Dunia Yang Satu!

Ketika kita membicarakan dunia yang satu, apa jenis dunia yang kita pikirkan, apa jenis dunia yang akan berjalan? Sesungguhnya, bukan satu dunia kelaparan, penyakit dan kebodohan; dan secara bersamaan, saya harap, bukan satu dunia pecandu alkohol, pecandu narkoba, penjudi dan penjahat. Kita mengharapkan satu dunia yang lemah-lembut dan cinta kasih, saling berbagi dan kerja sama, ketenangan dan sikap baik, keadilan dan kasih sayang, persamaan dan tanpa diskriminasi, damai dan teratur, ceria dan niat baik, maju dan makmur. Jalan ke arah dunia semacam itu hanyalah melalui Tuhan. Kita wajib melakukan upaya yang diperlukan, dan perjuangan kita wajib dengan ikhlas, sabar dan gigih, tapi keberhasilan akan tiba hanya melalui Karunia Ilahi.

Artikel ini merupakan naskah pidato Sir Muhammad Zafrullah Khan (1893-1985) yang beliau sampaikan di Cornell University tanggal 2 Mei 1974.Sedikit bio data beliau:
Sesudah tamat dari Government College Lahore tahun 1911, beliau melanjutkan pelajaran hukum di King’s College London, dan bahkan diundang ke the Bar di Lincoln’s Inn. Atas pemintaan Muhammad Ali Jinnah, pendiri Pakistan, beliau mewakili the Muslim League (Liga Muslim) pada bulan Juli 1947 di hadapan the Radcliffe Boundary Commission (Komisi Perbatasan Radcliffe). Pada Desember 1947 beliau mewakili Pakistan di the United Nations’ General Assembly (Sidang Umum PBB) sebagai ketua delegasi Pakistan dan membela hak dunia Muslim mengenai masalah Palestina. Beliau diangkat sebagai Menteri Luar Negeri Pakistan pertama pada tahun 1947, satu kedudukan yang beliau pegang hingga tahun 1954. Dari tahun 1962-63 beliau menjadi President of the UN General Assembly (Ketua Sidang Umum PBB): Pada tahun 1970, beliau dipilih sebagai President of the International Court of Justice (Ketua Mahkamah Internasional), Den Haag, satu kedudukan yang beliau pegang hingga tahun 1973. Hal penting lainnya mengenai Sir Zafrullah Khan adalah bahwasanya beliau adalah juga seorang ulama terkemuka dari Jamaah Muslim Ahmadiyah. Beliau adalah seorang penulis yang ulung, telah menerjemahkan Al-Qur-an dalam Bahasa Inggris dan telah menulis beberapa buah buku. Beliau juga seorang ahli pidato yang cemerlang; dalam suatu konperensi meja bundar the Muslim League (Liga Muslim) beliau menyudutkan Churchill, yang terpaksa menerima pandangan dari Sir Zafrullah.
Berikut pidato beliau selengkapnya:

Saya menganggapnya sebagai satu kehormatan dan keistimewaan diundang untuk menyampaikan pidato kepada kumpulan orang-orang terkemuka pada malam ini mengenai Jalan-Jalan Menuju Satu Dunia, dan saya sangat berterima kasih kepada the Interreligious International Ministry (Kementerian Antar Agama Internasional) di Cornell and the Temple of Understanding, Washington DC, atas undangan ini. Kita semua bersedih atas sakitnya rekan tercinta kita, Yang Terhormat, Dr. U. Thant, yang telah terluput dari memberikan kepada kita manfaat dari ilmu pengetahuan, pengalaman dan kebijaksanaan beliau pada malam ini seperti yang telah diniatkan. Kita semua mendo’akan dengan rendah hati bagi kesembuhan kesehatan dan kekuatan beliau dengan segera. Saya sangat menyadari kekurangan-kekurangan saya sendiri sebagai pengganti yang lemah dan tak berdaya, tapi kepercayaan atas kemurahan hati anda mengatasi semuanya.

Atas dasar georafis murni kita dengan cepat sedang menjadi satu dunia. Sarana-sarana dan kecepatan perhubungan (komunikasi) sedang meningkat dan bergerak cepat dengan nilai (jumlah) yang luar biasa, dan masalah-masalah yang kepadanya gejala itu telah timbul sedang menuntut bagi penyelesaian yang jika ditolak atau ditunda hanya menyebabkan bencana yang mengerikan.

Pencarian pemecahan masalah harus ditempuh melalui simpati, pengertian dan persuasi pada segala lapisan dan setiap waktu. Sungguh, tiga hal ini; simpati, pengertian dan persuasi, merupakan keperluan di setiap lapisan dan sektor: sosial, masyarakat, bangsa, antar bangsa, global dan universal. Keperluan yang berhubungan dengan akal ini telah mulai dipegang sebelum akhir seperempat abad pertama dari abad ini yang menjadi tuntutan menjelang akhir Perang Dunia Kedua dan mengilhami the Charter of the United Nations (Piagam PBB), dan penyusunan organisasi dan badan-badan khususnya. Banyak yang telah dicapai melaluinya dan di luar itu, tapi tujuan yang lebih luas tetap untuk dicapai, kebanyakan dari kepentingannya, dengan kecepatan tinggi dan pada satu skala yang luas.

Telah dikatakan bahwa dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa ada juga tekanan besar pada bangsa-bangsa dan tidak cukup pada perserikatan. Jawaban yang nyata adalah bahwa harus ada bangsa-bangsa sebelum mereka dapat bersatu. Itu harus dihargai bahwa Organisasi itu telah memacu dan mempercepat proses rakyat yang menjadi tuan di rumah mereka sendiri sehingga mereka boleh bersatu dalam kerja sama bagi kebaikan bersama. Proses itu telah hampir disempurnakan dan ada hasil dari yang Organisasi ini telah capai pada ambang pintu kesemestaan. Masih ada beberapa kesukaran, yang tampaknya sangat keras, halangan-halangan yang harus diatasi, tapi sekarang ini adalah terlalu kuat menuju pada kebebasan manusia dan kemuliaan manusia untuk membiarkan halangan itu berkelanjutan. Marilah kita berharap agar halangan itu akan segera teratasi melalui dalil pemahaman yang mendalam dan bahwa tak ada manusia yang terlibat dalam penderitaan lebih lanjut. Sekali proses itu disempurnakan kita akan sampai lebih dekat pada kenyataan visi kita dari jenis satu dunia yang kita ingin melihatnya berjalan.

Dalam lingkup politik, Perserikatan Bangsa-Bangsa telah mengembangkan kelompok ketiga dari negara-negara yang tak berpihak, yang telah membantu meredakan beberapa ketegangan sebagai akibat dari polarisasi dunia yang para adi daya telah menyeret dunia ke dalamnya segera sesudah pembentukan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Kelompok ini juga terus menerus mempercepat penghilangan kelaparan, penyakit dan kebodohan dari setiap bagian dunia, dan sedang meningkatkan taraf hidup rata-rata ke satu tingkat yang masuk akal di seluruh dunia. Kini tujuan-tujuan ini disetujui secara universal; perbedaan-perbedaan yang masih menghambat berhubungan dengan cara-cara dan langkah-langkah.

Ketika kita membicarakan dunia yang satu, apa jenis dunia yang kita pikirkan, apa jenis dunia yang akan berjalan? Sesungguhnya, bukan satu dunia kelaparan, penyakit dan kebodohan; dan secara bersamaan, saya harap, bukan satu dunia pecandu alkohol, pecandu narkoba, penjudi dan penjahat. Kita mengharapkan satu dunia yang lemah-lembut dan cinta kasih, saling berbagi dan kerja sama, ketenangan dan sikap baik, keadilan dan kasih sayang, persamaan dan tanpa diskriminasi, damai dan teratur, ceria dan niat baik, maju dan makmur. Jalan ke arah dunia semacam itu hanyalah melalui Tuhan. Kita wajib melakukan upaya yang diperlukan, dan perjuangan kita wajib dengan ikhlas, sabar dan gigih, tapi keberhasilan akan tiba hanya melalui Karunia Ilahi.

Kelaparan, penyakit dan kebodohan pada hari ini adalah bukan tak dapat dihilangkan. Upaya, tenaga dan sumber daya yang sedang diarahkan kepada pembuatan senjata-senjata penghancur, jika digunakan dalam khidmat kepada manusia akan menghapuskan kelaparan, dapat mencegah atau menanggulangi penyakit dan kebodohan. Apa yang diperlukan adalah keyakinan mendalam akan pertanggung jawaban kepada Tuhan, untuk segala karunia-Nya.

Setiap penambahan ilmu pengetahuan merupakan karunia Ilahi dan hukum-Nya yang teratur adalah:

“Jika kalian bersyukur, Aku pasti akan tambahkan nikmat kepada kalian, dan jika kalian mengingkari, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Al Qur-an 14:8)

Di sini ada satu peringatan yang jelas bahwa penyalah gunaan karunia Ilahi akan membelokkannya menjadi alat kebinasaan dan kemalangan. Dari hal itu kita juga mempunyai gambaran yang jelas di hadapan kita, hanya jika kita memperhatikannya dan mengambil pelajaran yang jelas darinya.

Walaupun Malthus dan orang-orang yang sepemikiran dengannya, membuat perhitungan selayaknya bagi ledakan penduduk, total produksi makanan hari ini, berterima kasih kepada penerapan ilmu pengetahuan dan metode pertanian, tidak bermaksud mengecilkan tuntutan-tuntutan sarana. Keadaan-keadaan kelaparan yang dihadapi dari waktu ke waktu di berbagai belahan dunia, akibat dari kegagalan panen, mempunyai akarnya dalam sebab-sebab yang dapat dipulihkan, yang dapat diramalkan dan disediakan penangkalnya, memberikan harapan yang lebih besar untuk membantu, lebih banyak simpati bagi penderitaan manusia, pemikiran dan rasa tanggung jawab yang lebih besar. Kawasan-kawasan tanah subur yang luas sedang menunggu untuk ditanami, sejumlah besar air sungai yang memberikan kehidupan mengalir ke laut-laut yang dapat dimanfaatkan bagi pengairan kawasan-kawasan bumi yang lebih kering, proyek-proyek pengendalian banjir dapat menyelamatkan panen dari kehancuran di kawasan-kawasan pasang surut, pemanfaatan metode ilmiah yang lebih intensif dan penyuburan dapat memperkirakan hasil, yang menghasilkan panen empat kali lipat selama bertahun-tahun, satu-satunya prioritas yang tersedia ditetapkan bagi keperluan-keperluan manusia di atas tujuan-tujuan dan kebijakan-kebijakan politik.

Dalam masalah makanan, pakaian dan perumahan sepatah kata peringatan perlu disampaikan kepada masyarakat yang mampu. Manakala hal itu diharapkan bahwa setiap upaya harus diadakan untuk meningkatkan taraf hidup di setiap tempat, sesegera mungkin, hingga pada tingkat kesejahteraan yang masuk akal bagi semua sebagai kehormatan manusia yang layak, kepedulian harus diberikan bahwa orang-orang yang diberkati dengan kekayaan dalam harta benda duniawi menggunakan harta itu secara layak dan tidak memamerkannya di hadapan sesama mereka yang bernasib kurang beruntung. Segala hal yang berlebih-lebihan wajib dijauhi atau dihindari. Jalan tengah dalam segala hal merupakan satu aturan yang umum. Selain itu, ia merupakan cara-cara yang baik. Ada satu pepatah Belanda: Cukup adalah cukup, tapi banyak adalah terlalu banyak!

Pencegahan dan pengobatan penyakit menyajikan lebih sedikit permasalahan yang rumit, tapi di sini saya sangat gembira dengan keberhasilan yang menakjubkan dari gabungan program percobaan bantuan pendidikan dan pengobatan di empat negara Afrika Barat tiga tahun belakangan ini yang diluncurkan oleh  Jamaat Muslim Ahmadiyyah dengan skala yang sangat sederhana. Ini telah memperagakan (membuktikan) bagaimana banyak yang mungkin dapat dicapai melalui hal yang kecil (sedikit), jika upaya itu diilhami dengan niat semata-mata mencari keridhaan Tuhan melalui pengabdian dan khidmat yang tak mementingkan diri sendiri kepada makhluk-makhluk-Nya. Satu ciri khas yang ditekankan dari program ini adalah ciri khas yang murni suka rela yang sepenuhnya terlepas dari [bantuan] resmi atau pemerintah. Keberhasilannya sejauh ini telah menggalakkan harapan bahwa hal itu mungkin menjadi segera meluas dan meningkat di masa depan, maka hal itu berlaku sebagai alat untuk memerangi penyakit dan kebodohan di kawasan-kawasan di mana keperluannya paling mendesak dan meningkat.

Dengan tibanya dunia yang bersatu, hubungan antar manusia akan menjadi lebih lancar dan lebih mudah. Hambatan-hambatan yang dibuat-buat seharusnya disingkirkan atau dikurangi, sejauh mana memungkinkan. Sedangkan kerapian dalam segala hal akan dihargai dan penerapannya hendaklah digalakkan, formalitas dan upacara harus dikurangi hingga batas terkecil di mana pun hal-hal itu cenderung menghalangi hubungan manusia dengan manusia. Saya menghimbau berulang-ulang pada satu kesempatan selama bertahun-tahun sejak waktu saya diundang untuk pertemuan santap malam World Brotherhood (persaudaraan dunia) di Washington DC, dan selaku Vice-President of the Organization (wakil ketua), diharapkan untuk mengucapkan beberapa patah kata dalam menyokong tujuannya. Kartu undangan dikhususkan dengan pita hitam yang dikenakan. Saya hadir di ruangan itu dan, ketika tiba giliran saya untuk berbicara, saya menunjukkan bahwa jalan persaudaraan dunia tidak akan dikemukakan jika saya tidak dapat duduk makan bersama dengan sesama hingga kita dipakaikan dengan pakaian tertentu (bersepakat). Itulah akhir acara santap malam World Brotherhood!

Kebanyakan dari kita cenderung membuat anggapan yang alami bahwa makin dekat kita mendekati satu dunia makin banyak bagian dunia lainnya akan menerapkan pola-pola itu dan menganggap sedang terjebak pada apa yang kita sendiri telah menjadi terbiasa, dan bahwa sebagian besar dunia akan menempuh jalan-jalan yang bertentangan dengan hasrat-hasrat hati kita. Kita harus membujuk diri kita sendiri bahwa apa pun perbedaan bahasa, warna kulit, ras pakaian atau pola hidup yang mungkin ada, merupakan kebenaran yang tetap bahwa walaupun ada semua perbedaan ini  “seorang manusia adalah manusia bagi  keadaan itu.”

Demikian banyak untuk menghilangkan kelaparan, penyakit dan kebodohan. Hari ini kita memiliki sarana-sarana yang berlimpah untuk tujuan itu. Apa yang diperlukan adalah kehendak dan tekad. Jika ini diberikan adalah tidak sukar untuk mengatasi penyakit-penyakit yang merupakan hasil dari keinginan. Satu pendekatan yang berbeda diperlukan untuk menghilangkan penyakit-penyakit yang orang-orang kaya timbulkan. Kita dapat, jika kita pilih, mengubur kepala-kepala kita di pasir dalam upaya sia-sia untuk mengabaikan mereka, atau kita dapat menggalakkan keberanian yang cukup untuk mengenali dan menghadapinya dan kemudian mencari upaya penyembuhan dan menerapkannya. Kita harus mengakui, bagaimana pun, bahwa pengalaman kita dalam hal itu adalah sangat tidak memadai sejauh ini.

Disiplin yang dengannya saya mendapat kehormatan menjadi bagian darinya, yakni Islam, mengajarkan bahwa manusia merupakan satu kesatuan tubuh, pikiran dan ruh, dan unsur-unsur ini secara tetap beraksi dan bereaksi terhadap satu sama lain. Jika yang satu rusak yang lain secara langsung terpengaruh. Untuk menjamin kesehatan organisme secara sempurna hal itu perlu aturan-aturan yang ditetapkan untuk tujuan itu. Misalnya, itu mengatur makanan dan minuman, melarang apa yang tampak membawa bahaya dan mengarahkan bahwa selain dari apa yang tidak dilarang (diharamkan) hanya yang murni dan bermanfaat boleh digunakan dan secukupnya.

Makanlah sesukanya dari apa yang Tuhan telah sediakan bagi kalian jika halal dan baik dan bertakwalah kepada Allah yang kalian beriman kepada-Nya. (Al-Quran 5:89) Hai anak cucu Adam, tetapkanlah dalam pikiran dan badan kalian keadaan yang tertib pada setiap waktu dan tempat ibadah, dan makan dan minumlah yang halal dan murni, tapi janganlah berlebihan, sesungguhnya Dia tidak menyukai yang berlebih-lebihan. (Al-Quran 7:32)

Nabi Suci Muhammad saw bersabda pada suatu kesempatan:

“Kita adalah kaum yang hanya makan ketika kami lapar dan berhenti makan ketika kami masih lapar. Kita kurang memerlukan dokter.”

Kini, pendapat medis seluruh dunia adalah sepenuhnya sepakat bahwa asap, dan lebih khusus asap rokok, adalah tidak bersih. Namun pada permulaan seperempat abad terakhir dari abad ke dua puluh, ketika Homo sapiens (manusia) dianggap telah mencapai puncak kemanusiaannya, perbuatan yang tak bersih ini tampaknya tak berkurang. Tak seorang pun menegaskan bahwa dalam kegemaran [merokok] itu sangat sedikit kebaikannya bagi seseorang, dan pengaruh buruknya diakui baik oleh orang-orang yang melakukan serta orang-orang yang tak melakukan tapi korban-korban yang tak berdaya kemudian terjadi. Ini memberikan harapan buruk yang sedang menimpa masyarakat modern karena keburukan kecanduan alkohol (minuman keras) dan narkoba.

Akhir-akhir ini, telah ada huru-hara pada kedua belah pihak Atlantik atas peningkatan jumlah dari orang-orang yang menderita itu. Sejauh hubungannya dengan alkohol, orang harus mengungkapkan penghargaan mendalamnya atas pekerjaan baik yang sedang dilakukan oleh pecandu alkohol yang tak dikenal. Tapi apakah itu cukup dan apakah itu merupakan penyembuhan yang benar bagi penyakit itu? Setiap pecandu alkohol bermula sebagai seorang peminum biasa dan dengan demikian setiap peminum biasa merupakan pecandu alkohol yang potensial. Bahkan, dia adalah lebih dari pada itu. Dia mempunyai andil dalam kesalahan yang menghasut (jadi penyebab) setiap kemalangan yang berasal dari kecanduan alkohol. Jika dia meninggalkan sama sekali maka akan ada potensi kecanduan alkohol yang lebih sedikit dan mungkin, dengan contoh baiknya, orang atau beberapa orang yang kecanduan alkohol menjadi lebih sedikit (berkurang). Dengan upaya puncak dan paling terpuji dari pecandu alkohol yang tak dikenal itu, jumlah pecandu alkohol belum diteliti. Jumlah itu meningkat. Oleh sebab itu, harus diketahui bahwa penyembuhan untuk kecanduan alkohol hanya merupakan sebagian dan pengurangan bahaya dari penyakit itu, dan satu-satunya cara yang efektif adalah meninggalkan sepenuhnya dari begian [hidup] setiap orang. Alih-alih, ada satu peningkatan yang tetap dan besar sekali dalam perkapita dari konsumsi alkohol (minuman keras). Oleh sebab itu perkembangan-perkembangan dari pengurangan nyata dari keadaan itu tampak tidak terlalu cerah.

Penerapan-penerapan yang sama bagi kecanduan narkoba, khususnya di kalangan generasi muda, wapau pun dalam perkara ini penekanannya tidak tampak pada pencegahan. Namun upaya pencegahan sejauh ini tidak disusul dengan penyebaran kebiasaan, dan dalam hal ini perkembangannya juga suram.

Judi dalam berbagai bentuknya bahkan tidak semuanya tampak sebagai keburukan; sungguh dalam beberapa hal ia dianggap sebagai satu anugrah masyarakat dan keikut sertaannya dianggap satu kewajiban dan kebajikan, misalnya, dalam masalah lotre (undian) untuk membantu proyek-proyek yang bermanfaat. Namun, penyakit di hati adalah tak dapat diingkari.

Kelemahan dalam semua ini dan perkara-perkara lain yang serupa adalah bahwa tiadanya sangsi moral yang kuat, dan tekanan dari kebiasaan berkumpul tidak dapat dengan mudah dihilangkan. Masalahnya adalah berbeda dengan Islam. Ada satu sangsi moral yang kuat dan kecenderungan meniru-niru Barat dalam perkara-perkara ini adalah di luar dari keinginan untuk memperoleh keuntungan sosial dan dianggap beradab dalam penilaian yang canggih pada tingkat tertentu adalah dikendalikan oleh kesadaran yang tak nyaman bahwa di sana sedang diawasi oleh [masyarakat] Muslim. Islam adalah jelas dan tak berkompromi dalam mengutuk amal-amal ini. Misalnya:

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamar (minuman keras) dan judi, berkorban untuk berhala dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan; oleh sebab itu, jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kalian berjaya. (Al-Quran 5:91)

Nabi Suci Muhammad(s.a.w.) telah menafsirkan ini dengan makna bahwa barang yang dalam kadar tertentu adalah memabukkan, dalam kadar sedikit pun sama sekali terlarang (haram). Ini telah menimbulkan penolakan yang demikian kuat dalam pikiran orang-orang berimana terhadap keburukan-keburukan yang dibenci ini yang sebagian sufi telah melangkah sedemikian jauh dengan menyatakan bahwa lidah dan mulut yang dicemari dan dikotori bahkan dengan setetes minuman keras tidak layak mengucapkan pujian dan pengagungan Ilahi.

Kepalsuan dan pergaulan bebas, yang disediakan dengan pornografi, merupakan sekumpulan masalah kemasyarakatan lainnya yang sejauh ini telah menghambat pencegahan atau penyembuhan. Mereka merupakan bagian dari pola yang kita telah dan sedang bahas, yang hal itu sendiri merupakan hasil dari kemakmuran hidup. Pola hidup yang telah digambarkan sebagai permissiveness (serba boleh), dengan demikian mengurangi pengertian-pengertian (arti) buruknya. Satu penelitian boleh diupayakan di sini. Kabiasaan-kebiasaan dan perbuatan-perbuatan masyarakat yang ketika dimaksudkan untuk melahirkan satu hasil tertentu, yang akibatnya pasti tak dapat dielakkan, akan menuntut untuk diubah dan dikendalikan sampai ke akar-akarnya jika akhirnya dielakkan. Jika pendekatan-pendekatan itu ditinggalkan hubungan terbuka menjadi tak terelakkan. Aturan dan kendali harus ditetapkan dan dimainkan pada tahap-tahap permulaan jika aturan-aturan itu harus menjadi efektif. Sebagian dari aturan dan kendali yang ditetapkan Islam dalam urusan ini boleh dikutip:

“Katakanlah kepada pria yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang [biasa] tampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau bapak mereka, atau bapak suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara pria mereka, atau putra-putra saudara pria mereka, atau putra-putra saudara wanita mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan pria yang tidak mempunyai keinginan [terhadap wanita] atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kalian berjaya.” (Al-Quran 24:31-32)

Kehidupan menikah merupakan pola yang lazim dalam Islam.

“Rahbaniyyah adalah terlarang.” (Al-Quran 57:28)

Nabi Suci Muhammad(s.a.w.) bersabda: Menikah adalah cara hidup kami. Dia yang menjauh dari cara hidup kami adalah bukan dari kami.

Al-Quran mengarahkan:

Orang-orang yang tidak mampu menikah hendaklah menjaga kesucian [diri]nya, sehingga Allah memberikan sarana-sarana dengan karunia-Nya. (Al-Quran 24:34)

Zina dan hubungan di luar adalah terlarang menurut hukum-hukum yang tegas, dan semua hal yang mendekatkan ke sana adalah terlarang.

Dan janganlah kalian mendekati zina; sesungguhnya itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk. (Al-Quran 17:33)

Wanita yang berzina dan pria yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera; dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kalian untuk [menjalankan] agama Allah, jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhirat, dan hendaklah [pelaksanaan] hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman. (Al-Quran 24:3)

Kita sejauh ini telah merujuk pada beberapa segi yang dunia tidak inginkan. Beberapa rujukan pada jenis yang dunia inginkan akan kita bahas. Saya telah berusaha untuk menyajikan bahwa satu-satunya jalan menuju dunia semacam itu adalah melalui Tuhan. Namun hari ini segi-segi upaya manusia, bahkan ketika mengaku setia kepada Sang Pencipta Yang Maha Pemurah, secara amalan menjauh dari Dia. Apa yang diperlukan adalah kesadaran yang hidup mengenai ketergantungan kita yang sepenuhnya kepada Dia di setiap saat, dan satu keyakinan yang dalam dan merasuk dalam hari bahwa kita semua, setiap orang dari kita tanpa kecuali, adalah makhluk dan hamba-Nya, dan dengan demikian persaudaraan satu sama lain melalui kesetiaan umum kita kepada Dia dalam kerendahan diri dan tanpa suatu rasa ketakaburan (keangkuhan).

Perhatian kita yang pertama dan utama hendaknya adalah menegakkan kembali hubungan dengan Pencipta kita. Semua sifat-Nya adalah kekal abadi dan bekerja di setiap waktu. Dia adalah Pencipta dan terus menciptakan:

Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan menghidupkan bumi sesudah matinya. Dan seperti itulah kalian akan dikeluarkan. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan kalian dari tanah dan tiba-tiba kalian menjadi manusia yang tersebar di seluruh bumi. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan bagi kalian jodoh-jodoh dari jenis kalian sendiri supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikannya di antara kalian rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. Dari antara tanda-tanda-Nya adalah penciptaan langit dan bumi, dan perbedaan bahasa-bahasa dan warna kulit kalian. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda bagi orang-orang yang memiliki pengetahuan. Dari antara tanda-tanda-Nya adalah tidur kalian di waktu malam dan siang hari dan usaha kalian mencari sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan. Dari antara tanda-tanda-Nya adalah Dia memperlihatkan kepada kalian kilat untuk [menimbulkan] ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan air dari awan dan menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akalnya. Dari antara tanda-tanda-Nya adalah langit dan bumi berdiri dengan kuat atas perintah-Nya. Maka ketika Dia memanggil kalian untuk keluar dari bumi, seketika itu kalian akan keluar. Kepunyaan-Nyalah siapa saja yang ada di langit dan di bumi, semuanya hanya tunduk kepada-Nya. Dia yang menciptakan pada permulaan dan kemudian mengulanginya dan itu adalah lebih mudah bagi-Nya. Dan bagi-Nyalah sifat Yang Maha Tinggi di langit dan di bumi. Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Al-Quran 30:20-28)

Tidakkah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan kembali jasad-jasad mereka yang sudah hancur itu? Benar, dan Dia berkuasa. Dan Dialah Maha Pencipta Maha Mengetahui. Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu Dia berkata kepadanya: ‘Jadi!’ maka jadilah ia. (Al-Quran 36:82-83)

Setiap sesuatu dari makhluk-makhluk-Nya mempunyai kemampuan untuk menegakkan, memelihara dan menguatkan hubungan dengan Dia.

Dan Tuhan kalian berfirman: Berdo’alah kepada-Ku; Aku akan perkenankan bagi kalian. (Al-Quran 40:61)

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepada engkau mengenai Aku maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apa bila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi [segala perintah]-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, supaya mereka mendapat petunjuk yang benar. (Al-Quran 2:187)

Terhadap mereka yang yakin: Tuhan kami adalah Allah dan tetap teguh dalam pendirian mereka, para malaikat akan turun meyakinkan mereka: janganlah takut ataupun bersedih dan bergembiralah dengan surga yang dijanjikan kepada kalian. Kami adalah sahabat-sahabat kalian dalam kehidupan di dunia ini dan di akhirat. Di dalamnya kalian akan mendapatkan semua yang kalian inginkan dan yang kalian minta; hidangan dari Tuhan Yang Maha Pengampun Maha Penyayang. (Al-Quran 41:31-33)

Dari negeri ini telah diumumkan sepihak secara luas bahwa Tuhan telah mati sebagai peristiwa bersejarah di zaman kita; padahal kebenaran telah lama diumumkan sebagai seruan yang jelas:

Dan bertawakallah kepada Wujud Yang Maha Hidup dan Sumber segala kehidupan yang tidak akan mati dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dia Maha Mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya. (Al-Quran 25:59)

Allah yang menjadikan bumi bagi kalian sebagai tempat menetap dan langit sebagai atap, dan membentuk kalian lalu membaguskan rupa kalian dan memberikan rezeki kepada kalian dengan sebahagian yang baik-baik. Yang demikian itu adalah Allah Tuhan kalian, Maha Agung Allah, Tuhan semesta alam. Dialah Yang Hidup Kekal, tak ada Tuhan selain Dia. Maka sembahlah Dia dengan memurnikan ibadah kepada-Nya. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. (Al-Quran 40:65-66)

Allah, tidak ada Tuhan selain Dia Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri; tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Siapa yang dapat memberikan syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah kecuali apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Dia Maha Tinggi lagi Maha Besar. (Al Quran 2:256)

Dia memiliki sifat-sifat yang indah:

Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Dialah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki Segala Keagungan, Maha Suci, Allah, dari apa yang mereka persekutukan. Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk rupa, Yang Mempunyai Nama-nama Yang Paling Baik. Bertasbihlah kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Al-Quran 59:23-25)

Dia merupakan cahaya alam semesta:

Allah adalah Cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya adalah seperti sebuah relung yang tak tembus yang bersinar, yang di dalamnya ada lampu besar. Lampu itu di dalam semprong kaca, semprong kaca itu seakan-akan bintang [yang bercahaya] seperti mutiara. Lampu itu dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkati, zaitun, yang bukan di timur dan bukan di barat. Minyak itu hampir-hampir menyala walaupun api tidak menyentuhnya. Cahaya di atas cahaya! Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa pun yang Dia kehendaki. Allah mengemukakan perumpamaan-perumpamaan bagi keperluan manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al-Quran 24:36)

Tanpa Dia tak ada cahaya:

Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apa pun. Dan didapatinya [ketetapan] Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya. Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak [pula], di atasnya [lagi] awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, [dan] barang siapa yang tiada diberi cahaya oleh Alllah, tiadalah dia mempunyai cahaya sama sekali. (Al-Quran 24:40-41)

Terhadap mereka yang yakin: Tuhan kami adalah Allah dan tetap teguh dalam pendirian mereka, para malaikat akan turun meyakinkan mereka: janganlah takut ataupun bersedih dan bergembiralah dengan surga yang dijanjikan kepada kalian. Kami adalah sahabat-sahabat kalian dalam kehidupan di dunia ini dan di akhirat. Di dalamnya kalian akan mendapatkan semua yang kalian inginkan dan yang kalian minta; hidangan dari Tuhan Yang Maha Pengampun Maha Penyayang. (Al Quran 41:31-33)

Dia menurunkan wahyu-wahyu bagi petunjuk manusia, walaupun manusia terus-menerus berselisih tentang Dia:

Telah pasti datangnya ketetapan Alllah maka janganlah kalian meminta disegerakan [datangnya]. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan. Dia menurunkan para malaikat dengan [membawa] wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa pun yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, yaitu: “Peringatkanlah oleh kalian, bahwasanya tidak ada Tuhan selain Aku maka hendaklah kalian bertakwa kepada-Ku.” Dia menciptakan langit dan bumi dengan hak. Maha Tinggi Allah dari pada apa yang mereka persekutukan. Dia telah menciptakan manusia dari mani, tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata. (Al Quran 16:2-5)

Apakah manusia tidak mengetahui bahwa Kami menciptakannya dari setetes mani belaka, maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata. Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang yang telah hancur luluh?” (Al Quran 36:78-79)

Manusia dicela karena ketidak bersyukurannya:

Binasalah manusia, betapa tidak bersyukurnya dia! Biarlah dia merenungkan: dari apakah Dia menciptakannya? Dari setetes mani! Dia menciptakan dan menentukannya; kemudian Dia memudahkan jalannya, kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur. Kemudian, ketika Dia menghendaki, Dia akan membangkitkannya kembali. Sekali-kali jangan, manusia itu belum melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya. (Al-Quran 80:18-24)

Waktu tidak mengizinkan bahkan untuk menguraikan secara singkat mengenai pengertian luas dari apa yang telah baru saja dikutip. Walaupun ayat-ayat itu pada pokoknya berhubungan dengan sifat-sifat Ilahi, itu juga mengandung banyak nubuwatan, sebagian dari padanya tentu terpenuhi di setiap zaman.

Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu dengan benar dan adil; tak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya. Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Al-Quran 6:116)

Semua manusia adalah makhluk-makhluk dari Tuhan yang sama dan ini merupakan dasar dari kemanusiaan mereka secara umum. Itu hanya merupakan kesadaran yang hidup atas kenyataan bahwa setiap manusia adalah makhluk Tuhan yang dapat membawa perubahan yang sesuai di antara golongan manusia yang berbeda dan membawa kita pada dunia yang satu. Hubungan manusia dengan sesamanya melalui Tuhan merupakan satu-satunya jaminan yang dapat menyajikan persatuan manusia dan menghapuskan perselisihan. Ini merupakan tali yang dapat menyelamatkan dan mengatasi ketegangan dan krisis, bahkan ketika ikatan-ikatan yang paling dekat, kekeluargaan dan hubungan persahabatan yang akrab mungkin retak dan terputus.

Berpegang teguhlah kalian semua pada tali Allah dan jangan berpecah belah. Ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian ketika kalian bermusuhan satu sama lain dan Dia menyatukan kalbu-kalbu (hati) kalian supaya dengan karunia-Nya kalian menjadi bersaudara. Kalian dulu berada di tepi lubang api dan Dia menyelamatkan kalian dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan perintah-perintah-Nya kepada kalian agar kalian mendapat petunjuk. Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan orang yang pekerjaannya menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang yang munkar. Itulah orang-orang yang berjaya. (Al-Quran 3:104-105)

Ini menuntut ikatan bersama seperti mutiara-mutiara yang terikat bersama dalam satu tali. Kelalaian akan mengungkapkan kelompok-kelompok yang bercerai-berai dan bertentangan dan bagian-bagian yang menuju ketergelinciran ke dalam lubang api. Dapatkah ada satu nasihat yang lebih berkesan dan tergambar dengan lebih nyata? Pengaruh-pengaruh yang bermanfaat dari berpegang teguh bersama-sama pada tali Allah adalah demikian luas seakan-akan tanpa batas.

Dalam silsilah nilai-nilai, kesetiaan kepada Tuhan mempunyai keutamaan mutlak; segala nilai lainnya berada di bawahnya. Sebenarnya nilai-nilai lain mempunyai pengesahan sejauh ini hanya karena nilai-nilai itu merupakan bagian dari nilai tertinggi ini. Saya harus berpegang dan mengikuti kesolehan sebab Tuhan mencintai orang-orang yang soleh dan hal itu bermakna kedekatan dengan Dia. Saya harus meninggalkan dan membuang keburukan (kejahatan) sebab Tuhan tidak menyukai keburukan dan hal itu akan menjauhkan saya dari Dia. Al-Quran secara berulang-ulang menekankan motifasi mendasar ini. Misalnya:

Sebenarnya siapa pun yang menepati janji dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa. (Al-Quran 3:77)

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa. (Al-Quran 9:5, 8)

Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (Al-Quran 2:196; 3:135)

Allah menyukai orang-orang yang menjalankan kewajiban mereka dengan sepenuhnya. (Al-Quran 3:149)

Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri. (Al-Quran.2:223)

Allah menyukai orang-orang yang sabar. (Al-Quran 3:147)

Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya. Jika Allah menolong kalian, maka tak ada yang dapat mengalahkan kalian; tapi jika Dia membiarkan kalian, maka siapa yang dapat menolong kalian selain Dia? Dan hanya kepada Allah orang-orang beriman berserah diri. (Al-Quran 3:160-1)

Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan. (Al-Quran 24:53) Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Allah adalah cukup bagi dia yang bertawakal kepada-Nya. Allah pasti melaksanakan maksud-Nya. Allah telah menetapkan ketentuan bagi tiap sesuatu. (Al-Quran 65:3-4)

Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. (Al-Quran 65:5) Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah akan menghapuskan kesalahan-kesalahannya, dan akan melipat gandakan ganjaran baginya. (QS 65:6)

Sebaliknya: Allah tidak menyukai kebinasaan. (Al-Quran 2:206) … dan tidak menyukai orang-orang yang menciptakan kerusuhan. (Al-Quran 5:65) … tidak menyukai pembuat kerusakan. (Al-Quran 28:78) … tidak menyukai orang-orang zalim. (Al-Quran 3:141) … tidak menyukai orang-orang yang berbuat salah. (Al-Quran 3:57; QS 42:40) … tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (Al-Quran 2:191) … tidak menyukai orang-orang yang melanggar batas. (Al-Quran 7:56) … tidak menyukai orang-orang yang tetap dalam kekafiran dan dosa. (Al-Quran 2:277) … .tidak menyukai  orang-orang yang membanggakan diri. (Al-Quran 28:77) … tidak menyukai orang takabur dan sombong. (Al-Quran 16:24) … tidak menyukai orang-orang yang sombong dan pembual. (Al-Quran 31:19; 57:24) … tidak menyukai orang-orang yang khianat. (Al-Quran 8:59)

Inilah sebagian dari nilai-nilai yang wajib dipegang, dan sebagian dari padanya wajib dijauhi. Nilai-nilai itu diperintahkan atau [ada yang] dilarang. Ada jarak di antara kedua nilai-nilai yang diperintahkan dan yang dilarang itu, yang akan dapat memberikan kemampuan kepada orang yang mencari keridhaan Tuhan untuk memeriksa kemajuannya di sepanjang perjalanan itu dan menetapkan sarana-saran penyembuhan (perbaikan) di mana saja dia menemukan kelalaian atau kemunduran. Ada satu silsilah teratur yang berlaku sabagai bagian dari amal dan latihan.

Tuhan memerintahkan untuk berbuat adil dan ihsan (berbuat baik kepada orang lain) dan itaai dzil qurba (memberi kepada kaum kerabat), dan melarang fahsya (kekejian) dan munkar (kejahatan) dan baghyi (pemberontakan dan melampaui batas). (Al-Quran 16:91)

Pada derajat terbawah adalah baghyi, yaitu setiap bentuk pelanggaran terhadap pribadi, harta benda, kehormatan, keamanan dan kedamaian hati pribadi, golongan atau masyarakat. Kebanyakan dari tindakan-tindakan semacam itu dalam undang-undang negeri yang beradab akan merupakan serangan yang dapat dihukum. Tapi di balik hukuman yang sah merupakan sejenis hukuman yang boleh membuktikan pencegahan efektif dalam banyak perkara, sebagaimana sungguh telah terbukti pada skala besar pada hari ini. Selain itu, pebebanan hukuman yang sah adalah secara tepat membuktikan penyerangan itu, sesuai dengan definisinya, melalui bukti yang relefan dan dapat diakui dengan akhir prosedur yang ditetapkan dengan [upaya] penjagaan terhadap penghukuman yang salah atau meragukan. Ini bukan merupakan kesalahan hukum. Tetapi itu memang berarti bahwa hukum tidak mampu untuk menyediakan bukti sepenuhnya bahkan terhadap kejahatan yang tampak nyata.

Berikut adalah sikap buruk, yaitu tindakan yang akan membuat marah atau menyakiti yang lain, sikap-sikap buruk, kekerasan, dan lain-lain. Sebagian besar dari itu berada di luar jangkauan hukum sipil.

Terakhir, bukan hanya tindakan buruk secara lahiriah yang dilarang, tapi sumber dari segala kejahatan harus diupayakan untuk dibersihkan dengan pelarangan terhadap kegemaran akan pikiran-pikiran jahat atau niat jahat.

Hukuman di balik pelarangan-pelarangan ini adalah ketidak sukaan Tuhan, hal yang paling kuat dan paling efektif dalam pengaruhnya pada pikiran orang yang secara benar dan ikhlas beriman dan orang-orang yang tujuan murni dalam hidupnya adalah meraih keridhaan Tuhan.

Meninggalkan kejahatan, bagaimanapun, bukan merupakan keseluruhan dari upaya-upaya yang dituntut dari seorang yang beriman. Sungguh itu bahkan bukan merupakan setengah bagian dari padanya. Anggaplah bahwa seseorang berhasil meraihnya secara penuh, hal itu sendiri hanya akan bertindak melindunginya dari kemurkaan Ilahi. Dia akan masih ada perjalanan jauh untuk meraih keridhaan Tuhan. Dengan kata lain dia masih akan ada jalan di balik pencapaian tujuan dan maksudnya dalam kehidupan. Dia wajib berjuang hingga puncaknya sesudah melakukan kebaikan. Dia wajib menyempurnakan dirinya dalam kebaikan. Pada hakikatnya dua proses itu, meninggalkan kejahatan dan mengembangkan kebaikan, berjalan bersamaan, yang satu mendukung dan membantu yang lain. Ada tahap di antara keduanya.

Kebaikan juga mempunyai tiga tingkatan besar. Tingkatan dasar telah digambarkan sebagai adil; makna istilah itu juga diterjemahkan dengan perbuatan baik dibalas dengan kebaikan. Itu boleh digambarkan dengan pembayaran kembali hutang seseorang; menjadi kewajiban moral seseorang; berbuat satu akan dibalas seperti itu: yang disebut sebagai golden-rule.

Tingkat yang lebih tinggi adalah ihsan, yaitu, dengan suka rela berbuat kebaikan tanpa hasrat atau harapan untuk menerima balasan kebaikan.

Tingkat tertinggi adalah melakukan kebaikan dengan seketika, seperti yang mengalir dari seorang ibu kepada anak-anaknya. Ini tak memerlukan upaya. Sebaliknya, hal itu berjalan sebagai satu sifat, fitrat, yang akan mengecewakan jika ditahan. Itulah tingkat yang digambarkan sebagai:

Tuhan ridha kepada mereka dan mereka ridha kepada Tuhan. (Al-Quran 98:9)

Dengan demikian niat utama di balik semua perbuatan haruslah meraih keridhaan Tuhan. Al-Qur-an menetapkan bahwa kekuasaan kewenangan umum hendaknya diserahkan ke tangan orang-orang yang paling layak bagi tujuan itu. Orang-orang yang ke tangan mereka diserahkan wewenang semacam itu diperingatkan untuk bertindak secara adil dan tak berpihak. Ada satu peringatan bahwa bertentangan dari patokan-patokan ini akan mempunyai akibat-akibat yang menyedihkan. Masyarakat digalakkan untuk menghormati pihak-pihak yang berwenang dan taat kepadanya. Perbedaan-perbedaan yang timbul diselesaikan sesuai dengan petunjuk yang ditetapkan dalam Al-Qur-an dan dikemukakan oleh Nabi Suci Muhammad (s.a.w.). Semua kewenangan pada dasarnya adalah amanah dan seharusnya dilaksanakan dengan jiwa itu.

Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menyerahkan amanat kepada orang-orang yang paling layak untuk mengembannya dan ketika kalian menghakimi di antara orang-orang, kalian lakukan itu dengan adil. Sesungghnya Allah memberikan pengajaran yang sebaik-baiknya kepada kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan orang-orang yang berwenang (memerintah) di antara kalian. Kemudian jika kalian berselisih tentang sesuatu maka merujuklah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kalian sungguh beriman kepada Allah dan hari kemudian. Itu lebih utama [bagi kalian] dan lebih baik akibatnya. (Al-Quran 4:59-60)

Urusan umum seharusnya dimusyawarahkan bersama. (Al-Quran 42:39)

Ketentuan dasar yang dibuat di sini adalah untuk semua kewenangan umum, legislatif, eksekutif dan yudisial. Unsur legislatif pada prinsipnya dapat juga merupakan unsur konsultatif (musyawarah). Satu-satunya syarat yang diletakkan sehubungan dengan para anggotanya yang setiap orang diberi amanat dalam kedudukan kewenangan umum tertentu, adalah bahwa mereka seharusnya layak untuk mengemban tanggung jawab mereka. Ini, pada gilirannya, menempatkan tanggung jawab yang berat atas yang terpilih. Lembaga pemilihan suara dengan demikian manjadi manfaat yang baik. Agar manfaat ini boleh terselenggara secara layak orang-orang yang berhak memilih harus diingatkan dan dididik kepada tujuan itu.

Maka apakah orang-orang yang mendirikan masjidnya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan-Nya itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka jahanam? (Al-Quran 9:110)

Orang-orang yang diamanati dengan urusan atau wewenang yudisial juga diperingatkan untuk melaksanakan wewenang yang diamanatkan kepada mereka dengan adil. Kata-kata pembukaan dari ayat itu memperkirakan bahwa sejauh hubungannya dengan sumber daya manusia wewenang umum hal itu berasal dari masyarakat. Adalah masyarakat yang diperintahkan untuk menyerahkan amanat itu kepada mereka yang layak untuk mengembannya. Ke tangan orang-orang yang wewenang itu diserahkan kemudian diperintahkan untuk melaksanakannya dengan adil.

Islam menetapkan konsep keadilan yang sangat unggul. Keadilan hak sahabat dan kerabat juga:

Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah di jalan Allah, berilah kesaksian dengan adil. Janganlah permusuhan suatu kaum terhadap kalian mendorong kalian bertindak berlawanan dengan keadilan: selalulah berlaku adil sebab ia lebih dekat kepada takwa. Ingatlah kewajiban kalian kepada Tuhan, sesungguhnya Tuhan mengetahui apa yang kalian lakukan. (Al-Quran 5:9)

Kesiapan [memberikan] kesaksian yang benar adalah unsur mendasar dalam urusan keadilan. Al- Qur-an meletakkan tekanan besar atas hal itu.

Hai orang-orang yang beriman, jadilah kalian orang yang tegas menegakkan keadilan dan memberikan kesaksian hanya demi Allah, bahkan jika itu bertentangan dengan diri kalian sendiri atau orang tua atau kerabat kalian sendiri. Apakah orang kaya atau miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Oleh sebab itu, jangan mengikuti hasrat yang sia-sia agar kalian boleh bertindak dengan adil. Jika kalian menyembunyikan kebenaran atau menghindarkannya, ingatlah bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang kalian lakukan. (Al-Quran 4:136)

Satu-satunya penyembuhan efektif bagi kesalahan yang tersebar luas dalam hal ini adalah membangkitkan kesadaran moral (akhlak) dari orang-orang agar seseorang yang bersalah seperti itu akan menyadari bahwa dia telah kehilangan kehormatan di antara orang-orang sekitarnya dan yang dengannya dia hidup bersama. Selama kesalahannya tak mengakibatkan kehinaan atau celaan, ancaman peringatan atau bahkan resiko hukuman yang sah tidak terbukti akan menjadi pencegahan. Satu kaum yang khawatir akan penurunan derajat nilai-nilai akhlak tentu berwaspada dalam perkara itu. Kegagalan untuk mengendalikan dan membiarkan kesalahan merupakan bukti dari kemerosotan akhlak secara umum dan nilai-nilai ruhani sedang terganggu. Al-Qur-an telah meletakkan tekanan atas hal itu dengan mengutip kejadian kaum-kaum terdahulu.

Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. (Al-Quran 5:80)

Seseorang yang melakukan pelanggaran kewajibannya untuk mengkhidmati negara dan masyarakat secara jujur dan rajin, membawa keburukan pada urusannya karena kegagalannya. Perbuatannya yang buruk berkembang dalam lingkup-lingkup yang lebih luas.

Dalam satu dunia yang kita dambakan kita wajib memulai dengan janji bahwa semua manusia adalah setara. Tak seorang pun dapat menuntut suatu keistimewaan dan satu-satunya tanda kehormatan adalah takwa.

Hai manusia, Kami telah ciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan; dan Kami telah membagi kalian dalam bangsa-bangsa dan suku-suku agar kalian dapat saling mengenal satu sama lain. Sesungguhnya, yang paling mulia di antara kalian dalam pandangan Tuhan adalah yang paling bertakwa di antara kalian. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui, Maha Mengenal. (Al Quran 49:14)

Perbedaan mempunyai tujuannya dan merupakan bagian dari rancangan Ilahi, tapi itu tak memberikan keistimewaan. Kita telah diingatkan:

Dari antara tanda-tanda-Nya adalah penciptaan langit dan bumi, dan perbedaan bahasa dan warna kulit kalian. Sesungguhnya itu merupakan tanda-tanda bagi orang yang mempunyai ilmu. (Al-Quran 30:23)

Oleh sebab itu tak ada kaum atau golongan yang boleh memandang rendah kaum atau kelompok lain karena sifat perbedaan dari warna kulit, ras, bahasa atau keturunan.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain [sebab] boleh jadi mereka [yang diolok-olok] lebih baik dari mereka [yang mengolok-olok], dan jangan pula wanita-wanita [mengolok-olok] wanita-wanita lain [sebab] boleh jadi wanita [yang diolok-olok]  lebih baik dari pada wanita [mengolok-olok]. (Al Quran 49:12)

Nabi pembawa Islam dalam pidato terakhir beliau pada kesempatan ibadah haji mengumumkan bahwa seorang Arab tidak lebih unggul dari pada seorang bukan Arab, tidak pula orang bukan Arab lebih unggul dari pada orang Arab; tidak pula orang kulit putih lebih unggul dari pada orang kulit hitam, atau pun kulit hitam lebih unggul dari pada kulit putih. Kalian semua adalah bersaudara, satu sama lain. Islam dan kaum Muslimin oleh sebab itu boleh digambarkan sebagai buta warna!

Dalam dunia baru kita hendaknya ada kerja sama yang sempurna alih-alih perjuangan untuk superior atau menguasai:

Tolong-menolonglah satu sama lain dalam kebaikan dan takwa, dan janganlah tolong-menolong dalam dosa dan pelanggaran; dan ingatlah kewajiban kalian kepada Allah, sesungguhnya hukuman Tuhan itu sangat keras. (Al-Quran 5:3)

Semangat berlomba dengan tujuan kesolehan, bagaimanapun, adalah digalakkan. Perlombaan adalah pembawaan dalam fitrat manusia tapi hendaknya diarahkan pada jalur-jalur yang bermanfaat.

Setiap orang mempunyai tujuan yang menguasai dirinya; maka kalian, berlomba-lombalah dalam kebaikan. Di mana saja kalian berada Allah akan mengumpulkan kalian. Sesungguhnya Allah berkuasa untuk melakukan segala yang Dia kehendaki. (Al-Quran 2:149)

Dunia yang satu sedang berjalan dan ditakdirkan segera berlaku atas kita. Upaya-upaya kita hendaknya merupakan, dan juga persiapan kita, bahwa hal itu akan membuktikan penyambutan fajar kerja sama yang bermanfaat di antara segi-segi kemanusiaan yang berbeda alih-alih terbenamnya matahari perselisihan dan saling menghancurkan. Pilihan terletak pada kita. Marilah kita berharap dan berdo’a bahwa kita akan bangkit menuju ketinggian penuh dari tanggung jawab kita dan menjadikan serta membawa pilihan yang benar.

Sumber: Review of Religions May 2009
terjemahan ke bahasa Indonesia oleh :M Awaluddin

0 Responses to “Dunia Yang Satu!”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




AYO BERBELANJA DI TOKO ONLINE KAMI:

Statistik Blog

  • 215,909 hit

aku suka jalan-jalan

hidup adalah jalan-jalan. jalan-jalan adalah hidup

%d bloggers like this: