Kenapa Komunitas Ahmadi Pakistan Dibenci secara Resmi?

Tidak pernah terjadi dinegara manapun selain di Pakistan bahwa ketika seorang warga Muslim ingin membuat passport ataupun KTP, mereka diharuskan menandatangani sebuah sumpah.

Sumpah itu bunyinya seperti ini: “Saya menyaksikan bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah seorang nabi palsu dan aku menyaksikan bahwa para pengikutnya, apakah itu kelompok Lahore maupun Qadiani adalah bukan Islam”.

Aku menjawab Okelah, mungkin itu membuat mereka kafir, tapi atas dasar apa kalau lalu orang kafir tidak boleh berjualan kain?


—————————–Tulisan selengkapnya:—————————-

Tidak pernah terjadi dinegara manapun selain di Pakistan bahwa ketika seorang warga Muslim ingin membuat passport ataupun KTP, mereka diharuskan menandatangani sebuah sumpah.

Sumpah itu bunyinya seperti ini: “Saya menyaksikan bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah seorang nabi palsu dan aku menyaksikan bahwa para pengikutnya, apakah itu kelompok Lahore maupun Qadiani adalah bukan Islam”.

Sebagaimana halnya jutaaan warga Pakistan lainnya, sayapun telah menandatangani sumpah ini berkali-kali tanpa terlalu memikirkan siapa itu Tuan Ahmad, atau apa perbedaan teknis diantara aliran Lahore dan aliran Qadiani. Saya hanya membutuhkan passport, dan jika saya harus menandatangani suatu fatwa untuk mendapatkannya, saya ikuti saja.

Tapi seperti jutaan orang dari generasi saya, saya juga ingat bahwa ketika saya beranjak dewasa, kaum minoritas Ahmadi kala itu dianggap sebagai suatu aliran dalam Islam.

Non Muslim
Seperti banyak orang lain yang berteman dengan orang Ahmadi demikian juga aku. Kami bermain kriket bersama-sama, dan kadang-kadang, ketika orang tua kami memerintahkan kami pergi ke mesjid, kami bahkan sholat bersama.

Bulan lalu, ketika lebih dari 90 Ahmadi dibantai di dua masjid di Lahore, ingatanku kembali kemasa tahun 1974, saat ketika semuanya ini mulai berubah.

Kala itu kaum agamawan turun kejalan menuntut agar Ahmadiyah dinyatakan sebagai non-Muslim.

Suatu hari saya melihat beberapa aktivis berjenggot berdiri di luar toko pedagang pakaian di kota kami, menyanyikan slogan-slogan anti-Ahmadi dan mengusir orang-orang yang tengah berbelanja, memberitahu mereka bahwa membeli pakaian dari orang Ahmadiyah adalah haram.

Pada saat itu aku sedang belajar menghafal Alquran dari seorang guru yang sangat baik, dan berwatak halus.

Aku bertanya apa sebenarnya yang salah dengan Ahmadiyah.

Beliau menjelaskan kepadaku bahwa mereka tidak percaya bahwa Nabi Muhammad adalah nabi dan rasul terakhir.

Aku menjawab Okelah, mungkin itu membuat mereka kafir, tapi atas dasar apa kalau lalu orang kafir tidak boleh berjualan kain?

Tanpa diduga seketika itu pula guru ngaji menempelengku sekerasnya, sehingga akibat tempelengannya itu, telingaku berdering selama beberapa hari.

Pada tahun yang sama parlemen terpilih pertama Pakistan menyatakan Ahmadiyah sebagai non-Muslim.

Lalu pada tahun 1984 diktator militer Pakistan dan yg diangkat wali iman Jenderal Zia-ul-Haq menyisipkan pasal dalam konstitusi bahwa kami semua diharuskan menandatangani.

Karena undang-undang baru itu, orang-orang Ahmadiyah telah dimasukkan ke penjara hanya karena mengucapkan Assalamu alaikum atau hanya karena mencantumkan ayat Al-Quran pada kartu ucapan.

Bid’ah
Selama tiga dekade terakhir, kebencian terhadap Ahmadiyah telah menjadi begitu meluas sehingga Pakistan agak malu-malu dengan satu-satunya pemenang hadiah Nobel yang pernah dihasilkan negeri ini.

Dr Abdus Salam Khan memenangkan Hadiah Nobel untuk fisika dan sebagai seorang warga Pakistan dengan bangga beliau menerima penghargaan itu dalam busana nasional.

Tapi dia adalah seorang Ahmadi sehingga tidak ada monumen untuk mengenangnya, tidak ada universitas yang menggunakan namanya.

Kata “Muslim” di nisan-nya sudah dihapus. Bahkan kota dimana beliau dimakamkan telah diubah namanya dalam upaya untuk menghapus memori kolektif kami.

Kebencian ini tampak jelas dalam reaksi pembantaian.

Saluran TV lebih terobsesi dengan memastikan bahwa dalam siaran mereka mesjid Ahmadi telah disebut sebagai “tempat ibadah”.

Bila Anda menolak menyebut tempat ibadah dengan nama yang tepat, Anda menyiratkan bahwa itu bukan mesjid, bukan gereja, bukan rumah ibadat, itu tempat di mana orang kafir melakukan hal-hal tak bertuhan.

Dan semua partai politik Islam yang berbeda-beda, yang para pemimpinnya sering menolak untuk shalat bersama, mereka bersatu dalam hal menyikapi Ahmadiyah.

Ketika pemimpin utama oposisi Pakistan Nawaz Sharif menggunakan istilah “saudara-saudara kita” untuk kaum Ahmadiyah yang terbunuh, para pemimpin dari 11 partai politik datang bersama untuk mengutuk Nawaz dan mengancam akan mengeluarkan fatwa menyatakan Nawaz sebagai sesat.

Selama tiga dekade terakhir pengepungan telah sangat gamblang bahwa orang-orang Ahmadi yang tidak mampu untuk beremigrasi telah diambil untuk menyembunyikan identitas mereka.

Jika Anda ingin menghancurkan kehidupan seseorang anda cukup menunjuk bahwa orang itu adalah orang Ahmadi.

Pada 1980-an, mantan menteri Punjab dan menteri federal saat ini tidak menghadiri pemakaman ibunya sendiri karena ada rumor bahwa dia adalah seorang Ahmadi.

Ketika pemakaman dari warga Ahmadiyah korban pembantaian dilaksakanan, disana tidak ada pejabat maupun politisi yang hadir.

Para blogger liberal Pakistan dan beberapa kolumnis bahasa Inggris menuliskan baris-baris bahwa darah kaum Ahmadi ada ditangan kami.

Yang lainnya bersikeras bahwa itu adalah Jumat lain, pembantaian lain oleh Taliban Pakistan, dan kita harus melawan terorisme semacam ini dan meninggalkan perdebatan sektarian itu sendiri.

Dua kejadian pada minggu lalu membuat saya menyadari betapa reaksi kami telah menjadi semacam penyakit. Saat berjaga untuk menandai pembantaian, di mana beberapa orang telah muncul, seorang pelintas menanyaiku, “Apakah Anda seorang Ahmadi?” Penyangkalanku yang keras dan agresif telah mengejutkan diriku sendiri.

Kemudian seorang teman Ahmadi yang ayahnya selamat dari pembantaian Lahore menulis kepada saya dengan mengatakan: “Kamu tahu kalau kami telah menjalani hidup seperti ini selama beberapa dekade. Apakah hal seperti ini telah membuat kamu dapat berbicara dengan terus terang?

By Mohammed Hanif
BBC News, Karachi

0 Responses to “Kenapa Komunitas Ahmadi Pakistan Dibenci secara Resmi?”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




AYO BERBELANJA DI TOKO ONLINE KAMI:

Statistik Blog

  • 219,752 hit

aku suka jalan-jalan

hidup adalah jalan-jalan. jalan-jalan adalah hidup

%d bloggers like this: