MENJAWAB OCEHAN BEELZEBUL

l'amour de la haine pour aucunAkhir-akhir ini fenomena “kesurupan perorangan” maupun “kesurupan massal” terus menerus terjadi di NKRI tercinta, dan nampaknya penomena “kesurupan” tersebut menular juga ke wilayah Blog internet, di antaranya adalah penulis “Mengenal Agama Palsu Pedofil Musyrik Muhammad saw.”, 13 Maret 09, yang dihubungkan dengan ajakan untuk memilih Partai Damai Sejahtera” (PDS) dalam Pemilu tahun 2009.

Penulis artikel tersebut jelas-jelas mengaku sebagai “bangsa Indonesia” – bukan bangsa Israel, yang Tuhannya adalah Yehova (Yehuah), yaitu Tuhan yang hanya khusus untuk Bani Israil (Israel) saja – oleh karena itu sangat keliru apabila dia membangga-banggakan “Tuhannya Israel Tuhan YHVH Penyedia di PEMBELAH LAUT MERAH di jaman Nabi Besar Musa yg berAgama Yudaisme BUKAN Islam Muhammad PEDOFIL….”. sebab seluruh isi AL-KITAB (termasuk Perjanjian Baru) menyatakan bahwa seluruh Nabi Allah yang dibangkitkan (diutus) di kalangan Bani Israil – termasuk Isa Ibnu Maryam a.s. atau Al-Masih (Messias/Messiah) atau Yesus Kristus – mereka hanyalah diutus khusus untuk kalangan Bani Israil saja (Matius 10:5-6 & 15:21-24).

Namun kemudian Saul (Paulus) – yang mengaku-ngaku sebagai rasul Kristus untuk bangsa-bangsa non-Bani Israil (Kis. 9:1-16) – telah menghancurluluhkan missi suci Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (Yesus Kristus – Matius 5:17-20) dengan ajaran barunya TRINITAS dan PENEBUSAN DOSA serta menyatakan bahwa hukum-hukum syariat — termasuk hukum Taurat — merupakan kutuk bagi pemeluknya (Roma 2:17-29 & 3:1-8; Galatia 3:15-29), yang sama sekali bertentangan dengan ajaran asli Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (Yesus Kristus), yang mengajarkan Tauhid Ilahi (Matius 22:34-40).

Silakan baca seluruh surat kiriman Paulus maka akan nampak kepiawaian Paulus dalam mencampur-adukkan kebenaran dengan kepalsuan sehingga muncullah Injil sebagaimana yang diajarkannya, dan menganggap orang-orang yang mengajarkan injil yang berbeda dengan Injil ajarannya sebagai orang terkutuk (Galatia 1:1-9). Selanjutnya Paulus menulis:

“Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus” (Galatia 1:10).

Bandingkan dengan tulisannya berikut ini:

“Tetapi jika ketidakbenaran kita menunjukkan kebenaran Allah, apakah yang akan kita katakan? Tidak adilkah Allah – aku berkata sebagai manusia — jika Ia menampakkan murkaNya. Sekali-kali tidak!………Tetapi jika kebenaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliaanNya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang berdosa? (Roma 3:5-7).

Jadi, menurut ajaran Paulus bahwa Tuhannya Israel, Tuhan YHVH Penyedia di PEMBELAH LAUT MERAH di jaman Nabi Besar Musa yg berAgama Yudaisme, sama sekali tidak akan menghukum kedustaan macam apa pun yang dilakukan demi kebenaran Allah, selama kedustaan tersebut dapat menyebabkan melimpahnya kemuliaan bagi-Nya.”

Silakan baca komentar Petrus – murid resmi Yesus Kristus – tentang surat-surat kiriman Paulus yang dikatakannya dalam menyebabkan tersesatnya orang-orang yang berhati bengkok dan berpenyakit (II Petrus 2:1-22). Selanjutnya Petrus berkomentar tentang Paulus:

“Seperti juga Paulus, saudara kita yang kekasih, telah menulis kepadamu menurut hikmat yang dikaruniakan kepadanya. Hal itu dibuatnya dalam semua surat-suratnya, apabila ia berbicara tentang perkara-perkara ini. Dalam surat-suratnya itu ada hal-hal yang sukar difahami, sehingga orang-orang yang tidak memahaminya, dan yang tidak teguh imannya, memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri, sama seperti yang juga mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain” (II Petrus 3:15-16).

Yohanes dalam surat kirimannya lebih tegas lagi menyatakan, bahwa yang dimaksud dengan antrikristus adalah Paulus itulah, sebab dialah yang mengada-adakan ajaran baru yang sama sekali bertentangan dengan ajaran Injil asli yang diajarkan oleh Yesus Kristus (Mesiah/Mesias) dari ALLAH SWT.:

“Aku menulis kepadamu, bukan karena kamu tidak mengetahui kebenaran, tetapi justru karena kamu mengetahuinya dan karena kamu juga mengetahui, bahwa tidak ada dusta yang berasal dari kebenaran.” (I Yohanes 2:18-21).

Ya, adakah “kesurupan” yang lebih dahsyat dari pernyataan dusta tentang ALLAH SWT AL-HAQQ (YANG MAHA BENAR) — sebagaimana yang dikemukakan oleh pernyataan Paulus tersebut? Sebab AL-HAQQ (Yang Maha Benar) tidak membutuhkan kedustaan macam apa pun untuk menyatakan KeMahabenaran-Nya, sebagaimana yang diajarkan oleh Paulus dalam surat-surat kirimannya.

Oleh karena itu jika orang-orang yang berfitrat baik membaca artikel yang menghujat kesucian ALLAH SWT., KITAB SUCI AL-QURAN dan NABI BESAR MUHAMMAD SAW. tersebut yang sangat jauh dari norma-norma kesusilaan sebagai orang yang mengaku beragama maka mereka akan sepakat bahwa artikel seperti itu tidak lebih dari karya tulis “orang yang kesurupan Beelzebul” belaka.


JAWABAN SEPULUH OCEHAN

ORANG YANG KESURUPAN BEELZEBUL

Ada dua landasan untuk membuktikan kebenaran — mau pun kedustaan — orang-orang yang mendakwakan diri sebagai Rasul ALLAH SWT. atau memperoleh wahyu dari ALLAH SWT. — yakni qaul (firman.perkataan) Allah Ta’ala sendiri dan fi’il (perbuatan) ALLAH SWT., sebab mustahil ada pertentangan antara qaul (perkataan) dan fi’il (perbuatan) ALLAH SWT..

Kesaksian Qaul (Firman/Perkataan) ALLAH SWT.

Salah satu bukti bahwa Kitab Suci Al-Quran diturunkan dari ALLAH SWT. — yaitu TUHAN yang juga menurut Kitab-kitab sebelumnya, termasuk Taurat dan Injil (Qs.3:4-5) — adalah bahwa di dalam Kitab Suci Al-Quran ALLAH SWT. bukan saja mewajibkan kepada umat Islam untuk beriman kepada Kitab Suci Al-Quran, tetapi juga mewajibkan untuk beriman kepada Kitab-kitab Suci yang diturunkan sebelumnya, termasuk Taurat dan Injil (Qs.2:1-6).

Seandainya ocehan Beelzebul dan kawan-kawannya benar bahwa — na’uudzubillaahi min dzaalikNabi Besar Muhammad saw. adalah seorang pendusta atau seorang nabi palsu, dan Tuhan yang mengutusnya bukan ALLAH SWT., yang juga telah mengutus para nabi Allah di kalangan Bani Israil dan dari kalangan kaum-kaum sebelumnya — seharusnya antara Kitab Suci Al-Quran dengan Kitab-kitab sebelumnya — khususnya dengan Taurat dan Injil harus penuh dengan hal-hal yang bertolak-belakang, tetapi kenyataan membuktikan tidak demikian.

Begitu banyaknya berbagai persamaan antara Kitab Suci Al-Quran dengan Taurat dan Injil, sehingga muncul tuduhan (fitnah) dari kalangan Ahli Kitab bahwa ada beberapa orang Islam yang berasal dari kalangan Ahli Kitab yang telah membantu Nabi Besar Muhammad saw. menggubah Kitab Suci Al-Quran, firman-Nya:

Dan berkata orang-orang yang ingkar, “[Al-Quran] ini tiada lain melain­kan dusta yang telah ia (Muhammad) mengada­-adakannya, dan membantu atasnya suatu kaum yang lain.” Sesungguh­nya mereka telah berbuat aniaya dan dusta. Dan mereka berkata, “Kisah-kisah orang-orang dahulu, yang ia (Muhammad) suruh tulis dari seseorang. maka kisah itu dibacakan kepada­nya pagi dan petang.” (Al-Furqaan, 5-6).

Ayat-ayat ini menunjuk kepada dua tuduhan orang-orang ingkar terhadap Nabi Besar Muhammad saw. dan menjawab tuduhan-tuduhan itu. Jawaban kepada tuduhan pertama, bahwa beliau saw. mengada-adakan dusta, ialah mereka tidak adil melancarkan tuduhan semacam itu. Nabi Besar Muhammad saw. tinggal di tengah-tengah mereka untuk suatu masa yang panjang sebelum itu dan mereka sendiri semuanya menjadi saksi atas ketulusan hati dan kebenaran beliau. Bagaimanakah mereka sekarang dapat menuduh beliau pemalsu?

Jawaban kepada tuduhan (fitnah) kedua ialah, siapa pun yang dikatakan pembantu Nabi Besar Muhammad saw. pastilah mereka menganut beberapa kepercayaan dan i’tikad, akan tetapi Kitab Suci Al-Quran menolak dan merombak semua kepercayaan palsu dan membatalkan serta memperbaiki kepercayaan-kepercayaan lainnya. Bagaimanakah seseorang dianggap membantu beliau saw. untuk menciptakan (menggubah) sebuah Kitab yang telah memotong urat nadi kepercayaan dan i’tikad-i’tikad syirik yang mereka junjung dan muliakan itu? Oleh karena itu dalam ayat berikut-Nya ALLAH SWT. dengan tegas berfirman:

Katakanlah [Muhammad], “Telah diturun­kannya Al-Quran oleh Dzat Yang Maha Mengetahui rahasia seluruh langit dan bumi. Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Al-Furqaan, 7).

Dari satu dalil ini saja sudah cukup untuk membuktikan bahwa Nabi Besar Muhammad saw. adalah benar-benar Rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan ALLAH SWT. dalam Kitab-kitab suci sebelumnya — termasuk dalam Taurat dan Injil — dengan sebutan: Nabi yang seperti Musa atau Nabi itu:

15. Seorang nabi dari tengah-tengahmu, dari antara sau­dara-saudaramu, sama seperti aku, akan di­bangkitkan bagimu oleh Tuhan Allahmu; dialah yang harus kamu dengarkan. 16. Tepat seperti yang kamu minta dahulu kepada Tuhan Allahmu, di gunung Ho­reb, pada hari perkumpulan, dengan ber­kata: Tidak mau aku mendengar lagi suara Tuhan Allahmu, dan api yang besar ini ti­dak mau aku melihatnya lagi, supaya jangan aku mati. 17 Lalu berkatalah Tuhan ke­padaku: Apa yang dikatakan mereka itu baik; 18 seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh fir­manKu dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya. 19. Orang yang tidak mendengarkan segala firmanKu yang akan diucapkan nabi itu demi namaKu, dari padanya akan Kutuntut pertanggung­jawaban. 20. Tetapi seorang nabi, yang ter­lalu berani untuk mengucapkan demi nama­Ku perkataan yang tidak Kuperintahkan untuk dikatakan olehnya, atau yang berkata demi allah lain, nabi itu harus mati. 21. Jika sekiranya kamu berkata dalam hatimu: Bagaimanakah kami mengetahui perkataannya yang tidak difirmankan Tuhan? 22. Apabila seorang nabi berkata demi nama Tuhan dan perkataannya itu tidak terjadi dan tidak sampai, maka itulah perkataan yang tidak difirmankan Tuhan, dengan terlalu berani nabi itu telah mengatakannya, maka janganlah gentar kepadanya.” (Ulangan 15-22).

Nabi Besar Muhammad saw. benar-benar memenuhi semua qaul (firman/perkataan) berupa nubuatan dalam Bible tersebut secara sempurna:

  1. ALLAH SWT. pun dalam Kitab Suci Al-Quran menyebut Nabi Besar Muhammad saw. sebagai Nabi yang seperti Nabi Musa a.s. atau misal Nabi Musa a.s. (Qs.46:11; Qs.73:16; Qs.11:18).
  2. Nabi Besar Muhammad saw. berasal dari Bani Ismail, yang adalah saudara Bani Israil, sebab Nabi Ismail a.s. dan Nabi Ishaq a.s. — ayah Nabi Yaqub a.s. (Israil) — adalah dua orang putra Nabi Ibrahim a.s..
  3. Ungkapan kalimat “Aku akan menaruh fir­manKu dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya” sesuai dengan firman Allah Ta’ala dalam Kitab Suci Al-Quran tentang Nabi Besar Muhammad saw.:

Tidaklah sahabat kalian sesat dan tidak pula keliru, dan ia tidak berkata-kata menurut kehendak nafsu, [perkataanya] itu tidak lain melainkan wahyu yang diwahyukan. Telah mengajarnya [Tuhan] Yang Maha Perkasa, Pemilik Kekuatan, maka Dia bersemayam [di atas ‘arasy], dan [Dia mewahyukan Kalam-Nya] ketika ia (Muhammad) berada di atas ufuk tertinggi. Kemudian ia (Muhammad) mendekati [Allah], lalu Dia kian dekat [kepadanya], maka jadilah ia [seakan-akan] seutas tali [dari] dua buah busur atau lebih dekat lagi. Kemudian Dia mewahyukan kepada hamba-Nya apa yang telah Dia wahyukan. (An-Najm, 3-11).

Seandainya — na’udzubillaahi min dzaalikNabi Besar Muhammad saw. adalah nabi palsu, tentu pernyataan dalam Bible sebelum ini akan berlaku juga bagi beliau saw., yakni:

Tetapi seorang nabi, yang ter­lalu berani untuk mengucapkan demi nama­Ku perkataan yang tidak Kuperintahkan untuk dikatakan olehnya, atau yang berkata demi Allah lain, nabi itu harus mati,” dan:

“Apabila seorang nabi berkata demi nama Tuhan dan perkataannya itu tidak terjadi dan tidak sampai, maka itulah perkataan yang tidak difirmankan Tuhan, dengan terlalu berani nabi itu telah mengatakannya.

Sejarah membuktikan bahwa ternyata hal tersebut tidak berlaku bagi Nabi Besar Muhammad saw., padahal — sesuai dengan penyataan Nabi Musa a.s. dalam Bible tersebut — ALLAH SWT. pun dalam Kitab Suci Al-Quran telah berfirman mengenai hal tersebut:

Dan, bukanlah [Al-Quran] itu perkataan seorang penyair. Sedikit sekali apa yang kamu percayai. Dan bukanlah ini per­kataan ahli nujum. Sedikit sekali kamu mengambil nasihat. [Al-Quran] ini adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan seluruh alam. Dan sekiranya ia (Muhammad) meng­ada-adakan atas nama Kami sebagian perkataan, niscaya Kami akan menangkap dia dengan tangan kanan, kemudian niscaya Kami memotong urat nadinya, dan tiada seorang pun di antara kamu dapat mencegah darinya.” (Al-Haqqah, 42-48).

Dalam ayat-ayat Al-Quran ini keterangan-keterangan telah diberikan bahwa bila Nabi Besar Muhammad saw. pendusta, maka tangan perkasa Tuhan pasti menangkap dan memutuskan urat pada leher beliau saw. dan pasti beliau saw. telah menemui kematian yang hina, dan seluruh pekerjaan dan missi suci beliau saw. pasti telah hancur berantakan, sebab memang demikianlah nasib seorang nabi palsu.

Dakwa dan keterangan yang tercantum dalam ayat-ayat Al-Quran ini selaras dengan peryataan Bible dalam Ulangan 18:15-22, sebab memang berasal dari satu Sumber yang sama, yaitu ALLAH SWT., bukan dari setan Lucifer atau pun dari Beelzebul.

  1. Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (Yesus Kristus/Mesiah/Mesias) dalam Injil (Kitab Perjanjian Baru) menyebut Nabi Besar Muhammad saw. dengan ungkapan “Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan” (Matius 23:37-39). Ungkapan tersebut hanya berlaku bagi Nabi Besar Muhammad saw., sebab seluruh surah Al-Quran yang diwahyukan kepada beliau saw. dimulai dengan kalimat “Bismillaahirrahmaanirrahiim” yang artinya “Aku baca dengan nama Allah Yang Maha Pemurah, Maha Penyayang, ” kecuali dalam surah At-Taubah (Al-Bara-ah) yang pada hakikatnya merupakan lanjutan surah Al-Anfal.
  2. Dalam Injil Yohanes (Yahya), dengan tegas Yesus Kristus menyatakan, bahwa sampai dengan masa kedatangan (pengutusan) beliau di kalangan Bani Israil, proses penyempurnaan hukum-hukum syariat beliau selesai, sebab menurut beliau sampai zaman beliau kemampuan jiwa serta akal dan intelektual umat manusia — termasuk Bani Israilbelum siap (belum mampu) untuk memikul agama terakhir dan tersempurna tersebut, yakni agama Islam (Kitab suci Al-Quran – Qs.5:4) yang akan diwahyukan ALLAH SWT. kepada Nabi Besar Muhammad saw..

Itulah sebabnya Yesus Kristus telah menubuatkan kedatangan Nabi Besar Muhammad saw, dengan sebutan Dia yang datang dalam nama Tuhan” atau “Roh Kebenaran yang membawa seluruh kebenaran” atau “Penghibur”, sebab kedatangan Nabi Besar Muhammad saw. seakan-akan merupakan kedatangan ALLAH SWT. sendiri secara sempurna — bukan kedatangan setan Lusifer atau Beelzebul yang telah merasuki para penentang Nabi Besar Muhammad saw.:

12. Masih banyak hal yang harus kuka­takan kepadamu, tetapi sekarang kamu be­lum dapat menanggungnya. 13 Tetapi apa­bila ia datang, yaitu Roh Kebenaran, ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran, sebab ia tidak akan berkata-­kata dari dirinya sendiri, tetapi segala se­suatu yang didengarnya itulah yang akan dikatakannya dan ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. 14 Ia akan memuliakan aku, sebab ia akan mem­beritakan kepadamu apa yang diterimanya dari padaKu. (Yohanes, 12-14).

Itulah beberapa bukti qaul (firman/perkataan) ALLAH SWT. baik dalam Bible maupun Kitab Suci Al-Quran, yang mendukung kebenaran pendakwaan Nabi Besar Muhammad saw. sebagai Rasul Allah, yang kedatangannya dijanjikan oleh ALLAH SWT. di dalam Bible melalui qaul (ucapan) para Nabi Allah, khususnya Nabi Musa a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (Yesus Kristus/Messiah/Mesias).

Kesaksian Fi’il (Perbuatan) ALLAH SWT.

(I) Sebelum ini telah dikemukakan, bahwa Nabi Besar Muhammad saw. adalah benar-benar Nabi yang seperti Musa (misal Musa a.s.), yang datang dari kalangan saudara Bani Israil, yakni Bani Ismail. Sebab demi memenuhi keinginan dan ambisi (kecemburuan) Serai (Sarah), ibunda Nabi Ishaq a.s., maka Nabi Ibrahim a.s. telah membawa putera sulung beliau, Nabi Ismail a.s. di masa kecilnya dan ibunda beliau, Hajar, serta menempatkannya di gurun Paran, yakni di lembah Mekkah (Qs.3:98) yang terletak di semenanjung Arabia. (Kejadian 16:2-16; 17:1-14 & 23-27; 21:8-21; Qs.2:125-130; Qs.14:36-42; Qs.22:27-34).

Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (Yesus Kristus/Messiah/Mesias) dalam Injil (Perjanjian Baru) telah menyebut pemisahan Nabi Ismail a.s. dan ibunda beliau, Hajar, ke gurun Paran dengan sebutan “batu yang dibuang”:

Kata Yesus kepada mereka: “Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu telah terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita.” Sebab itu aku berkata kepadamu, bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu. [Dan barangsiapa jatuh ke atas batu itu ia akan hancur, dan barangsiapa ditimpa batu itu ia akan remuk]” (Matius 21:42-44).

Dengan demikian jelaslah, bahwa yang dimaksud dengan “Nabi yang seperti Musa” yang akan dibangkitkan di kalangan saudara Bani Israil (Ulangan 18:20) tiada lain adalah Nabi Besar Muhammad saw. yang berasal dari Bani Ismail. Dan sesuai dengan ucapan Yesus Kristus di atas, bahwa bukan saja Kerajaan yang diambil dari kalangan Bani Israil tersebut tetapi juga kenabian pun telah dicabut oleh ALLAH SWT. dari kalangan Bani Israil lalu diberikan kepada Bani Ismail, yaitu berupa diutus-Nya Nabi Besar Muhammad saw. atau Nabi yang seperti Musa atau Dia yang datang dalam nama Tuhan atau Roh Kebenaran yang membawa seluruh kebenaran.

Sejak upaya pembunuhan terhadap Nabi Isa Ibnu Maryam (Yesus Kristus) melalui penyaliban oleh para pemuka agama Yahudi, selama 2000 tahun bangsa Yahudi benar-benar tidak lagi memiliki tanah air (Negara) sendiri, sampai dengan terbentuknya negara Israel pada tahun 1948 melalui Balfour Declaration.

Bukan hanya itu saja, sesuai dengan pernyataan Nabi Musa a.s. mengenai “berkat dan kutuk (Ulangan 28:68) di setiap zaman mereka menjadi berbagai mangsa kemurkaan Allah Ta’ala melalui kekejaman bangsa-bangsa yang sangat membenci mereka, termasuk oleh Adolf Hitler, Pemimpin Nazi Jerman (Qs.7:168; Qs.17:5-11), dan ALLAH SWT. di dalam Kitab Suci Al-Quran telah menyebut mereka sebagai “pohon terkutuk” (Qs.17:61) atau “maghdhuubi ‘alaihim” (mereka yang dimurkai-Nya – Qs.1:7).

Ringkasnya, fi’il (perbuatan) ALLAH SWT. terhadap kaum Yahudi yang membangga-banggakan diri sebagai satu-satunya bangsa pilihan Tuhannya Israel Tuhan YHVH Penyedia di PEMBELAH LAUT MERAH di jaman Nabi Besar Musa yg berAgama Yudaisme”, yang telah membuat mereka kehilangan nikmat kenabian dan nikmat kerajaan (tanah air) membuktikan bahwa Nabi Besar Muhammad saw. adalah benar-benar Nabi yang seperti Musa atau Dia yang datang dalam nama Tuhan atau Roh Kebenaran yang membawa seluruh kebenaran atau “batu penjuru”, sebagaimana sabda Yesus Kristus sebelum ini:

Kata Yesus kepada mereka: “Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu telah terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita.” Sebab itu aku berkata kepadamu, bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu. [Dan barangsiapa jatuh ke atas batu itu ia akan hancur, dan barangsiapa ditimpa batu itu ia akan remuk]” (Matius 21:42-44).

(II) Sejarah kesuksesan Nabi Besar Muhammad saw. melaksakanan missi suci beliau saw. juga merupakan kesaksian fi’il (perbuatan) ALLAH SWT., yang tidak terbantahkan oleh siapa pun — kecuali orang-orang yang kesurupan Beelzebul. Michael H. Hart dalam bukunya “100 Tokoh Terkenal Dalam Sejarah” telah menempatkan Nabi Besar Muhammad saw. pada peringkat teratas. Pengakuan penulis non-Muslim tersebut membuktikan benarnya firman ALLAH SWT. dalam Kitab Suci Al-Quran berikut ini:

Sesungguhnya kamu dapati dalam diri Rasulullah, suri teladan yang sebaik-baiknya bagi orang yang mengharapkan bertemu dengan Allah dan Hari Akhir dan yang banyak mengingat Allah. Dan ketika orang-orang mukmin melihat lasykar-lasykar persekutuan, mereka berkata, “Inilah telah dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kami, dan Allah dan dan Rasul-Nya telah mengatakan yang benar.” Dan hal itu tidak menambah kepada mereka kecuali keimanan dan kepatuhan (Al-Ahzab, 22-23).

Pertempuran Khandak mungkin merupakan percobaan paling pahit di dalam seluruh jenjang kehidupan Nabi Besar Muhammad saw., dan beliau keluar dari ujian yang paling berat itu dengan keadaan akhlak dan wibawa yang lebih tinggi lagi. Sesungguhnyalah pada saat yang sangat berbahayalah, yakni, ketika di sekitar gelap gulita, atau dalam waktu mengenyam sukses dan kemenangan yakni ketika musuh bertekuk lutut di hadapannya — watak dan perangai yang sesungguhnya seseorang diuji dan sejarah memberi kesaksian yang jelas kepada kenyataan bahwa Nabi Besar Muhammad saw., baik dalam keadaan dukacita karena dirundung kesengsaraan dan pada saat sukacita karena meraih kemenangan, tetap menunjukkan kepribadian agung lagi mulia.

Pertempuran Khandak, Uhud., dan Hunain menjelaskan dengan seterang ­seterangnya satu watak beliau yang indah, dan Fatah Mekkah (Kemenangan atas Mekkah) memperlihatkan watak beliau lainnya. Mara bahaya tidak mengurangi semangat beliau atau mengecutkan hati beliau; begitu pula kemenangan dan sukses tidak merusak watak beliau.

Ketika beliau ditinggalkan hampir seorang diri pada hari Pertempuran Hunain, sedang nasib Islam berada di antara hidup dan mati, beliau tanpa gentar sedikit pun dan seorang diri belaka maju ke tengah barisan musuh seraya berseru dengan kata-kata yang patut dikenang selama-lamanya, “Aku nabi Allah dan aku tidak berkata dusta. Aku anak Abdul Muthalib.” Dan tatkala Mekkah jatuh dan seluruh tanah Arab bertekuk lutut maka kekuasaan yang mutlak dan tak tersaingi itu tidak kuasa merusak beliau. Beliau menunjukkan keluhuran budi yang tiada taranya terhadap musuh-musuh beliau.

Kesaksian lebih besar mana lagi yang mungkin ada terhadap keagungan watak Nabi Besar Muhammad saw. selain kenyataan bahwa pribadi-pribadi yang paling akrab dengan beliau dan yang paling mengenal beliau, mereka itulah yang paling mencintai beliau dan merupakan yang pertama-tama percaya akan misi beliau, yakni, istri beliau yang tercinta, Sitti Khadijah r.a.; sahabat beliau sepanjang hayat, Abu Bakar r.a.; saudara sepupu yang juga menantu beliau, Ali r.a., dan bekas budak beliau yang telah dimerdekakan, Zaid r.a..

Nabi Besar Muhammad saw. merupakan contoh kemanusiaan yang paling mulia dan model yang paling sempurna dalam keindahan dan kebajikan. Dalam segala segi kehidupan dan watak beliau yang beraneka ragam, tidak ada duanya dan merupakan contoh yang tiada bandingannya bagi umat manusia untuk ditiru dan diikuti.

Seluruh kehidupan beliau nampak dengan jelas dan nyata dalam cahaya lampu-sorot sejarah. Beliau mengawali kehidupan beliau sebagai anak yatim dan mengakhirinya dengan berperan sebagai wasit yang menentukan nasib seluruh bangsa. Sebagai kanak-kanak beliau penyabar lagi gagah, dan di ambang, pintu usia remaja, beliau tetap merupakan contoh yang sempurna dalam akhlak, ketakwaan dan kesabaran. Pada usia setengah-baya beliau mendapat ulukan Al-Amin (si Jujur dan setia kepada amanat) dan selaku seorang niagawan beliau terbukti paling jujur dan cermat.

Beliau menikah dengan perempuan-perempuan, yang di antaranya ada yang jauh lebih tua daripada beliau sendiri dan ada juga yang jauh lebih muda, namun semua bersedia memberi kesaksian dengan mengangkat sumpah mengenai kesetiaan, kecintaan, dan kekudusan beliau.

Sebagai ayah beliau penuh dengan kasih-sayang, dan sebagai sahabat beliau sangat setia dan murah hati. Ketika beliau diamanati tugas yang amat besar dan berat dalam usaha memperbaiki suatu masyarakat yang sudah rusak, beliau menjadi sasaran derita aniaya dan pembuangan, namun beliau memikul semua penderitaan itu dengan sikap agung dan budi luhur.

Beliau bertempur sebagai prajurit gagah-berani dan memimpin pasukan-pasukan. Beliau menghadapi kekalahan dan beliau memperoleh kemenangan-kemenangan. Beliau menghakimi dan mengambil serta menjatuhkan keputusan dalam berbagai perkara. Beliau adalah seorang negarawan, seorang pendidik, dan seorang pemimpin.

Kepala negara merangkap Penghulu Agama, beliau adalah Kaisar dan Paus sekaligus. Tetapi beliau adalah Paus yang tidak berlaga Paus, dan Kaisar tanpa pasukan-pasukan yang megah. Tanpa balatentara tetap, tanpa pengawal, tanpa istana yang megah, tanpa pungutan pajak tetap dan tertentu, sehingga jika ada orang men-ngatakan bahwa ia memerintah dengan hak ketuhanan, maka orang itu hanyalah Muhammad, sebab beliau mempunyai kekuasaan tanpa alat-alat kekuasaan in tanpa bantuan kekuasaan. Beliau biasa melakukan pekerjaan rumah tangga dengan tangan beliau sendiri, biasa tidur di atas sehelai tikar kulit, dan makanan beliau terdiri dari kurma dan air putih atau roti jawawut, dan setelah melakukan macam-macam tugas sehari penuh, beliau biasa melewatkan malam hari dengan mendirikan shalat dan doa-doa sehingga kedua belah kaki beliau bengkak-bengkak. Tiada orang yang dalam keadaan dan suasana yang begitu banyak berubah, telah berubah begitu sedikitnya.” (Muhammad and Muhammadanism” karya Bosworth Smith).

Dengan demikian tuduhan (fitnah) bahwa Nabi Besar Muhammad saw. adalah seorang Nabi Utusan setan Lucifer dan seorang Nabi Pedofil telah dijawab secara telak oleh karya Bosworth Smith tersebut.

Kaum Nabi Musa a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (Yesus Kristus)

Yang Sangat Memprihatinkan

3. Mari kita bandingkan dengan keadaan menyedihkan yang dialami oleh Nabi Musa a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (Yesus Kristus) dari sikap-sikap durhaka Bani Israil — khususnya kaum Yahudi:

· Ketika Nabi Musa a.s. memerintahkan mereka memasuki “negeri yang dijanjikan” (Kanaan/Palestina) mereka tidak melaksanakannya, akibatnya selama 40 tahun mereka diharamkan ALLAH SWT. memasuki “negeri yang dijanjikan”, sampai-sampai Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s. wafat di padang pengembaraan tersebut (Ulangan I:1-39; Qs.5:21-27). Mereka banyak menyakiti hati Nabi Musa a.s., dengan berbagai kedurhakaan yang mereka lakukan, termasuk menyembah patung anak sapi buatan Samiri (Qs.61:6).

· Ketika Nabi Isa ibnu Maryam a.s. (Yesus Kristus) diutus, para pemuka kaum Yahudi berusaha membunuh beliau melalui penyaliban. Demikian pula di antara orang-orang Yahudi yang menjadi murid-murid utama Yesus Kristus pun terbukti sangat tidak setia, contohnya:

(1) Yudas Iskariot telah menjual informasi keberadaan Yesus Kristus kepada para pemuka agama Yahudi dan tentara Romawi, hanya dengan 30 keping uang perak, sehingga akhirnya Yesus Kristus dapat mereka tangkap dan kemudian mereka pakukan di tiang salib (Matius 26:14-16 & 47-50).

(2) Ketika ada yang mengenali Petrus sebagai salah seorang pengikut (murid utama) Yesus Kristus — yang kepadanya telah diserahkan kunci surga — ia bukan saja membantahnya bahkan mengutuk Yesus Kristus tiga kali (Matius 26:30-35 & 69-75).

Bagaimana mungkin Yesus Kristus yang gagal total membina akhlak dan ruhani 12 orang murid utama tersebut tiba-tiba menjadi Tuhan dalam TRINITAS, sebagaimana yang direkayasa oleh Paulus dalam surat-surat kirimannya yang sangat menyesatkan?

Kalau pun benar na’uudzubillahhi min dzaalik — ada Rasul Allah yang patut menjadi Tuhan sembahan disamping ALLAH SWT., maka orang itu hanyalah Nabi Besar Muhammad saw., karena ALLAH SWT. sendiri yang telah mengabadikan nama MUHAMMAD dalam 2 KALIMAH SYAHADAT telah disandingkan dengan nama ALLAH SWT.

Silakan bandingkan dengan sikap dan jawaban para sahabat Nabi Besar Muhammad saw. ketika kota Madinah dikepung ketat oleh lasykar-lasykar persekutuan (Ahzab) dari para penentang Nabi Besar Muhammad saw. sebelum ini, dengan sikap-sikap sangat tidak terpuji dari para pengikut Nabi Musa a.s. dan murid-murid utama Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (Yesus Kristus) berikut ini, firman-Nya:

“Sesungguhnya kamu dapati dalam diri Rasulullah, suri teladan yang sebaik-baiknya bagi orang yang mengharapkan bertemu dengan Allah dan Hari Akhir dan yang banyak mengingat Allah. Dan ketika orang-orang mukmin melihat lasykar-lasykar persekutuan, mereka berkata, “Inilah telah dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kami, dan Allah dan dan Rasul-Nya telah mengatakan yang benar.” Dan hal itu tidak menambah kepada mereka kecuali keimanan dan kepatuhan. Di antara orang-orang yang beriman ada orang-orang yang benar-benar telah menepati apa yang dijanjikan mereka kepada Allah. Maka sebagian dari mereka telah menyempurnakan niatnya (mati syahid), dan di antara mereka ada yang masih menunggu, dan mereka tidak mengubah [janji mereka] sedikit pun. Agar Allah membalas orang-orang yang benar itu atas kebenaran mereka, dan meng­hukum orang-orang munafik, jika Dia menghendaki, atau memberi ampunan kepada mereka. Se­sungauhnya Allah itu Maha Pengampun, Maha Penyayang. Dan Allah telah mengem­balikan orang-orang ingkar dalam kemarahan mereka, dan mereka tidak memperoleh kebaikan apa­pun. Dan Allah mencukupi orang­-orang mukmin dalam perang itu. Dan Allah Maha Kuat, Maha Perkasa. Dan Dia telah menurun­kan orang-orang dari antara Ahlikitab yang menolong mereka, yakni orang-orang musyrik dari benteng-benteng mereka [di Khaibar] dan memasukkan ketakutan ke dalam hati mereka. Sebagian dari mereka kamu bunuh dan sebagian kamu tawan. Dan, Dia mewariskan kepadamu tanah mereka dan rumah­-rumah mereka dan harta mereka, dan [mewariskan] suatu daerah yang belum kamu menginjaknya. Dan Allah atas segala sesuatu berkuasa. (Al-Ahzab, 22-28).

Pertanyaannya adalah:

Mengapa benteng andalan golongan Ahli Kitab di Khaibar yang dikepung oleh pasukan Muslim pimpinan Ali bin Abi Thalib r.a. ketika itu terbukti sangat rapuh? Mengapa “Tuhannya Israel Tuhan YHVH Penyedia di PEMBELAH LAUT MERAH di jaman Nabi Besar Musa yg berAgama Yudaisme BUKAN Islam Muhammad PEDOFIL” tidak menolong Ahli Kitab saat itu? Jadi, sebenarnya ALLAH SWT. itu bersama siapa? Apakah Dia itu bersama golongan Ahli Kitab, ataukah bersama Nabi Besar Muhammad saw. dan umat Islam?

KESIMPULAN

Kesimpulannya adalah, bahwa baik berdasarkan qaul (firman/perkataan) maupun berdasarkan fi’il (perbuatan) ALLAH SWT. membuktikan bahwa topik “INILAH BUKTI 10 keASLIan terBESAR & terBUKTI dari KeNABIan Muhammad Utusan Setan Lucifer” tidak lebih ocehan orang yang kesurupan Beelzebul dan Lucifer sebagaimana yang ia tuduhkan kepada Nabi Besar Muhammad saw..

Berikut firman Allah Ta’ala tentang Ruhul Amin yang turun kepada Al-Amin, Nabi Besar Muhammad saw, dan setan yang turun kepada para pendusta:

Dan sesungguhnya [Al-Quran] ini diturunkan oleh Tuhan seluruh alam. Telah turun bersamanya Ruhul Amin (Ruh yang terpercaya/Jibril) atas kalbu engkau, supaya engkau termasuk di antara para pemberi peringatan. Dengan bahasa Arab yang jelas. Dan sesungguhnya [Al­-Quran telah tercantum] dalam kitab-kitab terdahulu. Dan tidakkah ini me­rupakan satu Tanda bagi mereka, bahwa ulama-ulama Bani Israil mengetahuinya? (Asy-Syu’ara, 193-198)

Dalam ayat ini, malaikat yang membawa wahyu Al-Quran disebut ruhul­-amin. yaitu ruh yang terpercaya. Di tempat lain disebut ruhul-qudus (Qs.16:103) yakni ruh suci. Nama kehormatan terakhir dipergunakan dalam Al-Quran untuk menunjuk kepada kebebasan vang kekal-abadi dan mutlak dari setiap kekeliruan atau noda: dan penggunaan nama kehormatan yang pertama (Ruhul-Amin) mengandung arti, bahwa Al-Quran akan terus-menerus mendapat perlindungan Ilahi terhadap segala usaha yang merusak keutuhan teksnya. Nama kehormatan ini secara khusus telah dipergunakan berkenaan dengan wahyu Al-Quran, sebab janji pemeliharaan Ilahi yang kekal-abadi (Qs.15:10) tidak diberikan kepada kitab-kitab suci lainnya, dan kata-kata dalam kitab suci itu, oleh karena berlalunya masa telah menderita campur-tangan manusia dan perubahan.

Sungguh mengherankan, bahwa Nabi Besar Muhammad saw. sendiri dikenal sebagai Al-Amin (si benar; terpercaya) di Mekkah. Betapa besar penghormatan Ilahi dan betapa besar kesaksian mengenai keterpercayaan Al-Quran, karena wahyu Al-Quran dibawa oleh Malaikat Jibrail Ruhul Amin (ruh yang terpercaya) kepada seorang Al-Amin, yakni Nabi Besar Muhammad saw.. Kata-kata, “atas kalbu engkau” telah dibubuhkan untuk mengatakan, bahwa wahyu-wahyu Al-Quran bukan hanya gagasan yang dicetuskan Nabi Besar Muhammad saw.. sebagaimana tuduhan para penentang beliau saw. dari kalangan Ahli Kitab.

Firman-Nya lagi:

Dan bukanlah syaitan­-syaitan yang membawanya (Al-Quran) turun, dan tidak layak untuk mereka dan tidak pula mereka mempunvai kekuatan. Sesungguhnya mereka itu telah dihalangi dari mendengar [Kalam Ilahi]. Maka janganlah engkau menyeru bersama Allah tuhan lain, karena engkau akan menjadi orang yang diazab (Asy-Syu’ara, 211-214).

Ayat-ayat ini mengandung tiga buah dalil yang mendukung pendakwaan bahwa syaitan tidak ikut membantu dalam pembuatan Kitab Suci Al-Quran:

(a) Ajarannya merupakan suatu celaan keras, yang paling jitu, tidak mengenal kerjasama terhadap semua hal yang dibela oleh syaitan.

(b) Kitab Suci Al-Quran begitu agung sifatnya dan mendukung kebenaran-kebenaran yang demikian luhurnya, sehingga sama sekali ada di luar jangkauan kekuasaan syaitan untuk menghasilkan yang serupa. itu (Qs. 17 : 89).

(c) Kitab Suci Al-Quran mengandung nubuatan-nubuatan yang hebat tentang kemenangan Islam pada akhirnya. Syaitan tidak dapat membuat nubuatan-nubuatan, sebab mereka tidak mempunyai ilmu tentang masa depan.

Jadi, Kitab Suci Al-Quran tidak mungkin karya syaitan, sebab satu hasil karya syaitan tidak mungkin menekankan begitu tegas mengenai ke-ESA-an Tuhan (ALLAH SWT.) sebagaimana yang ditekankan Kitab Suci Al-Quran. Fiman-Nya:

Maukah Aku beritahukan kamu kepada siapa syaitan-syaitan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta yang berdosa. Mereka menghadapkan telinga ke arah Iangit, dan ke­banyakan mereka pendusta. Dan penyair-penyair itu mengikuti mereka yang sesat. Tidakkah engkau me­maklumi bahwa mereka itu di dalam setiap lembah, berjalan kian-kemari tanpa tujuan, dan sesungguhnya mereka itu mengatakan apa yang mereka tidak lakukan. Kecuali orang yang beriman dan beramal shalih dan banyak-banyak mengingat Allah, dan mereka hanya membela diri setelah mereka dianiaya. Dan segera mengetahui orang-orang yang aniaya itu ke tempat mana mereka akan kembali. (Asy-Syu’ara, 222-228).

Ayat ini memberi satu penghormatan yang gemilang atas ketakwaan dan kemuliaan para sahabat Nabi Besar Muhammad saw.. Kata saajidiin (orang-orang yang bersujud) menunjuk kepada mereka. Rahmat dan berkat terlimpah atas Nabi Besar Muhammad saw.., yang, dikitari oleh orang-orang suci demikian. Sejarah umat manusia tidak berhasil mengemukakan contoh lain di samping Penghulu yang demikian mulia, dicintai, dan diikuti oleh pengikut-pengikut vang demikian bertakwanya.

Dalam ayat-ayat ini tuduhan bahwa Nabi Besar Muhammad saw.. adalah seorang penyair (Qs. 21:6) dibantah. Tiga alasan yang diberikan sebagai bantahan, ialah:

  1. Orang-orang yang mengikut dan berteman dengan penyair-penyair bukanlah orang-orang yang berbudi pekerti tinggi, tetapi para pengikut Nabi Besar Muhammad saw memiliki cita-cita yang sangat mulia dan berbudi pekerti yang sangat luhur.
  2. Penyair-penyair tidak mempunyai cita-cita atau rencana hidup yang terarah. Mereka itu seakan-akan melantur tidak menentu arah-tujuannya di tiap-tiap lembah. Akan tetapi Nabi Besar Muhammad saw mempunyai suatu tugas hidup yang sangat agung dan luhur.
  3. Penyair-penyair tidak mengamalkan apa yang mereka ucapkan, namun Nabi Besar Muhammads saw. bukan hanya Guru yang paling mulia melainkan juga seorang pribadi terbesar dari antara orang-orang yang sibuk berkarya, dan seorang suri teladan yang sempurna (Qs.33:22).

——oo0oo——

Pajajaran Anyar, 20 Maret 2009

Ki Langlang Buana Kusuma

4 Responses to “MENJAWAB OCEHAN BEELZEBUL”


  1. 1 japuk April 22, 2009 at 2:21 pm

    KEEP A GOOD WORK MY BROTHER

  2. 2 muhamad May 29, 2010 at 10:22 am

    Perbaiki diri sendiri itu lebih baik, karena orang cuman melihat tingkah laku. Dan lebih keren daripada membanding-bandingkan keyakinan. Kebenaran itu tak terbatas melebihi daripada yang agama bayangkan. Anda baru mengenal Firman tapi belum mengenal SANG FIRMAN. Jangan kaget jika suatu saat anda dan saya berdua bertemu Tuhan dan bertanya : Tuhan, manakah agama yang berkenan kepadaMu ? JawabNya : ” AKU TIDAK MENCIPTAKAN AGAMA “, Lagian kebenaran itu gak perlu dibuktikan karena terbukti dengan sendirinya.

  3. 3 Ki Langlang Buana Kusuma October 27, 2010 at 2:08 am

    Kalau melihat nama Anda “MUhamad” — bukan “MUhammad” — selintas seperti nama orang Islam, bahkan mirip dengan nama Nabi umat Islam, yaitu Nabi Muhammad saw. yang kesucian pribadi dan ajarannya telah saya kemukakan.
    Namun ketika membaca komentar Anda maka saya menjadi ragu apakah Anda ini seorang Muslim ataukah non-Muslim? Anda berkomentar: “Anda baru mengenal firman tapi belum mengenal SANG FIRMAN. Jangan kaget jika suatu saat anda dan saya berdua bertemu Tuhan, dan bertanya: “Tuhan, manakah agama yang berkenan kepadaMu. JawabNya: “AKU TIDAK MENCIPTAKAN AGAMA”
    Pertanyaan saya adalah (1) Tuhan yang manakah yang ada maksudkan, “Tuhan Yesus” ataukah ” Allah Swt.” yaitu Tuhan Yang Maha Esa Yang telah mengutus Yesus dan semua Rasul Allah yang diutus sebelum dan sesudah Yesus (Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Israili a.s.)?
    Kalau yang anda maksud sebagai “Tuhan” adalah “Tuhan Yesus”, memang itulah ajaran Paulus dalam surat-surat kirimannya. Tetapi kalau yang dimaksudkan adalah “Allah Swt.” maka semua agama yang benar memang berasal dan bersumber dari Allah Swt. — termasuk ajaran asli Taurat dan Injil, yang diwahyukan kepada Nabi Musa a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s..
    Jadi sungguh keliru bahwa Allah Swt. tidak menurunkaan agama (hukum-hukum syariat). Sebab tanpa adanya hukum (peraturan) — termasuk dalam masalah agama/hukum syariat — maka kehidupan manusia akan kacau-balau, karena semua orang hanya akan berfikir dan bertindak hanya mengikuti kemauan HAWA NAFSUNYA masing-masing, persis seperti kelakuan binatang.
    Oleh karena itu jika Paulus mengatakan dalam salah satu surah kirimannya bahwa “hukum syariat” merupakan kutuk dan untuk memperoleh keselamatan hidup cukup hanya beriman kepada “darah Yesus” yang dengan rela hati mengalami kematian terkutuk di atas tiang salib guna menebus “dosa warisan” dari Adam (Roma & Galatia 3:15-29) maka dapat dipastikan bahwa yang dimaksud dengan “Tuhan” oleh Anda adalah “Tuhan Yesus”, bukan Allah Swt.
    Jika yang Anda maksudkan dengan “Tuhan” itu adalah Yesus Kristus”, lalu kepada siapa doa (permohonan) yang dipanjatkan oleh Yesus Kristus dengan penuh kesedihan dan keharuan hati di Taman Getsemani agar beliau terlepas dari “cawan” yakni kematian terkutuk di tiang salib, yang diupayakan oleh para ulama Yahudi (Matius 26:36-46) — dan doanya dikabulkan Allah Swt.? Apakah beliau berdoa kepada diri sendirinya sendiri ataukah kepada Allah Swt.? Jadi, pelajarilah Kitab-kitab Suci dengan baik, tidak cukup hanya sekedar “beriman” belaka kepada “darah terkutuk” Yesus Kristus, sebab dalam agama apa pun di dunia ini dalam melaksanakan ritual-ritualnya tetap saja harus mengikuti “hukum-hukum” (peraturan-peraturan” yang telah ditetapkan — baik oleh Allah Swt. maupun oleh para Radul Allah, bahkan oleh para pemuka agama, sebab jika tidak demikian maka akan kacaulbalaulah tatanan kehidupan manusia karena tidak ada lagi batasan serta aturan hukum antara “benar” dan “salah”.

  4. 4 Ncuhi Tambora July 17, 2013 at 4:28 am

    Pada dasarnya agama itu memang diciptakan oleh Tuhan, Dialah pencipta seluruh alam baik yang nampak maupun yang tidak nampak di mata kepala. Yahudi dan Kristen termasuk agama yang diciptkan oleh Tuhan untuk waktu tertentu dan bangsa tertentu. Islam datang sebagai rahmat dari Tuhan untuk segenap manusia dan jinn dimana pun berada. Islam mempunyai prinsif Bebas berkeyakinan dan beragama, Tidak membolehkan pengikutnya menghina sembahan (tuhan) agama lain dan Islam tidak boleh diajarkan dengan kekerasan dan paksaan. Islam bagaimana pun akhirnya akan menguasai dunia ini dengan ajarannya yang sebenarnya bukan dengan hinaan apalagi teror. Baca http://www.alislam.org


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




AYO BERBELANJA DI TOKO ONLINE KAMI:

Statistik Blog

  • 215,909 hit

aku suka jalan-jalan

hidup adalah jalan-jalan. jalan-jalan adalah hidup

%d bloggers like this: