Opini: Mudik lebih mematikan dari Gempa 7,3 skala Richter!

Entah Ulama-ulama ini membodohi orang-orang, atau cuma menghibur orang-orang? Sehingga sudah menjadi pemeo, setiap tanggal 1 Syawal itu djadikan Hari berpesta untuk “merayakan kemenangan”, katanya. Maka terjadilah salah kaprah; dan orang-orang pun jadinya mengabaikan Alqur-aan, meninggalkan ajaran Alqur-aan dan mengabaikan ajaran dari Nabi Muhammad saw.

Itulah yang menampakkan kejahiliyahan, kebodohan dikarenakan kesalah-kaprahan ajaran dan arahan dari pemimpin umat ini; di Mekkah dan Medinah sendiri, orang merayakan Hari Raya ‘Ied ini cukup dengan memakai pakaian yang baru atau yang lebih bersih, melakukan shalat sunnat ‘Ied, makan makanan enak, di mana dalam dalam bulan Ramadhan-nya sudah memberikan zakat dan sedekah-sedekah agar orang-orang miskin pun dapat turut bergembira, bisa membeli pakaian dan makanan untuk merayakan Hari ‘Ied ini; juga kepada orang-orang tua dan kerabat dekatnya yang berada di daerah-daerah sudah men-transfer uang agar bisa turut bergembira dalam Hari Raya yang beberkat ini. Yang dikatakan mudik itu hanyalah para siswa dan pelajar yang sedang sekolah dan studi di tempat / kota lain, yang dikarenakan diberikan libur sekolah, biasanya satu minggu sebelum sampai satu minggu sesudah Hari Raya ini, mereka itulah yang harus mudik ke rumah orang tuanya itu. Demikianlah seharusnya begitu, sehingga bulan Ramadhan itu benar-benar dipakai untuk beribadah sampai tamat satu bulan penuh, untuk berusaha menjadi orang-orang yang takut kepada Tuhan. Jika demikian keadaannya maka kemudharatan (baca: semacam api neraka) di semua perjalanan yang biasa terjadi antara hari-hari H-7 sampai H+7 bisa sedapat mungkin dihindari. Dengan kebodohan / kejahiliyahan seperti yang kita dapat lihat di tayangan media Tivi dan lain-lain, maka biar pun Menteri Perhubungannya diangkat sampai 3 orang pun, dan jumlah bus-bus dan kereta api ditambah menjadi sebanyak tiga kali pun tidak akan menyelesaikan masalah transportasi untuk mengangkut orang-orang yang berada dalam iklim kebodohan itu.

Efek dari kebodohan orang-orang itu, bahkan mereka harus membatalkan puasanya dalam bulan Ramadhan itu, misalnya di Pasar Tanah-Abang Jakarta Pusat itu dipadati oleh orang-orang, baik yang jualan mau pun orang yang akan mudik dengan membawa oleh-oleh; dengan kepayahannya itu tidak nampak suasana bulan Puasa, di mana pasar jajanan makanan di sang hari pun dipenuhi oleh orang-orang (Muslim); apalagi yang sedang berhari-hari kepayahan dalam perjalanan mudiknya itu.

Ada pun untuk memaafkan orang, atau meminta maaf, mengapa untuk memaafkan orang itu harus menunggu sampai tanggal 1 Syawal? Khan kalau memang terjadi kesalahan itu, sengaja atau pun tidak sengaja, seharusnya saling memaklumi dan saling memaafkan pada saat itu juga, atau bahkan akan lebih baik lagi kalau orang-orang itu sudah benar-benar memahami dan mengamalkan ajaran Kitab Suci Alqur-aan – mengenai perintah dan larangan-Nya -, dan mengamalkan ajaran serta sunnah Nabi Muhammad saw., sehingga dapat dipastikan tidak akan berbuat dosa atau berbuat yang merugikan kepada sesama mahluk Tuhan. Maka pada tanggal 1 Syawal itu sudah benar-benar merayakan Hari Id – Id Mubarak – enjoy dan bukan berbicara dengan mengutamakan urusan dosa, kesalahan atau minta dimaafkan oleh orang.

Memang benar, terutamanya dalam sepuluh hari terakhir dalam bulan Ramadhan itu, maka saat itulah waktunya untuk mendapatkan rahmat dan ampunan dari Allah Yang Maha Kuasa, Maha Pengampun. Yang tentu saja untuk itu orang-orang sudah diperintahkan untuk membaca dan menyelesaikan, menamatkan pembacaan Kitab Suci Alqur-aan, berusaha memahaminya dan berusaha mengamalkannya, termasuk mengeluarkan sedekah dan zakat sesuai aturan dan perintah Amir dan Imam Zaman, serta memperbanyak shalat. Demikianlah yang seharusnya dikerjakan dalam bulan Ramadhan itu, agar memperoleh ampunan, berkah serta rahmat kasih sayang dari Allah Maha Kuasa; insya Allah.

Lalu jikalau seharusnya demikian, maka apakah yang dikatakan bahwa orang harus bergembira untuk “merayakan hari kemenangan” itu? “Menang” di sebelah mananya? Inilah disebabkan salah didik dari ulama-ulama mereka itu; padahal ‘ulamaa itu adalah orang-orang yang di antara hamba-hamba Allah yang memilik ilmu, yang takut kepada Tuhan, yang takut melanggar aturan Tuhan dan takut untuk tidak mengikuti dan mengamalkan aturan dan ketentuan atau permintaan dari Tuhan.

Dalam Surah Faathir (35) ayat 29, Allah Taala berfirman:

……. Innamaa yakhsyallaaha min ‘ibaadihil ‘ulamaa-u ……. – ……. Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba- Nya adalah orang-orang yang ber-ilmu, ‘ulamaa ……

Demikian juga orang-orang Muslim sudah diwajibkan untuk mengadakan silaturahmi dengan sesama Muslim terutamanya, dan dengan setiap makluk Tuhan seumumnya, pada setiap hari dan setiap saat, dan tidak untuk ditangguhkan sampai pada tanggal 1 Syawal saja.

Demikianlah karena ajaran dan pembinaan ulama yang salah kaprah itu maka terlihatlah bayangan neraka pun tampak di dunia ini juga; sehingga sebelumnya bulan Puasa 1430 H berakhir, contohnya pada hari H-2 minggu yang lalu, orang yang mati syahid di jalanan pun jumlah sudah hampir 200 orang yang tewas di jalanan; jadi dalam rangka arus mudik ini pun jumlah korban yang tewas sudah melebihi korban karena gempa bumi dengan intensitas 7.3 S.R.; seperti pada gempa bumi Tasikmalaya bulan lalu. Yah dikatakan mati syahid, karena disaksikan oleh seluruh bangsa di Republik dengan melalui tayangan Tivi dan lain-lain, itulah salah satu arti dari mati syahid, mati yang disaksikan oleh banyak orang …… Untuk arus mudiknya bagaimana? Yah tentu saja tidak akan jauh berbeda juga, karena pada hari H + 3 jumlah korban tewas sudah mencapai hampir 500 orang. Memang, katanya jumlah orang yang tewas di jalanan sekarang ini masih lebih sedikit dibandingkan pada saat Lebaran tahun 2008 lalu, yang jumlah korban tewas di jalanan itu katanya lebih dari 670 orang. Tetapi khan ini bukannya program mengurangi jumlah orang yang miskin?

Alhamdulillah bahwa dalam suasana Hari Raya sekarang ini, masyarakat tidak terlalu dibisingkan oleh perlombaan memukul bedug atau pun takbir keliling kota dan bunyi petasan; barangkali selain dari ekonomi rakyat sedang terkena dampak Krisis Ekonomi Global, aparat pun sudah melangkah maju dalam mengatasi suasana yang dapat me-mudharatkan seperti itu. Tetapi hendaknya Instansi Pemerintah pun janganlah memberi contoh yang tidak benar, seperti yang suka mengadakan acara Pesta Kembang api segala, karena uangnya akan sangat bermanfaat jika diberikan kepada orang-orang yang sedang bernasib malang, seperti yang terpaksa sedang berada di pengungsian- pengungsian, oleh sebab apa pun juga.

Semoga diambil pelajaran oleh orang-orang Islam pada umumnya, agar benar-benar mentaati ajaran Alqur-aan dan sunnah dari Nabi Muhammad, Rasulullah saw., sebagaimana yang diajarkan kembali oleh Imam Zaman ini. Insya Allah keberkatan dan kesejahteraan akan meliputi seluruh bangsa dan rakyat R.I. ini.

Jum’at, 6 Syawal 1430 H, 25 September 2009 M
PPSi

2 Responses to “Opini: Mudik lebih mematikan dari Gempa 7,3 skala Richter!”


  1. 1 tambahan September 28, 2009 at 7:11 am

    Bismillahirrahmanir rahiim

    Syaithan membuat indah (bagus, menyenangkan) perbuatan mereka itu …..

    Padahal, Ayat-ayat Alqur-aan (80), sudah memperingatkan dan menasihati mereka itu!

    Bacalah Kitab Suci Alqur-aan; takutlah kepada (Firman) Allah dan Taatilah sabda Rasul s.a.w.;

    6:44 ……… wa zayyana lahumusy syaithaanu maa kanuu ya’maluun – ….. dan Syaithan menampakkan indah atas apa yang mereka kerjakan. Fa lau laa idz jaa-ahum ba’suuaa tadharra’uu walaakin qasat quluubuhum …… – Kemudian, mengapa mereka itu tidak tunduk merendahkan diri ketika datang kepada mereka hukuman – siksaan Kami, bahkan hati mereka menjadi semakin keras …..

    8:49 Wa idz zayyana lahumusy syaithaanu a’maaluhum …… – Dan (ingatlah) ketika Syaithan menampakkan indah kepada mereka amal-amal pekerjaan mereka itu …….

    16:64 ….. Fa zayyana lahumusy syaithaanu a’maluhun fa huwa waliyyuhumul yauma wa lahum ‘adzaabun aliim. …… tetapi Syaithan menampakkan perbuatan-perbuatan mereka indah kepada mereka. Maka ia menjadi pemimpin bagi mereka pada hari itu, dan bagi merekalah azab yang pedih.

    27:25 ….. wa zayyana lahumusy syaithaanu a’maaluhum fa shaddahum ‘anis sabiili fa hum laa yahtaduun. – ……dan Syaithan telah menampakkan indah bagi mereka amal perbuatan mereka, dan dia menghalangi mereka dari jalan yang benar, sehingga mereka tidak mendapat petunjuk.

    29:39 ……. Wa zayyana lahumusy syaithaanu a’maaluhum fa shaddahum ‘anis sabiili wa kaanuu mustabshiriin. – …… dan Syaithan membuat indah bagi mereka amal-perbuatan mereka, dan menghalangi mereka dari jalan (Allah), padahal mereka itu adalah orang-orang yang cerdik pandai.

    Padahal, Ayat-ayat (Alqur-aan), sudah memperingatkan dan menasihati mereka itu!

    80:12 Kallaa innaa tadzkirah – Sekali-kali tidak! Sesungguhnya Ayat-ayat Allah itu adalah suatu peringatan, pemberi nasihat.

    80:14 Fii shuhufim mukarramah – Yang tercantum dalam Lembaran-lembaran yang dimuliakan.

    80:15 Marfuu’atim muthahharah – Yang dijunjung tinggi, yang disucikan.

    80:18 Qutilal insaanu maa akfarah – Binasalah manusia, alangkah tidak berterima kasihnya dia!

    jumlah orang yang tewas dalam tradisi mudik di Indonesia sampai H + 3 sudah hampir 500 orang tewas. Salah satu contohnya; yang karena kelelahan, ada motor yang menabrak tanggul pembatas, istri dan anak-nya jatuh berpelukan dan kebetulan truk lewat …. Suaminya, yang pengendara motor, melongok saja, kasihan ……

    Padahal Ayat-ayat dan Sabda / Sunnah Nabi suci s.a.w. sudah mengatakan:

    10 Hari terakhir itu bulan Ramadhan itu adalah saat Malaikat Jibril menurunkan Ayat-ayat Alqur-aan kepada Nabi saw., dan mengulanginya lagi pada setiap bulan Ramadhan.

    Maka, di saat itulah orang-orang Muslimin harus lebih memperbanyak Shalat dan berzikir mengingat kepada Allah; menamatkan pembacaan dan pehamanan Ayat-ayat Alqur-aan serta berusaha mengamalkannya, berpuasa satu bulan penuh sambil mengluarkan infaq dan zakat-zakat sesuai perintah Imam Zaman dan memberikan hadiah / mengirimkan sedekah-sedekah kepada kerabat dan mereka yang memerlukannya agar mereka dapat ikut bergembira merayakan Hari Raya ‘Iedul Fitri di tempatnya masing-masing.

    Inilah saatnya terbaik untuk mohon ampunan dari Allah Yang Maha Pengampun dan Penerima Taubat; insya Allah..

  2. 2 M Mursyid PW September 28, 2009 at 5:50 pm

    Bagus semakin banyak blog yang mensiarkan Islam.
    Mari kita saling silaturahim setidaknya melalui saling kunjung blog.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




AYO BERBELANJA DI TOKO ONLINE KAMI:

Statistik Blog

  • 248,174 hit

aku suka jalan-jalan

hidup adalah jalan-jalan. jalan-jalan adalah hidup

%d bloggers like this: