Pertempuran Dengan Banu Mustaliq

note: tulisan ini merupakan kelanjutan dari postingan sebelumnya.

Sesudah Perang Uhud, di Mekkah timbul wabah yang hebat. Dengan tidak mengindahkan segala permusuhan kaum Mekkah terhadap beliau dan dengan tidak menghiraukan segala tipu muslihat yang mereka pergunakan untuk menyiarkan kebencian terhadap beliau di seluruh negeri, Rasulullah s.a.w. menghimpun dana untuk membantu orangorang miskin di Mekkah dalam kebutuhan mereka yang mendesak.

Orang-orang Mekkah tetap tidak tergerak hati oleh pernyataan kemauan baik itu. Permusuhan mereka berjalan terus dan tak kunjung reda. Pada hakikatnya permusuhan malah kian memburuk. Suku-suku yang sampai waktu itu bersikap simpatik terhadap Islam menjadi tidak bersahabat. Suku semacam itu di antaranya ialah Banu Mustaliq. Mereka mempunyai perhubungan baik dengan kaum Muslim. Tetapi kini mereka mulai mengadakan persiapan untuk menyerang Medinah. Ketika Rasulullah s.a.w. mendengar tentang persiapan itu, beliau mengutus beberapa orang untuk menyelidiki kebenarannya. Orang-orang itu kembali dan menguatkan laporan-laporan itu. Rasulullah s a w. mengambil keputusan untuk menghadapi serangan baru ini. Untuk itu dibentuk suatu pasukan dan dibawa ke daerah Banu Mustaliq. Ketika pasukan Muslim sudah berhadapan dengan musuh, Rasulullah s.a.w. berusaha membujuk musuh supaya mengundurkan diri tanpa pertempuran. Mereka menolak. Pertempuran pun terjadi dan dalam beberapa jam saja musuh sudah dapat dilumpuhkan.

Oleh karena kaum kufar Mekkah cenderung kepada kejahatan dan suku-suku yang tadinya bersahabat berbalik memusuhi, kaum munafik di tengah-tengah kaum Muslim pun pada kesempatan ini untung-untungan mengambil bagian dalam pertempuran di pihak kaum Muslimin. Mereka mungkin menyangka akan mendapat kesempatan untuk melakukan suatu tindakan jahat. Pertempuran melawan Banu Mustaliq telah selesai dalam beberapa jam saja. Oleh karena itu, kaum munafik tak mendapat kesempatan melakukan suatu kedurjanaan pada pertempuran itu. Tetapi Rasulullah s.a.w. mengambil keputusan untuk tinggal di kota Banu Mustaliq selama beberapa hari. Selama beliau tinggal di situ, suatu pertengkaran timbul antara seorang Muhajir dan seorang Anshar pasal penimbaan air dan sebuah perigi. Orang Muhajir itu kebetulan bekas budak belian. Ia memukul orang Anshar yang mulai berteriak memanggil orang-orang Anshar lainnya. Si Muhajir itu pun memekik memanggil kaum Muhajirin. Timbullah ketegangan. Tak seorang pun bertanya apa yang telah terjadi. Pemuda-pemuda dari kedua belah pihak mencabut pedang mereka. ‘Abdullah bin Ubayy ibnu Salul berpikir bahwa peristiwa itu merupakan suatu rahmat dari langit. Ia mengambil keputusan untuk menyiram api dengan minyak. Ia angkat bicara, “Kamu telah terlalu banyak bersabar terhadap para Muhajirin. Perlakuanmu yang baik terhadap mereka telah menjadikan mereka besar kepala, dan sekarang mereka berusaha mengangkangi kamu dengan segala macam cara.”

Pidatonya itu mungkin menimbulkan dampak yang diharapkan oleh Abdullah. Percekcokan dapat berubah bentuk menjadi serius. Tetapi, tidak demikian halnya. Abdullah telah meleset dalam menilai pengaruh pidatonya yang jahat itu. Tetapi karena menyangka bahwa kaum Anshar telah dapat dipengaruhi, ia begitu jauh sampai berani mengatakan, “Marilah pulang ke Medinah. Kemudian, orang termulia di antara wargakotanya akan mengusir orang yang paling hina” (Bukhari).

Dengan sebutan “orang termulia” dimaksudkan dia sendiri dan dengan “orang yang paling hina” dimaksudkan Rasulullah s.a.w.. Setelah ia mengatakan perkataan itu orang-orang mukmin dapat meraba maksud jahat itu. Bukan pidato suci yang mereka dengar, kata mereka, tetapi pidato syaitan yang datang untuk menyesatkan mereka. Seorang pemuda segera bangkit dan segera melaporkan hal itu kepada Rasulullah s.a.w. dengan perantaraan pamannya. Rasulullah s.a.w. menyuruh orang memanggil ‘Abdullah bin Ubayy ibnu Salul dan kawan-kawannya, dan menanyakan kepada mereka apa yang telah terjadi. ‘Abdullah dan kawan-kawannya membantah bahwa mereka telah terlibat dalam apa yang telah dituduhkan kepada mereka dalam peristiwa itu. Rasulullah s.a.w. tak berkata apa-apa. Tetapi kebenarannya mulai tersebar. Lambat laun sampai juga hal itu ke telinga ‘Abdullah, anak ‘Abdullah bin Ubayy ibnu Salul. Abdullah muda segera menghadap kepada Rasulullah s.a.w. dan berkata, “Ya Rasulullah, ayahku telah menghina anda. Hukumannya ialah hukum mati. Andaikata anda sudi mengambil putusan demikian aku mengharapkan anda memerintahkanku membunuh ayahku. Jika anda memerintah orang lain dan ayahku mati di tangannya, barangkali aku akan membalas kematiannya dengan membunuh orang itu. Mungkin aku akan mendapat murka Tuhan oleh karena itu.”

“Tetapi aku sama sekali tidak punya niat demikian,” sabda Rasulullah s.a.w.. “Aku akan memperlakukan ayahmu dengan cinta kasih dan perlakuan baik.” Ketika Abdullah muda membandingkan sikap khianat dan kurang sopan dari ayahnya dengan cinta kasih dan kebaikan hati Rasulullah s.a.w., ia berangkat ke Medinah sarat dengan rasa marah yang tertekan terhadap ayahnya. Di perjalanan ia menghentikan ayahnya dan berkata tidak akan mengizinkannya meneruskan perjalanan pulang ke Medinah sebelum ia menarik kembali kata-katanya yang diucapkan terhadap Rasulullah s.a.w.. “Mulut yang mengatakan, Rasulullah itu yang paling hina dan saya yang termulia” sekarang harus mengatakan, Rasulullah s.a.w. itu yang termulia dan saya yang paling hina. Sebelum mengatakan perkataan itu aku tak akan membiarkan bapak pergi.”

‘Abdullah bin Ubayy ibnu Salul tercengang dan terperanjat lalu berkata, “Kuakui, wahai anakku bahwa Muhammad itu yang termulia dan aku yang paling hina.” Abdullah muda membiarkan ayahnya meneruskan perjalanan (Hisyam, jilid 2).

Telah kami singgung sebelumnya bahwa dua suku Yahudi yang terpaksa harus diusir dari Mekkah karena tipu-muslihat jahat mereka dan rencana-rencana pembunuhan mereka. Banu Nadzir, satu di antaranya, sebagian dari suku itu pindah ke Siria, sebagian lagi ke kota Khaibar sebelah Utara Medinah. Khaibar itu pusat orang-orang Yahudi di Arabia, berbenteng kuat. Orang-orang Yahudi yang pindah ke sana, mulai menghasut orang-orang Arab terhadap orang-orang Muslim. Kaum Mekkah sudah tadinya musuh Islam yang kental. Tidak perlu ada dorongan apa-apa lagi untuk mengobarkan kebencian terhadap Islam.
Begitu juga suku Ghatafan dari Najd, karena perhubungan persahabatannya dengan Mekkah, memusuhi Islam. Kaum Yahudi yang menetap di Khaibar dengan sendirinya ada di pihak Quraisy Mekkah dan Ghatafan dari Najd. Di samping itu mereka merencanakan menarik Banu Sulaim dan Banu Asad untuk menentang Islam. Mereka mengajak juga Banu Saad, suatu suku yang bersekutu dengan orang-orang Yahudi untuk bergabung dalam persekutuan untuk memerangi Islam. Sesudah lama melakukan tipu-muslihat, maka suatu konfederasi suku-suku Arab telah dibentuk untuk menghadapi kaum Muslimin. Konfederasi itu meliputi kaum Mekkah, suku-suku yang tinggal di daerah sekitar Mekkah, suku suku Najd, dan mereka yang tinggal di daerah-daerah Utara Medinah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




AYO BERBELANJA DI TOKO ONLINE KAMI:

Statistik Blog

  • 241,056 hit

aku suka jalan-jalan

hidup adalah jalan-jalan. jalan-jalan adalah hidup

%d bloggers like this: