Lailatul Qadar – Malam Taqdir

Yang Mulia Rasulullah s.a.w. bersabda bahwa seseorang yang berpuasa dengan semangat keyakinan untuk meraih ridha Tuhan Yang Maha Kuasa, maka semua dosa-dosanya di masa lalu akan diampuni oleh-Nya dan seseorang yang bangun untuk Lailatul Qadr dengan satu semangat keyakinan untuk meraih ridha Allah maka dosa-dosanya yang lampau akan dimaafkan dan diampuni.


Selengkapnya:

Ringkasan Khutbah JumahKhalifah Tanggal  27 Agustus 2010
dialihbahasakan oleh:PPSi

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمـٰنِ الرَّحِيمِ

اِنَّاۤ اَنْزَلْنٰهُ فِىْ لَيْلَةِ الْقَدْرِۚ ۖ‏

وَمَاۤ اَدْرٰٮكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِؕ

لَيْلَةُ الْقَدْرِ ۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍؕ‏

تَنَزَّلُ الْمَلٰٓٮِٕكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِاِذْنِ رَبِّهِمْ‌ۚ مِّنْ كُلِّ اَمْرٍۛ ۙ‏

سَلٰمٌ هِىَۛ حَتّٰى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

Yang artinya:

Dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada Lailatul Qadr

Dan apakah engkau mengetahui apa Lailatul Qadr itu?

Lailatul Qadr itu lebih baik dari seribu bulan,

Di dalamnya turun Malaikat-malaikat dan Ruh dengan izin Tuhan mereka mengenai segala perintah,

Damai hingga fajar terbit. (97:1-6)

Hudhur aba mengatakan di dalam beberapa hari ini kita akan memasuki sepuluh hari terakhir dari Bulan Ramadhan, yang di dalamnya, menurut tradisi dalam hadits, Lailatul Qadr turun. Inilah satu malam yang secara spiritual sangat istimewa di mana Tuhan Yang Maha Kuasa memandang kepada hamba-Nya dengan cara yang istimewa. Orang-orang Muslim pada umumnya memberikan perhatian yang istimewa pada sepuluh hari terakhir Bulan Ramadhan ini. Bahkan mereka yang tidak menaruh banyak perhatian pada kedua sepuluh hari di Bulan Ramadhan sebelumnya, mereka berusaha untuk memperbaiki keadaan spiritualnya pada sepuluh hari terakhir ini. Orang-orang di dalam Jamaat kita juga cenderung untuk meningkatkan ibadahnya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dalam sepuluh hari terakhir ini. Ahadits membuktikan bahwa Lailatul Qadr itu turun di dalam sepuluh hari terakhir dalam Bulan Ramadhan dan itulah satu malam yang amat sangat penting dan sangat istimewa. Namun demikian, dapatkah usaha ini hanya dilakukan oleh seorang yang benar-benar beriman dan benar-benar hamba Tuhan ini hanya dilakukan selama sepuluh hari terakhir di Bulan Ramadhan saja dan kemudian dalam sisa-sisa hari dari satu tahunnya itu ia habiskan dan dilewatinya dengan begitu saja? Tuhan Yang Maha Kuasa menyatakan bahwa Dia menciptakan manusia dan Jinn agar mereka menyembah kepada-Nya. Konsentrasi ibadah hanya untuk mengejar dan mencari satu malam istimewa yang khusus di dalam sepuluh hari terakhir dalam Bulan Ramadhan hanya untuk mencukupkan ibadahnya dalam selama hidupnya, maka hal tersebut akan menjauhkan orang tersebut dari tujuan dasar penciptaan-Nya itu.

Jika Tuhan Yang Maha Kuasa menghendakinya, Dia akan mewujudkan rahmat karunia-Nya yang khusus sebagai penghibur bagi hamba-Nya, dengan menciptakan satu kondisi, yang dengan kebajikan-Nya itu satu malam yang istimewa ini diberikan di mana Hamba-Nya ini dapat memperoleh satu pengalaman spiritual yang sungguh menakjubkan. Yang, dengan memenuhi janjinya menyembah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, di mana orang melihat kemajuan dan peningkatan spiritual-nya pada setiap saat, yang memang ia melihatnya. Ketika orang sementara ia berpuasa membaca dan merenungkan Alqur-aan dan terutamanya berpuasa itu untuk meningkatkan pengabdiannya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, yang sesungguhnya Tuhan itu melihat bahwa orang itu mengamalkan semua perintah-perintahnya dalam praktek sesuai dengan kemampuannya, dan yang memohon dan meminta kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, mengingat pada firman-Nya: ‘Sesungguhnya Aku dekat, Aku mengabulkan permintaan orang jika ia berdoa memohon kepada-Ku.(2:187), bukan saja Tuhan Yang Maha Kuasa mendengar dan mengabulkan atas doa-doa tersebut, tetapi Dia pun menganugerahkan Lailatul Qadr sesuai dengan janji-Nya, yang saat itu Dia turun ke bumi, mendekat kepada hamba-Nya.  Ketika orang memenuhi janji dan kewajibannya, Tuhan Yang Maha Kuasa meningkatkan keadaan spiritualnya. Jika ada sesuatu kekurangan, maka kekurangan itu adalah di sisi kita, dalam usaha kita dan dalam amalan kita. Tuhan Yang Maha Kuasa menyediakan satu bulan yang beberkat ini pada setiap tahun dengan sepuluh hari terakhirnya dan Lailatul Qadr, yang adalah titik tertinggi di dalam peraihan kedekatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Kemudian, seberapa besarnyakah usaha yang harus dikerjakan oleh pihak manusia? Pengalaman rohani atau spiritual dari malam yang istimewa dan khusus ini membuat perobahan transformasi yang menakjubkan dalam diri seseorang, dan haruslah demikian, karena jika tidak maka hak yang seharusnya dari malam Lailatul Qadar ini tidak terpenuhi. Jika orang percaya bahwa orang itu sudah memperoleh pengalaman Lailatul Qadr, ibadah dari malam tersebut adalah lebih baik daripada ibadahnya yang selama 1000 bulan, (atau lebih dari 83 tahun, yang adalah umur manusia rata-rata), dan kemudian ia punya pikiran tidak perlu lagi untuk melakukan ibadah, maka orang itu keliru, pikiran demikian itu menyesatkan!  Pada kenyataannya Lailatul Qadr itu akan membuat seorang hamba Allah meningkatkan lagi kebaikan dalam amalannya sehingga dalam keadaan seperti itu rahmat dan kebaikan Ilahi akan terus mengalir; Tuhan Yang Maha Kuasa menyatakan bahwa jika orang sudah berusaha keras untuk meraih kedekatan kepada-Nya, menghormati dan memelihara janjinya, Dia mendengar dan mengabulkan doa-doa permintaan orang  tersebut dan yang akan terus menerus di anugerahkan kepadanya.

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. mengatakan bahwa Lailatul Qadr adalah satu waktu saatnya orang membersihkan diri, mensucikan diri  sehingga ia menjadi benar-benar mentaati semua perintah-perintah dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Hudhur aba mengatakan, Bulan Ramadhan tiba sehingga kita dapat membuat perubahan transformasi yang sedemikian di dalam diri kita, dan mencari untuk menemukan Lailatul Qadr di dalam sepuluh hari yang terakhir ini. Yang Mulia Rasulullah s.a.w. mengerjakan amalan dan usaha-usaha yang khusus selama 10 hari terakhir dari Bulan Ramadhan dan berusaha keras di dalam ibadah menyembah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Beliau saw. akan bangun di tengah malam dan membangunkan anggota keluarganya; bukan saja beliau itu meningkatkan ibadahnya sendiri di dalam hari-hari ini, beliau juga tidak memberikan toleransi bahwa keluarganya akan luput dari keberkahan-keberkahan Tuhan yang amat besar di dalam sepuluh hari yang terakhir ini. Bahkan, masa waktu dari ibadahnya selama waktu-waktu yang rutinnya juga serta keindahannya itu tidak dapat terjangkau, bukan saja keadaan beribadahnya dalam masa sepuluh haru terakhir ini ada di luar bayangan kita. Demikianlah contoh model yang sudah beliau amalkan bagi kita. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa memberi taufik kepada kita untuk dapat menciptakan keadaan lingkungan di dalam rumah tangga kita untuk memfasilitasi pengampunan bagi kita.

Yang Mulia Rasulullah s.a.w. mengatakan bahwa seseorang yang berpuasa dengan semangat keyakinan untuk meraih ridha Tuhan Yang Maha Kuasa, maka semua dosa-dosanya di masa lalu akan diampuni oleh-Nya dan seseorang yang bangun untuk Lailatul Qadr dengan satu semangat keyakinan untuk meraih ridha Allah maka dosa-dosanya yang lampau akan dimaafkan dan diampuni. Hudhur aba menerangkan puasa di Bulan Ramadhan adalah dengan syarat hal itu dikerjakan untuk memperkuat dan meningkatkan keyakinannya dan untuk meraih ridha Tuhan Yang Maha Kuasa, karena jika tidak begitu, maka Tuhan tidak tertarik untuk melihat seseorang itu berlapar-laparan. Pengamatan dan pemandangan dari Lailatul Qadr juga bersyarat bahwa hal itu dilakukan hanya demi untuk meraih ridha Tuhan Yang Maha Kuasa dan bukannya untuk meraih sesuatu tujuan atau alasan duniawi. Hudhur aba mengatakan bahwa ridha Allah itulah yang harus ditonjolkan di dalam doa-doa kita.

Yang Mulia Rasulullah s.a.w. mengatkan bahwa Lailatul Qadr itu harus dicari dalam masa sepuluh hari terakhir ini. Jika seseorang itu lemah dan mudah bersalah maka ia itu tidak akan bisa mengatasinya di dalam tujuh malam terakhir. Hudhur aba menerangkan bahwa jika atas beberapa alasan orang itu tidak dapat mengambil manfaat dari keberkahan Bulan Ramadhan, maka semua alasan itu haruslah dibuang di dalam sepuluh hari yang terakhir ini. Di dalam sunnah tradisi lainnya  Yang Mulia Rasulullah s.a.w. bersabda, ‘Ini [Lailatul Qadr] diperlihatkan kepada beberapa di antara kalian di dalam tujuh malam pertama dari sepuluh hari terakhir dan kepada yang lainnya di dalam tujuh malam yang terakhir.’ Hudhur aba mengatakan, ini memberikan klarifikasi atas Hadits sebelumnya bahwa tidak ada ditetapkan malam yang khusus, tetapi Lailatul Qadar ini dapat jatuh pada salah satu malam dari sepuluh malam yang terakhir. Beberapa ahadits menyebutkan carilah di malam-malam ganjil dari sepuluh hari yang terakhir itu.

Hudhur aba menerangkan bahwa pengalaman apa pun dari Lailatul Qadr itulah kebaikan dari keberkahan yang sangat khusus dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Adalah penting untuk menghargai pengalaman ini dan yang dapat dipergunakan untuk terus mengembangkan dan meningkatkan rohani atau spiritualitas orang itu. Ibadah dari satu malam ini adalah jauh lebih baik dari ibadah 1000 bulan. Hudhur aba mengatakan 83 tahun itu membuat 1000 bulan. Jadi jika orang mendapatkan pengalaman Lailatul Qadr ini, maka doa-doa selama hidupnya itu –yang adalah baik bagi seorang beriman- akan dikabulkan. Semua doa-doa yang dipanjatkan adalah yang baik di dalam pandangan Tuhan. Maka Dia menerima dan mengabulkan apa yang Dia anggap baik. Malam Lailatul Qadar ini memberikan kepada seorang yang beriman satu status spiritual yang lebih tinggi, dan turunnya para Malaikat akan membuat perubahan yang revolutioner pada hubungan seseorang yang beriman dengan Tuhan Yang Maha Kuasa di mana ibadahnya yang satu malam ini adalah sama dengan ibadahnya di sepanjang hidupnya. Ini dikarenakan orang itu sudah meraih dari tujuan penciptaannya; karena satu kali seseorang memperoleh pengalaman ini, maka seorang yang beriman akan terus menerus berusaha keras untuk mengembangkannya.

Hudhur aba mengatakan malam Lailatul Qadar ini memiliki satu keistimewaan yang sangat besar sebagaimana yang diterangkan oleh Hadhrat Masih Mau’ud a.s.  Salah satu keistimewaannya ada di dalam ayat Alqur-aan:  “Sesungguhnya, Kami menurunkannya pada Malam Taqdir” yang adalah wahyu Kitab Suci Alqur-aan.  Syari’at selengkapnya diwahyukan di dalam Bulan Ramadhan, sebagaimana Alqur-aan juga menyatakan: شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِىْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ ….’ –  “Bulan Ramadhan adalah bulan di mana Alqur-aan diturunkan …” (2:186).  Bukan saja wahyu itu mulai diturunkan di dalam Bulan Ramadhan, tetapi Malaikat Jibril a.s juga mengulanginya kembali pembacaan Alqur-aan ini pada setiap Bulan Ramadhan bersama Yang Mulia Rasulullah s.a.w.. Ini juga berarti bahwa memang ada saat di mana diperlukan bahwa petunjuk yang sempurna itu diturunkan, sebagaimana Alqur-menyatakan, itulah saatnya ketika: ظَهَرَ الْفَسَادُ فِىْ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ …..’ – “Telah nyata kerusakan di darat dan di laut ….” (30:42). Kekacauan yang melanda dunia pada saat itu adalah dalam skala yang tidak ada tara bandingannya sehingga sebuah Kitab yang sempurna ini diturunkan; sebagaimana Alqur-aan menyatakan:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمـٰنِ الرَّحِيمِ

حٰمٓ‌ ۛ‌ۚ‏ –  Tuhan Maha Terpuji, Maha Mulia

وَالْكِتٰبِ الْمُبِيْنِۛ ۙ‏ – Demi Kitab yang menjelaskan

اِنَّاۤ اَنْزَلْنٰهُ فِىْ لَيْلَةٍ مُّبٰرَكَةٍ‌ اِنَّا كُنَّا مُنْذِرِيْنَ‏ – Sesungguhnya, Kami menurunkannya pada satu malam yang diberkati, sesungguhnya Kami selalu memberi peringatan

فِيْهَا يُفْرَقُ كُلُّ اَمْرٍ حَكِيْمٍۙ‏ – Di dalamnya diputuskan semua perkara yang bijaksana

اَمْرًا مِّنْ عِنْدِنَا‌ؕ اِنَّا كُنَّا مُرْسِلِيْنَ‌ۚ‏ – Dengan perintah dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami selalu mengutus Rasul-rasul.

رَحْمَةً مِّنْ رَّبِّكَ‌ؕ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُۙ‏ –  Suatu rahmat dari Tuhan engkau . Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.

(Ad-Dukhan, 44:2-7).

Hudhur aba menerangkan jadi inilah Kitab Petunjuk yang jelas dan terbuka yang diturunkan pada waktu dan malam yang beberkat ini kepada seorang manusia sempurna yang merasa gelisah bagi umat manusia untuk menyembah kepada Satu Tuhan Yang Maha Esa dan yang menganggap Dia Maha Kuasa, bukannya dengan membuat seorang anak Tuhan yang lemah yang bisa mati dimana yang kewafatannya itu adalah sarana sumber untuk keselamatan. Itulah pengabulan dari doa seorang manusia sempurna s.a.w. bahwa Syaria’at yang sempurna ini telah diturunkan dan bukan hanya menjadi sumber pencerahan  di dalam zaman kegelapan 1400 tahun yang lalu, tetapi juga yang akan berlaku terus sampai Hari Kiamat, sebagamana Yang Mulia Nabi s.a.w. adalah tetap sebagai Khataman Nabiyyiin dan sebagai Nabi pembawa Syari’at yang terakhir. Dan setiap kali terjadi ketakutan dan kebingungan di dunia, hamba Tuhan akan bersujud dan memohon kepada-Nya di mana Dia akan menghiburnya dengan pernyataan: ‘… Sesungguhnya, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui’.

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. yang adalah pencinta sejati dan pengikut setia Nabi Muhammad s.a.w. dan yang telah diturunkan untuk melengkapi pengabdian selaku bawahan (subordination) beliau s.a.w. mengatakan bahwa ada satu perkara yang secara indah sekali ditemukan di dalam Surah Al Qadr yaitu bahwa ketika seorang Pembaharu turun dari Langit, Malaikat-malaikat turun bersamanya dan menarik orang-orang yang hatinya sudah tidak sabar lagi, pada kebenaran. Jadi, pada saat kegelapan rohani spiritual itu, ketika orang-orang cenderung mencari agama yang benar, itulah satu Tanda untuk turunnya seorang Pembaharu dari Langit. Pada saat itu, dua hal yang dapat terjadi. Satunya adalah mensucikan jiwa dari orang-orang yang hasilnya adalah mengasah, menajamkan kebijakan mereka. Yang kedua adalah walaupun ditajamkannya kebijakan mereka, tetapi jika jiwanya belum mencapai pada kebenaran, tetapi justru menjadi bukti dari: فِىْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌۙ فَزَادَهُمُ اللّٰهُ مَرَضًا‌ۚ ….’ – Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakit mereka …..” (2:11) itulah yang terjadi pada saat ketika datangnya semua Nabi-nabi Tuhan, setiap jiwa itu digerakkan. Orang-orang yang memiliki sifat jujur akan ditarik pada kebenaran, tetapi yang lainnya, yang cenderung pada jalan-jalan syaithan, walaupun digerakkan dan juga ditarik pada perkara keagamaan, tetapi mereka itu tidak menoleh pada kebenaran. Hasil akibatnya terhadap orang yang memiliki sifat-sifat baik adalah bagus, dan hasilnya buruk bagi orang-orang yang memiliki sifat jelek. Setiap zamannya Nabi memiliki satu Lailatul Qadr ketika Kitab yang diberikan kepadanya itu diturunkan. Lailatul Qadr yang terbesar adalah Lailatul Qadr-nya Yang Mulia Rasulullah s.a.w. dan jangkauan dari Lailatul Qadr beliau sampai di Hari Kiamat. Pada saat ketika Wakil atau Deputy Yang Mulia Rasulullah s.a.w. akan datang, maka hati-hati manusia itu digerakkan kembali. Lailatul Qadr yang ditetapkan pada saat kedatangannya Deputy ini, pada kenyataannya adalah satu cabang atau bayangan dari Lailatul Qadr–nya Yang Mulia Rasulullah s.a.w.. Saat tersebut, yang akan berlangsung sampai pada Hari Kiamat, di mana mengenai perkara ini Alqur-aan menyatakan: ‘ فِيْهَا يُفْرَقُ كُلُّ اَمْرٍ حَكِيْمٍۙ‏’ – “Di dalamnya diputuskan semua perkara yang bijaksana” (44:5), ilmu pengetahuan spiritual akan disebarkan ke seluruh dunia. Demikianlah caranya Tuhan Yang Maha Kuasa bahwa firman-Nya itu diturunkan pada saat Lailatul Qadr persis sebagaimana Nabi-nya itu datang pada saat ini. Ini juga ketika Malaikat-malaikat-Nya turun dn orang-orang ditarik pada ke-shalehan. Para Malaikat memulai dari kegelapan malam kebodohan sampai datangnya saat Fajar yang menarik orang-orang yang sedang menunggu-nunggu pada kebenaran.

Tentang keindahan tulisan dari Hadhrat Masih Mau’ud a.s. Hudhur aba mengatakan, jika dunia, terutamanya orang-orang Muslim, mengerti akan pesan amanat ini, dan bukannya menentangnya, maka mereka akan jadi penolongnya. Hudhur aba mengatakan alasan yang diberikan oleh Hadhrat Masih Mau’ud a.s. adalah sangat kuat di mana mereka yang menginginkan kedamaian dan yang mencari-cari seorang Pembaharu dan menunggu-nunggu Al-Masih perlu berpikir dan merenungkannya karena Hadhrat Masih Mau’ud a.s. mengatakan bahwa jika di saat kegelapan rohani itu, orang-orang cenderung pada agama maka itulah Tanda saatnya seorang Pembaharu itu akan turun dari Langit. Pada saat diturunkannya Pembaharu itu orang-orang sedan berputus asa menunggu kedatangan seseorang, tetapi jika orang tersebut mendakwakan dirinya, satu golongan dari masyarakat menentangnya dan sekelompok lainnya menerima beliau dan dengan demikian mereka dapat melengkapi kehidupannya di dunia ini dan untuk di Akhirat nanti. Hudhur aba  mengatakan berkali-kali bahwa orang-orang Muslim menyerukan bahwa Khilafat diperlukan untuk memelihara dunia Islam. Betapa akan ada Khilafat, jika Al-Masih tidak datang? Di zamannya Yang Mulia Rasulullah s.a.w. orang-orang yang berhati shaleh dapat mengenal beliau s.a.w. tetapi orang yang seperti Abu Jahal, yang menganggap dirinya sangat bijak dihancurkan. Di zamannya Hadhrat Masih Mau’ud a.s. kami melihat contoh dari Hadhrat Maulana Nur-ud-din dan Sahibzada Abdul Lateef Shaheed r.a. yang walaupun harus datang dari tempat yang jauh, beliau datang menjumpainya dan menerima beliau a.s.  Sedangkan Maulwi Muhammad Hussain Batalwi orang yang dekat tetap luput dari kesempatan itu. Mereka yang tidak memiliki taufik untuk menerima ke-shalehan adalah orang yang sombong dan angkuh, orang yang meng-agungkan dirinya di mana kebijakannya menjadi negative dan dikarenakan ke-negatif-annya mereka itu maka kondisi kerohanian mereka menjadi rusak.

Hudhur aba mengatakan keadaan mereka yang menolak Hadhrat Masih Mau’ud a.s. di saat sekarang ini juga sama. Dalam asumsi mereka, mereka itu membuat pernyataan yang shaleh dan bagus, tetapi tidak ada efeknya, karena mereka itu adalah pencela kepada wujud yang dikirim oleh Tuhan.

Hudhur aba mengatakan Tahir Nadeem sahib yang menulis sejarah orang-orang Ahmadi bangsa Arab di dalam Al Fazl. Menulis tentang bagaimana kejadiannya Tahir Hani sahib, yang sekarang mewakafkan dirinya untuk Ahmadiyyah, yang bekerja sangat keras, beliau menceriterakan bahwa pada mulanya ia berusaha keras dengan berbagai cara untuk menolak pesan amanat Ahmadiyyah. Ia kemudian membaca beberapa buah buku Jamaat dan membawa buku ini kepada seorang Ulama, yang menurut pikirannya dapat menolak amanat Ahmadiyyah ini. Namun, apa yang dikerjakannya adalah ia hanya mencaci dan mencela buku-buku tersebut. Hani sahib mengatur sebuah debat antara Ulama tersebut dengan Mustapha Thabit sahib yang ternyata Ulama tersebut tidak dapat menandinginya. Akhirnya ia meninggalkan Ulama tersebut dan Tuhan Yang Maha Kuasa membimbing ia kepada Ahmadiyyah. Hudhur aba mengatakan, betapa pun orang itu memiliki ilmu tentang agama, tetapi mereka yang menolak dan menentang kepada Hadhrat Masih Mau’ud a.s. mereka itu kehabisan akal sehat dan alasan. Sekarang juga, mereka menyatakan dirinya itu tahu ilmu agama, mereka mengikuti jalan-jalan syaithan.  Sebagaimana Hadhrat Masih Mau’ud a.s. telah menerangkan saat Lailatul Qadr yang diturunkan kepada Yang Mulia Rasulullah s.a.w. itu berlangsung terus sampai Hari Kiamat dan dengan melalui Lailatul Qadr inilah orang-orang yang berhati shaleh akan datang pada amanat kebenaran. Betapa pun, orang-orang yang malang ini telah kehilangan jalan. Hudhur aba mengatakan, masa dari Lailatul Qadr telah ditegakkan kembali atas dasar bayangan dikarenakan Deputy-nya, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. Di zaman sekarang ini kita dapat memperoleh Lailatul Qadr dengan menghargai dan mengenali Lailatul Qadr ini.

Ada terdapat berbagai keadaan dari orang-orang; ada yang mengikuti agama dengan cara yang sebaik-baiknya, yang mengambil manfaat dari kemurahan Ilahi dengan berkat dari ke-shalehannya, atau orang yang menganggap sebagai penjaga caretaker dari agama dan menciptakan penindasan dan kebrutalan dengan meng-atas-namakan agama, demikian juga yang menggunakan rekayasa tertentu untuk menginjak-injak nilai-nilai dan ahlak manusia, di mana rekayasa yang lainnya adalah yang bermanfaat bagi orang-orang beriman dan yang menjadi satu sumber sarana untuk menyebarkan firman Allah Taala. Semua aspek positif dan aspek negative ini adalah bukti tentang diturunkannya seorang wujud yang dikirimkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa dan Lailatul Qadr.  Perlu dicatat bahwa di sini Tuhan Yang Maha Kuasa menyatakan bahwa turunnya para Malaikat itu terus berlangsung sampai ‘terbitnya Fajar. Malaikat-malaikat yang diturunkan sejak zamannya Yang Mulia Rasulullah s.a.w. ketika Islam sedang dalam kemenangan. Bahwa ‘terbitnya Fajar’ itu yang tidak akan dan tidak dapat kembali; inilah ketika agama ini sudah sempurna. Betapa pun, sebagaimana Hadhrat Masih Mau’ud a.s. sudah mengatakan bahwa keadaan ini terus berlangsung untuk mewujudkannya saat kedatangannya ‘Deputy’ dalam bentuk bayangannya. Nur cahaya ini terus berada untuk selama 30 tahun di zamannya Khilafat e Rashidah.

Sedikit demi sedikit kegelapan rohaniah menyebar yang diikuti dengan kegelapan secara menyeluruh. Dewasa ini, cahaya ini timbul kemabali dengan diturunkannya Hadhrat Masih Mau’ud dalam bentuk bayangannya. Inilah zaman yang mengikuti ‘terbitnya Fajar’ yang bisa dikatakan berakhir dengan wafatnya Hadhrat Masih Mau’ud a.s..

Agar supaya mencari keberkatannya dari hari baru yang terbit ini, agar dapat menjaga kejayaan yang sudah ditakdirkan bagi Islam Ahmadiyyah dari kesemarakan eloknya duniawi dan untuk terus meninggikan tingkatan spiritualitasnya, Tuhan mengingatkan kepada kami pada Lailatul Qadr di setiap tahun dalam Bulan Ramadhan.

Bisa dikatakan, masanya Lailatul Qadr Nabi Muhammad saw. telah berakhir dengan wafatnya beliau saw. dan dengan diturunkannya wahyu Alqur-aan ‘terbitnya Fajar’, tetapi di pihak lainnya Lailatul Qadr ini akan terus berlangsung bersamaan dengan pesan bagi ummatnya untuk memenuhi kewajibannya terhadap Alqur-aan dan Ramadhan serta meraih manfaat dari Malam yang sangat istimewa ini. Dengan menciptakan spiritual ambiance yang datang berulang kali ini, Tuhan Yang Maha Kuasa telah menganugerahkan kebajikan yang amat besar. Jika, sebagai penghargaan untuk hal ini, kami dapat melaksanakan tugas kewajiban kami dengan sebaik-baiknya, maka kami akan dapat terus mengambil manfaat dari kebajikan yang dibagikan oleh Yang Mulia Rasulullah s.a.w. Semoga Allah Taala senantiasa menganugerahkan berkat dan rahmat-Nya kepada kami. Orang-orang yang pencela dan pemitnah, di dalam asumsi mereka, yang mengganggu kita dan menginginkan kita berada di dalam kegelapan, yang menginginkan kehancuran kita di mana di dalam khayalan asumsi mereka itu akan dapat menghancurkan kita, namun Jamaat Ilahi ini tidak akan disia-siakan dan tidak akan dapat dihancurkan. Semoga gangguan-gangguan yang terus-menerus terjadi di Pakistan akan membawakan turunnya Lailatul Qadr di mana kami dapat melihat perwujudan manifestasi dari ‘terbitnya Fajar’ yang direalisasikan dalam bentuk kedamaian dan kejayaan yang langgeng. Aamiiinn.



0 Responses to “Lailatul Qadar – Malam Taqdir”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




AYO BERBELANJA DI TOKO ONLINE KAMI:

Statistik Blog

  • 216,092 hit

aku suka jalan-jalan

hidup adalah jalan-jalan. jalan-jalan adalah hidup

%d bloggers like this: