Khutbah Idul Adha

—–Pada kesempatan ibadah Haji ini Mufti Besar Saudi Arabia sangat tepat sekali berkata didalam Khutbahnya. Katanya, disebabkan tidak ada keadilan timbul kerusuhan. Dan jika para Pemimpin Negara-negara Muslim tidak memperdulikan hak-hak Rakyat mereka pasti disana akan timbul kerusuhan. Beliau sungguh benar berkata bahwa darah orang-orang Muslim sedang banyak tertumpah dimana-mana sedangkan didalam Islam tidak diizinkan untuk mengadakan pemberontakan karena mengakibatkan pertumpahan darah. Dan juga beliau tepat betul sekali berkata bahwa “ ada sekelompok Bangsa-bangsa yang ingin mengadu domba orang-orang Islam.”Dan juga beliau tepat sekali berkata bahwa persatuan atau persepakatan dikalangan orang-orang Islam sangat diperlukan sekali. Akan tetapi sayangnya—–

Khutbah selengkapnya:

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Khotbah Iedul Adha

Sayyidina Amirul Mu’minin

Hazrat  Mirza Masrur  Ahmad Sahib Khalifatul Masih V atba

Tanggal 17 Nubuwwah 1389 HS/November 2010

Di Mesjid Baitul Futuh, London.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ   وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ فَأَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

  بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

 

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَہُ  السَّعۡیَ قَالَ یٰبُنَیَّ  اِنِّیۡۤ اَرٰی فِی الۡمَنَامِ اَنِّیۡۤ  اَذۡبَحُکَ فَانۡظُرۡ مَاذَا تَرٰی ؕ قَالَ یٰۤاَبَتِ افۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُ ۫ سَتَجِدُنِیۡۤ  اِنۡ شَآءَ اللّٰہُ مِنَ الصّٰبِرِیۡنَ ﴿﴾ فَلَمَّاۤ   اَسۡلَمَا وَ  تَلَّہٗ   لِلۡجَبِیۡنِ ﴿﴾ۚ وَ  نَادَیۡنٰہُ  اَنۡ  یّٰۤاِبۡرٰہِیۡمُ ﴿﴾ۙ قَدۡ صَدَّقۡتَ الرُّءۡیَا ۚ اِنَّا کَذٰلِکَ نَجۡزِی الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿﴾ اِنَّ ہٰذَا لَہُوَ  الۡبَلٰٓـؤُا الۡمُبِیۡنُ ﴿﴾ وَ فَدَیۡنٰہُ  بِذِبۡحٍ عَظِیۡمٍ ﴿﴾ وَ تَرَکۡنَا عَلَیۡہِ فِی الۡاٰخِرِیۡنَ ﴿﴾ۖ

 

Dan ketika anak itu telah berusia cukup untuk dapat berlari-lari bersama dia, berkatalah ia, Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu sebagai kurban. Maka pikirkanlah apa pendapatmu ?’ Ia berkata, ‘Hai, bapakku, kerjakanlah apa yang telah diperintahkan kepada engkau; insya Allah engkau akan mendapatiku, di antara orang-orang yang sabar.’ Dan, ketika keduanya telah rela berserah diri dan ia, Ibrahim, telah menelungkupkan anak-nya pada dahinya. Maka Kami berseru kepadanya, ‘Hai Ibrahim, sungguh engkau telah menyempurnakan mimpi itu.’ Sesungguhnya demikianlah Kami memberi ganjaran orang-orang yang berbuat kebaikan. Sesungguhnya ini adalah suatu ujian yang nyata. Dan, Kami telah menebus dia, Ismail  dengan pengurbanan yang besar. Dan, Kami meninggalkan nama baik baginya, Ibrahim, di antara umat-umat yang akan datang.” (Ash-Shaffaat, 37: 103 -109)

Hari ini kita sedang merayakan Iedul Adha atau Iedul Qurban. Yaitu Ied untuk mengingat kembali peristiwa pengurbanan 4000 atau 4500 tahun yang telah silam untuk menegakkan standar baru dalam pengurbanan melalui dua orang pilihan Tuhan. Akan tetapi pada waktu itu memotong atau menyembelih leher dijalan Allah swt telah dihentikan karena Allah swt berfirman kepada Hazrat Ibrahim : Saddaqtar ru’ya yaitu engkau telah menyempurnakan ru’ya. Artinya pengurbanan dengan memotong leher sudah diterima oleh Allah swt. Diumumkan bahwa sebagai ganti memotong leher manusia Allah swt ingin menegakkan contoh tauladan sebuah zibhin ‘azhim atau penyembelihan agung. Yaitu zibhin azim yang nilainya sangat luhur sekali dari pada memotong leher manusia. Apabila seorang Nabi Agung (Nabi Muhammad saw) telah direncanakan Tuhan untuk dilahirkan kedunia, yang bukan hanya beliau sendiri bernazar, setiap waktu siap untuk menyerahkan seluruh jiwa raga dijalan Allah swt, bakhkan beliau meniupkan spirit didalam jiwa raga para pengikut beliau yang setiap waktu menegakkan standar baru dalam pengurbanan. Kemudian dapat disaksikan dengan mata kita dalam tarikh bahwa beraneka ragam pengurbanan telah berjalan terus-menerus. Contoh tauladan pengurbanan telah mulai nampak terus kepermukaan dengan sangat mengherankan. Perlombaan satu sama lain didalam pengurbanan itu para sahabah Hazrat Rasulullah saw berfikir agar Tuhan kami ridha terhadap cara yang kami amalkan ini. Jika ingin menyerahkan pengurbanan dengan sabar dan keberanian maka mereka siap setiap waktu mengikuti contoh tauladan Junjunan mereka Hazrat Rasulullah saw. Apabila sudah tiba waktunya untuk mengurbankan harta maka mereka yang telah memperoleh tarbiyyat dari Hazrat Rasulullah saw mereka siap untuk berlomba satu sama lain didalam pengurbanan. Jika sudah tiba waktunya untuk mengurbankan nyawa maka mereka memberi contoh tauladan demikian relanya sehingga manusia merasa heran menyaksikannya. Dengan menyaksikan semangat mereka mengurbankan nyawa mereka Allah swt berfirman didalam Kitab Suci Alqur’an :“ Wa a’yunuhum tafidu minad dam’i hazanan alla yajidu ma yunfiqu, Yakni dan  disebabkan sedih mata mereka mencucurkan air mata karena mereka tidak memiliki apa-apa untuk dibelanjakan. Bukan hanya untuk membelanjakan harta melainkan apabila telah diperintahkan untuk berjihad maka keadaan semangat mereka bergelora seperti itu. Perjalanan menuju medan perang sangat jauh, diperlukan kendaraan tunggangan yang tidak mereka milikinya. Mereka itu orang-orang miskin sehingga kasut (sepatu)pun tidak mereka miliki sedangkan perjalanan menuju medan jihad sangat sulit dan jauh. Menurut riwayat terbukti bahwa mereka itu hanya meminta kasut (sepatu) supaya mereka bisa pergi bersama-sama kemedan perang. Mereka tidak memerlukan kuda untuk pergi kemedan jihad itu, tidak pula meminta seekor unta. Mereka hanya meminta sepasang sepatu supaya bisa ikut pergi kemedan jihad. Akan tetapi pada masa-masa permulaan Islam itu keadaan demikian miskinnya sehingga sepasang sepatupun para sahabah banyak yang tidak memilikinya. Sedangkan mereka sangat menanti dengan semangat kesempatan untuk mengurbankan jiwa-raga mereka dimedan jihad. Bahkan Allah swt berfirman bahwa mereka itu betul-betul orang mukmin yang memiliki semangat untuk berkurban. Ketika permohonan mereka itu tidak dapat terpenuhi, jema’at orang mukmin pada waktu tidak mampu menyediakan perlengkapan jihad sekalipun berupa sepasang sepatu, apalagi binatang tunggangan. Dikatakan kepada mereka bahwa apabila mereka dapat menyediakan sendiri alangkah baiknya. Disebabkan keadaan seperti itulah mereka merasa sangat sedih sekali dan menangis sambil mencucurkan air mata. “Aduhai sedihnya! Seandainya kami mampu menyediakan perlengkapan jihad itu pasti kami pergi ikut berjuang. Sekarang  terpaksa kami kembali pulang kerumah sambil menanggung kesedihan, kami bukanlah orang-orang penakut. Harta dan jiwa raga, semuanya kepunyaan Allah swt. Kami setiap waktu menanti giliran dengan penuh harapan untuk mengurbankannya dijalan Allah swt.”

Dikala tiba masanya untuk berkurban mereka telah membuktikan iradah dan semangat mereka yang tengah berkobar itu, mereka betul-betul semangat tidak berpura-pura sebab mereka bukan orang-orang penakut. Maka, disebabkan keinginan-keinginan  keras mereka itu untuk berkurban tidak terpenuhi secara amal nyata, mereka diberikan kedudukan dan martabah oleh Allah swt yaitu rodhiallahu anhu yakni Allah swt ridha kepada mereka.

Ketika Hazrat Ibrahim dan Hazrat Ismail a.s. memperoleh kegembiraan dari Allah swt dengan firman-Nya soddaqtar ru’ya maka telah lahir dari anak keturunan beliau seorang Nabi Agung yang telah menegakkan tauladan zibhin azim dan beliau sendiri telah menegakkan mutu pengurbanan yang tinggi dikalangan para sahabah radhiallahu ‘anhum. Sehingga Allah swt  menganugerahkan radhiallahu ‘anhum sebagai penghormatan kepada mereka. Sebagai ganjaran bagi pengurbanan mereka Allah swt telah menganugerahkan barang-barang keperluan dunia juga kepada mereka dihari-hari kemudian. Bahkan Negara dan pemerintahan juga dianugerahkan kepada mereka. Sekarang jika kita perhatikan dengan sungguh-sungguh Pemerintahan orang-orang muslim banyak sekali memiliki kekayaan duniawi akan tetapi dari kekayaan itu tidak nampak adanya suatu keridhaan Allah swt, yang dapat menunjukkan adanya qurub Allah swt. Sekalipun mereka memiliki kedaulatan mutlak namun pemerintahan mereka berjalan dibawah pengaruh pemerintahan asing.

Orang-orang Muslim yang menikmati hasil jerih-payah pengurbanan mereka telah dijadikan orang-orang yang patuh beribadah kepada Allah swt. Mereka itu telah mengibarkan bendera Hazrat Rasulullah saw sampai kenegara-negara Eropah. Namun apabila mereka sudah lupa kepada nilai-nilai pengurbanan maka terpaksa beberapa negara dibawah kekuasaan mereka terlepas dari tangan mereka. Apabila telah melepaskan kewajiban tabligh kemudian mengambil jalan serakah terhadap harta dunia maka akibatnya Pemerintahan mereka menjadi lemah dan kehormatan juga hilang sirna akhirnya mereka harus kehilangan segala-galanya, sehingga sekarang kebesaran dan kehormatan telah hilang dari Negara-negara orang Muslim. Apabila sekarang sebagai akibat kejatuhan itu suatu kekuatan dari antara orang-orang Muslim muncul kembali bertekad untuk menerapkan syari’at Islam menurut konsepnya sendiri, padahal ia juga sebagai orang yang tidak berpendidikan tinggi, akhirnya bukan untuk meninggikan martabat Islam justeru sebaliknya disebabkan tabia’atnya sangat keras membuat nama baik Islam menjadi rusak dipandangan Negara-negara non Muslim. Dan ia berusaha  menghapuskan orang-orang Muslim yang tidak berdosa dengan cara yang sangat zalim, dianiaya, dibunuh, dirampok dan dijarah harta benda mereka diluar prikemanusiaan.

Maka, Pemerintahan orang-orang Muslim juga dan para Ulama juga harus merobah sikap konsep dan cara berfikir seperti itu, yakni menegakkan syari’at Islam. Pada kesempatan ibadah Haji ini Mufti Besar Saudi Arabia sangat tepat sekali berkata didalam Khutbahnya. Katanya, disebabkan tidak ada keadilan timbul kerusuhan. Dan jika para Pemimpin Negara-negara Muslim tidak memperdulikan hak-hak Rakyat mereka pasti disana akan timbul kerusuhan. Beliau sungguh benar berkata bahwa darah orang-orang Muslim sedang banyak tertumpah dimana-mana sedangkan didalam Islam tidak diizinkan untuk mengadakan pemberontakan karena mengakibatkan pertumpahan darah. Dan juga beliau tepat betul sekali berkata bahwa “ ada sekelompok Bangsa-bangsa yang ingin mengadu domba orang-orang Islam.”Dan juga beliau tepat sekali berkata bahwa persatuan atau persepakatan dikalangan orang-orang Islam sangat diperlukan sekali. Akan tetapi sayangnya beliau juga, para ulama Islam dan para pemimpin Bangsa juga tidak bersedia untuk beriman kepada orang yang telah diutus oleh Allah saw dizaman ini demi menegakkan ruh Islam yang hakiki. Dan sesungguhnya dengan beriman kepada beliau pasti persatuan ummat dapat ditegakkan dan kehormatan orang-orang Muslim-pun akan dapat diraih kembali. Pemandangan umat wahidah akan nampak kembali setelah berhimpun bersama-sama Masih dan Mahdi. Dengan menjadi orang-orang yang patuh ta’at terhadap Pencinta sejati Hazrat Rasulullah saw mutu pengurbanan yang luhur dapat tegak kembali. Dengan bergabung bersama Masih Muhammadi setándar iman dan keruhanian akan menjadi tinggi kembali, yang akan menjadi sarana untuk meraih keridhaan Allah swt.

Maka, jika sekarang ingin melanjutkan mata rantai pengurbanan yang telah dirintis oleh Hazrat Ibrahim dan Hazrat Ismail ‘alaihimussalam yang telah pergi meninggalkan tauladan martabat zibhin azim yang telah menjadi standar bagi segala jenis pengurbanan. Maka jadilah sosok penyempurna nubuwatan Nabi Agung itu kemudian gabungkan diri dengan Masih dan Mahdi dan dengan Pencinta Hakiki Hazrat Rasulullah saw, hal itu sangat diperlukan sekali. Dan jika orang-orang Muslim berhimpun dan bersatu-padu menjadi pendukung Imam Zaman demi memperkuat Missinya, bukan sebalinya menjadi pemberontak melawannya, maka mereka akan menjadi orang-orang yang menampilkan kembali pemandangan pamor keindahan Islam yang cemerlang kepada dunia yang sudah hilang sirna. Insya Allah!!

Sekarang bukan nasihat seorang Mufti dan seorang Alim yang mampu untuk mempersatukan orang-orang Muslim, bukan pula kekayaan minyak seorang Raja dapat menghimpun orang-orang Muslim dibawah satu tangan dan tidak pula dengan mendirikan sebuah Nizam kekerasan dapat menegakkan kembali mutu pengurbanan orang-orang mukmin diabad permulaan. Memang untuk beberapa hari saja beberapa orang dapat menjelaskan hal itu kemudian pasti akan mendesak orang-orang muslim dengan dalih sangat penting untuk mengamalkannya. Dengan menggunakan harta kekayaan, Raja atau Pemimpin Bangsa bisa berhasil mengatas namakan Islam demi mencapai maksud-maksud pribadinya.  Atas nama agama, organisasi-organisasi garis keras dengan keliru menggunakan anak-anak keluarga yang miskin dan keluarga yang mati karena kelaparan dan kemiskinan; dengan mencuci otak mereka (brain washing) mengatas namakan pengorbanan berupaya  menggunakan tenaga mereka untuk melakukan serangan bunuh diri. Akan tetapi anak-anak yang telah mereka cuci otaknya itu manakala dipaksa keluar dari kelompok berani mati (bom bunuh diri) akan berpikir bagaimana ia akan menyelamatkan jiwanya ditengah-tengah masyarakat. Mereka merasa tergabung dalam kelompok penjahat itu seakan-akan bertentangan dengan suara hati nurani mereka. Banyak orang-orang demikian yang sudah melepaskan diri dari mereka dan telah jatuh ketangan polisi. Mereka menceritakan semua proses kejadiannya kepada polisi, dan merekapun mendapat perlindungan setelah keluar dari kelompok “pengurbanan” itu. Apabila mereka (anak-anak) datang kembali dalam keadaan sadar maka pikiran mereka relativ berobah. Jika diteliti dengan seksama, mereka itu semua tergabung dalam kelompok anak-anak menjadi pelaku-pelaku serangan ganas. Bagi para pemikir dewasa pada umumnya mereka tidak mau melibatkan diri didalam aksi serangan.

Sesungguhnya pengorbanan yang dilakukan secara sadar adalah seperti pengorbanan yang  pernah dilakukan oleh seorang anak (bernama) Muawwidz dan Mu’adz[1] yang seperti harimau menyerang menerobos kejantung musuh lalu membunuh Abu Jahhal dan mengirimnya kedalam Jahannam. Mereka itu telah bernazar untuk mengurbankan jiwa mereka itu demi menyelamatkan Agama, terjun kemedan perang untuk menjawab serangan musuh. Periode mereka menanggung berbagai macam kesulitan dan ksesusahan dengan sabar dan tawakkal bukanlah periode untuk sementara. Namun tengoklah keadaan masa sekarang ini apakah  tepat waktunya untuk melakukan perang phisik untuk membela Islam, sehingga mereka melakukan serangan bunuh diri untuk membela Islam? Dan serangan juga mereka lakukan terhadap penduduk negara orang-orang Muslim sendiri. Dan dilakukannya sambil melanggar undang-undang Negara. Jadi, apa yang mereka  namakan pengurbanan itu bukanlah pengurbanan yang dapat diterima disisi Allah swt. Mufti Besar Saudi Arabia sungguh tepat berkata bahwa kita perlu merubah sikap dan keadaan pribadi masing-masing. Alangkah baiknya jika seandainya beliau mengatakan bahwa untuk melakukan perubahan itu kita harus mencari seorang yang dipilih oleh Tuhan, sambil menyaksikan tanda-tanda dibumi dan dilangit yang sekarang juga terus menampakkannya, sekiranya mengumumkan bahwa sekalipun tanda-tanda sudah nampak jelas, akan tetapi terhadap orang yang telah menda’wakan diri kami masih menjaga diri.

Marilah sekarang pada kesempatan ibadajh Haji ini khasnya orang-orang yang tengah menunaikan ibadajh haji dan orang-orang Islam umumnya sama-sama memanjatkan do’a:” Wahai Tuhan! Jika yang menda’wakan diri sebagai Utusan Tuhan dizaman ini adalah benar, maka janganlah kami dimahrumkan dari kebenaran itu. Ya Allah! Bimbinglah kami untuk menerima amanat yang telah diberikan melalui Hazrat Rasulullah saw ini agar kami menjadi orang-orang yang dapat meraih keridhaan Engkau. Jika meraka berdo’a seperti itu dengan hati yang tulus dan dengan niyat yang baik maka Allah swt pasti akan memberi bimbingan kepada mereka, insya Allah! Setelah melakukan bai’at kepada Masih dan Mahdi ini pasti mereka akan mengetahui seluk-beluk jihad yang sebenarnya. Dan stándar berbagai jenis pengurbanan akan mereka ketahui. Dan pada zaman ini mereka akan mengetahui juga keagungan sifat Ahmad dari yang mulia Rasulullah saw sebab pada zaman ini melalui keagungan sifat Ahmad dari Rasulullah saw telah ditaqdirkan untuk menciptakan revolusi ruhani besar diatas dunia, yang akan membawa dunia kedalam pangkuan Hazrat Muhammad Mustafa saw. Dengan perangai lemah-lembut, kasih sayang dan dengan penuh sabar dan dengan do’a akan menghimpun berbagai bangsa diseluruh dunia kebawah naungan panji-panji Islam. Maka, sekarang sa’atnya berlangsung taqdir mubram Allah swt (taqdir yang tidak berobah), pekerjaan ini akan dilaksanakan oleh Imam Zaman dan Masih Muhammadi serta melalui hamba-hamba para pengikut beliau a.s. dengan memahami makna sabar, dan do’a serta memahami spirit pengurbanan sambil menegakkan mutu pengurbanan. Tarikh Jema’at Ahmadiyah menunjukkan kepada kami mutu kesabaran, do’a dan mutu pengurbanan. Mutu  pengorbanan itu tidak dapat tegak melalui serangan-serangan bunuh diri. Atau untuk menipu dunia dengan serangan-serangan bunuh diri itu mutu pengorbanan tidak akan dapat dicapai. Justeru standar pengorbanan itu dapat diraih dengan  kesabaran dan keredhaan dan dengan taat  sepenuhnya kepada  amanat yang  disampaikan di hadapan para pengikut orang yang telah diutus oleh Allah swt. Apabila Hazrat Rasulullah saw telah menegaskan kepada ummat agar meninggalkan peperangan untuk zaman Masih dan Mahdi, maka sesuai dengan tuntutan iman perintah Rasulullah saw itu harus dita’ati sepenuhnya.

Maka sekarang hanyalah orang-orang Ahmady yang sejak seratus duapuluh tahun terus menerus menyerahkan jiwa-raga, harta, waktu dan kehormatan mereka demi mempertahankan Agama. Tarikh Ahmadiyyah tidak pernah melupakan  pengurbanan jiwa Hazrat Sahibzadah Abdul Latif Sahib Syahid yang beliau persembahkan dimasa hidup Hazrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s. Sekalipun berbagai macam tawaran hadiah yang menarik  telah disodorkan dan kendatipun mendapat kesempatan beberapa hari untuk berpikir, dengan konsisten dan penuh kesabaran serta keikhlasan hati yang sangat luar biasa beliau telah memperlihatkan keimanan yang sangat teguh untuk mengorbankan jiwa dalam suasana hujan batu orang-orang sangat zalim.

Berkaitan dengan peristiwa itu Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Contoh keyakinan sempurna telah diperlihatkan oleh Syahzadah Maulwi Abdul Latif Sahib Syahid. Tidak ada perkara yang lebih besar dari pengorbanan jiwa. Dan mengorbankan  jiwa dengan keteguhan iman seperti itu menunjukkan dengan jelas bahwa beliau telah melihat saya turun dari langit.” Kemudian beliau bersabda lagi, “Syahid marhum telah memberikan  sebuah contoh kepada Jemaatku dan pada dasarnya Jemaatku memerlukan sebuah contoh yang besar seperti itu.” Jadi pengorbanan yang telah dinyatakan sebagai sebuah tauladan oleh Imam Zaman saat itu, tidak akan pernah  keluar atau lepas dari lembaran sejarah Jemaat Ahmadiyah. Ya, dengan memperhatikan contoh itu orang-orang yang akan bergabung kemudian dalam Jemaat Hadhrat Masih Mau’ud as, pasti bersedia bahkan sudah banyak yang telah mempersembahkan jiwa mereka dan mereka telah berusaha menegakkan dan mempertahankan standar pengorbanan dan sampai hari ini persembahan jiwa terus menerus dilakukan.

Tahun ini adalah tahun 2010. Didalam tahun ini dari antara orang-orang yang telah beriman  dan mengakui kebenaran Hazrat Masih Mau’ud a.s. dari dasar lubuk hati mereka yang dalam terdapat 98 orang yang telah mempersembahkan jiwan mereka hingga syahid. Mereka telah memberitahukan kepada dunia dengan persembahan jiwa itu, bahwa “Standar pengorbanan yang kami persembahkan, akar-akarnya tengah diairi dengan spirit yang Rasulullah saw telah ciptakan dalam diri para sahabat beliau. Jadi, suatu pengorbanan yang akar-akarnya tertancap sedemikian dalamnya bahkan menembus sampai kepada pengorbanan Hadhrat Ibrahim dan Hadhrat Ismail a.s., bagaimana mungkin taufan  perlawanan musuh dan badai kencang para penentang mampu menggoyahkan akar-akar itu?” Benih yang ditanam oleh Hazrat Masih dan Mahdi, dengan karunia Allah swt telah tumbuh menjadi sebatang pokok (pohon) yang besar dan sangat kokoh dan cabang-cabangnya telah tersebar kedalam 198 negara [kini 200 negara-pent,] dari setiap benua besar di dunia. Bagaimana taufan perlawanan  mampu  menggoyahkan akar-akar  itu. Sesungguhnya inilah sesuatu yang telah kita saksikan didalam lembaran sejarah Jemaat Ahmadiyah bahwa setiap perlawanan, setiap pengorbanan mendatangkan buah lebih banyak dari sebelumnya. Sampai kini rangkaian sejarah pengorbanan-pengorbanan di dalam Jemaat Ahmadiyah, sebelum tahun 2010 ini, paling banyak jatuh korban menjadi syahid adalah pada  tahun 1974  hampir mencapai tigapuluh orang yang syahid. Akan tetapi sesudah tahun 1974 sampai sekarang kemajuan yang diraih oleh Jemaat, sebagaimana Jemaat terus berkembang, tidak ada contoh sebelumnya. Orang-orang yang mendapat kerugian ekonomi berupa harta benda pada waktu itu sekarang keadaan harta-benda atau keadaan ekonomi mereka sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Setelah menyaksikan puncak karunia-karunia Allah swt yang turun kepada orang-orang yang telah menyerahkan pengorbanan-pengorbanan itu, mereka sendiri menjadi heran betapa Allah swt telah memperlihatkan tanda kecintaan dan qurub-Nya kepada mereka. Kemudian tiba zaman ordonansi yang sangat buruk pada tahun 1984, yang sifatnya jauh lebih keras dan ganas dari keputusan yang dikeluarkan parlemen pada tahun 1974.[2] Ruang lingkup kehidupan orang-orang Ahmadi telah dipersempit. Penjara-penjara dipenuhi oleh penghuni orang-orang Ahmadi. Akibat implimentasi undang-undang yang zalim itu yang puncaknya sampai kepada tahap orang-orang Ahmadi dilarang mengucapkan salam kepada orang lain, bahkan memberi nama ala Islampun tidak diperbolehkan. Khalifah-e-Waqt (khalifah masa itu) terpaksa harus hijrah meninggalkan Pakistan, maka natijahnya Allah swt telah membuka jalan lebar bagi kemajuan Jema’at yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Akibat dari undang-undang yang telah diimplimentasikan itu Jemaat Ahmadiyah menjadi terkenal di seluruh penjuru bumi. Kemudian undang-undang inilah yang sampai sekarang terus menciptakan banyak sekali provokasi yang menyulitkan kehidupan orang-orang Ahmady yang tinggal di Pakistan. Orang-orang Ahmady terus-menerus menghadapi kesulitan-kesulitan itu setiap hari. Sewaktu-waktu, bila saja aparat (petugas pemerintah) merasa jenuh dengan tugas mereka maka tindak kekerasan-pun dilakukan terhadap orang-orang Ahmady. Oleh karena itu akibat dari undang-undang zalim itu orang-orang Ahmady yang tinggal di Pakistan memperoleh peluang emas untuk menegakkan kembali standar mata rantai pengorbanan. Sebagaimana telah saya katakan bahwa dari kalangan aparat pemerintah yang memiliki kekuasaan, bahkan dari kalangan para mullah sekalipun, mereka menimpakan kesulitan-kesulitan terhadap orang-orang Ahmadi. Dan pada masa itu pengorbanan jiwa yang dipersembahkan oleh orang-orang Ahmadi bukanlah pengorbanan biasa atau sederhana. Akan tetapi bentuk anugerah Allah swt-pun terhadap mereka demikian uniknya sehingga tidak dapat dicari  bandingannya, berkat dari pengurbanan mereka itu.

Para penentang berkata, “Bertaubahlah kalian dan keluarlah dari Ahmadiyah kalau tidak kami akan melakukan ini dan itu.” Sehingga sebagaimana telah saya katakan sebelumnya bahwa akibat dari kezaliman-kezaliman mereka itu orang-orang Ahmady rela menyerahkan jiwa mereka demi meraih kedudukan syahid. Dan seorangpun dari keluarga terdekat mereka yang telah menjadi Syahid tidak ada seorangpun yang memperlihatkan kelemahan iman atau gentar sambil menyerah bertekuk lutut dihadapan musuh dan menuntut hukuman mati sebagai pembalasan terhadap kejahatan mereka. Mereka tidak memelas untuk dikasihani dalam kehidup mereka. Mereka tidak mengemis meminta kompensasi atau perlindungan atas kerugian-kerugian harta benda mereka. Mereka menegakkan contoh tauladan dalam kesabaran dan istiqamah yang sungguh-sungguh terpuji dan patut ditulis didalam lembaran sejarah dengan tinta mas.

Baru-baru ini telah terjadi pensyahidan  terhadap Tuan Syekh Mahmud Sahib Syahid di Mardan, sedangkan putra beliau bernama Arif Mahmud Sahib mengalami luka-luka. Sebagaimana telah saya beritahukan didalam khutbah Jum’at bahwa ketika Nazir Umur Amah Sahib berbicara dengannya melalui telpon maka dia yang tengah merasakan luka-luka itu mengatakan  kepada beliau, “Kendatipun dalam keadaan terluka, saya  sangat semangat dan tegar dan Insya Allah swt tidak akan ada yang dapat menggoyahkan iman kami.” Jadi jika dalam suatu kaum ada orang-orang yang rela menyerahkan pengorbanan seperti itu, dan ada pemuda-pemuda yang dengan gagah berani menantang maut di depan matanya; menakut-nakuti mereka dengan kematian tidak ada artinya bagi mereka!! Kekuatan iman yang tertanam dalam hati mereka telah timbul karena mereka yakin sepenuhnya bahwa Hazrat Mirza Gulam Ahmad Qadiani a.s. adalah Masih dan Mahdi yang telah dijanjikan akan datang dizaman ini. Dan kini keredhaan Allah swt dapat diraih hanya dengan jalan menggabungkan diri dengan Hazrat Masih dan Mahdi sehingga akan menjadi pewaris karunia-karunia Allah swt. Dan firman Allah berikut ini memperteguh iman mereka dan memberi ketenteraman didalam kalbu mereka,

نَحۡنُ اَوۡلِیٰٓؤُکُمۡ فِی الۡحَیٰوۃِ  الدُّنۡیَا وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ ۚ وَ لَکُمۡ فِیۡہَا مَا تَشۡتَہِیۡۤ اَنۡفُسُکُمۡ وَ لَکُمۡ فِیۡہَا مَا تَدَّعُوۡنَ

“Kami adalah teman-temanmu di dalam kehidupan dunia dan di akhirat. Dan bagi kamu di dalamnya terdapat apa yang diinginkan diri kamu dan bagi kamu di dalamnya terdapat apa saja yang kamu minta.” Surah Fushshilat (Haa Mim as-Sajdah), 41: 32) Yakni apabila Allah swt telah  menjadi Wali (sahabat) bagi-nya didunia maupun diakhirat nanti, apa lagi yang akan merisaukan fikiran dia? Dan siapa yang dapat mencegahnya untuk menyerahkan pengorbanan-pengorbanannya. Jadi, apabila pemuda itu berkata:“Apa artinya satu dua butir peluru, jika kami diberondong dengan banyak sekali tembakan peluru-pun tidak akan kami hiraukan.” Jadi, tekad keras seperti besi ini timbul didalam  kalbu orang-orang yang setiap waktu bersiap sedia untuk mengorbankan segala sesuatu miliknya demi meraih keredhaan Allah swt. Jadi ketika kita telah mengikat tali perjanjian setia dengan Hazrat Imam Zaman sesungguhnya perjanjian itu telah kita ikat untuk meraih keredhaan Allah swt. Kita mengikat janji itu dengan pengertian bahwa hubungan dengan Tuhan harus dipelihara hingga pada puncak kesempurnannya. Kita telah mengikat perjanjian itu dengan penuh kesadaran bahwa ladang cinta dan kesetiaan tidak dapat tumbuh subur tanpa disirami dengan percikan tetesan darah. Kita mengikat janji itu sambil tegak pada keyakinan bahwa kemenangan yang telah dijanjikan oleh Allah swt kepada Hazrat Masih Mau’ud as pasti akan sempurna, insya Allah. Sebab banyak sekali janji-janji Tuhan yang telah kita saksikan kesempurnaan-nya. Janji-janji Allah Ta’ala kepada Hazrat Masih Mau’ud a.s. tidak terbatas kepada suatu zaman tertentu atau tidak mungkin pula bahwa  hanya ada beberapa janji saja yang akan sempurna dan beberapa janji lainnya tidak akan sempurna. Nubuatan-nubuatan yang telah beliau a.s. kemukakan atas dasar pemberitahuan dari Allah Ta’ala atau kabar-kabar suka yang telah Allah swt sampaikan kepada beliau itu semuanya akan menjadi sempurna. Allah Ta’ala tidak pernah menarik kembali janji-janji-Nya. Ya, untuk mengambil bagian dari sempurnanya janji-janji itu perlu sekali kita melangkahkan kaki diatas jalan-jalan yang telah diberitahukan oleh Allah swt. Untuk itu perlu sekali menegakkan kwalitas  ketaatan dan pengorbanan kita. Selama kita terus melakukan hal ini semua, maka pertolongan Allah swt akan selalu turun kepada kita, Insya Allah. Jika kita renungkan sedalam-dalamnya janji kebangkitan Islam yang kedua kali di zaman Hazrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s. ini sesungguhnya telah Allah swt sampaikan terhadap Rasulullah saw. Dan kemajuan Islam melalui Ahmadiyah  merupakan janji Allah swt yang telah diterangkan didalam ayat

وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ

“Dan, Dia akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum pernah bertemu dengan mereka…” (Al-Jumuah: 4).

Bahkan jika kita renungkan dan periksa lebih dalam lagi maka untuk meyakinkan  sempurnanya janji-janji Allah swt itu telah ditegaskan pula oleh firman Tuhan ini: qad shaddaqtar ru’ya, engkau telah menyempurnakan mimpimu. Dalam menyempurnakan mimpi itu bukanlah hanya andil sang bapak (Nabi Ibrahim) semata, bahkan ketika  anak (Ismail) mengatakan ‘satajiduni insya Allahu minash shaabirin’ “Jika Allah menghendaki maka engkau (hai ayah) akan mendapatkan aku diantara orang-orang yang bersabar. Jadi janji untuk sabar itu telah memberi tekad asas bagi generasi yang akan datang untuk meraih mutu pengorbanan. Hanya dengan menyerahkan leher untuk disembelih contoh kesabaran apa kiranya yang akan diambil. Mutiara kesabaran yang bermutu akan nampak secara terbuka pada saat pengorbanan yang berlangsung lama dan permanen, ketika tanpa keluhan dalam bentuk apapun setiap waktu siap sedia mempersembahkan diri sendiri untuk menghadapi setiap jenis pengorbanan demi meraih keridhaan Allah swt. Dan spirit atau ruh pengorbanan itu tetap tegak sepanjang kehidupan sejak masa kecil  (Hazrat Ismail a.s.) sampai akhir hayat di padang pasir tandus yang tidak ada air. Dan ketika Allah swt berfirman inna kadzaalika najzil muhsinin, “Sesungguhnya seperti itulah Kami  memberikan ganjaran kepada orang yang berbuat kebaikan”. Setelah mendapatkan keduanya (Hazrat Ibrahim dan Ismail a.s.) siap untuk menghadapi pengorbanan itu, Dia telah menggabungkan mereka berdua kedalam kelompok orang-orang yang berbuat kebaikan. Akan tetapi kurun waktu yang sejati bagi muhsininorang-orang  yang berbuat baik akan dimulai bersamaan dengan masa zibhin ‘azim penyembelihan yang agung itu. Ketika dengan perantaraan daya pensucian (quwwat qudsiyyah) Rasulullah saw, Allah Ta’ala telah menciptakan ratusan ribu muhsinin, beratus ribu orang-orang yang berbuat kebaikan, yang telah menciptakan ratusan ribu orang-orang yang melakukan kebaikan; yang telah menegakkan contoh kesabaran dan kesetiaan. Dan sebagaimana telah saya beritahukan bahwa pada zaman akhirin ini Allah swt telah menghubungkan dengan zaman yang di dalamnya mulai lagi tegak contoh kesabaran dan kesetiaan. Perumpamaan contoh kesetiaan hanya Allah swt berikan kepada Hazrat Ibrahim a.s. yakni ;

وَاِبۡرٰہِیۡمَ  الَّذِیۡ  وَفّٰۤی

 “Ibrahim yang telah menyempurnakan janji kesetiaan sempurna.” (Q. Surah An-Najm, 53: 3

Hazrat Masih Mau’ud a.s. dengan referensi ayat ini memberikan komentar bahwa ketika dia (Ibrahim a.s.) siap untuk mengorbankan putranya maka suara itu terdengar oleh beliau. Jadi apabila kesetiaan bapak dan kesabaran anak telah menyatu maka Allah swt tidak hanya telah menetapkan kewajiban ibadah haji  dikalangan orang-orang Islam untuk melestarikan kenangan kissah kedua orang suci itu, bahkan kemudian dari generasi itu Tuhan telah membangkitkan seorang Nabi agung yang telah menegakkan standar fana fillah yang unik dan agung. Sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Quran dibawah ini,

قُلۡ  اِنَّ صَلَاتِیۡ  وَ نُسُکِیۡ وَ مَحۡیَایَ وَ مَمَاتِیۡ   لِلّٰہِ   رَبِّ  الۡعٰلَمِیۡنَ

Engkau katakanlah kepada mereka bahwa shalatku, pengorbananku, kehidupanku dan matiku hanyalah untuk  Allah  Rabb sekalian alam.” (Al-An’am:163). Dan kemudian Allah swt berfirman kepada kita bahwa ikutilah langkah kehidupan sesuai dengan contoh tauladan rasul ini. Karena kini contoh tauladan  Rasul inilah yang akan menegakkan kwalitas pengurbanan bagi kamu dan juga menegakkan mutu ibadah bagi kalian. Bahkan kwalitas setiap akhlak, kwalitas setiap amal saleh semuanya terdapat didalam uswah hasanah Rasulullah saw. Jadi, standar kesetiaan, kesabaran dan pengorbanan telah ditegakkan oleh Hazrat Ibrahim a.s. dan Hadhrat Ismail a.s., dan puncaknya berakhir pada wujud Hazrat Muhammad Mustafa saw. Mulai dari mutu-mutu permulaan hingga contoh-contoh mutu yang tertinggi setelah dihadapkan kepada kita lalu Allah swt memerintahkan kepada kita inilah puncak standar uswah hasanah yang tertinggi untuk kalian yang harus dilaksanakan. Untuk meraih standar yang tertinggi ini ribuan Ismail-Ismail telah lahir dikalangan para sahabat Rasulullah saw. Yang demi meninggikan nama Allah swt, demi membela dan mempertahankan Islam, demi menyebarkan ajaran Hzrat Rasululah saw diatas dunia mereka telah menyerahkan leher-leher mereka  untuk disembelih. Mereka telah memperlihatkan contoh kesabaran dan kesetiaan kepada dunia. Dan sebagaimana yang telah saya terangkan bahwa disebabkan oleh kesetiaan dan kesabaran mereka itu Allah swt telah menganugerahkan kepada mereka gelar radhiyallahu ‘anhum. Jadi hari inipun seperti itulah pekerjaan murid-murid Masih Muhammadi bahwa mereka terus menjadi pendekar-pendekar kesabaran dan kesetiaan.

Pada tahun ini  pengorbanan-pengorbanan yang  hampir mencapai seratus orang untuk mengairi ladang-ladang cinta dan kesetiaan yang telah dipersembahkan oleh murid-murid Masih Muhammdi ini sesungguhnya merupakan bukti bahwa kita di dalam medan kesetiaan dan kesabaran itu bukan orang-orang yang mundur kebelakang. Jadi orang-orang yang telah melakukan pengorbanan itu dengan sesungguhnya pasti telah meraih keredhaan Allah swt. Karena Allah swt telah berjanji demikian.

Saya menerima banyak surat-surat yang didalamnya menyatakan bahwa; kami pun siap untuk menyerahkan pengorbanan, kami adalah dari kelompok orang-orang yang telah difirmankan Allah swt didalam Al-Quran bahwa :

مِنَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ رِجَالٌ صَدَقُوۡا مَا عَاہَدُوا اللّٰہَ عَلَیۡہِ ۚ فَمِنۡہُمۡ مَّنۡ قَضٰی نَحۡبَہٗ  وَمِنۡہُمۡ مَّنۡ یَّنۡتَظِرُ ۫وَ مَا بَدَّلُوۡا تَبۡدِیۡلًا  

 “Di antara orang-orang yang beriman, ada orang-orang yang benar-benar telah menepati apa yang dijanjikan mereka kepada Allah. Maka sebagian dari mereka telah menyempurnakan niatnya, meninggal, dan di antara mereka ada yang masih menunggu, dan mereka tidak merubah sikap sedikit pun”, yakni dari kalangan mereka ada juga yang kini tengah menunggu giliran kapan kami akan mendapat kesempatan maka kami pun  akan memperlihatkan benar-benar janji setia  kami (Al-Ahzab: 24).

Jadi Ied ini dirayakan dalam rangka mengenang pengorbanan-pengorbanan  orang-orang yang telah melakukan pengorbanan dan Ied ini dirayakan untuk memperbaharui janji orang-orang mukmin untuk mempersembahkan pengurbanan.

وَمِنۡہُمۡ مَّنۡ یَّنۡتَظِر diantara mereka masih ada yang sedang menunggu giliran. Tuhan yang Maha mengetahui dari siapa dan dalam bentuk apa Dia akan mengambil pengorbanan itu dari antara hamba-hamaba-Nya. Jika sambil memenuhi janji setia kita terus menjalin hubungan yang erat dengan Tuhan dengan sabar dan banyak memanjatkan doa, dan sambil memperhatikan contoh tauladan pengurbanan orang-orang yang kita cintai, dan kita terus berusaha meningkatkan iman yang teguh maka pasti kita akan menjadi waris karunia-karunia Allah swt. Tuhanlah yang memberi kita rasa tenang dan tenteram didalam lubuk hati kita, bahwa terhadap orang-orang yang ikhlas melakukan kebaikan-kebaikan Allah swt akan memberi  ganjaran kepada mereka.

Allah swt menganugerahkan penghargaan dan berkat-berkat kepada hamba-hamba-Nya yang melakukan pengorbanan sedemikian rupa banyaknya, mulai dari  hutan–hutan dan padang belantara yang sangat jauh diujung Benua Afrika sampai di kota-kota yang penuh sesak dengan keramaian ditengah benua Eropa dan America sehingga tidak hanya pesan atau amanat Ahmadiyah yang sampai kesana bahkan jumlah orang-orang yang bai’atpun semakin bertambah banyak. Beberapa waktu tang lalu ketika saya tengah memeriksa laporan dari negara-negara Africa, pada tahun yang lalu jumlah yang baiat sebanyak 1000 orang saja namun sesudah terjadi peristiwa keganasan terhadap Jema’at dan banyak yang syahid, dalam beberapa bulan ini saja disana telah baiat sejumlah hampir 5000 orang. Kemudian seorang Muballigh kita menulis dalam laporannya katanya, “Saya pergi ke satu tempat dimana sedang dilanda musim kemarau dan paceklik berat. Dan tanaman-tanaman pertanian mereka pun tengah nengalami kehancuran. Orang-orang disana sedang ramai keluar menuju lapangan untuk melakukan shalat istisqa. Saya bertanya kepada imamnya yang bukan Ahmadi, “Bagaimana anda akan mengimami shalat istisqa ini? Saya tunjukkan cara yang sebenarnya begini-begitu.” Maka dia berkata, ‘ Silakan, tuanlah yang mengimami shalat.” Muballigh kita itu langsung mengimami shalat dan beliau mengatakan, “Pada saat memimpin salat itu pikiran saya tercurah kepada peristiwa pensyahidan terhadap 80-85 orang Ahmady di Lahore, lalu saya berdo’a: “ Ya Allah Yang Mahaluhur, belum lama waktu berlalu telah terjadi peristiwa keganasan di Lahore dimana 85 atau 85 orang Ahmadi dengan rela telah mengorbankan jiwa mereka. Ya Allah! Hari ini perlihatkanlah kepada kami suatu pemandangan sebagai bukti terkabulnya pengorbanan-pengorbanan para Syuhada itu. Ya Allah! Anugerahkanlah kepada kami sebuah jemaat yang besar disini.” Begitu selesai menunaikan salat Istisqa, tiba-tiba Allah swt memperlihatkan pemandangan yang mengherankan sekali bahwa disiang hari yang tengah panas dengan terik mata hari, tiba-tiba datang awan mendung diatas langit dan tidak lama menunggu langsung hujan-pun turun dengan sangat deras, sehingga di kampung itu menjadi masyhur, “Ini adalah berkat doa orang-orang Ahmay, tanaman-tanaman kita menjadi tumbuh subur” dan dengan karunia Allah swt, sesuai dengan permohonan kepada-Nya, disana telah bai’at lebih dari seribu orang banyaknya. Jadi inilah pemandangan yang Allah swt tengah perlihatkan. Begitu juga dari negara-negara Arab  tengah berdatangan banyak sekali surat-surat yang menyatakan perhatian mereka mulai tertarik terhadap Jema’at Ahmadiyah.

Di Ghana ada dua orang pemimpin umat Islam yang sebelumnya selalu  paling depan dalam melakukan perlawanan terhadap Jema’at. Namun dengan karunia Allah swt kini keduanya telah baiat. Jadi, inilah angin yang tengah Allah swt  hembuskan untuk merundukkan hati manusia terhadap Jema’at Ahmadiyah. Ini merupakan sebuah bukti bahwa Allah swt telah mengabulkan pengorbanan-pengorbanan itu yang tanda-tanda lahiriahnya juga tengah zahir dengan terang.

Ahmadiyah bukanlah agama lokal, melainkan Ahmadiyah adalah gambaran Islam yang hakiki. Dan Islam adalah agama universal, agama Internasional yang  kemenangannya diatas semua agama didunia sudah dijanjikan oleh  Allah swt. Jadi  apakah dengan perlawanan sebuah negara Pakistan atau dengan perlawanan beberapa negara Islam lainnya amanat universal itu dapat dicegah atau dihentikan? Pendapat demikian merupakan kedunguan para penentang. Bahkan sekarang perhatian masyarakat di negara-negara orang Islam-pun tengah tertuju kepada Ahmadiyah. Hal ini bukan karena pribadi Hazrat Mirza Ghulam Ahmad Qadiani, melainkan sudah ada janji Tuhan Yang Mahaluhur kepada Rasulullah saw bahwa tidak ada kekuatan dunia yang dapat mencegah sempurnanya janji itu. Hari ini di seluruh  permukaan bumi ini, hanya ada satu Jemaat yaitu Jemaat para ghulam, hamba-sahaya Hazrat Masih Muhammadi yang telah menjadi bagian dari janji dan takdir Ilahi, tegah menjalankan kewajiban menyampaikan amanat Islam  ke seluruh penjuru dunia. Walhasil, hanyalah Jemaat Ahmadiyah, Jema’at tunggal yang tengah menyampaikan amanat yaitu amanat dari Hazrat Rasulullah saw dan untuk itu pengorbanan-pengorbanan yang diserahkan oleh orang-orang Ahmadi itu tengah memperlihatkan dan membukakan jalan-jalan baru kearah kemajuan. Jadi kesadaran yang Hazrat Rasulullah saw telah tanamkan, pemahaman mengenai ‘dzibhin azhim’ (penyembelihan atau pengorbanan agung) yang Hazrat Rasulullah saw telah tanamkan didalam pikiran kita, pada hari ini, dalam diri ghulam-ghulam Masih Muhammadi, didalam setiap diri Muslim Ahmadi yang terdapat diberbagai bangsa didunia sedang nampak dengan sebuah tanda yang jelas. Baik dia sebagai Ahmadi Pakistan atau Ahmadi India atau sebagai Ahmadi Bangladesh atau Ahmadi Indonesia atau sebagai orang Ahmadi di suatu negara Afrika atau di negara Arab  sekalipun, mulai memperhatikan dengan sungguh-sungguh kwalitas pengorbanan-pengorbanan mereka agar dengan perantaannya kita segera menyaksikan berkibarnya bendera Islam dan Ahmadiyah di seluruh penjuru dunia. Semoga Allah menjadikan Hari Raya atau Hari Ied ini sarana bagi kita untuk selalu mengenang pengorbanan-pengorbanan orang-orang yang kita kasihi dan kita tidak akan duduk dengan tenang sebelum kita melihat bendera Hazrat Muhammad Mustafa saw berkibar di seluruh penjuru dunia dan semoga kita dapat menyaksikan cinta dan kasih sayang, kesabaran, kesetiaan dan banyak sekali orang-orang  di dunia ini yang beribadah kepada Tuhan. Dan apabila hal ini telah terjadi maka pasti terkabulnya pengorbanan-pengorbanan kita menjadi sarana Ied hakiki bagi kita. Semoga Allah menganugerahkan taufik kepada kita semua untuk melaksanakan hal itu. (Amiin)

Alihbahasa dari Audio Urdu oleh Hasan Basri (Singapore)


———————————————————————————
catatan kaki:

[1] Keduanya berumur 14-15 tahun, bekerjasama membunuh Abu Jahal dalam perang Badr. Keduanya mengincar Abu Jahal karena ‘…dia telah banyak menganiaya  kaum muslimin dan Rasululloh ShallAllohu ‘alaihi wa Sallam’. Dalam perang itu, Muadz terluka parah terpotong tangannya saat duel dengan putra Abu Jahal, Ikrimah.

[2] Pada tahun 1974 Parlemen Pakistan sepakat menyatakan Ahmadiyah sebagai bukan Islam (sepertinya baru pertama kali terjadi ada sebuah dewan rakyat dalam sebuah negara demokrasi menyatakan perihal islam tidaknya sebuah golongan agama). Ordonansi 1984 yang dikeluarkan pemerintah Presiden Zia ul Haq mempersempit dan lebih menekan lagi gerak kehidupan orang Ahmadi dalam banyak segi sehingga pada masa inilah terjadi perpindahan besar-besaran orang Ahmadi Pakistani ke berbagai negara di dunia seperti negara-negara di Eropa, Amerika dan Afrika.

0 Responses to “Khutbah Idul Adha”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




AYO BERBELANJA DI TOKO ONLINE KAMI:

Statistik Blog

  • 215,909 hit

aku suka jalan-jalan

hidup adalah jalan-jalan. jalan-jalan adalah hidup

%d bloggers like this: