Menjawab keberatan tentang Tazkirah

Pikiran Rakyat tanggal 17 Oktober 2005, menurunkan artikel “Mengapa Ahmadiyah dimusuhi?”. Berikut tanggapan kami atas tulisan tersebut. Pertama, Mirza Ghulam Ahmad menerima wahyu “Anta minni bimanzilati walad” artinya “Engkau (bagian) dari-Ku dengan kedudukan (seperti) anak(anak-anak)-Ku” . Wahyu ini tercantum dalam buku Haqiqatul Wahyi hal 86 dan buku Tazkirah hal. 412. Kiai Achidin Noor hanya mengutip sebagian dari keseluruhan tulisan Mirza Ghulam Ahmad. Dalam penjelasan berikut diuraikan yaitu: ”Allah swt itu bersih dari mempunyai putera-putera. Kata walad disini dipergunakan secara kias. (Haqiqatul Wahyi hal 86 dan catatan pinggir dalam Tazkirah hal.63). Selanjutnya, dalam buku Dafi-ul-Bala (catatan kaki hal 6-7), Mirza Ghulam Ahmad mengatakan : “Perlu diingat, Allah swt itu bersih untuk mempunyai putera, tiada yang bersekutu dengan Dia dan tiada putera bagi-Nya dan tiada yang berhak untuk mengakui dirinya tuhan atau putera tuhan. Kalimat dalam ilham ini mengandung arti isti’arah dan majaz (kiasan)”.

Dalam Al Quran terdapat juga ayat-ayat yang berarti kiasan bukan harfiah, sebagai contoh : “Yadullaahi fauqa aydiihim” (Al Fath :10) artinya, “Tangan Allah di atas tangan mereka”. Kata yad (tangan) digunakan untuk zat Ilahi. Pertanyaannya, apakah tepat jika kata tangan disini diartikan secara harfiah?. Tiap orang yang berakal mengerti bahwa kata tangan disini digunakan dalam arti kiasan.

Wahyu kedua lain yang dipertanyakan Kiai adalah “Ya Ahmad yatimmu ismuka, wala yatimmu ismi”. Wahyu tersebut diartikan oleh Kiai “Wahai Ahmad, sempurnalah namamu dan tidak sempurna nama-Ku“. Lagi-lagi Kiai tidak melanjutkan tulisan Mirza Ghulam Ahmad. Dalam tulisan yang dipotong itu, Mirza Ghulam Ahmad menjelaskan :”Wahyu tersebut berarti nama engkau (Ahmad) akan tamat/berakhir sedang nama Tuhan tidak akan berakhir, yakni akan tetap abadi”. Sungguh ceroboh kutipan Kiai tersebut, sehingga mengaburkan arti sebenarnya seperti yang dimaksudkan oleh Mirza Ghulam Ahmad sendiri. Dalam Tadzkirah edisi bahasa Inggris (London 1976) hal. 33, wahyu tersebut diterjemahkan “Your name will come to an end Oo… Ahmad, but My Name will not come to an end”, yang berarti : “Wahai Ahmad, namamu akan berakhir dan nama-Ku tidak akan berakhir”.

Wahyu ketiga dan keempat yang dimasalahkan Kiai adalah : “Bahwa Allah telah memberi kabar kepadanya, sesungguhnya orang yang tidak mengikutimu dan tidak berbaiat padamu dan tetap menentang kepadamu, dia itu adalah orang yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya dan termasuk penghuni neraka jahim” (Tadzkirah hal. 342), juga wahyu lain “Sesungguhnya Allah telah menjelaskan padaku, bahwa setiap orang yang telah sampai padanya dakwahku kemudian dia tidak menerimaku, maka dia bukanlah seorang muslim dan berhak mendapat siksa Allah” (Tadzkirah hal. 600).

Kami sudah meneliti 2 Tadzkirah, keluaran Ta’lifu Isyaat-Qadian terbitan tahun 1935 dan Tadzkirah edisi-4, terbitan Asyirkatul Islamiya-Rabwah, tahun 1969. Di dalam kedua buku tersebut, tidak kami temukan dua wahyu yang dipersoalkan Kiai. Sehingga kami tidak dapat memberikan klarifikasi. Kami tidak tahu darimana Kiai memperoleh “wahyu” dimaksud ?

Mengenai penolakan utusan-Nya, merupakan Sunatullah jika utusan Allah datang, umat manusia tidak akan serta-merta menerimanya. Firman Allah dalam Yassin : 30 “Alangkah besar penyesalan terhadap hamba-hamba itu, tidak datang seorang rasul-pun kepada mereka, melainkan selalu memperolok-oloknya”. Allah Taala sendiri sangat masygul atas penolakan dan ejekan manusia terhadap para nabi-Nya. Sunatullah ini akan terus berlaku sampai kiamat tiba.

Selanjutnya Kiai menganggap hadis Ibnu Majah yang berbunyi “Walal mahdiyyu illa Isabna maryyam” (Tiada Mahdi melainkan Isa), sebagai hadis mungkar karena “sanadnya tidak beres”, tanpa penjelasan lebih lanjut. Kiai tentu sepakat bahwa hadis-hadis Ibnu Majah termasuk dalam Shihah Sittah (disamping Buchari, Muslim, Tirmizi, Abu Daud dan Misykat). Jika hadis Ibnu Majah yang lain diterima, seyogyanya hadis tentang Imam Mahdi adalah Nabi Isa juga juga diterima. Dilain fihak, penyusun hadis Ibnu Majjah tentu meneliti sanad-sanad hadisnya dan jika ada sanad yang “tidak beres”, tentu dari semula hadis tersebut tidak akan dilanjutkan. Jangan-jangan penolakan Kiai, disebabkan hadis tersebut tidak sesuai dengan kemauan Kiai.

Kiai berpendapat ketika Isa dan Mahdi turun, maka dunia akan aman dan adil. Dalam Bani Israil 90-93, diriwayatkan kaum yang menolak akan menerima Rasulullah saw dengan syarat beliau saw (1) bisa memancarkan mata air di daerah mereka, (2) mempunyai kebun kurma dan anggur, (3) mengalirkan sungai yang deras dicelah-celah kebun mereka, (4) menjatuhkan langit berkeping-keping, (5) mendatangkan Allah dan malaikat untuk berhadapan dengan mereka, (6) mempunyai sebuah rumah dari mas, (7) beliau saw naik ke langit, kemudian turun dengan membawa kitab.

Ayat diatas memberi pelajaran bahwa kaum yang menolak selalu mengajukan berbagai keberatan dan alasan karena enggan menerima utusan-Nya.

Terciptanya dunia yang aman dan adil, tentu harus melalui sebuah proses, tidak bisa dengan serta-merta. Imam Mahdi membawa missi “membunuh dajjal”, makna dajjal yang diartikan Ahmadiyah adalah faham keagamaan yang bertentangan dengan Tauhid Ilahi. Dalam kurun waktu 80 tahun terakhir, Ahmadiyah telah dan terus bekerja menumbuhkan Tauhid Ilahi di pelosok bumi. Ratusan mesjid telah dibangun di Eropa dan Amerika. Al Quran (Kitab Suci orang-orang Ahmadiyah) telah diterjemahkan dalam 65 bahasa utama di dunia dari terjemahan 100 bahasa yang dicanangkan.

Demikian yang dapat kami sampaikan dengan harapan penjelasan diatas dapat lebih meluruskan kesalahfahaman tentang Ahmadiyah.

Bandung, 21 Oktober 2005

Abdul Wahab
Muballigh Jemaat Ahmadiyah Indonesia

1 Response to “Menjawab keberatan tentang Tazkirah”


  1. 1 elfan March 9, 2011 at 7:16 am

    Ada beberapa hal yang perlu kajian, seperti baik tentang Dajjal, Al Mahdi ataupun Nabi Isa As. yang akan turun kembali ke bumi, pada dasarnya tidak ada dalam Al Quran.

    Dajjal sudah ada sejak manusia ada, seperti sejak terjadinya kasus pembunuhan antaranak-anak Adam As;

    Kalau kita mau teliti lbh lanjut Al Quran, maka sinya tentang istilah Al Mahdi atau Imam Mahdi, walaupun istilah ini tidak ada dalam Al Quran, sinyalnya sudah ada dan sudah datang sebagaimana diharapkan oleh Nabi Ibrahim As. dlm QS. 2:129 yakni harapan beliau (Ibrahim As) agar didatangkan seorang nabi pamungkas, penutup para nabi, ajarannya berlaku sampai akhir zaman.

    Dan, sesuai dengan perjalanan peradaban umat manusia yang sudah dianugerahi Allah SWT dengan beberapa nabi/rasul-Nya, maka sudah sepatutnya Allah SWT ‘menetapkan’ nabi pemungkas tersebut dan itulah Nabi kita Muhammad SAW (QS. 5:3 dan 33:40), inilah Al Mahdi yang sesungguhnya.

    Sedangkan tentang Nabi Isa As. yang ‘konon’ akan datang kembali ke dunia, ternyata dibantah oleh Al Quran sendiri, bahwa misi para rasul dan nabi terdahulu ya termasuk Nabi Isa As. sudah selesai dan dia tak akan diminta pertanggung jawaban atas nabi/rasul sesudahnya yakni Nabi Muhammad SAW (QS. 2:134 dan 141).

    Katakanlah (hai Muhammad): “Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang GHAIB, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah PEMBERI PERINGATAN, dan PEMBAWA BERITA GEMBIRA bagi orang-orang yang beriman” (QS. 7:188)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




AYO BERBELANJA DI TOKO ONLINE KAMI:

Statistik Blog

  • 251,420 hit

aku suka jalan-jalan

hidup adalah jalan-jalan. jalan-jalan adalah hidup

%d bloggers like this: