Analisa Hadits Laa Nabiyya Ba’di

Akhir-akhir ini  ramai diperbincangkan  seputar masalah لا  نبى بعدى yang diartikan mutlak, tidak ada nabi sesudahku.    Pada   umumnya  dari  judul hadis ini  sebagian orang  berkeyakinan  bahwa   nabi macam apapun  tidak akan datang sesudah  Rasulullah saw.  Pandangan seperti ini di kalangan  para penganut  semua   agama samawi- bukan merupakan hal yang baru.  Pengikut nabi Yusuf- karena cinta dan fanatisme mereka kepada beliau- meyakini bahwa setelah Nabi Yusuf tidak akan datang  lagi nabi. Sebagaimana tertera dalam (surah Al- Mu’min :35 ) Allah berfirman:   ” Setelah  beliau Allah tidak  pernah  lagi mengangkat  siapapun sebagai Rasul”. Kaum  Yahudi telah sepakat (ijma’) bahwa, “Tidak ada nabi setelah  Musa  a.s.” ( Musallimuts Tsubut, jilid II hlm 170.)

==================================================================


 
(catatan: Penulisan nomor ayat Al-Quran dalam makalah ini berdasarkan Hadits Nabi Besar Al-Mushthafa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam riwayat sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, yang menunjukkan bahwa setiap basmalah pada tiap awal surat adalah ayat pertama surat itu.كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَعْرِفُ فَصْلَ السُّوْرَةِ حَتَّى يَنْزِلَ عَلَيْهِ بِسْمِ اللهِ الرَّحمْـاـنِ الرَّحِيْمِ “Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak mengetahui pemisahan antara surat itu sehingga bismillaahir-rachmaanir-rachiim turun kepadanya.” (HR Abu Daud, “Kitab Shalat”; dan Al-Hakim dalam “Al-Mustadrak”) Kecuali Surah at-Taubah.)

وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ يَاقَوْمِ اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَعَلَ فِيكُمْ أَنْبِيَاءَ وَجَعَلَكُمْ مُلُوكًا وَءَاتَاكُمْ   مَا لَمْ يُؤْتِ أَحَدًا مِنَ الْعَالَمِينَ

Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, ingatlah ni`mat Allah atasmu ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antaramu dan menja…dikan mu   raja-raja serta  memberikan padamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun pada sekalian alam “. Al-Maidah 20

 

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad menulis:

وان نبينا خاتم الانبياء ولا نبى بعده الا الذى ينور بنوره ويكون ظهوره ظل ظهوره

Sesungguhnya nabi kita adalah khatamulanbiya (semulia-mulia nabi) yang tidak ada nabi sesudahnya  kecuali  yang  disinari dengan sinarnya dan  kezahirannya  merupakan bayangan  kezahirannya (Rasulullah saw ) (Al-Istifta hlm 22 1907)

ونؤمن بانه خاتم الا نبياء لا نبى بعده الا الذى ربى من فيضه ولاظهار وعده

Kami beriman bahwa dia junjungan kita adalah khaatamulanbiya tidak ada nabi sesudahnya  kecuali yang dipelihara dari karunia-Nya dan untuk menzahirkan janji-Nya (Mawahibur-rahman hlm 66)

الا انا بريئون من كل امر ينافي قول رسولنا صلى الله عليه وسلم و انا مؤمنون فى جميع امر اخبر بها سيدنا نبينا وا ن لم نعلم حقيقتها  ونودع معارفها بالهام مبين

Ingatlah, sesungguhnya kami bebas dari setiap perkara yang menafikan sabda nabi kami saw  dan kami beriman kepada semua perkara yang nabi kami saw bertahukan  kendati kami tidak mengetahui hakikatnya dan kami menyerahkan makrifatnya dengan ilham yang nyata .(Tuhfatu Bagdaad hlm 25)

 

Pengantar

Akhir-akhir ini  ramai diperbincangkan  seputar masalah لا  نبى بعدى yang diartikan mutlak, tidak ada nabi sesudahku.    Pada   umumnya  dari  judul hadis ini  sebagian orang  berkeyakinan  bahwa   nabi macam apapun  tidak akan datang sesudah  Rasulullah saw.  Pandangan seperti ini di kalangan  para penganut  semua   agama samawi- bukan merupakan hal yang baru.  Pengikut nabi Yusuf- karena cinta dan fanatisme mereka kepada beliau- meyakini bahwa setelah Nabi Yusuf tidak akan datang  lagi nabi. Sebagaimana tertera dalam (surah Al- Mu’min :35 ) Allah berfirman:   ” Setelah  beliau Allah tidak  pernah  lagi mengangkat  siapapun sebagai Rasul”. Kaum  Yahudi telah sepakat (ijma’) bahwa, “Tidak ada nabi setelah  Musa  a.s.” ( Musallimuts Tsubut, jilid II hlm 170.)

Di masa nabi Muhammad  saw tidak saja manusia, jin sekalipun telah menyatakan pendapat mereka pula  bahwa, ” Allah tidak akan lagi mengutus seorang  rasulpun  ”  (Al-Jin 8.) Ternyata pendapat mereka  tidak benar.  Karena kendati  adanya secara turun temurun pendapat demikian Allah – sesuai sunnah-Nya yang tidak pernah berubah –  terus menerus mengirim nabi-nabi-Nya  dan  Dia  yang lebih mengetahui  siapa yang layak  untuk menjadi Rasul-Nya, sebagaimana   firman-Nya ”  Allah lebih  mengetahui  kepada  siapa  Dia menampakkan risalah-Nya ” Al-An’am  125

Dengan karunia dan kasih sayang Allah,  agar  ummat Islam   terhindar dari pandangan seperti itu dan dapat selamat dari kemurkaan Allah, Dia telah mengajarkan doa  di dalam surat Al-Fatihah yang senantiasa harus dibaca dalam setiap shalat supaya ummat Islam memperoleh nikmat yang paling besar,  yakni nikmat kenabian. Dan ummat Islam diperintahkan juga untuk banyak membaca selawat supaya aali (keluarga ) Muhammad (ummat Islam)  mendapat nikmat yang telah diraih oleh Ibrahim as. dan keluarganya, yakni  Ibrahim nabi, anak beliau pun nabi, cucu pun nabi dan cicit pun menjadi nabi.  Namun, karena sudah menjadi  kaidah  umum  bahwa manakala manusia telah jauh  dari zaman kenabian  dan tiba saatnya  Allah sesuai sunnah –Nya harus mengutus utusan-Nya untuk melakukan perbaikan di muka bumi,  maka  senantiasa tidak terbayangkan di benak dan alur fikiran  manusia pada saat itu  kalau ada yang layak untuk menjadi orang suci (nabi)  diantara manusia yang se zaman dengannya.  Itulah sebabnya  nabi-nabi Allah, kendati  senantiasa datang untuk membawa kemajuaan ruhani dan jasmani manusia,  menyelamatkan manusia dari segenap perbudakan nafsu duniawi,   membimbing supaya manusia  menjadi   milik Allah yang merupakan sumber segenap kemajuan   lahir maupun batin, namun  para nabi  itu  senantiaa mendapat perlawanan  dari kaumnya, sebagaimana   firman  Allah   ”  Sungguh malang  hamba-hamba  Allah, tidak ada seorang rasulpun  datang kecuali (orang-orang  pada masanya) memperolok-olokkannya .” ( surah Yasin ayat 31).

Pemecahan Hadis laa nabiyya ba’di

Hadis-hadis  لا  نبى بعدى – laa nabiyya ba’di tidak diragukan lagi  tentang  keshahihannya. Tetapi, tidak pula dapat  dipungkiri   akan adanya    sabda-sabda  beliau saw.  yang  berkenaan   dengan  kedatangan Imam Mahdi dan Isa  ibnu Maryam yang akan menjadi pemimpin bagi ummat Islam di akhir zaman, berpredikat sebagai nabi Allah  dan  khalifah Allah  di bumi,  akan meniadakan peperangan,  membawa kedamaian di bumi dan lain-lain.  Jadi, manakala diperhatikan secara sepintas,   nampak seakan-akan  terdapat  kontradiksi satu dengan yang  lain diantara hadis-hadis  tersebut. Yakni di satu sisi beliau saw bersabda  laa nabiyya ba’di dan di sisi lainnya beliau bersabda  tentang akan datangnya Isa  Al-masih a.s  yang  berpangkat Imam Mahdi sesudah beliau saw.

Hadis-hadis  Mengenai  turunnya Nabi  Isa akhir zaman

 

1.  كيف انتم اذا نزل ابن مريم فيكم و امامكم منكم  

Bagaimana sikap  kalian tatkala  Isa  ibnu Maryam turun di  antara  kalian dan  akan menjadi  imam dari  kalian. ( Bukhari &Muslim). Hadis  ini menunjukkan  Imam mahdi dan Isa as. yang dijanjikan  berasal dari ummat Islam sendiri.

2. كيف انتم اذا نزل ابن مريم فيكم فامكم منكم

Bagaimana keadaan kalian  apabila Isa Ibnu Maryam itu turun diantara kalian maka dia mengimami kalian   dari  kalian sendiri. (Muslim    Kitabul  Iman bab Nuzulu Isa  Ibni Maryam .., ).

3. ولا المهدي الا عيسى ابن مريم …..-

Tidak ada Mahdi kecuali Isa Ibnu Maryam. (Ibnu Majah Bab  Syiddatuzzaman  4039). Yakni Mahdi dan Isa satu orangnya

4. ينزل عيسى ابن مريم مصدقا بمحمد على ملته اماما مهديا

Isa ibnu Maryam akan turun dan akan  membenarkan  Muhammad saw  dan berada pada agama beliau serta sebagai Imam Mahdi. ( Hadis riwayat Imam Thabrani) Yakni  Isa dan Imam Mahdi itu satu orangnya..

5. يو شك  من عا ش منكم ان يلقى عيسى ابن مريم اماما مهد يا و حكما عدلا Nyaris diantara kalian yang hidup pasti akan berjumpa dengan Isa Ibnu Maryam  sebagai Imam Mahdi dan  Hakim yang adil. (  Musnad Ahmad bin Hanbal  juz 2 hal.411).

6. Mengenai Isa  yang akan  datang  dari  ummat Islam,  Nabi  Muhammad saw menyebutkan sebanyak 4x kata nabiyyullah Isa beserta  Sahabah-Sahabahnya akan terkepung, akan berdoa,  akan turun dan akan berdoa.   Tersebut  di dalam (Muslim  Kitabulfitan wa asyratussaa’ah  bab dzikruddajaal wa sifaatuhu wa maa ma’ahu, hlm 198, juz 8, Darul fikri, Beirut.)

 

Adapun Nabi Isa Bani Israil, Al-Quran sebutkan  hanya  untuk  kaum Bani Israil, yang mana  mengenai  dalil-dalil  kewafatannya  terdapat dalam puluhan  ayat-ayat suci   Al-Quran.

 

Ba’da lawan Kata Qabla

Untuk dapat   memahami    dengan jelas  hadis-hadis لا  نبى بعدى – laa nabiyya a’di perlu  mengetahui     bahwa ba’da merupakan lawan  kata qabla (sebelum).  Dan sebagaimana  halnya   kata qabla (sebelum), ada   untuk  qabla (sebelum) waktu dekat dan ada  juga qabla (sebelum)  untuk masa yang jauh, begitu  pula ba’da (sesudah) juga  ada dua  macam, yaitu  ada ba’da  qaarib ( sesudah, untuk  masa dekat) dan ada  ba’da  ba’iid (sesudah, untuk masa yang jauh).

Contoh untuk   pemahaman  qablu qariib ( sebelum / waktu  dekat ) Allah berfirman Maa jaa ahum min nadhirin min qablika- : (Wahai Muhammad saw )Tidak pernah datang  seorang permberi ingat ( Rasul) kepada mereka sebelum engkau. Dan di surah Yasin  ayat 9 Allah berfirman:

 

لتنذر قوما ما انذر ابائهم فهم غافلون

“Supaya engkau memperingatkan kepada kaum yang nenek moyang mereka tidak diberikan peringatan sehingga   mereka itu   menjadi lalai ” .

 

Menurut ayat tersebut,     seakan-akan   sebelum Rasululah saw  tidak  pernah datang seorang pemberi ingat (Rasul)  untuk  memperingatkan orang-orang Quraisy  sehingga  kaum Quraisy itu  menjadi termasuk orang-orang yang lalai. Padahal, kita ketahui    kaum Quraisy  merupakan anak cucu  Ibrahim   yang daripadanya  telah lahir  nabi-nabi besar dari keturunan  beliau  seperti Nabi Ismail as yang merupakan nenek moyang bangsa Quraisy.  Jadi  jelas isyarah ayat ini merujuk pada masa yang  dekat sebelum kedatangan  Rasulullah  saw, bukan sampai jauh hingga  masa  Nabi Ibrahim atau hingga Nabi Adam a.s..

Ba’da Qariib

Allah  berfirman mengenai apa yang disampaikan  Nabi Ya’qub as. kepada putra-putra  beliau,  “ Wahai anak-anakku,  apa yang kalian sembah sesudahku” (Al-Baqarah 134). Disini  sesudahku dalam arti segera sesudah wafatnya    Nabi  Ya’qub a.s..

 

Ba’da  Ba’iid

Artinya adalah sesudah masa   yang panjang  kewafatan seseorang.  Sebagaimana Allah berfirman dalam surah Ash-shaf ayat 7: ” … . Dan  ( Nabi Isa berkata )  aku memberikan  kabar suka    tentang   seorang Rasul yang akan datang  sesudahku  namanya  Ahmad “. Junjungn kita Nabi besar Muhammad saw  baru datang 600 tahun setelah nabi Isa  a.s..

Kemudian  Allah berfirman  ” (segolongan jin berkata kepada kaumnya ) Sesungguhnya kami telah mendengar satu kitab yang telah diturunkan  sesudah Musa ” (Al-Ahqaaf  30). Disini disebutkan kami mendengar kitab setelah Musa yang  jaraknya  2000 tahun dari zaman nabi  Muhammad  Rasulullah saw. .

 

Kata  ” Ba’diTidak  Mutlak   Berarti ” Sesudah”

Allah berfirman ” Firman  siapa lagi yang mereka akan imani sesudah atau dengan meninggalkan firman  Allah dan tanda-tanda-Nya ” . Di dalam ayat ini ba’dallah jelas bukan berarti  setelah Allah mati, na’uzubillah, melainkan  berarti selain Allah atau dengan meninggalkan Allah  atau yang bertentangan dengan Allah dan tanda-tanda-Nya. (Al-Jatsiyah 5 ). Begitu juga di dalam Surat Al-A’raf 144 firman-Nya: “ Alangkah buruknya sikap   yang kamu lakukan dalam mewakiliku sebagai  khalifah sesudahku.” Disini kata  بعدى -sesudah hanya berarti sesudah beliau pergi ke bukit Tursina (in absentia), atas perintah Tuhan, bukan sesudah Musa   a.s wafat.

 

Arti  Ba’di  Sesuai   siyaqul kalam (konteks)

Rasulullah saw melihat dalam mimpi  bahwa beliau mengenakan dua buah gelang emas di tangan  beliau lalu beliau meniupnya. Rasulullah saw  (kepada delegasi Bani Tamam)bersabda :

” Saya mentakwilkannya bahwa akan keluar dua pendusta sesudahku”. (Bukhari Kitabul Maghaazi  jilid 3 hlm 69). Di dalam hadis ini Rasulullah saw menggunakan kata بعدى  sesudahku, padahal Musailamah dan Aswad al-Ansi bukan  mendakwakan diri sebagai nabi sesudah wafat   Rasulullah saw,  tetapi keduanya mendakwakan diri sebagai nabi di masa masih hidupnya Rasulullah saw dan beliau  saw tidak  memerangi mereka. Sayyidana  Abu Bakar  r.a   memerangi Musailamah  Al-kazzab dan Aswad al-Ansi  karena mereka  merupakan pemuka–pemuka dari  suku Hanifah  yang menolak membayar zakat lalu   mengangkat senjata untuk melakukan  pemberontakan melawan   khilafat Islam  dengan menyiapkan  40 ribu  tentara. Jadi     Hazrat   Abu Bakar memeranginya bukan karena  mereka  mendakwakan diri sebagai nabi, tetapi karena melakukan pemberontakan.

Dalam sebuah riwayat ketika Nabi saw  akan pergi berperang  di Tabuk,  beliau menugaskan Sayyidina Ali untuk  menjadi Amir  di belakang beliau saw..  Karena Ali merasa sedih tidak ikut berjuang bersama Rasulullah saw,  maka Hadhrat Ali berkata kepada Rasulullah  saw . “Ya Rasulullah, apakah engkau meninggalkan saya bersama anak-anak dan janda-janda dan tidak ikut berjuang bersama engkau.” Maka guna menghibur Hazrat Ali a.s.,  beliau saw bersabda:

 

يا على اما  ترضىان تكون منى بمنزلة هارون من موسى الا انه لا نبى بعدى

“Wahai Ali, sukakah kamu   disisiku memperoleh kedudukan  seperti Harun di sisi Musa a.s   kecuali   sesungguhnya tidak ada nabi sesudahku”. Disini kata sesudahku artinya adalah selain aku atau menentangku. Mengenai penjelasan arti ba’di di lain tempat Rasulullah saw bersabda:

 

يا علىااما  ترضىان تكون منى  بمنزلة هارون من موسى غير انك لست  نبيا

“Wahai Ali, sukakah kamu   disisiku memperoleh kedudukan  seperti Harun di sisi Musa a.s kecuali bedanya sesudah saya  engkau bukan nabi .” Kata لست  نبيا  – engkau bukan nabi telah menjelaskan arti kata  لا نبى بعدى – tidak ada nabi sesudahku.  Sabda Rasulullah saw ini tidak untuk umum,  tetapi  khusus untuk Hadhrat Ali r.a. Kemudian kemiripan beliau dengan Hadhrat Harun adalah hanya pada saat Rasulullah saw pergi ke Perang Tabuk dimana   pada saat itu Hadhrat Ali r.a sebagai Amir  sementara  pengganti  beliau saw  di Madinah, tidak untuk seterusnya.

 

Laa linafyil  kamaal

Kalimat  laa nabiyya ba’di pada    umumnya diartikan  hanya untuk laa linafi jins yang artinya menafikan segala macam  nabi. Sesuai dengan hadis-hadis di atas,   Rasulullah saw telah menyebutkan akan kedatangan Isa di akhir zaman dari ummat Islam sendiri,  karena jelas  kata  laa di dalam hadis ini adalah menafikan  kesempurnaan sifat  sang maushuf  (sang pemilik sifat ), sebagaimana Rasulullah saw.  berabda:

 

و اذا هلك كسرى فلا كسرى بعده   واذا هلك قيصر فلا قيصر بعده

Apabila Kaisar  Persia  wafat maka tidak ada Kaisar  Persia  sesudahnya dan apabila Kaisar Roma wafat  maka tidak ada Kaisar Roma sesudahnya. (Bukhari  jilid 4 hlm 91) Jadi maksud tidak ada Kisra atau  Raja Roma sesudahnya adalah  yang sebagus  Raja Kisra sebelumnya, sebab raja –raja tersebut terus ada sebagai pengganti-pengganti mereka, tetapi tidak sebagus  raja-raja Roma sebelumnya. Seperti terdapat   sebuah ungkapan yang terkenal:

 

لا فتى الا على ولا سيف الا ذوالفقار

Artinya : “Tidak ada pemuda kecuali Ali dan tidak ada pedang kecuali pedang zulfiqar “. Apakah bisa diterima bahwa sesudah Hadhrat Ali tidak ada lagi pemuda yang lahir dan setelah pedang Zulfiqar tidak ada lagi pedang yang dibuat seseorang ?  Tentu setelah Ali lahir  banyak  pemuda-pemuda  yang lahir tetapi tidak sebagus Ali  dan setelah  pedang Zulfiqar  banyak pedang dibuat  orang  tetapi tidak sebagus pedang  Zulfiqar.

 

Tidak Ada Nabi Diantara Rasulullah saw dan Isa a.s

ليس بينى و بينه نبى و انه نا زل فاذا رايتموه فاعرفوه

Tidak ada nabi diantara aku dan dia (Isa)  dan sesungguhnya dia (Isa ) akan turun, apabila   kalian melihatnya maka  kenalilah dia. ( Musnad  Ahmad bin Hambal  2/ 457 dan Abu Dawud  4 /117 ). Di dalam hadis ini Rasululah menafikan adanya nabi diantara beliau dan  Nabi Isa  yang akan turun / datang.  Karena itulah Rasulullah saw menyebutkan:

لن تهلك امة انا فى اولها والمسيح فى اخرها والمهدى فى  وسطها

Ummat ini sekali-kali tidak akan binasa karena aku ada pada permulaannya dan Isa  pada akhirnya  serta  Mahdi pada pertengahannya. (Fadhlul Qaadir 5/301). Mahdi dan Isa satu orangnya.

Sebagian orang mengemukakan hadis di bawah ini. Rasulullah saw bersabda:

 

لا نبوة بعدى الا المبشرات

Tidak ada kenabian sesudahku kecuali mubasysyirat (yang memberikan kabar suka /nabi). Mubasysyirat sendiri adalah bagian dari kenabian.  Sebagaimana Allah berfirman: Tidaklah kami mengirim rasul-rasul kami kecuali untuk memberikan kabar suka dan peringatan’ ( Al-An’am 48). Berita atau kabar  untuk orang umum adalah mimpi,tetapi  untuk orang-orang saleh ,wali, dan nabi-nabi adalah kasyaf ,ilham, dan wahyu bukan syariat.  Jadi di dalam hadis ini hanya menafikan tidak akan ada lagi nabi pembawa syariat.

Hadis-hadis tersebut jelas sekali ditujukan kepada para sahabah. Sebelum nabi Isa  as. yang dijanjikan itu  turun / datang para sahabah semua sudah wafat.  Dengan demikian apabila  Isa  yang dijanjikan turun, jelas  dia   tidak akan berjumpa dengan para sahabah, tetapi akan berjumpa dengan orang-orang yang serupa dengan para sahabah, yaitu ummat Islam.  Jadi maksud hadis tersebut tidak lain adalah  bahwa apabila  orang –orang  yang bertemu dengan Nabi  Isa itu adalah orang yang semisal para sahabah ( yaitu ummat Islam), maka tentu yang dimaksud dengan Nabi Isa yang dijanjikan,  adalah yang serupa dengan Isa Bani Israil.  Sebab, kalau bukan sama-sama misalnya yang datang  tentu hadis diatas  tidak banar, nauzubillah.

 

 

Persamaan Nabi Isa Israili dan Nabi Isa Muhammadi

1. Nabi Isa Bani Israil datang tidak membawa syareat tetapi untuk memperbaiki kaum Bani Israil  14 abad   setelah  Musa a.s, demikian pula   Isa yang dijanjikan  atau Imam mahdi  di zaman ini tidak membawa syareat, tetapi   datang untuk memperbaiki ummat Islam di  akhir zaman    14 abad  sesudah Rasulullah saw .

2. Isa Bani Israil  datang pada saat kaum Bani Israil sedang  barada di bawah kekuasaan asing, demikian pula  Isa  yang dijanjikan atau Imam mahdi  lahir ketika negeri kelahirannya di bawah kekuasaan asing.

3.  Setelah penyaliban  Nabi Isa Bani Israil  terjadi gempa bumi, demikian pula setelah pendiri Jemaat Ahmadiyah mendakwakan diri sebagai utusan Allah  beliau menubuatkan gempa-gempa bumi,peperangan-peperangan, malapetaka  serta banjir-banjir  dahsyat yang menyerupai banjir Nabi Nuh,bahkan malapetaka yang  menyurapai kiamat   yang akan melanda dunia sebagai tanda kebenaran beliau saw.

4. Nabi Isa  Bani Israil  tidak datang dengan mengangkat pedang (perang fisik )  untuk mempertahankan  missinya , demikian pula   Nabi  Isa  atau Imam Mahdi ( pendiri  Jemaat Ahmadiyah ) tidak menyebarkan  Islam   dengan kekuatan pedang.

5. Nabi Isa bani Israil mengatakan bahwa beliau tidak datang untuk merombak satu noktahpun dari  hukum-hukum Taurat, demikian  pula  Imam Mahdi  tidak datang untuk merombak satu ayatpun  dari hukum-hukum  atau ayat-ayat suci Al-Quran.

6.  Sama-sama berpangkat nabi tapi tidak membawa syareat.

7. Nabi Isa ditentang habis-habisan oleh ulama-ulama Yahudi  sehingga jatuh berbagai fatwa hingga beliau dinaikan  di tiang salib, demikian pula pendiri Jemaat Ahmadiyah 200 ulama zaman beliau memfatwakan kafir pada beliau.

 

Ada 15 kesamaan diantara keduanya.   Itulah sebabnya di dalam setiap bahasa  apabila seseorang  mempunyai  kemiripan dengan orang sebelumnya, maka untuk menyatakan kemiripan  itu lebih sempurna, maka kata seperti itu biasanya dihilangkan, tidak digunakan. Yakni  di hadis diatas Rasulullah saw bersabda: Nabi Isa akan turun, beliau tidak bersabda  “Seperti Nabi  Isa yang akan turun”.  Di dalam bahasa  Indonesia  juga banyak sekali contoh-contoh yang bisa didapatkan dimana  kata seperti itu dihilangkan.  Misalnya, orang yang azan disebut  Bilal,padahal namanya belum tentu Bilal, pemberani disebut singa, semua jenis macam air mineral di sebut Aqua  dan lain-lain.

 

 

Penjelasan Hadhrat Aisyah

Oleh karena itu dalam memberikan peringatan mengenai laa nabiyya ba’di Hadhrat Aisyah r.a bersabda:

 

قولوا خاتم النبيين ولا تقولوا لا نبى بعده

“Katakanlah bahwa nabi Muhammad saw itu adalah khatamannabiyyin  tetapi janganlah  kamu mengatakan bahwa  tidak ada nabi sesudahnya” ( Addurrul Mantsuur jilid 6 hlm 616   Darulfikir  Beirut 1982). Jadi sebagaimana  halnya Musa   mendapat gelar  kalimullah, Ibrahim khalililullah dan Isa ruhullah demikian pula Khatamunnabiyyin  adalah merupakan gelar khusus  Rasulullah  saw dari Allah. Sebagaimana Rasululah saw sendiri bersabda:

 

انى مكتوب عند الله خا تم النبيين وان ادم لمنجدل بين الماء والطين

“Saya  di sisi Tuhan adalah khatamunnabiyyin  dari sejak Adam masih diantara air dan tanah, yakni masih dalam peroses penciptaannya. (Musnad ahmad Kanzul Ummal  jili 6  hlm 112 ). Seberapa banyak nabi datang mulai sejak  Nabi Adam  a.s  semuanya   datang kendati adanya  gelar   Rasulullah saw sebagai khatamaunnabiyyin. Karena itulah arti khaatam dalam hadis ini adalah  nabi yang temulia dari  semua nabi.

 

Gelar semacam ini senantiasa  menjadi pujian bagi yang menyandangnya,bukan konotasinya untuk merendahkan  orang yang menyandang  gelar  tersebut. Manakala kata khaatam  yang artinya adalah  stempel  itu diaplikasikan pemakaiannya disini  maka sebagaimana tatkala   setempel  dibubuhkan  akan membekas pada barang dimana stempel itu dibubuhkan,  demikian pula keitaatan kepada beliau saw, fana dalam mengikuti ajaran beliau akan membekas pada diri seseorang  sehingga dapat menjadikan seseorang mampu meraih  legitimasi  untuk menjadi nabi atau dengan warna beliau saw  seseorang dapat meraih pangkat kenahian, sebagaimana Allah berfirman:

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا

Dan barangsiapa yang menta`ati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama atau  akan menjadi  orang-orang yang dianugerahi ni`mat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang  syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. An-Nisa 70.

Di dalam ayat ini  Allah menegaskan bahwa barangsiapa yang mentaati Ar-rasul (Muhammad saw ), dia akan dapat  meraih 4 tingkatan /kedudukan yang dijanjikan, yaitu nabi, siddik syahid dan saleh. Karena itulah Hadhrat Abu Bakar meraih gelar siddik,   Hadhrat Husen r.a dan orang-orang yang syahid di Perang Badar dan  peperangan lainnya dalam membela Islam  meraih  gelar syuhada serta   ulama-ulama robbani lainnya meraih gelar shalihiin. Kalau kita katakan bahwa di dalam ayat ini  kata مع hanya sekedar berarti   beserta maka artinya adalah  bahwa kendati  taat kepada Allah dan Rasul-Nya (Muhammad saw),  maka tetap tidak akan dapat menjadi jangankan nabi, untuk menjadi saleh  atau orang baikpun  tidak akan bisa; sementara ummat nabi-nabi yang lain dan terdahulu dapat meraih kedudukan-kedudukan itu pada hal mereka bukan ummat yang terbaik;  dan gelar yang diraih oleh para sahabah  itupun harus ditanggalkan, nauzubillah.

 

Inilah yang membedakan beliau  dengan nabi sebelumnya  yaitu keitaatan  kepada Rasulullah saw  sebagai khatamannabiyyin dapat mengantarkan seseorang sampai pada derajat kenabian, sedangakan  keimanan dan ketaatan  orang-orang terdahulu  kepada nabi-nabi dan Rasul-rasul mereka  hanya dapat mengantarkan mereka  untuk meraih syahid dan siddik semata,sebagaimana firman-Nya

وَالَّذِينَ ءَامَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ أُولَئِكَ هُمُ الصِّدِّيقُونَ وَالشُّهَدَاءُ عِنْدَ رَبِّهِمْ لَهُمْ أَجْرُهُمْ وَنُورُهُمْ وَالَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka itu orang-orang Shiddiqien dan orang-orang yang syahid di sisisi Tuhan mereka. Bagi mereka terdapat ganjaran  dan cahaya (bagi) s mereka. Dan orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni-penghuni neraka. Al-Hadid  20.

Oleh karena itu  arti  la nabiya ba’di menurut  ulama salaf  adalah,  ” Tidak ada nabi yang akan membawa syareat yang akan memansukhkan syareat nabi  Muhammad saw “. Jadi tidak ada seorangpun akan bisa menjadi nabi di luar ummat beliau saw . Kini seorang  hanya bisa menjadi nabi hanya dengan mengikuti beliau saw.  Sebagaimana dalam kaitan ini Allah mewahyukan kepada pendiri Jemaat Ahmadiyah bahwa :

كل بر كة من محمد صلى الله عليه وسلم  فتبارك  من علم وتعلم

“Segenap berkat  karena  Muhammad saw  beberkahlah orang yang mengajar dan yang belajar “ . Dan hal ini senantiasa beliau kemukakan  bahwa semua yang beliau  dapatkan  adalah berkat mengikuti  dan mentaati  Rasulullah saw .

 

Singkatnya laa nabiyya ba’di adalah tidak ada nabi yang akan datang segera setelah kewafatan beliau saw. Tetapi mengenai kedatangan Imam Mahdi  dan Isa Al-Masih  sebagai khadim /pembantu beliau saw  beliau telah nubuatkan kedatangannya di akhir zaman untuk menghidupkan agama dan menegakkan syareat. Jadi  dikarenakan  Nabi Muhammad saw  diutus ke dunia ini  untuk memenangkan  Islam  di atas sekalian  agama sebagaimana firman -Nya :

 

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya (Muhammad saw) dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang-orang musyrik benci. As-shaf  9.

Maka untuk terealisasinya  rencana tersebut  beliau saw telah menubuatkan  bahwa  Islam akan meraih kejayaan  sempurna  melalui kedatangan Imam Mahdi  dan Isa yang dijanjikan. Keunggulan  Islam  di  akhir zaman di atas semua agama itu akan diraih dengan damai, rukun dan aman  tampa kekerasan  sesuai dengan nama Islam itu sendiri, yakni   sesuai dengan cara-cara hikmah dan bijak  yang dicontohkan oleh Rasulullah saw, khususnya, di era Mekah. Akhir zaman itu kini telah tiba dengan segala tanda-tandanya.   Oleh karena itulah  demi untuk kemaslahatan ummat manusia missi  merebut hati ummat manusia  dengan aman, damai dan dengan keindahan  demi  untuk  Islam dan  demi untuk membuktikan  bahwa Muhammad saw sebagai rahmat bagi sekalian  ummat manusia, kini  telah dimulai dengan kedatangan Imam Mahdi di akhir zaman ini.

 

Jakarta, 30 Agustus 2005

 

Mln. Qamaruddin Shd.

 

اشهد ان لا اله الا الله و اشهد ان محمد رسول الله

 

 

2 Responses to “Analisa Hadits Laa Nabiyya Ba’di”


  1. 1 Rizki July 23, 2011 at 9:34 am

    gak kontradiksi kok, kan Nabi Isa sudah ada sebelum lahirnya Nabi Muhammad SAW, dan yang bakal turun nantinya itu Nabi Isa yang dulunya, bukan nabi yang baru yang terlahir untuk kali yang kedua. La Nabiyya Ba’dy itu gak kontradiksi dengan hadist nanti nya akan turun nabi ISA

    @d3n:
    nabi Isa “yang dulu” itu Isa-nya bani Israil dan telah wafat

    salam

  2. 2 djito mulyono October 24, 2011 at 3:24 am

    intinya anda menganggap Mirza Ghulam Ahmad adalah utusan, betulkah?
    Jika betul, sekarang posisi beliau (Mirza Ghulam Ahmad) sudah wafat, betulkah? Jika sudah wafat, dimungkinkan ada rosul/utusan selain beliau(Mirza Ghulam Ahmad), bisakah diterima? Jika mungkin itu terjadi berarti utusan itu juga banyak, tidak hanya Mirza Ghulam Ahmad. Bagaimana jika ada utusan selain Mirza Ghulam Ahmad mengajak anda bahwa dia (utusan selain Mirza Ghulam Ahmad) menyatakan bahwa dia itu nabi, bisakah anda menerima kenyataan itu?

    jawab:sila baca https://denagis.wordpress.com/2011/11/03/status-mirza-ghulam-ahmad/


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




AYO BERBELANJA DI TOKO ONLINE KAMI:

Statistik Blog

  • 216,092 hit

aku suka jalan-jalan

hidup adalah jalan-jalan. jalan-jalan adalah hidup

%d bloggers like this: