Ahmadiyah vs NU

Oleh : Hans Wijaya | 11-Okt-2010, 19:59:20 WIB

KabarIndonesia – Nasib sial secara beruntun menimpa kaum Ahmadiyah di seluruh Indonesia. Setelah dibombardir oleh sekelompok organisasi massa anarkis di Desa Manis Lor, Kuningan, kembali kaum Ahmadiyah di serang di Cisalada, Ciampea Udik, Bogor, Jabar, Sabtu (2/10). Belum juga usai, kini mereka kembali diserang secara psikologis dengan pernyataan-pernyataan dari berbagai tokoh yang bernada menekan.

Tak kurang tokoh-tokoh Republik ini mulai dari ustad di kampung sampai seorang menteri menyerang Ahmadiyah dengan pernyataan yang kurang bijaksana.

Secara teologis, penulis berbeda pendapat dengan kaum Ahmadi, tetapi secara psikologis, kami tidak ada masalah. Karena Ahmadiyah setelah saya melakukan rekam jejak mereka, tidak menemukan perbedaan yang sangat prinsipil.

Mulai dari kalimat dua Kalimah Syahadat, ayat-ayat Al-Quran sampai kepada tata cara sholat baik yang wajib maupun yang sunnah. Bahkan, dalam amalan ibadah juga beda-beda tipis dengan aliran Islam yang mayoritas di negara ini.

Ketika almarhum Gus Dur masih ada, kalangan Ahmadiyah merasa tentram karena Gus Dur memiliki sikap yang sangat toleran dan menghargai pluralisme. Bukan cuman itu, banyak Kyai Nahdlatul Ulama (NU) juga memiliki sikap yang sama dengan Gus Dur. Tapi anehnya sekarang, para elit NU yang ada di kepengurusan besar (PB) tidak mewarisi pemikiran almarhum dalam persoalan pluralisme.

Sikap berlawanan itu bisa dilihat saat penyerangan warga Ahmadiyah di Desa Manislor, Kuningan beberapa waktu lalu, Ketua Gerakan Pemuda Ansor Cabang Kuningan siap membela warga Ahmadiyah dengan menerjunkan ribuan anggota Banser. Pernyataan tersebut mendapat restu dari puluhan kyai berpengaruh yang bermukim di Kuningan dan Cirebon.

Berbeda dengan kenyataan, para elit di NU seiring seirama dengan penguasa mengeroyok Ahmadiyah dengan pernyataan yang kurang bijaksana. Sebagai seorang pengurus dalam sebuah organisasi massa Islam terbesar di Tanah Air, pernyataan mereka memiliki implikasi yang dalam terhadap perkembangan dan citra NU yang sudah dibangun dengan susah payah oleh para ulama.

Skenario Para Elit
Aksi kekerasan yang menimpa warga Ahmadiyah tidak serta merta terjadi begitu saja. Disinyalir ada grand skenario yang telah dibuat oleh sekelompok elit. Hal itu bisa dibuktikan dengan mentoknya persoalan hukum bagi pelaku penyerangan. Kita tidak pernah mendengar kabar, pelaku penyerangan diseret ke meja hijau.

Aksi tersebut tidak pernah dilakukan secara spontan. Ada proses pengumpulan massa dan provokasi. Aparat negara mestinya bisa mencegah kekerasan sejak dini, yakni membubarkan pengumpulan massa yang bertujuan memprovokasi tindak kekerasan.

Begitu pula yang terjadi di Bogor, kelompok penyerang sempat menyusun rencana setelah salat Jumat di Kampung Laladon, tidak jauh dari Kampung Cisalada. Anehnya, aparat keamanan mengetahui pertemuan dan hasil dari rembukan tersebut.

Ketika aksi tersebut terjadi, entah dari mana mulanya, tersiar kabar aksi anarkis tersebut dipicu dari tindakan warga Ahmadiyah. Kesimpulan tersebut diambil secara terburu-buru sebelum dilakukan investigasi. Hingga saat ini, isu penusukan yang dilakukan tidak pernah terbukti. Dan seperti biasa, aparat keamanan maupun pemerintah diam seribu basa.

Kekhawatiran warga Muslim Ahmadiyah atas ancaman tindak kekerasan sangat beralasan. Hampir semua serangan yang mereka alami tidak memperoleh penanganan yang serius dari aparat negara. Warga Ahmadiyah di seluruh Indonesia mesti mempertahankan sendiri nyawa dan harta bendanya yang terancam. Sementara penyerang selalu sangat leluasa mengorganisir diri melakukan aksi.

Tolerasi Tingkat Tinggi
Alih-alih mencegah potensi kekerasan dengan menangkap dan membubarkan kampanye kebencian dan permusuhan, aparat negara justru sangat sering mengkriminalisasikan korban. Puluhan masjid Ahmadiyah disegel tanpa alasan yang jelas. Sedangkan tempat mengorganisir kelompok melakukan tindakan anarkis tidak tersentuh sama sekali.

Sampai kapapun, kekerasan akan tetap mewarnai jalan hidup kawan-kawan di Ahmadiyah. Apabila pemerintah tidak mampu menjalani amanat konstitusi secara benar dan konsekuen. Aparat harus berada dipihak korban bukan membela pihak penyerang. Konsistensi dan ketegasan sangat diperlukan. Apabila pemerintah dan aparat keamanan tidak mau kehilangan legitimasi dimata rakyatnya sendiri.

Begitu pula dengan elit NU, hendaknya memiliki sikap yang bijaksana dalam menyikapi sebuah perbedaan, bukan dengan bersikap idem dito dengan penguasa. Bercermin dari sikap Gus Dur yang teramat sangat toleran dan mampu berdiri di semua golongan, akan membawa NU sebagai pilar utama berdiri tegaknya demokrasi berdasarkan nilai-nilai Islam secara kaffah. Semoga. (*)

Sumber:Harian Online KhabarIndonesia

2 Responses to “Ahmadiyah vs NU”


  1. 1 kumaladewi November 16, 2010 at 10:31 am

    lihatlah dari sisi baiknya selama itu tidk manjauh dari ajaran Islam yang di tentukan Allah Swt maka setiap umat di wajibkan untuk menganut kepercayaannya masing2.selama itu pula ajaran NU dan Ahmadiah tersebut.marilah kita sbut silaturrahmi yg baik supaya jgn sampai memperpecahkan umat beragama.

  2. 2 aa md jaktim December 6, 2010 at 8:15 am

    BAGUSNYA JUDULNYA BUKAN AHMADIYAH VS NU, SEHARUSNYA AHMADIYAH TEMAN NU, KENAPA SAYA KATAKAN BEGITU KARENA AHMADIYAH BANYAK DIBANTU OLEH NU, TERIMAKASIH NU JUGA TERIMAKASIH ATAS TERBITAN KUMPULAN FATWA TENTANG STATUS KE RASULAH ISA AS KE DUA YANG AKAN DATANG DI AKHIR ZAMAN

    @d3n
    saya setuju, tapi itu judul dari penulisnya, bukan dari saya….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




AYO BERBELANJA DI TOKO ONLINE KAMI:

Statistik Blog

  • 215,909 hit

aku suka jalan-jalan

hidup adalah jalan-jalan. jalan-jalan adalah hidup

%d bloggers like this: