Arabia Saat Rasulullah Lahir

Rasulullah dilahirkan di Mekkah dalam bulan Agustus 570 Masehi.[1] Nama yang diberikan kepada beliau adalah Muhammad yang berarti, Yang Terpuji. Untuk mengenal kehidupan dan watak beliau, kita harus mengetahui keadaan yang berlaku di Arabia pada waktu beliau dilahirkan.

Ketika beliau lahir, seluruh Arabia, dengan sedikit kekecualian di sana-sini, menganut bentuk agama musyrik atau bertuhan banyak.Bangsa Arab itu mengaku keturunan Nabi Ibrahim a.s.. Mereka tahu benar bahwa Nabi Ibrahim a.s. itu Guru agama yang berpegang pada Tauhid. Walaupun demikian, mereka tetap berpegang pada polytheisme dan melakukan perbuatan-perbuatan musyrik. Sebagai pembelaan diri, mereka mengatakan bahwa beberapa manusia sangat menonjol perhubungannya dengan Tuhan. Syafaat (intersesi) mereka bagi orang lain diterima Tuhan. Tuhan adalah Wujud Yang Maha Luhur lagi Maha Agung. Bagi orang-orang kebanyakan sukar dapat sampai kepada Tuhan.

Hanya manusia sempurna dapat berhubungan langsung dengan Tuhan.Oleh karena itu, orang-orang biasa harus mempunyai orang lain untuk menjadi perantara bagi kepentingan mereka sebelum mereka dapat meraih sendiri perhubungan langsung dengan Tuhan, dan menarik keridhaan dan pertolongan-Nya. Dengan pendirian demikian mereka berhasil memadukan rasa takzim kepada Nabi Ibrahim a.s. dengan ide kemusyrikan mereka. Mereka mengatakan bahwa Nabi Ibrahim a.s. itu seorang orang suci lagi mulia.

Beliau dapat mencapai perhubungan dengan Tuhan tanpa perantara. Tetapi orang-orang Mekkah kebanyakan tidak mungkin mencapai Tuhan tanpa perantaraan orang-orang suci dan saleh. Untuk mencari dan mendapatkan perantaraan ini, kaum Mekkah telah membuat patung beberapa orang suci dan saleh; mereka menyembah patung-patung itu dan kepada serta lewat patung-patung itu mereka menyampaikan kebaktian untuk meraih ridha Ilahi. Pendirian demikian itu primitif lagi tidak masuk akal, selain itu penuh dengan cacat dan kelemahan. Tetapi, kaum Mekkah tidak menaruh rasa khawatir akan hal-hal itu. Sejak lama sekali mereka tidak dikunjungi Guru yang berpegang pada prinsip Tauhid Ilahi. Dan, sekali kemusyrikan menyelinap dan berakar dalam suatu masyarakat, maka menyebarlah kepercayaan itu tanpa mengenal batas dan tepi. Jumlah berhala mulai meningkat banyaknya. Pada saat kelahiran Rasulullah s.a.w., di dalam Ka’bah — rumah peribadatan yang didirikan oleh Nabi Ibrahim a.s. —konon ada sejumlah 360 buah berhala. Agaknya kaum Mekkah mempunyai sebuah berhala untuk tiap-tiap hari tahun Qomariah. Di tempat-tempat lain dan pusat-pusat lain terdapat berhala lain sehingga kita dapat mengatakan bahwa tiap-tiap daerah bagian Arabia telah tenggelam di dalam kemusyrikan. Bangsa Arab sangat gemar akan ragam budaya berpidato. Perhatian mereka sangat besar terhadap bahasa lisan dan amat bergairah untuk menggalakkannya. Namun, mereka sedikit saja mempunyai hasrat maju dalam bidang ilmu. llmu sejarah, ilmu bumi, matematika, dan sebagainya sama sekali tidak mereka kenal. Namun demikian, karena mereka merupakan penghuni padang pasir dan karena terpaksa harus mampu mengetahui jalan di padang pasir, tanpa bantuan tanda-tanda, mereka mengembangkan perhatian besar kepada ilmu falak (astronomi). Di seluruh negeri Arab tidak terdapat sebuah sekolah pun waktu itu. Konon, di Mekkah hanya terdapat satu-dua orang yang pandai baca tulis.

 

Dilihat dari segi akhlak, bangsa Arab merupakan kaum yang memiliki watak yang berlawanan. Mereka menderita cacat akhlak yang luar biasa, namun di samping itu mereka memiliki sifat-sifat yang terpuji. Mereka itu pemabuk-pemabuk berat. Untuk mereka mabukmabuk dan kehilangan kesadaran karena mabuk itu suatu perbuatan terpuji, bukan dosa. Anggapan mereka mengenai orang yang sopan ialah orang yang sering mengundang kawan-kawan dan tetangga pada perjamuan lomba minum arak. Tiap-tiap hartawan hendaknya mengadakan perjamuan minum arak lima kali sehari. Perjudian juga merupakan kegemaran mereka dan mereka telah menjadikannya suatu olah seni. Mereka tidak berjudi untuk menjadi kaya. Pemenang pemenang diharapkan menjamu kawan-kawan. Dalam waktu peperangan, dana-dana dihimpun lewat perjudian. Sekarang pun terdapat penyelenggaraan-penyelenggaraan lotre untuk mengumpulkan dana guna peperangan. Organisasi-organisasi itu telah dijelmakan di zaman kita ini oleh bangsa-bangsa Eropa dan Amerika. Tetapi, mereka hendaknya menyadari bahwa dalam hal-hal itu mereka hanya meniru-niru bangsa Arab. Jika peperangan meletus, suku-suku Arab berkumpul dan menyelenggarakan pesta perjudian. Siapa senang dan mendapat keuntungan, dialah yang harus menanggung bagian terbesar biaya perang. Kemewahan-kemewahan hidup beradab tidak dikenal oleh orang-orang Arab. Mereka cukup mendapatkan kepuasan dalam minum minum dan berjudi. Kesibukan mereka yang utama adalah perdagangan dan untuk itu mereka mengirimkan kafilah-kafilah mereka sampai ke tempat-tempat yang jauh-jauh. Dengan cara demikian mereka berniagadengan Abessinia, Siria, dan Palestina. Mereka mempunyai pula hubungan perdagangan dengan India. Hartawan-hartawan mereka sangat menggemari pedang-pedang buatan India. Keperluan bahan pakaian mereka terutama dipenuhi oleh negeri-negeri Yaman dan Siria. Pusatpusat perdagangan terletak di kota-kota. Bangsa Arab lainnya, kecuali Yaman dan beberapa daerah bagian utara, terdiri atas orang-orang Badui.

Tak ada pemukiman-pemukiman yang tetap dan tidak ada tempat-tempat permanen yang berpenduduk. Berbagai suku bangsa telah membagi-bagi negeri di antara mereka sehingga anggota-anggota suku dengan bebas dapat bergerak di daerah bagian mereka. Jika persediaan air di suatu tempat habis, mereka bergerak ke tempat lain dan untuk sementara menetap di situ. Kekayaan mereka terdiri dari domba, kambing, dan unta. Dari bulu-bulu mereka membuat pakaian, dan dari kulit dibuat kemah-kemah. Selebihnya dijual-belikan di pasar. Emas dan perak tidak asing bagi mereka, tetapi tentu saja merupakan milik yang sangat langka.

Orang miskin dan rakyat jelata membuat perhiasan dan mata uang dari kulit kerang dan bahan-bahan yang harum. Biji semangka dibersihkan, dikeringkan dan dirangkaikan menjadi kalung. Kejahatan dan perbuatan asusila yang bermacam-macam coraknya merajalela. Pencurian jarang terjadi, tetapi perampokan adalah hal yang lazim. Menyerang dan saling merampas dipandang hak turun-temurun. Tetapi, di samping itu, mereka sangat setia pada janji; di dalam segi ini mereka lebih dari pada bangsa lain. Jika seseorang pergi mendapatkan seorang pemimpin atau suatu suku yang berkuasa dan minta perlindungan, maka pemimpin atau suku itu merasa berkewajiban melindungi orang itu. Jika hal itu tidak diberikan, kehormatan suku itu jatuh di mata seluruh Arab. Ahli syair mendapat pengaruh dan penghargaan yang besar. Mereka dimuliakan bagaikan pemimpin-pemimpin bangsa. Pemimpin-pemimpin diharapkan mempunyai kesanggupan besar berpidato, bahkan pula mampu menggubah syair-syair. Keramahan terhadap tamu dipandang sebagai sifat kemuliaan bangsa. Seorang musafir yang tersesat diterima sebagai tamu terhormat oleh suatu suku. Ternak terbaik akan disembelih untuk menjamunya dan penghormatan sebaik-baiknya diperlihatkan. Mereka tidak menghiraukan siapa yang datang berkunjung. Untuk mereka cukup bahwa ada tamu datang. Kunjungan itu dipandang sebagai sesuatu yang menambah nilai kedudukan dan wibawa suku. Maka menjadi kewajiban suku itu untuk memuliakan tamu. Penghormatan terhadapnya berarti menghormati diri sendiri. Wanita tak mempunyai kedudukan dan hak dalam masyarakat Arab ini. Di antara mereka ada yang beranggapan bahwa membunuh anak perempuan adalah perbuatan yang terhormat.

Tetapi, tidak benar kalau menyangka bahwa pembunuhan anak perempuan itu dilakukan besar-besaran. Kebiasaan yang sangat berbahaya itu tak mungkin berkembang di seluruh negeri. Hal semacam itu berarti lenyapnya bangsa. Hal yang benar ialah, di Arabia atau demikian pula di India atau negeri lain tempat pembunuhan anak pernah dilakukan, kebiasaan itu hanya terbatas pada beberapa keluarga.

Keluarga-keluarga Arab yang melakukan hal itu mempunyai anggapan yang berlebih-lebihan tentang kedudukan mereka dalam masyarakat atau terpaksa oleh dorongan-dorongan lain. Mungkin mereka tidak dapat menemukan calon menantu yang pantas untuk anak-anak perempuan mereka; dengan kesadaran itu mereka membunuh bayi-bayi perempuan mereka. Kejahatan pranata (adat) ini terletak pada kebiadabannya dan kebuasannya, bukan dalam akibat yang diderita oleh penduduk negeri.

Macam-macam cara dilakukan guna pembunuhan bayi perempuan itu, di antaranya mengubur hidup-hidup atau dengan jalan mencekik.

 

Hanya ibu kandung yang dipandang sebagai ibu di dalam masyarakat Arab. Ibu tiri tidak dipandang sebagai ibu dan tidak ada peraturan yang melarang seorang anak laki-laki mengawini ibu tirinya setelah bapaknya meninggal. Beristrikan banyak adalah suatu kelaziman dan tidak ada batas jumlah istri yang boleh dikawin oleh seorang laki laki. Lebih dari satu saudara sekandung boleh dikawin oleh seorang laki=laki pada waktu yang sama.

 

Perlakuan yang paling buruk dilakukan oleh satu pihak terhadap yang lain, dan sebaliknya, dalam peperangan. Jika kebencian meluap luap, mereka tidak ragu-ragu membelah badan prajurit-prajurit yang terluka, mengambil suatu bagian dan memakannya sebagai cara yang buas memakan daging sesama manusia. Mereka tidak segan-segan mencincang badan musuh. Memotong hidung atau telinga atau mencukil mata adalah cara-cara aniaya dan keganasan yang biasa mereka lakukan.

Perbudakan begitu meluas. Suku-suku lemah dijadikan budak. Seorang budak tak mempunyai hak, tiap tuan berbuat sesuka hatinya terhadap budak-budaknya. Tidak ada tindakan dapat diambil terhadap tuan yang menganiaya budaknya. Seorang tuan dapat membunuh budaknya tanpa dituntut pertanggung-jawaban. Jika seorang tuan membunuh budak orang lain, hukumannya bukan hukuman mati. Apa yang diwajibkan kepadanya hanya berupa penggantian kerugian yang layak kepada pihak tuannya yang dirugikan. Budak wanita dipakai untuk pemuasan seksual. Anak yang lahir dari perhubungan demikian diperlakukan sebagai budak.

Budak wanita yang sudah menjadi ibu, tetap menjadi budak. Dalam bidang kebudayaan dan peradaban, bangsa Arab merupakan kaum yang sangat terbelakang. Belas kasih dan tenggang rasa terhadap satu sama lain tidak mereka ketahui. Wanita merupakan bagian masyarakat yang paling buruk kedudukannya. Tetapi, di samping sifat-sifat buruk itu, bangsa Arab memiliki sifat terpuji juga. Keberanian, umpamanya, kadangkala mencapai peringkat mutu yang sangat tinggi.

 

Di dalam kaum demikianlah Rasulullah s.a.w. dilahirkan. Ayahnya bernama Abdullah, meninggal sebelum Rasulullah s.a.w. lahir. Maka beliau dan ibunya, Aminah, dipelihara oleh kakeknya yang bernama Abdul Mu’talib. Bayi Muhammad disusui oleh wanita kampong yang tinggal dekat Ta’if. Menyerahkan bayi kepada orang kampong untuk disusui, kemudian memeliharanya, mengajar bicara, dan menanam kebiasaan berlatih untuk menjaga kesehatan badan, merupakan kebiasaan pada zaman itu. Pada usia Muhammad enam tahun, ibunda wafat dalam perjalanan dari Medinah ke Mekkah, dan harus dikebumikan di perjalanan. Anak itu dibawa ke Mekkah oleh seorang khadimah, lalu menyerahkannya kepada kakeknya. Ketika berumur delapan tahun, kakek pun meninggal. Maka paman beliau yang bemama Abu Thalib menjadi pemeliharanya sebagai amanat terakhir kakeknya. Rasulullah s.a.w. dua-tiga kali mendapat kesempatan mengadakan perjalanan keluar Arabia. Di antaranya, beliau pada usia dua belas tahun ikut serta dengan Abu Thalib, pergi ke Siria. Agaknya, perjalanan ini hanya sejauh kota-kota sebelah Tenggara Siria (Suriah), sebab dalam catatan sejarah perjalanan itu tidak disebut nama-nama tempat seperti kota Yerusalem.

Mulai saat itu sampai tumbuh dewasa beliau tetap tinggal di Mekkah. Dari masa kanak-kanak beliau biasa bertafakkur dan berkhalwat. Dalam pertengkaran dan permusuhan antar orang-orang lain beliau tak pernah ikut campur, kecuali dengan tujuan mendamaikan mereka. Diriwayatkan bahwa suku-suku Mekkah dan sekitarnya, karena jemu mengalami pertumpahan darah yang berlarut-larut, mengambil keputusan untuk mendirikan suatu perkumpulan dengan tujuan memberikan pertolongan dan perlindungan kepada korban perlakuan aniaya dan tidak adil. Ketika Rasulullah s.a.w. mendengar adanya usaha itu, segera beliau dengan gembira menggabungkan diri. Anggota perkumpulan itu mengadakan kegiatan seperti berikut:

 

Mereka akan menolong orang yang aniaya dan akan mengembalikan hak-hak mereka selama tetes air terakhir masih ada di lautan. Jika tak mereka lakukan demikian, mereka akan mengganti kerugian korban itu dari harta milik mereka sendiri (Raud-al-Unuf oleh Imam Suhaili).

 

Agaknya tidak pernah ada anggota lain dari perkumpulan itu merasa terpanggil untuk melaksanakan kegiatan yang sudah disepakati oleh setiap anggota perkumpulan itu. Kesempatan datang kepada Rasulullah s.a.w. ketika beliau mengumumkan tugas risalat beliau. Musuh yang paling besar, ialah Abu Jahal, seorang pemuka kabilah di Mekkah. Ia menganjurkan pemboikotan sosial dan penghinaan umum terhadap Rasulullah s.a.w.. Pada saat itu datang seseorang orang kampung dari luar Mekkah. Abu Jahal berhutang uang kepada orang itu, tetapi ingkar melunasi. Hal itu diceriterakan kepada orang-orang Mekkah. Beberapa pemuda, semata-mata dengan niat jahat, menganjurkan minta pertolongan kepada Rasulullah s.a.w.. Mereka menyangka Rasulullah s.a.w. akan menolak membantu karena ada bahaya permusuhan umum terhadap beliau dan terutama takut akan perlawanan Abu Jahal. Jika Rasulullah s.a.w. menolak membantu orang dusun itu, beliau akan dituduh melanggar janji beliau kepada perkumpulan itu. Jika sebaliknya Rasulullah s.a.w. menolak dan menjumpai Abu Jahal untuk menuntut pembayaran hutangnya, pasti Abu Jahal akan mengusir beliau dengan penghinaan dan ejekan. Orang dusun itu menemui Rasulullah s.a.w.. Beliau tanpa ragu-ragu sedikitpun bangkit, lalu pergi bersama-sama dengan orang dusun itu dan mengetuk pintu rumah Abu Jahal. Abu Jahal keluar dan melihat penagih hutangnya berdiri di samping Rasulullah s.a.w. yang menyebut hutangnya dan meminta pembayaran. Abu Jahal sangat kaget dan tanpa membuat dalih apa pun, membayar sekaligus. Ketika para pemimpin Mekkah lainnya mendengar kejadian itu, mereka menyesali Abu Jahal dengan mencela kelemahan yang telah dibuktikannya, dan sikap yang bertentangan dengan bualannya. Dia yang menganjurkan boikot sosial terhadap Rasulullah s.a.w. tetapi malah ia sendiri menerima dan tunduk kepada perintah Rasulullah s.a.w. dan segera membayar hutangnya atas usul Rasulullah s.a.w.. Untuk membela diri Abu Jahal berkata bahwa tiap-tiap orang lain pun akan berbuat seperti dia. Dikatakan kepada mereka bahwa pada saat Rasulullah s.a.w. ada di ambang pintunya, ia melihat juga dua ekor unta buas di kanan-kiri Rasulullah s.a.w. dan siap menyerangnya. Kita tidak dapat menerangkan macam apa pengalaman itu. Apakah hal itu penampakan mukjizat untuk menakut-nakuti Abu Jahal atau, apakah pengaruh kehadiran Rasulullah s.a.w. yang sangat berwibawalah yang menimbulkan pemandangan khayal itu? Seorang yang dibenci dan dimusuhi oleh seluruh kota telah berani pergi seorang diri menemui pemimpin kota dan menuntut pembayaran hutangnya. Mungkin kejadian yang sama sekali tak terduga sebelumnya itu mengejutkan dan menakutkan Abu Jahal, dan sejenak membuat Abu Jahal lupa akan apa yang disumpahkannya terhadap Rasulullah s.a.w. dan mendorong dia berbuat menurut anjuran Rasulullah s.a.w. (Hisyam).(bersambung)

posting ini merupakan sambungan dari posting sebelumnya


[1] Atau menurut penyelidikan mutakhir, Rasulullah lahir dalam bulan April 571.

 

sumber:Life of the Holy Prophet karya HM Bashiruddin MA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




AYO BERBELANJA DI TOKO ONLINE KAMI:

Statistik Blog

  • 215,909 hit

aku suka jalan-jalan

hidup adalah jalan-jalan. jalan-jalan adalah hidup

%d bloggers like this: