Di Masjid Chino, Kaum Ahmadi bisa beribadah dengan leluasa..

Laporan dari Chino – Selama hari-hari terakhir dibulan Ramadan, Ahmad Chaudhry Nuruddin mengurung diri di dalam kamar kecil di Masjid Bait ul Hameed hanya dengan sebuah matras, sebuah kursi dan beberapa buku agama.

Untuk menyempurnakan isolasi dirinya, pria 79 tahun yang sedikit bungkuk ini, merangkaikan selembar kain putih diatas pintu masuk.

Selama beberapa hari berikutnya, Nuruddin akan menjalankan I’tikaf, suatu kebiasaan dalam Islam dimana para penganutnya menjalani semacam pertapaan, mengasingkan diri dari dunia dan fokus hanya pada Illahi.

“Anda menghabiskan waktu Anda dalam mengingat bahwa Allah SWT telah menciptakan dunia untuk kepentingan manusia,” katanya. “Dia menciptakan matahari, bulan, planet-planet, sayuran dan buah-buahan, dan ia mengirimkan air sehingga orang dapat menikmati buah-buahan itu.”

Berpendidikan, ramah dan berwawasan luas, Nuruddin sangat tampak sebagai perwujudan dari orang yang religius.

Tapi ditanahairnya, Pakistan, katanya, ia bahkan tidak bisa menyebut dirinya sebagai seorang Muslim tanpa takut masuk penjara, pelecehan atau kematian.

“Kami tidak diizinkan untuk menjalankan ibadah kami secara terbuka,” kata Nuruddin, yang baru saja kembali dari kunjungan ke Lahore. “Kami tidak boleh menyebut masjid kami sebagai masjid.”

Masjid megah seluas 27.000 kaki persegi di Chino merupakan salah satu masjid terbesar di wilayah California Selatan melayani sekitar 800 orang adalah milik komunitas Ahmadiyah.

Aliran ini telah menentang mainstream Islam di akhir abad ke-19 dengan menyatakan bahwa pendirinya Hazrat Mirza Ghulam Ahmad sebagai Mesias yang telah lama ditunggu-tunggu ditakdirkan untuk menjadi “pembaharu zaman.”

Islam tadisional meyakini bahwa Muhammad adalah nabi terakhir.

Pada tahun 1974, parlemen Pakistan, atas bujukan ulama ortodoks, menyatakan Ahmadiyah sebagai non-Muslim. Sepuluh tahun kemudian mengadopsi sebuah peraturan yang melarang mereka dari melakukan beberapa unsur yang paling mendasar dalam Islam termasuk panggilan salat, membaca Quran dan mengucapkan dua Kalimah syahadat, frase yang mendefinisikan Islam, yang menyatakan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah nabiNya. Pelanggaran terhadap hal itu diancam dengan tiga tahun penjara dan denda.

Amnesty International mengatakan Ahmadiyah telah dibunuhi di Pakistan atas dasar keyakinan mereka dengan sedikit atau tanpa upaya oleh pemerintah untuk melindungi mereka atau untuk menemukan para pembunuh.

Pemerintah Pakistan menyangkal hal ini, dan mengatakan bahwasanya para pelaku tindak kekerasan telah ditangkap dan yang tidak toleran terhadap agama minoritas tidak akan ditolerir.

“Keyakinan para Ahmadi secara mutlak bertentangan dengan keyakinan Muslim lainnya, tetapi setiap orang memiliki hak ibadah yang sama di Pakistan,” kata Nadeem Kiani, jurubicara Kedutaan Besar Pakistan di Washington. “Ada beberapa orang yang mencoba untuk menghasut kekerasan sektarian dari waktu ke waktu untuk melaksanakan agenda mereka sendiri, tetapi sejauh pemerintah dan 99% dari masyarakat umum yang bersangkutan, tidak ada masalah dengan Ahmadiyah.”

Dia mengatakan, bagaimanapun, bahwa anggota sekte ini harus mengidentifikasi diri mereka sebagai Ahmadi dan bukan muslim.

Kaum Ahmadi mengatakan menyangkal identitas mereka seperti itu.

“Di negara ini, Anda memiliki kebebasan untuk beribadah,” kata Imam Shamshad Nasir, pemimpin spiritual dari Masjid Chino. “Bagaimana kita bisa memiliki semua kebebasan ini di negara Kristen tapi tidak ada negara-negara Muslim menawarkan jenis kebebasan yang sama ?”

Shamshad pernah menjabat sebagai mubaligh di Ghana dan Sierra Leone, selalu berbicara tentang keimannannya dengan penuh semangat. Ia banyak menulis untuk kolom-kolom disurat kabar berbahasa Inggris dan Urdu, berbicara pada pertemuan antar keyakinan dan memiliki acara radio mingguan. “Memahami Islam” yang mengudara setiap hari Selasa pukul 9.30 pagi di radio KCAA-AM (1050).

“Kami mewakili ajaran Islam bagi manusia modern – teh lama dalam cangkir baru,” katanya, yang duduk di antara jejeran rapi buku-buku di kantornya.

Pendiri aliran kami menyatakan bahwasanya jihad adalah perjuangan untuk tujuan baik, bukan untuk membunuh orang-orang kafir,” katanya. “Kami percaya Anda harus setia kepada negara Anda, patuh kepada pihak berwenang di manapun Anda berada. Anda harus menghormati umat manusia tanpa membedakan ras, warna kulit atau agama dan memperhatikan orang-orang yang membutuhkan pertolongan dan kaum miskin.”

Motto Ahmadi adalah “Love for all, hate for none.”

Namun, orang-orang masih memprotes aliran ini.

Suatu kelompok Muslim di New York bahkan memasang iklan di sebuah Koran Pakistan yang mendesak ummat seagamanya untuk berjaga-jaga terhadap Shamsad dan “kolom-kolomnya”.

“Dia sedang menipu orang,” tulis mereka. “Dia adalah Ahmadiyah dan dia bukan seorang muslim…. Jangan pernah tanyakan pertanyaan kepadanya, dan abaikan jawaban-jawabannya.”

Tetapi para pemimpin agama setempat tidak bersedia untuk menyatakan anggota Ahmadiyah sebagai bukan Muslim.

Shakeel Syed, direktur eksekutif Dewan Syura Islam California Selatan, sebuah organisasi yang memayungi masjid-masjid diwilayah ini, mengatakan bahwa Ahmadiyah tidak boleh dianiaya.

“Jika mereka memiliki keyakinan yang sama seperti yang diyakini semua Muslim mengenai keesaan Allah dan finalitas Nabi Muhammad, maka mereka adalah muslim,” katanya. “Dan jika mereka tidak menganut hal itu, mereka berhak untuk terus untuk apa yang mereka yakini benar tetapi tidak dapat dianggap sebagai bagian dari mainstream masyarakat Muslim.”

Dia cepat-cepat memberi catatan bahwa: “saya tidak akan mengatakan bahwa mereka bukan muslim. Saya tidak akan menghakimi mereka atas apa yang mereka yakini dan apa yang mereka tidak yakini.”

Kaum Ahmadi cenderung berpendidikan tinggi. Mereka mengklaim 99% tingkat melek huruf mereka di Pakistan.

Pada salat Jumat di Chino baru-baru ini, sekitar 220 orang, termasuk dokter, insinyur, pengacara dan ilmuwan, memadati sebuah ruangan berkarpet mendengarkan khotbah yang disampaikan oleh Shamshad. (Para wanita, yang juga sama-sama kaum cerdik pandai, menempati ruangan yang terpisah secara ketat.)

Satu-satunya orang Pakistan pemenang Hadiah Nobel, fisikawan Abdus Salam, adalah seorang Ahmadi yang pindah ke Eropa. Menantunya, Dr Hamid Rahman, adalah anggota dari masjid Chino, seorang ahli bedah ortopedi.

Dia mengatakan setidaknya ada 3.000 Ahmadi di California.

Ketika sholat Jum’at berakhir, Naser Noor muncul untuk mengenakan sepatu. Pemuda berusia 39 tahun, seorang bankir dari bank Rancho Cucamonga ini berasal dari Peshawar, sebuah kota yang merupakan benteng kaum Islam militan.

“Anda tidak akan pernah bisa mengungkapkan keimanan anda atau itu bisa meledakan Anda,” katanya. “Ketika saya kembali pada tahun 2008, itu benar-benar menakutkan.”

Sebuah video diposting di YouTube menunjukkan apa yang tampak dimana polisi berdiri disamping sekelompok orang yang dengan menggunakan pahat dan cat tengah menghapus kalimat dalam bahasa Arab dan tulisan ayat-ayat Qur’an dari masjid Ahmadi di timur-pusat kota Faisalabad. Sementara, kaum Ahmadi berurai air mata didalam sujud dan doa mereka.

Peristiwa-peristiwa semacam itu telah menyebabkan suatu perasaan keterasingan dari tanah air mereka.

“Ketika saya mendengar tentang hukum yang menjadikan kami sebagai non-Muslim, saya merasa saya tidak lagi dari Pakistan,” kata Anwer Khan, sekretaris jenderal masjid. “saya tidak benci karena saya dari sana, tapi saya kehilangan cinta terhadap negara saya.”

Namun, katanya, dia masih memiliki harapan.

“Kami memiliki 15.500 masjid di seluruh dunia. Kami membuka masjid 123 tahun ini. Jadi, siapa yang menang?” katanya.

“Kebencian selalu kalah. Cinta selalu menang.”

sumber: LOS ANGELES TIMES

1 Response to “Di Masjid Chino, Kaum Ahmadi bisa beribadah dengan leluasa..”


  1. 1 ny October 13, 2009 at 6:11 am

    Melihat sejarah kenabian dan kaum2 terdahulu,dimana kaum2 pengikut utusan Allah ta’ala itu pasti selalu di tindas, diasingkan,bahkan di ancam utk di bunuh.sampai mereka harus rela hijrah dari satu tempat ke tempat lainnya karena suatu penindasan atau ancaman. Apa yg di alami Rasulullah saw dan para nabi dulu serta pengikutnya,telah di alami oleh muslim Ahmadiyya di zaman modern sekarang ini. akan tetapi itu semua sudah menjadi ketentuan/hukum Tuhan,bahwa kebenaran akan selalu di tentang terlebih dahulu.Tp Allah swt akan tetap memberikan perlindungan,karunia bahkan memberikan kemenangan bagi kaum2 yg teraniaya.seharusnya umat/kaum sekarang bisa belajar dari kaum2 sebelumnya bagaimana Allah menghancurkan suatu kaum/negri yg dzalim terhadap utusanNya.Pada dasarnya tujuan dari seorang nabi datang adalah tidak lain utk memperbaiki ahlak manusia,tp sayangnya kebanyakan dari manusia itu sendiri adalah orang2 yg tdk mau mengerti dan tidak mau beriman.maka dari itu banyak laknat Allah yg datang seperti bencana2 besar,peperangan,penyakit yg mematikan dll.
    Bilamana Allah sudah murka, siapapun akan terhempas kecuali orang2 yg shaleh yg memang benar2 menuruti perintah Allah dan utusanNya.
    Bilamana memang kita tidak ingin mati sia2 atau mati secara jahiliyah. Kita harus mengenal Imam zaman kita di mana kita hidup saat ini.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




AYO BERBELANJA DI TOKO ONLINE KAMI:

Statistik Blog

  • 215,909 hit

aku suka jalan-jalan

hidup adalah jalan-jalan. jalan-jalan adalah hidup

%d bloggers like this: