BENCANA ALAM ATAU HUKUMAN ILAHI? –bag 2–

Khalifatul Masih IV rhJenis-Jenis Azab (Hukuman) Ilahi

Telah diterangkan pada Bagian 1 yang diterbitkan dalam “Ahmadiyya Gazette” yang lalu bahwa menurut Al-Qur-an Suci, hukum-hukum alam dapat diatur, di bawah Kehendak Ilahi, untuk memberikan ganjaran atau hukuman kepada manusia. Sehubungan dengan yang terakhir ini, kita dapati bahwa Kitab Suci Al-Qur-an telah menyebutkan jenis-jenis hukuman Ilahi berikut ini.

  1. 1. Hujan

Turunnya hujan terus menerus menyebabkan naiknya permukaan air sedemikian banyak sehingga para penghuninya menjadi terendam air:

Sebelum mereka, telah mendustakan [pula] kaum Nuh maka mereka mendustakan hamba Kami (Nuh) dan mengatakan: “Dia seorang gila dan dia sudah pernah diberi ancaman”. Maka dia mengadu kepada Tuhannya: “Bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu tolonglah [aku]”. Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan [menurunkan] air yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air itu untuk satu urusan yang sungguh telah ditetapkan. (QS 54:10-13).

  1. 2. Amukan Angin

Hembusan angin buruk yang mengamuk, sedemikian banyak, hingga tempat-tempat hunian menjadi seperti kota-kota hantu dan mayat-mayat bergelimpangan seperti pohon-pohon yang tercabut akarnya:

Kaum ‘Aad pun telah mendustakan. Maka alangkah dahsyatnya azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. Sesungguhnya Kami telah menghembuskan angin yang sangat kencang pada hari naas yang terus menerus, yang menggelimpangkan manusia seakan-akan mereka pokok korma yang tumbang. (QS 54:19-21)

  1. 3. Letusan

Ledakan menggelegar membawa batu-batu terlempar ke atas. Misalnya, keadaan pemukiman yang tertutup (tertimbun) karena letusan gunung api yang tiba-tiba disebutkan sebagai azab dalam ayat Al-Qur-an Suci berikut ini:

Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. Maka Kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras. (QS 15:74-75)

  1. 4. Badai Pasir

Badai terus menerus yang mengumpulkan pasir dan kandungan tanah atas satu pemukiman hingga seluruh bekas-bekas yang tersisa:

Yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali [bekas-bekas] tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada kaum yang berdosa. (46:26)

  1. 5. Banjir

Banjir-banjir yang parah meningkat pada suatu tempat di mana lahan yang kaya dan subur berubah menjadi tanah yang tandus dan tak bersahabat di tempat itu tak ada lagi apa pun yang tumbuh kecuali cemara dan buah-buah yang pahit dan pohon sidr:

Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi [pohon-pohon] yang berbuah pahit, pohon atsl dan sedikit dari pohon sidr. (QS 34:17)

  1. 6. Gempa Bumi

Gangguan geologis dalam susunan bumi, yang mengubur para penghuninya di bawah reruntuhannya:

Lalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu, maka Tuhan mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah menyama-ratakan mereka [dengan tanah]. (91:15)

  1. 7. Kekeringan

Kekeringan yang hebat, yang mengeringkan air dalam tanah hingga batas yang menurunkan permukaannya sedemikian rendah hingga manusia tak dapat memperolehnya:

Katakanlah, “Katakanlah kepadaku, jika semua air kalian tidak muncul [dari dalam bumi], siapa kemudian yang akan mengalirkan air [bersih] bagi kalian?” (QS

  1. 8. Kelaparan

Kelaparan, yang mencekam bangsa-bangsa dengan ketakutan yang sangat dan kegelisahan mendalam:

Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan [dengan] sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tentram, rezkinya datang kepadanya berlimpah ruah dari segenap tempat, tapi [penduduk]nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat. (QS 16:113)

  1. 9. Peperangan

Kehancuran bangsa-bangsa melalui peperangan, yang sesudah itu membawa mereka pada serangkaian kesukaran dan penderitaan yang tak berakhir. Di sini, perkataan dharra’ mungkin mengarah pada segala macam kerugian, kemalangan dan kesengsaraan yang timbul karena perang-perang besar misalnya hilangnya kemerdekaan, kehancuran tatanan ekonomi, huru-hara dan kekacauan masyarakat.

Kami tidaklah mengutus seorang nabi pun kepada sesuatu negeri, [lalu penduduknya mendustakan nabi itu], melainkan Kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan supaya mereka tunduk dengan merendahkan diri. (QS 7:95)

10. Burung-Burung

Kawanan burung-burung yang turun kepada satu kaum sebagai hukuman Ilahi:

Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang memakan bangkai-bangkai mereka sambil memukul-mukulkannya pada tanah liat kering, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan ulat. (QS 105:4-6)

11. Bobolnya Tanggul

Bobolnya tanggul dan keringnya persediaan air bagi para penghuninya:

Karena itu Tuhanmu menimpakan kepada mereka cemeti azab, sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi. (QS 89:14-15)

Di sini, perkataan sawtho juga termasuk tempat di mana air telah ditampung (Aqrabul Mawarid). Jika arti danau atau kolam yang diambil, itu akan bermakna bahwa Dia menjadikan seluruh isinya melanda mereka.

12. Wabah

Perubahan iklim, karena kekeringan atau kelembaban, membawa pada bentuk kesesakan hidup yang akibatnya menjadi sumber penyakit, menyebabkan sakit dan wabah – belalang, katak, kutu, kalajengking, nyamuk, serangga kecil, bakteri dan kuman yang menyebabkan banjir penyakit seperti kolera atau pengaruh pada peredaran darah lainnya.

Maka Kami kirimkan kepada mereka badai dan belalang, dan kutu dan katak, dan darah sebagai tanda-tanda yang nyata. (QS 7:134)

13. Dikuasai

Dikuasai oleh bangsa lain membawa pada berbagai bentuk cobaan dan hukuman (azab), bukan karena tindakan [yang berhubungan dengan] keimanan tapi karena berbagai tindakan oleh kaum yang berkuasa, misalnya nubuwatan dalam Kitab Suci Al-Qur-an mengenai bangsa Yahudi bahwa hingga hari kiamat, bangsa-bangsa lain yang menaklukkan mereka akan menjadikan mereka untuk berbagai penderitaan:

[Ingatlah waktu]  ketika Tuhan mengumumkan bahwa sesungguhnya Dia akan mengirim kepada mereka (orang-orang Yahudi) sampai hari kiamat orang-orang yang akan menimpakan kepada mereka azab yang seburuk-buruk. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksa-Nya, dan sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS 7:168)

Yang paling aneh adalah bahwa berbagai hukuman Ilahi yang tersebut di atas semuanya mengisahkan tiga dari empat unsur alam namun tak menyebutkan unsur keempat. Semua azab Ilahi yang sebelumnya berhubungan dengan bumi (tanah), atau air atau udara atau makhluk-makhluk yang hidup di air atau udara atau di bumi, tapi tak ada disebutkan hukuman dari unsur keempat, yakni api. Kita mengetahui bahwa orang-orang suci dan soleh telah menjadi sasaran penyiksaan dengan api sebagaimana jelas dari riwayat Nabi Ibrahim(a.s.) dan yang menjadi sasaran dalam Surah Al-Buruj (85), tapi sejauh hubungannya dengan orang yang dihukum dengan api, kita tak menemukan hal tersebut terjadi di masa lalu. Sejauh hubungannya dengan nubuwatan Al-Qur-an Suci, itu tampak dengan jelas bahwa ia telah ditakdirkan bahwa orang-orang di masa mendatang akan dijadikan sasaran hukuman dengan api disebabkan penolakan mereka yang terus menerus terhadap Nabi Suci(s.a.w.) pembawa agama Islam. Maka ada petunjuk atau rujukan singkat untuk hal ini dalam Kitab Suci Al-Qur-an:

[Akan dikatakan kepada mereka]: “Pergilah kamu mendapatkan azab yang dahulu kamu mendustakannya. Pergilah kamu mendapatkan naungan yang mempunyai cabang tiga, yang tidak melindungi dan tidak pula menolak nyala api”. Sesungguhnya ia melontarkan bunga api sebesar dan setinggi istana. Seolah-olah ia iringan unta yang kuning. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. (QS 77:29-35)

Gambaran yang dilukiskan oleh ayat-ayat ini mengingatkan pada peperangan atau kebakaran besar di zaman sekarang. Inilah masa itu ketika bayangan perang yang menggentarkan menampakkan penggunaan pasukan-pasukan darat, udara dan laut dan masing-masing dari mereka menghujani dengan api. Ayat di atas diterjemahkan dengan “ia melontarkan bunga api sebesar dan setinggi istana”, merupakan gambaran yang paling tepat dari misil-misil balistik (peluru kendali) yang digunakan sebagai senjata-senjata di masa kini.

Begitu pula, ketakutan pada api yang menggantung sebagai ancaman dalam ayat berikut tampak berhubungan dengan masa kini:

Celakalah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya, dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthomah. Dan tahukah engkau apa Huthomah itu? [Yaitu] api [yang disediakan] Allah yang dinyalakan, yang [membakar] sampai ke hati. Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka (agar kesangatan panasnya akan lebih terasa) diikat pada tiang-tiang yang panjang. (QS 104:2-10)

Rujukannya adalah bukan pada perorangan tertentu melainkan pada satu bangsa sebab tak masalah betapapun makmur dan kikirnya seorang kaya, dia tak pernah dapat berpikir bahwa kekayaannya telah membuatnya memperoleh keabadian. Sebaliknya, ketika secara ekonomi bangsa-bangsa kaya mendapatkan kesejahteraan ekonomi, mereka selalu hidup di bawah kesalah-pahaman bahwa keunggulan ini merupakan milik mereka selamanya. Peringatan yang diberikan kepada mereka adalah hukuman dengan api.

Senjata-senjata nuklir pada zaman ini merupakan cerminan yang benar dari gambaran ini. Pengembangan inti nuklir sebelum ledakan yang menghasilkan ledakan atom, dan makna HUTHOMAH (atom-atom yang terpecah atau partikel-partikel terkecil) keduanya menunjukkan kepada kita ke arah ini. Dalam suatu hal, hukuman yang dinyatakan di sini, tak diragukan lagi sehubungan dengan dunia ini. Itu tampaknya bermakna kehancuran dari  kaum (bangsa)yang takabur dan tenggelam dalam kebendaan yang memimpikan kehidupan kekal tanpa tanggung jawab.

Jika nubuwatan-nubuwatan tentang hukuman dengan api tersebut di atas dihubungkan dengan masalah bahasan selanjutnya, itu menjadi jelas bahwa empat unsur itu semua – tanah, air, udara dan api – dapat berlaku di bawah perintah Ilahi sebagai hukuman dan bahwa unsur-unsur yang sama dapat berlaku sebagai karunia. Oleh sebab itu, masalah hukum-hukum alam untuk maksud menerapkan hukuman tentu tidak terlalu mengherankan. Semua manfaat dan mudharat tak diragukan lagi saling berhubungan dengan unsur-unsur alaminya.

Orang boleh dengan yakin mengatakan bahwa pada setiap masa beberapa perubahan tetap terjadi mungkin sebagai hasil dari beberapa manfaat atau mudharat dari tanah, air, udara atau api. Kadang-kadang unsur-unsur itu membawa kesengsaraan, ketakutan, kesukaran dan kerugian dan kadang-kadang membawa kehidupan yang mudah dan berkecukupan. Maka mengapa ini kadang-kadang akan diperlakukan sebagai bencana besar atau campur tangan Ilahi dan pada waktu lain sebagai kejadian yang tak lazim? Hal-hal ini telah dan sedang terjadi sejak masa yang lalu. Kenyataannya ini merupakan satu masalah baru. Dalam menanggapi pertanyaan ini, manusia modern tidak menemukan sesuatu yang baru hingga tidak mendorong manusia ke sudut masa lampau. Kita kaji dari Kitab Suci Al-Qur-an bahwa keberatan yang sama diajukan terhadap para nabi di masa lalu ketika: Kami tidaklah mengutus seseorang nabi pun kepada sesuatu negeri, [lalu penduduknya mendustakan nabi itu], melainkan Kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan supaya mereka tunduk dengan merendahkan diri. Kemudian Kami ganti kesusahan itu dengan kesenangan hingga keturunan dan harta mereka bertambah banyak, dan mereka berkata: “Sesungguhnya nenek moyang Kami pun telah merasai penderitaan dan kesenangan”, maka Kami timpakan siksaan atas mereka dengan tiba-tiba sedang mereka tidak menyadarinya. (7:95-96)

Hanya untuk menegaskan saja bahwa ini bukanlah sesuatu yang baru tapi keberatan selama berabad-abad yang tidak benar-benar [berdasar] dalil yang meyakinkan hingga masa seperti itu bahwa kita tidak dapat memberikan tambahannya dengan sesuatu tanda yang menonjol yang dengannya orang boleh menetapkan satu kejadian sebagai campur tangan Ilahi dan yang lainnya sebagai kejadian alami biasa. Kita akan dapat memuaskan hati dan pikiran yang, walaupun keduanya berasal dari sebab alami yang sama, masing-masing berasal dari (mempunyai) kelompok yang berbeda. Jika tidak, tentu saja, masalah ini akan tetap tak lengkap.

Dalam bagian pertama dari rangkaian ini, kita merujuk pada satu segi dari tenggelamnya Fir’aun yang menetapkannya terpisah dari kejadian-kejadian tenggelam alami lainnya yang tak terhitung yang serupa. Secara lebih khusus, kita merujuk, tentu saja, pada penggenapan nubuwatan Al-Qur-an bahwa jasad Fir’aun akan diselamatkan dari perubahan waktu, dan sesudah ribuan tahun ia berlaku sebagai peringatan bagi manusia. Kitab Suci Al-Qur-an telah menyajikan dalil yang kuat sebagai bukti bahwa ini merupakan hukuman Ilahi (lihat bagian 1).

Bagaimanapun, masalahnya tidak berakhir di sana. Hal itu perlu diingat bahwa Kitab Suci Al-Qur-an selalu menyajikan bukti yang sedemikian jelas dalam mendukung dalil-dalilnya yang akan memuaskan pikiran yang tak berat sebelah.

Walaupun, dari satu segi pandang, sistem hukuman Ilahi pada dasarnya berhubungan dengan hukum-hukum alam, namun dari beberapa sudut yang lain, sistem ini menikmati kedudukan yang benar-benar terpisah dan di dalamnya terdapat ciri khas istimewanya. Pada segi ini, kami akan, Insya Allah, menyoroti lebih lanjut dalam bagian berikut dari rangkaian ini. Berdasarkan pada kemampuan yang diberikan Tuhan, kami juga akan menyelidiki tanggung jawab yang dipikulkan atas jamaah orang-orang yang beriman ketika suatu kaum sedang tertimpa suatu hukuman Ilahi yang menggantung orang-orang seperti itu. Apa yang seharusnya kita lakukan dalam keadaan-keadaan semacam itu? Bagian pembahasan ini adalah benar-benar penting untuk pendidikan ruhani Jama’at Ahmadiyah pada hari dan zaman ini. Itu bukan sikap yang layak bahwa sebagian orang Ahmadi lalai untuk mengikuti jalan [yang benar] hingga tak sejalan dengan contoh teladan dan kebiasaan mulia dari para nabi yang telah lalu atau yang dengan suatu cara di bawah kemuliaan orang mukmin hakiki. Semoga Allah menjaga kita dari hal ini. Amin.

Sumber: Ahmadiyya Gazette Canada, May 1994, hal. 4-7

1 Response to “BENCANA ALAM ATAU HUKUMAN ILAHI? –bag 2–”


  1. 1 Bimo October 2, 2009 at 10:00 am

    Baca dgn baik ayat-ayat tsb & renungkan maksudnya. Mengapa Allah tidak membumi hanguskan dunia ini selain ahmadiyah bro? Kenapa jemaat lain seperti salamullah, dll tidak terken azab bro? Apa itu berarti mereka aliran yang benar? Kenapa kaum muslimin terkadang terkena bencana dibandingkan kaum nasrani. Apa itu berarti agama mereka agama yg benar? Masih banyak segudang pertanyaan lain yang mungkin anda tidak bisa menjawab dgn nalar anda karena penalaran anda sudah terpola oleh da’i2 sesat ahmadiyah yg tidak memungkinkan penalaran anda keluar dari pola tsb yg sudah ditanam pada diri anda.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




AYO BERBELANJA DI TOKO ONLINE KAMI:

Statistik Blog

  • 234,699 hit

aku suka jalan-jalan

hidup adalah jalan-jalan. jalan-jalan adalah hidup

%d bloggers like this: