Jalan Yang Lurus

Terkait dengan ayat tersebut,  Hadhrat Muhammad Musthafa Rasulullah Saw mengamanatkan: ‘Carilah aku di kalangan bangsa bukan-Arab’.

Bahkan beliau Saw juga memerintahkan agar berusaha menemui Al Masih Al Mahdi ini untuk menyampaikan Salam beliau, meskipun harus merangkak di atas salju.

Ditambah lagi, Allah Taala telah mengajarkan kaum Muslimin doa agar senantiasa berada di jalan yang lurus, lengkap dengan petunjuk hidayah-Nya.       Namun, hanya sekitar 5 sampai 7 % saja [dari jumlah dua miliar orang] tersebut yang berhasil memperoleh kesempatan untuk mengenali Imam Zaman mereka yang haqiqi, meskipun kaum Muslimin tersebut mengucapkan doa permohonan ihdinash-shiratal-mustaqim

[yakni, Tunjukilah kami pada jalan yang lurus. (Q.S. 1 / Al Fatihah : 6)] dalam setiap berbagai Salat mereka yang sekian banyak.

[Namun kenyataannya, meskipun semua ini adalah nubuatan dan perintah Allah dan Rasul-Nya, tetapi mereka itu menolak kedatangan Al Masih Al Mahdi dan Imam Zaman tersebut.

Bahkan bukan sekedar menolak, melainkan juga menganiayanya.

Tetapi sebaliknya bagi mereka yang memiliki fitrat yang baik, meskipun bahkan mereka itu tak beragama atau atheis, Allah Taala berkenan memberi mereka petunjuk kepada shiratal mustaqim.

selengkapnya:

Tunjukilah Kami, Senantiasa Pada- Jalan Yang Lurus

(Ihdinash Shiratal Mustaqim)

Ikhtisar Khutbah Jumah Hadhrat Khalifatul Masih V Atba

17 Juni 2011, di Gross Gerau, Germany

                [Setelah mengucapkan tasyahud, taawudz, bismillah dan tilawat Surah Al Fatihah], Hudhur bersabda: Adalah sungguh suatu karunia Allah yang besar kepada kita kaum Ahmadi yang telah memberi kesempatan kepada kita untuk menerima kebenaran Imam Zaman.

Maka, bila seorang Ahmadi merenungkan hal ini, ia pun akan menyadari, bahwa ia tak akan mampu membalas karunia besar ini, meskipun untuk itu ia harus menghabiskan waktu selama hidup untuk bersyukur kepada Allah Taala.

Dilaporkan, bahwa pada saat ini ada sekitar 2 (dua) miliar orang Muslim di seluruh dunia.

Kabar suka dan petunjuk Ilahi ada di hadapan mereka semua, bahwa Al Masih Al Mahdi akan datang pada Abad Ke-14 Hijriah. [Yakni, setelah masa kegelapan yang panjang, maka era kebangkitan itu pun mulai kembali sehubungan dengan datangnya Al Masih Al Mahdi].

[Inilah mengapa sebabnya Hadhrat Rasulullah Saw telah mensabdakan, bahwa akan ada berbagai Tanda Ilahi yang mendukung pendakwaan beliau; yang salah satunya adalah zahirnya nubuatan gerhana matahari dan gerhana bulan yang akan terjadi di bulan Ramadhan yang sama; yang belum pernah terjadi sejak alam semesta ini diciptakan.

Maka bagi utusan Allah dan Mahdi-ku ini, hendaknya engkau menerimanya].

Al Qur’an Karim pun sudah mengatakan: ‘…..wa akharina minhum lamma yalhaqu bihim

[yakni, ‘…..Dan Dia akan membangkitkannya lagi pada kaum lain di antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka……’. (Q.S. 62 / Al Jumah : 4)]; yang hendaknya disimak lebih dalam.

Terkait dengan ayat tersebut,  Hadhrat Muhammad Musthafa Rasulullah Saw mengamanatkan: ‘Carilah aku di kalangan bangsa bukan-Arab’.

Bahkan beliau Saw juga memerintahkan agar berusaha menemui Al Masih Al Mahdi ini untuk menyampaikan Salam beliau, meskipun harus merangkak di atas salju.

Ditambah lagi, Allah Taala telah mengajarkan kaum Muslimin doa agar senantiasa berada di jalan yang lurus, lengkap dengan petunjuk hidayah-Nya.       Namun, hanya sekitar 5 sampai 7 % saja [dari jumlah dua miliar orang] tersebut yang berhasil memperoleh kesempatan untuk mengenali Imam Zaman mereka yang haqiqi, meskipun kaum Muslimin tersebut mengucapkan doa permohonan ihdinash-shiratal-mustaqim

[yakni, Tunjukilah kami pada jalan yang lurus. (Q.S. 1 / Al Fatihah : 6)] dalam setiap berbagai Salat mereka yang sekian banyak.

[Namun kenyataannya, meskipun semua ini adalah nubuatan dan perintah Allah dan Rasul-Nya, tetapi mereka itu menolak kedatangan Al Masih Al Mahdi dan Imam Zaman tersebut.

Bahkan bukan sekedar menolak, melainkan juga menganiayanya.

Tetapi sebaliknya bagi mereka yang memiliki fitrat yang baik, meskipun bahkan mereka itu tak beragama atau atheis, Allah Taala berkenan memberi mereka petunjuk kepada shiratal mustaqim.

Setiap tahun, ribuan di antara mereka itu datang bergabung ke dalam Jamaat ini.

Namun sebaliknya, karena hanya taklid kepada kaum mullah mereka, di berbagai tempat, mereka yang menamakan dirinya Muslim tersebut justru menentangnya sedemikian rupa.

Maka hanya Allah Taala sajalah yang mampu memberi mereka rahmat dan karunia-Nya. Sebab, apa yang menamakan diri mereka kaum ulama tersebut sepertinya sudah tak dapat berubah lagi; tak mampu untuk memperbaiki diri mereka lagi.

Semoga Allah Taala berkenan untuk merubah kaum yang mengatakan dirinya sebagai pengikut Hadhrat Muhammad Musthafa Rasulullah Saw tersebut. Sehingga mereka pun dapat mengenali Imam Zaman mereka.

Semoga mereka yang menolak itu, yang pada beberapa tempat menganiaya dengan cara yang sangat melampaui batas, dapat menyadari hal ini].

Semoga doa ihdinash-shiratal-mustaqim tersebut dapat menjadi suara hati nurani kaum Muslimin.

Semoga umat Islam dapat menjadi pewaris rahmat dan karunia Allah, sehingga dunia dapat memandang mereka dengan pandangan hormat dan takzim.

Menjelaskan tafsir ayat ihdinash-shiratal-mustaqim ini, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Sebagaimana Al Qur’an Karim telah memerintahkan untuk mencapai peradaban yang baik, taatilah seorang pemimpin bangsamu. Begitupun seharusnya kepada seorang pemimpin [yang akan membawa kepada kesejahteraan] rohani.

Hal ini memberi petunjuk arah yang sama manakala Allah Taala mengajarkan doa ihdinash-shiratal-mustaqim, dan juga siratalladhina an’amta ‘alaihim [yakni, Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka …(Q.S. 1 / Al Fatihah : 7)].

Oleh karena itu hendaknya senantiasa diingat, bahwa tak ada seorang mukmin pun, atau orang biasa, atau bahkan hewan, yang tidak mendapat karunia Allah. Namun, tak dapat dikatakan, bahwa Allah Taala memerintahkan agar mengikuti salah satu di antara mereka itu.

Melainkan, tafsir ayat ini adalah memberi kesempatan kepada kita untuk mengikuti jalan mereka yang telah dihujani ni’mat rahmat dan karunia Ilahi.

Ringkasnya, hikmah rahasia dari ayat [doa ihdinash-shiratal-mustaqim] ini adalah agar anda sekalian seantiasa ada bersama Imam Zaman.”

[Siapakah yang dimaksud dengan Imam Zaman itu ?  Rasulullah Saw mengatakan, beliau itu adalah nabiyullah, atau orang yang diutus Allah untuk seluruh dunia.

Dalam hal ini, sebagaimana yang telah saya sampaikan, Imam Zaman itu adalah seorang pecinta dan pengabdi Hadhrat Rasulullah Saw yang sejati, yakni Hadhrat Masih Mau’ud a.s. atau Imam Mahdi a.s.

Nikmat Ilahi yang telah berhasil beliau peroleh tersebut adalah semata-mata berkat kemuliaan Hadhrat Muhammad Musthafa Rasulullah Saw., yang akan berlangsung terus hingga hari Qiamat.

Dan bagi kita, karunia nikmat Allah Taala ini hanya dapat diperoleh dengan cara senantiasa melekatkan diri kepada beliau a.s.].

Adapun para Sahabah Rasulullah Saw, yang telah berhasil memperoleh nikmat Ilahi tersebut dengan sebaik-baiknya sejak kemunculannya pada 1.400 tahun yang lalu. Namun mereka itu tetap gelisah bagaimana caranya agar keimanan mereka itu senantiasa meningkat dan tetap segar.

Kalimat doa mustajab ihdinash-shiratal-mustaqim senantiasa berada di lidah mereka.

Setiap kata dan doa yang mereka panjatkan adalah muncul dari lubuk hati mereka yang dalam ketika mereka mendirikan berbagai Salat mereka.

Dan mereka pun berhasil membina hubungan baik sedemikian rupa dengan Hadhrat Rasulullah Saw, yang tak ada bandingannya, sehingga Allah Taala pun berkenan memberi mereka kemuliaan derajat rohani ‘radiyallahu ‘anhum….’ [yakni, Allah ridha kepada mereka’…(Q.S. 5 / Al Maidah : 120)].

Walhasil, untuk mendapatkan nikmat Ilahi ini; untuk tetap istiqamah berada di dalam petunjuk hidayah; agar tetap melangkah di jalan shiratal-mustaqim, yakni selamanya itaat kepada petunjuk Hadhrat Muhammad Musthafa Rasulullah Saw, kita pun menerima kebenaran pendakwaan Imam Zaman, Al Masih Al Mahdi, yang harus kita bina sedemikian rupa, agar kita dapat menjadi pewaris nikmat Ilahi tersebut selamanya.

Hal ini sesuai dengan janji Baiat kita sejak awal, yakni selamanya akan senantiasa memelihara hubungan dengan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. di atas segala perhubungan lainnya.’

Hal ini sebagaimana tercantum di dalam butir Ke-10 Syarat Baiat.

Jadi, hanya ucapan Baiat saja tidak cukup doa ihdinash-shiratal-mustaqim kita menjadi makbul.. Tidak juga Allah Taala serta merta menerima doa ihdinash-shiratal-mustaqim – bagi kita – yang dipanjatkan oleh para pendahulu kita, yang kita terlahir di dalam rumah-rumah mereka.

Juga tidak cukup hanya dengan Allah Taala telah memberikan kesempatan untuk menerima Imam Zaman. Melainkan, sesuai dengan perintah Hadhrat Muhammad Musthafa Rasulullah Saw, kita harus melangkah lebih maju lagi. [Senantiasa berada di jalan shiratal mustaqim, dan ‘…itaati bil ma’ruf, yakni, senantiasa istiqamah di dalam keitaatan, serta sesuai dengan perintah di dalam Al Quran: ‘…falaa tamutuna illa wa antum muslimun, yakni, dan janganlah kamu mati, kecuali dalam keadaan muslim, atau berserah diri].

Jika tidak karena karunia Allah, tak ada seorang pun yang dapat menunjukkan keitaatan dan perhubungan yang sempurna disebabkan semata-mata usaha mereka sendiri.        Oleh karena itu, kita harus senantiasa bersimpuh di hadapan Allah Taala agar selalu dapat menerima nikmat Ilahi tersebut.

Jadi, kita harus dapat memahami realita hikmah doa ihdinash-shiratal-mustaqim ini, sehingga kita pun dapat memahami perlunya menjaga realitas ikatan hubungan dengan Imam Zaman selama hidup.

Renungkanlah hal ini dalam-dalam: Mengapa kita perlu sering-sering memanjatkan doa ini; ialah, setelah bergabung dengan Imam Zaman, tidaklah cukup. Juga tak cukup dengan hanya dengan menyatakan janji Baiat sumpah setia.

Melainkan, kita harus dapat mengembangkan diri di dalam nizam yang telah didirikan oleh Hadhrat Masih Mau’ud a.s. yang penjelasannya telah beliau uraikan di dalam buklet Al-Wasiyyat, yakni Nizam Khilafat.

Maka, sungguh beruntunglah mereka yang setelah menerima kebenaran pendakwaan Hadhrat Masih Mau’ud a.s., kemudian membina hubungan yang erat dan kuat dengan Qudrat Tsaniah ini.

Namun, bagi orang Ahmadi, hal tersebut bukanlah titik akhir dari doa ihdinash-shiratal-mustaqim-nya itu.

Melainkan, senantiasa-lah mawas diri. Yakni, doa ihdinash-shiratal-mustaqim ini adalah bersifat berkelanjutan dari koridor tekad untuk mencapai kemajuan yang abadi, dan juga dalam usaha mencari jalan petunjuk selamanya; yang merupakan doa  seorang mukmin agar hal tersebut dapat berlangsung selamanya.

[Insan yang normal tidak akan terhenti pada satu tahapan, karena pada kenyataannya ia it uterus menerus berperang melawan syaithan. Atau, meskipun ia banyak melakukan amal shalih, namun syaithan pun menggodanya setiap saat.

Meskipun sudah menyatakan iman kepada Hadhrat Imam Mahdi a.s.. Meskipun sudah berhubungan erat dengan Khilafat, sudah banyak berkorban harta benda,atau mengkhidmati Jamaat, atau ber-Wiqari Amal, namun tetap saja ada orang yang mengatakan bahwa diri mereka masuh suka malas mendirikan Salat. Mereka menyampaikan hal ini kepada saya.

Maka orang yang demikian itu, lama kelamaan akan menjadi malas atau berkurang pula amalan shalihannya].

Hendaknya diingat, ada pula mereka yang tampak banyak beramal dan mengerjakan Salat, namun tidak baik dalam memperlakukan keluarganya sendiri.

Maka mereka itu pun mahrum dari shiratal mustaqim.

Yakni, boleh jadi mereka itu mengucapkan doa ihdinash-shiratal-mustaqim, tetapi mereka tidak melaksanakan semua perintah Rasulullah Saw; yang antara lain telah bersabda: ‘…Khairukum khairukum li ahlihi. Wa anna khairukum li ahli, yakni, ‘…yang terbaik di antaramu adalah yang baik memperlakukan istrinya. Dan aku adalah yang terbaik dalam memperlakukan keluargaku.’

[Terkait dengan perintah Rasulullah Saw agar umat memperlakukan keluarganya dengan sebaik-baiknya, dikisahkan, ada seorang sahabah yang datang ke dalam suatu majlis irfan bersama Hadhrat Imam Mahdi a.s.. Ia mengeluhkan: ‘Hudhur, istriku telah pergi ke rumah keluarganya sekian lama. Maka aku katakan padanya: Kamu tak boleh lagi datang ke rumah orang tuamu.

Demi mendengar keluhannya tersebut, wajah beliau a.s. pun menjadi merah padam, kemudian memintaku agar meninggalkan ruangan. ‘Karena tuan telah mengganggu dan mencemari majlis ini.’

Maka aku pun segera memohon maaf kepada beliau.

Seorang sahabah lain yang menyaksikan adegan tersebut segera saja permisi untuk meninggalkan ruangan. Ia berlari ke toko  untuk membeli sesuatu. Lalu diberikannya kepada istrinya dengan disertai ucapan sayang; yang membuatnya terheran-heran: Apa yang terjadi dengan suamiku ini ?  Ia menjawab: Aku tengah berada di majlis irfan bersama Hadhrat Imam Mahdi, lalu aku menyaksikan betapa beliau sangat kecewa atas perlakuan buruk seorang sahabah tersebut terhadap istrinya. Maka aku pun teringat akan segala kealpaan-ku terhadap mu selama ini. Mudah-mudahan kamu memaafkannya. Dan aku berjanji mulai hari ini aku akan memperlakukan kamu dengan baik.’

Inilah suatu inqillabi haqiqi yang terjadi dalam kaitannya dengan berumah tangga, sehingga orang pun mendapat petunjuk hidayah ke jalan shiratal mustaqim, yang akhirnya akan meluas di masyarakat, lalu ke seluruh dunia.

Jadi, orang yang Baiat kepada Hadhrat Imam Mahdi a.s. adalah baru langkah awal, yang setelah itu memperoleh kesempatan untuk mendapatkan qurb, kedekatan Ilahi.

Petunjuk hidayah itu tidak sesederhana menerima seorang utusan Allah; tak juga cukup dengan bergabung ke dalam Jamaah beliau. Melainkan, mempraktekkan kehidupan yang sesuai dengan ajaran tersebut, dan membinanya sebagai fondasi untuk memperoleh berbagai petunjuk hidayah selanjutnya.

Jadi, doa ihdinash-shiratal-mustaqim ini tidak hanya untuk memenuhi kewajiban haququllah; tidak juga untuk meneguhkan keyaqinan diri. Melainkan, doa ini pun untuk memenuhi kewajiban haququl-ibad.

Pendek kata, doa mustajab ini berfaedah untuk setiap segi kehidupan.

[Saya tahu dan mengenali ada sebagian dari antara anda ini yang buruk perlakuannya terhadap istri-istri mereka.

Di luar rumah mereka tampak baik dan terhormat, seolah sudah berada di jalan shiratal mustaqim.

Tetapi di dalam rumah, mereka memahrumkan dirinya dari jalan nikmah tersebut].

Perkara ini tidaklah sepele. Sebab Rasulullah Saw telah mensabdakan: ‘…Khairukum khairukum li ahlihi. Wa anna khairukum li ahli….’

[Jadi, doa mustajab ini berfaedah untuk setiap urusan. Sehingga jalan ketaqwaan pun senantiasa terbina.                Sehingga terciptalah kondisi ‘…falaa tamutuna illa wa antum muslimun, yakni, dan janganlah kamu mati, kecuali dalam keadaan muslim, atau berserah diri’, tersebut].

[Maka, mukmin haqiqi adalah mereka yang senantiasa berusaha untuk meningkatkan maqomam mahmudah mereka. Meningkatkan amalan shalihan mereka. Dan meningkatkan tahapan keimanan mereka, yang untuk itu perlu senantiasa memanjatkan doa ihdinash shiratal mustaqim ini].

Mereka pun takut akan murka Ilahi. Maka mereka pun berusaha memenuhi kewajiban haququllah maupun haququl-ibad. Sehingga mereka pun senantiasa meningkat keimanannya di bawah petunjuk hidayah Allah Taala dan rasul-Nya.

[Mereka senantiasa mencari ridha Ilahi. Jadi, mereka itu bukanlah golongan orang yang menganggap dirinya sudah taqwa, shalih, dan berada.

[Mereka yang sudah merasa seperti itu, betapapun tampak shalih dan taqwanya, mereka itu sesungguhnya sudah berada di dalam pengaruh syaithan].

Oleh karena itu, senantiasalah menghisab diri sendiri.

Meningkatkan maqoman mahmudah adalah dambaan setiap mukminin sejati.

[Sebab, orang yang merasa telah berhasil dalam suatu tahapan, kemudian ia merasa bangga dengan itu, yakni ia telah banyak berkhidmat kepada Jamaat. Atau doa dan salatnya cukup. Namun amalannya itu jauh dari haququl-ibad. Ia akan kehilangan status maqom mahmudahnya itu].

Oleh karena itu, mukminin haqiqi tidak hanya akan terpana kepada amal shalihnya sekarang, melainkan hingga akhir hayatnya nanti. Yakni, mendambakan akhir kehidupan yang khusnul khatimah.

Tak ada orang lain lagi di dunia ini yang telah mendapat derajat rohani yang sedemikian mulia selain dari Hadhrat Muhammad Musthafa Rasulullah Saw.                 Beliau berhasil mencatat semua wahyu Allah Swt dengan seksama sedemikian rupa, yang untuk ukuran zaman sekarang ini adalah seorang Sekretaris Pribadi. Begitulah kemuliaan derajat dan kedekatan Rasulullah Saw dengan Allah Taala, yang setiap saat memanggil beliau untuk menuliskan semua perkataan wahyu-Nya.

Hal ini menunjukkan, bahwa ada jiwa amanah yang besar pada diri beliau Saw.

Di dalam pandangan pihak lain pun demikian. Yakni, Abdullah bin Ubayy [bin Salul] berusaha membantu menuliskan wahyu Allah Taala yang diturunkan kepada Hadhrat Muhammad Musthafa Rasulullah Saw, demi untuk mengejar status tersebut.

Namun bagaimana akhirnya ? Ia justru terpelanting dan kehilangan semua kebesarannya.

Demikian pula terjadi pada zaman Hadhrat Masih Mau’ud a.s.. Ada sekelompok orang yang memperlihatkan demikian besar cinta dan kedekatan mereka [terhadap beliau a.s.].

Akan tetapi, manakala ujian menimpa mereka, mereka pun berubah menjadi para penentang beliau a.s. yang sengit dan menganiaya sedemikian rupa, serta mengajukan berbagai keberatan setiap harinya.

Oleh karena itulah doa ihdinash-shiratal-mustaqim ini sangat penting untuk akhir kehidupan yang khusnul khatimah.

Renungkanlah hal ini dalam-dalam, lalu laksanakanlah dengan sebaik-baiknya.

Dalam menasehati kita, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda di suatu tempat: “Bila ada sesuatu deficit dalam urusan dengan Allah Taala, maka demikian pula dalam urusan yang lainnya.”

Yakni, jika ada sesuatu deficit dalam urusan lainnya itu, maka – meskipun Allah Taala tidak terlibat dalam urusan tipu muslihatnya itu, namun hendaknya difahami, bahwa anda tidak akan mendapat ganjaran pahala disebabkan urusan itu. Allah Maha Mengetahui atas segala sesuatu.

Maka adalah penting untuk menghisab diri sendiri.

Yakni, ada miliaran orang Muslim di dunia ini, yang mereka pun memanjatkan doa ihdinash-shiratal-mustaqim. Namun, disebabkan pengucapan mereka itu hanya di mulut belaka tak ubahnya seperti burung beo, maka setelah Salatnya itu, perhatian mereka pun tertuju kepada kejahiliyahan dan fahsya, menimbulkan gangguan masyarakat.

Yang keluar dari mulut mereka hanyalah kesia-siaan belaka. Itulah yang mereka lakukan ketika berada di dalam masjid-masjid mereka.

Atau, boleh jadi juga mereka bekerja-sama dalam kejahiliyahan mereka.

Begitukah jalan shiratal mustaqim sebagaimana yang diajarkan di dalam doa itu ? Tentu saja tidak !

Di hadapan kita tersedia jalan shiratal mustaqim yang dapat mengubah wujud nafsi-hewani menjadi manusia yang sejati. Kemudian akan mengubahnya lagi menjadi insan yang ber-nafsi lawamah, atau beradab. Lalu meningkat lagi menjadi nafsi-muthmainah, atau hanya didasari kepada cintanya kepada Allah semata.

[Hal ini bukanlah hanya sekedar ceritera utopia belaka, melainkan sungguh kiat yang nyata].

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Adalah adanya suatu inqillabi haqiqi yang ingin aku lihat di dalam Jamaah-ku ini.“

Merenungkan hal ini, tentu akan memfokuskan perhatian kita kepada Janji Baiat yang telah kita ikrarkan dan tanggung jawab pelaksanaannya.

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Sebelum seseorang memiliki amal shalih yang demikian banyak [yakni, tidak hanya satu dua], maka belum patutlah orang itu disebut seorang mukmin haqiqi. Oleh karena itulah Allah Taala pun mengajarkan doa ihdinash-shiratal-mustaqim ini di dalam Surah Al Fatihah. Yakni, agar jangan sampai manusia tidak memahami, bahwa kebaikan itu bukan sekedar menjauhi perbuatan dosa yang nyata seperti mencuri, berzinah, dlsb; melainkan dinyatakan dengan ucapan doa berikutnya, ialah, siratalladhina an’amta alaihihm,

[yakni, untuk senantiasa berada di Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka…’ (Q.S 1 / Al Fatihah : 7)].

Namun, ganjaran pahala untuk itu adalah sesuatu yang terpisah. Yakni, sebelum ia berhasil memperolehnya, tak dapat dikatakan bahwa ia adalah insan yang afdhal dan shalih.

Ingatlah, Allah Taala tidak mengajarkan doa ini agar tidak memasukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang berdosa dan jahil.       Melainkan, masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka.“

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda di suatu tempat: “Hendaklah difahami bahwa akar dari segala kebaikan adalah beriman kepada Allah.       Jika iman seseorang kepada Allah lemah, maka akan banyak pula kelemahan dan kemalasan di dalam diri orang tersebut untuk berbuat amal-shalih.

Tetapi apabila iman kepada Allah dengan segala Sifat-Nya itu sudah sedemikian rupa teguhnya, maka berbagai kelemahan dirinya pun akan berubah seiring dengan berbagai amal shalih yang dikerjakannya.

Pendek kata, orang yang beriman teguh kepada Allah, tak akan melakukan perbuatan dosa.”

Sebagaimana hanya menerima [suatu pendakwaan yang benar] saja tidaklah cukup; maka semoga kita semua dapat menjadi orang-orang yang senantiasa meningkat dalam mencapai qurb, kedekatan Ilahi. Yakni, untuk senantiasa dapat memperoleh keberkatan keberadaan Jamaah Ahmadiyah bagi generasi mendatang kita.

Semoga pula kita tidak pernah menjadi lemah dalam usaha dan doa-doa.

Semoga pula, keserba-nyamanan duniawi negeri ini tidak memahrumkan diri kita untuk mencapai tujuan hidup kita yang haqiqi.. Amin !

 o o  O o o

translated by.MMA/LA/06.21.2011

0 Responses to “Jalan Yang Lurus”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




AYO BERBELANJA DI TOKO ONLINE KAMI:

Statistik Blog

  • 226,788 hit

aku suka jalan-jalan

hidup adalah jalan-jalan. jalan-jalan adalah hidup

%d bloggers like this: