepeninggal Rasulullah SAW, Allah SWT akan membangkitkan khalifah-khalifah.
FirmanNya:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئاً وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dari antara kamu dan berbuat amal shaleh, bahwa Dia pasti akan menjadikan mereka itu khalifah di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan khalifah kepada orang-orang yang sebelum mereka: dan Dia akan meneguhkan bagi mereka agama mereka. yang telah Dia ridhai bagi mereka; dan niscaya Dia akan menggantikan mereka sesudah ketakutan mereka dengan keamanan. Mereka akan menyembah Aku, dan mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu dengan Aku. Dan barangsiapa ingkar sesudah itu, mereka itulah orang-orang yang durhaka
“(An-Nur, 24:56)

Rasulullah SAW-pun telah mengkhabar-ghaibkan bahwa akan ada empat periode yang mewarnai kepemimpinan Muslimin sepanjang perjalanan sejarahnya, yaitu masing-masing adalah : Masa Kenabian, Masa Khilafah yang mengikuti jejak kenabian lalu Masa kerajaan dan manakala masa kerajaan berakhir, kepemimpinan Muslimin akan kembali memasuki Masa Khilafah ‘Ala Minhajin Nubuwah, Khilafah yang berpola/mengikuti jejak kenabian. Sebagaimana yang dapat kita baca dari hadits berikut:

“Dari Nu’man bin Basyir dari Hudzaifah bin al-Yaman ra, berkata: Rasulullah SAW, bersabda: Adalah masa Kenabian itu ada di tengah-tengah kamu sekalian, adanya atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya apabila Ia telah menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian adalah masa Khilafah yang mengikuti jejak Kenabian (Khilafah ‘Ala Minhajin Nubuwwah), adanya atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya apabia Ia telah menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian adalah masa Kerajaan yang menggigit (Mulkan ‘Adhan), adanya atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya apabila Ia telah menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian adalah masa Kerajaan yang menyombong ((Mulkan Jabariyyah), adanya atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya, apabila Ia telah menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian adalah masa Khilafah yang mengikuti jejak Kenabian (Khilafah ‘Ala Minhajin Nubuwwah). Kemudian (Nabi), diam”.
(Musnad Ahmad bin Hambal, jilid 4:273).

Lalu seperti apakah sebenarnya bentuk dari kekhalifahan Islamiyah yang dimaksud Allah dan Rasulullah tersebut? Apakah itu suatu lembaga yang bercorak politis ataukah lembaga yang hanya bercorak agamis?

Pada kenyataannya memang terjadi pemahaman dan penafsiran yang berbeda atas kedudukan Khilafah Islamiyah tersebut, dimana sebagian memahami bahwa Khilafah itu adalah suatu lembaga yang bercorak politis, namun sebagian lagi memahami bahwa itu hanya bercorak agamis semata.

Namun apabila kita mengingat bahwa Khilafah yang harus berdiri itu adalah Khilafah Ala Minhajin Nuhuwwah, maka itu artinya ke khalifahan ini coraknya adalah agamis, bukan politis.

Bila kita perhatikan, maka semenjak ke-khilafahan Turki Usmani runtuh (1924), upaya untuk mendirikan kembali Khilafah banyak dilakukan oleh para pemimpin dunia Islam, seperti misalnya:

Tahun 1926, di Kairo, Mesir, dan di Mekah, Saudi Arabia, berlangsung Kongres Islam Sedunia, atas prakarsa Ulama Al-Azhar dan Raja Ibnu Sa’ud. Mewakili Muslim Indonesia, hadir H.O.S. Tjokro Aminoto dari Syarikat Islam, K.H. Mas Mansur dari Muhamadiyah, dan H.A. Karim Amarullah. Tetapi, kongres ini tidak berhasil mewujudkan apa yang menjadi cita-cita.

Tahun 1974, di Lahore, Pakistan, berlangsung Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Islam, dihadiri 38 negara. Pesertanya terdiri atas Kepala Negara, Perdana Menteri, dan Menteri-Menteri Luar Negeri. Masalah Khilafah juga menjadi salah satu agenda pembahasan KTT. Tetapi, KTT tidak berhasil mewujudkan apa yang menjadi harapan dan cita-cita ummat Islam. KTT gagal mewujudkan Khilafah Islamiyah.

Hizbut Tahrir adalah satu diantara kelompok Islam yang tak pernah surut berjuang untuk menegakan kembali lembaga Khilafah. Hizbut Tahrir mengklaim sebagai partai politik idiologis dengan tujuan menjadikan idiologi Islam sebagai lampu penerang dalam kegelapan sekularistik yang membelenggu dunia saat ini. Tidak heran, jika ditengah krisis multi dimensi yang melanda dunia, termasuk melanda bangsa Inonesia saat ini, Hizbut Tahrir menawarkan sistim Khilafah Islamiyah, mengantikan sistim Demokrasi yang diusung Sekularisme dan Kapitalisme.

Lalu kenapa usaha-usaha untuk mendirikan kembali Khilafah Islamiyah selalu gagal? Bukankah Allah berjanji akan menjadikan Khilafah? Dan, bukankah dibawah panji Khilafah itu terletak kejayaan Islam dan umat Islam?

Adalah kelompok Muslim Ahmadiyah yang meng-klaim bahwa sebenarnya Khilafah ‘Ala Minhajin Nubuwwah Itu telah berdiri, yang terwujud dalam Khilafah Ahmadiyah Dimana silsilah Khilafah ini berdiri semata-mata hanya untuk melaksanakan tugas Risalah An-Nubuwwah Muhammad Rasulullah SAW, yakni: لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ- memenangkan agama (Islam) diatas semua agama (Ash-Shaf, 61:9).

Selama 100 tahun masa ke-Khilafahan telah 5 kali berganti Khilafah. dengan susunan nama dan masa ke-Khalifahan, sbb: 1) Al-Haj Maulana Hakim Nuruddin. Khalifatul Masih I 1908-1914).2) AI-Haj Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad, Khalifatul Masih II (1914-1965). 3) AI-Hafiz Mirza Nasir Ahmad, Khalifatul Masih III (1965-1982). 4) Hadhrat Mirza Tahir Ahmad, Khalifatul Masih IV (1982-2003). 5) Hadhrat Mirza Masroor Ahmad Khalifatul Masih V (2003-Sekarang).

2 Responses to “Khalifah dalam Islam”


  1. 1 ahmadi_tulen October 16, 2008 at 4:00 am

    Hazrat Masih Mau’ud as bersabda:

    Alquran tidak mengatakan kepadamu seperti yang dikata- kan Injil, bahwa kasihanilah musuh-musuhmu, tetapi Alquran me- ngatakan bahwa janganlah kamu mempunyai musuh pribadi dan hendaknya rasa kasihmu merata kepada tiap-tiap orang. Akan te- tapi orang yang menjadi musuh bagi Tuhan-mu, pula menjadi musuh bagi Rasul-mu dan menjadi musuh bagi Kitab Allah, orang itulah musuhmu. Maka, hendaknya kamu jangan mengasingkan orang-orang serupa itu juga dari seruan dan doa-doamu.. Dan hendaklah kamu memusuhi perbuatan mereka saja dan bukan kepada pribadi mereka. Berusahalah agar mereka menjadi orang-orang benar. Mengenai itu Dia berfirman :

    إِنَّ اللّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاء ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاء وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

    “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan dan memberi kepada kaum kerabat…” (16:91)],

  2. 2 pengelolakomaht December 30, 2008 at 5:34 am

    Simak diskusi antara Hizbut Tahrir dan mantan Hizbut Tahrir, tentang Hizbut Tahrir dan da’wah khilafahnya di :

    mantanht.wordpress.com

    Semoga menambah wawasan kita bersama.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




AYO BERBELANJA DI TOKO ONLINE KAMI:

Statistik Blog

  • 215,909 hit

aku suka jalan-jalan

hidup adalah jalan-jalan. jalan-jalan adalah hidup

%d bloggers like this: