Kabar Wafat Rasulullah Sampai Ke Medinah

note: tulisan ini merupakan kelanjutan dari postingan sebelumnya.

Desas-desus tentang wafatnya Rasulullah s.a.w. dan kabar ihwal cerai-berainya lasykar Muslim tiba di Medinah sebelum sisa-sisa pasukan Islam dapat kembali ke kota. Wanita-wanita dan anak-anak bagaikan gila menghambur dan lari menuju Uhud. Banyak di antara mereka mendengar kenyataan yang sebenarnya dari prajurit-prajurit yang pulang dari medan perang, lalu mereka ini kembali lagi. Seorang wanita dari suku Banu Dinar berjalan terus sampai akhirnya tiba di Uhud. Wanita itu telah kehilangan suami, ayah, dan saudara dalam perang itu.

Menurut beberapa penutur, ia kehilangan pula seorang anaknya. Seorang prajurit yang pulang berjumpa dengan dia dan memberitahukan kepadanya bahwa ayahnya telah gugur. Ia menjawab, “Aku tak menanyakan ayahku. Katakan, bagaimana keadaan Rasulullah.” Prajurit itu tahu bahwa Rasulullah s.a.w. selamat, maka tidak segera menjawab pertanyaan itu, tetapi mengatakan pula bahwa saudara dan suaminya pun telah gugur. Tiap-tiap berita itu diterimanya dengan tenang, dan lagi-lagi ia bertanya, “Apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah?” Ungkapan itu ungkapan yang sangat ganjil, tetapi jika kita perhatikan, kalau yang mempergunakan ungkapan itu seorang wanita maka hal itu tak Nampak begitu ganjil lagi. Perasaan wanita sangat kuat. Wanita sering berkatakata kepada orang mati seolah-olah masih hidup. Jika orang itu mempunyai perhubungan kekeluargaan yang dekat, ia adakalanya menyesali si mati dan bertanya, mengapa telah melalaikan dirinya dan meninggalkannya tanpa perlindungan dan penjagaan. Sudah biasa pada wanita menangisi buah hatinya yang hilang dengan cara demikian. Oleh karena itu, cara ungkapan yang dipakai oleh wanita ini juga wajar untuk seorang wanita yang sedang bersedih hati tentang wafatnya Rasulullah s.a.w. dan tak mau mengakui kenyataan kematian beliau, walaupun ia telah mendengar tentang wafat beliau. Di samping ia tidak menolak berita itu, tetapi tetap juga berkata, dengan kesedihan murni seorang wanita, “Apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah?” Dengan perkataan itu ia berpura-pura seolah Rasulullah s.a.w. masih hidup dan menyesali bahwa seorang pemimpin yang baik seperti beliau telah begitu tega meninggalkan untuk mereka perasaan pedih sebagai akibat perpisahan.

Ketika prajurit yang baru kembali dari medan perang itu melihat bahwa wanita itu tak mengindahkan kematian ayah, saudara, dan suami, barulah ia mengerti betapa mendalamnya cinta wanita itu kepada Rasulullah s.a.w., lalu memberitahukan, “Mengenai Rasulullah, beliau masih hidup sebagaimana engkau harapkan.” Wanita itu meminta agar kepadanya ditunjukkan tempat Rasulullah s.a.w.. Lalu prajurit itu menunjuk ke suatu arah medan pertempuran. Wanita itu berlari-lari menuju ke sana dan sesampainya di sana serta berjumpa dengan Rasulullah, dipegangnya jubah beliau lalu diciumnya dan berkata, “Ayah dan ibuku biar korban bagi anda, ya Rasulullah. Asalkan anda selamat, tidak aku hirau siapa pun yang mati” (Hisyam).

Oleh karena itu, kita menyaksikan keteguhan dan kesetiaan yang diperagakan oleh kaum Muslimin – baik pria maupun wanita – di dalam perang itu. Penulis-penulis Kristen meriwayatkan dengan megah ceritera Maria Magdalena dan para sahabatnya, dan mengisahkan kesetiaan dan keberanian mereka. Dikatakan bahwa pada pagi buta mereka menyelinap di tengah-tengah orang Yahudi menuju ke pekuburan Yesus. Tetapi, apakah arti kejadian ini dibanding dengan kesetiaan wanita Muslim dari suku Dinar itu?

Suatu contoh lagi tercatat dalam sejarah. Sehabis mengubur mayat-mayat yang gugur dan Rasulullah s.a.w. tengah dalam perjalanan pulang ke Medinah, beliau melihat wanita-wanita dan anak-anak mengelu-elukan beliau di luar kota Medinah. Tali kekang unta beliau dipegang oleh Sa’d bin Mu’adh, seorang kepala suku Medinah. Sa’d menuntun unta itu dengan bangganya. Ia seolah-olah menyatakan ke seluruh dunia bahwa kaum Muslimin, pokoknya, berhasil membawa pulang Rasulullah s.a.w. ke Medinah dalam keadaan sehat wal’afiat.
Waktu berjalan dilihatnya ibunya sendiri yang telah tua maju ke depan menyambut rombongan Muslimin yang pulang itu. Wanita tua itu sudah lemah penglihatannya. Sa’d melihatnya dan sambil menengok kepada Rasulullah s.a.w. ia berkata, “Ya Rasulullah, ini ibuku.”

“Panggil kemari,” sabda Rasulullah s.a.w.. Wanita itu maju dan dengan pandangan kosong dicobanya melihat wajah Rasulullah s.a.w.. Akhirnya, matanya dapat menampaknya dan ia sangat gembira. Rasulullah s.a.w. bersabda sambil memandang kepadanya, “Ibu, kusampaikan bela sungkawa atas kehilangan anak ibu.”

“Tetapi”. jawab wanita tua yang setia itu, “setelah kulihat anda selamat, aku telah menelan sendiri segala kemalanganku.” Ungkapan dalam bahasa Arab yang dipakainya ialah, “Aku telah memanggang kemalanganku dan menelannya”. (Halbiyya, Jilid 2, hlm. 210). Alangkah dalamnya perasaan yang dinyatakan di dalam ungkapan itu. Pada umumnya, kesedihan memakan hati manusia, tetapi di sini ada seorang wanita tua yang telah kehilangan anaknya yang menjadi tumpuan hidupnya di hari tua. Tetapi ia mengatakan bahwa daripada membiarkan kesedihan memakan hatinya, ia sendiri telah menelan kemalangannya. Kenyataan bahwa anaknya telah gugur membela Rasulullah s.a.w. akan menopang sisa kehidupannya.

Rasulullah s.a.w. tiba di Medinah. Dalam perang ini banyak orang Muslim yang mati syahid dan banyak juga yang luka-luka. Namun demikian, tidak dapat dikatakan bahwa perang sudah berakhir dengan kekalahan di pihak kaum Muslimin. Peristiwa-peristiwa yang telah kami uraikan di atas membuktikan sebaliknya. Semuanya itu menjadi bukti bahwa Perang Uhud pun merupakan kemenangan yang agung bagi kaum Muslim seperti juga tiap-tiap peperangan lainnya. Orang-orang Islam yang menelaah kembali lembaran-lembaran sejarah permulaan agama Islam dapat mengambil pelajaran dan inspirasi dari Perang Uhud.

Sepulang di Medinah, Rasulullah s.a.w. kembali kepada tugas beliau. Beliau sibuk lagi dengan mendidik dan mengajar para Sahabat. Tetapi seperti yang sudah-sudah juga, pekerjaan beliau berjalan tidak tanpa gangguan dan rintangan. Sesudah Perang Uhud, kaum Yahudi menjadi semakin berani dan kaum munafik mengangkat kepala lagi.Mereka mulai berpikir bahwa upaya pemberantasan Islam itu ada dalam jangkauan kemampuan dan kekuasaan mereka. Hanya saja mereka harus mengadakan upaya yang terpadu. Sesuai dengan itu, kaum Yahudi mulai mempergunakan cara rongrongan yang baru. Mereka biasa menyiarkan syair-syair cacian kotor, dan dengan cara demikian mereka mau menghina Rasulullah s.a.w. dan keluarga. Pada suatu ketika Rasulullah s.a.w. dipanggil untuk mengambil keputusan dalam suatu perselisihan faham dan untuk keperluan itu beliau harus masuk ke dalam benteng kaum Yahudi. Orang-orang Yahudi telah merencanakan untuk menjatuhkan sebuah balok batu ke atas beliau untuk menghabisi nyawa Rasulullah s.a.w.. Beliau menerima peringatan lebih dahulu dari Tuhan tentang rencana itu. Sudah biasa beliau menerima peringatan semacam itu tepat pada waktunya. Rasulullah s.a.w. meninggalkan tempat duduk beliau tanpa mengatakan sesuatu. Kaum Yahudi kemudian mengakui tipu muslihat kotor mereka. Wanita-wanita Muslim dihina di jalan-jalan.Dalam suatu peristiwa semacam itu seorang Muslim melayang jiwanya. Pada peristiwa lain orang-orang Yahudi melempar batu kepada seorang anak perempuan Muslim sehingga kemudian mati dalam penderitaan yang hebat. Kelakuan orang-orang Yahudi itu menegangkan perhubungan mereka dengan kaum Muslim dan memaksa mereka itu memerangi orang-orang Yahudi. Tetapi, kaum Muslim hanya mengusir mereka keluar dari Medinah. Satu di antara dua suku Yahudi hijrah ke Siria. Suku lain lagi, sebagian menuju ke Siria juga dan sebagian menetap di Khaibar, sebuah benteng orang-orang Yahudi yang kuat di sebelah Utara Medinah.

Dalam masa aman antara Perang Uhud dan perang berikutnya dunia menyaksikan contoh istimewa dari pengaruh Islam atas para pengikutnya. Kami menunjuk kepada larangan minum-minuman keras. Dalam menggambarkan masyarakat Arab sebelum Islam, kami telah menjelaskan bahwa orang-orang Arab itu pemabuk-pemabuk berat. Minum lima kali sehari merupakan mode di tiap-tiap rumah orang Arab. Kehilangan kesadaran di bawah pengaruh arak adalah kejadian yang lazim dan mereka tidak merasa malu sedikit pun. Bahkan hal itu dipandang mereka sebagai perbuatan baik. Jika ada seorang tamu berkunjung, menjadi kewajiban nyonya rumah menghidangkan minuman keras. Untuk melepaskan kaum yang demikian dari kebiasaan sangat berbahaya itu adalah bukan soal yang gampang. Tetapi pada tahun keempat sesudah Hijrah. Rasulullah s.a.w. menerima perintah bahwa minum minuman keras telah terlarang. Dengan perintah itu maka kebiasaan minum arak lenyap dari masyarakat Islam. Konon, ketika wahyu yang mengharamkan arak itu turun, Rasulullah memanggil seorang Sahabat dan memerintahkan kepadanya mengumumkan perintah baru itu di lorong-lorong kota Medinah. Di rumah seorang Anshar pada waktu itu sedang dilangsungkan perjamuan minum arak. Undangan banyak dan piala-piala anggur tengah disajikan. Sebuah guci besar telah habis diminum dan guci kedua sedang dibuka tutupnya. Banyak tamu yang telah mabuk dan banyak lainnya hampir juga lupa diri. Dalam keadaan demikian mereka mendengar ada orang mengumandangkan berita bahwa minum arak telah dilarang oleh Rasulullah s.a.w., atas perintah Ilahi. Seorang dari para tamu berdiri sambil berkata, “Agaknya seperti ada pengumuman berkenaan dengan minum arak; marilah kita selidiki kebenarannya.” Seorang tamu lain bangkit, guci penuh dengan anggur itu dipecahkan dengan tongkatnya dan berkata, “Taati dahulu, barulah mencari keterangan. Cukup hendaknya bahwa kita telah mendengar pengumuman seperti itu. Tidak pantas terus minum-minum sementara kita mencari keterangan. Kewajiban kita adalah menumpahkan arak ke jalan dan kemudian mencari keterangan tentang pengumuman itu”. (Bukhari dan Muslim, Kitab al-Asyribah).

Orang Muslim ini benar. Sebab, jika minum arak telah dilarang, mereka berdosa melanggar perintah jika mereka terus juga minum minum; di pihak lain, jika minum arak itu tidak dilarang, mereka tidak rugi banyak jika hanya sekali itu membiarkan anggur di dalam guci itu mengalir ke jalan-jalan. Minum arak lenyap seketika dari masyarakat Muslim sesudah pengumuman itu. Tidak ada usaha atau kampanye khusus diperlukan untuk menciptakan perubahan revolusioner ini.Orang-orang Muslim yang mendengar serta menyaksikan sambutan spontan atas perintah itu masih hidup sampai tujuh puluh atau delapan puluh tahun kemudian. Tidak pernah diketahui bahwa dari antara orangorang Muslim dan yang mendengar larangan itu ada yang pernah memperlihatkan kelemahan untuk melanggar perintah tersebut. Jika ada peristiwa semacam itu, pasti si pelanggar itu tak pernah mendapat kesempatan menerima langsung sentuhan pengaruh Rasulullah sendiri.Bandingkanlah itu dengan kampanye larangan arak di Amerika dan usaha-usaha menggalakkan upaya mengurangi minum arak yang diselenggarakan sejak beberapa tahun di Eropa. Di satu pihak suatu pengumuman yang sederhana dari Rasulullah sudah memadai untuk melenyapkan suatu kejahatan masyarakat yang telah berakar dengan mendalam dalam masyarakat Arab. Di pihak lain, larangan diberlakukan lewat peraturan-peraturan hukum yang khusus. Polisi dan tentara, pejabat-pejabat bea cukai dan petugas-petugas perpajakan semuanya berusaha dengan banting-tulang dalam satu tim atau kelompok kerja, dan berusaha keras melenyapkan kejahatan minum arak namun akhirnya gagal dan terpaksa mengakui kegagalan mereka. Pemabuk-pemabuk menang dan kejahatan minum arak tak terkalahkan. Abad kita ini dikatakan abad kemajuan sosial. Tetapi, jika kita bandingkan abad kita dengan abad permulaan Islam, kita akan heran abad yang manakah dari kedua abad itu berhak menyandang julukan itu — abad kitakah atau abad ketika Islam mengadakan revolusi sosial itukah?

Apa yang terjadi di Uhud tak mudah dapat kita lupakan. Kaum Mekkah memandang Perang Uhud sebagai kemenangan pertama mereka atas Islam. Mereka menyebarkan berita itu ke seluruh pelosok Arabia dan menghasut seluruh bangsa Arab melawan Islam, dan meyakinkan mereka itu bahwa kaum Muslimin bukan orang-orang yang tangguh. Jika kaum Muslimin terus berkembang maka hal itu bukan disebabkan oleh kekuatan mereka sendiri, tetapi oleh kelemahan kaum Arab ortodok.Kemajuan Islam itu dikarenakan kelemahan kaum musyrikin Arab. Jika kaum musyrik Arab berusaha secara terpadu, maka mengalahkan kaum Muslimin bukanlah perkara yang sulit. Akibat propaganda demikian, maka permusuhan terhadap kaum Muslimin mulai menampakkan dayanya. Suku-suku Arab lainnya mulai melebihi kaum Mekkah dalam melancarkan gangguan terhadap kaum Muslimin. Beberapa mulai mengadakan serangan secara terang-terangan. Beberapa yang lain mulai menimbulkan kerugian-kerugian atas mereka itu dengan cara diam-diam. Pada tahun keempat sesudah Hijrah, dua suku Arab, suku Adi dan Qarah, mengirim delegasi kepada Rasulullah s.a.w. untuk mengatakan bahwa orang-orang mereka cenderung kepada Islam. Mereka mengajukan permintaan kepada Rasulullah s.a.w. supaya mengirim kepada mereka beberapa orang yang mahir dalam ajaran Islam untuk tinggal di antara mereka dan mengajar mereka Agama Baru itu. Sesungguhnya hal itu tipu muslihat yang dilancarkan oleh Banu Lahyan musuh besar Islam.
Mereka mengirim delegasi itu kepada Rasulullah s.a.w. dengan menjanjikan upah besar. Rasulullah s.a.w. menerima permintaan itu tanpa curiga dan mengirim sepuluh orang Muslim guna mengajar suku suku itu dasar-dasar dan asas-asas Islam. Ketika tim itu tiba di daerah Banu Lahyan, pengawal mereka menyuruh orang menyampaikan berita kepada orang-orang sesukunya dan meminta supaya menangkap atau membunuh mereka. Atas anjuran jahat itu, dua ratus orang bersenjata dari Banu Lahyan berangkat mengejar rombongan Muslim itu dan akhirnya dapat menyusul di tempat bernama Raji. Suatu pertempuran terjadi antara sepuluh orang Muslim dan dua ratus orang musuh. Orang orang Muslim itu sarat (penuh) dengan keimanan. Musuh tak berkepercayaan apa-apa. Sepuluh orang Muslim itu memanjat suatu ketinggian dan menantang dua ratus musuh itu. Musuh mencoba menundukkan orang-orang Muslim itu dengan tipuan yang kotor.

Mereka menawarkan keselamatan asalkan mereka itu mau turun. Tetapi, kepala rombongan itu menjawab bahwa mereka telah cukup melihat janji-janji yang dibuat oleh orang-orang kufar. Sambil berkata demikian mereka menghadapkan muka kepada Tuhan dan mendoa. Tuhan mengetahui benar akan keadaan mereka. Apakah tidak selayaknya Tuhan memberitahukan hal itu kepada Rasulullah s.a.w.? Ketika orang orang kufar melihat bahwa rombongan Muslim yang kecil itu keras hati, mereka melancarkan serangan. Rombongan itu berkelahi tanpa maksud menyerah. Tujuh dari sepuluh orang jatuh dan syahid. Kepada tiga orang selebihnya menawarkan lagi keselamatan dengan syarat harus turun dari puncak bukit itu. Tiga orang itu mempercayainya dan menyerah. Segera sesudah menyerahkan diri, mereka diikat. Seorang di antara mereka bertiga berkata, “Inilah pelanggaran pertama dari janjimu. Hanya Tuhan Yang mengetahui apa yang kamu perbuat berikutnya.” Dengan berkata demikian ia menolak ikut mereka. Kaum kufar mulai menganiaya korban mereka dan meghelanya di sepanjang jalan. Tetapi mereka begitu kagum oleh perlawanan dan tekad bulat orang yang satu ini sehingga mereka membunuhnya di tempat itu juga. Dua orang lainnya mereka bawa, dan kemudian mereka jual sebagai budak kepada kaum Quraisy Mekkah.Seorang di antaranya bernama Khubaib. Yang lainnya lagi Zaid. Pembeli Khubaib ingin membunuhnya sebagai pembalasan atas kematian bapak orang itu di Badar. Pada suatu hari Khubaib meminjam pisau cukur untuk membersihkan mukanya. Khubaib sedang memegang pisau cukur itu, ketika seorang anak dari keluarga itu mendekatinya karena ingin tahunya. Khubaib mengangkat anak itu dan memangkunya. Ibu anak itu melihat peristiwa itu dan sangat terkejut. Pikiran yang penuh dengan perasaan bersalah dan sekarang orang yang beberapa hari lagi akan mereka bunuh itu memegang pisau cukur sangat dekat dengan anak mereka. Wanita itu yakin bahwa Khubaib akan membunuh anaknya. Khubaib melihat rasa takut dan khawatir pada wajah wanita itu, lalu berkata, “Nyonya menyangka aku akan membunuh anakmu. Janganlah berpikir sejauh itu barang sejenak pun. Aku sama sekali tak mungkin berbuat sekotor itu. Orang-orang Muslim tidak pernah berbuat curang.” Wanita itu sangat terkesan oleh sikap dan perilaku yang jujur Khubaib itu. Ia senantiasa ingat akan hal itu dan ia sering berkata tak pernah melihat seorang tawanan seperti Khubaib. Akhirnya, Khubaib dibawa oleh orang orang Mekkah kesebuah lapangan terbuka untuk merayakan pembantaian di muka umum. Ketika saat yang ditetapkan telah tiba, Khubaib meminta izin untuk melakukan sembahyang dua rakaat. Orang orang Quraisy mengabulkan dan Khubaib melakukan sembahyangnya kepada Tuhan bumi ini di muka umum. Ketika ia usai sembahyang, ia mengatakan bahwa ia masih ingin meneruskan tetapi tak mau berbuat demikian, khawatir jangan-jangan mereka akan menyangka bahwa ia takut mati. Maka dengan tenang ia menyerahkan lehernya kepada algojo. Sementara berbuat demikian ia mendendangkan sajak:

“Sementara aku mati sebagai orang Muslim, tak kuhiraukan badanku yang tak berkepala akan rebah ke kanan atau ke kiri. Dan mengapa harus aku hirau? Kematianku adalah di jalan Allah; jika Dia menghendaki, Dia dapat memberkati tiap-tiap bagian badanku yang tak beranggota lagi” (Bukhari).

Baru saja Khubaib usai menyenandungkan sajaknya, pedang algojo jatuh mengenai lehernya dan kepalanya pun jatuh ke arah lain. Diantara mereka yang berkumpul untuk merayakan pembantaian di muka umum itu termasuk seorang bernama Sa’id bin Amr yang kemudian masuk Islam. Konon, kapan pun pembunuhan Khubaib diceriterakan dimuka Sa’id, ia jatuh pingsan (Hisyam).

Tawanan yang kedua, Zaid, juga dibawa keluar untuk dibunuh. Di antara penonton hadir juga Abu Sufyan, seorang pemimpin Mekkah. Abu Sufyan menengok ke Zaid dan bertanya, “Tidakkah kamu lebih suka Muhammad menggantimu? Tidakkah kamu lebih suka diam di rumah dengan sentosa dan Muhammad ada di tangan kami?”

Zaid menjawab dengan gagah, “Apa, Abu Sufyan? Apa yang kau katakan? Demi Allah aku lebih suka mati dari pada Rasulullah tertusuk duri di lorong Medinah.” Abu Sufyan tak boleh tidak jadi terkesan oleh kesetiaan yang demikian. Zaid dipandangnya dengan heran dan Abu Sufyan menyatakan tanpa ragu-ragu, tetapi dengan suara tertahan, “Demi Allah, aku belum pernah melihat seseorang mencintai orang lain seperti sahabat-sahabat Muhammad mencintai Muhammad” (Hisyam, jilid 2).

Kira-kira waktu itu beberapa orang Najd juga menjumpai Rasulullah s.a.w. untuk minta orang-orang Muslim mengajar agama Islam kepada mereka. Rasulullah s.a.w. tidak percaya kepada mereka. Tetapi Abu Bara’, pemimpin suku ‘Amir kebetulan ada di Medinah. Ia menawarkan diri menjadi jaminan untuk suku itu dan meyakinkan Rasulullah s.a.w. bahwa mereka itu tidak akan berlaku jahat. Rasulullah s.a.w. memilih tujuh puluh orang Hafiz Qur’an*. Ketika rombongan ini mencapai Bi’r Mauna, seorang di antara mereka, Haraam bin Malhan, pergi kepada pemimpin suku ‘Amir (kemenakan Bara’) untuk menyampaikan tabligh Islam.

Pada lahirnya Haraam diterima baik oleh anggota-anggota suku itu. Tetapi ketika ia sedang berbicara kepada pemimpin suku, seorang laki-laki menyelinap dari belakang dan menyerang Haraam dengan tusukan sebilah tombak. Haraam syahid di tempat itu juga. Ketika tombak itu menembus leher Haraam, kedengaran ia berseru “Allahu Akbar. Tuhan Ka’bah menjadi saksi, aku telah mencapai tujuanku” (Bukhari).

Setelah membunuh Haraam dengan cara yang keji itu, pemimpin-pemimpin suku menghasut agar sukunya menyerang guru guru Islam selebihnya. “Tetapi,” kata anggota-anggota suku itu, “ketua kami, Abu Bakar telah bertindak sebagai penjamin; kita tak dapat menyerang rombongan itu.” Lantas para pemimpin suku, dengan bantuan dua suku yang telah pergi menghadap Rasulullah s.a.w. untuk meminta guru-guru Islam, dan beberapa suku lainnya menyerang rombongan Muslim itu. Imbauan sederhana, “Kami datang untuk bertabligh dan mengajar, bukan untuk bertempur”, tak memberi kesan apapun. Mereka mulai membunuhi rombongan itu. Semuanya, kecuali tiga orang dari ketujuh puluh orang, syahid. Seorang dari antara yang selamat itu orang cacat dan telah mendaki sebuah bukit sebelum perkelahian mulai. Dua lainnya telah pergi ke hutan untuk memberi unta mereka makan.Sepulang dari hutan mereka jumpai enam puluh enam kawan mereka telah syahid di medan. Dua orang itu berunding.

Salah seorang berkata, “Kita harus segera melaporkan peristiwa ini kepada Rasulullah s.a.w.”

Tetapi yang kedua berkata, “Aku tak dapat meninggalkan tempat ini, tempat pemimpin rombongan kita, yang ditunjuk oleh Rasulullah s.a.w. sebagai pemimpin kita, telah terbunuh.” Dengan berkata demikian ia melompat dan menyerbu kaum kufar seorang diri dan gugur. Yang lainnya tertawan, tetapi kemudian dibebaskan sesuai dengan sumpah yang telah dikatakan oleh kepala suku itu. Dalam rombongan yang syahid itu termasuk juga ‘Amir bin Fuhaira, orang merdeka bekas budak Abu Bakar. Pembunuhnya bernama Jabbar yang kemudian menjadi Muslim. Jabbar mengatakan bahwa bai’atnya itu disebabkan oleh pembantaian besar-besaran orang-orang Muslim itu.

“Ketika aku mulai membunuh ‘Amir,” kata Jabbar, “Kudengar ‘Amir berkata, “Demi Allah aku telah mencapai tujuanku. “Kutanya’Amir mengapa seorang Muslim mengatakan perkataan semacam itu jika menemui ajalnya. ‘Amir menerangkan bahwa orang-orang Muslim memandang mati di jalan Allah sebagai rahmat dan kemenangan. Jabbar begitu terkesan oleh jawaban itu sehingga ia mulai mempelajari Islam secara sistematis dan akhirnya masuk Islam (Hisyam dan Usud-al- Ghaba).

Berita mengenai dua peristiwa menyedihkan itu, saat kira-kira delapan puluh Muslim menemui ajal sebagai akibat tipu muslihat jahat, tiba di Mekkah bersama-sama. Mereka yang menjadi korban pembunuhan itu bukan orang-orang biasa. Mereka itu pengemban ajaran Al-Qur’an. Mereka tak melakukan kejahatan dan tidak menyakiti siapa pun. Mereka tak pernah ikut serta dalam pertempuran. Mereka telah dipancing ke tangan musuh dengan dusta dan tipu-muslihat atas nama Tuhan dan agama. Kenyataan-kenyataan itu membuktikan dengan gamblang bahwa permusuhan terhadap Islam itu tegas dan mendalam. Sebaliknya, gelora semangat orang-orang Muslim untuk menunjang Islam tegas dan mendalam pula.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




AYO BERBELANJA DI TOKO ONLINE KAMI:

Statistik Blog

  • 215,909 hit

aku suka jalan-jalan

hidup adalah jalan-jalan. jalan-jalan adalah hidup

%d bloggers like this: