Rasulullah Ke Ta’if

note: tulisan ini merupakan kelanjutan dari postingan sebelumnya.

Tampaknya di Mekkah kini tak ada lagi orang yang mau mendengarkan kepada beliau dan hal itu membuat beliau bersedih hati. Beliau merasa bahwa usaha beliau telah terhenti. Maka, beliau memutuskan pergi bertabligh ke luar. Untuk itu beliau memilih Ta’if, sebuah kota kecil kira-kira enam puluh mil di Tenggara Mekkah dan termashur oleh buah-buahan dan pertaniannya. Putusan Rasulullah s.a.w. berdasarkan pertimbangan sunnah para nabi semuanya. Nabi Musa a.s. kadang-kadang menjumpai Firaun, kadang-kadang pergi ke Israil dan kadang-kadang pergi ke kaum Madian. Nabi Isa a.s. pun kadang-kadang ke Galilea, kadang-kadang ke tempat-tempat di seberang sungai Yordan dan kadang-kadang ke Yerusalem. Maka, ketika Rasulullah s.a.w. melihat bahwa kaum Mekkah biasa berbuat aniaya, tetapi tidak mau mendengarkan, beliau pergi ke Ta’if. Dalam kepercayaan dan perbuatan syirik orang-orang Ta’if tidak ketinggalan dari kaum Mekkah. Berhalaberhala yang terdapat di Ka’bah tidak merupakan satu-satunya, pula tidak berarti bahwa tidak terdapat berhala-berhala penting di tempat lain di Arabia. Salah satu berhala terpenting, Al-Lat, terdapat patungnya di Ta’if; oleh karena itu, Ta’if menjadi pusat ziarah juga. Penduduk Ta’if mempunyai pertalian dengan penduduk Mekkah oleh hubungan darah; dan beberapa lahan hijau antara Ta’if dan Mekkah dimiliki oleh orangorang Mekkah. Ketika datang di Ta’if, Rasulullah s.a.w. telah dikunjungi para pemimpin, tetapi tidak ada seorang pun bersedia menerima seruan itu. Dan rakyat biasa semuanya mengikuti para pemimpin mereka dan menolak ajaran itu dengan menghina. Hal itu sudah tidak asing lagi. Kaum yang tenggelam dalam urusan duniawi senantiasa memandang seruan demikian sebagai suatu gangguan, bahkan sebagai serangan. Karena seruan itu tidak disertai dengan dukungan yang dapat dilihat – seperti manusia atau persenjataan yang bilangannya banyak, mereka merasa layak menolaknya dengan menghina. Rasulullah s.a.w. pun tidak merupakan kekecualian. Berita tentang beliau telah sampai ke Ta’if dan sekarang beliau datang ke situ tanpa senjata dan tanpa pengikut atau pengawal, seorang diri yang hanya ditemani oleh Zaid. Rakyat kota memandang beliau sebagai pengacau yang harus dihentikan kegiatannya, walaupun hanya sekedar menyenangkan hati para pemimpin mereka. Orang-orang gelandangan dan anak-anak nakal mereka lepaskan supaya mereka melempari beliau dengan batu dan mengusir beliau ke luar kota.
Zaid luka-luka dan Rasulullah s.a.w. banyak mengeluarkan darah. Tetapi pengajaran terus dilakukan sampai dua pelarian tanpa daya itu telah berada beberapa mil di luar Ta’if. Rasulullah s.a.w. sangat bersedih hati dan masygul ketika seorang malaikat turun ke hadapan beliau dan bertanya, apa beliau menghendaki penganiaya-penganiaya beliau dibinasakan. “Jangan”, jawab Rasulullah s.a.w., “Aku mengharapkan justru dari penganiaya-penganiaya itu akan lahir mereka yang akan beribadah hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa” (Bukhari, Kitab Bad’al- Khalq).

Letih dan masygul, beliau berhenti di kebun anggur milik dua orang Mekkah yang kebetulan ada di situ. Mereka pun termasuk penyerang dan penganiaya kaum Muslimin di Mekkah, tetapi pada peristiwa itu tergerak hatinya. Apa hal itu disebabkan seorang Mekkah diperlakukan buruk oleh orang-orang Ta’if, atau disebabkan tiba-tiba menyalanya bara sifat baik insani dalam hati mereka? Mereka memberikan senampan (satu baki) anggur, diantarkan oleh seorang budak Kristen, bernama Addas yang berasal dari Niniwe. Addas menyodorkan nampan penuh anggur itu kepada Rasulullah s.a.w. dan kawannya. Sementara ia melihat dengan tercenung sedih kepada kedua orang itu ia makin tertarik lagi perhatiannya, ketika ia mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda, “Dengan Nama Allah, Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang”. Latar belakang Kristennya tersentuh dan ia merasakan seolah-olah ia berhadapan dengan seorang nabi Bani Israil.
Rasulullah s.a.w. menanyakan dari mana ia berasal dan Addas menjawab, “Dari Ninewe”, yang disambut oleh Rasulullah s.a.w., “Yunus, putera Amittai, yang berasal dari Ninewe adalah orang suci, seorang nabi seperti aku”. Rasulullah s.a.w. menyampaikan tabligh. Addas merasa terpukau dan segera beriman. Dirangkulnya Rasulullah s.a.w. dengan air mata berlinang-linang dan mulai mencium kepala, tangan, dan kaki beliau. Sesudah pertemuan selesai, Rasulullah s.a.w. memanjatkan doa kepada Allah s.w.t.:

Ya Allah, hamba panjatkan doaku kepada Engkau. Hamba sangat lemah. Kaumku memandang rendah dan hina kepadaku. Engkau adalah Tuhan-ku. Kepada siapa lagi Engkau akan melepaskan hamba: kepada orang-orang asingkah yang mengusirku atau kepada musuhkah yang menganiaya hamba di kotaku sendiri? Jika Engkau tidak murka kepada hamba, hamba tak akan menghiraukan mereka, musuh-musuh itu. Semoga rahmat Engkau beserta hamba ini. Hamba berlindung di dalam Nur wajah-Mu. Engkaulah yang dapat mengusir kegelapan dari bumi ini dan menganugerahkan kedamaian di sini dan di akhirat. Janganlah murka dan kutuk Engkau turun kepada hamba-Mu ini. Engkau tak pernah murka kecuali untuk segera ridha sesudahnya. Dan tidak ada kekuasaan dan perlindungan kecuali beserta Engkau (Hisyam dan Tabari).

Seusai mendoa demikian, beliau pulang kembali ke Mekkah. Dalam perjalanan beliau singgah di Nakhla beberapa hari dan kemudian berangkat lagi. Menurut hukum adat di Mekkah, beliau sudah bukan penduduk Mekkah lagi. Beliau telah meninggalkannya, sebab beliau memandangnya tidak bersahabat dan tidak dapat kembali lagi kecuali dengan izin kaum Mekkah. Oleh sebab itu beliau mengirim amanat kepada Mut’im bin Adi – seorang kepala kabilah Mekkah – untuk meminta, apa kaum Mekkah mau mengizinkan beliau kembali ke Mekkah. Mut’im, walaupun musuh keras seperti yang lain, mempunyai hati yang mulia. Ia mengumpulkan anak-anak dan sanak-saudaranya. Dengan bersenjata lengkap mereka pergi ke Ka’bah. Berdiri di pelataran ia mengumumkan izin Rasulullah s.a.w. kembali. Rasulullah s.a.w. kembali dan berthawaf, Mut’im, anak-anak dan saudara-saudaranya, dengan pedang terhunus mengantarkan Rasulullah s.a.w. ke rumah beliau. Bukan perlindungan dalam arti menurut adat di Arabia yang diberikan kepada Rasulullah s.a.w.. Rasulullah s.a.w. terus-menerus menderita dan Mut’im tidak melindungi beliau. Tindakan Mut’im hanya sejauh pemyataan izin resmi untuk Rasulullah s.a.w. kembali lagi ke Mekkah.

Perjalanan Rasulullah s.a.w. ke Ta’if membangkitkan kekaguman juga dari musuh-musuh Islam. Sir William Muir dalam biografi Rasulullah s.a.w. menulis (ihwal perjalanan ke Ta’if):

Ada suatu keagungan dan kepahlawanan dalam perjalanannya ke Ta’if; seorang diri, dihina dan ditolak oleh kaumnya sendiri, pergi dengan gagah tanpa ragu-ragu dengan nama Tuhan, seperti Yunus ke Ninewe dan memanggil suatu kota musyrik untuk bertobat dan menerima ajarannya. Hal ini menunjukkan dengan sejelas-jelasnya betapa teguh dan dalamnya keimanan kepada tugasnya yang bersumber kepada Allah (Life of Muhammad by Sir W. Muir, 1923, hlm. 112-113).

Mekkah kembali lagi kepada permusuhannya semula. Kota kelahiran Rasulullah s.a.w. lagi menjadi neraka bagi beliau. Tetapi beliau terus-menerus menyampaikan tabligh. Sebutan “Tuhan Maha Esa” mulai berkumandang di mana-mana. Dengan cinta dan kesungguhan hati serta sarat dengan rasa peri kemanusiaan, Rasulullah s.a.w. tetap giat dalam menyampaikan tabligh beliau.

Orang berpaling, tetapi beliau terus-menerus berseru dan memanggil mereka. Beliau menyampaikan dakwah beliau tak perduli diperhatikan atau tidak, dan kegigihan itu tampak akan berhasil. Beberapa orang Muslim yang kembali dari Abessinia dan memutuskan untuk tinggal terus, menyampaikan tabligh dengan diam-diam kepada sahabat-sahabat, tetangga, dan sanak-saudara. Beberapa dari antara mereka tertarik dan menyatakan iman mereka secara terang-terangan dan ikut serta dalam penderitaan orang-orang Muslim lainnya. Tetapi banyak, walaupun telah beriman di dalam hati, yang tidak berani mengatakan dengan terang-terangan; mereka menunggu turunnya kerajaan Ilahi ke bumi.

Dalam pada itu wahyu-wahyu yang diterima oleh Rasulullah s.a.w. mulai mengisyaratkan kemungkinan mendekatnya hijrah dari Mekkah. Keterangan-keterangan tentang tempat yang akan dituju juga dikemukakan. Tempat itu kota yang banyak sumber air dan kebun kurma. Beliau menyangka Yamama. Tetapi persangkaan itu segera ditanggalkan. Beliau menunggu dengan keyakinan bahwa tempat mana atau bagaimana yang akan ditetapkan untuk dituju pasti akan menjadi tempat pembibitan Islam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




AYO BERBELANJA DI TOKO ONLINE KAMI:

Statistik Blog

  • 216,092 hit

aku suka jalan-jalan

hidup adalah jalan-jalan. jalan-jalan adalah hidup

%d bloggers like this: