Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

“SESUNGGUHNYA orang-orang mukmin sejati itu hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan apabila mereka berkumpul bersamanya berkenaan dengan urusan penting, mereka tidak pergi sebelum mereka minta izin kepadanya ” (Sural An-Nur, 24 : 63)

Makna Ahlus-Sunah, Wal-Jamaa’ah
AHLUN artinya orang yang menaati atau pengikut. Sebagaimana pernyataan:  01Ahlul-madzhabi artinya orang yang mengikuti madzhab itu dan ahlul-Islami artinya orang yang mengikuti Islam itu.” (Lisaanul- ‘Arab, Juz I halaman 253) As-Sunnah maksudnya Hadits Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana pernyataan:  02Al-Kitaabu was-Sunnatu berarti Alquran dan Hadits.” (Lisaanul- ‘Arab, halaman399)

Secara terminologi hadits itu sinonim dengan sunnah. Keduanya diartikan sebagai segala sesuatu yang diambil dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam sebelum dan sesudah diangkat menjadi rasul. Akan tetapi bila disebut kata “hadits” umumnya dipakai sebagai segala sesuatu yang diriwayatkan dari Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi wa sallam setelah kenabian, baik berupa sabda, perbuatan maupun taqrir atau ketetapan (Majmu ‘atul Fataawaa Ibnu Taimiyah. dan Ushulul-hadits DR. M. Ajaj Al-Khathib, hal. 8). Adapun Al-Jamaa’ah artinya identik dengan Al-Ummah (Al-Munjid. halaman 17), yaitu: Satu kumpulan orang-orang beriman yang dipimpin seorang Imam untuk bekerja sama dalam urusan penting dan mereka tidak akan pergi sampai mereka meminta izin kepadanya. Allah SWT berfirman: 03 “Sesungguhnya orang-orang Mukmnin sejati hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan apabila mereka berkumpul bersamanya berkenaan dengan urusan penting, mereka tidak pergi sebelum mereka minta izin kepadanya … ” (An-Nur, 24 : 63) Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:  04 “Sesungguhnya Bani Israil itu telah pecah menjadi 72 golongan dan umatku akan pecah menjadi 73 golongan. Semuanya dalam Neraka, selain yang satu.” Beliau ditanya, “Dan apakah yang satu itu?” Beliau Shallallaahu ‘afaihi wa sallam menjawab, “Apa yang aku dan sahabat¬ sahabatku ada padanya pada hari itu.” (HR AI-Hakim dalam “Al-Mustadrak”, dan lbnu Asakir-dari Ibnu Amer Radhryallaahu ‘anhu; dan Kanzul-UmaJ. Juz 1/1060)  06 “Dan sesungguhnya kamu akan pecah menjadi 72 frrqah semuanya sesat, kecuali satu Islam dan jamaah mereka.” (HR AI-Hakim dalam “Al¬Mustadrak” dari Katsir bin Abdillah bin Amer bin Auf dari ayahnya dari kakeknya Radhiyallaahu ‘anhu; danKanzul-Umal, Juz 1/I061)

Berdasarkan Ayat Alquran dan Hadits-hadits di atas, Ahlus-Sunnah Wal-jama’ah itu adalah satu golongan umat Islam secara internasional yang di bawah satu komando seorang Imam untuk urusan agama Islam sesuai dengan ajaran Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam Hadits dan ajaran para sahabatnya.

Ahlus-Sunnah Wal Jamaa’ah di Zaman Ini
Ahlus-Sunnah Wal-Jamaa ‘ah pada zaman Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah semua sahabat yang beliau pimpin, sedang Ahlus-Sunnah Wal-jama’ah pada masa Khulafa’ur-Rasyidin adalah umat Islam yang berada di bawah komando Imam-imam secara berturutan, yaitu: Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallaahu ‘anhu, kemudian Khalifah Umar bin AI-Khaththab Radhiyallaahu ‘anhu, kemudian Khalifah Usman bin ‘Affan Radhiyallaahu ‘anhu dan kemudian Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallaahu ‘anhu.

Adapun sesudah masa Khulafa’ur-Rasyidin, umat Islam mulai pecah menjadi firqah-firqah yang semakin lama semakin bertambah jumlahnya. Kondisi kaum muslimin yang demikian itu telah dinubuwatkan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bahwa umat beliau akan pecah menjadi tujuh puluh tiga firqah yang dalam bahasa Arab berarti menunjuk jumlah yang banyak sekali, secara matematis bisa lebih banyak dari angka 73. Pada masa ini, kaum muslimin banyak diwarnai oleh para penguasa zhalim yang suka menindas dan bertindak diktator, yang dalam Hadits Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi wa sallam dinubuwatkan sebagai “mulkan adhudhan dan mulkan jabariyyah “.

Dalam masa-masa kerusakan umat Islam tersebut, Allah SubhaanaHu wa T a ‘aalaa masih menunjukkan kasih sayang-Nya kepada mereka dengan membangkitkan Mujaddid-mujaddid-Nya sesuai dengan kebutuhan pemahaman agama mereka saat itu. Kaum Muslimin yang mengenal dan mengikuti Mujaddid pada abadnya itulah yang termasuk Ahlus-Sunnah Wal-jama’ah masa itu.

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:  07 “Sesungguhnya Allah akan senantiasa membangkitkan untuk umat ini pada awal setiap abad orang yang memperbarui pemahaman agamanya (mujaddid). ” (HR Abu Daud. 36:1; dan Kanzul-Umal Juz XII/34623)

Adapun nama-nama Mujaddid yang telah dibangkitkan sesudah masa Khulafaul-Rasyidin dari abad pertama Hijriyah hingga abad empat belas hijriyah menurut Nawwab Shiddiq Chasan bin Ali AI-Qanuji Rachiimahlillaahu (1258 – 1307 H) dalam kitabnya Hujajul-Kiraamah fii Atsaril-Qiyaamah, halaman 135-139, ialah sebagai berikut:
1. Hadhrat Umar bin Abdil-Aziz Rachiimahullaahu;
2. Hadhrat Imam Syafi’i dan Hadhrat Imam Hanbali Rachiimallaahu ‘anhuma;
3. Hadhrat Imam Abu Syarah dan Hadhrat Imam Abu Hasan Al Asy’ari Rachiimallaahu ‘anhuma;
4. Hadhrat Imam Ubaidillah dan Hadhrat Imam Qadhi Abu Bakar Baqlani Rachiimallaahu ‘anhuma;
5. Hadhrat Imam Ghazali Rachiimahullaahu;
6. Hadhrat Syekh Abdul-Qadir AI-Jailani Rachiimahullaahu;
7. Hadhrat Ibnu Taimiyah dan Khawaja Mu’inuddin Cisti Rachiimaliaahu anhuma;
8. Hadhrat Ibnu Hajar AI-Asqalani dan Hadhrat Shalih ibnu Umar Rachiimallaahu ‘anhuma;
9. Hadhrat Sayid Muhammad Janfuri Rachiimahullaahu;
10. Hadhrat Jalaluddin As-Sayuthi Rachiimahullaahu;
11. Hadhrat Syekh Ahmad Sirhind Mujaddid Alfi Tsani Rachiimahuliaahu;
12. Hadhrat Syekh Waliyullah Ad-Dehelwi Rachiimahullaahu;
13. Hadhrat Sayid Ahmad Berelwi Rachiimahullaahu.

Sedangkan Mujaddid abad ke-14 akan bergelar AlMahdiy dan Almasih.

Mengingat setiap mujaddid itu dibangkitkan oleh Allah SWT, maka ia memberitahukan kepada umatnya agar mereka mengerti dan mengikutinya. Demikian pula, pada tahun 1884, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad mengumumkan kemujaddidan beliau melalui 20.000 eksemplar selebaran. Di antara pengakuan beliau sebagai mujaddid, beliau bersabda:08

“Dan demi Allah, sesungguhnya aku mengikuti Muhammad dan demi Allah sesungguhnya aku datang sebagai Mujaddid dari-Nya.” (Alistifla. Hal. 354)

Adapun Ahlus-Sunnah Wal-Jamaa’ah pada abad XIV yang dibangun Hadhrat Imam Mahdi dan Masih Mau’ud ‘Alaihis-salaam akan terus berdiri dan berkembang menuju kesempumaannya hingga Hari Qiyamat. Jamaah inilah yang disebut Khilaafah ‘alaa Minhaaji Nubuwwah dalam Hadits. (HR Abu Daud AI-Thayalisi. Abu Daud, Ahmad bin Hanbal dalam “Musnad”-nya, Al-¬Rauyani, dan Sa’id bin Manshur dalam “Sunan”-nya-dari Nu’man bin Basyir dari Khudzaifah Radltiyallaahu ‘anhu; dan Kanzul-Umal, Juz VI/15114).
Ciri-ciri Jamaah Islam yang dibangun Imam Mahdi dan Masih Mau’ud ‘Alaihis-salaam ini dijelaskan dengan gamblang dalam Alquran dan Hadils-hadits Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, antara lain:

1. Pendirinya
1.1. Namanya sepeni nama Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam. (HR Ahmad bin Hanbal dalam “Musnad”-nya, Abu Daud. At¬-Turmudzi-dari Ibnu Mas’ud Radhiyallaahu ‘anhu: dan Kanzul-Umal. Juz XIV/38655)
1.2. Berpangkat Nabi dan Rasul pengikut Nabi Besar Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan berasal dari umat beliau saw sendiri. (Al-Jumu’ah. 62 : 3-4; An-¬Nissa. 4: 70)
1.3. Kedua moyangnya dari keturunan Fathimah binti Rasulullah radhiyallaahu ‘anhaa dan keturunan Persi bangsa sahabat Salman Al-Farisi Radhiyallaahu’anhu. (HR Abu Daud dalam “Musnad”-nya, Juz II, hadits ke-4284; Misykatu Syarif, hadits ke-5217; dan Shahih Bukhari. Juz III, “Fasal Surat Al-Jumu’ah”).
1.4. Tempat kebangkitannya berada di sebelah timur Damsyiq (Damaskus). (HR Al-Thabrani serta Haitami; dan Kanzul-Umal, Juz XIV/38852)
1.5. Akhlaknya menyerupai akhlak Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam. (HR Abu Daud; dan Misykatu Syarif, hadits ke-5226)
1.6. Ajarannya dianggap asing, seperti anggapan orang-orang pada permulaan lahirnya Islam. (HR Muslim; dan Misykatu Syarif. hadits ke-¬151)
1.7. Pendirinya mendapat gelar Isa ibnu Maryam dan Imam Mahdi. (HR Ath-Thabrani; dan Kanzul-Umal. Juz XIV/38808)
1.8. Pengakuannya sebagai Mahdi akan disaksikan oleh peristiwa gerhana bulan dan matahari dalam bulan Ramadhan. (Surat Al-Qiyamah. 75: 9-10; HR Ad-Daruquthni, Juz II, hadits ke-10)

2. Ciri-ciri Jamaah Islam yang didirikannya, antara lain:
2.1. Mengajarkan 10 (sepuluh) perintah yang mempakan rumusan ajaran Islam yang dituangkan dalam 10 syarat baiat. (HR Ath¬Turmudzi; dan Kanzul-Umal, Juz X1V/38626)
2.2. Setiap pengikut Jamaahnya menyatakan baiat. (HR Ibnu Mafah. Juz II, hadits ke-4084)
2.3. Bendera Jamaahnya berwama hitam. (HR Ahmad bin Hanbal. Al-¬Baihaqi; dan Misykatu Syarif, hadits ke-5225)
2.4. Panji-panji Jamaahnya bertuliskan “Laa ilaaha illaa Allah”, artinya: “Tidak ada Tuhan kecuali Allah”. (HR Ath-Turmuzi.lbnu Majah; dan Misykatu Syarif, hadits ke-5322)
2.5. Para pengikutnya senantiasa memperbaiki apa yang dirusak manusia. (HR Ath-Turmudzi: dan Misykatu Syarif, hadits ke-161)

SEMUA ciri di atas telah tergenapi pada Jamaah Islam Ahmadiyah yang didirikan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, yang dikaruniai gelar Imam Mahdi dan Masih Mau’ud ‘Alaillis-salaam (1835-1908 M). Jamaah ini memperlihatkan keluhuran akhlak dengan penuh kesabaran dalam menghadapi cobaan sebagaimana kesabaran yang dicontohkan oleh yang mulia Rasulullah saw dan para sahabat radlliyallahu ‘anhum di kota Mekah. Karena itulah, tidak diragukan lagi bahwa Jamaah ini adalah Ahlus-Sunnah Wal-jama’ah di zaman sekarang ini. Dan lebih ajaib lagi, jika kita baca kitab Talmud, yaitu kitab kaum Yahudi yang menghimpun hadits-hadits Nabi Musa ‘Alaihis-salaam. Di sana, ada satu nubuwatan yang terjemahan Inggrisnya berbunyi: “It is also said He (the Messiach) shall die and His kingdom descend to His son and grandson.” (Artinya: “Di situ juga dikatakan Ia (Al-Masih) akan mati, dan kepemimpinannya akan diwariskan kepada putranya dan cucunya.”) (Talmud. p. 37, Ed. Joseph Beridey)

Nubuwatan ini cocok jika ditujukan kepada Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as, sebagai Al-Masih di kalangan umat Islam, karena beliaulah pendiri kerajaan ruhani, berupa Jamaah Islam Ahmadiyah di zaman akhir ini, kemudian setelah beliau wafat, maka melalui pemilihan, terpilihlah sahabat beliau, Hadhrat Hakim Nuruddin, sebagai Khalifatul Masih I, kemudian setelah wafat, maka melalui pemilihan terpilihlah putra beliau, Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad Radhiyallaahu ‘anhu sebagai Khalifatul-Masih, II, sehingga kepemimpinan itu diwariskan kepadanya, kemudian seteIah watat melalui pemilihan seperti itu terpilihlah cucu beliau, Hadhrat Mirza Nashir Ahmad Rachimallaahu ‘anhu sebagai Khalifatul-Masih III, kemudian setelah wafat, melalui pemilihan seperti itu terpilihlah cucu beliau lagi, Hadhrat Mirza Thahir Ahmad Rachimallaahu ‘anhu sebagai Khalifatul-Masih IV. Bahkan setelah Khalifatul-Masih IV wafat, melalui pemilihan seperti itu juga terpilihlah cicit beliau, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad ayyadhullaahu ta ‘aalaa bi nashrihil- ‘aziiz sebagai Khalifatul-Masih V.

Dua Fitnah Besar di Zaman Ini
Kehadiran Jamaah Islam Ahmadiyah bertujuan untuk menyelamatkan Islam dan kaum Muslimin dari berbagai khurafat, bid’ah dan ancaman fitnahnya Dajjal. Ya J’uj wa Ma Juj. Namun sebagian kaum Muslimin yang tidak berhati arif akan melakukan protes (QS 43 : 58). Bahkan, sebagian ulama yang tidak mau ber-tabayyun (QS 49 : 7) dan tidak mau mengadakan penelitian secara ilmiah akan membenci dan menghasut kaum awam dengan fitnah yang merugikan umat dan mereka sendiri. Rasulullah saw bersabda:
 09
“Ulama mereka seburuk-buruk manusia di bawah kolong langit, dari mereka keluar fitnah dan kepada mereka fitnah itu akan kembali.” (HR. Ibnu Addi dalam “AL-Kamil”, Al-Baihaqi dalam “Syi’abul-Imah- dari Ali ra; dan Kanzul-Umal, Juz IX/31136)

0o0
note:Penulisan nomor ayat Alquran dalam tulisan diatas adalah berdasarkan Hadits Nabi Muhammad saw riwayat sahabat  Ibnu Abbas ra yang menunjukkan bahwa setiap basmalah pada tiap awal surat adalah ayat pertama surat itu.
 51
“Nabi SAW tidak mengetahui pemisahan antara surat itu sehingga bismillahir-rahmanirrahiim turun kepadanya” (HR. Abu Daud, “Kitab Shalat”, dan Al-Hakim dalam “Al-Mustadrak”)

2 Responses to “Ahlus Sunnah Wal Jama’ah”


  1. 1 agus faizal July 11, 2009 at 12:55 pm

    aswr.ana baru tahu tentang ahlussunnah brapa bulan ini,tapi saya yakin ini adalah suatu jalan yg benar.walaupun ditempat saya banyak yg menghujatnya.syukron

  2. 2 anonymouse June 18, 2011 at 12:02 pm

    Maaf saya adalah orang yang awam dan ingin tahu, sedikit pertanyaan yang selalu dikatakan oleh orang2 disekitar saya :

    1. Saya sudah menangkap menyampaian di atas hanya saja saya kurang mengerti apakah anggapan bahwa memberi pangkat seorang Mujaddid seperti Nabi itu memang adalah arti dari hadits2 tersebut diatas sehingga Syahadat harus diperbaharui, kalau memang begitu berarti 100 tahun kedepan syahadat akan berganti lagi (mengingat Mujaddid akan datang tiap 1 abad) dan juga 100 tahun yang lalu juga berganti

    2. Hmm… cukup itu saja tolong pencerahannya

    Jawab:
    Jangankan hanya sekedar mujadid, nabi sekalipun tidak ada yang memiliki syahadat selain Rasulullah Muhammad saw.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




AYO BERBELANJA DI TOKO ONLINE KAMI:

Statistik Blog

  • 216,092 hit

aku suka jalan-jalan

hidup adalah jalan-jalan. jalan-jalan adalah hidup

%d bloggers like this: