Haji Mabyur?

Sumber: detikNews

ajisMoskow – Apabila kehidupan masyarakat tetap penuh kerusakan dan maksiat, tentu para haji itu punya andil. Semangat para nabi kurang berhasil mereka tularkan ke lingkungannya.

Mulai minggu ini, kloter pertama haji Indonesia telah mulai mengalir kembali ke tanah air, setelah sekitar sebulan digembleng di tanah suci. Para haji akan kita sambut dengan sukacita, karena mereka baru saja berhasil melakukan napak tilas untuk mewarisi akhlak para nabi besar. Diharapkan akhlakul karimah tersebut dapat ditularkan untuk perbaikan bangsa.

Para haji diyakini memiliki sebuah kekuatan besar yang dipetik dari prosesi napak tilas di tanah suci. Berpakaian ihram yang hanya dua helai saja pasti akan menitiskan suatu semangat kesederhanaan dan meninggalkan kerlap-kerlip dunia yang serba wah. Mengingatkan bahwa pada saat kematian tiba, harta karun tidak akan dibawa ke liang kubur, kecuali lembaran kain putih. Sedangkan sa’i antara Sofa dan Marwa mengisyaratkan tentang usaha tidak mengenal henti untuk mencapai tujuan mulia.

Melempar jumrah memberi pelajaran untuk menghindari berbagai kemaksiatan yang jelas akan mendatangkan keburukan. Simbol pelemparan beberapa kerikil kearah ‘sarang setan’ terkutuk adalah cara yang diajarkan Tuhan agar manusia tidak henti-hentinya menepis ajakan setan, meskipun di tengah gulita malam. Di sisi lain, putaran di sisi Ka’bah mengisyaratkan bahwa manusia hanyalah salah satu partikel dalam hidup ini dan pasti akan berjalan sesuai hukum Tuhan. Kesombongan tentang keakuan harus ditinggalkan dan kesadaran akan kerdilnya diri ditimbulkan.

Dr. Ali Syariati dalam bukunya Makna Haji (2001) yang diterjemahkan dalam beberapa bahasa, menjelaskan bahwa haji merupakan revolusi lahir dan batin untuk membebaskan manusia dari belenggu tuhan-tuhan palsu, seperti uang dan kekuasaan. Haji merupakan pertunjukan tentang “penciptaan”, “keesaan”, “ideologi Islam” dan “Ummah”.

Nurcholis Madjid (1977) menilai haji adalah laku religius atas perintah Tuhan dan napak tilas hamba-hamba Allah yang suci. Tanda ketundukan dan kemabruran adalah kesadaran dan praktek untuk komitmen solidaritas sosial. Haji adalah ibadah individu yang berimplikasi sosial.

Dengan berbagai keterangan di atas, sangat bisa dimengerti bahwa para haji yang kembali akan mendapatkan penghormatan yang tidak kalah dengan para pejuang. Mereka tentulah orang-orang pilihan Tuhan yang dikirim ke berbagai bangsa, kota dan desa untuk melakukan perbaikan moral bagi lingkungannya. Dengan semangat akhlak para anbiya, mereka akan selalu menegakkan kebenaran dan berani melawan kemungkaran. Berbagai bangsa, kota dan desa yang telah kedatangan haji, akan menjadi semacam “baldatun toyyibatun wa robbun ghofur”, masyarakat yang adil, makmur di bawah rahmat Tuhan yang Maha Pengasih.

Di negeri seperti Indonesia yang setiap tahun mengirimkan lebih dari 250 ribu utusannya ke tanah suci untuk belajar tentang arti hidup yang sesungguhnya melalui ajaran para nabi, tentunya akan menjadi negeri suri teladan dunia. Sebab, sampai saat ini sudah jutaan orang yang digembleng dan kemudian pulang memberikan pencerahan kepada lingkungannya. Mereka ini tentu saja bukan hanya petani, tetapi juga saudagar, guru, seniman, budayawan, politisi hingga pejabat negara.

Ketika pulang ke tanah air, para haji itu pastilah kembali ke habitatnya semula. Karenanya, masyarakat merindukan para haji itu segera menyirami lahan-lahan garapan mereka dengan air surgawi sehingga tidak ada lagi onar, tidak ada lagi gejolak, tidak ada lagi pertikaian dan tidak ada lagi gonjang-ganjing. Karena kedatangan jutaan haji dalam kurun waktu beberapa tahun, tentunya masyarakat berharap tidak ada lagi money politics, tidak ada lagi exploitation de l’home par l’home, tidak ada lagi seperti istilah Qur’an “orang yang tega memakan bangkai temannya.”

Wajar saja kalau umat berharap bahwa para haji itu menjadi pionir masyarakat yang mengajari kebajikan dan mensuritauladani pengingkaran terhadap kemaksiatan. Umat pasti berharap para haji itu tidak menjalani ibadah haji hanya sebagai lips service, agar terpandang, naik popularitasnya dan kemudian makin tinggi pangkatnya. Mereka yang berangkat ke tanah suci pastilah tidak berdoa untuk mencari pesugihan ataupun minta agar jabatannya dapat langgeng selama hayatnya.

Nah, apabila dalam kehidupan masyarakat Indonesia tetap gonjang ganjing, tidak menentu, serta banyak fitnah dilakukan demi keuntungan sesaat, tentu para haji yang berjumlah jutaan itu punya andil, karena mereka berada di semua lini kehidupan, dan berada di setiap tingkatan masyarakat. Tentu saja mereka tidak bisa disalahkan seratus persen. Namun setidaknya, semangat para nabi kurang berhasil mereka tularkan ke lingkungannya, desanya, kotanya dan bangsanya.

Lebih ngeri lagi, dan ini tentu tidak kita harapkan (naudzubillahi min dzalik), jika sebagian para haji itu memang berniat ke tanah suci bukan untuk mewarisi semangat para nabi, melainkan untuk berbagai “tujuan jangka pendek” di dunia, apapun namanya. Bila itu yang terjadi, tentu masyarakat tidak perlu lagi mengelu-elukan kadatangan para haji seperti itu, karena mereka memang bukan pahlawan yang dinantikan.

Mereka adalah para badut yang mengenakan topeng kehidupan, para pemain sandiwara unggulan. Tapi satu hal pasti, Tuhan akan memberikan keadilan: apakah yang bersangkutan mabrur (diberkati) atau sekedar mabyur (murus perut di pesawat). Semoga para haji Indonesia bukan termasuk golongan terakhir ini. Wallahu a’lam bishawab.

Keterangan Penulis: M. Aji Surya adalah alumnus UII, UI, UGM dan Pondok Modern Gontor kini tinggal di Moskow, Rusia.(es/es)

0 Responses to “Haji Mabyur?”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




AYO BERBELANJA DI TOKO ONLINE KAMI:

Statistik Blog

  • 219,960 hit

aku suka jalan-jalan

hidup adalah jalan-jalan. jalan-jalan adalah hidup

%d bloggers like this: