AHMADIYAH ADALAH ISLAM

Artikel Kajian Islam mengenai status Ahmadiyah menurut Kaidah Ushl Fiqh.
Mudah-mudahan bermanfaat sebagai bahan studi banding.

Penulis adalah Lulusan Pasca Sarjana Universitas Al Azhar Mesir.

Takfirisasi Dalam Pandangan Ahlu Sunnah Wa al-Jama’ah: Pandangan
Terhadap Ahmadiyah

Aman | 07 Sep, 2005, 23:30 | Agama , Islamika |
Islam memang tidak pernah sepi dari aliran-aliran dan mazhab-mazhab,
baik fikih atau akidah. Pada masa kebangkitan Islam seperti yang
didengung-dengungkan, banyak pihak yang berupaya melakukan kajian-
kajian dalam rangka melakukan pendekatan-pendekatan antarmazhab.
Dulu aliran-aliran ini penuh dengan konflik dan pertikaian, apalagi
ketika aliran-aliran itu menerjunkan diri dalam kancah politik dan
perebutan kekuasaan. Persoalan tentang perbedaan mazhab dan kelompok
aliran di antara kaum muslimin kembali merebak. Khususnya setelah
kejadian yang menimpa golongan Ahmadiyah di Parung, Bogor. Mayoritas
orang Islam, khususnya di Indonesia–pada sudut pendapat dan
pandangan–memang tidak sejalan dengan Ahmadiyah. Lebih dari itu,
kita juga menemukan beberapa kelompok dan tokoh ulama yang
menyatakan mereka ini bukan dari Islam dan semestinya tidak
mencaplok Islam pada nama kelompok mereka.

Apakah Ahmadiyah golongan Islam atau bukan? Bagi saya pertanyaan ini
masih lebih baik dengan tujuan mengkaji kembali konsep-konsep
teologis dan pendapat para ulama dalam masalah aliran-aliran ini.
Bagaimanapun, pertanyaan apakah Islam atau bukan, sudah masuk
lingkup teologis dan akidah yang berkaitan erat dengan keimanan
Islam. Dalam hal ini kita juga perlu mencermati kembali prinsip-
prinsip dasar Iman sehingga tidak bercampur aduk dengan persoalan
kesempurnaan Iman.

Berkaitan dengan Ahmadiyah, kalau pertanyaannya, kenapa Ahmadiyah
masih mengaku sebagai muslim? Maka jawabannya bagi saya, karena
mereka memang muslim. Tuduhan kepada mereka yang mempunyai keyakinan
tentang kenabian yang berbeda itu harus dijelaskan lebih lanjut.
Persoalan apakah Islam atau bukan, adalah perkara besar yang tidak
bisa kita ringkas seringkas kalimat pertanyaan itu. Konsekuensinya
sangat jauh hingga menjangkau akhirat, dan tidak terbatas pada
kelompok yang dipertanyakan saja, tapi juga punya akibat pada orang
yang mempertanyakan.

Dalam beberapa bacaan saya yang langsung bersumber dari referensi
Ahmadiyah sendiri, bisa saya simpulkan bahwa sebenarnya Nabi
Terakhir bagi Ahmadiyah tetap Muhammad Saw. Sedangkan Mirza Ghulam
Ahmad yang mereka akui sebagai Nabi adalah al-Masih dan al- Mahdi al-
Muntazhar. Tentu saja kita tidak mesti harus sependapat dengan
mereka apakah benar Mirza Ghulam Ahmad itu Nabi seperti yang mereka
klaim atau bukan. Kalau kita tarik masalah ini ke wilayah dasar
prinsip agama, yakni apakah mereka itu Islam atau bukan?, maka
sekarang pembicaraannya bukan lagi perdebatan tentang al-Mahdi al-
Muntazhar atau al-Masih, tapi sudah mempersoalkan akidah dan
keimanan. Dan pertanyaan “kenapa Ahmadiyah masih mengaku muslim?”
menjadi pertanyaan yang sudah mengandung tudingan dan tuduhan yang
menyangkut prinsip dasar keimanan dan Islam (al-Ushul).

Dalam sejarahnya, persoalan akidah dan yang terkait dengan masalah
ini telah melahirkan banyak aliran teologi dalam Islam seperti
Mu’tazilah, Syiah, Jahamiyah, Khawarij, dll. Banyak di antara ulama
kita (jaman sekarang) dalam pembahasannya terhadap aliran teologis
ini menyederhanakan masalah. Mereka mencampur adukkan antara istilah
akidah dengan ushul. Biasa kita temukan mereka membagi pembasahan
ajaran keislaman kepada Ushul (dasar) dan Furu’ (cabang). Lalu
memutuskan bahwa Ushul adalah bagian akidah, sedangkan Furu’ adalah
bagian fikih syariat. Kemudian hadits Nabi atau atsar yang
menyatakan perbedaan adalah rahmat mereka tafsirkan sebagai
perbedaan yang terjadi pada wilayah furu’. Adapun perbedaan yang
terjadi pada wilayah Ushul, tidak termasuk ke dalam hadits terebut
karena berbeda secara akidah jawabannya hanya dua; Islam atau Non-
Islam.

Saya melihat ada kekeliruan dan kekhilafan dalam padangan ini.
Secara khusus, menghubungkan akidah sebagai bagian Ushul yang mutlak
dan fikih sebagai bagian Furu’ yang mutlak. Sebenarnya, yang
dimaksud dengan Ushul adalah dasar-dasar agama yang tidak bisa
dibantah lagi dan itu terdapat dalam wilayah akidah dan fikih. Dalam
fikih misalnya, termasuk Ushul adalah kewajiban shalat lima waktu.
Atau secara ringkas, ma huwa ma’lum min al-Din bi al-Dharurah, yakni
apa saja yang sudah diketahui dan dipahami dari agama secara pasti.
Standard konsep ini berlaku pada masalah-masalah dimana dalilnya
yang sampai kepada kita berstatus Qath’i Dilalah dan Qathi Tsubut
sekaligus. Qathi’ tsubut adalah dalil yang diriwayatkan secara
sangat kuat, dalam hal ini hanya al-Qur`an dan hadits mutawatir.
Sedangkan Qath’i Dilalah adalah dalil tersebut tidak berpotensi
mengalami banyak penafsiran maksud (bukan penafsiran yang hanya
berupa penjelasan). Contohnya selain kewajiban shalat lima waktu
adalah haram mencuri, haram berzina, dan haram merampok.

Dalam masalah ini, seorang muslim yang melakukan zina berarti dia
telah melakukan dosa besar dan itu tidak menyebabkan kekafiran yang
mengeluarkannya dari golongan agama. Namun, kalau dia meyakini
secara sadar dan pasti bahwa berzina itu halal, maka itu sudah masuk
penyebab kekafiran yang mengeluarkan dari agama.

Contoh dalil yang hanya Qath’i Tsubut tapi tidak Qath’i secara
dilalah, “yadullahi fauqa aydiihim.” Ayat ini jelas qath’i tsubut
karena al-Qur`an, tapi kata dan kalimatnya mengandung potensi
penafsiran maksud yang berbeda-beda. Setiap pendapat yang terkait
dalam usaha memahami maksud ayat ini dengan segala perbedaannya
adalah tidak menyebabkan kekafiran. Contoh terakhir ini sebenarnya
sudah masuk dalam pembahasan akidah, tapi bukan wilayah Ushul.

Dalam bukunya “Qadhiyat al-Takfir fi al-Fikri al-Islami”, Prof. Dr.
Muhammad Sayyid Ahmad Musayyar, menjelaskan banyak masalah yang
berkaitan dengan Ushul dan Furu’ ini dan kaitannya dengan akidah.
Bagian yang membedakan seorang muslim dan non-muslim adalah Ushul al-
Islam dan kaidah-kaidan keimanan yang Beliau simpulkan –saya
kemukakan lebih ringkas dan tanpa menyebutkan ayat-ayat yang
dikemukakan karena sudah bersifat jelas, demi untuk menyingkat ruang
tulisan– sebagai berikut:

Pertama, Tauhidullah Azza Wa Jalla (mengesakan Allah).
Allah Mahatunggal, Sempurna Zat, Sifat-Sifat, dan Af’al-Nya secara
mutlak. Dia berdiri sendiri tanpa ketergantungan dan Mahakaya, tidak
beranak dan tidak dilahirkan. Kekal abadi dan tidak ada bandingan-
Nya dengan sesuatu pun juga. Ini adalah prinsip dasar Islam yang
pertama.

Akan tetapi, setelah itu para ulama akidah dan ahli teologi berbeda
pendapat dalam banyak masalah yang terkait dengan prinsip pertama
ini. Dalam pembahasan, mereka juga menggunakan akal untuk mencoba
menyingkap persoalan-persoalan metafisis. Mereka kemudian berbicara
tentang hakikat sifat-sifat ketuhanan apakah ‘Ain al-Dzat atau
bukan?–Ini termasuk masalah yang diperdebatkan oleh al-Asy’ari dan
al-Maturidi dan dicoba dipertemukan oleh al-Sanusi dalam esensi
pembahasannya. Mereka juga berdebat seputar ayat-ayat mutasyabihat,
bagaimana seharusnya seorang muslim memahaminya? Begitu juga tentang
masalah orang mu’min melihat Allah di dunia dan di akhirat, masalah
Kalam Allah apakah Kalam Nafsi atau terdiri dari suara dan huruf?
Mereka juga berdebat tentang mafhum Iman, apakah Tashdhiq
(membenarkan dengan keyakinan dan pengakuan) saja atau Tashdhiq dan
Amal? Apakah iman itu bisa bertambah dan berkurang atau tidak? Dan
kami melihat perbedaan atau ijtihad seputar masalah-masalah ini
tidak termasuk prinsip dari prinsip-prinsip dasar agama, yang
mempunyai pengaruh terhadap keimanan atau kekafiran.

Kedua, Kenabian dan Para Nabi.
Allah mengutus hamba-hambanya yang Ia pilih sebagai Rasul yang
memberi peringatan dan mengajak kepada kebaikan kepada kaum mereka.
Mulai dari Adam As. dan ditutup dengan Muhammad Saw. Al-Qur’an
menceritakan kepada kita tentang sebagian dari mereka dan tidak
menyebutkan yang lain. Pada dasarnya setiap Nabi diutus kepada
kaumnya saja, dan Allah mengutus Muhammad Saw kepada seluruh manusia
dan jin dan sebagai rahmat bagi alam. Dan Allah Swt memberikan para
Nabi dan Rasul mukjizat yang menguatkan kebenaran mereka. Ini adalah
prinsip dasar kedua Islam.

Akan Tetapi, para ulama akidah kembali membahas masalah-masalah yang
berkaitan dengan prinsip kedua ini, seperti; perbedaan Nabi dan
Rasul, Perbedaan kedudukan antara para Nabi dan Malaikat,
kema’shuman para Nabi sebelum masa kenabian dan sesudahnya, Ijtihad
Rasul, Syafa’at dan Tawassul. Dan kami melihat perbedaan pendapat
dan ijtihad seputar masalah-masalah ini tidak menyentuh prinsip dari
prinsip agama–yang menyebabkan kekafiran.

Ketiga, Kitab-kitab yang diturunkan.
Allah menurunkan kitab-kitab yang mengandung tuntunan dan petunjuk
untuk hamba-hamba-Nya. Beberapa kitab-kitab itu antara lain adalah
Shuhuf Ibrahim as, Taurat Musa as, Zabur Daud as, Injil Isa as, dan
al-Qur`an kepada Muhammad Saw. Dan Allah telah menjadikan al-Qur`an
sebagai penyempurna kitab-kitab terdahulu yang sudah mengalami
perubahan dan penyimpangan. Dan al-Qur`an adalah mu’jizat dengan
menggunakan Bahasa Arab yang jelas, diterima turun temurun secara
mutawatir dari generasi ke generasi. Ini adalah prinsip dasar ketiga
Islam.

Akan tetapi, para ulama akidah melakukan pembahasan dan perdebatan
seputar beberapa masalah terkait, seperti apakah al-Qur`an itu
makhluk atau bukan makhluk, sudut mu’jizat al-Qur`an, dan Nasikh
Mansukh. Dan kami melihat perdebatan-perdebatan ini tidak menyentuh
prinsip dasar Islam yang ada pengaruhnya terhadap keimanan.

Keempat, Malaikat.
Mereka adalah makhluk yang mulia, tidak maksiat kepada Allah dan
menjalankan apa yang diperintahkan kepada mereka. Kita bisa mengenal
beberapa nama dari mereka seperti Jibril dan Mikail. Kita juga bisa
mengetahui tugas-tugas sebagian mereka seperti penjaga surga,
penjaga neraka, hamalt al-‘Arys, al-kiram al-kaatibin, malakul maut,
dan lain-lian. Ini adalah prinsip dasar dari prinsip-prinsip dasar
Islam.

Namun dalam kitab-kitab akidah, kita menemukan banyak pembahasan
yang sangat panjang seperti perbedaan kedudukan antara malaikat dan
manusia, Harut dan Marut, Munkar dan Nakir, Bagiamana Malaikat pada
peperangan Badar, dll. Pembahasan-pembahasan ini tidak termasuk
prinsip dasar yang ijtihad padanya menyebabkan kekafiran.

Kelima, Hari Akhir.
Beriman kepada Hari Akhir dan adanya balasan di akhirat adalah dasar
dari dasar-dasar agama. Dan berkaitan dengan ini adalah kebangkitan,
al-Hasyr, balasan, surga, neraka.

Akan tetapi, para ulama mendiskusikan banyak masalah yang terkait
dengan ini seperti; al-ba’tsu ‘an adamin aw tafriq, al-‘iadatu lil
jawahir faqat aw laha wa lil a’radh ma’an (Maaf, dua masalah ini
saya tuliskan bahasa Arabnya saja karena akan panjang bila
diterjemahkan, sedangkan terjemahan kata tidak cukup mewakili
maksud), surga dan neraka sudah diciptakan sekaran atau akan
diciptakan nanti pada hari kiamat, Adam menempati surga atau taman
bumi, timbangan itu apakah pada perbuatan atau pada balasannya atau
pada keduanya, al-Mizan (timbangan) itu apakah ada secara hakiki
atau kiasan dari keadilan yang bersifat mutlak, al-Shirath itu
apakah jembatan yang memanjang di atas neraka atau jalan menuju ke
surga dan neraka.

Dan masalah-masalah lain yang sangat banyak, dimana sah-sah saja
perbedaan pendapat dan ijtihad padanya dan tidak menyentuh dasar
iman–yang menyebabkan kekafiran.

Keenam, Apa yang sudah diketahui dari agama secara pasti.
Ada beberapa masalah dalam agama yang sudah jelas dalil-dalilnya dan
diriwayatkan secara mutawatir sehingga menjadi masyhur di antara
kalangan umum dan khusus (elit ulama), dan tidak ada seorang pun
yang tidak mengetahui hukumnya, seperti kewajiban shalat, puasa,
zakat, dan haji. Dan seperti keharaman zina, keharaman riba, haram
mencuri dan haram membunuh. Sehingga pengetahun tentang masalah-
masalah ini sudah menjadi pengetahuan umum yang bisa dimengerti
secara mudah. Bagian ini termasuk prinsip dasar dari keimanan yang
menyebabkan kekafiran bagi yang mengingkarinya.

Akan tetapi, para ulama berbeda pendapat dalam berbagai mazhabnya
masing-masing seputar rincian masalah yang berkaitan dengan prinsip
dasar ini. Muncul berbagai macam ijtihad yang kemudian dikenal
dengan mazahib fiqhiyah. Dan para ulama sepakat secara ijma bahwa
perbedaan pendapat fiqhiyah ini adalah dalam wilayah furu’ dan tidak
terkait dengan akidah.

Itulah masalah-masalah yang berkaitan dengan prinsip dasar ajaran
Islam dan kita tidak mengingkarinya karena kebenaran padanya sangat
jelas, dan keyakinan dihasilkan dengan mudah. Dan bersama itu kita
tetap memberikan tempat kepada para mujtahid yang dengan sungguh –
sungguh berijtihad dan kita bukan pintu diskusi dan dialog. Dan kita
menolak pendapat yang serampangan, atau sudut pandang yang
berdasarkan pada hawa nafsu, atau berlebihan dan mengada-ada dalam
memahami dalil. Demikian pemaparan Prof. Dr. Muhammad Sayyid Ahmad
Musayyar, Dosen Fakultas Ushuluddin, Universitas al-Azhar. [Lihat
Qadhiyat al-Takfir fi al-Fikr al-Islami, hal. 37-41].

Sebelum saya melanjutkan kepada bagian bagaimana sikap kita terhadap
aliran teologis yang berbeda-beda, ada sedikit catatan pada
pemaparan Dr. Musayyar ini, yaitu beriman kepada Qadha dan Qadar.
Barangkali Beliau bermaksud bahwa itu sudah masuk pada bagian
pertama, Iman kepada Allah. Namun tidak ada salahnya saya tambahkan
di sini, bahwa salah satu prinsip dasar Iman adalah percaya kepada
Qadha dan Qadar. Adapun perdebatan para ulama setelah itu seperti
bagaimana hakikat qadha, hakikat qadar, qadha mubram, ta’alluq
qudrat, (soal ilmu hakikat yang santer di kalangan sufi masuk pada
bagian ini) adalah perdebatan yang tidak berkaitan dengan keimanan
dan kekafiran.

Pertanyaan apakah Ahmadiyah itu Islam atau tidak, kalau kita kaitkan
dengan aliran-aliran teologis yang ada, pertanyaan ini juga mengarah
kepada mereka. Sebut saja Syi’ah misalnya, atau Mu’tazilah, atau
Khawarij. Dalam menjawab ini, sebenarnya saya lebih suka menggunakan
pertanyaan, bagaimana sikap kita terhadap Ahmadiyah, atau Syiah,
atau Mu’tazilah? Saya pikir dengan pertanyaan ini, kita tidak
merampas Islam untuk kita miliki sendiri. Kita tidak meletakkan diri
pada posisi yang mempunyai otoritas penentu yang bisa mempertanyakan
keislaman dan keimanan orang lain. Kita sedang berada dalam wilayah
yang tidak memungkinkan kita untuk mengatakan Hanya saya yang Islam,
mereka bukan. Apalagi jika pernyataan itu menjurus pada persoalan
mendasar yang menyangkut keyakinan hati dimana tidak seorangpun
makhluk yang bisa mengetahuinya secara pasti.

Sikap Muslim

Seorang muslim dalam kehidupan sehari-harinya dituntut untuk
mengemukakan kecaman atas sifat dan perbuatan saja, maka dia
mengecam kemaksiatan dan menegaskan ancaman bagi yang melakukannya
dan melaknat setiap penyimpangan dengan penyebutan penyimpangannya
bukan dengan menyebut oknumnya. Dia hanya mengatakan misalnya,
laknat Allah atas orang-orang zhalim, orang-orang fasik, para
pencuri, orang-orang yang kafir. Hanya itu saja tanpa menyebut oknum
orangnya karena siksa sebenarnya masih tidak diketahui dan ukuran
juga ditentukan dengan masa akhir kehidupan.

Demikian seperti yang ditegaskan oleh Prof. Dr. Musayyar, maka tidak
boleh dikatakan: “laknat Allah terhadap si A” bahkan meskipun si A
tersebut adalah orang kafir. Karena barangkali saja dia bertaubat
dan masuk Islam.

Terdapat beberapa hadits yang menegaskan larangan melaknat terhadap
oknum orangnya. Di dalam sahih Bukhari dengan sanadnya dari Umar bin
Khattab disebutkan bahwa seorang laki-laki pada masa Nabi Saw
bernama Abdullah dan orang ini diberi gelar Himarm dan dia pernah
membuat Nabi Saw tertawa. Nabi Saw pernah mencambuknya karena minum
(khamar). Kemudian pada suata hari dia kembali dibawa kepada Nabi
Saw lalu diperintahkan lagi untuk mencambuknya. Sehingga ada seorang
laki-laki dari kaum berkata, Ya Allah! Laknat kepadanya. Betapa
sering dia dibawa (untuk dihukum). Lalu Nabi Saw menyahut, “Jangan
kalian laknat dia. Maka demi Allah, Aku tidak tahu bahwa dia
mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Makna lain, “Maka demi Allah, aku
tahu dia mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Makna lain, “Maka demi
Allah, Aku tahu dia melakukan kejahatan. Dia (juga) mencintai Allah
dan Rasul-Nya.” Makna lain lagi, “Maka demi Allah, kamu tidak tahu
bahwa dia mencintai Allah dan Rasul-Nya.” (Hadits no. 6398, 6/2489.
Saya terjemahkan semua makna yang disebutkan oleh para Syurrah
Hadits yang orang Arab itu, betapa maknanya berbeda-beda).

Hadits lain juga diriwayatkan oleh Bukhari tentang seorang yang
mabuk kemudian diperintahkan untuk menghukumnya. Lalu ada seorang
laki-laki berkata, “ada apa dengannya. Semoga Allah menghinakannya.”
Lalu Rasulullah Saw menjawab, “Jangan kalian menjadi pembantu setan
terhadap saudara kalian.” (Hadits 6399). Dalam kitab sahihnya, Imam
Bukhari memberi sebuah judul, “Bab melaknat pencuri selama tidak
disebutkan namanya.” Dan masih banyak hadits- hadits lain lagi.

Lalu bagaimana sikap terhadap aliran akidah dalam Islam? Prof. Dr.
Musayyar menegaskan, apabila sebagian kelompok mengafirkan orang-
orang yang berbeda dengan mereka, maka kita tidak mengafirkan
kelompok yang melakukan pengafiran ini. Kalau tidak, kita sama saja
seperti mereka dalam kesesatan. Seharusnya yang kita lakukan adalah
memberi nasihat dan memberikan penjelasan-penjelasan dan memohon
keampunan dan istiqamah untuk mereka.

Sikap kita terhadap kelompok lain yang berbeda selama itu adalah
perbedaan-perbedaan yang tidak menyangkut ushul (prinsip dasar Iman)
seperti disebutkan di atas, seharusnya masih dalam koridor beda
pendapat yang berlandaskan prinsip saling menghormati dan saling
menghargai. Bukan otoritas kita untuk mempertanyakan keimanan dan
keislaman orang lain. Mempertanyakan secara detail keimanan dan
keislaman orang lain ini sangat ditentang oleh Ibnu Suraij ketika
dia menjadi salah seorang jaksa yang mewakili Syafi’iyah dalam
persidangan al-Hallaj. Dan setelah itu dia menarik diri dan mundur
dari persidangan itu. Walaupun berbeda, dalam mazhab ahlusssunnah
wal jama’ah sesungguhnya adalah menjauhkan diri dari pengakifarn
kelompok lain yang tidak sepaham. Hal tersebut bisa kita lihat dari
pernyataan Imam al-Bajuri dalam uraiannya terhadap kitab al-Jauharah
[Jauharah al-Tauhid]. Setelah menjelaskan prinsip ahlussunnah wal
jama’ah, beliau berkata:

“Kelompok Khawarij berpendapat bahwa pelaku dosa itu kafir. Dan
mereka menjadikannya semua sebagai dosa-dosa besar. Mereka tidak
dikafirkan dengan pendapat mereka ini,–padahal mengafirkan orang
mu’min itu hukumnya kafir– karena itu hasil dari ta’wil (upaya
penafsiran) dan ijtihad.” [lihat Syarah Jauharah, bait ke 115].

Dalam sahih Muslim jelas disebutkan, “Apabila seseorang mengafirkan
saudaranya, maka kekafiran itu telah kembali kepada salah seorang
dari keduanya.” Dalam riwayat lain, “Barangsiapa memanggil seseorang
dengan kekafiran atau berkata: musuh Allah, dan dia tidak seperti
itu, maka itu kembali kepada dirinya sendiri.”

Sikap serupa dikemukakan oleh Imam Ghazali–saya kemukakan secara
kesimpulan–. Dia mengatakan:

“Mu’tazilah, Musyabbihah, dan aliran-aliran semuanya selain para
filsuf, yaitu mereka yang membenarkan dan tidak membolehkan
kedustaan –dan pendustaan– karena suatu kemaslahatan atau bukan
kemaslahatan, dan mereka tidak menyibukkan diri berargumen untuk
kemaslahatan dusta, tapi dengan ta’wil (upaya memahami) dan akan
tetapi mereka ini keliru dalam ta’wil tersebut, maka mereka semua
ini urusannya berada dalam wilayah ijtihad.

Dan yang semestinya diambil pegangan oleh setiap orang beriman
adalah menjaga diri dari pengafiran semaksimal mungkin. Karena
sesungguhnya menghalalkan darah dan harta ahlul kiblat dan secara
jelas menyatakan: “Laa ilaaha Illa-llah, Muhammad Rasulullah”,
adalah salah.” [Lihat al-Iqtishad fi al-I’tiqad, Hal. 126]

Selanjutnya, Imam Ghazali berkata:
“Dalil larangan mengafirkan mereka bahwa (nash) yang tetap ada pada
kita adalah mengafirkan orang yang mendustakan Rasul. Sedangkan
mereka ini tidak mendustakan sama sekali. Dan tidak ada dalil yang
kuat dan tetap bagi kita bahwa kesalahan dalam ta’wil (upaya
memahami) itu membawa kepada pengafiran. Maka harus ada dalil untuk
itu. Dan telah tetap dan kuat (dalil) bahwa al-‘Ishmah dihasilkan
dari perkataan La ilaaha ill-Allah, secara pasti. Maka hal itu tidak
bisa disingkirkan kecuali dengan bukti yang pasti (qath’i)…”
[Lihat sumber yang sama, al-Iqtishad fil I’tiqad].

Pendapat al-Ghazali ini sangat kuat didukung hadits Usamah bin Zaid
yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Dalam peperangan waktu itu
Rasulullah menyiapkan pasukan untuk menyerang Bani Juhainah. Mereka
menyergap pasukan Juhainah di pagi hari secara tiba-tiba [serangan
pajar -]. Usamah bersama seorang laki-laki dari Anshar mengejar
salah seorang dari mereka. Ketika dia sudah tidak bisa menyelamatkan
diri, tiba-tiba dia mengatakan La ilaaha ill-Allah. Laki-laki dari
Anshar itu berhenti. Sedang Usamah menikamnya dengan tombak sehingga
terbunuh. Berita itu sampai kepada Nabi Saw, lalu Nabi berkata
kepadanya: “Wahai Usamah, apakah engkau telah membunuhnya setelah
dia mengucapkan Laa ilaaha ill-Allah?” Usamah menjawab, “Wahai
Rasulullah, dia hanya berusaha melindungi diri.” Nabi tetap
mengulangi pertanyaannya dan tidak menanggapi pendapat Usamah. Nabi
terus mengulangnya sampai Usamah berangan-angan andai dia belum
masuk Islam sebelum hari itu.

Dalam beberapa riwayat lain disebutkan dalam bentuk dialog yang
lebih panjang. Rasulullah Saw berkata, “Apakah dia telah mengucapkan
Laa ilaaha ill-Allah dan engkau bunuh?!”
Usamah menjawab, “Wahai Rasulullah, dia mengucapkannya hanya karena
takut senjata.”
Rasulullah Saw berkata, “Apakah engkau telah membelah hatinya
sehingga engkau bisa mengetahui dia mengucapkannya sungguh-sungguh
atau tidak?” Dan Rasulullah terus mengulang-ulangnya.

Dalam riwayat lain, Rasulullah Saw mengatakan kepadanya, “Maka
bagaimana kamu menghadapi Laa ilaaha ill-Allah apabila nanti datang
di hari kiamat?!” Dan terus diulang-ulang oleh Nabi Saw.

Pandangan serupa dikemukakan oleh Ibnu Taimiyah. Beliau menyebut
aliran-aliran yang berbeda-beda ini sebagai ahlu bid’ah. Namun
demikian Beliau menolak dan melarang pengafiran terhadap mereka
secara mutlak. Dalam menjelaskan persoalan ini, Ibnu Taimiyah
membagi kepada dua prinsip utama:

Pertama, di dalam kelompok ahlu bid’ah itu ada yang munafiq dan
zindiq. Dan menurutnya ini banyak terdapat dalam kelompok Rafidhah
dan Jahamiyah. Tokoh-tokoh dua kelompok ini adalah kebanyakan orang-
orang zindiq dan munafiq.

Ungkapan yang ditegaskan oleh Ibnu Taimiyah ini mengisyaratkan bahwa
ada orang yang hanya mengaku Islam dan menampakkan diri mengerjakan
shalat dan ibadah lainnya, tapi bertujuan untuk menyebarkan fitnah
dan memecah belah persatuan umat sebagaimana yang dilakukan oleh
orang-orang munafiq pada masa Nabi Saw.

Ibnu Taimiyah membedakan orang-orang ini dengan pengikut mereka. Dia
mengatakan, dan dari para ahlu bid’ah terdapat orang yang beriman
lahir dan batin. Namun padanya terdapat kejahilan dan kezaliman
sehingga dia keliru dalam menerapkan sunnah. Maka ini tidak termasuk
kafir dan bukan munafiq. Kemudian kadang-kadang padanya terdapat
permusuhan, penentangan, dan kezaliman sehingga dia menjadi fasiq
dan pelaku maksiat. Dan ada juga yang memang keliru pada orang yang
melakukan ta’wil (upaya memahami) dan ditolerir kekeliruannya. Dan
bisa juga bersama itu padanya terdapat keimanan dan ketakwaan,
sesuatu yang bersamanya ada bagian kewalian dari Allah sesuai ukuran
iman dan takwanya.

Kedua, pendapat ada yang berupa kekafiran seperti menentang
kewajiban shalat, zakat, puasa, dan haji, menghalalkan zina, khamar,
atau menghalalkan pernikahan dengan muhrim. Kemudian orang yang
mengatakan itu, bisa saja berada dalam posisi yang tidak sampai
kepadanya ajaran Islam secara baik. Dan ini tidak dikafirkan
karenanya orang yang menentang tersebut sama seperti orang yang baru
masuk Islam misalnya, atau dia berada di suatu tempat yang jauh
sekiranya syariat Islam tidak sampai kepadanya. Maka orang seperti
ini tidak dihukumkan kafir dengan penentangannya terhadap apa yang
diturunkan kepada Rasul, apabila dia tidak mengetahui bahwa hal itu
telah diturunkan kepada Rasul.

Pada bagian lain, Ibnu Taimiyah memberikan penjelasan bahwa Ulama
Salaf dan para imam tidak memperdebatkan lagi masalah tidak boleh
mengafirkan Mujiah dan Syiah. Kemudian dia berkata: “Tidak ada
perbedaan dalam nash-nash Imam Ahmad bahwa dia tidak mengafirkan
seorang pun dari mereka ini. Dan meskipun di antara pengikutnya ada
orang yang disebutkan mengafirkan seluruh ahlu bid’ah–dari golongan
mereka ini dan selain mereka–sebagai pendapat yang berbeda darinya
(dari Imam Ahmad) atau dalam mazhabnya. Bahkan sebagian mereka ini
berpendapat kelompok tersebut dan selain mereka (dari ahlu bid’ah)
kekal di neraka. Dan ini adalah salah dan keliru atas mazhabnya dan
atas syariah.”

Kemudian Ibnu Taimiyah berkata lagi:
Dan dari mereka (pengikut Ahmad) terdapat orang yang tidak
mengafirkan seorang pun dari mereka (kelompok tersebut) karena dia
berpendapat hanya menghubungkan ahlu bid’ah itu dengan pelaku
maksiat. Mereka ini (pengikut Ahmad) mengatakan, Maka sebagaimana
termasuk dari prinsip dasar ahlu sunnah wal jama’ah adalah mereka
tidak mengafirkan seorang pun karena suatu dosa, demikian juga
mereka tidak mengafirkan seorang pun dari ahlu bid’ah.”

Ibnu Taimiyah mengemukakan alasan pendapat tidak mengafirkan ahlu
bid’ah ini dengan tiga hal:
1. Karena ta’wil (upaya memahami). Mereka ini sebenarnya adalah
orang-orang yang berusaha memahami dan bukan orang yang menolak apa
yang diturunkan.
2. Bahwa dasar utama Iman adalah pengakuan terhadap Allah dan dasar
utama kekafiran adalah tidak percaya atau ingkar kepada Allah.
Sedangkan mereka ini bukan orang yang tidak percaya atau ingkar.
3. Kelompok-kelompok tersebut juga mempunyai dalil-dalil, argumen-
argumen, dan syubuhat yang kadang tidak diketahui (atau dipahami)
oleh kebanyakan orang-orang mu’min.
[Penjelasan Ibnu Taimiyah secara lengkap bisa dibaca kembali dalam
Majmu’ al-Fatawa, 3/345-358]

Pendapat serupa dikemukakan oleh al-Qhadi ‘Adhud Din al-Aiji (Salah
seorang pengikut Asy’ari, wafat tahun 756 H) di dalam kitabnya
Syarah al-Mawaqif. Di dalam kitab ini, Beliau memaparkan pendapat-
pendapat dalam aliran-aliran teologis dan mengulasnya secara panjang
lebar dalam lingkup mazhabnya, al-Asy’ariyah. Pada bagian penutup,
beliau melontarkan sebuah pertanyaan, “Orang yang menyalahi
kebenaran dari ahlu kiblat apakah dikafirkan atau tidak?”

Pertanyaan ini dari satu sudut memang tidak netral. Itu sesuatu yang
wajar karena al-Qhadi mengulas tentang aliran dan mendiskusikannya
dengan pendapat mazhabnya, al-Ays’ariyah. Dia menyebut aliran-aliran
selain ahlus sunnah waljamaah sebagai “al-mukhalif lil haq”. Namun
lebih penting dari itu adalah pandangan dan pendapatnya terhadap
aliran-aliran tersebut apakah dikafirkan atau tidak. Pendapat
tersebut bisa kita lihat dari jawaban beliau terhadap pertanyaan
tersebut:

“Jumhur mutakallimin (ulama akidah/teologis Islam) dan fuqaha
berpendapat bahwa tidak dikafirkan seorang pun dari ahli kiblat.
Maka telah disampaikan oleh Syaikh Abu Hasan al-Asy’ari pada awal
kitabnya ‘Maqalat al-Islamiyin’: Orang-orang Islam berbeda pendapat
setelah Nabi mereka Saw dalam beberapa perkara. Sebagian mereka
menyesatkan [yakni menuduh sesat] sebagian yang lain. Dan sebagian
mereka melepaskan diri [bara’ah] dari sebagian yang lain. Sehingga
mereka menjadi berbagai kelompok dan aliran yang berbeda-beda dan
bertolak belakang. Kecuai hanya saja Islam tetap mengumpulkan dan
menyatukan mereka. [demikian perkatan al-Asy’ary yang dikutip oleh
al-Qadhi, selanjutnya perkataan al-Qadhi sendiri]. Maka ini adalah
mazhabnya dan atas pendapat ini pegangan mayoritas sahabat-sahabat
kami.”

Pada bagian jawaban ini, al-Qadhi mengutip perkataan Imam
Syafi’i: “Saya tidak menolak kesaksian seorang pun dari ahlu ahwa
(sebutan Imam Syafi’i terhadap aliran-aliran) kecuali al-Khitabiyah,
karena mereka meyakini kehalalan dusta.” Kutipan serupa disampaikan
oleh al- Khatib dalam kitab al-Kifayah dan dia mengatakan bahwa
pendapat serupa disampaikan juga oleh Ibnu Abi Laila, Sufyan al-
Tsauri, dan Qadhi Abu Yusuf. [Lihat Tadrib al-Rawi, 1/325].

Disampaikan juga oleh al-Hakim pengarang al-Mukhtashar dalam kitab
al-Muntaqa dari Abu Hanifah bahwa beliau tidak mengafirkan seorang
pun dari ahlu qiblat. Demikian juga pendapat yang sama disampaikan
oleh Abu Bakar al-Razi dari al-Karkhi dan selainnya.

Ibnu Hajar dalam Fathul Bari memberikan keterangan dalam masalah
aliran Khawarij. Meskipun pembicaraannya lebih terfokus pada
kelompok ini, tapi kita bisa melihatnya sebagai sikap dan pendapat
yang patut untuk diperhatikan. Setelah menegaskan bahwa Ibnu Hajar
berkata:

Mayoritas ahli ushul (yakni para ulama akidah dan teologi Islam)
dari kalangan ahlu sunnah wal jamaah berpendapat bahwa Khawarij
adalah orang-orang fasik. Dan hukum Islam berlaku pada mereka karena
mereka mengucapkan dua kalimat syahadat dan tetap berpegang pada
rukun-rukun Islam dan melaksanakannya. Hanya saja mereka fasik
karena mereka mengafirkan kaum muslimin berdasarkan pada ta’wil yang
rusak. Dan ta’wil itu telah mendorong mereka kepada penghalalan
darah dan harta orang yang menyalahi pendapat mereka serta bersaksi
bahwa mereka kafir dan syirik.

Al-Khattabi berkata, para ulama telah sepakat secara ijma bahwa
golongan Khawarij meski bersama kesesatan pendapat mereka adalah
golongan dari golongan-golongan kaum muslimin. Dan boleh menjalin
hubungan nikah dengan mereka dan memakan sembelihan mereka, dan
mereka tidak dikafirkan selama mereka masih berpegang dengan prinsip
dasar Islam. Qadhi Iyadh berkata, masalah ini merupakah persoalan
yang boleh dikatakan paling musykil dan rumit bagi para mutakallimin
dari masalah-masalah yang lain. Sampai-sampai al-Faqih Abdul Haq
bertanya kepada Imam Abu al-Ma’ali tetang itu, Maka beliau meminta
maaf (karena) bahwa memasukkan orang kafir ke dalam golongan agama
dan mengeluarkan seorang muslim dari agama adalah perkara besar.

Sebelumnya, al-Qadhi Abu Bakar al-Baqillani menyatakan tawaqquf
(menahan diri) dalam masalah ini. Dan dia berkata, kaum itu tidak
mengemukakan sesuatu yang secara tegas sebagai kekafiran. Mereka
hanya mengungkapkan pendapat-pendapat yang bisa menjerumuskan dalam
kekafiran.

Kemudian Ibnu Hajar mengutip pendapat Imam al-Ghazali seperti yang
sudah kita ungkapkan di atas. Namun, Ibnu Hajar menyebutkan
perkataan tersebut dalam kitab Imam al-Ghazali “al-Tafriqah baina al-
Iman wa al-Zindiqah”. [Lihat Fathul Bari, Ibnu Hajar, 12/300]

Dengan ini menjadi lebih jelas bagi kita bahwa mazhab ahlu sunnah
wal jama’ah yang sebenarnya adalah tidak mengafirkan aliran lain.
Para ulama hanya mengecam penyimpangan-penyimpangan dan pendapat-
pendapat yang cukup keras. Dalam banyak kasus, sekian banyak
perbedaan itu disikapi dengan nasihat, dialog, atau diskusi-diskusi,
baik yang terjadi secara langsung atau lewat karya-karya yang
dilahirkan. Namun, kecaman-kecaman yang mereka tujukan hanya semata-
mata karena mereka tidak sependapat sesuai dengan dalil-dalil dan
argumen mereka. Dengan keterangan ini, jelas juga bahwa kata-kata
tudingan sesat yang muncul dari ungkapan mereka sebatas makna tidak
sejalan dan menyimpang menurut dalil dan mereka saja, bukan
maksudnya memutuskan bahwa pengikut aliran-aliran yang sangat banyak
itu telah sesat dalam makna telah keluar dari agama. Mereka sama
sekali menolak pengafiran dan inilah pemahaman dan pendapat ahlu
sunnah wal jamaah sesungguhnya.

Dalam sikap mereka menjalankan pendapat ini bisa kita lihat misalnya
dalam beberapa pendapat mereka. Atha berkata, saya tidak
meninggalkan shalat (shalat mayit) terhadap orang yang mengucapkan
Laa ilaha ill-Allah. Firman Allah Swt, “setelah jelas bagi mereka
bahwa mereka adalah penghuni neraka.” Atha berkata, “Siapa yang tahu
bahwa mereka ini penghuni neraka?!” [Beberapa riwayat dari Atha yang
semakna juga bisa dilihat dalam Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, 11864,
3/34]

Ibnu Juraij berkata, “Lalu aku tanyakan kepada ‘Amar bin Dinar, dia
menjawab seperti perkataan Atha.” Telah sahih dari Qatadah bahwa dia
berkata, “shalatkanlah (shalat mayit) orang yang telah mengucapkan
Laa ilaaha ill-Allah. Maka apabila dia adalah seseorang yang sangat
jahat dan buruk sekali, maka ucapkanlah Allahummagfir lil muslimin
wal muslimat, wal mu’minina wal mu’minat. Dan aku tidak mengetahui
seorang pun dari para ulama yang menghindari shalat atas orang yang
mengucapkan Laa ilaaha ill-Allah.” Demikian juga riwayat-riwayat
dari Ibnu Sirin, Hasan al-Bashri, dan beberapa ulama yang lain.
Standard utama yang menjadi landasan pandangan mereka adalah ucapan
Laa ilaaha ill-Allah sebagai ahlu kiblat. [al-Muhalla, 5/171]

Juga terdapat riwayat dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah Saw,
berhentilah terhadap ahlu Laa ilaaha ill-Allah, jangan mengafirkan
mereka karena sebab suatu dosa. Barangsiapa yang mengafirkan ahlu
Laa ilaaha ill-Allah maka dia kepada kekafiran itu lebih dekat.
Hadits ini diriwayatkan oleh al-Thabrani dan pada sanadnya terdapat
al-Dhahhak bin Hamzah dari Ali bin Zaid. Pengaran Majma Zawaid
menyebutkan, kedua orang ini diperselisihkan dalam hujjah pada
mereka. [Majma’ Zawaid, 1/106]. Meskipun hadits ini mengandung
potensi cacat, tetapi kandungannya mempunyai maksud dan pemahaman
yang sama secara garis besar dengan hadits yang sahih dalam riwayat
Muslim seperti yang sudah kita kemukakan di atas.

Diriwayatkan dari Nafi’ dari Ibnu Umar bahwa dia tidak pernah
(berpikir) menyiapkan untuk memerangi seorang pun dari ahlu kiblat
kecuali untuk memerangi Najdah al-Haruri ketika dia takut mereka
menghalanginya dari al-Bait (baitullah). [Lihat kitab al-Fitan,
Nu’aim bin Hamad, 1/170].

Diriwayatkan oleh Ahmad bin Husain al-Baihaqi dengan sanadnya dari
Tamam bin Najih dia berkata, Seorang laki-laki bertanya kepada al-
Hasan al-Bashri tentang Iman. Dia menjawab: Iman itu ada dua. Kalau
kamu bertanya kepadaku tentang Iman kepada Allah, Malaikat-Nya,
Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, (adanya balasan) Surga dan Neraka,
Hari Kebangkitan dan Hari perhitungan (Hisab), maka aku beriman.

Dan apabila kamu bertanya kepadaku tentang firman Allah Swt, “Hanya
saja sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila
disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan
ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada
Tuhanlah mereka bertawakkal. (yaitu) orang-orang yang mendirikan
shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan
kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-
benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi
Tuhannya dan ampunan serta rezki (ni’mat) yang mulia.” (QS Al-Anfaal-
[8]:2-4), Maka demi Allah saya tidak tahu aku termasuk mereka atau
tidak.

Maka al-Hasan tidak terhenti (menahan diri) pada dasar Iman dalam
keadaan itu, dan hanya saja dia terhenti pada kesempurnaannya yang
dijanjikan oleh Allah untuk ahli surga. [Untuk penjelasan yang
panjang lebar dan lebih luas, lihat al-Baihaqi, kitab al-I’tiqad,
1/180-185]

Hibatullah bin Hasan berkata, “Janganlah memberikan kesaksian [yakni
memutuskan kepastian] terhadap ahlu kiblat pada suatu perbuatan yang
ia lakukan dengan surga atau neraka. Dia menyimpan harap pada orang
yang saleh dan kuatir atasnya (Raja dan Khauf), dan takut pada orang
yang jahat dan pelaku dosa dan mengharap rahmat Allah atasnya (Khauf
dan Raja).” [I’tiqad Ahlus Sunnah, 1/162]. Pendapat serupa dengan
bahasa yang lebih tegas dan lebih luas disampaikan oleh Muhammad bin
Muhammad dalam kitabnya Syiar Ahli Hadits, [1/31].

Pada berbagai kasus yang berkaitan dengan perbedaan pendapat dalam
akidah ini, kita juga menemukan para ulama ahlu sunnah melakukan
pengafiran terhadap aliran lain. Namun al-Qadhi al-Aiji
mengisyaratkan bahwa pengafiran terjadi dalam bentuk saling tuding
antara berbagai aliran seperti bentuk memberikan perlakuan yang
sama, dan bukan atas dasar kaidah-kaidah akidah dan prinsip dasar.
Dia mengatakan, orang-orang Mu’tazilah sebelum Abu Hasan (al-
Asy’ari) berkumpul-kumpul lalu mereka mengafirkan sahabat-sahabat
(yakni pengikut ahlu sunnah yang kemudian konsepnya dirumuskan oleh
Abu Hasan) sehingga sebagian dari kami melawan dengan seumpamanya
lalu mengafirkan mereka.

Abu Ishaq berkata, “setiap orang yang menyalahi (mazhab kami) yang
mengafirkan kami, maka kami mengafirkannya juga. Kalau tidak, maka
kami juga tidak melakukannya.” [Prof. Dr. al-Musayyar, Qadhiyat
Takfir fi al-Fikri al-Islami, hal. 77].

Persoalan ini juga bisa dilihat dalam fatwa-fatwa Imam Subki. Ibnu
Hajar mengutip dari Imam Subki dalam kumpulan fatwanya berkata,
mereka yang mengafirkan Khawarij dan Kelompok yang berlebihan dari
golongan Rafidhah berargumen (hujjah) karena mereka ini mengafirkan
tokoh-tokoh Sahabat dan itu mengandung pendustaan terhadap Nabi Saw
dalam kesaksiannya Saw terhadap mereka dalam memperoleh surga. Ibnu
Hajar menegaskan bahwa argumen ini menurutnya adalah argumen yang
sahih. Kemudian Ibnu Hajar menguatkan pandangannya dengan
mengemukakan hadits-hadits “barangsiapa mengafirkan seorang muslim
maka kekafiran itu kembali kepadanya” sebagaimana sudah kita
sebutkan di atas dari riwayat Imam Muslim. [Lihat Fathul Bari,
12/299].

Bagaimana dengan Ahmadiyah? Dengan membaca kembali pandangan dan
pendapat kebanyakan para ulama seperti yang sudah dipaparkan ini dan
masih banyak lagi yang tidak sempat kita kutipkan semuanya, dan
kemudian saya membaca sendiri formulir baiat Ahmadiyah yang dengan
tegas tetap melandaskan pada prinsip utama yaitu bersaksi tiada
tuhan selain Allah dan Muhammad Rasulullah. Kemudian setelah itu
terdapat beberapa kalimat tambahan yang menegaskan bahwa Muhammad
Saw adalah penutup para Nabi terulang hingga tiga kali dan
dilanjutkan dengan pengakuan bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah al-
Masih dan al-Mahdi al-Muntazhar. Mereka juga tetap beriman kepada
kitab-kitab termasuk al-Qur`an. Dengan melihat ini semua dan
berdasarkan pada prinsip-prinsip dasar Islam (Ushul Islam), maka
Ahmadiyah adalah salah satu aliran dari aliran kaum muslimin dengan
segala perbedaannya.

Persoalan ini tidak ada masalah dengan orang nonmuslim karena
prinsip dasar agama yang memang berbeda. Hubungan muslim dengan
nonmuslim hanya sebatas persoalan-persoalan duniawi dalam menjalani
hidup di bumi ini. Karena itu, bukan persoalan bagi seorang muslim
mengatakan kafir kepada orang yang jelas nonmuslim dan memang itu
adalah istilah untuk menyebut mereka. Persoalan menjadi lain ketika
kata kafir ditujukan kepada muslim, karena itu sudah berupa tudingan
yang berarti bahwa muslim yang dituding tersebut dianggap sudah
menjadi nonmuslim.

Pendapat ini bisa saja dikatakan sebagai pembelaan terhadap
Ahmadiyah, tetapi yang lebih penting dari itu sebagaimana diungkap
oleh Imam Abu al-Ma’ali, persoalan pengafiran dan menuding sesat
dalam makna keluar dari agama adalah perkara besar. Persoalan ini
mempunyai akibat hukum dunia akhirat, tidak sebatas kelompok yang
dituding kafir tapi juga mempunyai akibat pada orang yang
melayangkan tudingan. Dan para ulama ahlus sunnah wal jama’ah sejak
para tabi’in hingga masa-masa terakhir selalu berhati-hati dalam
masalah ini dan bahkan sebagian dari mereka menahan diri atau
sebatas mengatakan bahwa pendapat mereka bisa mengakibatkan
kekafiran tanpa menudingnya secara tegas dan pasti.

Pendapat ini juga berlaku pada berbagai aliran dan golongan yang ada
dalam Islam dan ada di tengah-tengah kaum muslimin. Termasuk Syiah,
Wahabi, dan aliran-aliran kaum muslimin lainnya. Ketika ada pendapat
yang berbeda, kita hanya mengatakan perbedaan dengan mengemukakan
sikap, argumen, dalil, dan diskusi-diskusi dalam rangka memberikan
penjelasan dan sikap kita. Bukan persoalan untuk mengatakan suatu
pendapat itu salah, atau keliru, atau sesat dalam makna bukan keluar
dari agama, atau lainnya, sesuai dengan sudut pandang, dalil-dalil,
dan argumen yang kita miliki dan kita pahami. Akan tetapi, semua itu
tetap berada dalam prinsip perbedaan pendapat yang tidak mengafirkan
orang lain hanya karena pendapat dan pandangannya yang berbeda.

Demikian yang bisa saya sampaikan. Mohon maaf atas kepanjangan ini
dan harap koreksi lagi jika terdapat kesalahan atau kekeliruan.
Terima kasih.
Aman Fatha

Sumber: mediacare

4 Responses to “AHMADIYAH ADALAH ISLAM”


  1. 1 firza November 12, 2010 at 11:18 pm

    To All Ahmadi..

    Di tadzkirah terdapat wahyu yang berbunyi “I am by Isa”(Tadzkirah 51). “I” atau saya disini siapa yang dimaksud?

    http://www.alislam.org/library/books/tadhkirah/?page=51&VScroll=0#top

  2. 2 fahmi November 24, 2010 at 4:43 pm

    tolong dijawab pertanyaan diatas.
    thx.

  3. 3 Taheer November 25, 2010 at 10:00 pm

    @Firza
    @Fahmi

    Terjemahannya:
    “Pada suatu kali di pagi hari aku menampak dalam kasyafku beserta beberapa kertas tercetak yang datang melalui kantor pos, dan yang pada akhirnya terdapat perkataan”

    آئم ايم بائ عيسے

    [[يعني ميں عيسے کے ساتھ ہوں

    I am by Isa

    [Aku bersama Isa]

    Ini penjelasan dari Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad sendiri tentang wahyu tersebut:

    “Setelah mengetahui arti perkataan itu aku memberitahukan hal itu kepada dua orang Hindu Arya dan berkata kepada mereka bahwa menurut pengertianku seorang keristen, akan mengirimkan kepadaku barang cetakan yang mengeritik Islam. Pada waktu pengantaran kiriman seorang Arya disuruh pergi ke kantor pos dan ia membawa beberapa kertas tercetak di mana seorang tak berakal mengemukakan beberapa celaan secara yang dilakukan orang2 keristen.” [Barahin Ahmadiyyah, bagian IV, hal.483-484, sub catatan kaki 3].

    Bisa disimpulkan di sana bahwa yang dimaksud dengan “I” dalam wahyu itu adalah Allah Taala, dan di dalam kurung itu maksud dari wahyu tersebut yakni Allah Taala akan ada bersama isa yakni Masih Mau’ud as.

    Semoga bermanfaat.

  4. 4 iman saiful muminin January 26, 2012 at 2:17 am

    Wallahu a’lam


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




AYO BERBELANJA DI TOKO ONLINE KAMI:

Statistik Blog

  • 215,909 hit

aku suka jalan-jalan

hidup adalah jalan-jalan. jalan-jalan adalah hidup

%d bloggers like this: