Inilah Cara Mencapai Perdamaian Global!

—lebih dari 1400 tahun yang lalu Nabi Muhammad saw telah memberikan panduan tentang bagaimana perdamaian sejati bisa diraih, yaitu dengan cara Anda memperlakukan orang lain sama seperti apa yang diri Anda ingin diperlakukan.—

—Di Palestina, Pemerintah Negara-negara Barat secara terus-menerus tutup mata terhadap serangan-serangan pasukan Israel. —Jika mereka percaya bahwa dalam jangka panjang serangan mereka akan meningkatkan perdamaian dan keamanan, mereka sangat keliru karena kebencian akan secara alami berkembang di hati warga Palestina yang tak berdaya.–

–”Bisakah anak-anak tak berdosa yang telah melihat rumah mereka dihancurkan; yang melihat saudara-saudara mereka dibunuh tanpa alasan apapun; yang melihat orangtua mereka yang tak berdaya menjadi target pembunuhan dan memohon untuk hidup mereka; dapatkah mereka anak-anak yang tak berdosa itu menghapus adegan-adegan yang mengerikan dari ingatan mereka. Frustrasi batin mereka akan membuat mereka cemas, dan ketika kegelisahan ini terwujud, maka akan mengakibatkan kekacauan dan akan menyebabkan reaksi.”–

–Permasalahan lain yang mengancam perdamaian dunia adalah campur tangan yang tidak perlu dari Negara dalam hal urusan pribadi seorang individu. –

– “Apakah seorang wanita yang mengenakan atau tidak mengenakan jilbab mempengaruhi perekonomian negara manapun atau dunia? Apakah memakai atau tidak memakai sebuah cadar atau memiliki atau tidak memiliki menara mempengaruhi nilai-nilai moral suatu Negara atau itu akan mengarah ke pengakuan atas Pencipta? Apakah memakai atau tidak memakai sebuah cadar atau memiliki atau tidak memiliki menara memperbaiki atau membahayakan perdamaian dunia?–

Selengkapnya:

Simposium Damai 2010

Semalam Khallifah selaku Pimpinan Tertinggi dari Jamaah Muslim Ahmadiyah, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, berbicara panjang lebar tentang bagaimana cara mencapai perdamaian global, saat beliau menyampaikan pidato utama pada acara Konferensi Perdamaian Tahunan ketujuh yang diselenggarakan oleh Jamaah Muslim Ahmadiyah Inggris di mesjid Bait-ul-Futuh, Morden. Acara ini dihadiri oleh lebih dari 550 orang tamu non-Ahmadi, termasuk diantaranya sejumlah anggota parlemen. Pada acara ini pula Hadhrat Mirza Masroor Ahmad menganugrahkan medali Ahmadiyya Peace Prize kepada Lord Eric Avebury sebagai pengakuan atas segala upayanya yang terus menerus melindungi hak asasi manusia di seluruh dunia.

Rafiq Hayat, Presiden Nasional Jamaah Muslim Ahmadiyah Inggris, membuka acara dengan menyambut para tamu. Beliau mengatakan bahwa di bawah kepemimpinan Hadhrat Mirza Masroor Ahmad Jamaah Muslim Ahmadiyah telah dikenal dalam hal memberikan pelayanan untuk kemanusiaan. Beliau mengatakan bahwa ratusan sekolah, perguruan tinggi dan rumah sakit yang dijalankan oleh Jamaah Muslim Ahmadiyah di kota-kota dan desa-desa terpencil di Afrika di mana pendidikan atau perawatan kesehatan ini disediakan kepada semua orang terlepas dari keyakinan ataupun warna kulitnya.

Siobhain McDonagh, anggota parlemen untuk Mitcham dan Morden, berbicara tentang bagaimana meskipun ada perbedaan iman, namun semua manusia memiliki keinginan yang sama dalam hal memperoleh kebahagiaan, kesetaraan dan rasa hormat. Nilai-nilai ini, katanya, jelas-jelas dinyatakan oleh Al Qur’an.

Menteri Bayangan Transportasi, Stephen Hammond MP, berkomentar bahwa kebanyakan konflik di dunia ini didasarkan pada “mudahnya terjadi kesalahpahaman” dan bahwa fungsi dari kegiatan semacam Konferensi Perdamaian adalah sebuah cara untuk menghilangkan kesalahpahaman dan ketidakpercayaan.

Laura Moffatt, anggota parlemen yang membawahi wilayah Crawley,  mengatakan bahwa ia percaya bahwa “tidak mungkin ada satu jiwa yang tidak mendukung kerja komunitas Muslim Ahmadiyah ”. Beliau menambahkan bahwa ia berharap bahwa sebuah masjid Ahmadiyah akan segera dibuka di wilayahnya.

Menteri Bayangan Komunitas dan Pemerintah Daerah, Justine Greening MP, mengatakan bahwa untuk perdamaian mengembangkan pemahaman, toleransi dan rasa hormat adalah merupakan faktor-faktor kunci. Beliau mengatakan bahwa Jamaah Muslim Ahmadiyah telah secara aktif terlibat dalam upaya-upaya ‘Mendobrak rintangan yang ada’.

Tom Cox, seorang anggota parlemen semenjak tahun 1970 hingga tahun 2005, berbicara tentang penganiayaan berkelanjutan kepada warga Ahmadiyah di Pakistan. Ia mengatakan bahwa ia baru-baru ini mengunjungi negara itu dan telah melihat sendiri kekejaman yang menimpa warga Ahmadiyah. Beliau mengatakan beberapa telah dibunuh secara brutal, sementara yang lainnya dipenjarakan selama bertahun-tahun tanpa memperoleh keadilan. Beliau juga tersentak oleh kenyataan bahwa meskipun
sedang berlangsung kekejaman terhadap mereka namun semua Ahmadi tetap teguh dengan motto “Cinta untuk Semua, Tidak ada Kebencian bagi Siapapun”

Martin Linton, anggota parlemen wilayah Battersea, mengatakan bahwa dia adalah seorang ‘pengagum’ Islam dan khususnya Jamaah Muslim Ahmadiyah. Dia mengatakan bahwa Jamaah Muslim Ahmadiyah telah menampilkan contoh yang luar biasa dari toleransi dan rasa hormat untuk semua.

Tom Brake, anggota parlemen untuk Carshalton dan Wallington, mengatakan bahwa pesan damai dari Jamaah Muslim Ahmadiyah perlu diperdengarkan di seluruh dunia. Dia menambahkan tentang keyakinannya bahwa semua partai politik besar akan mencoba berusaha sekuat-kuatnya untuk membawa masalah dan mengakhiri penganiayaan terhadap Jamaah Muslim Ahmadiyah.

Andrew Pelling, anggota parlemen untuk Croydon Tengah, mengatakan bahwa hal itu sangat penting untuk memahami kebutuhan dan pentingnya perdamaian dunia dan bahwa ia berharap bahwa kekejaman yang ditimpakan kepada Ahmadiyah dan orang Kristen di Pakistan akan segera berakhir.

Dominic Grieve QC, Sekretaris Bayangan Negara untuk Keadilan, mengatakan ia menyadari bahwa Jamaah Muslim Ahmadiyah sedang melakukan banyak hal di tingkat lokal untuk membawa perdamaian dan toleransi.

Usai pidato dari para anggota parlemen dilanjutkan dengan penganugrahan Ahmadiyya Peace Prize kepada Lord Eric Avebury, sebagai pengakuan atas pengabdian seumur hidup beliau dalam masalah hak asasi manusia. Penghargaan ini diserahkan bersama dengan selembar cek senilai $ 10.000. Penyerahan dilakukan oleh Hadhrat Mirza Masroor Ahmad. Setelah menerima penghargaan, Lord Avebury mengatakan bahwa ia telah merasa ‘kewalahan’ oleh kehormatan ini. Mengomentari motto Ahmadiyah ‘Love for All, Hatred for None’ ia mengungkapkan bahwa jika orang lain menjalani kehidupan mereka sesuai dengan prinsip ini maka akan ada jauh lebih sedikit konflik di dunia. Beliau mengutuk penganiayaan yang telah lama dilakukan terhadap Jamaah Muslim Ahmadiyah di berbagai negara dan mengatakan bahwa ini merupakan masalah di mana semua para politisi Inggris sepakat.

Pidato utama oleh Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifah ke V dari Jamaah Muslim Ahmadiyah dimulai pada 8:25. Selama empat puluh menit Khalifah membahas tentang kendala utama yang menghambat perdamaian yang tahan lama: penindasan kepada kelompok minoritas; korupsi; kegagalan pemerintah untuk mengambil langkah-langkah konkret mencegah kelaliman; kesibukan kelompok-kelompok tertentu dengan mengganggu hak-hak dasar individu dan kegagalan yang terus menerus dari Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk bekerja sebagai organisasi persatuan di mana semua negara itu sama.

Khalifah memulai pidatonya dengan menyoroti “tujuan besar” yang diingini oleh semua orang. Tujuan besar itu adalah perdamaian baik pada tingkat individu maupun tingkatan sosial. Beliau katakan bahwa lebih dari 1400 tahun yang lalu Nabi Muhammad saw telah memberikan panduan tentang bagaimana perdamaian sejati bisa diraih, yaitu dengan cara Anda memperlakukan orang lain sama seperti apa yang diri Anda ingin diperlakukan. Khalifah mengatakan bahwa aplikasikan prinsip emas ini sekarang seperti yang pernah dilakukan sebelumnya.

Beliau melanjutkan bahwa di dunia sekarang ini keinginan untuk perdamaian menjadi sebuah mimpi yang jauh. Kekejaman dan konflik menggantikan cinta dan harmoni sebagai masalah norma.

Negara-negara Barat menanggung sebagian tanggung jawab untuk keadaan yang menyedihkan ini. Khalifah menyebutkan Ethiopia, sebuah negara yang dilanda kelaparan dan kekerasan. Meskipun bantuan terbatas telah dikirim ke sana dari ke waktu, namun karena korupsi kebanyakan tidak pernah sampai kepada orang–orang tak berdosa pria, wanita dan anak-anak yang kelaparan. Sebaliknya pejabat korup menggunakan kekayaan untuk kesenangan pribadi mereka sendiri atau untuk menimbun senjata dari negara kuat sebagai alat untuk mempertahankan kursi kekuasaan mereka sendiri.

Di Palestina, Pemerintah Negara-negara Barat terus-menerus menutup mata terhadap serangan pasukan Israel. Beliau mengatakan bahwa bahkan jikapun Palestina tidak bersalah tanggapan Israel sepenuhnya tidak proporsional. Jika mereka percaya bahwa dalam jangka panjang serangan mereka akan meningkatkan perdamaian dan keamanan mereka sangat keliru karena kebencian akan secara alami berkembang di hati para warga
Palestina yang tak berdaya. Beliau berujar:

“Bisakah anak-anak tak berdosa yang melihat rumah mereka dihancurkan; yang melihat saudara-saudara mereka yang dibunuh tanpa alasan apapun; yang melihat orangtua mereka yang tak berdaya menjadi bulan-bulanan dan memohon untuk hidup mereka; dapatkah anak-anak yang tak berdosa itu menghapus adegan-adegan yang mengerikan dari ingatan mereka. Frustrasi batin mereka akan membuat mereka cemas, dan ketika kegelisahan ini terwujud, maka akan mengakibatkan kekacauan dan akan menyebabkan reaksi.”

Khalifah kemudian melanjutkan pidatonya dengan mengkritik kegagalan dasar Perserikatan Bangsa-Bangsa dan sifat melayani diri yang lebih kuat dari negara-negara anggota. Dengan mengijinkan lima anggota tetap Dewan Keamanan untuk mempertahankan hak untuk memveto telah memungkiri persyaratan mutlak untuk keadilan dan kesetaraan.

Permasalahan lain yang mengancam perdamaian dunia adalah campur tangan yang tidak perlu dari Negara dalam urusan pribadi seorang individu. Beliau mengatakan bahwa peran keamanan Pemerintah adalah membuat undang-undang tentang hal-hal yang merupakan ancaman bagi bangsa. Akan tetapi dimana kedamaian negara tidak beresiko maka Pemerintah tidak punya hak untuk campur tangan. beliau berkata:

“Daripada ikut campur yang tidak perlu dalam urusan orang lain dan mendirikan tembok kebencian kita mestinya bersikap untuk meruntuhkannya. Pemerintah tidak boleh ikut campur selama tidak ada hak-hak yang dilanggar. Harus tidak ada aturan yang melarang mengenai hal-hal yang tidak membahayakan perdamaian bangsa. Tentu saja, di mana ada ancaman bagi perdamaian bangsa; di mana ada kemungkinan merugikan kemakmuran dan kemajuan bangsa; di mana hak-hak warga negara yang terlalu dibatasi dan di mana seseorang dijadikan simbol kebencian karena agamanya, di sana Pemerintah harus ikut campur dan mengatur.”

Khalifah kemudian berkomentar tentang larangan parsial Hijab yang sedang serius dipertimbangkan oleh legislatif Perancis. beliau berkata:

“Setiap kali saya merenungkan hal ini saya belum mampu memahami di mana letak masalah kebohongan bahwa purdah telah menjadi suatu ancaman bagi Pemerintah. Apakah semacam kejahatan keji mengenakan mantel dan penutup kepala dan dagu seseorang dengan sepotong kain sehingga seluruh Parlemen duduk untuk mengeluarkan undang-undang menentang itu?”

Masalah khusus ini, kata beliu, memiliki potensi untuk mengakibatkan banyak ketidakpercayaan dan terluka di dunia Muslim. Ketidakpercayaan seperti itu jelas hanya bisa menghambat tujuan-tujuan damai. Siapa yang tahu di mana situasi ini akan berakhir? Apakah wanita Kristen atau Perempuan Yahudi yang memilih untuk berpakaian sopan juga akan dilawan undang-undang? Akankah Negara-negara Islam melarang segala bentuk pakaian Eropa? Dan hal lebih besar yang perlu diperhatikan adalah bahwa jika hukum-hukum ini dilaksanakan maka kaum perempuan akan ditolak untuk memperoleh hak dasar sipil mereka seperti kesehatan, pendidikan dan hak untuk bepergian hanya karena mereka mencoba untuk menjalani kehidupan mereka sesuai dengan ajaran Islam. Beliau memberikan contoh seorang gadis Ahmadi Muslim di Jerman yang disebabkan oleh semangat berlebihan dari bagian administrasi sekolah setempat telah dipaksa keluar dari pendidikan walaupun Gadis itu sangat cerdas dan seorang pekerja keras. Ini hanyalah satu kasus di mana seorang Gadis muslim yang bisa saja memberi pelayanan yang nyata kepada negaranya ditolak hak untuk mengeksplorasi dan mengembangkan bakatnya.

Masalah menara di masjid-masjid juga telah menjadi sebuah isu yang telah menimbulkan keprihatinan dan memang telah dilarang beberapa bulan sebelumnya di Swiss. Khalifah mengatakan bahwa jika ada kekhawatiran bahwa masjid adalah tempat berkembang biak bagi para teroris kemudian mengeluarkan menara tidak akan membuat perbedaan. Teroris seperti itu akan tertangkap oleh kepolisian yang lebih baik bukan dengan menghapus simbol damai tempat seorang Muslim ibadah. Ada begitu banyak masalah lebih besar di dunia saat ini; PHK, kesulitan ekonomi, orang-orang berjuang untuk bisa makan. Ini adalah isu-isu utama yang harus diatasi untuk munculnya perdamaian. Khalifah menyimpulkan dengan mengamati:

“Apakah seorang wanita yang mengenakan atau tidak mengenakan jilbab mempengaruhi perekonomian negara manapun atau dunia? Apakah memakai atau tidak memakai sebuah cadar atau memiliki atau tidak memiliki menara mempengaruhi nilai-nilai moral suatu negara atau akankah itu menuntun penghargaan dari Sang Pencipta? Apakah memakai atau tidak memakai sebuah cadar atau memiliki atau tidak memiliki menara akan meningkatkan atau membahayakan perdamaian dunia? Jika itu membuat demikian maka saya akan menjadi yang pertama menerimanya karena Islam mengajarkan bahwa Anda harus bersedia mengorbankan sesuatu yang kecil untuk kebaikan yang lebih besar. Tapi tidak! Semua tindakan ini justru memperkuat fondasi kebencian.”

Usai pidato utama para tamu menikmati makan malam dan kemudian mempunyai kesempatan untuk bertemu dengan Khalifah. Banyak dari para tamu berkomentar atas pidato beliau, sebagian dari mereka memohon doa beliau.

Acara diakhiri dengan ramah tamah Khalifah dengan kalangan Pers dan Media. Berlangsung diskusi mengenai berbagai hal, terutama politik dan ketidakstabilan sosial saat ini yang melanda Pakistan.

0 Responses to “Inilah Cara Mencapai Perdamaian Global!”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




AYO BERBELANJA DI TOKO ONLINE KAMI:

Statistik Blog

  • 258,626 hit

aku suka jalan-jalan

hidup adalah jalan-jalan. jalan-jalan adalah hidup

%d bloggers like this: