Palestina: Tanah Yang Dijanjikan (bagian 2)

KESALAH PAHAMAN TENTANG ISLAM:
Al-Qur’an Dan Al-Kitab (Bible) Mengenai Tanah Yang Dijanjikan
(Bagian 2)

palestine-map Dalam terbitan Ahmadiyya Gazette yang lalu, kita membahas beberapa pernyataan Dr. Michael Sloane sehubungan dengan pendakwaan beliau bahwa menurut Alkitab (Bible), tanah Palestina adalah milik bangsa Yahudi. Kita telah dapat menunjukkan bahwa meskipun kutipan-kutipan beliau dari ayat-ayat Alkitab yang memberikan janji kepada Yakub, alias Israel dan keturunannya atas Tanah Yang Dijanjikan, sejarah bangsa Israel telah membuktikan bahwa kecuali beberapa masa yang tak bermakna, tanah yang mereka dakwakan itu telah berada dalam penguasaan ras-ras non Ibrani Asyur (Assyria), Babilonia, Persia, Romawi, Arab dan Kristen. Satu ayat Alkitab lainnya yakni, Kejadian 17:8, yang berdasarkan itu pendeta Kristen itu beralasan bahwa menurut Alkitab, Israel merupakan milik Yahudi dengan cara apa pun tidak menguatkan anggapan beliau. Ayat Alkitab ini memberikan janji kepada Abraham (Ibrahima.s.) sebagai berikut:

Kepadamu dan kepada keturunanmu akan Kuberikan negeri ini yang kau
diami sebagai orang asing, yakni seluruh tanah Kanaan akan Kuberikan
menjadi milikmu untuk selama-lamanya; dan Aku akan menjadi Allah
mereka.
Dr. Sloane tampaknya tak menyadari kenyataan bahwa kata keturunan
dalam konteks ini bermakna orang-orang yang meneruskan keturunan dari
seorang leluhur dan dengan demikian ayat ini tidak khusus untuk suatu
keturunan tertentu, janji ini diberikan kepada Sang Bapak (Patriarch)
yang berlaku untuk Ismail(a.s.) dan keturunannya sebagaimana untuk
Ishak(a.s.) dan keturunannya – Ismail merupakan keturunan
Ibrahim(a.s.) dan juga diakui oleh Alkitab sendiri (Kejadian 21:12).
Maka dengan patokan apa Dr. Sloane mengemukakan usul bahwa janji dalam
Kejadian 17:8 berlaku pada putra Ibrahim, Ishak dan Yakub, cucunya
saja?
Jika beliau ingin beralasan, seperti kebanyakan orang Kristen
lakukan, sekalipun tanpa suatu pengesahan, bahwa Ismail bukan
merupakan putra dari istri pertama Abraham (Ibrahim) dan dengan
demikian tidak digelari menjadi pewaris, maka beliau seharusnya juga
mengetahui bahwa menurut aturan-aturan Alkitab yang mapan, kelahiran
seorang anak melalui tulang sulbi istri kedua dari bapaknya tidak
membahayakan haknya yang melekat sebagai penerus yang sah. Yakub,
bapak yang disucikan dari Bani Israil, misalnya, mencabut Ruben anak
pertamanya, putra dari Lea istri pertama beliau dari hak kesulungannya
dan memberikan kepada Yusuf, putra dari Rahel istri kedua beliau
dengan kehendaknya dan bahkan memberikan hak kelahiran Ruben kepada
anak-anak Yusuf (I Tawarikh 5:1-2). Akankah Dr. Sloane menyatakan
bahwa Yakub telah bertindak secara tak layak dalam kejadian ini?

Jika, diberikan alasan, walaupun sekali lagi tidak beralasan, bahwa
ibu Ismail adalah bukan istri dari Ibrahim dan oleh sebab itu, beliau
tidak layak untuk dianggap pewaris Abraham (Ibrahim) yang sah maka Dr.
Sloane akan sekali lagi tidak benar dalam pernyataan beliau sebab
Alkitab (Bible) menerima kedudukan Hagar (Hajar) ibu Ismail sebagai
istri Ibrahim (Kejadian 16:3).

Meskipun demikian, bahkan kalaulah tuduhan palsu orang Kristen itu
bahwa Hajar adalah seorang budak (hamba) Ibrahim dan bukan istri
beliau itu diterima demi alasan akademis, maka dalam penolakan
terhadap hak Ismail putra beliau untuk dianggap sebagai pewaris yang
sah akan merupakan penolakan terhadap seluruh anak keturunan Yakub
kecuali putra-putra yang lahir dari Lea istri pertama beliau yang
berhak mendakwakan diri sebagai keturunan Ibrahim yang sah. Itu
adalah, jika anak yang lahir dalam pernikahan yang sah dari istri
kedua seperti kelahiran Ismail (Kejadian 16:3-6) dianggap sebagai anak
dari gundik dan oleh sebab itu, berada di luar batasan keturunan yang
sah, maka bagaimana putra-putra Yakub yang lahir dari Rahel istri
kedua beliau tidak dapat dianggap lahir dari gundik dan berada di luar
batasan keturunan yang sah dari Ibrahim? Namun orang membuktikan bahwa
Yakub pada akhirnya memberikan hak kesulungan putra Lea istri pertama
beliau kepada putra-putra dari istri kedua beliau, putra Rahel, yaitu,
hak kesulungan Ruben kepada putra-putra Yusuf(a.s.) (I Tawarikh
5:1-2). Bagaimana Dr. Sloane menghakimi tindakan bapak dari Bani
Israil yang suci ini?

Masih lebih buruk lagi, padahal dalam contoh di atas, putra Yakub
yang lahir dari Rahel istri kedua beliau adalah masih dalam pernikahan
yang sah, sebagaimana Ismail lahir dalam pernikahan yang sah (Kejadian
15:3-6), bagaimana anak yang tidak sah, lahir di luar nikah dan yang
merupakan perzinaan, bahkan masih lebih buruk lagi, hubungan sedarah
(incest), dapat menuntut hak itu. Apakah Dr. Sloane tidak menyadari
bahwa Peres, cucu Yakub dan putra Yehuda yang dianggap sebagai
cikal-bakal ras Yahudi merupakan hasil perzinaan dari Yehuda dengan
Tamar menantunya (Kejadian 38:14-29). Apakah beliau tidak mengetahui
bahwa menurut kesaksian Alkitab, Tamar memerankan jadi perempuan
sundal dan ketika Yehuda diberi-tahukan apa yang menantu jandanya itu
lakukan dan dia mengandung anak hasil perzinaan, dia menuntut agar
wanita itu dibawa kepadanya dan dibakar sampai mati (Kejadian 38:24).
Tapi ketika dia mendapati bahwa orang yang berlaku tidak pantas itu
adalah dirinya sendiri, dia mengubur permasalahan itu dan bahkan
menyatakan wanita itu tak bersalah (Kejadian 38:26) betapapun jahatnya
dosa yang dilakukan oleh pasangan sedarah (incest). Bagaimana Dr.
Sloane menyatukan kejadian Alkitab ini dengan perintah Alkitab:
Seorang anak haram janganlah masuk jemaah Tuhan, bahkan keturunannya
yang kesepuluh pun tidak boleh masuk jemaah Tuhan (Ulangan 23:2) dan
sesudah itu pada janji Tuhan dalam Al-Qur’an (Surah 21:106) dan
Alkitab (Mazmur pasal 37) yang ditekankan pada hamba-hamba-Nya yang
soleh saja? Dan, dalam sorotan dalil-dalil ini, bagaimana Dr. Sloane
menyatukan pendapat beliau bahwa anak keturunan Yakub ini yang sesuai
dengan aturan-aturan Ilahi dilarang untuk memasuki jemaah orang-orang
soleh hingga generasi yang kesepuluh menuntut hak atas janji Tuhan
bagi orang-orang yang soleh?

Apa yang orang harus tambahkan juga pada janji Tuhan yang khusus ini
bahwa Dia akan memberikan tanah Kanaan kepada keturunan Ibrahim
(Abraham) ‘untuk kepemilikan selama-lamanya’ (Kejadian 17:8) adalah
bahwa janji ini merupakan hal yang bersyarat bahwa keturunan Ibrahim
tetap menjaga bagian dari perjanjian itu yang adalah disunat kulit
khatan mereka (Kejadian 17:10-11). Sesuai dengan syarat perjanjian
ini, orang yang tak bersunat yakni laki-laki yang tidak dikerat kulit
khatannya maka orang itu harus dilenyapkan dari antara orang-orang
sebangsanya karena ia telah mengingkari perjanjian Tuhan (Kejadian
17:14). Tapi Paulus mengemukakan kepada gereja untuk membebaskan sunat
(Kisah Para Rasul pasal 15) dan dengan demikian mengasingkan seluruh
jemaat Kristen dari orang-orang Tuhan. Bagaimana bangsa-bangsa asing
akan mendakwakan hak atas janji Tuhan lalu menyatukan diri mereka
dengan Tuhan dan menuntut hak atas janji tanah Kanaan bagi kepemilikan
selama-lamanya dengan mempertimbangkan anjuran Paulus, mereka telah
melanggar perjanjian Tuhan. Akankah mereka mengharapkan Tuhan tetap
memenuhi bagian-Nya yang lain kepada mereka sedangkan mereka melanggar
setiap perjanjian dengan Dia? Atau akankah Dr. Sloane bahkan
mengemukakan bahwa janji Tuhan ini diberikan kepada kaum Yahudi
pengikut Ibrahim(a.s.) saja dan bukan kaum Kristen? Jika demikian maka
bagaimana beliau menerangkan kepercayaan Kristen bahwa akhir
perwujudan dari semua karunia ini atas keturunan Ibrahim (Abraham)
adalah dalam diri Kristus yang kepadanya dikatakan: supaya dalam nama
Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas
bumi dan yang ada di bawah bumi. (Filipi 2:10) dan dogma Kristen bahwa
singgasana kerajaan-Nya akan tetap di tangan Kristus dan Dia akan
menjadikan musuh-musuh tumpuan kaki Kristus (Ibrani 1:8 dan 13) yang
secara kebetulan juga akan termasuk kaum Yahudi karena penolakan
mereka terhadap Al-Masih (Mesias) dan menaikkan beliau ke salib.
Bagaimana Dr. Sloane menerangkan dalil kitab suci ini bahwa kaum
Kristen pengikut Kristus telah diputuskan untuk memerintah sebagai
raja di bumi (Wahyu 5:10).

Dr. Sloane kemudian mengutip Kejadian 17:21 untuk menyatakan bahwa
Tuhan menetapkan perjanjian-Nya dengan Ishak dan bukan Ismail. Pada
contoh pertama, beliau seharusnya mengetahui bahwa sebuah perjanjian
telah dibuat dengan Abraham sehubungan dengan Ismail putra beliau
untuk menjadikannya bangsa yang besar (Kejadian 17:20) bahkan sebelum
sebuah perjanjian sehubungan dengan Ishak diberikan (Kejadian 17:21)
dan ini diulangi sesudah perjanjian yang dibuat sehubungan dengan
Ishak (Kejadian 21:13). Tak ada dalil apa pun yang secara mutlak
dianggap bahwa perjanjian Tuhan dalam Kejadian 17:21 membatalkan
perjanjian-Nya dalam Kejadian 17:20 sebab janji itu diulangi lagi
dalam Kejadian 21:13. Oleh sebab itu, janji-janji kepada Abraham ini
adalah dalam hubungannya dengan kedua putra beliau dan keturunan
mereka, janji-janji istimewa ini tergenapi sebagai takdir Tuhan dan
adalah keliru, bahkan mengada-ada jika Dr. Sloane dan pendeta Kristen
itu tidak mengenal takdir Tuhan.

Nyatanya, ketika Tuhan memberikan janji-janji tertentu kepada Hagar
(Hajar) itu juga berhubungan dengan keturunan Ismail (Kejadian 16:10
dan 21:18), tampaknya tak ada janji semacam itu yang dibuat secara
langsung untuk Sarah sehubungan dengan Ishak putra beliau dan
keturunannya. Meskipun demikian, janji diberikan kepada Abraham
sehubungan dengan perjanjian yang kekal dengan Ishak putra Sarah yang
telah ditunjukkan pada pokok persoalan syarat yang, paling tidak para
pengikut keturunan Ishak dari bangsa-bangsa asing telah putuskan
selama lebih dari 1943 tahun yang lalu sejak Paulus dengan
sewenang-wenang membebaskan mereka dari perlunya memenuhi bagian dari
perjanjian mereka itu. Atas dasar apa para penerima janji Tuhan ini
kini mengharapkan Dia untuk meneruskan perjanjian-Nya paling tidak
dengan sebagian dari keturunan Ishak lainnya – orang-orang asing
pengikut keturunan Abraham? Atau, seperti ditanyakan sebelumnya,
akankah Dr. Sloane peduli untuk menyarankan bahwa janji Tuhan itu
tidak relefan dengan bagian lain dari keturunan Ishak ini, kaum
Kristen.

Dr. Sloane juga telah mengutip Kejadian 25:5-6 untuk menguatkan
pendakwaannya bahwa menurut Alkitab (Bible), Israel milik bangsa
Yahudi. Beliau telah memberikan kesan bahwa ayat ini menguatkan
keunggulan Sarah dan Ishak putra beliau atas Hajar dan Ismail putra
beliau. Baris-baris Alkitab yang pendeta Kristen itu kutip, terbaca:
Abraham memberikan segala harta miliknya kepada Ishak, tetapi kepada
anak-anaknya yang diperolehnya dari gundik-gundiknya ia memberikan
pemberian; kemudian ia menyuruh mereka – masih pada waktu ia hidup –
meninggalkan Ishak, anaknya, dan pergi ke sebelah timur, ke Tanah
Timur.

Dalam contoh pertama, dalam ayat-ayat Kejadian ini, mutlak tak ada
rujukan apa pun kepada Ismail putra Abraham dan orang tidak dapat
memahami mengapa Dr. Sloane harus mengutip ayat ini untuk menguatkan
yang dianggap tuntutan keturunan Ishak serta keunggulan beliau dan ibu
beliau atas Ismail dan ibu beliau. Anak-anak Abraham yang dirujuk di
sini adalah dari Ketura dan gundik-gundik yang melahirkan bagi beliau
(Kejadian 25:1-4). Kedua, Ismail bukan putra dari gundik Abraham tapi
dari istri beliau (Kejadian 16:3) sebagaimana Yusuf adalah putra dari
Rahel istri Yakub.

Bagaimanapun, jika Dr. Sloane ingin menguatkan keunggulan terhadap
satu sama lain, maka biarlah beliau melihat pada perlakuan Sarah yang
tidak menyenangkan terhadap Hagar (Hajar) dan bagaimana dengan segera
Tuhan menghibur ibu Ismail yang salihah itu: Lalu Sarai menindas
Hagar, sehingga ia lari meninggalkannya. Lalu malaikat Tuhan
menjumpainya dekat suatu mata air di padang gurun, yakni dekat mata
air di jalan ke Syur. Katanya: “Hagar, hamba Sarai, dari manakah
datangmu dan ke manakah pergimu?” Jawabnya: “Aku lari meninggalkan
Sarai, nyonyaku.” Lalu kata malaikat Tuhan itu kepadanya: “Kembalilah
kepada nyonyamu, biarkanlah engkau ditindas di bawah kekuasaanya.”
Lagi kata Malaikat Tuhan itu kepadanya: “Aku akan membuat sangat
banyak keturunanmu, sehingga tidak dapat dihitung karena banyaknya.”
(Kejadian 16:6-9)

Perhatikanlah perbedaan antara kedua wanita itu, satu adalah Sarah
yang tak punya kesabaran untuk berdamai dengan takdir Tuhan melainkan
memperlakukan orang yang Tuhan berkati dengan seorang anak, secara
keras, sedangkan yang lain, Hagar menunjukkan kesabaran dan ketabahan
yang sedemikian rupa sehingga walaupun diperlakukan dengan keras,
beliau menerima takdir Tuhan dan kembali untuk dianiaya lebih lanjut
ketika diperintahkan untuk berbuat demikian oleh Tuhan melalui
malaikat utusan-Nya.

Pertimbangkanlah juga fitrat Sarai dan Hagar dari segi lainnya. Sarah
(Sarai), orang yang merasa tidak senang dalam kesengsaraan dan
kemakmuran – dalam kesengsaraan beliau memperlakukan Hagar, istri yang
lain dari suaminya dan seorang ibu yang mengandung dengan aniaya dan
memaksa beliau lari dari perlindungan rumah suaminya (Kejadian 16:6-7)
sedangkan dalam kemakmuran beliau menuntut bahwa ibu dan anak bayinya
harus diusir dari rumah suami dan bapaknya, sebab beliau takut ada
ahli waris lain bersama anaknya (Kejadian 21:10). Pada waktu yang
sama, Hagar menunjukkan akhlak yang demikian tinggi yang sesuai untuk
seorang istri nabi yang agung itu.

Bayangkanlah seorang bapak, keadaan emosi Abraham (Ibrahim) ketika
menanggapi tuntutan Sara istri beliau, beliau terpaksa mengirimkan ke
pengasingan, ke suatu padang pasir terpencil, darah-daging beliau
sendiri hanya dengan bekal sekirbat air (Kejadian 21:12-14). Sara
tidak peduli dengan tekanan batin suami beliau tapi tetap keras hati
terhadap Hagar, seorang wanita yang beriman tinggi yang Tuhan
mendengar permohonan beliau dan sejak itu serta seterusnya, Alkitab
menyatakan: ‘Tuhan bersama dengan anak laki-laki itu’ – yaitu Ismail,
putra Ibrahim(a.s.). (Kejadian 21:20).

Sampaikanlah kisah ini kepada orang yang mempunyai setitik rasa
kamanusiaan dan cinta kasih serta siapa dilihat dengan hormat dan
simpati, Sara dan Ishak putranya atau Hagar dan Ismail putranya.

Sumber: Ahmadiyya Gazette, September 1994, hal. 11-13.
Penulis :Naeem Usman Memon
Alih bahasa: MA

25 Responses to “Palestina: Tanah Yang Dijanjikan (bagian 2)”


  1. 1 Mabrur September 2, 2009 at 1:40 pm

    Wah ini baru kejutan. Jarang sekali saya temui artikel semacam ini. Jadi jelas duduk persoalannya. Hanya hamba-hamba yang shaleh yang akan mewarisi tanah yang dijanjikan itu. Memang kayaknya yang berkuasa di Yerusalem dan sekitarnya adalah orang-orang yang kuat kekuasaannya, bukan orang-oang yang soleh. Apakah sekarang keshalehan juga hilang dari umat Islam bilkhusus yang di Timur Tengah sana? Mari sama-sama kita renungkan dan koreksi diri kita masing-masing. OK Good Bye.

  2. 2 tehusy November 11, 2010 at 7:21 am

    maksud kamu apa aku ga ngerti keterangan km….
    palestina adalah bukan milik bangsa yahudi atau israel yang bangsat….
    palestina tanah yang suci hanya milik orang-orang yang sholeh….

  3. 3 ADM BURHAN December 5, 2011 at 6:51 am

    Maka kaum muslimin wajib menjadi orang-orang soleh. Kalau sekarang ini umat Islam di Timur Tengah sana, maka apakah itu bukan menandakan bahwa kesolehan sudah berkurang dalam kalangan umat Islam di sana?

  4. 4 dewi November 11, 2012 at 7:14 pm

    Artikel apaan ni ya,bahasanya susah di mengerti gk jelas lg apa tujuannya…setau saya bumi palestina hanya kepunyaan Allah swt,dan akan tetap berperang sampai akhir zaman.baca buku datdjal muncul di khurasan.

  5. 5 Bandah December 6, 2013 at 8:18 am

    Bagus, menambah pengetahuan buat saya. Terima kasih atas ilmu dan informasinya. Jadi mengerti persoalan sebenarnya. Dan juga semoga dapat menyadarkan semua pihak.

  6. 6 Sang Kekasih January 15, 2014 at 10:47 am

    Jadi teringat lagu qasidah dari Nasida Ria ini:

    Damailah hai umat Yahudi ingatlah..petunjuk Allah dalam kitab suci Taurat
    Damailah hai umat Nasrani ingatlah..petunjuk Allah dalam kitab suci Injil
    Damailah hai umat Islam ingatlah..petunjuk Allah dalam kitab Qur’an….

    Kembalilah..pada Yang Maha Esa..
    Dunia,jangan adu domba Palestina…
    Bantulah perdamaian Palestina…
    Damailah…….3x

  7. 7 Pangeran Biasa October 15, 2014 at 7:19 am

    Sudah dibaca semuanya, baik bagian pertama maupun bagian kedua. Banyak hal baru yang belum pernah didengar sebelum ini. Suatu pencerahan-pencerahan yang baru timbul dengan membacanya, kendatipun saya harus membaca berulang kali secara hati-hati dan dengan teliti agar saya dapat benar-benar paham apa yang dimaksudkan dalam uraian tersebut. Salam.

  8. 8 Shery October 15, 2014 at 8:00 am

    Wah, bagus juga nih…. pake perbandingan kitab-kitab suci berbagai agama.

  9. 9 Mujiyono October 22, 2014 at 5:55 am

    Sip…. menambah pengetahuan buat pribadi saya….

  10. 10 Supri October 23, 2014 at 12:30 am

    Mereka semua adalah keturunan dari leluhur yang sama.

  11. 11 Sugeng Amzori December 7, 2014 at 9:39 am

    Betul, mereka adalah keturunan leluhur yang sama…..

  12. 12 Cak Karwono December 9, 2014 at 8:20 am

    Mantaf bingits broooo….

  13. 13 Sang Perantau March 29, 2015 at 9:49 am

    Sudah selesai dibaca dari Kuala Lumpur, Malaysia.

  14. 15 Wijaya Tg Uban April 3, 2015 at 10:35 am

    Menarik sekali uraiannya. Mau ngeprint ya……

    aden:
    silahkan

  15. 16 Iskandar April 28, 2015 at 3:49 am

    Sudah selesai dibaca, bagus sekali isinya.

  16. 17 Astuti June 12, 2015 at 8:17 am

    Buat apa sih ngurusin soal Palestina segala.? Sedangkan urusan-urusan di negara kita sendiri banyak yang harus dibereskan. Gak usah deh ngurusin soal orang lain!

  17. 18 Muslim June 29, 2015 at 5:57 am

    Sudah baca juga nih. Buat ibu Astuti, tidak ada salahnya jika kita tahu soal Palestina. Pertama, merupakan kabar gaib atau nubuwatan dalam kitab-kitab suci yang membahas soal Palestina, dan tentu saja akan menambah keimanan jika hal itu terpenuhi. Kedua, dalam globalisasi ini setiap belahan dunia tidak bisa terpisah satu sama lain maka aman atau tidaknya Timur Tengah berdampak juga di negara kita ini. Ketiga, tentu kita harus peduli dengan sesama kita dan tidak ingin sesama manusia menderita. Ya, saya setuju bahwa kita harus peduli dan berusaha mengatasi masala-masalah yang terjadi di negara kita sendiri. Peduli permasalahan Palestina bukan berarti bahwa kita lalu tidak peduli dengan masalah dalam negara kita sendiri.

  18. 19 Faisal; August 16, 2015 at 1:10 pm

    Sedikit ada kejelasan soal permasalahan Palestina.

  19. 20 Rozyta August 18, 2015 at 7:15 am

    Tidak rugi sama sekali membaca artikel ini.

  20. 21 Siti Zaharah August 29, 2015 at 4:10 am

    Soal Palestina memang rumit, tapi lebih sedih lagi bahwa sesama orang Palestina sendiri terjadi perpecahan dan peperangan di kalangan mereka. Sperti yang baru-baru ini terjadi di Libanon.

  21. 22 Juli August 29, 2015 at 6:29 am

    Pencerahan-pencerahan baru dan segi pandang yang jarang dibahas.

  22. 23 Zainal September 10, 2015 at 12:04 pm

    Ya hanya bisa mendo’akan semoga bangsa Palestina mendapatkan pertolongan Allah SWT. Semoga perdamaian dapat terwujud di sana.

  23. 24 Sudarto October 21, 2015 at 5:06 am

    Sangat prihatin dengan keadaan di Palestina

  24. 25 Risda Wati December 10, 2015 at 4:33 am

    Bagus sekali uraiannya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




AYO BERBELANJA DI TOKO ONLINE KAMI:

Statistik Blog

  • 219,913 hit

aku suka jalan-jalan

hidup adalah jalan-jalan. jalan-jalan adalah hidup

%d bloggers like this: