Hakikat dan Hikmah Pernikahan Dalam Islam

by: Ki Langlang Buana Kusuma

وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَلَأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُوا وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ أُولَئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ وَيُبَيِّنُ ءَايَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

Dan janganlah kamu menikahi perempuan-perempuan musyrik sehingga mereka beriman, dan niscaya hamba-hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik daripada perempuan-perempuan musyrik meskipun ia menakjubkan kamu. Dan janganlah kamu menikahkan perempuan beriman dengan laki-laki musyrik sehingga mereka beriman, dan niscaya hamba-hamba sahaya laki-laki yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik meskipun ia menakjubkan kamu. Mereka mengajak kepada api sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya, dan Dia menjelaskan Tanda-tanda- Nya kepada manusia supaya mereka dapat meraih nasihat (Al Baqarah, 222).

Pernikahan merupakan bagian dari pelaksanaan haququl-‘ibaad (memenuhi hak-hak sesama hamba) atau hablun-minan- naas (menegakkan hubungan dengan sesama manusia). Oleh karena itu dalam agama Islam kedudukan pernikahan sangat penting dan sangat strategis, sebab pernikahan merupakan titik sentral pertemuan garis vertikal dan garis horizontal yang bersilang. Dari titik sentral pernikahan itulah segala bentuk dan tingkatan perhubungan serta kewajiban orang-orang yang beriman berkembang ke semua jurusan, baik yang ada hubungannya dengan haququllaah (hablun-minallaah) yakni memenuhi hak-hak Allah Ta’ala atau mengadakan perhubungan dengan Allah Ta’ala maupun haququl-‘ibaad (hamblun-minannaas) yakni memenuhi hak-hak sesama hamba Allah Ta’ala atau mengadakan hubungan dengan sesama hamba Allah Ta’ala.

1. Garis vertikal sebelah atas dari garis horizontal menggambarkan hubungan dan kewajiban pasangan suami-istri terhadap kedua orang tua, termasuk di dalamnya kewajiban terhadap kedua mertua (Qs.6:152; Qs.17:24-25, Qs.29:9; Qs.31:15-16; Qs.46:16-19).

Dalam Qs.31:13-16 setelah menyatakan pentingnya bersyukur kepada Allah Ta’ala dan larangan mempersekutukan Allah Ta’ala dengan selain-Nya, selanjutnya Allah Ta’ala telah memerintahkan orang-orang beriman untuk bersyukur dan berbuat ihsan (baik) kepada kedua orang tua. (Qs.2:84; Qs.4:37; Qs.6:152; Qs.17:24; Qs.27:20; Qs.29:9; Qs.46:16).

2. Garis vertikal sebelah bawah dari garis horizontal menggambarkan hubungan dan kewajiban pasangan suami-istri terhadap anak keturunan mereka (Qs.6:152; Qs.17:32; Qs.25:75; Qs.64:15-16; Qs.66:7).

3. Garis horizontal sebelah kanan dan sebelah kiri dari garis vertikal menggambarkan hubungan dan kewajiban pasangan suami-istri terhadap saudara-saudara serta karib kerabat dari kedua pasangan suami-istri, meluas meliputi tetangga yang dekat maupun tetangga yang jauh (Qs.4:37).

Pentingnya Suami-istri Memiliki Kesamaan Iman
Titik-sentral pernikahan tersebut merupakan tatanan sosial (masyarakat) paling kecil yang terdiri dari pasangan suami-istri. Dari Titik-sentral pernikahan tersebut dapat berkembang (meluas) menjadi suatu tatanan sosial (masyarakat) yang sangat besar, itulah sebabnya kedudukan pernikahan dalam ajaran agama Islam (Al-Quran) sangat penting dan sangat strategis dalam upaya mewujudkan kesatuan dan persatuan umat manusia serta dalam upaya mewujudkan persaudaraan umat manusia, firman-Nya:
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhan Pencipta dan Pengayom kamu, Yang menciptakan kamu dari satu jiwa dan darinya Dia menciptakan pasangannya (jodohnya), dan mengembang-biakkan dari keduanya banyak laki-laki dan perempuan, dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, terutama mengenai hubungan tali kekerabatan. Sesungguhnya Allah adalah Pengawas atas kamu (An-Nisaa, 2).

Firman-Nya lagi:
يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Hai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan, dan Kami telah menjadikan kamu bangsa-bangsa dan suku-suku-bangsa supaya kamu dapat saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Maha Waspada (Al Hujurat, 14).

Lebih lanjut Allah Ta’ala berfirman mengenai pentingnya peran Allah Ta’ala dalam menciptakan persaudaraan rohani — yang merupakan persaudaraan yang hakiki — di kalangan umat manusia:
وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
Dan Dia telah merukunkan di antara hati mereka dengan kecintaan. Seandainya engkau membelanjakan apa pun yang ada di bumi semuanya, engkau tidak akan dapat merukunkan di antara hati mereka dengan kecintaan, tetapi Allah telah merukunkan hati di antara mereka dengan kecintaan. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa, Maha Bijaksana (Al Anfaal, 64).

Dalam rangka memperkuat persaudaraan rohani – yang merupakan persaudaraan yang hakiki – tersebut, Allah Ta’ala dalam masalah pernikahan telah menekankan pentingnya pasangan suami-istri memiliki kesamaan iman, firman-Nya:
وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَلَأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُوا وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ أُولَئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ وَيُبَيِّنُ ءَايَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ
Dan janganlah kamu menikahi perempuan-perempuan musyrik sehingga mereka beriman, dan niscaya hamba-hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik daripada perempuan-perempuan musyrik meskipun ia menakjubkan kamu. Dan janganlah kamu menikahkan perempuan beriman dengan laki-laki musyrik sehingga mereka beriman, dan niscaya hamba-hamba sahaya laki-laki yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik meskipun ia menakjubkan kamu. Mereka mengajak kepada api sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya, dan Dia menjelaskan Tanda-tanda- Nya kepada manusia supaya mereka dapat meraih nasihat (Al Baqarah, 222).

Kata ‘ajiba atau ‘ajaban dalam ungkapan وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ (sekali pun mempersona kamu) artinya: ajaib, mengherankan atau menakjubkan (mengagumkan) atau mempesona. Hal tersebut dapat tertuju kepada kecantikan (ketampanan) wajah dan penampilan lahiriah (jasmani) atau kepada kekayaan maupun kedudukan duniawi – termasuk gelar-gelar kesarjanaan – contohnya penampilan jasmaniah Qarun yang telah mempersona Bani Israil di Mesir (Qs.28:77-83) .

Mereka Yang Durhaka Kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya
Apabila dalam masalah pernikahan, orang-orang yang mengaku beriman lebih mengutamakan pilihan mereka sendiri bertentangan dengan ketentuan Allah Ta’ala dalam firman-Nya tersebut, maka Allah Ta’ala akan berlepas-tangan terhadap berbagai problema yang timbul dalam rumahtangga mereka, sebab Allah Ta’ala telah menyatakan mereka sebagai orang-orang yang sesat dengan kesesatan yang nyata, sebab mereka itu dalam masalah pernikahan telah berbuat durhaka kepada Allah Ta’ala dan kepada Rasul-Nya, firman-Nya:
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا
Dan tidak patut bagi lelaki-lelaki yang beriman dan perempuan-perempuan yang beriman, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan sesuatu perintah lalu mereka menentukan pilihan sendiri dalam urusan mengenai diri mereka. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguh ia telah sesat, kesesatan yang nyata (Al Ahzab, 37).

Dalam ayat sebelumnya (Qs.2:222) Allah Ta’ala telah memperingatkan orang-orang yang beriman: أُولَئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ — “Mereka mengajak kepada api sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya”, sebab hanya Allah Ta’ala sajalah yang paling mengetahui jodoh (pasangan) yang terbaik bagi orang-orang yang beriman, firman-Nya:

قُلْ لَا يَسْتَوِي الْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ وَلَوْ أَعْجَبَكَ كَثْرَةُ الْخَبِيثِ فَاتَّقُوا اللَّهَ يَاأُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Katakanlah, “Tidak sama yang buruk dan yang baik walaupun kebanyakan yang buruk itu menakjubkan engkau.” Maka bertakwalah kepada Allah, hai orang-orang yang berakal supaya kamu sukses (Al-Maidah, 101).

Firman-Nya lagi:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَرِثُوا النِّسَاءَ كَرْهًا وَلَا تَعْضُلُوهُنَّ لِتَذْهَبُوا بِبَعْضِ مَا ءَاتَيْتُمُوهُنَّ إِلَّا أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا
Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mewarisi perempuan-perempuan (istri-istri) dengan paksa, dan janganlah menahan mereka dengan aniaya supaya kamu dapat mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali jika mereka melakukan perbuatan keji yang nyata; dan bergaullah dengan mereka secara makruf (baik), jika kamu tidak menyukai mereka maka boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan di dalamnya banyak kebaikan (An Nisaa, 20). Lihat Qs.2:217.

Itulah sebabnya Allah Ta’ala dalam ayat sebelumnya (Qs.2:222) telah melarang orang-orang yang beriman untuk menikah dengan orang-orang musyrik walau pun mereka itu sangat menakjubkan (sangat mempesona) dalam penampilan jasmaniahnya — baik status sosialnya mau pun ketampanan atau kecantikannya — sebab “Mereka mengajak kepada api sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya.”

Larangan menikah dengan orang-orang musyrik tersebut sangat erat kaitannya dengan larangan Allah Ta’ala lainnya yang bersifat umum, yakni Dia telah melarang orang-orang beriman menjadikan orang-orang kafir sebagai wali (pelindung/sahabat) dengan mengesampingkan orang-orang beriman (Qs.3:29 & 119-121; Qs.4:139-145) , sebab kedudukan suami atau istri bagi pasangannya lebih dekat daripada sekedar sebagai wali (sahabat/pelindung) , sebab melalui pernikahan pasangan suami-istri seakan-akan telah menjadi “satu tubuh” (Qs.4:2; Qs.7:190; Qs.16:73; Qs.30:22; Qs.39:7).

Itulah sebabnya dalam Bible maupun dalam hadits Nabi Besar Muhammad saw. telah digambarkan (dimisalkan) bahwa perempuan diciptakan berasal dari tubuh laki-laki (Adam) atau dari “tulang rusuk Adam” (Kej 2:18-25). Sehubungan dengan itu Nabi Besar Muhammad saw. bersabda: “Kaum wanita telah diciptakan dari tulang rusuk, dan tentu saja bagian yang paling bengkok dari tulang rusuk itu bagian yang paling atas. Jika kamu memaksa meluruskannya, kamu akan membuatnya patah” (Bukhari, Kitab-un-Nikah) .

Hakikat “Bidadari Surgawi”
Sehubungan dengan kalimat ” يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ – Mereka mengajak kepada api sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya” (Qs.2:222), lebih lanjut Allah Ta’ala memberi khabar suka tentang surga,firman-Nya:

وَبَشِّرِ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ كُلَّمَا رُزِقُوا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِزْقًا قَالُوا هَذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ وَأُتُوا بِهِ مُتَشَابِهًا وَلَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَهُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Dan berilah kabar suka kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih bahwasanya bagi mereka ada kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Setiap kali diberikan kepada mereka buah-buahan dari kebun itu sebagai rezeki mereka berkata, “Inilah rezeki yang telah diberikan kepada kami dahulu”, dan akan diberikan kepada mereka yang serupa, dan bagi mereka di dalamnya ada jodoh-jodoh yang suci, dan mereka akan kekal di dalamnya (Al Baqarah, 26).

Menurut ayat tersebut bahwa salah satu dari ganjaran yang akan dianugerahkan Allah Ta’ala kepada para ahli surga adalah bahwa mereka akan memperoleh “jodoh-jodoh yang suci”. Ada pun yang dimaksud dengan “jodoh” (pasangan) dalam ungkapan kalimat وَلَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ — dan bagi mereka di dalamnya ada jodoh-jodoh yang suci, secara khusus dapat ditujukan kepada “pasangan hidup” dari para laki-laki ahli surga yang dalam Al-Quran disebut huur (Qs.44:55; Qs.52:21; Qs.55:71-73; Qs,56:23), di kalangan umumnya umat Islam disebut “bidadari”, firman-Nya: مُتَّكِئِينَ عَلَى سُرُرٍ مَصْفُوفَةٍ وَزَوَّجْنَاهُمْ بِحُورٍ عِينٍ Mereka duduk-duduk bersandar pada dipan-dipan yang berderet-deret teratur dan Kami menjodohkan mereka dengan bidadari-bidadari cantik bermata jeli (Ath-Thuur, 21).

Zawwaja syai-an bisyai-in artinya ia memperpasangkan atau menjodohkan sebuah benda dengan sebuah benda lain; ia mempersatukannya sebagai kawannya atau sesamanya. Huur adalah jamak dari ahwar (bentuk mudzakar atau laki-laki) dan haura’ (bentuk muannats atau perempuan), yang berarti orang yang matanya ditandai sifat yang disebut hawar yakni putih-matanya sangat putih dan hitam-matanya sangat hitam, atau keindahan yang sangat pada orang itu. Ahwar juga berarti kecerdasan yang murni atau jernih. ‘Iin adalah jamak dari ‘ayan dan ‘aina yang masing-masing berarti laki-laki atau perempuan yang bermata hitam dan lebar, juga berarti ucapan atau perkataan yang bagus atau indah (Lexicon Lane, Al-Mufradat dan Taj-ul-‘Arus).

Dengan demikian makna penggunaan kata huur dan ‘iin berkenaan dengan “jodoh-jodoh” para ahli surga mengandung arti keindahan dan kemurnian pribadi dan watak. Dengan demikian jelaslah, mengapa Allah Ta’ala telah melarang orang-orang yang beriman menikah dengan “orang-orang musyrik” atau dengan “orang-orang yang tidak seiman” dengan mereka, walaupun keadaan mereka itu “menakjubkan”, sebab mereka tidak mungkin akan menjadi “jodoh-jodoh yang suci” bagi orang-orang yang beriman di dalam surga.

Sehubungan pelarangan tersebut lebih jauh Allah Ta’ala berfirman:
الزَّانِي لَا يَنْكِحُ إلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لَا يَنْكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ
Laki-laki pezina tidak boleh menikah kecuali dengan perempuan pezina atau perempuan musyrik; dan perempuan pezina tidak boleh menikahinya kecuali laki-laki pezina atau laki-laki musyrik, dan hal itu diharamkan atas orang-orang yang beriman (An Nuur, 4).

Selanjutnya Dia berfirman:
الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ أُولَئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ Hal-hal buruk untuk laki-laki buruk, dan laki-laki buruk untuk hal-hal yang buruk. Dan hal-hal baik untuk laki-laki baik, dan laki-laki baik untuk hal-hal yang baik, mereka itu bersih dari segala yang dituduhkan, bagi mereka ampunan dan rezeki mulia (An Nuur, 27).

Ada yang mengartikan al-khabitsaat adalah perempuan-perempuan buruk, dan thayyibaat adalah perempuan-perempuan baik, sehingga terjemahan ayat tersebut menjadi: Perempuan-perempuan buruk untuk laki-laki buruk, dan laki-laki buruk untuk perempuan-perempuan yang buruk. Dan perempuan-perempuan baik untuk laki-laki baik, dan laki-laki baik untuk perempuan-perempuan yang baik, mereka itu bersih dari segala yang dituduhkan, bagi mereka ampunan dan rezeki mulia (An Nuur, 27).

Dengan demikian jelaslah bahwa yang akan menjadi calon- calon “bidadari surgawi” atau huurin ‘iin hanyalah perempuan-perempuan beriman yang memiliki akhlak dan rohani yang baik, sesuai dengan arti dari huur dan ‘iin di atas, yang melambangkan keindahan pribadi dan watak dari “jodoh” (pasangan) para ahli surga.

Penyejuk Mata Di Dunia dan Di Akhirat
Merujuk kepada “jodoh-jodoh yang suci” itu pulalah firman Allah Ta’ala berikut ini: وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
Dan orang-orang yang berkata, “Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami dari istri-istri kami dan keturunan kami menjadi penyejuk mata kami, dan jadikanlah kami imam (pemimpin) bagi orang-orang yang yang bertakwa (Al-Furqaan, 75).

Kenapa demikian? Sebab hanya “keluarga-keluarga surgawi” seperti itulah yang di alam akhirat pun mereka akan kembali berkumpul di dalam kehidupan surga yang hakiki,
firman-Nya:
الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ()رَبَّنَا وَأَدْخِلْهُمْ جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِي وَعَدْتَهُمْ وَمَنْ صَلَحَ مِنْ ءَابَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ()وَقِهِمُ السَّيِّئَاتِ وَمَنْ تَقِ السَّيِّئَاتِ يَوْمَئِذٍ فَقَدْ رَحِمْتَهُ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Orang-orang yang memikul ‘Arasy (Singgasana) dan orang yang di sekitarnya mereka menyanjung kesucian dengan puji-pujian Tuhan mereka dan mereka beriman kepada-Nya dan mereka memohon ampunan bagi orang-orang yang beriman, “Wahai Tuhan kami, Engkau meliputi segala sesuatu dengan rahmat dan ilmu, maka ampunilah bagi orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau, dan lindungilah mereka dari azab jahannam. Wahai Tuhan kami, masukkanlah mereka ke dalam kebun-kebun abadi yang telah Engkau janjikan kepada mereka, dan juga barangsiapa yang shalih di antara bapak-bapak mereka dan istri-istri mereka dan keturunan-keturunan mereka. Sesungguhnya Engkau adalah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana. Dan peliharalah mereka dari keburukan-keburukan, dan barangsiapa Engkau pelihara dari keburukan-keburukan Hari itu maka sungguh Engkau telah mengasihinya. Dan itulah suatu kemenangan yang besar (Al Mukmiin, 8-10.

Firman-Nya:
جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ ءَابَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ()سَلَامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ
Kebun-kebun (surga-surga) yang abadi, mereka akan masuk ke dalamnya, dan juga barangsiapa yang shalih dari antara bapak-bapak mereka dan keturunan mereka dan istri-istri mereka, dan malaikat-malaikat akan masuk kepada mereka dari setiap pintu seraya berkata, “Selamat sejahtera atas kamu, sebab kamu telah bersabar, maka betapa baiknya tempat kesudahan itu!” (Ar-Ra’d, 24-25).

Selanjutnya sehubungan dengan huurin ‘iin (bidadari-bidadari surgawi) tersebut Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَعِيمٍ()فَاكِهِينَ بِمَا ءَاتَاهُمْ رَبُّهُمْ وَوَقَاهُمْ رَبُّهُمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ()كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ()مُتَّكِئِينَ عَلَى سُرُرٍ مَصْفُوفَةٍ وَزَوَّجْنَاهُمْ بِحُورٍ عِينٍ()وَالَّذِينَ ءَامَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ()وَأَمْدَدْنَاهُمْ بِفَاكِهَةٍ وَلَحْمٍ مِمَّا يَشْتَهُونَ() يَتَنَازَعُونَ فِيهَا كَأْسًا لَا لَغْوٌ فِيهَا وَلَا تَأْثِيمٌ()وَيَطُوفُ عَلَيْهِمْ غِلْمَانٌ لَهُمْ كَأَنَّهُمْ لُؤْلُؤٌ مَكْنُونٌ()وَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ()قَالُوا إِنَّا كُنَّا قَبْلُ فِي أَهْلِنَا مُشْفِقِينَ()فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا وَوَقَانَا عَذَابَ السَّمُومِ()إِنَّا كُنَّا مِنْ قَبْلُ نَدْعُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيمُ
Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam surga dan kenikmatan, mereka bersuka ria dengan apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka, dan Tuhan mereka memelihara mereka dari azab jahannam, Dia berfirman, “Makan dan minumlah dengan nikmat disebabkan oleh apa yang kamu kerjakan.” Mereka duduk-duduk bersandar pada dipan-dipan yang berderet-deret teratur, dan Kami akan menjodohkan mereka dengan bidadari-bidadari cantik bermata jeli; dan orang-orang yang beriman sedang keturunan mereka pun mengikuti mereka dalam keimanan, dengan mereka akan Kami pertemukan keturunan mereka, dan Kami tidak mengurangi dari amal mereka sedikit pun. Tiap-tiap orang terikat pada apa yang telah diusahakannya. Dan Kami membantu mereka dengan buah-buahan dan daging yang mereka inginkan. Di sana mereka akan saling memperebutkan (mempergilirkan) piala minuman yang di dalamnya tidak berisikan sesuatu yang sia-sia dan tidak pula dosa. Dan berkeliling di sekitar mereka pemuda-pemuda untuk mengkhidmati mereka, bagaikan mutiara-mutiara yang tersimpan baik; dan sebagian mereka berhadapan dengan sebagian yang lain, akan saling bertanya. Mereka berkata, “Sesungguhnya kami dahulu di dunia ketika kami berada di keluarga kami, kami merasa takut akan diazab, tetapi Allah telah menganugerahkan kebaikan atas kami dan Dia telah memelihara kami dari azab angin panas. Sesungguhnya kami dahulu di dunia biasa mendoa kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Pelimpah kebaikan, Maha Penyayang (At Thuur, 18-29).

Perempuan Tua dan Calon Bidadari Surgawi
Pendek kata, walau pun benar bahwa Allah Ta’ala di alam akhirat berkuasa menciptakan “makhluk baru” yang disebut حُورٍ عِينٍ — “bidadari-bidadari cantik bermata jeli”, akan tetapi pada hakikatnya yang dimaksudkan oleh Al-Quran dengan “bidadari-bidadari surgawi” yang akan dijodohkan dengan kaum laki-laki penghuni surga – terutama laki-laki penghuni surga yang ketika di dunia mereka telah berumah-tangga — mereka itu tidak lain ada istri-istri mereka yang shalih ketika mereka hidup di dunia.

Nabi Besar Muhammad saw. pernah ditanya oleh salah seorang istri beliau saw., yakni Ummu Salamah r.a. — yang sebelum dinikahi oleh Nabi Besar Muhammad saw. beliau adalah istri dari salah seorang sahabat beliau saw. yang meninggal dunia — beliau bertanya, “Ya Rasulullah, apabila seorang perempuan ketika di dunia mempunyai dua orang suami (dua kali menikah), siapakah di antara keduanya yang akan menjadi suaminya di akhirat?” Nabi Besar Muhammad saw. bersabda: “Ia akan menjadi istri dari suaminya yang lebih bertakwa.” (Shahih Bukhari).

Dalam hadits lain ada dikisahkan tentang seorang perempuan tua yang dengan penuh harap memohon doa kepada Nabi Besar Muhammad saw. agar ia pun dapat menjadi penghuni surga. Terhadap permohonan tersebut — sambil sedikit berkelakar — Nabi Besar Muhammad saw. bersabda bahwa, “Di dalam surga tidak akan ada perempuan tua (nenek-nenek), semuanya gadis remaja.” (Lihat Qs.56:35-38; Qs.78:34).

Mendengar jawaban beliau saw. perempuan tua tersebut menangis sedih, lalu dengan cepat Nabi Besar Muhammad saw. menghibur hatinya bahwa, “Engkau pun di dalam surga akan menjadi gadis remaja”, sehingga perempuan tua tersebut menjadi sangat gembira.

Dengan demikian terjawablah “keberatan” yang dikemukakan oleh umumnya kaum perempuan, yang mempertanyakan kenapa di dalam Al-Quran yang dikemukakan hanya “bidadari surgawi” yang diperuntukkan bagi kaum laki-laki saja, sedangkan jodoh (pasangan) bagi kaum perempuan tidak ada disebutkan?

Berdasarkan jawaban yang diberikan oleh Nabi Besar Muhammad saw. terhadap pertanyaan istri beliau saw., Ummi Salamah r.a. dan penjelasan beliau saw. terhadap permohonan perempuan tua tersebut, dapat dipastikan bahwa jodoh (pasangan) yang disediakan Allah Ta’ala bagi para perempuan ahli surga di alam akhirat tidak lain adalah suami-suami mereka sendiri, yang ketika berada di dunia ini mereka itu termasuk orang-orang yang bertakwa.

Apabila suami mereka ketika di dunia tidak termasuk orang-orang yang bertakwa maka mereka akan menjadi “istri” dari laki-laki ahli surga lainnya yang ketakwaannya sepadan dengan ketakwaan mereka, atau yang lebih bertakwa dari suami mereka sebelumnya, sebagaimana jawaban Nabi Besar Muhammad saw. terhadap pertanyaan istri beliau, Ummu Salamah r.a..

Hakikat “Surga Di Bawah Telapak Kaki Ibu”
Dari kenyataan tersebut pun dapat diambil kesimpulan, bahwa salah satu hikmah kenapa di dalam Al-Quran hanya dikemukakan tentang huur (bidadari surgawi) surga saja, sedangkan “jodoh” bagi perempuan-perempuan ahli surga tidak dikemukakan secara jelas, di dalamnya terkandung penekanan kewajiban terhadap para kepala keluarga (para suami), yaitu supaya mereka berusaha menjadikan istri-istri mereka dan anak-anak perempuan mereka sebagai calon-calon “bidadari surgawi”.

Dengan penjelasan tersebut terjawab jugalah hikmah yang terkandung dalam sabda Nabi Besar Muhammad saw. bahwa, “Di bawah telapak kaki ibu terdapat surga bagi anak-anak mereka.” Dapat dipastikan bahwa ibu-ibu yang dimaksudkan oleh beliau saw. adalah ibu-ibu yang beriman dan beramal shalih sebab mereka itu merupakan calon-calon ahli surga atau calon-calon bidadari surgawi.

Para suami yang memiliki kesadaran akan kewajiban mereka untuk berusaha menjadikan istri-istri mereka dan anak-anak perempuan mereka sebagai calon-calon “bidadari surgawi” maka, insya Allah, mereka tidak akan berani melakukan pengkhianatan terhadap janji yang telah mereka ucapkan kepada istri mereka pada waktu melakukan pernikahan (aqad nikah).

Demikian pula sebaliknya, insya Allah, tidak akan ada seorang istri pun yang akan melakukan pengkhianatan terhadap suami mereka, sebab jika mereka melakukan pengkhianatan terhadap suami mereka maka mereka bukan saja tidak layak menjadi calon “bidadari surgawi”, bahkan mereka akan menjadi penghuni jahannam.

Merujuk kepada kenyataan itulah firman Allah Ta’ala berikut ini mengenai kewajiban dan tanggungjawab suami-istri secara timbal-balik:
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا
Laki-laki itu pelindung bagi perempuan-perempuan karena Allah telah melebihkan sebagian mereka di atas sebagian yang lain, dan disebabkan mereka membelanjakan sebagian dari harta mereka. Maka perempuan-perempuan shalih ialah yang taat dan menjaga rahasia-rahasia suami mereka dari apa-apa yang telah dilindungi Allah. Dan perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan kedurhakaan mereka maka nasihatilah mereka, dan jauhilah mereka di tempat tidur, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka taat kepada kamu maka janganlah kamu mencari jalan menyusahkan mereka. Sesungguhnya Allah Maha Luhur, Maha Besar (An Nisaa, 35).

Itulah makna dari doa yang diajarkan Allah Ta’ala berikut ini tentang “azwaaj” yang secara timbal-balik bisa berarti “istri” atau “suami”, sebab hanya pasangan suami-istri yang merupakan calon penghuni surga sajalah yang akan berdoa berikut ini, firman-Nya:
وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
Dan orang orang yang berkata, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami agar isteri-isteri kami dan keturunan kami menjadi penyejuk mata kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa” (Al-Furqaan, 75).

2 Responses to “Hakikat dan Hikmah Pernikahan Dalam Islam”


  1. 1 M Shodiq Mustika February 28, 2009 at 11:05 am

    isinya berbobot, cuman paragrafnya panjang2
    bisa, nggak, yang panjang itu dipecah jadi beberapa paragraf pendek supaya lebih mudah dipahami?

    @d3n
    Terima kasih masukannya. Sekarang sudah saya perbaiki. 😀
    Salam

  2. 2 khafitalia2014 December 12, 2014 at 2:15 am

    Mohon izin reblog.
    Jazakumullah ahsanaljaza


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




AYO BERBELANJA DI TOKO ONLINE KAMI:

Statistik Blog

  • 219,960 hit

aku suka jalan-jalan

hidup adalah jalan-jalan. jalan-jalan adalah hidup

%d bloggers like this: