SUKARNO, PELOPOR PEMIKIRAN ISLAM LIBERAL

oleh: M Dawam Rahardjo

SoekarnoSukarno, yang disebut juga Putera Fajar itu, bukan dilahirkan di kalangan Muslim santri, melainkan abangan, bahkan ibunya berasal dari Bali yang Hindu. Ia mulai berkenalan dengan Islam dari induk semangnya, seorang kader gerakan Islam modernis awal, Sarekat Dagang Islam (SDI) yang didirikan di Solo pada tahun 1011 oleh Haji Samanhudi. Omar Said sendiri, walaupun keturunan dari Yogyakarta Hadiningrat, Kyai Kasan Besari, bukan hasil didikan pesantren maupun madrasah, melainkan pendidikan umum. Bahkan pendidikan agama tidak ia peroleh melalui pengajian keluarga. Dengan demikian, Sukarno muda, langsung berkenalan dengan high Islam yang rasional sistematis dan bukannya dengan low Islam, pendidikan Islam tradisional.

Sukarno baru  tergerak untuk belajar sholat pada tahun 1934, ketika berumur 29 tahun, dalam pembuangannya di Endeh. Dalam pembuangannya itu ia menulis surat kepada A. Hassan, antara lain meminta dikirim buku penuntun sholat, di samping buku-buku berat lainnya tentang Islam. Tapi nampak ia sudah mengenal persoalan-persoalan sosial dalam masyarakat Islam, misalnya tentang kecenderungan pengkeramatan sesorang. Pada tahun 1960-an ia membahas kembali soal pengaruh kota keramat terhadap masyarakat penghuninya yang cenderung kolot dan tertutup dan bahkan berkecenderungan ke arah hyper orthodoxy dalam masyarakat Hindu di India maupun Islam di Jerussalam. Dengan begitu perhatiannya tidak hanya pada gejala agama Islam, melainkan kecendrungan agama-agama pada umumnya. Nampak juga dalam “Surat-surat Islam”nya, bahwa ia telah sangat memahami doktrin tauhid yang murni, dan dalam doktrin itulah ia tertarik pada Islam, yang memisahkan hal-hak yang profan dari yang sacred. Tauhid yang murni ia lihat sebagai kepercayaan yang membawa rasionalitas berflkir. Doktrin itu juga cenderung membedakan masalah yang suci dengan yang profan. Bahkan ia melihat terbukanya kesempatan untuk menggunakan rasio untuk memahami hal-hal yang sucipun, misalnya tentang wahyu, Islam juga membuka kebebasan berfikir, sebagaimana ditulis dalam al Qur’an sendiri dan dipraktekkan dalam aliran Mu’tazilah Bagdad di Abad Pertengahan dan sebagaimana tercermin dalam pemikir-pemikir Muslim Andalusia. Tidak sebagaimana murid A. Hassan yang lain, M. Natsir, ia kurang pengetahuannya mengenai pemikiran teologi, filsafat dan peradaban Islam Abad Pertengahan. Namun ia mengetahui tentang kebesaran Islam masa lalu dari tulisan-tulisan Natsir dalam bahasa Belanda yang sangat ia hargai itu.

Tapi dalam pembacaannya tentang Islam Sukarno agaknya bercermin dari kondisi di Turki, sebelum Revolusi Turki, melihat Islam di zaman modern sebagai kelanjutan Islam Abad Pertengahan, padahal menurut Takdir Alisyahbana, Islam di masa modern, termasuk yang dibawa ke Indonesia, adalah Islam yang telah mengalami kejatuhan dalam peradabannya.

Peradaban Islam pada zaman kejayaannya, baru diungkap kembali oleh Natsir pada tahun 1936, bertepatan dengan terbitnya artikel St. Takdir yang kontroversial dan memancing polemik kebudayaan dalam rentang waktu hingga 1939 itu. Adalah salah satu kecelakaan sejarah, bahwa antara Sokarno, Natsir dan Takdir Alisyahbana tidak terjadi interaksi intelektual. Sukarno sendiri juga tidak terlibat dalam polemik kebudayaan yang dipicu oleh sastrawan dan budayawan Pujangga Baru yang dipelopon oleh St. Takdir Alisyahbana, Amir Hamzah dan Sanusi Pane itu, masing-masing mewakili kebudayaan Barat, Islam dan India.

Demikian pula, dari Tjokroaminoto, iapun tidak berkenalan dengan Islam dari arah Sunni, melainkan Islam Ahmadiyah. Tjokro muda juga memperdalam Islam dari literatur Inggris, terutama tulisan-tulisan Mohammad Ali, pendiri gerakan Ahmadiyah Lahore, yang tidak menganggap Mirza Gulam Ahmad sebagai Nabi, melainkan mujaddid biasa. Mohammad Ali sendiri sebenarnya adalah juga seorang mujadid yang tercatat, yang memiliki persepsi tersendiri mengenai Islam, sebagai nampak dalam buku Tafsir al Qur’annya, “The Holy Qur’ar buku teologinya “The Religion of Islam” dan buku lainnya yang juga terkenal, Sejarah Mohammad, dua karya terakhir itu, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Tokroaminoto. Karya-karya Mohmmad Ali yang sangat mengenal pemikiran orientalis Barat itu, dapat disebut mencerminkan pendekatan liberal tentang Islam, walaupun Ali juga banyak merujuk pada kitab-kitab klasik Islam. Hanya saja tekanan wacananya lebih mengarah pada teologi daripada fiqh, tetapi sangat terpengaruh pada pemikiran-pemikiran spiritual tasauf.

Selain dari Mohammad Ali, dari Ahmadiyah ia tertarik pada pemikiran Syaid Amer Ali, melalui bukunya “The Spirit of Islam”. Dari situlah ia menuliskan pemikirannya mengenai “Api Islam”. Suatu gambaran dari spirit sebagaimana dimaksud oleh Max Weber yang ikut bertanggung- jawab terhadap kebangkitan kapitalisme nasional di Eropa Barat. Faktor yang menjadikan Sukarno punya pemikiran yang berbeda adalah bacaan-bacaannya terhadap tulisan pemikir-pemikir Turki yang liberal dan sekuler, sehingga ia melampaui faham modernisme yang berasal dari Mesir itu.

Namun Sukarno, sebenarnya bukan sekedar berfikir dalam logika high Islam, yang dipahami sebagai pemikiran fiqih Aristotelian itu. Ia melampaui itu, karena ia mempelajari pula tulisan-tulisan keagamaan dari orientalis dan para pemikir Barat, termasuk Marx. Dalam pandangan keagamaannya, Sukarno mengikuti juga epistemologi Historis Materialisme, sebagaimana nampak kemudian dalam bukunya “Sarinah”. Paling tidak, pandangannya mengenai agama dipengaruhi oleh sudut pandangan sosiologis Comteian. Sukarno tidak hanya melihat Islam sebagai wahyu, melainkan sebuah gejala sosiologis. Inilah yang memungkinkan terbukanya pemikiran liberal pada Sukarno. Dalm konteks paham ortodoksi, pengetahuan Islam Sukarno dianggap dangkal, hanya karena ia membaca Islam dari literatur Barat. Padahal dari korespondensinya dengan A. Hassan, ia meminta kiriman buku-buku tentang Islam yang ditulis oleh pemikir Islam sendiri yang daftarnya diberikan oleh A. Hassan.

Absennya Sukarno dari Polemik Kabudayaan agaknya disebabkan perhatian Sukarno pada masalah-masalah politik sebagaimana nampak dalam tulisannya yang tersebar di berbagai majalah kebangsaan maupun Islam. Namun diam-diam, Sukarno punya perhatian yang serius terhadap agama, yang membuat banyak orang heran tetapi menyambut dengan hangat. Karena itu tidak ada alasan bahwa pengetahuan keagamaannya dangkal; Ia tahu benar masalah-masalah fiqih dan bahkan melakukan ulasan kritis mengenai ilmu keislaman tradisional itu, sehingga ia pernah berdebat dengan Natsir menagai hukum najis jilatan anjing.

Pandangan liberal Sukarno nampak dalam tulisannya “Memudakan Pengertian Islam” (Panji Islam, 1949) yang mendapat tanggapan sengit dari seorang tokoh ulama puritan, pendiri PERSIS (Persatuan Islam), Ustadz A. Hassan, yang punya andil juga dalam mengajarkan Islam pada Sukarno, ketika ia hidup dalam pembuangannya di Endeh, Flores. Maka iapun tidak asing dangan pandangan Islam yang ia kritik. Walaupun demikian ia tetap saja disindir sebagai memandang Islam secara dangkal dengan pemikiran-pemikiran yang ceroboh.

Dalam tulisan-tuliusannya , Sukarno memang membahas Islam sebagai gejala sosial. Ia mempelajari Islam bukan pada ajaran-ajarannya yang asli tetai tentang manifestasi kebudayaannya pada berbagai lingkungan masyarakat. Ia mempelajari corak-corak Islam di berbagai negara; Mesir, Palestina, India, Turki, Saudi Arabia. Ia mengenal dengan baik Wahabisme, yang memberikan gambaran mengenai Islam sebagai agama padang pasir yang keras dalam doktrin-doktrin teologi dan hukumnya. Ia melihat unsur yang tetap dan yang berubah sebagaimana dibahas secara kemudian secara mendalam oleh cendekiawan- sastrawan Syiria kontemporer, Adonis. Dari situ ia melihat Islam, bukan sebagai sesuatu Yang Tunggal melainkan sebagai gejala yang Warna-Warni. Sejalan dengan itu ia melihat pula gejala yang nampak pada generasi muda. Ia dengan cepat dapat menangkap isyarat yang dilontarkan oleh perkembangan Islam, karena ia juga membaca mengenai cetusan-cetusan kaum muda Muslim di berbagai negara Muslim. Dalam tulisannya menganai “Memudakan Pengerian Islam” ia melihat gejala pluralisme, baik eksternal maupun internal agama. Di satu pihak ia melihat pluralisme sosial sebagai penyebab sikap-sikap eksklusif, kembali kepada ortodoksi, kemurnian dan kekolotan. Tapi di lain pihak ia juga melihat Pluralisme sebagai pembuka pintu keterbukaan dan perubahan.

Islam ia lihat dari perspektif perkembangan dan perubahan terus menerus sesuai dengan kaedah Panta Rei Yunani yang ia kutip dalam tulisannya. Dalam kaitan ini ia memandang Islam secara positif. “Islam is progress”, tegasnya. Pemikirannya mengai idea of progres sudah ia tulis pada tahun 1935, jauh sebelum Nurcholish Madjid menampilkanya kembali pada tahun 1970 dalam pembaharuan pemikiran keagamaannya. Cuma ia melihat realitas tentang kejumudan Islam di tangan umatnya sendiri. Hal ini menurutnya disebabkan karena para ulama Islam tidak menafsirkan ajaran Islam dari kacamata ilmu pengetahuan modern, modern science, sebutnya. Dalam salah satu suratnya kepada A. Hassan ia menyabut berdirinya sebuah pesantren yang dibangun oleh ulama itu. Tapi ia menganjurkan agar pesantren mengajarkan pula western science. Sikapnya terhadap kebudayaan Barat itu sejalan dengan pandangan St. Takdir Alisyahbana.

Sukarno dalam pembacaannya terhadap Islam lewat tulisan Natsir dalam bahasa Belanda ia mengetahui gejala “Islamic Glory”, walaupun tidak sempat mengulas pemikiran filsafat dan ilmu pengatahuan yang dilahirkan oleh peradaban Islam Abad Pertengahan itu, sebagaimana dilakukan oleh Takdir. Namun Sukarno tidak suka dengan pengagungan masa lampau itu. Apalagi gagasan untuk kembali kepada sistem peradaban masa lampu itu, misalnya ingin mengembalikan sistem kekhalifahan. Dengan demikian. Ia menolak gagasan pembentukan kembali kekhalifahan Islam, sebagaimana diwacanakan dewasa ini oleh gerakan Hizbut Tahrir.

Namun dalam suratnya yang lain ia menyatakan sangat terkesan oleh sebuah buku mengenai Ibn Saud, pendiri negara Saudi Arabia. Walaupun tidak setuju terhadap sistem pemerintahan feodal negara itu, tapi ia sangat menghargai perjuangan Ibn Saud dalam membangun negara. Ia menolak faham Wahabisme yang keras itu, walaupn mengagumi rasionalitas pahamnya, tetepi ia melihat peranan Ibn Saud yang membawa modernisasi dinegeri padang pasir itu, walaupun Saudi Arabia hanya mengambil manfaat pada peradaban material, tetapi mengabaikan roh peradaban Barat itu sendiri. Tarhadap Islam sendiri, Sukarno lebih memperhatikan aspek roh atau spirit dalam Islam, yaitu roh progress, sebagaimana pernah dikemukakan lebih dahulu oleh pendiri Sarekat Dagang Islam, R.M. Tirtoadisuryo. Hanya saja umat Islam lebih tertarik perhatiannya pada abu Islam dari pada apinya, sehingga Islam tidak menjadi kekuatan perubahan.

Dalam ulasan-ulasannya, Sukarno nampak pemihakannya kepada epistemologi rasional atau akal merdaka dan angin perubahan yang dibawa oleh modernisasi. Di sini ia mencitrakan dirinya sebagai seorang pemikir liberal dan pemikir yang tercerahkan. Namun, cara pandangnya yang empiris-sosiologis menempatkan diri sebagai pemikir yang secara sadar mengacu kepada faham Islam yang modern dan liberal atau Islam yang progresif yang berorientasi pada perubahan sosial ke arah yang lebih maju. Ia sesungguhnya berdiri pada dua kaki, dilihat dari sudut epistemologi, yaitu pemikr liberal si satu pihak, dan pemikir progresif di lain pihak.

Faham liberal sudah dikenal oleh Sukarno sebagaimana tercermin dalam pengamatannya terhadap perkembangan faham Wahabisme ysang keras itu: “Kaum muda itu mau membawa Wahabisme ke dunia fikiran yang modern yang lebih liberal”. Nampak di situ bahwa Sukarno tidak memahami istilah “liberal” secara pejoratif. Bahkan ia secara sadar berhaluan liberal dalam pemikirannya mengenai Islam. Paham Islam liberal ini berbeda dengan pemikiran Islam modernis. Islam modernis nampak pada kebijaksanaan Raja Ibn Saud yang mengambil unsur-unsur material dari peradaban modern. Islam modernis lebih cerderung pada sikap utilitarian. Sedangkan Islam liberal lebih menitik-beratkan pada segi epistemologi kebudayaan modern. Sementara itu Islam-progresif lebih menitik-beratkan pada segi perubahan sosial. Menurut Takdir Alisyahbana, roh Islam itu menonjol pada nilai budaya ilmu pengatahuan dan ekonomi

Walaupun pandangan Sukarno cukup cenderung pada faham Islam-progresif, dengan kritik-kritiknya terhadap kedudukan perempuan dalam mmasyarakat umpamanya, namun ia, berbeda dengan Dr. Sutomo, pendiri Boedi Oetomo (1908) dan Perhimpunan Kebangsaan Indonesia (1933) umpanya, tidak langsung terjun dalam gerakan aksi-aksi sosial untuk perubahan masyarakat. K.H. Ahmad Dahlan umpannya jauh lebih profresif dari Sukarno, karena Sukarno lebih membatasi aktivitasnya dalam dunia wacana, walaupun di dunia politik, Sukarno dikenal sebagai seorang pemimpin pergerakan, tetapi di dunia politik, Sukarnopun juga lebih membatasi aktivitasnya di dunia wacana sebagaimana dicermiknkan dalam buku yang menghimpun karangan-karanganny a dengan judul “Di bawah Bendera Revolusi”. Sukarno sebenarnya lebih merupakan tokoh intelektual daripada pemimpin gerakan aksi sosial, semacam Tan Malaka, walaupun Tan Malaka adalah seorang pemikir besar pula yang perlu dikaji ulang pemikirannya menganai Islam dari pendekatan yang lebih radikal dari Sukarno sendiri.

Persepsi dan pandangan Sukarno mengenai Islam sebenatrnya mulai nampak latar belakang dan arahnya pada tulisan awalnya berjudul “Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme”, terbit pada tahun 1926 di malajah Soloeh Indomnesia Muda. Pengiriman artikel pada majalah itu bukan kebetulan, karena Sukarno memang mencitrakan diri sebagai pemikir generasi muda Indonesia. Dalam tulisan itu ia menyebutkan perihal “zaman muda:” atau zaman baru. Istilah “memudakan pengertian Islam” dalam konteks sekarang dapat diterjemahkan sebagai “pembaharuan” atau “penyegaran” paham-paham keagamaan yang diistilahkan oleh Nurcholish Madjid pada tahun 1970-qan dan Ulil Abshar Abdalla belakangan. Sukarno pada waktu itu juga mengelu-elukan lahimya pemikiran liberal dan progresif di kalangan muda yang diulang oleh Nurcjolish Madjid yang mengelu-elukan lahimya “kelompok muda liberal” di kalangan Islam. Harapan itu sekarang sudah terwujud, dengan lahimya kelompok-kerlompok liberal dan prograsif di kalngan muda Muhammadiyah maupun NU. Tapi berbagai penolakan, baik dari kalangan tua maupun muda Islam terjadi, sebagaimana telah terjadi pada diri Sukarno ketika itu, terutama sebagaimana tercermin dalam tulisan gurunya sendiri A. Hassan dalam tulisannya “Membudakkan Pengertian Islam”, suatu plesetan terhadap judul karangan Sokamo “Memudakan Pengertian Islam’.

Dalam tulisan ulama pendiri PERSIS yang berhaluan puritan itu, ia menuduh Sukarno sebagai ingin mengubah hukum-hukum agama untuk mengikuti kehendak Maha Dewi yang bemama progress, bahkan meninggalkan al Qur’an dan Hadist dan menjadikan yang haram menjadi halal. Padahal Sukarno menyadari ketentuan tentang tiadanya pembahan teks al Qur’an, walaupun harus meneliti Hadist yang meragukan. Yang dimaksudkan oleh Sukarno adalah melakukan interpretasi terhadap persepsi mengenai ajaran Islam, misalnya mengenai tabir, jilbab atau poligami. Ia berpendapat pula bahwa manusia tidak mempu memahami berbagai ayat-ayat tertentu yang hanya bisa dipahami dengan penjelasan ilmiah.

A. Hassan juga membantah pandangan Sukarno yang terkesan ingin menerapkan hukum-hukum buatan manusia atau bangsa dengan mengabaikan hukum-hukum Tuhan dan Nabi-Nya. Baginya negara harus”diatur menurut hukum-hukum Tuhan dan Rasul-Nya yang tidak bisda ditundukkan oleh kehendak bangsa. Bahkan, sebaliknya, kehendak bangsa hams ditundukkan kepada hukum-hukum Tuhan dan Rasul-Nya.

Masalahnya adalah, apa yang dimaksud dengan hukum-hukum Tuhan dan Rasulnya itu? Apa yang disebut hukum-hukum Tuhan dan Rasul-ya itu hanyalah interpretasi saja yang bisa berbeda dari orang ke orang. Sukarno pemah membaca tulisan penulis Turki, Asad Bey yang berpendapat bahwa Demokrasi Parlemen, yang notabene teori Barat itu, sebagai sistem pemerintahan Islam yang ideal. Padahal, walaupun Demokrasi Parlementer adalah teori politik Barat, namun Sukarno tidak menyetujuinya, karena menumtnya ada sistem lain yang lebih baik yang sesuai pula dengan ajaran Islam. Sukarno tidak mengandaikan prinsip kesesuaian dengan ajaran agama. Namun masalahnya adalah bagaimana menentukan suatu sistem pemerintahan itu lebih baik atau lebih buruk dari yang lain, tanpa mengukurnya dengan ilmu pengetahuan. Sukarno juga berpendapat tentang adanya berbagai versi kebenaran tergantung dari argumen ilmiahnya. Tafsir mengenai al Qur’an dan Hadistpun juga bisa berbeda dan tidak mungkin sepenuhnya disatukan, walaupun berbagai aspek bisa diijma’kan dalam konsensus-konsensus besar maupun kecil. Di Saudi Arabia paham pemerintahan Wahabi bisa dibenarkan, tetepi tidak bisa diterima di Mesir, Siria atau Turki.

Dalam kaitan ini Sukarno menyetujui paham, sekularisme Turki, yang tidak mau mengikuti pembentukan negara dan pemerintahan berdasarkan ajaran agama. Hukum kenegararaan dan pemerintahan yang disusun oleh rakyat negara yang bersangkutan tentu saja berdasarkan berbagai faktor dan masyarakat yang bersangkutan. Pandangan Sukarno ini ternyata lebih disetujui oleh masyarakat politik ketika konsep negara berdasarkan syari’at Islam ditolak oleh Konstituante tahun 1950-an. Sebalinya pandangan Sukarno mengenai Pancasila sebagai dasar negara disetujui dalam suatu konsensus besar hingga sekarang ini di Indonesia.

Namun, ketika Nurcholish Madjid mengajukan pandangan agar umat Islam meninggalkan ideologi Negara Islam atau negara berdasarkan syariat Islam, iapun mendapat penolakan keras. Nasib pandangnya sama dengan nasib pandangan Sukarno. Namun kini, hanya beberapa partai Islam saja yang masih memperjuangkan formalisasi hukum Islam sebagai hukum positif di semua bidang. Partai-partai berlatar belakang gerakan keagamaan lainnya sudah menjadi sekuler. Bahkan kinipun Partai Keadilan Sejahtera selalu membantah bahwa partai ini memiliki agenda formalisasi syari’at Islam.

Dalam masalah kebangsaan, Sukarno berpolemik dengan A. Hassan. Dan soal sekularisme ia berdebat dengan sesama murid’A. Hassan yang cemerlang, M. Natsir. Namun perlu dipahami juga bahwa pandangan Natsir inipun sebenarnya merespon pandangan Sukarno, bahwa Islam bukan hanya berurusan dengan masalah iman dan peribadatan, melainkan dengan berbagai masalah masyarakat. Ketika ia mengemukakan pandangan tentang konsep negara dalam Islam, ia sebenarnya berfikir positif dalam kerangka kebangsaan. Hanya saja ia tidak memikirkan bahwa menjadikan hukum agama yang suci itu mengandung masalah, yaitu bersifat sektarianisme yang personal. Padahal hukum negara harus bersifat impersonal yang berlaklu bagi semua warga negara tanpa melihat suku, ras maupun agama. Sedangkan hukum Islam hanya bisa diterima oleh yang meyakini Islam. Sedangkan yang lain tentu tidak akan mau tunduk, sebab jika tunduk mereka akan menjadi warga negara kelas dua sebagaimana terjadi di negara-negara Islam Abad Pertengahan. Bahkan di masa itu, ketika aliran Sunni ortodoks berkuasa, mereka melarang paham yang berbeda yaitu Mu’tazilah. Di tingkat kepartaian, umat Islam juga tidak mampu membentuk satu partai Islam saja yang mewadahi semua partai Islam. Bahkan MUI juga tidak mau mengakui keberadaan Ahmadiyah yang mengaku Islam.

Sukarno sendiri tidak menolak kehadiran partai Islam yang memperjuangkan berlakunya syari’at Islam. Ia bahkan menganjurkan agar partai-partai Islam bisa memperoleh suara yang sebanyak-banyaknya dalam parlemen. Namun intinya, konsep syari’at Islam itu harus melalui proses uji publik, tidak bisa didekritkan begitu saja melalui konstitusi.

Hukum Islam dan hukum-hukum agama apapun memang perlu ditundukkan kepada aspirasi dan kehendak rakyat. Bahkan uji ilmiah juga tidak cukup. Namun yang bisa dilakukan oleh agama adalah memberikan nalar moral (moral reasoning), tetapi harus tetap diimbangi dengan public reasoning, nalar publik yang memang kompleks. Karena itu maka hukum-hukum agamapun harus mempertimbangkan aspirasi dan kehendak publik.

Dalam bantahannya terhadap pandangan Sukarno mengenai Islam, A. Hassan sangat keberatan dengan pandangan Sukarno yang ditafsirkanya sebagai hendak menundukkan wahyu dan sunnah Rasul dengan akal dan ilmu pengetahuan. Pandangan A. Hassan itu memang mendapat dukungan dari gerakan maupun umat Islam pada umumnya. Namun masalah hubungan wahyu dan sunnah Nabi dengan ilmu pengetahuan, serta hubungan agama dan negara itu, ternyata tidak sederhana. Perlu dipahami pengertian mengenai wahyu, sunnah Nabi, interpretasi terhadap wahyu dan sunnah Nabi, agama sebagai suatu lembaga kemasyarakatan dan tentang realitas dalam kaitannya dengan idea atau norma-norma, Sukarno sangat memahami hubungan-hubungan itu dan pengertian masing-masing konsep itu. Tidak pada tempatnya, menuduhnya berfikir dangkal dan semboro. Jika ia mengkritik Islam, maka yang dikritiknya adalah persepsiatau pengertian mengenai  Islam  dan  realitas masyarakat yang jumud,  kolot atau konservatif.

Di masa mudanya, Sukarno mengalami dua perdebatan besar, kedua-duanya dengan pemikir Islam. Pertama dengan A. Hassan. Dalam perdebatan dan pertukar-pikirannya itu cara Sukarno adalah memasukkan Islam ke dalam arus modernitas dan rasionalitas. Kedua adalah perdebatannya dengan M. Natsir. Di situ jasanya adalah mengarusutamakan Islam dalam jalan raya kebangsaan.

Namun dalam dua perbedabatan besar itu telah terjadi kecelakaan sejarah. Sukarno sebenarnya sangat hormat dan menganggap A. Hassan sebagai gurunya dalam urusan agama. Namu tanggapan A. Hassan ternyata jauh dari santun. Seharusnya ia bersikap arif dan bukan bersikap kasar dan antagonistis’ terhadap muridnya itu, tetepi secara sabar membimbingnya dengan arif dan tidak emosional. Akibatnya A. Hassan kehilangan pemuda yang sangat potensial sebagai pemimpin bangsa yang ternyata tidak sedikit jasanya dalam mengembangkan spirit Islam dalam kehidupan kebangsaan Indonesia.

Komunikasi intelektualnya dengan Natsir juga mengalami kecelakaan sejarah. Sukarno sebenarnya sangat respek kepada Natsir, antara lain karena kemampuannya menulis pemikiran ilmiah dalam bahasa Belanda. Ketika Sukarno menjadi Presiden RI, ia juga memilih Natsir menjadsi sekretarisnya yang sangat dipercaya. Namun Natsir tidak mampu menghargai niat baik Sukarno terhadap Islam dan umat Islam. Karena Natsir menjauhinya, maka posisi itu direbut oleh lawan-lawannya, Partai Komunis. Sebagai orang Sumatera Barat, ia tidak bisa menghargai kejawaan Sukarno. Padahal Sukarno tidak sangat Jawanya. Ia adalah juga Barat, sebagaimana St Takdir Alisyahbana yang juga orang Sumatera. Padahal kombinasi Jawa-Minang ini sangat dibutuhkan oleh Indoensia, sebagaimana terbukti pada gereakan Muhammadiyah yang didukung oleh poros Minang-Yogya itu, dua budaya yang kontras, tetapi saling melengkapi itu.

Perhatian dan kecintaan Sukarno terhadap Islam sebenarnya sangat mendalam. Ini dibuktikan dengan perhatiannya, bukan saja terhadap ajaran-ajaran Islam, terutama spiritnya, tetapi juga perhatian dan surveinya terhadap negara-negara Islam di Timur Tengah. Nama Sukarno sendiri sangat harum, misalnya di Pakistan, karena ia ikut mengirimkan angkatan udara Indonesia, membantu Negara Islam itu ketika berperang dengan India. Ia juga mengirimkan pasukan ke Aljazair, ketika rakyat negeri itu berjuang melawan penjajahan Prancis. Sehingga Pemerintah Aljazair mendirikan sebuah patung Sukarno. Ia juga bersahabat dengan Jamal Abdul Nasser dalam menggalang kekuatan Asia-Airika sebagai New Emerging Forces.

Ketika menjadi Presiden, Sukarno mendirikan masjid Baiturrahim di halaman Istana Merdeka. Ia bahkan mendirikan masjid terbesar di Asia Tenggara, masjid Istiqlal. Sukarno juga memulai tradisi peringatan hari-hari besar Islam di Istana Negara dan selalu memberikan ceramah dalam berbagai topik yang dulu pernah dipikirkannya di Endeh, misalnya mengeni makna Isra’-Mi’raj. Pandangannya bahwa shoalat adalah isyra’ mijraj manusia biasa, sangat dikenal. Sukarno mulanya memang menjadi anggota SDI dan SI tapi kemudian keluar dan mendirikan partai politik sendiri. Tapi ia kemudian menjadi anggota Muhammadiyah dan mengeluarkan semboyan yang sangat terkenal hingga sekarang “Sekali Muhammadiyah, tetap Muhammadiyah” . Namun ia juga punya hubungan yang baik dengan ulama-ulama NU. Ia juga menghargai tokoh-tokoh Islam di masa perjuangan kemedekaan, Tjokroaminoto, Haji AgusSalim H., Fachruddin. Ia juga menghargai tokoh muda Islam di zamannya, yaitu A. Dahlan Ranuwihardja, seorang tokoh muda Islam yang mampu menangkap paham kebangsaan Sukarno, walaupun Dahlan juga cukup kritis terhadapnya. Sikap Dahlan itu bertolak belakang dengan sikap Natsir, mungkin karena Dahlan adalah seorang Jawa pesisiran yang lugas dan keponakan Moh. Roem.

Roem sendiri juga punya pandangan politik yang berbeda dengan Sukarno dan lebih cenderung mengikuti Natsir, walaupun ia adalah orang Jawa. Namun ketika nama Sukarno dicemari karena konon pernah melakukan tindakan rekalitulasi terhadap Belanda, karena ancaman, dalam tulisan Rosihan Anwar, adalah Roem yang membelanya, karena ia tidak rela melihat tokoh semacam Sukarno dituduh melakukan tindakan yang tidak patriotis. Roem, dengan tulisannya yang sangat argumentatif, ternyata mampu membersihkan nama Sukarno dari kecemaran sejarah.

Sekarang ini, generasi muda Islam, makin mampu menghargai pemikirannya, bahkan mengikutinya dalam jalan libereal dan progresif. Sukarno adalah seorang yang liberal, pluralis dan sekuler, tetapi tetap tegak berdiri dengan bangga sebagai seorang Muslim yang beriman, dengan pengertian tauhid yang tinggi.

Sukarno mungkin dikenang baik dalam kaitan dengan tindakannya yang membubarkan partai Islam modern terbesar, Masyumi. Di sini Sukarno ternyata tidak sejalan dengan modernisme Islam, tidak berselara dengan pandangan-pandangan apologetis Islam yang mengutamakan simbol daripada substansi. Malah ia terekesan lebih akrab dengan kelompok tradisionalis yang di masa muda dengan pedas dikritiknya. Sikapnya yang nampak kurang konsisten itu mungkin disebabkan karena NU pernah mendukung gagasan NASAKOM-nya, walaupun dengan dukungan mendua, karena NU-lah yang dengan sengit memerangi PKI. Mungkin juga NU dilihatnya lebih dekat dengan gerakan kebangsaan daripada Masyumi yang modernis yang lebih dekat dengan gerakan sosialis Syahrir yang menjadi lawan politiknya.

Satu dan lain hal, semua itu menjelaskan bahwa posisi Sukarno bukanlah pada modernisme, walaupun ia sangat menghargai Jamaluddin Al Afghani dan Muhammad Abduh. Posisi yang lebih tepat bagi Sukarno adalah di wilayah Neo-Modernisme, karena ia memang melakukan kritik, baik terhadap Islam ortodoks maupun Westemisme. Jika ia masih hidup mungkin ia akan sangat menyambut lahirnya gerakan Neo-Modernisme yang dipelopori oleh Nurcholish maupun tradisionalisme radikal yang dilepori oleh Abdurrahman Wahid. Sangat menarik untuk mempertimbahkan Sukarno sebagai model cendekiawan Muslim kontemporer garda depan, yang sederatan dengan Al-Jabiri dari Maroko yang nasionalis atapun Hassan Hanafi yang progresif-kiri.

0 Responses to “SUKARNO, PELOPOR PEMIKIRAN ISLAM LIBERAL”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




AYO BERBELANJA DI TOKO ONLINE KAMI:

Statistik Blog

  • 234,699 hit

aku suka jalan-jalan

hidup adalah jalan-jalan. jalan-jalan adalah hidup

%d bloggers like this: