Sains, Syair dan Prasangka

Ulang tahun ke 15 wafatnya Abdus Salam baru saja berlalu tanpa peringatan. Sedangkan ulang tahun kematian aktor Waheed Murad ke 25 yang jatuh pada hari yang sama telah dirayakan dengan penuh kemeriahan. Padahal mereka sendiri yang mengatakan; bahwa bangsa-bangsa yang tidak menghormati orang-orang besarnya berarti telah berhenti untuk menghasilkan orang-orang besar berikutnya.

Pakistan, tentunya, tidak pernah menghasilkan ilmuwan lain sekelas Salam ataupun mungkin aktor sepopuler Waheed. Apakah itu mengenai suatu riset yang serius ataupun permainan acting, panggung nasional tetaplah mandul.

Dilupakan ataupun dirayakan, beberapa orang-orang besar Pakistan telah dilahirkan dari kecelakaan. Dalam kasus Abdus Salam itu tidak hanya satu melainkan serangkaian kecelakaan. Lebih mencolok, dalam mengubah kecelakaan menjadi kesempatan, bantuan untuk Salam bukan datang dari teman-temannya melainkan justru datang dari orang-orang asing. Ironis, ketika orang-orang yang seharusnya membantu dia bahkan menciptakan rintangan yang justru telah membuka pintu ke kesempatan baru.

6621671_

Abdus Salam saat menerima Hadiah Nobel Fisika dari Raja Carl Gustav dari Swedia pada tahun 1979

Setelah meraih setiap gelar yang beliau bisa raih, menciptakan rekor baru sebelum beliau berusia 19 tahun, Salam berkeinginan untuk pergi melakukan penelitian di luar negeri akan tetapi tidak terpenuhi karena Sir Chhotu Ram, Menteri pajak Punjab dan seorang dermawan dari pemukiman warga miskin, tidak mengikhtiarkan sebuah beasiswa baginya di Cambridge. Itu adalah kecelakaan pertama karena bantuan justru datang dari pihak lain yang tak terduga.

Sebagai seorang Cambridge wrangler dan PhD dalam fisika teoretis, Salam kembali untuk mengajar di almamaternya. Demikian tampaknya ia set pada program studi yang, dengan keberuntungan, kelak akan membuatnya menjadikan ia Prinsipal dari Perguruan tinggi Pemerintah kecuali kalau ia dibujuk untuk bergabung dengan ICS. Kemudian datang kecelakaan kedua. Dia telah pergi ke Bombay untuk menghadiri konferensi ilmiah internasional dengan izin dari prinsipal. Tapi Ia meninggalkan konferensi itu saat sedang berlangsung, dan menolak kembali dikarenakan Menteri pendidikan tidak menyetujui keikut sertaannya tersebut.

Ia lebih memilih mengundurkan diri daripada menghadapi tuduhan dan kembali mengajar di Cambridge. Tiga tahun kemudian ia menjadi profesor termuda di London’s Imperial College and fellow of the Royal Society. Di sana ia bebas berdebat dengan seorang atheis bernama Bertrand Russell tentang keberadaan Allah dan dengan Albert Einstein tentang pandangan Islam tentang kesatuan dari kekuatan2.

Pada tahun 1959, ada kecelakaan lain. Komisaris tinggi India di London membawa kepadanya undangan dari Pandit Nehru untuk mengunjungi India. Nehru menawari beliau jabatan menteri dengan gaji sesuai yang ia minta dengan tanpa pertanyaan tentang uang yang akan dihabiskannya untuk keperluan penelitian. Tanpa disangka, Salam meminta waktu untuk memikirkan hal itu, kemudian ia melaporkan kepada Presiden Ayub apa yang telah terjadi. Dia pernah menolak tawaran serupa dari Ayub, tetapi setuju untuk bertindak sebagai penasihat ilmiah, namun ia tetap di Imperial College. Itu adalah masa ketika fondasi dari Komisi energi atom dan pembangkit listerik tenaga nuklir Pakistan telah diletakkan.

Salam juga menyarankan presiden untuk mendirikan pusat penelitian internasional di Pakistan di mana para ilmuwan dari seluruh dunia akan bertemu untuk bertukar ide dan pengetahuan. Menteri keuangan menentang rencana tersebut karena ia merasa itu sama saja dengan mendirikan hotel bintang lima untuk Salam dan teman-temannya. Lagi-lagi ia menolak tawaran India untuk menjadi tuan rumah pusat riset tersebut, berapapun biayanya, Salam lalu mendirikan pusat riset di Trieste dengan kontribusi besar berasal dari pemerintah Italia. Ribuan ilmuwan telah datang keTrieste – tidak kurang dari 500 orang berasal dari Pakistan. Pusat ini sekarang bernama The Abdus Salam International Centre for Theoritical Physics. Tentunya, sekarang Pakistan telah menjadi pusat penelitian ilmiah tersebut seandainya saja menteri keuangan pada kabinet presiden Ayub tidak malah mengejek rencana Salam kala itu.

Setelah memenangkan Hadiah Nobel pada tahun 1979, Salam tidak diundang ke perguruan tinggi almamaternya. Dia bahkan tidak masuk hitungan Perdana Menteri Nawaz Sharif’s sebagai tokoh terhormat dari asosiasi Old Ravians. Itu adalah periode tergelap Pakistan dari prasangka dan sterilitas intelektual. Sebaliknya ketika ia pergi ke Aligarh Muslim University untuk menerima gelar doktor kehormatan, seluruh warga kota itu turun untuk menyambut beliau dan mahasiswa mendorong mobil beliau sejauh satu mil ke kampus. Pemandangan serupa juga nampak pada sambutan di Universitas Guru Nanak.

Berulangkali Abdus Salam meminta kepada negara-negara Islam agar mau memberi kontribusi hanya satu persen saja dari pendapatan ekspor mereka untuk mendanai riset namun selalu diabaikan. Jadi tidak mengherankan bila kemudian Salam telah menjadi satu-satunya manusia dari dunia Islam yang pernah memenangkan Hadiah Nobel dalam ilmu fisika.

Ilmuwan yang mendapatkan manfaat dari The Abdus Salam Centre, Trieste – Mujahid Kamran, Ghulam Murtaza dan Pervez Hoodbhoy – sekarang tengah berjuang untuk menebus waktu dan kesempatan yang hilang. Satu sekolah matematika yang dinamai menurut namanyapun cepat mendapatkan pengakuan. LUMS juga telah membentuk sebuah badan Abdus Salam.

Masyarakat luas yang cepat terhasut oleh prasangka dipelihara oleh para politisi. Para ilmuwan dan warga negara saat ini sama-sama sepakat dengan apa yang dikemukakan oleh Prof Ahmad Ali dari Aligarh pada tahun 1979: ‘Abdus Salam adalah bukan hanya nama seorang tetapi merupakan suatu gerakan yang berusaha untuk menghapuskan kemiskinan dan kebodohan. Ini adalah gerakan untuk pengetahuan dan kebijaksanaan, tindakan dan daya tahan, untuk mengembalikan kebanggaan budaya kita sendiri dan untuk melancarkan jihad melawan prasangka, tirani dan eksploitasi.

Ketika Salam datang untuk menyampaikan Faiz Memorial Lecture di Lahore, orang-orang bertanya apakah keras kepala seorang ilmuwan dan romantisnya seorang penyair memiliki kesamaan? Salam menjawab “Keduanya diperlakukan persona non grata di negeri kami sendiri” Kemudian ia memperlihatkan kepada para hadirin satu bait syair karya Faiz yang ditulis tangannya sendiri dalam buku harian milik Salam, ketika mereka bertemu disebuah bandara asing: Nisar mein teri galiyon wathan ai pe keh jahan kunci RASM chali hai na koi sar utha ke chaley (Hidupku ini dipersembahkan ke jalan-jalan ibu pertiwi di mana adat menuntut bahwa tak seorang pun harus berjalan dengan kepala tegak). Ini adalah pemikiran yang menyedihkan bahwa ilmuwan Pakistan paling cemerlang dan penyair paling populer telah menjadi korban utama dari adat istiadat itu.

Pada akhirnya, inilah contoh rasa humoris dan kerendahan hati Salam yang menyatu. Ditanya apakah Jhang, desa Heer, untuk selanjutnya akan dikenal sebagai desa Salam, ia menjawab: “Ingat hanya ada satu Heer, pemenang Hadiah Nobel itu banyak.” Memang ada tapi hanya satu yang datang dari Pakistan. Ketika kita dapat berjalan-jalan dengan kepala tegak akan menjadi hari untuk mengingat Salam dan Faiz. Itu tidak akan mungkin tanpa mereka.

Sumber: Kunwar Idris di DAWN.COM

1 Response to “Sains, Syair dan Prasangka”


  1. 1 abas December 7, 2009 at 7:09 am

    Dosa Abdus Salam dimata pemerintah Pakistan adalah karena ia seorang Ahmadi…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




AYO BERBELANJA DI TOKO ONLINE KAMI:

Statistik Blog

  • 215,909 hit

aku suka jalan-jalan

hidup adalah jalan-jalan. jalan-jalan adalah hidup

%d bloggers like this: