Mimpi Seorang Pakistan tentang Abdus Salam

Dalam serangkaian langkah yang diumumkan tadi malam oleh Perdana Menteri Pakistan pada sesi khusus Majelis Nasional – langkah-langkah yang telah  menggemparkan dunia dan mengangkat citra Pakistan–  bandara  baru di Multan dinamai sebagai bandara Dr Abdus Salam sebagai penghargaan kepada orang pertama dan satu-satunya peraih hadiah Nobel. Perdana menteri menilai bahwa “untuk waktu yang terlalu lama kita telah mengabaikan manusia besar ini dikarenakan oleh pandangan yang dimiliki oleh kalangan yang menyebarkan rasa kebencian dan intoleransi”

Ditengah gemuruh tepuk tangan beliau menambahkan bahwa perangko baru bergambar Abdus Salam telah dikeluarkan pada tanggal 29 Januari menandai hari kelahiran Dr Salam dan menjadikan hari kelahirannya itu sebagai hari libur nasional. Beliau juga menyampaikan bahwa langkah-langkah telah diambil untuk melestarikan rumah kecil tempat Salam tumbuh dan dibesarkan juga sekolah dimana Salam bersekolah di distrik Jhang. Kedua tempat itu, beliau menambahkan, telah dinyatakan sebagai monumen nasional dan akan menjadi tempat yang dihormati. Pidato perdana menteri ini terus menerus terganggu oleh teriakan  “well done” “Bravo” dan “Pakistan Zindabad”  kita  bisa menyaksikan  bagaimana beliau tampak terharu. Beliau mengatakan bahwa seorang pria yang telah mengabdikan hidupnya dan bekerja untuk kemuliaan yang lebih besar dari umat Islam di mana-mana, dan di Pakistan khususnya, pantas menjadi pahlawan nasional. Ia mengumumkan bahwa jalan utama di semua kota akan dinamai dengan nama ilmuwan besa itu, ribuan beasiswa dalam nama Dr Salam akan diberikan kepada mahasiswa berprestasi dan peneliti, seminar seminar internasional akan diselenggarakan.

Perdana menteri menambahkan bahwa Dr Salam adalah pendiri dari the Space and Upper Atmosphere Research Commission (SUPARCO), dan pendiri dari  the Theoretical Physics Group (TPG) pada  the Pakistan Atomic Energy Commission (PAEC), ketiga lembaga bersama ini akan membawa nama Dr Salam. Perguruan tinggi Pemerintah, Universitas Punjab, Institut Fisika di  Universitas Quaid-e-Azam  dan Institut Pakistan Sains dan Teknologi Nuklir (Pinstech) di Nilore, Islamabad, akan mengubah nama departemen fisika mereka, patung-patung peringatan akan didirikan, pertemuan-perteumuan khusus, program-program, workshop-workshop, seminar-seminar juga akan diselenggarakan untuk menginspirasi para pelajar agar dapat  mengikuti jejak langkah Dr Salam.

Beliau  mengatakan bahwa beliau terinspirasi oleh keputusan yang diambil pada tahun 1997 ketika International  Center untuk Fisika Teoretis (ICTP) di Trieste, yang didirikan oleh Dr Salam tahun 1964, menjadi  Dr Salam International Centre for Theoretical Physics .

Perdana menteri menyimpulkan bahwa untuk selanjutnya hidup dan prestasi Dr Salam akan menjadi bagian dari kurikulum reguler di semua lembaga, dan bahwa ini hanya beberapa langkah-langkah yang diambil untuk memberikan Dr Salam tempat terhormat yang selayaknya bagi beliau. Beliau meyakinkan bahwa langkah-langkah seperti itu sudah menjadi rencananya.

Pemerintahan sang  perdana menteripun tumbang  dalam waktu 24 jam setelah mengumumkan langkah-langkah ini.

Ah,skenario apa ini. Kok seperti sebuah dongeng. Sangat menyenangkan untuk “bermimpi tentang sesuatu,” seperti kata pepatah, tetapi kenyataannya adalah hal berbeda yang menyakitkan.  Kita sudah sangat tahu bahwa ini bukanlah jembatan yang belum kita sebrangi namun adalah jembatan yang sudah kita sebrangi. Dalam kebencian yang memenuhi kita, dalam neraka kehidupan, tidak ada ruang untuk orang seperti Dr Salam. Tapi aku berpikir bahwa setelah semua kemarahan dan frustrasi telah dikeluarkan dari sistem Anda – jika memang ini adalah mungkin – Anda tidak akan merasa apa-apa selain rasa iba pada bumi pertiwi dimana kita hidup. Anda harus berpikir bahwa sesungguhnya kita harus ada diantara orang yang paling tidak beruntung pada abad baru ini yang bahkan tidak memiliki kebutuhan dasar dan orang-orang yang menjalani hidup sengsara. Namun, jika semua itu  tidak cukup buruk, kita terpecah belah, dari ujung ke ujung, dengan prasangka, racun kemunafikan, kebencian, dan intoleransi. Tidak ada hari dalam kehidupan kita ketika api kebencian tidak memicu tarian mengerikan dari kematian yang tidak dimainkan.

Salah satu hal yang abadi tentang manusia adalah semangatnya, kemampuan untuk bangkit di atas hal biasa, untuk melihat kehidupan di planet biru dengan kepolosan anak-anak. Namun sayangnya, mereka yang melihat visi seperti ini sangatlah sedikit. Sebagian besar dari kita berada dalam pusaran, dilempar dan dibuang sekitar. Kita tidak memiliki seseorang yang dapat kita salahkan selain diri kita sendiri. Kita bahkan tidak bisa menyematkan ini pada orang-orang Amerika. Bangsa Pakistan yang impoten hanya bisa mengutuk sistem. Mereka tidak mampu menemukan solusi. Mereka merasa tidak berdaya untuk mengubah keadaan karena tidak ada yang mereka katakan atau lakukan dapat menekan kekuatan jahat yang lebih kuat dari sebelumnya.

Dan dengan demikian, Dr Salam. Jika Anda menjelajahi internet dan mengetik kata-kata “Dr Abdus Salam” Anda akan dibanjiri oleh pekerjaan orang yang mengagumkan, yang meraih  perbedaan2 di luar imajinasi kita – seorang ilmuwan dan administrator yang benar-benar brilian, guru besar dan seorang yang rendah hati dan santun . Seorang pencinta sejati dari tanah air yang mengkhianatinya, Pakistan.

Cinta Abdus Salam untuk Pakistan adalah begitu menyita hasratnya. Beliau ingin sekali berada di sini ketika keadaan memaksanya keluar dari negara ini dan beliau tidak pernah merasa bahagia ketika harus terpisah dari tanah di mana ia lahir. Cintanya untuk Pakistan tetap di dalam dirinya dan beliau melakukan segala cara untuk memperbaiki keadaan, terutama dalam karya fenomenal ilmiahnya yang menghasilkan penghargaan demi penghargaan, yang berpuncak pada tahun 1979 dalam Penghargaan Nobel bidang Fisika. Ada lebih banyak penghargaan yang tampaknya menjadi jejak kemanapun beliau pergi dan apa pun yang beliau lakukan. Beliau  diperingati di seluruh dunia yang mengagumi beliau. Kita tidak mengakui beliau dan mengasingkan beliau namun kita tidak dapat memaksa Dr Salam untuk pergi meninggalkan Pakistan. Negara ini dan masa depannya adalah cahayanya yang membimbing- itu dan sebuah keyakinan yang tidak pernah terguncang atau goyah.

Ketika pada tahun 1996 kematian membawa Salam kembali ke tanah kelahirannya, negara menjauh, menciptakan rintangan yang tidak perlu sementara lebih dari 30.000 pelayat memberi penghormatan pada anak besar Pakistan ini. Seperti perlakuan pada orang biasa, jasadnya dibawa dengan  cepat menuju Rabwah (anehnya sekarang disebut Chenabnagar), dan di sana ia dikuburkan dekat makam orang tuanya. Tidak puas dengan itu, kita kemudian menajiskan kuburan sederhana di pemakaman yang kecil. Atas putusan seorang hakim yang tidak disebutkan namanya “Muslim” pada  nisan-nya pun dilenyapkan. Tulisan di batu nisan semula berbunyi, “Muslim  Pertama  peraih Nobel” diganti menjadi  “Pemenang Nobel.pertama” Kegilaan Lebih pada tampilan, tapi hampir tidak ada yang angkat bicara. Adalah sebuah keajaiban bila kita belum memikirkan untuk mentraktor kuburannya, tapi siapatahu mungkin kita akan melakukannya, kesalehan harus mendorong kita untuk ke Chenabnagar.

Sungguh kasihan diri kita yang tidak akan pernah melihat orang seperti Dr Salam di tengah-tengah kita. Tidak dalam waktu yang sangat lama, dan, mengingat kualitas yang kita lihat di cakrawala, mungkin tidak pernah. Dunia tahu itu. Kita tidak akan dan kita adalah pecundang. Abdus Salam selalu diatas kita yang picik. Jika Anda melihat kehidupannya, naik dari kemelaratan dari sebuah desa kecil berdebu di tengah Punjab ke tempat keutamaan global, Anda mungkin mendapatkan ide dari prestasi orang ini yang unik dan menakjubkan. Muslim Pakistan pemenang Nobel yang  dikagumi oleh dunia namun dicampakkan oleh kita, bangsanya sendiri. Sungguh tragis.

Dalam pidatonya  saat menerima Penghargaan Nobel dalam bidang Fisika di Norwegia pada tahun 1979, Dr Salam mengutip Al-Qur’an: “Engkau tidak bisa melihat ketidak pantasan di dalam  penciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah.  Pandanglah lagi. Adakah engkau menampak suatu cela? Nah ulanglah kembali memandangnya. Pandanganmu akan berbalik kepadamu dalam keadaan bingung dan letih” Beliau kemudian berujar bahwa “ pada dasarnya inilah keyakinan dari para fisikawan; semakin dalam kami mencari, semakin semangat dalam keingin tahuan, semakin silau tatapan kami “.

Sumber: TheNews

Penulis: Masood Hasan ( masoodhasan66@gmail.com) seorang kolumnis  di  Lahore.

Alih bahasa:@den

2 Responses to “Mimpi Seorang Pakistan tentang Abdus Salam”


  1. 2 sangkala February 17, 2012 at 5:35 am

    waktu selalu berpihak pada kebenaran!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




AYO BERBELANJA DI TOKO ONLINE KAMI:

Statistik Blog

  • 219,913 hit

aku suka jalan-jalan

hidup adalah jalan-jalan. jalan-jalan adalah hidup

%d bloggers like this: