Kemenangan Berubah Jadi Kekalahan

note: tulisan ini merupakan kelanjutan dari posting sebelumnya.

Dengan alasan itu mereka meninggalkan celah itu dan ikut galau dalam kancah pertempuran. Dalam lasykar Mekkah yang sedang melarikan diri termasuk Khalid bin Walid yang kemudian menjadi panglima Muslim besar. Matanya yang jeli jatuh pada celah sempit yang tak terjaga lagi itu. Yang masih menjaganya hanya tinggal sedikit, Khalid berseru memanggil panglima Mekkah lain, ialah Amr bin al-As, dan menyuruhnya melempar pandangan ke celah di belakangnya. Amr menengok ke belakang dan tahulah dia bahwa itulah kesempatan yang paling indah.

Kedua panglima itu menghentikan pasukan mereka dan mendaki bukit itu. Mereka membunuh orang-orang Muslim yang tinggal sedikit, menjaga celah itu, dan dari tempat yang tinggi itu mereka mulai menyerbu kaum Muslim. Mendengar pekikan perang mereka, lasykar Mekkah yang telah cerai-berai itu bergabungan lagi dan kembali ke medan pertempuran. Serbuan kepada kaum Muslim itu sangat mendadak. Dalam pengejaran lasykar Mekkah mereka itu terpencar-pencar ke berbagai arah medan. Perlawanan Muslimin terhadap serangan baru itu tidak dapat disatukan lagi. Hanya prajurit-prajurit Muslim secara perorangan masih nampak mengadakan perlawanan terhadap musuh. Banyak di antara mereka gugur. Lain-lainnya terdesak mundur. Sekelompok kecil membuat formasi lingkaran di sekeliling Rasulullah s.a.w. Seluruhnya tak lebih dan dua puluh orang.

Lasykar Mekkah menggempur lingkaran itu dengan ganasnya. Satu demi satu orang-orang Muslim dalam lingkaran itu rebah karena tebasan-tebasan prajurit-prajurit berpedang Mekkah. Dari bukit itu pemanah-pemanah melepaskan panah-panah. Pada saat itu Talha, seorang Muhajir, melihat musuh melepas anak-anak panahnya ke arah wajah Rasulullah s.a.w.. Ia merentangkan tangannya dan diangkatnya ke atas, melindungi wajah Rasulullah s.a.w.. Panah-panah sebuah demi sebuah mengenai tangan Talha, tetapi tangan itu tidak diturunkan sungguhpun tiap panah menembus tangannya. Akibatnya, tangan itu sama sekali terkutung (terpotong-potong). Talha kehilangan tangan dan seumur hidupnya ia menjadi orang buntung. Di zaman Khalifah ke empat, ketika keretakan di dalam tubuh Islam mulai tampak, Talha diejek oleh seorang musuh dengan menyebutnya Talha si Buntung. Sahabat Talha menjawab, “Buntung, memang, tetapi tahukah kamu di mana ia kehilangan tangannya? Di dalam Perang Uhud, saat ia mengangkat tangannya memerisai wajah Rasulullah s.a.w. dari panah panah musuh.”

Lama sesudah Perang Uhud sahabat-sahabat Talha bertanya kepadanya, “Apakah tanganmu tidak sakit saat jadi sasaran panah-panah itu dan sakitnya tidak menyebabkan engkau memekik?” Talha menjawab, “Sangat pedih dan hampir membuat aku menjerit, tetapi aku tahan. sebab aku tahu bahwa apabila tanganku bergerak sedikit, wajah Rasulullah s.a.w. akan menjadi bulan-bulanan panah musuh.” Regu kecil yang tinggal di sekitar Rasulullah s.a.w. itu tak mungkin dapat menahan lasykar yang mereka hadapi. Sepasukan musuh maju dan mendesak mereka mundur. Rasulullah s.a.w. berdiri seorang diri laksana dinding dan tiba-tiba sebuah batu mengenai dahi beliau dan meninggalkan lekuk yang dalam. Hantaman yang kedua mendorong gelang-gelang rantai topi baja masuk ke dalam pipi beliau. Ketika panah-panah menghujam dengan gencarnya dan Rasulullah s.a.w. terluka, beliau mendoa, “Ya Tuhan, ampunilah kaumku, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Muslim). Rasulullah s.a.w. jatuh di atas jenazah-jenazah para syuhada yang gugur dalam membela beliau. Orang-orang Muslim lainnya maju ke muka melindungi Rasulullah s.a.w. dari seranganserangan selanjutnya. Mereka pun gugur, Rasulullah s.a.w. terbaring tak sadarkan diri di antara mayat-mayat itu. Ketika musuh menyaksikan pemandangan itu mereka menyangka beliau pun telah syahid. Mereka mengundurkan diri dengan keyakinan bahwa kemenangan telah tercapai dan mulai mengatur lagi barisan. Di antara orang-orang Muslim yang melindungi Rasulullah s.a.w. dan yang telah terdesak mundur oleh gempuran kekuatan musuh terdapat juga Umar. Medan perang sekarang telah sepi. Umar, yang mengamati keadaan, menjadi yakin bahwa Rasulullah s.a.w. telah gugur. Umar adalah orang gagah. Hal itu berkali kali dibuktikan; yang paling jelas kegagahan itu tampak dalam perang menghadapi Roma dan Iran sekaligus. Beliau tak pernah nampak putus asa di bawah beban kesukaran dan kesulitan. Umar pada saat itu duduk di atas sebuah batu dengan semangatnya lumpuh, menangis seperti anak kecil. Pada saat itu seorang Muslim lain, Anas bin Nadr namanya, dating secara santai dengan persangkaan bahwa kaum Muslim telah berjaya. Ia menyaksikan mereka mampu mengatasi kekuatan musuh, tetapi merasa lapar, karena tak makan apa-apa sejak malam sebelumnya, ia telah meninggalkan medan laga dengan beberapa butir kurma di tangannya. Segera setelah ia melihat Umar menangis, ia bertanya keheran-heranan, “Umar, apa gerangan yang terjadi atas dirimu sampai kamu menangis dan bukan gembira atas kemenangan yang gilang-gemilang di pihak kaum Muslim?”

Umar menjawab, “Anas, kau tak tahu apa yang telah terjadi. Kamu hanya melihat bagian pertama. Kamu tidak mengetahui bahwa musuh menduduki titik strategis di atas bukit dan menyerang kita dengan dahsyatnya. Kaum Muslimin bubar dengan persangkaan telah mencapai kemenangan. Gempuran musuh kali ini tak dapat ditahan lagi. Hanya Rasulullah, dengan beberapa gelintir pengawal, menghadapi seluruh kekuatan musuh dan semuanya telah rebah.”

“Jika hal itu benar,” jawab Anas, “apa guna duduk menangis di sini? Ke mana saja junjungan kita yang tercinta pergi, ke sana pula kita harus menuju.”

Anas masih memegang kurmanya yang terakhir dan hamper dimasukkan ke mulut, tetapi daripada memasukkannya ke mulut, dilemparkannya kurma itu jauh-jauh sambil berkata, “Hai kurma, kecuali kau, adakah sesuatu yang menghalangi Anas dari surga?”

Setelah berkata demikian, dihunuslah pedangnya dan menyerbu ke tengah-tengah barisan musuh seorang diri, seorang melawan tiga ribu.Tak banyak yang dapat diperbuat, tetapi semangat seorang yang beriman itu lebih unggul dari banyak orang. Mengamuk bagaikan banteng ketaton, Anas akhirnya rebah dengan luka-luka, tetapi ia melawan terus. Karena gemasnya pasukan musuh menyerbu dan menerkamnya dengan ganas lagi keji. Diriwayatkan bahwa tatkala pertempuran telah usai dan mereka yang gugur diperiksa siapa-siapanya, badan Anas tak dapat dikenal lagi, karena telah terputus putus menjadi tujuh puluh potong. Akhirnya dapat dikenal oleh adik perempuan Anas dari jarinya yang terkutung: berkatalah dia, “Inilah badan saudaraku!” (Bukhari).

Orang-orang Muslim yang membuat formasi lingkaran di sekitar Rasulullah s.a.w., tetapi terdesak mundur, maju lagi dengan segera ketika mereka melihat musuh telah mengundurkan diri. Mereka mengangkat tubuh Rasulullah s.a.w. dan antara jenazah-jenazah pahlawan yang gugur. Abu Ubaida bin al-Jarrah menggigit gelang-gelang yang masuk menusuk pipi Rasulullah s.a.w. dan mencabutnya. Dalam usaha itu dua buah giginya tanggal.

Selang beberapa detik kemudian Rasulullah s.a.w. siuman kembali. Pengawal-pengawal di sekitar beliau mengutus orang-orang untuk menyuruh kaum Muslim berkumpul lagi. Lasykar yang kucar-kacir itu mulai berkumpul lagi. Mereka mengawal Rasulullah s.a.w. ke kaki bukit. Abu Sufyan, komandan musuh, ketika melihat sisa pasukan Muslim itu berteriak, “Kami telah membunuh Muhammad.” Rasulullah s.a.w. mendengar pekikan yang sombong itu, tetapi melarang kaum Muslimin menyahut, kalau-kalau musuh akan mengetahui kenyataan dan menyerang lagi sehingga kaum Muslimin yang letih dan luka-luka itu terpaksa berjuang lagi melawan pasukan yang buas itu. Karena tak mendapat sambutan dari kaum Muslimin, Abu Sufyan menjadi yakin bahwa Rasulullah s.a.w. telah gugur. Ia berteriak lagi, “Kami telah membunuh Abu Bakar.” Rasulullah s.a.w. melarang Abu Bakar menyahut. Abu Sufyan berseru untuk ketiga kalinya, “Kami juga telah membunuh Umar.” Rasulullah s.a.w. melarang Umar juga menyahut.
Maka Abu Sufyan berteriak lagi bahwa mereka telah membunuh ketigatiganya. Sekarang Umar tak dapat menahan diri lagi dan berseru, “Kami semua masih hidup dan dengan karunia Ilahi siap sedia untuk berkelahi dengan kamu dan memecahkan kepalamu.” Abu Sufyan memekikkan semboyan kebangsaan, “Hidup Hubal. Hidup Hubal. Sebab, Hubal telah melenyapkan Islam.” (Hubal adalah berhala nasional kaum Mekkah).
Rasulullah s.a.w. tak dapat menelan kecongkakan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Allah, demi Dia beliau dan kaum Muslimin bersedia mengorbankan segala-gala yang mereka miliki. Beliau melarang membetulkan pernyataan wafat beliau sendiri. Beliau melarang membetulkan pernyataan kematian Abu Bakar dan Umar, demi siasat.
Hanya sisa-sisa lasykar kecil yang masih tinggal. Kekuatan musuh besar dan dalam suasana bersuka cita. Tetapi sekarang musuh telah menghina Allah. Rasulullah s.a.w. tak dapat membiarkan penghinaan semacam itu. Semangat beliau tersulut. Beliau memandang dengan berang kepada orang-orang Muslim di sekitar beliau dan bersabda, “Mengapa berdiam diri dan tidak menjawab terhadap penghinaan kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa?”

Orang-orang Muslim bertanya, “Apa yang harus kami katakan, ya Rasulullah?”

“Katakanlah, hanya Allah Maha Besar dan Maha Perkasa. Hanya
Allah Maha Besar dan Maha Perkasa. Hanya Dia Maha Luhur dan Maha Mulia.”

Orang-orang Muslim berteriak seperti itu. Pekikan itu mencengangkan musuh. Mereka patah hati ketika mereka mengetahui bahwa Rasulullah ternyata tidak gugur. Di hadapan mereka ada beberapa gelintir orang Muslim, luka-luka dan letih. Untuk menghancurkan mereka sangatlah mudah. Tetapi mereka tidak berani menyerang lagi. Puas dengan kemenangan yang telah mereka peroleh, mereka pulang sambil meluapkan kegembiraan mereka. Dalam Perang Uhud kemenangan kaum Muslimin telah berubah menjadi kekalahan. Walaupun demikian, perang itu telah memberi bukti akan kebenaran Rasulullah s.a.w.; sebab, dalam perang itu telah menjadi sempurnalah kabar ghaib Rasulullah s.a.w. yang diceriterakan beliau sebelum bertolak ke medan perang. Kaum Muslimin menang di bagian pertama. Paman Rasulullah yang tercinta, Hamzah, syahid. Panglima musuh terbunuh pada pemulaan sekali pertempuran. Rasulullah s.a.w. sendiri terluka dan banyak orang Muslim gugur. Kesemuanya itu telah dikabar ghaibkan di dalam kasyaf Rasulullah s.w.

Di samping peristiwa-peristiwa yang dikabarkan sebelumnya telah menjadi kenyataan, perang itu memberikan banyak bukti keikhlasan dan pengabdian orang-orang Muslim. Begitu menonjol teladan perilaku mereka sehingga sejarah tidak berhasil mengemukakan contoh yang sepadan dengan itu. Beberapa peristiwa sebagai bukti sudah kami uraikan. Satu lagi tampaknya layak diceriterakan. Peristiwa itu memperlihatkan keyakinan tekad dan kesetiaan yang diperagakan oleh para Sahabat Rasulullah s.a.w.. Waktu Rasulullah s.a.w. mengundurkan diri ke kaki bukit bersama segelintir orang-orang Muslim itu, beliau mengutus beberapa Sahabat guna mengurusi prajurit-prajurit yang luka dan terbaring di medan perang. Seorang Sahabat menemukan, sesudah lama mencari, seorang Anshar yang luka parah. Ia sudah mendekati ajalnya. Sahabat itu membungkuk dan mengatakan, “Assalamu’alaikum.” Prajurit yang luka parah itu mengangkat tangan yang gemetar dan sambil memegangi tangan pengunjungnya ia berkata, “Aku memang sedang menunggu kedatangan seseorang.”

“Keadaan saudara sangat gawat.” kata pengunjung itu. “Adakah pesan untuk disampaikan kepada sanak-saudaramu?”

“Ya, ya,” kata orang yang sedang mendekati ajal itu. “Salamku sampaikan kepada sanak-saudaraku dan katakan kepada mereka bahwa pada saat aku menghadapi maut, aku masih mempunyai suatu titipan berharga yang harus mereka junjung tinggi. Titipan itu adalah Rasulullah. Aku mengharapkan agar mereka menjaga keselamatan wujud beliau dengan jiwa mereka dan ingat bahwa itulah satu-satunya pesanku yang penghabisan” (Mu’atta dan Zurqani).

Orang-orang yang menghadapi maut banyak yang ingin dikatakan oleh mereka kepada sanak-saudara mereka, tetapi orang-orang Muslim dari masa permulaan itu, sekalipun pada detik-detik kematian mereka tidak memikirkan keluarga, anak-anak, dan istri mereka, tidak pula kekayaan; mereka hanya ingat kepada Rasulullah s.a.w.. Mereka menghadapi maut dengan keyakinan bahwa Rasulullah s.a.w. itu Juru- Selamat dunia. Anak-anak mereka, jika mereka selamat, hanya meraih perolehan sedikit. Jika mereka mati dalam membela wujud Rasulullah s.a.w. maka mereka telah berbakti kepada Tuhan dan kepada umat manusia. Mereka yakin bahwa dengan mengorbankan keluarga, mereka mengkhidmati umat manusia dan berbakti kepada Tuhan. Dengan mendatangkan kematian kepada diri mereka sendiri, mereka menjamin kehidupan kekal bagi seluruh umat manusia.

Rasulullah s.a.w. mengumpulkan orang-orang luka dan orangorang yang mati syahid. Penderita-penderita luka diberi pertolongan pertama dan mereka yang gugur dikebumikan. Rasulullah s.a.w. mengetahui bahwa musuh telah memperlakukan kaum Muslimin dengan sangat kejam lagi biadab. Mereka itu merusak mayat orang-orang Muslim dengan memotong hidung dan telinga. Salah satu dari mayat mayat yang dijadikan cacat itu ialah Hamzah, paman Rasulullah. Rasulullah s.a.w. sangat terharu, lalu bersabda, “Perbuatan orang-orang kufar sekarang membenarkan perlakuan-perlakuan yang kita pikir hingga sejauh ini tidak kita benarkan”. Setelah beliau bersabda demikian, beliau terus-menerus memperlihatkan kepada mereka sikap kasih sayang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




AYO BERBELANJA DI TOKO ONLINE KAMI:

Statistik Blog

  • 216,092 hit

aku suka jalan-jalan

hidup adalah jalan-jalan. jalan-jalan adalah hidup

%d bloggers like this: