BENCANA ALAM ATAU HUKUMAN ILAHI?(bag 3)

Mirza Tahir Ahmad——Kitab Suci Al-Qur-an sering kali mengingatkan manusia pada kenyataan bahwa ini telah menjadi akhir dari tempat-tempat hunian semacam itu. Jika manusia mengadakan perjalanan jauh dan mejelajahi bumi dalam mencari kota-kota besar kuno ini, dia akan menemukan reruntuhannya terkubur dalam di bawah debu. Di dalamnya, terbaring orang-orang yang merupakan bangsa-bangsa besar yang mempunyai tekat kuat untuk menghapuskan nabi zaman itu dari muka bumi dan segala sesuatu yang berhubungan dengan beliau. Konspirasi mereka adalah yang paling jahat dan adalah tidak mungkin untuk mencari perlindungan terhadap kekuasaan mereka. Pada waktu para nabi tampak hilang harapan mengenai orang-orang yang tak beriman dan keberhasilan tugas mereka. Kemudian adalah pertolongan Tuhan yang datang secara tiba-tiba dalam bentuk bencana yang membedakan dengan jelas antara kebaikan dan keburukan. Siapapun yang Tuhan ridhai, dia selamat, tapi orang jahat tak dapat menemukan peluang. Merujuk pada keadaan ini, Kitab Suci Al-Qur-an menyatakan: Sehingga apabila para rasul tidak mempunyai harapan lagi [tentang keimanan mereka] dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada para rasul itu pertolongan Kami, lalu diselamatkan orang-orang yang Kami kehendaki. Dan tidak dapat ditolak siksa Kami dari pada orang-orang yang berdosa. (QS Yusuf:111)——

(((((00000)))))

Selengkapnya:
Ciri-Ciri Khusus Hukuman Ilahi

1. Ciri khas yang paling utama untuk membedakan hukuman Ilahi dengan bencana alam adalah bahwa hukuman Ilahi diberi-tahukan sebelum itu ditimpakan. Sungguh, bukan hanya diberi-tahukan terlebih dahulu tapi ketepatan bentuk hukuman digambarkan dengan sangat rinci.

Satu contoh yang paling jelas dari ini dapat dijumpai selama zaman Nuh(a.s.). Beliau telah memperingatkan terlebih dahulu kaum beliau bahwa mereka akan dibinasakan karena perbuatan-perbuatan jahat mereka dan penolakan mereka yang terus menerus terhadap pendakwaan beliau. Beliau memperingatkan mereka terlebih dahulu dengan nafas yang sama bahwa sarana-sarana bagi kehancuran mereka akan berupa air, satu banjir besar yang seperti itu tak pernah terjadi sebelumnya dan tak ada orang tidak pula hewan akan selamat darinya.

Tak lama sesudah peringatan itu, kemudian Nuh(a.s.), mulai membuat bahtera sebagaimana beliau telah diperintahkan Allah Ta’ala untuk membuat, naik ke bahtera itu yang orang-orang mukmin diselamatkan. Orang-orang yang menolak beliau menertawakan dan memperolok-olok beliau dan para sahabat beliau. Tak seorang pun dapat meyakinkan dirinya untuk percaya bahwa langit akan turun (hujan) dan meliputi tanah itu, sedemikian banyak, hingga tidak ada satu jengkal pun daerah kering yang akan tersedia bagi orang untuk menyelamatkan diri sendiri dari banjir yang timbul. Akhirnya datanglah hari itu, menurut Kitab Suci Al-Qur-an: Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan [menurunkan] air yang tercurah. (QS Al-Qamar:12)

Hujan begitu lebatnya yang seperti itu tak pernah terjadi sebelumnya. Nabi Nuh(a.s.) dan orang-orang yang beriman kepada beliau menaiki bahtera itu dan membawa beserta mereka persediaan (perbekalan) untuk waktu yang terbatas, dan sedikit hewan-hewan dan burung-burung, yang telah dikumpulkan sebelumnya. Para pemerhati sedang melihat kejadian luar biasa di hadapan mata mereka dan tetap menertawakan beliau. Dengan naiknya ketinggian air, bahtera itu mulai mengapung dan rumah-rumah serta tanah-tanah tinggi mulai terendam dalam air.

Bahkan pada jam kesebelas, orang-orang kafir itu tidak menerima bahwa, selain orang-orang dalam perahu itu, semua orang lain akan tenggelam. Bukan hanya itu, bahkan putra Nuh(a.s.) yang malang tidak dapat meyakinkan dirinya untuk menghadapi kenyataan menyedihkan atas apa yang sedang terjadi tepat di hadapan matanya. Pada akhirnya, putra ini tetap mengingkari hujan yang tak kunjung henti itu, yang kemudian menjadi banjir sebagai tak lebih dari pada kejadian alam. (Dia mungkin telah mengira bahwa orang-orang yang naik bahtera itu akan tenggelam). Tidak sesaat pun pemikiran yang melintas dalam pikirannya bahwa air itu akan naik ke atas [melebihi] gunung-gunung. Maka, menurut Al-Qur-an Suci, jeritan terakhir dari manusia di padang gurun, yang dinyatakan oleh putra Nuh(a.s.): “Aku akan segera mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah.” (QS Hud:44)

Tapi satu gelombang yang tinggi datang di antara bahtera Nuh dan putra ini terkurung di gunung. Air tetap naik dan puncak-puncak gunung mulai hilang (tenggelam) di bawah air. Selain dari bahtera yang terapung itu, tak ada apa pun yang terlihat di atas air itu di mana pun sepanjang cakrawala. Semua kawasan telah terendam dengan air.

Kecuali beberapa perbedaan dalam rinciannya, peristiwa ini dikenal oleh tiga agama besar dunia, yakni Yahudi, Kristen dan Islam. Paling tidak bagi para pengikut dari tiga agama besar ini, peristiwa ini merupakan dalil yang sangat kuat dan mereka tidak dapat [berbuat apa pun] kecuali menerima bahwa ketika ia tetap dalam hukum-hukum alam, hujan kadang kala dapat jatuh sebagai satu hukuman dari Tuhan.

Karena kita telah menggolongkan berbagai jenis hukuman Ilahi, tak ada perlunya untuk mengulanginya di sini. Begitu kita melihat ciri-ciri khas dari hukuman-hukuman Ilahi, cukuplah untuk mengatakan bahwa bukti istimewa pertama dari Kitab Suci Al-Qur-an bahwa hukuman (azab) Ilahi diperingatkan terlebih dahulu dan kadang-kadang bentuknya juga ditetapkan.

2. Tanda kedua hukuman dari langit adalah bahwa ia dibuat dengan suatu keadaan khusus yang dengan itu (kejadiannya) sendiri tidak dapat merupakan sebab dari suatu tindakan atau perbuatan [alami] karena akibat yang dari [perbuatan]nya hukuman dari bumi atau langit itu akan [berlaku] secara langsung menampakkan dirinya.

Kita mempunyai contoh ini semasa kenabian Saleh(a.s.) yang diutus kepada kaum Tsamud. Satu hal yang sangat jelas dan kejadian ledakan dahsyat, apakah anda menyebutnya letusan gunung berapi atau guruh dari angkasa atau ledakan sebagai hasil dari pergerakan bumi (geologi). Pendeknya, tak jadi masalah bagaimana anda menggambarkan ledakan itu tunggal, itu tidak mempunyai hubungan lahiriah yang terjauh dengan pembunuhan unta betina. Tak seorang pun dapat menerima bahwa ledakan itu terjadi sebagai akibat langsung karena unta betina itu telah dilukai. Kami menyimpulkan, oleh sebab itu, bahwa apa pun kejadian alam yang dipilih sebagai sarana kehancuran kaum Nabi Saleh(a.s.), itu bukanlah kebetulan belaka melainkan satu keputusan Ilahi yang luar biasa. Selama kaum Saleh(a.s.) menahan diri dari menghalangi unta betina itu dari minum air dan melukainya, kehendak Tuhan akan menahan kekuatan-kekuatan alam untuk menampakkan diri adalah sepenuhnya patuh, tapi ketika unta betina itu dihalangi dari minum air dan dilukai, kekuatan-kekuatan alam diizinkan untuk melepaskan diri dan menunjukkan kehebatannya.

3. Tanda ketiga, yang membedakan hukuman Ilahi dengan bencana alam, adalah bahwa azab itu tidak dibiarkan membinasakan orang-orang beriman beserta orang-orang yang kafir. Orang-orang mukmin diselamatkan tanpa kecuali dan orang-orang kafir dibinasakan. Kitab Suci Al-Qur-an sungguh menyebutkan hukuman Ilahi yang menimpa beberapa bangsa yang sebagai hasilnya orang-orang mukmin juga terpaksa mengalami sedikit penderitaan beserta orang-orang kafir. Bagaimanapun, hukuman-hukuman semacam itu merupakan kekecualian pada aturan dan menyajikan maksud-maksud lain.

Hal itu perlu diingat bahwa jenis-jenis hukuman Ilahi yang sedang kita kaji sekarang ini adalah yang membedakan orang-orang mukmin dari orang-orang kafir dan yang mengenainya para nabi di zaman itu dengan sangat jelas memberikan peringatan terlebih dahulu bahwa hamba-hamba Tuhan yang soleh tak akan mengalami kemalangan.

Kini, ini adalah satu ciri khas yang untuknya kita tak dapat menemukan penjelasan alami. Mengapa bahwa jalannya gilingan bencana akan menyapu habis mayoritas orang-orang namun membuat pengecualian bagi beberapa orang terpilih, membiarkan mereka tanpa tertimpa sesuatu kerugian atasnya? Itu tidak berakhir di sana. Mungkin yang bahkan lebih mengejutkan adalah bahwa bagian dari bangsa yang terdiri atas kekuatan yang paling berkuasa dan unggul secara materi dan yang paling kuat untuk bertahan hidup (fittest for survival) akan sepenuhnya dihancurkan dan sekelompok orang miskin dan lemah tanpa sumber-sumber daya lahiriah untuk bertahan hidup akan diselamatkan dari bencana itu.

Ciri khas keempat adalah bahwa sesudah hukuman dari langit, filsafat dan cara hidup, yang hingga saat itu kuat dan unggul, dihabiskan atau sepenuhnya dihapuskan dari permukaan bumi. Sebaliknya, ideologi dan cara hidup yang baru yang dikemukakan sebelum [turunnya] azab, telah ada dalam keadaan lemah dan tersembunyi, sedemikian rupa, sehingga tampak seakan-akan tak ada apa pun dapat bernapas untuk hidup di dalamnya. Namun ia muncul dengan kemenangan dan dengan cepat meningkat ke puncak keagungannya. Kadang-kadang, filsafat itu, yang menentangnya, hancur lebur menjadi debu dan filsafat yang baru muncul itu meraih keunggulan. Pada waktu-waktu lain filsafat yang menang itu berdiri laksana seorang panglima yang mengalahkan musuh, yang terkapar dengan hina dan tak berdaya sehingga tak ada pilihan kecuali menyerah.

Ciri-ciri khas yang tersebut sebelumnya diambil untuk dianugrahkan kepada para pengikut agama-agama yang menerima kewenangan sejarah agama tercatat dalam kitab-kitab suci yang diwahhyukan, tapi orang-orang yang tak punya hubungan dengan agama, atau orang-orang yang atheis atau tak ber-Tuhan, dapat berpaling dan mengatakan bahwa empat ciri khas ini semuanya telah diambil dari sejarah keagamaan dan dengan demikian tak mempunyai tempat dalam sejarah, dalil-dalil semacam itu tidak sah bagi mereka, kecuali merupakan pendakwaan belaka. Namun renungan singkat akan menunjukkan bahwa pendakwaan-pendakwaan  tersebut sebelum ini menyertakan bukti-bukti yang agung dan kesaksian yang tak mungkin seorang pun dapat membantah.

Untuk membuktikan pandangan saya, saya menguraikan penjelasan tambahan berikut ini: “… bangsa-bangsa yang kuat, kerajaan-kerajaan adidaya dan agung, yang suatu kali menganggap para nabi pada zaman itu lebih rendah dari pada agas (serangga), dibinasakan dengan bencana (atau menurut para pengikut agama, azab Ilahi) pada zaman itu. Jalan kepercayaan dan agama mereka lenyap di udara. Filsafat-filsafat mereka musnah. Tak ada yang tersisa dari kerajaan-kerajaan besar ini kecuali beberapa rujukan dari beberapa halaman sejarah. Namun, halaman-halaman sejarah ini juga tidak menyebutkan tentang beberapa orang terpilih yang mempunyai kemenangan agung atas bangsa-bangsa besar dan kerajaan-kerajaan besar ini menyajikan keanehan yang tak terjelaskan dari zaman itu.”

Catatan:

i. Tak seorang pun mungkin dapat membantah bahwa sepanjang sejarah di mana pun seorang nabi atau pembaharu menyeru kaumnya dengan izin Tuhan melalui petunjuk-Nya, maka nabi atau pembaharu itu kurang memiliki sarana-sarana duniawi yang melaluinya beliau dapat mengalahkan para penentangnya. Sebaliknya, para penentang beliau menikmati semua kekuatan lahiriah, apakah itu jumlah orang, keunggulan ekonomi atau politik atau keunggulan dalam senjata-senjata perang. Sungguh, mereka begitu berkuasa dan kuat, dari setiap segi yang dapat diperkirakan, maka dengan sedikit upaya di pihak mereka, mereka dapat menghancurkan sang pendakwa dan sekelompok pengikutnya.

Ada satu cara mudah untuk menjumpai bukti kelemahan lahiriah (kebendaan) dari para nabi dan pembaharu yang lampau dari kenyataan bahwa sejarah dunia mencatat zaman itu dengan perhatian yang sedikit atas kemunculan hamba-hamba Tuhan semacam itu seakan-akan keberadaan mereka yang tak bermakna adalah tak lebih dari pada riak kecil di tengah-tengah limpahan air yang luas.

Ambillah sebagai misal, masalah sejarah Kristus (Al-Masih). Kepentingan yang kita nisbahkan hari ini kepada Yesus (Nabi Isaa.s.) dan penyaliban beliau sepenuhnya berbeda dengan makna yang dinisbahkan kepada kejadian-kejadian ini selama masa [lalu] yang bersejarah itu. Sebab kita telah mendengar banyak rujukan tentang kejadian-kejadian besar ini dari satu generasi ke generasi lain, kita secara salah mengambilnya bahwa pendakwaan Nabi Isa dan akibat-akibat dari penyaliban beliau, merupakan peristiwa-peristiwa besar bagi orang-orang zaman beliau. Anggapan ini tentu saja tidak benar. Kejadian-kejadian ini adalah kecil bagi Kerajaan Roma yang tidak sesaat pun memberikan banyak perhatian pada masa itu yang mereka anggap nilai peristiwa itu dengan rujukan singkat atau mengurangi hingga beberapa baris yang singkat. Maka para ahli sejarah Roma selama paling tidak beberapa ratus tahun secara istimewa gagal untuk mencatat seseorang yang bernama Yesus (Isa) atau Kristus (Al-Masih). Itu adalah, seakan-akan menurut mereka, penyaliban adalah tak lebih dan tak kurang dari pada satu proses hukum  menyedihkan yang tak bernilai sebagai tambahan dalam catatan-catatan kerajaan.

Riwayat eksternal tentang Yesus (Nabi Isaa.s.), secara besar-besaran dapat dinisbahkan dengan penyebaran ajaran Kristen, yang mempunyai efek bola salju pada sejarah itu. Masing-masing ahli sejarah berikutnya menambahkan pentingnya kemunculan Yesus(a.s.); Tapi ketika ditempatkan dalam hubungan kesejarahannya dan berbeda dengan Kerajaan Roma yang besar, kedudukan Yesus yang terkemuka tidak mendapatkan perhatian sejarah dunia selama masa pendakwaan Yesus. Menurut para pejabat Roma pada waktu itu, apakah masalah kematian Yesus atau kehidupan beliau, tidak mencerminkan suatu tonggak [sejarah] yang menjaminnya untuk dicatat dalam sejarah masa itu.

Begitu pula, pendakwaan dan tugas Nabi Suci Muhammad(s.a.w.), menyajikan bagi seorang Muslim akan peristiwa paling agung dalam sejarah dunia, tapi hingga derap langkah kemenangan beliau ke Makkah, kejadian-kejadian ini tampak biasa saja dan umum bagi orang-orang di masa itu. Sungguh, hingga penyebaran Islam yang cepat menimbulkan kegemparan di timur dan barat, kerajaan-kerajaan Roma dan Parsi bertindak. Sebelum waktu itu, mereka memberikan kepercayaan yang kurang pada pentingnya perkembangan Pendiri Suci Islam.

Kerajaan Kisra dalam hal ini dengan cepat sekali dikuasai oleh para penakluk Muslim. Oleh sebab itu, kita tidak dapat dengan kepastian tertentu mendakwakan apakah ada ahli sejarah Iran telah mencatat suatu rujukan menganai Nabi Suci(s.a.w.), sebelum jatuhnya kota Makkah. Bagaimanapun, makna dari apa yang dianggap peristiwa terbesar sejarah dunia oleh kaum Muslimin, kita dapat yakin bahwa ahli-ahli sejarah Roma pada masa itu tak membuat satu rujukan pun atas peristiwa ini dalam catatan-catatan mereka.

Dalam riwayat-riwayat penting yang telah sampai kepada kita dari sejarah Islam mengenai kerajaan Parsi (Iran), itu adalah nyata sekali bahwa Kisra dari Iran selama masa Nabi Suci Muhammad(s.a.w.), menganggap kejadian-kejadian ini sebagai perkara-perkara sepele. Diriwayatkan bahwa Kisra pada masa itu telah mengirimkan pesan kepada Gubernur Yaman bahwa desas-desus sedang meningkat dari pendakwa yang muncul di Arabia; dia, oleh sebab itu, harus ditangkap dan dibawa ke hadapan Kisra. Kedudukan penting yang dinisbahkan kepada Nabi Suci Muhammad(s.a.w.) oleh Gubernur Yaman itu dapat diukur dari kenyataan bahwa dia hanya mengirim dua pesuruhnya, na’udzubillah, untuk menangkap penghulu dunia jasmani dan ruhani itu, Nabi Suci(s.a.w.), dan membawa beliau ke hadapan gubernur itu. Dari hal ini kita dapat mengukur maknanya dengan baik, dunia pada waktu itu menisbahkan kedudukan Nabi Suci(s.a.w.).

Oleh sebab itu, adalah tak mungkin untuk mengingkari bahwa pada masa itu ketika seorang nabi atau pembaharu melakukan seruannya, beliau bukan hanya tak berdaya, melainkan sebagian besar dunia juga memandang beliau sebagai lemah dan tak bermakna sehingga apakah beliau ada atau tidak adalah tak berakibat apa-apa. Pola sejarah ini telah berulang sendiri berkali-kali tanpa kecuali dalam kejadian semua nabi, dari Adam(a.s.) hingga Nabi Suci(s.a.w.).

ii. Kedua, adalah jelas bahwa bangsa-bangsa yang besar, kerajaan-kerajaan adi daya dan kuat, yang pada suatu ketika memandang nabi pada zamannya sebagai lebih lemah dari pada seekor agas (serangga) belaka, dihancurkan dengan bencana (atau menurut para pengikut agama, azab Ilahi) pada zaman itu. Jalan-jalan kepercayaan dan keagamaan mereka lenyap di udara. Filsafat-filsafat mereka punah. Tak ada yang tersisa dari kerajaan-kerajaan besar ini selain dari beberapa rujukan yang tersebar pada beberapa lembar halaman sejarah. Namun, lembar-lembar sejarah yang sama ini tidak menyebutkan beberapa orang terpilih ini yang mempunyai kemenangan agung atas bangsa-bangsa besar dan kerajaan-kerajaan kuat ini menyajikan keanehan yang tak dapat dijelaskan pada masa itu. Beberapa orang yang terpilih ini menang dengan sedemikian banyak bahwa hingga hari ini filsafat-filsafat mereka bertahan sebagai filsafat-filsafat masa kini yang hidup. Agama-agama mereka melintasi seluruh dunia sedemikian banyak hingga meliputi mayoritas penduduk dunia hari ini mempunyai akar-akar keimanan pada nabi samawi atau avatar yang merupakan orang paling tak berdaya pada zamannya. Pertanyaan kemudian timbul bahwa jika sebab-sebab kejatuhan kerajaan-kerajaan besar merupakan suatu bencana pada masa itu, maka pastilah yang akan merupakan korban-korban pertamanya adalah orang-orang yang paling lemah alih-alih yang paling kuat. Dari mana bencana-bencana pada masa itu mengetahui (mengenal) pilihannya yang berbeda, pada waktu melanda, lemah dengan yang kuat dan menyadari aturan itu bahwa ia memberikan bantuan (menyelamatkan) kepada yang lebih lemah tapi membinasakan yang paling kuat?

iii. Segi ketiga dalam hubungan ini adalah bahwa dari semua kota dan tempat pemukiman, yang hancur karena gempa-gempa bumi atau binasa karena badai yang tiada hentinya, mengubur mereka di bawah tanah, tak satu pun dari penghuninya adalah para pengikut seorang nabi. Alih-alih, para penghuninya adalah orang-orang tak beragama dan orang-orang yang menolak nabi-nabi. Riwayat-riwayat yang tersisa dari para penghuni ini yang terpelihara hingga hari ini adalah tentang sembahan-sembahan palsu dan bid’ah-bid’ah mereka, kepalsuan dan kejahatan mereka.

Kitab Suci Al-Qur-an sering kali mengingatkan manusia pada kenyataan bahwa ini telah menjadi akhir dari tempat-tempat hunian semacam itu. Jika manusia mengadakan perjalanan jauh dan mejelajahi bumi dalam mencari kota-kota besar kuno ini, dia akan menemukan reruntuhannya terkubur dalam di bawah debu. Di dalamnya, terbaring orang-orang yang merupakan bangsa-bangsa besar yang mempunyai tekat kuat untuk menghapuskan nabi zaman itu dari muka bumi dan segala sesuatu yang berhubungan dengan beliau. Konspirasi mereka adalah yang paling jahat dan adalah tidak mungkin untuk mencari perlindungan terhadap kekuasaan mereka. Pada waktu para nabi tampak hilang harapan mengenai orang-orang yang tak beriman dan keberhasilan tugas mereka. Kemudian adalah pertolongan Tuhan yang datang secara tiba-tiba dalam bentuk bencana yang membedakan dengan jelas antara kebaikan dan keburukan. Siapapun yang Tuhan ridhai, dia selamat, tapi orang jahat tak dapat menemukan peluang. Merujuk pada keadaan ini, Kitab Suci Al-Qur-an menyatakan: Sehingga apabila para rasul tidak mempunyai harapan lagi [tentang keimanan mereka] dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada para rasul itu pertolongan Kami, lalu diselamatkan orang-orang yang Kami kehendaki. Dan tidak dapat ditolak siksa Kami dari pada orang-orang yang berdosa. (QS Yusuf:111)

Padahal di masa lampau, orang melewati reruntuhan bangsa-bangsa besar, tak menyadari dan mengabaikan apa yang terkubur di sana, hari ini bumi telah mulai membukakan rahasia-rahasianya dan reruntuhan-reruntuhan arkeologi telah mulai tampak dan dikenalkan kepada dunia kebanyakan untuk manfaat. Tapi waktu yang Kitab Suci Al-Qur-an rujuk kepada mereka, manusia masih hidup dalam zaman kegelapan yang jahil.

5. Dasar kelima yang membedakan azab Ilahi dengan bencana [biasa] adalah dirujuk pada ayat Kitab Suci Al-Qur-an berikut ini: Dan tidaklah Kami perlihatkan kepada mereka sesuatu tanda kecuali tanda itu lebih besar dari tanda-tanda yang sebelumnya. Dan Kami timpakan kepada mereka azab supaya mereka kembali [ke jalan yang benar]. (QS Az-Zukhruf:49)

Dengan kata lain, penetapan dan rencana yang berlaku dalam hukuman Ilahi dan hingga keunggulan akhir kebaikan atas keburukan, rangkaian hukuman itu bertambah parah dan menjadi lebih hebat dengan berjalannya waktu. Jika grafik ditarik dalam kehebatan hukuman Ilahi, kecuali beberapa peningkatan dan penurunan kecil, skala kehebatan bencana akan selalu meningkat lebih hebat sesuai dengan berjalannya waktu. Jika orang-orang tidak menerima ideologi nabi pada zaman itu, dan kerusakan menjadi nyata bagi mereka, maka akhirnya jatuh hukuman Ilahi adalah dalam bentuk yang paling hebat dan menentukan. Kehebatan yang sedemikian itu tidak ada dalam bencana-bencana biasa.

6. Ciri khas keenam adalah bahwa bencana-bencana biasa tidak dipengaruhi oleh keadaan hati manusia. Jika perasaan menyesal, penyesalan mendalam dan tobat dari dosa-dosa di masa lalu mulai timbul, dan sikap-sikap mulai condong kepada permohonan ampunan, maka hukuman Ilahi dicegah. Merujuk pada ciri khas istimewa ini, Kitab Suci Al-Qur-an mengatakan: Allah tidak akan mengazab mereka selagi mereka memohon ampunan. (QS Al-Anfal:34)

Dalam sejarah nabi-nabi terdahulu, kejadian di masa Nabi Yunus(a.s.) menyajikan contoh dari prinsip ini bahwa walaupun telah diberikan peringatan akan hukuman Ilahi, ketika kaum itu mulai memohon ampunan dinding [perlindungan] Tuhan yang tak dapat diubah berdiri laksana tembok yang tak dapat ditembus antara kaum itu dan hukuman Ilahi.

7. Satu ciri khas lain dari hukuman Ilahi adalah bahwa hukuman itu tidak terjadi hingga nabi pilihan itu meninggalkan kawasan yang ditetapkan untuk binasa. Misalnya, tertuju kepada Nabi Suci Muhammad(s.a.w.), Kitab Suci Al-Qur-an menyatakan: Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang engkau berada di antara mereka. (QS Al-Anfal:34)

Adalah jelas bahwa kemalangan-kemalangan tak menantikan siapa pun. Oleh sebab itu, orang-orang yang malang itu menunggu orang-orang suci itu untuk meninggalkan tempat itu dan hanya sekali ledakan ketika mereka telah pergi yang dalam bahasa agama diistilahkan, hukuman Ilahi.

Ketika kita bertanya kepada diri sendiri: Bagaimana para nabi itu dan para pengikut mereka melarikan diri dari tempat kebinasaan, jawabannya, adalah bahwa apakah nabi itu pergi beserta para sahabat beliau atau kaum zaman itu sendiri telah mengusir nabi itu dan para sahabat beliau dari kawasan mereka. Dalam salah satu dari dua hal, hukuman Ilahi dijatuhkan ketika nabi itu dan para sahabat beliau secara jasmani tidak berada di kawasan itu.

Di sini, mungkin relefan untuk merujuk pada satu keberatan para penentang terhadap Hadhrat Masih Mau’ud(a.s.) – mengapa beliau berkemah di kebun luar rumah ketika gempa bumi terjadi (yang beliau telah diperingatkan lebih dulu). Para penentang yang kurang akal menyebutkan hal ini dengan satu cara perolokan dan tidak berhenti sejenak untuk berpikir bahwa, sesuai dengan ajaran-ajaran Kitab Suci Al-Qur-an yang disebut terdahulu, amal para nabi telah selalu mengikuti peringatan akan bencana, mereka menerapkan sarana-sarana yang layak bagi keselamatan mereka dan Allah Ta’ala Sendiri memerintahkan mereka untuk membuat persiapan pada waktunya. Itu tak pernah terjadi bahwa sesudah memberikan peringatan akan hukuman Ilahi, nabi itu akan melalaikan segala sesuatu dan mengambil tempat di tengah-tengah tempat azab.

Ada beberapa jenis bencana yang terhadapnya tak ada sarana lahiriah untuk bertahan hidup yang dapat diterapkan. Walaupun ini, bencana-bencana sedemikian itu tak punya daya untuk menghancurkan orang-orang suci pilihan Tuhan. Sebab para nabi diberi-tahukan lebih dahulu akan bencana-bencana semacam itu, Tuhan memerintahkan mereka untuk menyiapkan sarana-sarana pencegahan, yang selain itu mereka tak menyiapkan sarana lebih lanjut. Bahkan kemudian para penentang, yang mampu menerapkan segala sarana yang tersedia bagi mereka, mendapatkan diri mereka tak dapat melarikan diri dari bencana itu. Namun nabi itu dan para sahabat beliau dilindungi dengan sesuatu kekuatan yang tak dikenal.

Satu contoh dari hal ini dalam sejarah nabi-nabi terdahulu dapat dijumpai selama zaman Nabi Musa(a.s.) ketika Bani Israil diperintahkan untuk menerapkan sarana pencegahan khusus, yakni larangan makan roti yang beragi. Selain dari ini, tak disebutkan sarana-sarana lain dalam catatan kuno atau sejarah, yang diambil. Sebaliknya, kaum Fir’aun sepenuhnya bebas untuk menggunakan semua pengobatan yang diketahui untuk mencegah wabah itu. Tapi ketika suatu penyakit yang berhubungan dengan darah itu tersebar di antara kaum Fir’aun, para pengikut Musa(a.s.) tidak terjangkit. Hanya kaum Fir’aun yang banyak menjadi korban wabah itu sedangkan para pengikut Musa(a.s.) tinggal di antara mereka.

Selama masa Hadhrat Masih Mau’ud(a.s.), satu contoh yang serupa dengan ini dapat dijumpai pada datangnya wabah, yang rinciannya akan menyusul pada tulisan berikutnya.

Sumber: Ahmadiyya Gazette Canada, June 1994, hal. 4-9.

Oleh: Hadhrat Mirza Tahir Ahmad(r.h.)
Alih bahasa:MA

2 Responses to “BENCANA ALAM ATAU HUKUMAN ILAHI?(bag 3)”


  1. 1 ny October 5, 2009 at 5:54 am

    Kemarin ada salah satu acara tauziah di salah satu stasiun tv,.ada seorang penelepon bertanya mengapa bencana seperti ini lebih sering terjadi di suatu negri yg mayoritas berpenduduk muslim.
    jawab: Bencana gempa itu ada terdiri dr 2 macam
    1. Gempa karena gejala2 alam dan ini biasanya terjadi dan tidak menimbulkan kerusakan.
    2. Bencana dahsyat gempa yg menimbulkan kerusakan2 yg hebat dan banyak korban jiwa, hal ini terjadi sebgai tanda kemarahan Tuhan karena mendustakan utusanNya yg telah datang ke dunia.

    Seandainya umat Islam saat ini bertafakur dan menyadari apa yg terjadi.Insaallah, Allah pun pasti meredam murkaNya.
    dan satu satunya jalan bila memang ingin selamat,umat Islam harus menerima&mengenal imam zamannya.tapi sayang seribu sayang seorang pembawa peringatan telah datang,kebanyakan dari umat muslim justru malah menolak dan mendustakannya. oleh karena itu bukanlah rahmat yg turun dari Allah melainkan laknat/azab Allah.
    dan kita harus sadar akan hal itu.

  2. 2 alatif December 5, 2009 at 11:36 pm

    Assalamualaikum wrwb.

    Kalau saya mengamati kenapa ALLAH menurunkan bencana alam yang memakan korban yang banyakm anak2,wanita2 dan orang2 tua,di sebabkan ulama2 yang dekat dgn umatnya dan yang tahu akan peraturan2 agamanya, namun mereka mengajarkan umat islam menyekutukan ALLAH dengan manusia lewat hadits2 Muslim dan Bukhari.

    Sedangkan yang dijamin kesucian oleh ALLAH hanya Al quran, alquranlah yang satu satunya kitab ALLAH yang bersih dari tangan2 manusia. Kitab2 hadits tidak di jamin oleh ALLAH kesuciannya dari kepalsuan2 yang menyesatkan umat Islam. ALLAH mengingatkan umat Islam dengan ayat ini;

    Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi(kekayaan,kemakmuran), tetapi mereka (pemimpin2,ulama2 ) mendus-takan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka(kemiskinan,kekacauan,dan musibah2) di-sebabkan perbuatan mereka sendiri”QS.7: 96)

    wassalam


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




AYO BERBELANJA DI TOKO ONLINE KAMI:

Statistik Blog

  • 215,909 hit

aku suka jalan-jalan

hidup adalah jalan-jalan. jalan-jalan adalah hidup

%d bloggers like this: