Belajar dari lebah madu

lebahKecuali Allah Ta’ala, seluruh makhluk Allah Ta’ala guna mempertahankan eksistensinya memerlukan keberadaan pasangan (jodoh). Ketentuan Allah Ta’ala tersebut berlaku pula bagi masalah kerohanian, firman-Nya: Mahasuci Dzat Yang menciptakan segala sesuatu berjodoh-jodoh (berpasang-pasangan), dari apa yang ditumbuhkan bumi dan dari diri mereka sendiri, dan juga dari apa yang belum diketahui mereka (Qs.36:37).

Ilmu pengetahuan telah menemukan kenyataan bahwa pasangan-pasangan terdapat dalam segala sesuatu – dalam alam nabati (tumbuh-tumbuhan), dan malahan dalam zat anorganik. Bahkan yang disebut unsur-unsur tidak terwujud dengan sendirinya. Unsur-unsur itu pun bergantung pada zat-zat lain untuk dapat mengambil wujud (berwujud).

Kebenaran ilmiah yang dikemukakan AI-Qur’an ini berlaku juga untuk kecerdasan manusia. Sebelum nur-nur samawi turun, manusia tidak dapat memperoleh ilmu sejati, yang lahir dari perpaduan wahyu Ilahi dan kecerdasan otak manusia. Dengan demikian keberadaan dan kesinambungan turunnya wahyu Ilahi merupakan suatu kebutuhan yang tidak dapat dikesampingkan oleh manusia.

Kenapa demikian? Sebab sebagaimana halnya mata jasmani manusia memerlukan peran-serta cahaya penerangan untuk dapat melihat berbagai obyek penglihatan yang berada di sekelilingnya, demikian juga halnya dengan akal (kecerdasan) manusia pun memerlukan peran-serta “cahaya ruhani” -yakni wahyu Ilahi- untuk memperoleh pengertian yang hakiki berkenaan berbagai obyek pemikiran yang dapat diserap oleh indera-indera jasmani manusia.

Dalam dunia binatang istilah yang digunakan bagi wahyu semacam itu dinamakan naluri (instinct) atau ilham bawaan. Dengan bantuan naluri (instinct) tersebut berbagai binatang melakukan hal-hal luar biasa yang tidak dapat dilakukan bukan saja oleh manusia tetapi juga tidak dapat dilakukan oleh binatang-binatang lainnya. Contohnya adalah kemampuan lebah menghasilkan madu, firman-Nya: Dan Tuhan engkau telah mewahyukan kepada lebah, “Buatlah rumah-rumah di bukit-bukit dan pada pohon-pohon dan pada kisi-kisi yang mereka buat. Kemudian makanlah dari segala (macam) buah-buahan. dan tempuhlah jalan [yang ditunjukkan) Tuhan engkau dan [yang) dipermudah bagi engkau “. Keluar!ah dari perut mereka minuman (madu) yang warna-warni. Di dalamnya ada daya penyembuh bagi manusia. Sesungguhnya da!am yang demikian itu benar-benar ada Tanda bagi orang-orang yang mau merenungkan (Qs.16:69-70).

Sebagaimana halnya dua di antara 4 sifat Tasybihiyyah utama Allah Ta’ala adalah Rahmaaniyyat dan Rahiymiyyat, demikian pula halnya secara umum wahyu Ilahi pun ada dua macam, yakni wahyu Rahmaaniyyat dan wahyu Rahiymiyyat. Wahyu Rahmaaniyyat berlaku umum, tanpa memperbedakan manusia atau binatang, beriman atau pun kafir kepada Allah Ta’ala dan rasul-rasul-Nya; akan tetapi wahyu Rahiymiyyat hanya diturunkan kepada orang-orang khusus saja, yakni mereka yang menyelaraskan kehidupannya dengan kehendak Allah Ta’ala (Qs. 26: 193-198; Qs. 66: 13).

Di Akhir Zaman ini keberhasilan dalam bidang sains (ilmu pengetahuan) dan teknologi yang diraih oleh para ilmuwan dari Barat yang non-Muslim merupakan salah satu contoh dari hasil perpaduan kecerdasan akal manusia dan wahyu Rahmaaniyyat Allah Ta’ala, sehingga akhirnya -tanpa mereka sadari- berbagai penemuan spektakuler yang mereka hasilkan mengenai berbagai rahasia penciptaan alam semesta pun telah membenarkan berbagai pernyataan Allah Ta’ala di dalam AI-Qur’an, padahal para ilmuwan Barat tersebut sangat menentang AI-Qur’an dan Nabi Besar Muhammad saw.
Firman-Nya:
Tidakkah orang-orang kafir melihat bahwa seluruh langit dan bumi keduanya dahulu suatu [massa] yang padu (ratqan), lalu Kami pisahkan keduanya? Dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup dari air. Apakah mereka tidak mau beriman? (Qs.21 :3 I).

Kemudian mengenai akan diciptakan-Nya berbagai sarana transportasi modern di daratan yang menggantikan unta, kuda, keledai dan bagal atau pun gajah, firman-Nya: Dan [Dia telah menciptakan] kuda dan bagal dan keledai, supaya kalian dapat menungganginya. dan [juga [sebagai sumber] keindahan. Dan Dia akan menciptakan apa yang [masih] belum kalian ketahui (Qs.16:9). Firman-Nya lagi mengenai akan diciptakan-Nya sarana transportasi modern di lautan: Dan suatu Tanda ialah bahwa Kami muatkan anak-keturunan mereka dalam bahtera-bahtera yang berbuatan penuh. Dan Kami [akan] menciptakan bagi mereka yang semacam itu juga yang akan dikendarai mereka. Dan jika Kami menghendaki [demikian] niscaya Kami dapat menenggelamkan mereka, kemudian tiada yang akan menolong [mereka], dan tidak pula mereka akan diselamatkan, kecuali dengan rahmat dari Kami dan sebagai bekal sampai suatu masa (Qs.36:41-45).

Demikian pula mengenai akan terciptanya berbagai sarana transportasi di udara pun telah dikhabar-gaibkan pula oleh Allah Ta’ala di dalam AI-Qur’an, firman-Nya: Hai golongan jin dan manusia, andaikata kalian memiliki kekuatan untuk menembus batas-batas seluruh langit dan bumi, maka tembuslah [batas-batas] itu. Namun kalian tidak dapat menembus[nya] kecuali dengan kekuasaan. Maka dari antara nikmat-nikmat Tuhan kalian. yang manakah akan kalian berdua dustakan? Akan dikirimkan kepada kalian berdua nyala api dan leburan tembaga; maka kalian berdua tidak akan dapat menolong diri kalian sendiri (Qs.55:34-36).

Pendek kata, demikian besar peran wahyu Rahmaaniyyat bagi keberhasilan manusia dalam upaya memanfaatkan berbagai sumber daya manusia (SDM) dan sumber daya alam (SDA) yang telah dianugerahkan Allah Ta’ala kepada manusia, sehingga manusia dalam mengarungi kehidupannya dari zaman ke zaman mengalami berbagai kemudahan jika dibandingkan dengan keadaan sebelumnya. Benarlah firman-Nya berikut ini: Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-keturunan Adam, dan Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, dan Kami beri mereka rezeki yang baik dan Kami lebihkan mereka jauh di atas kebanyakan dari mereka yang Kami telah ciptakan (Qs.] 7:71).
Bandingkan kemudahan kehidupan “manusia-manusia modern” yang telah memanfaatkan perpaduan akal (kecerdasan) dan wahyu Rahmaaniyyat tersebut kehidupan primitif yang tetap dijalani oleh berbagai suku “bangsa primitif’ yang terdapat di pedalaman hutan-hutan belantara di berbagai kawasan dunia ini, yang puas dengan segala sesuatu yang telah disediakan oleh alam secara alami, padahal kepada kedua “jenis” bangsa tersebut Allah Ta’ala memberikan kemampuan alami serta berbagai sumber daya alam yang sama.

Ada pun perbedaannya antara keduanya adalah dalam cara “mensyukuri” berbagai karunia (nikmat) Allah Ta’ala tersebut, mereka yang “mensyukuri” berbagai fasilitas yang dikaruniakan Allah Ta’ala tersebut akan memperoleh hasilnya yang menggembirakan, firman-Nya: Dan ketika Tuhan engkau mengumumkan, “Jika kalian bersyukur ) niscaya akan Ku-limpahkan lebih banyak [karunia] kepada kalian; tetapi jika kalian mengingkarinya, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya adzab-Ku sangat keras” (Qs.14:8).

Dalam masalah duniawi, ternyata antara kedua macam “bangsa” (manusia) yang “bersyukur” maupun yang “kurang bersyukur” tersebut bukannya semakin menjuruskan mereka kepada Tawhid Ilahi, bahkan sebaliknya, mereka terjerumus ke dalam berbagai bentuk “penyembahan” kepada selain Allah Ta’ala, sebabnya adalah karena mereka melalaikan keberadaan wahyu Rahiymiyyat Allah Ta’ala yang diturunkan kepada Rasul-Nya, yakni hukum-hukum syariat, firman-Nya: Ketika berkata orang-orang munafik dan orangorang yang hatinya mengandung penyakit, “Agama mereka telah memperdayai mereka ini!” Padahal, barangsiapa bertawakkal kepada Allah maka sesungguhnya Allah Mahaperkasa. Mahabijaksana. Dan sekiranya engkau dapat melihat ketika malaikat mencabut nyawa orang-orang kafir itu sambil memukuli muka mereka dan punggung mereka dan [sambil berkata), “Rasakanlah oleh kalian adzab yang membakar!” [Adzab) itu disebabkan oleh apa yang telah diperbuat oleh tangan kalian, dan Allah sekali-kali tidak berlaku aniaya terhadap hamba-hamba-Nya. Keadaan kalian akan seperti kaum fir’aun dan orang-orang sebelum mereka. mereka mengingkari Tanda-tanda Allah maka Allah menghukum mereka disebabkan dosa-dosa mereka. Sesungguhnya Allah Mahakuat (dan) Keras dalam menghukum. Yang demikian itu adalah karena Allah sekali-kali tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum sehingga mereka (terlebih dulu mengubah keadaan diri mereka sendiri; dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Mendengar. Maha Mengetahui (Qs.8:50-54).

Wahyu Rahiymiyyat pun secara umum ada dua macam, yakni (I) wahyu berupa hokum-hukum syariat – yang terakhir adalah wahyu AI-Qur’an (Qs.5:4); dan (2) wahyu yang tidak mengandung hukum syariat. Wahyu Rahiymiyyat jenis kedua inilah yang akan secara berkesinambungan turun, namun bukan tanpa syarat, karena wahyu Rahiymiyyat tersebut hanya akan turun kepada orang-orang yang berusaha mengikuti Sunnah Nabi Besar Muhammad saw. (Qs.3:32; Qs. 3:86-90), firman-Nya: Dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka mereka akan termasuk di antara orang-orang yang kepada mereka Allah memberikan nikmat, yakni: nabi-nabi dan shiddiq-shiddiq dan syuhada dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah sahabat yang sejati. Inilah karunia dari Allah dan memadailah Allah [sebagai] Zat Yang Maha Mengetahui (Qs. 4:70-71).

Mereka yang mendustakan keberadaan wahyu Rahiymiyyat jenis kedua tersebut -sekali pun mereka itu telah memeluk agama Islam dan mendakwakan diri sangat mencintai Nabi Besar Muhammad saw.- tidak akan pernah merasakan manfaat besar yang dihasilkan dari perpaduan antara akal (kecerdasan) rohani dengan wahyu Rahiymiyyat, berupa munculnya madu-madu rohani berwarna-warni yang selain lezat juga mengandung penyembuh bagi berbagai macam penyakit akhlak dan rohani, akibatnya keadaan akhlak dan rohani umat Islam tetap kering dan gersang, walaupun di antara mereka banyak yang menyandang title-titel kesarjanaan dalam masalah keagamaan.

Jadi, sehubungan dengan peran wahyu Ilahi, ada 3 hal dari sekian banyak Tanda yang dikandung dalam proses pembuatan madu oleh lebah madu yang harus menjadi pelajaran bagi manusia, khususnya umat Islam: (I) adalah pentingnya keberadaan struktur organisasi yang tertata rapi di lingkungan lebah-Iebah madu tersebut, firman-Nya: Dan Tuhan engkau telah mewahyukan kepada lebah, “Buatlah rumah-rumah di bukit-bukit dan pada pohonpohon dan pada kisi-kisi yang mereka buat.” Dalam setiap rumah (sarang) lebah madu hanya ada seekor “ratu lebah”, yang kepadanya seluruh lebah lainnya melakukan pengabdian selaras dengan tugasnya masing-masing.

Sehubungan dengan pentingnya keberadaan struktur organisasi tersebut Allah Ta’ala pun menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh mengenai akan dibangkitkannya para khalifah rohani di lingkungan umat Islam, firman-Nya: Allah telah menjanjikan kepada orang-orang dari antara kalian yang beriman dan beramal saleh bahwa Dia niscaya akan menjadikan mereka khal{fah-khalifah di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan khalifah-khalifah (dari antara) orang-orang sebelum mereka; dan Dia akan meneguhkan bagi mereka agama mereka, yang telah Dia ridhai bagi mereka: dan niscaya Dia akan memberi mereka keamanan sebagai pengganti sesudah ketakutan mereka. Mereka akan menyembah kepada-Ku, dan mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu dengan Aku. Dan barangsiapa ingkar sesudah itu, mereka itulah orang-orang durhaka (Qs.24:56).

(2) pentingnya memperluas wawasan ilmu pengetahuan, firman-Nya, “Kemudian makanlah dari segala [macam) buah-buahan“. Sehubungan dengan pentingnya terus menerus memperluas wawasan ilmu pengetahuan tersebut Nabi Besar Muhammad saw. sangat menekankan sekali, sampai-sampai beliau saw. menyebut-nyebut negeri China. Allah Ta’ala mengajarkan doa kepada Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya: Maka Mahaluhur Allah. Raja Yang Benar. Dan janganlah engkau tergesa-gesa membaca AI-Qur’an sebelum pewahyuannya dilengkapkan kepada engkau melainkan. katakanlah, .. Ya Tuhan-ku, limpahkanlah kepadaku tambahan ilmu pengetahuan” (Qs.20: 115).

(3) Petunjuk wahyu Ilahi berikutnya kepada lebah adalah, “Dan tempuhlah jalan [yang ditunjukkan) Tuhan engkau dan (yang) dipermudah (bagi engkau)” Keluarlah dari perut mereka minuman (madu) yang warna-warni. Di dalamnya ada daya penyembuh bagi manusia.

Walau pun benar AI-Qur’an merupakan Kitab suci terakhir dan tersempurna, akan tetapi guna memperoleh khazanah-khazanah kerohanian -yakni madu-madu rohani- dari AI-Qur’an tidak cukup hanya mengandalkan kecerdasan akal (kecerdasan intelektual) semata tetapi peran wahyu Ilahi pun sangat diperlukan, firman-Nya: Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang mukmin (di dalam keadaan) ketika kalian [hadir) di dalamnya, sehingga Dia (terlebih dulu) memisahkan yang buruk daripada yang baik. Dan Allah tidak akan memberitahukan yang gaib kepada kalian akan tetapi Allah memilih di antara rasul-rasul-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Maka berimanlah kalian kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Dan jika kalian beriman dan bertakwa maka bagi kalian tersedia ganjaran yang besar (Qs.3: 180). Firman-Nya lagi: (Dia-lah) Yang mengetahui segala yang gaib, dan Dia tidak menyatakan rahasia-rahasia-Nya kepada siapa jua pun, kecuali kepada Rasul yang diridhai(Nya), maka Dia menyebabkan barisan pengiring berjalan di hadapannya dan juga di belakangnya, supaya Dia mengetahui bahwa mereka (rasul-rasul-Nya) telah menyampaikan Amanat-amanat Tuhan mereka. Dan Dia meliputi [semua) yang ada pada mereka dan Dia membuat perhitungan tentang segala sesuatu” (Qs.72:27-29).

Dalam dunia kerohanian keberadaan rasul-rasul Allah tersebut merupakan “pasangan rohani” bagi umat manusia, sebagaimana halnya pentingnya keberadaan suami bagi para istri (Qs.66:11-13), itulah sebabnya di dalam AI-Qur’an Allah Ta’ala telah menjanjikan kesinambungan kedatangan para rasul Allah tersebut kepada anak-keturunan Adam (umat manusia), hingga berakhirnya kehidupan di alam semesta jasmani ini (Qs.7:35-37). Mereka yang mendustakan para rasul akan mengalami kemandulan rohani, yang berujung kepada diturunkannya berbagai adzab Allah Ta’ala (Qs. 17: 16). Ruh.

1 Response to “Belajar dari lebah madu”


  1. 1 sri November 26, 2008 at 10:32 am

    posting anda cukup menarik juga.
    ayo sudah saatnya kita menegakkan khilafat!

    @d3n
    Khilafat mah udah tegak, mbak. Makanya ayo gabung, uenak lho hidup dibawah pinpinan seorang khalifah itu,, 😀


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




AYO BERBELANJA DI TOKO ONLINE KAMI:

Statistik Blog

  • 216,092 hit

aku suka jalan-jalan

hidup adalah jalan-jalan. jalan-jalan adalah hidup

%d bloggers like this: