FAKTA TANDA KETAKWAAN ATAU KEDURHAKAAN PENDUDUK SUATU NEGERI

بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡم

وَ لَوۡ اَنَّ  اَہۡلَ الۡقُرٰۤی اٰمَنُوۡا  وَ اتَّقَوۡا لَفَتَحۡنَا عَلَیۡہِمۡ بَرَکٰتٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَ الۡاَرۡضِ وَ لٰکِنۡ کَذَّبُوۡا فَاَخَذۡنٰہُمۡ بِمَا کَانُوۡا یَکۡسِبُوۡنَ ﴿۹۷

Dan Seandainya penduduk kota-kota beriman serta bertakwa niscaya Kami akan membukakan  bagi mereka keberkatan dari langit dan bumi, tetapi mereka telah mendustakan, maka Kami menimpakan azab kepada mereka karena apa yang telah mereka usahakan (Al-A’rāf [7]:97).

Firman Alllah Ta’ala di atas merupakan Sunnatullah yang senantiasa berlaku dari zaman ke zaman sebagaimana firman-Nya berikut ini mengenai  kaum Ahlul KItab:

وَ لَوۡ اَنَّہُمۡ اَقَامُوا التَّوۡرٰىۃَ وَ الۡاِنۡجِیۡلَ وَ مَاۤ  اُنۡزِلَ اِلَیۡہِمۡ مِّنۡ رَّبِّہِمۡ لَاَکَلُوۡا مِنۡ فَوۡقِہِمۡ وَ مِنۡ تَحۡتِ اَرۡجُلِہِمۡ ؕ مِنۡہُمۡ اُمَّۃٌ مُّقۡتَصِدَۃٌ ؕ وَ کَثِیۡرٌ مِّنۡہُمۡ سَآءَ مَا یَعۡمَلُوۡنَ ﴿۶۷

Dan seandainya Ahlul Kitab beriman dan bertakwa niscaya Kami menghapuskan dari mereka keburukan mereka dan niscaya Kami memasukkan mereka ke dalam kebun-kebun kenikmatan. Dan seandainya mereka benar-benar menegakkan ajaran Taurat dan Injil dan apa yang diturunkan kepada mereka dari Tuhan mereka niscaya mereka akan memakan barang-barang baik dari atas mereka dan dari bawah mereka. Di antara mereka ada umat yang mengambil jalan tengah, tetapi sangat buruk apa yang dikerjakan oleh kebanyakan mereka (Al-Maidah [5]:67).

Umumnya umat Islam di NKRI tercinta ini sangat bangga akan kemayoritasan mereka sebagai  pemeluk agama Islam, karena sekitar 86% dari seluruh penduduk NKRI adalah umat Islam. Akan tetapi yang seharusnya menjadi bahan renungan serius bagi umat Islam di NKRI ini – terutama sekali bahan renungan para pemuka agama Islam – adalah: Mengapa  Sunnatullah atau janji Allah pada awal uraian ini belum juga terjadi di NKRI tercinta ini, bahkan yang semakin marak terjadi adalah pernyataan Allah Ta’ala berikut ini? Firman-Nya:

قُلۡ ہُوَ الۡقَادِرُ عَلٰۤی اَنۡ یَّبۡعَثَ عَلَیۡکُمۡ عَذَابًا مِّنۡ فَوۡقِکُمۡ اَوۡ مِنۡ تَحۡتِ اَرۡجُلِکُمۡ اَوۡ یَلۡبِسَکُمۡ شِیَعًا وَّ یُذِیۡقَ بَعۡضَکُمۡ بَاۡسَ بَعۡضٍ ؕ اُنۡظُرۡ کَیۡفَ نُصَرِّفُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّہُمۡ یَفۡقَہُوۡنَ ﴿۶۶

Katakanlah: Dia-lah Yang berkuasa membangkitkan (mengirimkan) azab kepada kamu dari atasmu atau dari bahwa kakimu atau mencampurbaurkan kamu menjadi golongan-golongan yang bertentangan dan membuat sebagian kamu merasakan keganasan sebagian yang lain.” Perhatikanlah bagaimana Kami menjelaskan Tanda-tanda supaya kamu mengerti (Al-An’ām [6]:66).

Azab dari atas” maknanya: kelaparan, gempa bumi, air bah (banjir bandang dll), taufan, penindasan terhadap golongan yang lemah (minoritas) oleh yang kuat, penderitaan mental, dan sebagainya; sedangkan “siksaan dari bawah” berarti: penyakit-penyakit, wabah, pemberontakan pihak bawahan, dan sebagainya. Kemudian ada azab berupa kekacauan, perpecahan-perpecahan dan perselisihan yang kadang-kadang berakhir dalam perang saudara. Hal demikian itu diisyaratkan dalam kalimat “membuat sebagian kamu merasakan keganasan sebagian yang lain”.

Mari kita lihat saat ini keadaan kehidupan di negara-negara yang mayoritasnya berpenduduk Muslim, seperti di Pakistan, Bangladesh, Afganistan, Iraq dll., Sunnatullah yang mana yang terjadi? Kehidupan surgawikah yang terjadi atau malah  sebaliknya kehidupan bagaikan dalam neraka jahannam? Haruskah keadaan kehidupan di NKRI tercinta ini pun seperti keadaan  mengerikan di negara-negara Muslim tersebut?

Atas semua hal itu, kita sebagai umat Islam tidak perlu mencari “kambing hitam” bahwa apa yang terjadi di negara-negara Muslim tersebut adalah  gara-gara  perbuatan negara-negara non-Muslim ini dan itu, atau   gara-gara yang lainnya lagi. Lebih baik kita umat Islam  kembali kepada petunjuk Al-Quran dan  sabda-sabda  Nabi Besar Muhammad saw. untuk mengintrospeksi diri,   misalnya:

(1)    Apakah umat Islam telah melaksanakan perintah Allah Ta’ala mengenai pentingnya bertakwa dan berpegang teguh pada “Tali Allah” serta jangan saling berselisih satu sama lain (QS.3:103-108), ataukah malah bersikap sebaliknya (QS.21:93-94; QS.23:53-55; QS.30:31-33)?

(2)    Apakah para pemuka umat Islam telah mengamalkan pentingnya adanya kesamaan antara ucapan  dan perbuatan (QS.61:3-5), ataukah malah sebaliknya sehingga umat Islam  pun menjadi kehilangan panutan yang baik (QS.33:22)?

(3)    Apakah umat Islam benar-benar telah menjadi “rahmat bagi seluruh alam” sebagaimana halnya Nabi Besar Muhammad saw. (QS.21:108l QS.34:29), sehingga Allah Ta’ala  dalam Al-Quran menyebut umat Islam sebagai “umat terbaik yang diciptakan untuk manfaat seluruh umat manusia” (QS.2:144; QS.3:111)? Ataukah malah sebaliknya, yakni akibat ulah tidak Islami sekelompok penganut “garis keras” maka  citra suci  agama/ajaran Islam dan citra suci Nabi Besar Muhammad saw. pun menjadi ternoda berat?

Itulah beberapa  pelanggaran yang dilakukan umumnya oleh umat Islam – terutama sekali umumnya para pemuka umat Islam – terhadap ajaran Al-Quran dan Sunnah Nabi Besar Muhammad saw., sehingga akibatnya  Sunnah Allah lainnya dalam Al-Quran  pun yang terjadi di zaman Nabi Besar Muhammad saw. dan para Sahabah r.a.  tidak terjadi,  firman-Nya: “Berapa banyak golongan kecil telah  mengalahkan golongan yang besar dengan izin Allah” (QS.2:250-253; QS.3:124-128; QS.8:66).

Begitu kecilnya ”negara sementara Israel” saat ini, dan begitu besar dan banyaknya “negara-negara Islam  dan umat Islam” di sekitar  “negera Zionis” tersebut, tetapi kenapa Sunnatullah tersebut tidak terjadi di kalangan umat Islam di Timur Tengah? Haruskah umat Islam menyalahkan Allah Ta’ala? Atau menyalahkan Israel? Atau menyalahkan Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya? Ataukah harus menyalahkan diri sendiri karena kenyataannya untuk mendamaikan  perselidihan  antara pihak Hamas dan pihak Fatah yang bertentangan keras di Palestina pun mereka tidak mampu?

Terlepas dari semua itu,  yang pasti adalah  terdapat Sunnatullah lainnya yang senantiasa terjadi  tatkala umumnya umat Islam telah mendurhakai perintah Allah Ta’ala dan  Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:

یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَنۡ یَّرۡتَدَّ مِنۡکُمۡ عَنۡ دِیۡنِہٖ فَسَوۡفَ یَاۡتِی اللّٰہُ بِقَوۡمٍ یُّحِبُّہُمۡ وَ یُحِبُّوۡنَہٗۤ ۙ اَذِلَّۃٍ عَلَی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ اَعِزَّۃٍ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ ۫ یُجَاہِدُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ وَ لَا یَخَافُوۡنَ لَوۡمَۃَ لَآئِمٍ ؕ ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ وَاسِعٌ عَلِیۡمٌ ﴿۵۴﴾ اِنَّمَا وَلِیُّکُمُ اللّٰہُ وَ رَسُوۡلُہٗ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا الَّذِیۡنَ یُقِیۡمُوۡنَ الصَّلٰوۃَ وَ یُؤۡتُوۡنَ الزَّکٰوۃَ وَ ہُمۡ رٰکِعُوۡنَ ﴿۵۵﴾ وَ مَنۡ یَّتَوَلَّ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا فَاِنَّ حِزۡبَ اللّٰہِ ہُمُ الۡغٰلِبُوۡنَ ﴿٪۵۶﴾

Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu murtad dari agamanya maka segera Allah akan akan mendatangkan suatu kaum, Dia akan mencintai mereka dan mereka pun akan mencintai-Nya, mereka akan bersikap lembut terhadap orang-orang beriman dan tegas terhadap orang-orang kafir, mereka akan berjuang di jalan Allah dan tidak takut akan celaan seorang pencela. Itulah karunia Allah, dan memberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki dan Allah Mahaluas rahmat-Nya, Maha Mengetahui. Sesungguhnya pelindung kamu  adalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman yang selalu mendirikan shalat dan membayar zakat, dan mereka taat kepada  Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa menjadikan Allah dan Rasul-Nya dan mereka yang beriman sebagai pelindung  maka sesungguhnya Hizbullah (Jemaat Ilahi) pasti menang. (Al-Maidah [5]:55-57). Lihat pula QS.58:21-23.

Mengakhiri tulisan sederhana ini berikut adalah firman Allah Ta’ala mengenai kesedihan  seorang Rasul Allah ketika menyaksikan  kenyataan di masa hidupnya bahwa umumnya umat Islam telah memperlakukan Al-Quran sebagai sesuatu yang telah ditinggalkan, firman-Nya:

Dan pada Hari itu langit akan terpecah-belah dengan  mengeluarkan awan dan malaikat-malaikat akan diturunkan  berkali-kali. Kerajaan yang haq pada Hari itu milik Allah Yang Maha Pemurah, dan azab pada hari itu bagi orang-orang kafir sangat keras. Dan pada Hari itu orang-orang zalim akan mengigit-gigit kedua  tangannya seraya berkata: “Wahai alangkah baiknya jika aku mengambil jalan bersama Rasul itu. Wahai celaka aku! Alangkah baiknya seandainya aku tidak pernah menjadikan si fulan itu sahabat! Sesungguhnya ia telah melalaikan aku dari peringatan Allah sesudah ia datang kepadaku.” Dan syaitan selalu menelantarkan manusia. Dan Rasul itu berkata: “Ya Tuhan-ku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan  Al-Quran ini sesuatu yang telah ditinggalkan.” Dan demikianlah Kami telah menjadikan bagi tiap-tiap nabi musuh dari kalangan orang-orang yang berdosa, dan cukuplah Tuhan engkau sebagai Pemberi petunjuk dan penolong. (Al-Furqān [25]:26-32).

Kata “Hari itu” tidak menunjuk kepada zaman di masa Nabi Besar Muhammad saw. melainkan  yang dimaksudkan adalah akhir zaman saat ini, sebab apa yang dikemukakan dalam firman Allah Ta’ala tersebut sama sekali tidak sama dengan keadaan di zaman Nabi Besar Muhammad saw., terutama  kalimat ayat:  “Rasul itu berkata: “Ya Tuhan-ku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan  Al-Quran ini sesuatu yang telah ditinggalkan.” Sebutan “Rasul itu” tidak dapat dikenakan kepada Nabi Besar Muhammad saw. karena memang kaum Quraisy beliau saw.  atau bangsa Arab saat itu umumnya mendustakan dan menentang keras Nabi Besar Muhammad saw. dan Al-Quran, jadi bagaimana mungkin mereka akan mengamalkan ajaran Al-Quran?

Dengan demikian jelaslah bahwa yang dimaksud dengan “Hari itu” dan “Rasul itu” adalah masa  Akhir Zaman ini dimana  seorang Rasul Allah yang dibangkitkan dari kalangan umat Islam, beliau merasa sangat bersedih melihat kaum beliau yakni umat Islam telah memperlakukan Al-Quran sebagai sesuatu yang telah ditinggalkan sebagaimana  telah dijelaskan sebelumnya.

Masih jugakah akan mencari-cari kesalahan pihak lain mengenai keadaan menyedihkan yang sedang menimpa umumnya umat Islam di dunia ini, ataukah akan menyalahkan diri sendiri karena telah memperlakukan Al-Quran sebagai sesuatu yang telah ditinggalkan? Contoh lainnya:

(1)     Al-Quran dengan jelas mengatakan bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. telah wafat (QS.3:56; QS.5:117-119) tetapi menurut umumnya  para pemuka umat Islam di Akhir Zaman ini beliau masih hidup di langit dengan tubuh jasmaninya.

(2)    Al-Quran menyatakan bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. adalah Rasul Allah hanya untuk Bani Israil (QS.3:51-57; QS.61:7) tetapi menurut umumnya para pemuka umat Islam akan diutus kembali menjadi Rasul  Allah untuk   umat Islam.

(3)    Al-Quran menyatakan bahwa Nabi Isa Akhir Zaman adalah misal Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58), tetapi umumnya para pemuka  Islam “keukeuh” (ngotot)  bahwa beliau adalah Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Israili?

(4)    Sebagaimana halnya kaum Yahudi telah mendustakan dan menolak  — bahkan berusaha membunuh Nabi Isa Ibnu Maryam Israili a.s. melalui penyaliban (QS.4:148-149) – demikian pula halnya ketika Allah Ta’ala mengutus  misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dari kalangan umat Islam maka beliau pun mengalami perlakuan buruk yang sama  seperti Nabi Isa Ibnu Maryan a.s. Israili (QS.43:58-60), padahal Allah Ta’ala telah memerintahkan orang-orang beriman (umat Islam) untuk menyambut seruan misal Isa Ibnu  Maryam a.s. Israili, firman-Nya:

ۤاَیُّہَا  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا کُوۡنُوۡۤا  اَنۡصَارَ اللّٰہِ کَمَا قَالَ عِیۡسَی ابۡنُ  مَرۡیَمَ لِلۡحَوَارِیّٖنَ مَنۡ  اَنۡصَارِیۡۤ  اِلَی اللّٰہِ ؕ قَالَ الۡحَوَارِیُّوۡنَ نَحۡنُ  اَنۡصَارُ اللّٰہِ  فَاٰمَنَتۡ طَّآئِفَۃٌ  مِّنۡۢ  بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ وَ کَفَرَتۡ طَّآئِفَۃٌ ۚ فَاَیَّدۡنَا  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا عَلٰی عَدُوِّہِمۡ فَاَصۡبَحُوۡا ظٰہِرِیۡنَ ﴿۱۵

“Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong Allah sebagaimana Isa Ibnu Maryam berkata kepada hawariyyin (murid-muridnya): “Siapakah penolong-penolongku di jalan Allah?”  Hawariyyin berkata: “Kamilah penolong-penolong Allah.” Maka segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan lainnya ingkar, lalu Kami membantu orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka maka mereka menjadi orang-orang yang menang. (Al-Shaf [61]:15).

Dengan demikianlah benarlah sabda Nabi Besar Muhammad saw. dalam hadits-hadits shahih mengenai adanya persamaan — seperti “persamaan sepasang sepatu” —  antara umat Islam (Bani Ismail) dengan pemahaman dan pengamalan kaum Yahudi dan Nasrani, termasuk persamaan dalam hal perpecahan umatnya. Bahkan menurut beliau saw.  perpecahan di kalangan umat Islam lebih besar lagi jumlahnya.

Penulis mengakhiri tulisan sederhana ini    dengan firman Allah pada awal uraian ini, semoga bermanfaat bagi mereka yang mencari kebenaran Al-Quran:

وَ لَوۡ اَنَّ  اَہۡلَ الۡقُرٰۤی اٰمَنُوۡا  وَ اتَّقَوۡا لَفَتَحۡنَا عَلَیۡہِمۡ بَرَکٰتٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَ الۡاَرۡضِ وَ لٰکِنۡ کَذَّبُوۡا فَاَخَذۡنٰہُمۡ بِمَا کَانُوۡا یَکۡسِبُوۡنَ ﴿۹۷

Dan Seandainya penduduk kota-kota beriman serta bertakwa niscaya Kami akan membukakan  bagi mereka keberkatan dari langit dan bumi, tetapi mereka telah mendustakan, maka Kami menimpakan azab kepada mereka karena apa yang telah mereka usahakan (Al-A’raf [7]:97.

Wassalam,

Ki Langlang Buana Kusuma

0 Responses to “FAKTA TANDA KETAKWAAN ATAU KEDURHAKAAN PENDUDUK SUATU NEGERI”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




AYO BERBELANJA DI TOKO ONLINE KAMI:

Statistik Blog

  • 215,909 hit

aku suka jalan-jalan

hidup adalah jalan-jalan. jalan-jalan adalah hidup

%d bloggers like this: