Suraqa Mengejar Rasulullah

note: tulisan ini merupakan kelanjutan dari postingan sebelumnya.

Sebelum bertolak. Rasulullah s.a.w. menoleh ke belakang dan melayangkan pandangan ke Mekkah. Keharuan timbul dalam hati. Mekkah adalah tempat kelahiran beliau. Di sana beliau hidup sebagai kanak-kanak dan orang dewasa, dan di sana pula beliau menerima nubuwat. Di tempat itu juga tinggal nenek-moyang beliau dan hidup sejahtera sejak masa Nabi Ismail a.s. Dengan pikiran dan perasaan demikian, untuk penghabisan kali beliau memandang lama ke kota itu dan bersabda, “Wahai Mekkah, engkau lebih kucintai dari pada tempat mana pun di dunia; tetapi, penghunimu tak memberi kesempatan kepadaku untuk tinggal di sini”. Maka, Abu Bakar berkata, “Tempat itu telah mengusir Nabinya. Hanya kehancurannya yang dinantikannya”.
Kaum Mekkah setelah gagal mengejar, menjanjikan hadiah untuk menangkap kedua pelarian itu. Siapa saja yang berhasil menyerahkan kepada kaum Mekkah, Rasulullah s.a.w. atau Abu Bakar hidup atau mati, akan menerima hadiah seratus unta. Pengumuman itu disebar di tengah kabilah-kabilah di sekitar Mekkah. Tergiur oleh hadiah itu, Suraqa bin Malik, seorang kepala kabilah Badui, berangkat mengejar dan akhirnya melihat mereka di jalan menuju ke Medinah. Dilihatnya dua unta dikendarai dan yakin bahwa penunggangnya adalah Rasulullah s.a.w. dan Abu Bakar. Dihardiknya kudanya. Kuda itu mendompak dan jatuh sebelum dapat maju jauh dan Suraqa pun ikut jatuh pula. Ceritera Suraqa sendiri mengenai peristiwa itu sangat menarik. Katanya: Setelah aku jatuh dari kudaku, aku periksa peruntungan nasibku dengan cara kebiasaan takhayul orang Arab, dengan melemparkan panah-panah. Panah-panah itu meramalkan kemalangan. Tetapi, imingiming hadiah sangat kuat. Aku tunggangi lagi kudaku dan meneruskan lagi pengejaran dan hampir-hampir aku dapat mengejar Rasulullah s.a.w. berkendaraan dengan penuh wibawa dan tidak menoleh. Tetapi, Abu Bakar berkali-kali menengok ke belakang (jelas karena sangat khawatir akan keselamatan Rasulullah s.a.w.). Ketika aku mendekat, kudaku mendompak lagi dan aku pun jatuh. Sekali lagi kuperiksa peruntungan nasibku dengan panah. Sekali lagi ramalannya menunjukkan kemalangan. Kaki kudaku terperosok dalam sekali ke dalam pasir. Untuk menaiki kudaku dan meneruskan pengejaran menjadi sangat sukar. Maka barulah aku mengerti bahwa rombongan itu ada dalam perlindungan Ilahi. Aku berteriak memanggil dan minta mereka berhenti. Setelah cukup dekat, aku menerangkan maksudku yang buruk dan perubahan yang timbul dalam hatiku. Aku menerangkan akan mengurungkan pengejaran dan akan pulang. Rasulullah s.a.w. mengizinkan aku pergi, tetapi dengan perjanjian akan tutup mulut dan tidak menceriterakan pengalamannya kepada siapa pun. Aku mulai yakin bahwa Rasulullah s.a.w. adalah benar dan ditakdirkan untuk berhasil. Aku memohon kepada Rasulullah s.a.w. untuk menulis keterangan jaminan keamanan untuk keperluanku pada saat beliau sudah berjaya. Rasulullah s.a.w. menyuruh Amir bin Fuhaira membuat surat keterangan jaminan dan dilakukannya dengan segera. Ketika aku sudah siap untuk pulang dengan membawa surat itu, Rasulullah s.a.w. menerima kabar-ghaib tentang kemudian hari dan bersabda, “Suraqa, bagaimana engkau akan merasa kalau memakai gelang-gelang emas Kisra di pergelanganmu?”
Tercengang atas kabar-ghaib itu aku bertanya, “Kisra yang mana? Kisra bin Hormizd, Maharaja Iran?” Rasulullah s.a.w. menjawab, “Betul”. (Usud-al-Ghaba).

Enam belas atau tujuh belas tahun kemudian kabar-ghaib itu menjadi sempurna secara harfiah. Suraqa menerima Islam dan pergi ke Medinah. Rasulullah s.a.w. wafat, dan sesudah beliau, mula-mula Abu Bakar, dan kemudian Umar menjadi Khalifah. Bertambah besamya pengaruh Islam menjadikan bangsa Iran iri hati dan mendorongnya untuk menyerang kaum Muslim, tetapi dari pada menundukkan kaum Muslim, mereka sendiri yang ditundukkan. Ibu kota Iran jatuh ke tangan kaum Muslim yang merampas segala isi khazanah, termasuk juga gelanggelang emas yang biasa dipakai oleh Kisra pada waktu sidang-sidang kenegaraan. Sesudah Suraqa masuk Islam, ia sering menceriterakan pengejaran Rasulullah s.a.w. dengan rombongan dan menggambarkan bagaimana telah terjadi antara dia dan Rasulullah s.a.w.. Ketika rampasan-rampasan perang diletakkan di hadapan Umar, beliau melihat gelang-gelang emas itu dan ingat akan perkataan Rasulullah s.a.w. terhadap Suraqa. Hal itu suatu kabar-ghaib agung di masa Islam sama sekali tak berdaya. Umar mengambil keputusan untuk mementaskan sempurnanya kabar-ghaib itu. Maka, Suraqa dipanggil beliau dan beliau memerintahkan kepadanya memakai gelang-gelang emas tersebut.
Suraqa memprotes bahwa pemakaian emas oleh kaum pria telah dilarang oleh Islam. Umar menjawab bahwa hal itu memang benar, tetapi kejadian ini suatu kekecualian. Rasulullah s.a.w. telah melihat lebih dahulu gelang-gelang emas Kisra itu ada pada pergelangannya, maka itu ia harus memakainya sekarang, walaupun menghadapi risiko siksaan. Sesungguhnya Suraqa berkeberatan memakai gelang itu karena menghormati ajaran Rasulullah s.a.w.; jika tidak demikian, ia sangat berhasrat seperti tiap-tiap orang lain untuk memberi bukti yang terlihat sempurnanya suatu kabar ghaib yang agung. Ia mengenakan gelang gelang emas itu pada lengannya dan kaum Muslimin melihat dengan mata sendiri sempurnanya kabar-ghaib itu (Usud al-Ghaba). Nabi yang dulu pernah melarikan diri itu telah menjadi raja. Beliau sendiri telah tiada. Tetapi para Khalifah beliau dapat menyaksikan sempurnanya katakata dan kasyaf-kasyaf beliau.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




AYO BERBELANJA DI TOKO ONLINE KAMI:

Statistik Blog

  • 216,092 hit

aku suka jalan-jalan

hidup adalah jalan-jalan. jalan-jalan adalah hidup

%d bloggers like this: